Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label budi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2022

Kisah Pembantaian atas Suku Śākya

Ini hanyalah pengulangan dari deskripsi gambar di posting sebelumnya. Kisah pembantaian suku Śākya oleh Raja Virūḍhaka tercatat dalam teks-teks Buddhis berbagai mazhab. Buddha sendiri tidak bisa mencegah genosidium yang terjadi atas kaum-Nya. Bukannya tidak mau menolong, tetapi karma kolektif yang dilakukan sebagian besar kaum Śākya dalam kehidupan lampaunya memang benar-benar sudah masak dan sudah waktunya berbuah sehingga tidak bisa dibelokkan.

Di jilid 5 Mahopāya-kauśalya Buddha Pratyupakāraka Sūtra 《大方便佛報恩經》 (T. vol. 3, № 156 hlm. 152b) diceritakan bahwa setelah menghabisi kaum Śākya, Virūḍhaka memboyong pulang 500 gadis Śākya ke istananya dengan girang karena merasa menang. Gadis-gadis Śākya mencelanya dengan mengatakan bahwa ia tidak menang; kaum Śākya-lah yang sesungguhnya mengalah sebab mereka siswa-siswa Buddha, yang memegang langkah latihan pantang membunuh. Mereka lebih membiarkan diri mereka diserang karena tidak mau menanggapi orang bodoh seperti Virūḍhaka.

Virūḍhaka, yang marah mendengar ucapan tersebut, menyuruh orang memenggal tangan dan kaki para gadis Śākya tersebut, lalu membuang mereka ke pekuburan. Para gadis Śākya merenungkan Buddha dan dipulihkan seperti sedia kala. Untuk membalas budi, mereka hendak menerima Śīla sebagai bhikṣuṇī. Mereka memilih bukan secara fisis meneruskan juriat Śākya — mengingat sebagian besar kaum Śākya sudah punah saat itu — melainkan secara spiritual supaya populasi pribadi-pribadi yang Tercerahkan terus sinambung.


時,五百釋女,異口同音,至心念佛:「南無釋迦牟尼多陀阿伽度、阿羅訶、三藐三佛陀。」
Tatkala itu kelimaratus wanita Śākya, dengan mulut berlainan dalam satu suara, bersungguh hati merenungkan Buddha: “Namaḥ Śākyamunaye Tathāgatāyārhate Samyak-saṃbuddhāya.”

復更唱言:「苦哉!苦哉!痛哉!痛哉!嗚呼!婆伽婆・修伽陀。」
Kembali lagi mereka berseru: “Alangkah menderitanya! Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Aduhai Bhagavan, sang Sugata!”

作是唱時,於虛空中,以如來慈善根力故,起大悲雲,雨大悲雨,雨諸女身。既蒙雨已,身體手足還生如故。諸女歡喜,同共唱言:「如來慈父,無上世尊,世間妙藥,世間眼目,於三界中能拔其苦,施與快樂。所以者何?我等今者得脫苦難。我等今者,當念佛恩,當念報恩。」
Pada saat mereka menyeru demikian, berkat kekuatan akar kebaikan cintakasih Tathāgata, di angkasa muncullah awan Mahākaruṇā, hujanlah hujan Mahākaruṇā, yang menghujani tubuh para wanita itu. Setelah menerima hujan tersebut, tangan dan kaki tumbuh pada tubuh mereka seperti sediakala. Para wanita itu amat bergembira dan bersama-sama berseru: “Tathāgata adalah bapa yang penyayang, Bhagavan yang tiada taranya, obat mujarab bagi dunia, biji mata dunia ini, mampu mencabut penderitaan di Triloka dan menganugerahkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena kini kita beroleh kelepasan dari penderitaan dan kesukaran. Kini kita harus merenungkan budi Sang Buddha, harus merenungkan membalas budi.”

諸女念言:「當以何事而報佛恩?如來身者,金剛之身,常住之身,無飢渴身,微妙色身,悉是具足百千禪定、根力、覺道、不可思議三十二相、八十種隨形之好;具二莊嚴,住大涅槃;等視眾生如羅睺羅,怨親等觀,亦不望報。我等今者欲報佛恩,當共出家,修持禁戒,護持正法。」
Para wanita merenung: “Bagaimanakah cara kita membalas budi Buddha? Tubuh Tathāgata adalah tubuh vajra, tubuh yang senantiasa bersemayam, tubuh tanpa kelaparan dan dahaga, tubuh dengan fisik yang menakjubkan, yang diperlengkapi dengan ratusan ribu samādhi, indera, kekuatan, faktor Pencerahan, 32 ciri yang tak terbayangkan dan 80 tanda tambahan; Ia sempurna memiliki dua hiasan, bersemayam dalam Nirvāṇa Agung; Ia samarata memandang semua makhluk sebagai Rāhula, menganggap setara yang memusuhi maupun yang mengasihi-Nya, juga tidak pernah mengharapkan balasan. Kini, jikalau kita hendak membalas budi Buddha, haruslah kita meninggalkan rumah-tangga, berlatih dan memegang aturan Śīla demi menjaga bertahannya Saddharma.”

思惟是已,即求衣鉢,往詣王園比丘尼精舍,求索出家。
Setelah menimbang demikian, maka mereka mencari jubah dan mangkuk, lalu berangkat menghampiri ārāma para bhikṣuṇī di taman kerajaan demi memohon pravrajyā.

Senin, 10 Januari 2022

Mengapa Memegang Śīla-Śīla Buddhis disebut Membalas Budi Buddha?

Balas budi kepada Buddha yang minimal, menurut homili Bodhisattva *Mayūrarāja sebelum ini, adalah dengan memperoleh Keyakinan yang Tak Terhancurkan — menjadi seorang srotāpanna. Membalas secara demikian merupakan persembahan yang terbaik, sejalan dengan pernyataan “Viniścaya Saṅgraha” dari Yogācārabhūmi Śāstra (lihat di sini):

以一切財而興供養,未將為喜;要以正行而興供養,乃生歡喜。
Sebab Ia tidaklah bergembira dipersembahi dengan segala kekayaan material; namun baru bergembira bila dipersembahi, terutama, dengan praktik yang tepat.







Dharmaratna terdiri atas dua unsur: Dharma dan Vinaya (dalam terjemahan lama seringkali 經戒 ‘Sūtra dan Śīla’ digunakan sebagai padanan). Oleh karena itu, ada empat objek yang kepadanya kita pergi berlindung dan keyakinan kita terhadapnya harus kita murnikan, dari waktu ke waktu, hingga tercapai ketakterhancuran.

Dharmaratna juga memiliki dua aspek: sebagai pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu. Setelah mengaplikasikan Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu, seseorang akan merealisasi Dharmaratna-sebagai-keadaan-bebas-nafsu. Aplikasi atas Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu itulah langkah awal kita untuk membalas budi Buddha, yang telah bersusah-payah mengajarkannya. Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha 《阿難問事佛吉凶經》 (versi panjang dari teks yang pernah kita bahas di sini) menyatakan:

念報佛恩,當持經戒,相率以道。道不可不學,經不可不讀,善不可不行。
Seseorang yang merenungkan bagaimana membalas budi Buddha hendaknya memegang Sūtra dan Śīla, menuntun [diri] dengan menjadikannya Jalan. Jalan tidaklah boleh tidak dipelajari, Sūtra tidaklah boleh tidak dibaca, kebaikan tidaklah boleh tidak dipraktikkan.


Dharma (alias “Sūtra”) bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipraktikkan. Di bab terakhir terjemahan lama Lalitavistara 《普曜經》 (T. vol. 3, № 186 hlm. 537–538a) dikatakan:

佛告賢者迦葉、阿難、彌勒,重相囑累:「受之!持之!諷誦學之,令普流布!示其同學及十方人,皆令蒙濟!使不斷絕,展轉相教,展轉相成,使不稽留。三寶不斷,乃報佛恩。」
Buddha memberitahu Āyuṣman Kāśyapa, Ānanda, Maitreya, dan ulang dipercayakannya: “Terimalah ia! Peganglah ia! Lafalkan dan pelajarilah ia supaya tersebar secara universal! Unjukkan kepada rekan sepelajarmu dan orang-orang di sepuluh penjuru, sehingga semua beroleh perbantuan! Agar tidak putus terpotong, bergulirlah ajar-mengajarkan, bergulirlah sukses-mensukseskan, sehingga tidak tertahan. Menyebabkan Triratna tidak terpotong, barulah itu [bisa dinamakan] membalas budi Buddha.”

Bahkan hanya dengan melafalkan Dharma, kita menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Apalagi jika kita mampu membabarkannya kepada makhluk lain sebagaimana nasihat Vimalakīrti 《說無垢稱經》 (T. vol. 14, № 476 hlm. 561c) kepada Maudgalyāyana:

念報佛恩,意樂清淨,法詞善巧,為三寶種永不斷絕,乃應說法。
Dengan merenungkan bagaimana membalas budi Buddha, dengan kecenderungan pikiran yang murni, dengan keterampilan pengungkapan Dharma, demi tidak terpotongnya juriat Triratna selamanya, barulah mesti kaubabarkan Dharma (buddhekṛtajñena, śuddhāśayena, dharmaniruktividhijñena, triratnavaṃśānupacchedāya ca te dharmo deśayitavyaḥ).


Vinaya (alias “Śīla”) juga bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipegang. Setelah melaksanakan Śīla (Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu), seseorang akan merealisasi Śīla (Anāsrava Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek keadaan bebas-nafsu). Namun, dengan memegang Śīla, kita secara tidak langsung juga menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa 《大薩遮尼乾子所說經》 yang kita kutip sebelumnya menyatakan:

以戒淨故,不斷佛種,成等正覺;不斷法種,分別法性;不斷僧種,修無為道。以持淨戒相續不斷故,功德無盡。
Dengan Śīla yang murni, juriat Buddha tidak terpotong, yakni pencapaian Pencerahan yang Tepat dan Menyeluruh (samyak-saṃbodhi); juriat Dharma tidak terpotong, yakni diferensiasi hakikat Dharma; juriat Saṅgha tidak terpotong, yakni pengembangan Jalan yang tak terkondisi. Dengan tidak terpotongnya kesinambungan pemegangan Śīla yang murni, jasa-jasa-Nya (Gautama) tiada akhir.

Bahkan hanya dengan menerima dan memegang Śīla, kita sudah melaksanakan amanah Buddha. Tidak sia-sialah Beliau mengajarkan Śīla (dan Sūtra — sebagai dua unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu) karena cita-cita-Nya agar apa yang diajarkan-Nya itu bisa menguntungi makhluk lain sudah tercapai. Apalagi jika kita mampu menerimakan Śīla kepada makhluk lain lagi, maka juriat Buddha benar-benar sinambung terteruskan. Tentunya hal ini hanya dapat kita lakukan kalau Śīla yang kita terima sendiri memang otentis berasal dari Buddha, sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku sebagai bagian dari juriat apabila dalam dirinya tidak mengalir darah dari orang yang diaku tersebut!






Sebagai penutup, kita tampilkan dari bab III Brahma Viśeṣacintī Paripṛcchā Sūtra 《思梵天所問經》 (T. vol. 15, № 586 hlm. 37b) kutipan tanya–jawab antara Buddha dengan sang brahma:

「世尊。誰知報佛恩?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang tahu membalas budi Buddha?

佛言:「不斷佛種者。」
Buddha berkata: “Ia yang [menyebabkan] tidak terpotongnya juriat Buddha.”

「世尊。誰能供養佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mempersembahi Buddha?

佛言:「能通達無生際者。」
Buddha berkata: “Ia yang mampu menembus perhinggaan dari yang tak tertimbulkan (sehingga mampu melaksanakan praktik tanpa merasa jemu walaupun berkalpa-kalpa).”

「世尊。誰能親近於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mengakrabkan diri dengan Buddha?”

佛言:「乃至失命因緣不毀禁者。」
Buddha berkata: “Ia yang, terancam sebab-musabab tertentu, hingga kehilangan nyawa pun tidak merusak aturan (Śīla).”

「世尊。誰能恭敬於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu menghormati Buddha?”

佛言:「善覆六根者。」
Buddha berkata: “Ia yang menyelubungi dengan baik keenam indera.”

「世尊!誰名財富?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang dinamakan kaya?”

佛言:「成就七財者。」
Buddha berkata: “Ia yang berhasil memiliki tujuh kekayaan (sapta āryadhana).”

Sabtu, 01 Januari 2022

Sebuah Syair dari 𝘛𝘳𝘪𝘴𝘢𝘮̣𝘷𝘢𝘳𝘢 𝘕𝘪𝘳𝘥𝘦𝘴́𝘢 𝘚𝘶̄𝘵𝘳𝘢


知恩住淨戒  心常樂行捨
捨時心歡喜  菩提不難得

Kenal budi (kr̥tajña) dan berdiam dalam Śīla yang murni,
batin senantiasa gemar melaksanakan pelepasan (tyāga).
Pada saat melepas, batin bersukacita.
Maka Bodhi tidaklah sukar didapat.
—— Trisaṃvara Nirdeśa Sūtra 《大方廣三戒經》
(T. vol. 11, № 311 hlm. 702c)



Berbagai Cara Membalas Budi Buddha

Ada banyak cara membalas budi Buddha. Dalam syair-syair di jilid 3 Mahāmokṣa-diśām-puṣya Kaukr̥tya-pāpaśodhana Sūtra 《大通方廣懺悔滅罪莊嚴成佛經》 (T. vol. 85, № 2871 hlm. 1351b–c) disebutkan sembilan (atau sepuluh jika bentuk negatif yang terakhir kita balik), antara lain:


  1. 出家持禁戒——是名報佛恩。
    Meninggalkan rumah-tangga dan memegang aturan Śīla — itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.

  2. 心生清淨信,了知十方佛常住不涅槃,法、僧亦復然——是名報佛恩。
    Membangkitkan keyakinan murni (prasāda) dalam batin, memahami bahwa para Buddha di sepuluh penjuru senantiasa bersemayam tidak [memasuki] Nirvāṇa, Dharma dan Saṅgha pun demikian — itulah ….

  3. 心無分別相,了知一乘道:過去並未來,十方及現在,唯有一佛乘,無二亦無三——是名報佛恩。
    Tiada [menciptakan] karakteristik diskriminatif, memahami Jalan Kendaraan Tunggal: baik di masa lampau, mendatang, sekarang dan di sepuluh penjuru, hanya ada satu Kendaraan Buddha, tiada yang kedua atau ketiga — itulah ….

  4. 心常生信解,皆言:『諸眾生悉有如來性』——是名報佛恩。
    Senantiasa membangkitkan keyakinan karena paham (adhimukti), dan berkata: ‘Semua makhluk seluruhnya memiliki hakikat Ketathāgataan’ — itulah ….

  5. 若修一念善,不求天果報,直向無上道——是名報佛恩。
    Jikalau berlatih kebajikan dalam satu momen pun, tidak mencari akibat berupa pahala surgawi, melainkan mendedikasikannya demi Jalan yang Tiada Tara — itulah ….

  6. 須臾讀是經,敬重佛法僧,孝順供養師——是名報佛恩。
    Setelah sekejap membaca sūtra ini, [mampu] menghormat dan menghargaï Buddha, Dharma, dan Saṅgha, juga berbakti dan mempersembahi guru [spiritual] — itulah ….

  7. 若人捨一財,飲食 及 衣服,普施諸大眾——是名報佛恩。
    Jikalau seseorang melepas sebahagian kekayaan, sandang ataupun pangan, dan mendermakannya secara universal kepada semua makhluk — itulah ….

  8. 於末法中,能化一人須臾聽是經,復勝別供養百億菩薩眾(如是大乘經,諸佛菩薩母);念佛、敬是經、並諸菩薩眾,等心無彼此——是名報佛恩。
    Di masa Akhir Dharma mampu merubah satu orang agar sekejap saja mendengar sūtra ini, akanlah lebih unggul daripada secara khusus mempersembahi kumpulan ratusan keti bodhisattva (sebab sūtra Kendaraan Besar ini ialah ibu para Buddha dan bodhisattva); [jikalau mampu] merenungkan Buddha, menghormati sūtra ini, dan kumpulan para bodhisattva, dengan batin samarata tanpa mempertentangkan — itulah ….

  9. 於末法中,若欲報佛恩,一念在禪定,勝活三千界滿中一切人。(謗禪壞亂眾,如殺三千界滿中一切人 及 諸眾生類;謗禪壞亂眾,其罪亦如是)。
    Di masa Akhir Dharma, jikalau hendak membalas budi Buddha, satu momen saja berada dalam dhyāna-samādhi, dan akan lebih unggul daripada menghidupi trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia. (Memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna adalah bagaikan membunuh trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia dan berbagai jenis makhluk; sedemikianlah dosa dari memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna.)

  10. 若人見修善,誹謗不信受,斷壞三寶種——不名報佛恩。
    Jikalau seseorang melihat [Dharma] pengembangan kebaikan, lalu memfitnah, tidak meyakini dan menerimanya, sehingga mengakibatkan terpotongnya juriat Tiga Permata (triratnavaṃśa upaccheda) — itu tidaklah dinamakan membalas budi Buddha.
    (Dinamakan membalas budi jika sebaliknya.)

BALASLAH BUDI SANG BUDDHA

8 bodhisattvas mandala

時,八大菩薩白佛言:「云何是報佛恩?」
Kalakian kedelapan Bodhisattva berkata kepada Buddha: “Bagaimanakah membalas budi Buddha?”

佛言:「咸得成佛已,須廣度有情,不得住寂,自受寂樂。」
Buddha berkata: “Setelah [kalian] semua menjadi Buddha, perlulah secara ekstensif menyelamatkan semua makhluk; jangan berdiam dalam Kedamaian, menikmati sendiri kebahagiaan Kedamaian.”

—— *Amr̥takuṇḍalī Jvāloṣṇīṣa Sūtra
《大妙金剛大甘露軍拏利焰鬘熾盛佛頂經》
(T. vol 19, № 965 hlm. 342a)


Setelah terakhir kali kita lihat bagaimana orang yang kenal budi dan tahu membalas budi (kr̥tajña-kr̥tavedin) dipujikan Buddha, maka yang menjadi pertanyaan sekarang adalah caranya. Budi Buddha sukar dibalas karena begitu besar dan banyak. Dalam kutipan di atas Buddha menjawab delapan Bodhisattva bahwa untuk membalas budi-Nya adalah dengan meraih Kebuddhaan, sama seperti diri-Nya, demi menyelamatkan semua makhluk.

Kita teringat akan syair yang biasa didoakan dalam ibadat pagi, yang bersumber dari pujian Ānanda di akhir jilid 3 Śūraṅgama Sūtra 《大佛頂首楞嚴經》 (T. vol. 19, № 945 hlm. 119b):

「願今得果成寶王  還度如是恒沙眾
 將此深心奉塵剎  是則名為報佛恩
 伏請世尊為證明  五濁惡世誓先入
 如一眾生未成佛  終不於此取泥洹」

 “Semoga kini kuperoleh Buah dan menjadi Raja Permata.
 Kembali, ’kan kuselamatkan makhluk yang bagaikan pasir Gāṅga.
 Biarlah batin mendalam ini kuhaturkan bagi (Buddha)kṣetra sebanyak debu.
 Inilah yang dinamakan membalas budi Buddha.

 Dengan tunduk kuundang Bhagavan sebagai saksi:
 ke dunia yang merosot dengan lima kekeruhan ’ku berkomitmen memasukinya dahulu.
 Jikalau satu makhluknya pun belum mencapai Kebuddhaan,
 selamanya di sini takkan kuambil [kedamaian] Nirvāṇa.”

Menyelamatkan semua makhluk bahkan hanya merupakan cara membalas budi pada tataran fenomenal sebab, pada tataran nomenal, penyelamat, keselamatan, dan yang diselamatkan hakikatnya adalah kosong. *Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 293c) mengatakan “menginsafi kekosongan ketiga cakra demi membalas budi Buddha” (悟三輪空以報佛恩).


Apabila pernyataan di atas terlalu mengawang-awang, maka teks lain mengatakan:

「舍利弗。唯有二人能報佛恩。何等為二?
“Śāriputra, hanya ada dua pribadi yang mampu membalas budi Buddha. Apakah keduanya itu?

一者、盡漏;
1. Yang mengakhiri kebocoran batin;

二者、發阿耨多羅三藐三菩提心。
2. Yang membangkitkan batin Anuttara Samyak-saṃbodhi.

舍利弗。是二種人善能供養諸佛如來,善報諸佛所有恩惠。」
Śāriputra, kedua jenis pribadi ini dengan baik mampu mempersembahi para Tathāgata, dengan baik membalas budi yang diulurkan para Buddha.”

—— *Sarvadharmāgrasamudgatarāja Sūtra
《諸法勇王經》
(T. vol 17, № 822 hlm. 849b)

Jikalau mencapai Kebuddhaan masih di luar jangkauan pemikiran kita, maka yang lebih rendah adalah dengan mengakhiri kebocoran batin (kṣīṇāsrava), yakni: menjadi arhat. Atau, seperti homili Bodhisattva *Mayūrarāja dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra sebelumnya, untuk membalas budi Buddha minimal kita memiliki Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda).

Keyakinan yang Tak Terhancurkan hanya dimiliki oleh seorang yang, minimal, mencapai Srotāpatti¹. Salah satu unsur dari Keyakinan yang Tak Terhancurkan adalah keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara yang bersifat adiduniawi.

Anāsrava Saṃvara dapat tercapai dengan berlatih Prātimokṣa Saṃvara, yang meliputi disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī hingga disiplin upāsaka/upāsikā. Prātimokṣa Saṃvara, yang bersifat duniawi, mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi². Prātimokṣa Saṃvara sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan³. Karenanya ia disebut pengarah Pembebasan.






CATATAN:

¹ Lihat Sūtra tentang Empat Dharma.

² Menurut Vinaya Mātr̥kā, etimologi lama (dalam suatu dialek Prakerta) prātimokṣa berasal dari kata pramukha dengan infiks -ādi-, dan ditafsirkan sebagai ‘perintis kepada yang terunggul’ (yakni: yang adiduniawi).

³ Penjelasan Vinayācārya Tao-hsüan.

Minggu, 19 Desember 2021

Tahu Membalas Budi merupakan Permata yang Sukar Didapat (2)

Menyambung posting sebelumnya, kali ini diberikan contoh versi yang tergolong kelompok kedua, dari “Kṣudraka Vastu” pada Mūlasarvāstivāda Vinaya. Urut-urutan lima hal yang jarang ada di sini tidak sama persis dengan yang termuat dalam “Bhaiṣajya Vastu”, meskipun kedua skandhaka ini sesungguhnya merupakan bagian dari Vinaya Piṭaka satu mazhab yang sama. Istilah kr̥tajña-kr̥tavedin ‘kenal budi dan tahu budi’ ditraduksi oleh sang penerjemah, I-tsing, hampir-hampir harfiah sebagai 知恩報恩 (‘tahu budi dan membalas budi’), dan menjadi begitu populer di kemudian hari.



zhi en bao en 知恩報恩



栗㚲毘子既至林所,便即下車,徒步而進,詣世尊所,頂禮雙足,退坐一面,欲聽妙法。世尊為說示教利喜,各令慶悅。
Sesudah para putra Licchavi tiba di hutan itu, maka turunlah mereka dari keretanya, kemudian berjalan kaki melangkah maju, menghampiri tempat Buddha, bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, lalu undur berduduk ke satu sisi, hendak menyimak akan Saddharma. Bhagavan pun membabar, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, sehingga masing-masing kesenangan.



爾時,會中有一婆羅門名曰黃髮摩納婆,從座而起,整衣合掌,白佛言:「世尊。我今樂欲隨喜讚歎!」
Pada saat itu di tengah-tengah persamuhan itu adalah seorang brāhmaṇa bernama Māṇava Rambut Kuning yang bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Ya Bhagavan, kini aku bergemar hendak memuji-muji seturut kegembiraanku!”

佛告摩納婆:「隨汝意說!」
Buddha memberitahu sang māṇava: “Seturut pikiranmu, ucapkanlah!”

既蒙佛許,即說頌曰:
Setelah beroleh izin Buddha, maka diucapkannya syair:

「大王身持寶裝甲  今為國主獲善利
 有佛現生於此處  名稱高遠若須彌
 如白蓮華處池中  於夜開敷散芬馥
 如日流暉照空界  光明遍滿於世間
 當觀如來智慧力  如大明炬照昏冥
 常為人天作智眼  諸來見者皆調伏」

“Sang Raja Agung [Aṅgīrasa] berbaju zirah pusaka pada tubuh-Nya
demi penguasa negeri [Magādha], agar ia beroleh keuntungan baik.
Ada Buddha yang lahir sekarang di tempat ini,
yang kemasyhuran nama-Nya tinggi dan jauh bagai Sumeru.

Bagai bunga seroja putih bertempat di tengah kolam,
yang mekar terbuka pada malam, menyebarkan semerbak.
Bagai mentari beredar memancarkan terik di wilayah angkasa,
terang cahaya-Nya merata memenuhi dunia.

Pandanglah kekuatan kebijaksanaan Tathāgata,
yang bagai suluh terang berpancar di kegelapan senja,
yang bagi dewa dan manusia senantiasa menjadi mata pemahaman,
sehingga semua yang datang melihatnya pun terjinakkan.”



時,諸栗㚲毘聞是說已,同聲讚言:「大摩納婆。善說斯語!」
Kalakian, setelah para Licchavi mendengar ucapan ini, berpadu suara mereka memujinya: “Ya māṇava yang agung, baik sekali kauucapkan perkataan ini!”]

是時,會中有五百栗㚲毘子,各脫上衣,持施黃髮
Tatkala itu di tengah-tengah persamuhan adalah lima ratus putra Licchavi yang masing-masing melepas jubah atasnya, memegang, dan memberikannya kepada Rambut Kuning.

世尊復為大眾說法,示教利喜,默然而住。
Bhagavan pun, demi persamuhan besar itu, [sekali] lagi membabarkan Dharma, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, kemudian senyap berdiam.



時,諸栗㚲毘子各從座起,整衣合掌,而白佛言:「唯願世尊哀愍我等:與諸苾芻,明日城內受我微供!」
Kalakian para putra Licchavi masing-masing bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya, dan berkata kepada Buddha: “Berkenanlah kiranya Bhagavan mengibaï kami sekalian: bersama para bhikṣu esok hari di dalam kota menerima persembahan sederhana kami!”

佛言:「我與苾芻已許菴沒羅女明日就食。」
Buddha berkata: “Aku bersama para bhikṣu telah meluluskan Āmrapālī besok menjamu makan.”

白言:「大德。我有所失不如彼女,彼有智慧先請世尊。我等不能及時親覲、恭敬、禮拜,我於後時當興供養。」
Kata mereka: “Bhadanta, kami memiliki kecerobohan, tidak seperti wanita itu; dia memiliki kebijaksanaan sehingga terlebih dahulu mengundang Bhagavan. Kami tidak mampu tepat waktu beranjangsana, menghormat, dan bersalam sembah. Di kemudian waktu [lain] kami tentu akan mengadakan persembahan.”

佛言:「甚善!」
Buddha berkata: “Alangkah baiknya!”

聞佛讚已,情懷歡喜,頂禮佛足,奉辭而去。
Setelah mereka dengar pujian Buddha, maka tersimpanlah sukacita dalam emosinya. Lalu bernamaskāralah mereka menyembah kaki Buddha, berpamitan, dan pergi.



時,摩納婆見彼諸人辭佛去後,少時而住,即從座起,整衣合掌,白佛言:「大德。彼五百人聞我讚佛,同聲慶喜。為妙語故,各持一衣,來施於我。我持奉佛,唯願慈悲哀愍納受!」
Kalakian, sesudah melihat orang-orang itu berpamitan kepada Buddha dan pergi, sang māṇava, yang tinggal sementara waktu lagi, bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Bhadanta, kelimaratus orang itu mendengarku memuji Buddha dan berpadu suara kesenangan. Oleh karena ucapan yang menakjubkan, masing-masing memegang sehelai jubah, dan datang memberikannya kepadaku. Aku memegang dan menghaturkannya untuk Buddha; berkenanlah kiranya, demi kasih–sayang-Mu, mengibaï kami menerimanya!”



世尊為受,告言:「摩納婆。若如來、應、正等覺出現世間,有五希有事亦現於世。云何為五?
Bhagavan menerimanya dan memberitahu: “Māṇava, jikalau seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini, ada lima hal yang jarang ada yang juga akan muncul. Apakah kelimanya itu?

謂:
Yakni:

於世間若有大師如來、應、正等覺、明行圓滿、善逝、世間解、無上士、調御丈夫、天人師、佛、世尊出現於世,凡所說法初中後善,文義巧妙,純一圓滿,清淨鮮白梵行之相。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第一希有。
Di dunia ini jikalau ada sang Guru Agung — Yang Datang Demikian, Yang Layak, Yang Mencapai Pencerahan Menyeluruh yang Tepat, Yang Penuh Sempurna Pengetahuan dan Tindakannya, Yang Pergi dengan Baik, Pengenal Segenap Alam, Yang Tiada Taranya, Sais Penjinak Insan, Guru Para Dewa dan Manusia, Buddha, Yang Dimuliakan Dunia — yang muncul, maka setiap Dharma yang dibabarkan-Nya akan baik di awal (ādikalyāṇa), pertengahan (madhyakalyāṇa), dan akhir (paryavasānakalyāṇa); indah dalam bahasa (suvyañjana) maupun arti (svartha); unik satu-satunya (kevala) dan penuh sempurna (paripūrṇa); berkarakeristik kehidupan kudus (brahmacarya) yang bersih-jernih (pariśuddha) dan putih-segar (paryavadāta). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada pertama apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有聽聞如是妙法,能善作意一心審諦,攝斂諸根,思念觀察。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第二希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang mendengar dan menyimak Dharma Sejati Tathāgata, lalu mampu mengaplikasikan pikiran (manaskāra) kepada keterpusatan batin dan menyelidiki kebenarannya, merangkum segala indera, merenungkan dan memeriksanya (melakukan refleksi [pratyavekṣaṇa]). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada kedua apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!其聞法者,情生喜悅獲大善利,於世俗事生厭離心——此是如來、應、正等覺出現世間第三希有。
Selanjutnya lagi, ia yang menyimak Dharma, lalu kegembiraan timbul dalam emosinya karena memperoleh keuntungan baik yang besar, dan terhadap perkara duniawi timbul keceraian karena enggan (saṃvega) — inilah hal yang jarang ada ketiga apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有展轉聽聞法者,皆亦漸漸依教奉持——此是如來、應、正等覺出現世間第四希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang bergulir mendengar dan menyimak Dharma [demi Dharma], dan terhadap semuanya pun berangsur-angsur menjunjung dan memegang sesuai yang diajarkan — inilah hal yang jarang ada keempat apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!諸聞法者繫念思惟,即能通達甚深妙慧——此是如來、應、正等覺出現世間第五希有。
Selanjutnya lagi, mereka yang, terhadap segala Dharma yang disimak, merenungkan dengan intensif dan mempertimbangkannya sehingga mampu menembus kebijaksanaan menakjubkan yang teramat dalam — inilah hal yang jarang ada kelima apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!摩納婆。知恩報恩名大善士:少尚不忘,何況多恩!
Selanjutnya lagi, Māṇava, seseorang yang kenal budi (kr̥tajña) dan [tahu] membalas budi (kr̥tavedin) dinamakan insan baik yang agung (mahā satpuruṣa): budi yang sedikit bahkan tidak dilupakannya, apalagi yang banyak!

是故!汝今應勤修學。」
Oleh karena itu, kini mestilah engkau dengan tekun berlatih dan mengembangkannya!”



摩納婆聞佛說已,歡喜信受,頂禮雙足,辭佛而去。
Setelah sang māṇava mendengar apa yang disabdakan Buddha, dengan sukacita ia meyakini dan menerimanya, lalu bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, berpamitan kepada Buddha dan pergi.

Tahu Membalas Budi merupakan Permata yang Sukar Didapat (1)

Perikop berikut merupakan bagian dari sūtra ke-2 Dīrgha Āgama Tionghoa, *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 (‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, T. vol. 1, № 1 hlm. 14a–b). Akan tetapi, paralelnya bukan kita temukan dalam Mahāparinibbāna Sutta Pāli, malah dalam sebuah sutta di Aṅguttara Nikāya (V.20: 5) yang dijuduli seturut nama Pāli sang tokoh interlokutor, Piṅgiyānī, walau tanpa kejelasan sekuens kapan pastinya sutta tersebut dibabarkan. Perikop kita, sebagai bagian dari narasi parinirvāṇa Buddha, sebaliknya menceritakan bahwa Paiṅgika sedang menemani para pangeran Licchavi dalam usaha membujuk Buddha agar membatalkan kesediaan-Nya menghadiri perjamuan makan dari Ambapālī, yang telah mendahului mereka menyampaikan undangan.

Legenda Ambapālī dalam teks-teks Buddhis berbagai mazhab memang agak kacau kronologinya. Adegan-adegannya begitu tumpang-tindih sehingga kita tidak tahu persis apakah Ambapālī pertama kali bertemu Buddha jauh sebelum Beliau parinirvāṇa atau hanya menjelang bulan-bulan final-Nya. Mungkinkah undangan makan dalam berbagai versi sūtra-sūtra Mahāparinirvāṇa hanyalah undangan kesekian kalinya sebab ia telah bertemu dan pernah mengundang Buddha pula sebelumnya? Konfrontasi dengan pangeran-pangeran Licchavi juga membingungkan sebab dalam narasi Mahīśāsaka Vinaya (lihat paragraf di bawah) hal itu terjadi pada saat Raja Bimbisāra masih hidup dan Buddha pertama kalinya meninggalkan wilayah Magādha menuju Vaiśālī (di luar konteks peristiwa wabah dan, tentu saja, masih jauh dari parinirvāṇa). Apakah yang dinarasikan berbagai versi sūtra-sūtra Mahāparinirvāṇa sesungguhnya mencakup peristiwa-peristiwa hingga rentang beberapa (puluh) tahun kehidupan Buddha, dan sesungguhnya cuma ada satu undangan makan Ambapālī?

Selain di Aṅguttara Nikāya, paralel perikop kita termuat di manuskrip (Hīnayāna) Mahāparinirvāṇa Sūtra Sanskerta, serta di dua terjemahan terawal Parinirvāṇa Sūtra (T. vol. 1, № 5 hlm. 164a–b dan № 6 hlm. 179b–c). T. № 6 sepertinya cuma merupakan revisi atas T. № 5, yang mengandung banyak interpolasi Tionghoa. Namun, kita tidak tahu pasti — bisa saja keduanya diterjemahkan dari dua sumber berbeda, milik dua mazhab berbeda.

Pada Vinaya Piṭaka berbagai mazhab, kita pun dapat menjumpaïnya dalam “Cīvara Skandhaka” dari masing-masing Mahīśāsaka Vinaya (T. vol. 22, № 1421 jld. 20 hlm. 135c–136a) dan Dharmaguptaka Vinaya (T. vol. 22, № 1428 jld. 40 hlm. 856a–b). Ia juga muncul dua kali pada Mūlasarvāstivāda Vinaya, dengan dua terjemahan berbeda untuk nama Paiṅgika: Hiasan Ekstensif 廣飾 dalam “Bhaiṣajya Vastu” 《根本說一切有部毘奈耶藥事》 (T. vol. 24, № 1448 jld. 7 hlm. 28c–29a) dan Rambut Kuning 黃髮 dalam “Kṣudraka Vastu” 《根本說一切有部毘奈耶雜事》 (T. vol. 24, № 1451 jld. 36 hlm. 28c–29a).

Piṅgiyānī, seorang brāhmaṇa menurut versi Pāli, memuji Buddha hanya dengan sebait syair. Sedangkan Paiṅgika, yang merupakan seorang māṇava (siswa brāhmaṇa) menurut kebanyakan versi lainnya, memuji dengan tiga atau empat bait syair. Pengecualian adalah pada T. № 5, sebagai terjemahan tertua, yang memparafrase pujian tersebut dalam bentuk prosa. Baris pertama syair Mahīśāsaka Vinaya patut kita perhatikan karena menyebut nama ‘Raja Bimbisāra’ secara eksplisit (瓶沙得善利), alih-alih ‘Raja Magādha’ seperti dalam versi-versi lainnya. Hal ini dikarenaï undangan Ambapālī kepada Buddha, yang dikonfrontir pangeran-pangeran Licchavi, terjadi sesudah Raja Bimbisara melepas Buddha dan saṅgha-Nya pergi ke Republik Vr̥ji untuk pertama kalinya.

Tentang lima dharma yang dibabarkan selanjutnya, kita dapat membagi berbagai versi ke dalam dua kelompok. Kelompok kesatu adalah versi-versi “permata” karena menyebutnya sebagai “lima permata yang sukar didapat” atau “lima permata yang jarang ada di dunia”. Pada kelompok ini pribadi yang tahu membalas budi dianggap sebagai permata ke-5 (barangkali rancu dengan daftar dua pribadi yang sukar didapat, dalam sūtra ini). Yang tergolong kelompok ini antara lain: Piṅgiyānī Sutta, *Viharaṇa Sūtra, Mahīśāsaka Vinaya, dan Dharmaguptaka Vinaya. Pengecualian adalah pada Dharmaguptaka Vinaya yang, kendati menggunakan istilah “permata”, tetapi isinya lebih mirip kelompok kedua, bahkan tidak menyinggung-nyinggung sama sekali tentang membalas budi.

Pada kelompok kedua, salah satu permata dari kelompok kesatu biasanya ada yang dipecah menjadi dua, sedangkan anjuran agar membalas budi dijadikan paragraf terpisah setelahnya. Versi-versi yang tergolong kelompok ini antara lain: T. № 5 dan № 6, serta dua versi pada Mūlasarvāstivāda Vinaya. Membalas budi yang ditekankan terutama adalah kepada Buddha sebab berkat kemunculan-Nyalah lima hal yang jarang ada di dunia tersebut bisa didapat. T. № 5, yang lebih bebas bahasanya, karenanya tidak menyebut daftar ini sebagai “lima hal yang jarang ada”, melainkan “lima perbawa Buddha” 佛五威神.







爾時,五百隷車往至菴婆婆梨園,欲到佛所。下車步進,頭面禮足,却坐一面。
Pada saat itu kelimaratus orang Licchavi itu pun berangkat sampai Taman Ambapālī, hendak menuju ke tempat Buddha. Turunlah mereka dari keretanya, kemudian melangkah maju. Dengan kepala dan wajahnya mereka menyembah kaki Buddha, lalu undur berduduk ke satu sisi.

如來在座,光相獨顯,蔽諸大眾,譬如秋月。又如天地清明,淨無塵翳,日在虛空,光明獨照。
Tathāgata berada pada takhta-Nya, dan karakteristik cahaya-Nya semata yang mencolok, menyelimuti semua dalam kumpulan besar itu ibarat rembulan musim gugur. Pun bagai di langit dan bumi yang jernih dan terang, bersih tanpa kepulan debu, mentari di angkasa terang cahayanya semata yang berpancar.

爾時,五百隷車圍遶侍坐,佛於眾中,光相獨明。
Pada saat itu kelimaratus orang Licchavi duduk melayan di sekeliling, dan Buddha di tengah-tengah kumpulan tersebut. Karakteristik cahaya-Nya semata yang benderang.



是時,坐中有一梵志名曰并𩞚,即從座起,偏袒右臂,右膝著地,叉手向佛,以偈讚曰:
Tatkala itu di antara yang berduduk adalah seorang brāhmaṇa bernama Paiṅgika, yang bangkit dari tempat duduknya, menyibakkan pundak kanan jubahnya, dengan lutut kanan menyentuh tanah berañjali menghadap Buddha, lalu dalam gāthā memuji sbb.:

摩竭鴦伽王  為快得善利
 身被寶珠鎧  世尊出其土
 威德動三千  名顯如雪山
 如蓮花開敷  香氣甚微妙
 今睹佛光明  如日之初出
 如月遊虛空  無有諸雲翳
 世尊亦如是  光照於世間
 觀如來智慧  猶闇睹庭燎
 施眾以明眼  決了諸疑惑」

“Di Magādha, sang Aṅgīrasa, demi raja [tanah tersebut]
agar tergirangkan karena mendapat keuntungan baik,
telah mengenakan zirah mutiara pusaka pada tubuh-Nya
— sang Bhagavan pun muncul (Tercerahkan) di tanah sana.

Keperbawaan-Nya mengguncang trisahasra[-mahāsahasra-lokadhātu],
nama-Nya mencolok bagaikan Gunung Salju (Himavant).
Bagai bunga seroja mekar terbuka,
hawa semerbak-Nya sungguh halus menakjubkan.

Kini kulihat terang cahaya Buddha
bagai terbitnya mula-mula matahari,
bagai rembulan yang berkelana di angkasa
tanpa adanya segala kepulan awan.
Demikian pulalah sang Bhagavan:
cahaya-Nya memancar ke seluruh dunia.

Memandang kebijaksanaan Tathāgata
bagaikan dalam gulita melihat suluh.
Dianugerahi-Nya semua makhluk mata yang terang,
yang memahamkan dan memutus segala keraguan.”



時,五百隷車聞此偈已,復告并𩞚:「汝可重說!」
Kalakian, setelah kelimaratus orang Licchavi mendengar gāthā ini, mereka memberitahu lagi Paiṅgika: “Bolehlah engkau ulang mengucapkannya!”

爾時,并𩞚即於佛前再三重說。
Pada saat itu Paiṅgika pun di hadapan Buddha ulang mengucapkannya tiga kali.

時,五百隷車聞說偈已,各脫寶衣,以施并𩞚并𩞚即以寶衣奉上如來;佛愍彼故,即為納受。
Kalakian, setelah kelimaratus orang Licchavi mendengar gāthā diucapkan, masing-masing melepas pakaian dan perhiasannya, dan memberikannya kepada Paiṅgika. Paiṅgika pun menghaturkan pakaian dan perhiasan tersebut kepada Tathāgata; karena mengibaï dia, Buddha pun menerimanya.



爾時,世尊告毘舍離隷車曰:「世有五寶甚為難得。何等為五?
Pada saat itu Bhagavan memberitahu para Licchavi dari Vaiśālī: “Di dunia ini ada lima permata yang sukar didapat. Apakah kelimanya itu?

一者、如來、至真出現於世甚為難得。
1. Tathāgata, sang Arhat, yang muncul di dunia ini sungguhlah sukar didapat.

二者、如來正法能演說者,此人難得。
2.Yang mampu membabarkan Dharma Sejati dari Tathāgata — orang ini pun sukar didapat.

三者、如來演法能信解者,此人難得。
3. Yang mampu meyakini dan memahami Dharma yang dibabarkan Tathāgata — orang ini pun sukar didapat.

四者、如來演法能成就者,此人難得。
4. Yang mampu mencapai keberhasilan atas Dharma yang dibabarkan Tathāgata — orang ini pun sukar didapat.

五者、臨危救厄知反復者,此人難得。
5. Yang, menjelang bahaya, ditolong dari kesengsaraan dan tahu membalasnya — orang ini pun sukar didapat.

是謂五寶為難得也。」
Inilah yang disebut lima permata yang sukar didapat.”

Rabu, 15 Desember 2021

Empat Budi Besar

 若人能供養  此四種福田
 斯人得善果  導師如是說
 Jikalau seseorang mampu mempersembahi
 keempat jenis ladang jasa ini,
 orang tersebut akan memperoleh buah yang baik
 — demikian disabdakan oleh Sang Nāyaka.

Homili Bodhisattva *Mayūrarāja 孔雀王菩薩 (‘Raja Burung Merak’) kepada dewa-dewa Surga Yāma dan Surga Tuṣita di jilid 61 Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra 《正法念處經》 (T. vol. 17, № 721 hlm. 359b):

『復次!聞法功德:成就深心,信根清淨,一向淨心信於三寶。詣聽法處,為聞正法,隨舉一足,皆生梵福。若人供養說法法師,當知!是人即為供養現在世尊。其人如是隨所供養,所願成就,乃至得阿耨多羅三藐三菩提——以能供養說法師故。
‘Selanjutnya lagi, kebajikan dari mendengar Dharma akan menghasilkan kedalaman batin, kemurnian akar keyakinan, batin murni manunggal yang yakin kepada Tiga Permata. Saat seseorang menghampiri tempat menyimak Dharma demi mendengar Saddharma, sebanyak angkatan setiap belah kakinya, jasa-jasanya akan berupa terlahir sebagai brahma [sebanyak itu] semua. Jikalau seseorang mempersembahi guru Dharma, yang membabarkan Dharma, maka ketahuilah: orang tersebut sama seperti mempersembahi Bhagavan yang sekarang! Demikianlah orang tersebut, seturut dengan apa yang dipersembahinya, akan berhasillah dalam apa yang diharapnya, [bahkan] hingga mendapat Anuttara Samyak-saṃbodhi — dikarenaï kesudiannya mempersembahi guru pembabar Dharma.

何以故?以聞法故,心得調伏;以調伏故,能斷無知流轉之闇。若離聞法,無有一法能調伏心。
Mengapa demikian? Oleh mendengar Dharma, batinnya dapat terjinakkan; karena terjinakkan, mampulah ia memotong gulita kehanyutan perputaran akibat ketidaktahuan (avidyā). Jikalau tercerai dari pendengaran Dharma, tiada satu cara pun yang mampu menjinakkan batinnya.

如聞說法,有四種恩甚為難報。何等為四?
Seperti Dharma, yang pembabarannya ia dengar, ada empat jenis [orang] yang budinya teramat sukar dibalas. Apakah keempatnya itu?

一者、母;     1. Ibu;
二者、父;     2. Ayah;
三者、如來;    3. Tathāgata;
四者、說法法師。  4. Guru Dharma, yang membabarkan Dharma.

若有供養此四種人,得無量福,現在為人之所讚歎,於未來世能得菩提。
Jikalau ada yang mempersembahi keempat jenis orang ini, maka akan didapatlah jasa yang tiada terukur: di kehidupan sekarang akan dipuji oleh orang-orang, di kehidupan mendatang akan mampu memperoleh Bodhi.

何以故?以說法力,令憍慢者得調伏故,令貪著者信布施故,令麁獷者心調柔故,令愚癡者得智慧故。以聞法力,令迷因果者得正信故。以聞法力,令邪見者入正見故。以聞法力,令樂殺生、偷盜、邪婬業者得遠離故。以此說法調伏因緣,終得涅槃。——以此因緣,說法法師甚為難報。
Mengapa demikian? Berkat kekuatan pembabaran Dharma, yang congkak-sombong akan dapat terjinakkan, yang melekat dengan loba akan berderma dengan yakin, yang kasar dan beringas akan terlembutkan batinnya, yang bodoh-dungu akan mendapat kebijaksanaan. Berkat kekuatan mendengar Dharma, yang menyimpang perihal sebab–akibat akan mendapat keyakinan tepat. Berkat kekuatan mendengar Dharma, yang berpandangan sesat akan memasuki pandangan tepat. Berkat kekuatan mendengar Dharma, yang gemar akan pembunuhan makhluk hidup, pencurian, dan perbuatan seksual yang sesat akan dapat meninggalkannya sejauhnya. Disebab-musababi keterjinakan, berkat pembabaran Dharma ini, akhirnya akan diperolehlah Nirvāṇa. — Oleh sebab-musabab inilah guru Dharma, yang membabarkan Dharma, teramat sukar dibalas.

父母之恩難可得報,以生身故。是故!父母不可得報。若令父母住於法中,名少報恩。
Budi ayah dan ibu sukarlah boleh dapat dibalas, oleh merekalah yang melahirkan tubuh [jasmani] kita. Karena itu, ayah dan ibu tidak dapat dibalas! Jikalau menyebabkan ayah dan ibu berdiam di dalam Dharma, [bolehlah itu] dinamakan sedikit membalas budi.

如來、應、等正覺,三界最勝,度脫生死,無上大師——此恩難報。唯有一法能報佛恩:若於佛法深心得不壞信,是名報恩。以此供養,亦自利益。』
Sang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha merupakan yang terunggul di Tiga Alam, yang menyeberangkan kita bebas dari kelahiran dan kematian, yang merupakan Guru Agung yang tiada taranya — budi ini sukarlah dibalas. Hanya ada satu cara yang mampu membalas budi Buddha: jikalau terhadap Buddhadharma dengan batin mendalam kita memperoleh Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda), itu dinamakan membalas budi. Dengan inilah sebagai persembahan kita [bagi Buddha], di samping kita menguntungi diri sendiri.’

Sabtu, 22 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (2)

Apa yang kita bahas pada bagian (1) lalu hanya berkenaan dengan kariér Buddha kita dalam mewujudkan tubuh transformasi-Nya (nirmāṇakāya) sebagai Śākyamuni, yang nama lahirnya Siddhārtha Gautama. Kenyataannya Śākyamuni bukan baru saja Tercerahkan 2.500 tahun silam. Dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab XVI, “Panjang Usia Tathāgata” 《妙法蓮華經·如來壽量品》 (T. vol. 9, № 262 hlm. 43b), dikatakan:

「自我得佛來  所經諸劫數
 無量百千萬  億載阿僧祇」

 “Semenjak Aku beroleh Kebuddhaan,
 hitungan kalpa-kalpa yang telah terlalui
 tiada terukur dengan ratusan, ribuan, laksaan,
 kotian atau asaṅkhyeya-an.”

Sesuai konsep trikāya Mahāyāna, saat seseorang mencapai tingkatan Buddha, ia biasanya merealisasikan tubuh kenikmatan (saṃbhogakāya) terlebih dulu. Tubuh kenikmatan senantiasa berdiam sentosa dalam ranah suci Akaniṣṭha (di bawah ini disimbolkan dengan Gunung Gr̥dhrakūṭa) dan, kepada siapa pun yang perlu diselamatkan dengan tubuh seorang Buddha, ia akan mewujudkan diri dalam rupa Buddha — betul-betul nyata secara fisis — demi membabarkan Dharma (應以佛身得度者,即現佛身而為說法).

Di sinilah budi besar keempat Buddha yang disebutkan Guru Nasional Ch’ing-liang. Ia sesungguhnya sudah mencapai Kebuddhaan jauh di masa lampau. Namun, karena belaskasih agung-Nya Ia rela nuzul dan kembali terlibat dalam perputaran saṃsāra. Sebagai upāyakauśalya Ia menampilkan diri seperti makhluk biasa yang berjuang berkalpa-kalpa, dan pada akhirnya meraih Pencerahan Sempurna sebagai seorang Buddha lalu parinirvāṇa. Keseluruhan pertunjukan ini akan diulangi-Nya berapa kali pun manakala kondisi-kondisi yang sesuai muncul, sementara tubuh kenikmatan-Nya selalu berdiam tenteram.

Gāthā di atas bersambung sbb.:

「常說法教化  無數億眾生
 令入於佛道  爾來無量劫

 “Senantiasa membabarkan Dharma, Aku mengajar
 kotian makhluk yang tiada terhitung
 agar memasuki Jalan Kebuddhaan,
 selama berkalpa-kalpa tak terukur.

 為度眾生故  方便現涅槃
 而實不滅度  常住此說法

 Demi menyelamatkan semua makhluk,
 dengan keterampilan upāya Kutampilkan [pari]Nirvāṇa.
 Namun, sesungguhnya Aku tidak padam;
 senantiasa berdiam di sini Kubabarkan Dharma.

 我常住於此  以諸神通力
 令顛倒眾生  雖近而不見

 Aku senantiasa berdiam di sini.
 Dengan berbagai kekuatan penembusan spiritual,
 Kubiarkan makhluk-makhluk terkeliru yang,
 meskipun dekat, namun tidak melihat-Ku.

 眾見我滅度  廣供養舍利
 咸皆懷戀慕  而生渴仰心

 Makhluk-makhluk itu melihat-Ku padam dan
 secara ekstensif memuja [relikui] śarīra-Ku.
 Mereka semua memendam kerinduan,
 batinnya diliputi dahaga sambil menengadah.

 眾生既信伏  質直意柔軟
 一心欲見佛  不自惜身命

 Makhluk-makhluk yang telah yakin tertundukkan.
 Pikirannya lurus lagi lemah-lembut,
 dengan sepenuh hati hendak melihat Buddha
 tanpa sayang ’kan raga dan nyawanya.

 時我及眾僧  俱出靈鷲山
 我時語眾生  常在此不滅
 以方便力故  現有滅不滅」

 Pada saat itu Aku beserta saṅgha
 akan keluar bersama dari Puncak Nasar (Gr̥dhrakūṭa).
 Saat itu akan Kuungkapkan kepada semua makhluk:
 ‘Aku senantiasa berada di sini tanpa padam.
 Karena kekuatan keterampilan upāya-Ku ’lah
 Kutampilkan adanya padam (wafat) dan tidak padam (lahir).’ ”


Kapan Buddha kita benar-benar pertama sekali mencapai Kebuddhaan sukarlah terbayangkan. Menurut Brahmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. vol. 24, № 1484 hlm. 1003c):

「吾今來此世界八千返,為此娑婆世界坐金剛座 ……。」
“Kini Aku datang ke dunia ini ke-8.000 kalinya, demi Dunia Sāhā ini Kududuki Takhta Vajra (vajrāsana) ….”

Dari saat Beliau pertama sekali mencapai Kebuddhaan, kita bisa memperkirakan mundur tiga asaṅkhyeyakalpa ke belakang Beliau menjadi bodhisattva yang mengucapkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan secara langsung di hadapan seorang Buddha lain saat itu. Lebih sukar lagi memperkirakan kapan Beliau benar-benar pertama sekali bertekad menguniversalkan karya-Nya ketika masih berstatus sebagai makhluk biasa.

Jumat, 21 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (1)

Budi besar pertama Buddha yang disebutkan Guru Nasional Ch’ing-liang adalah karena tekad-Nya yang hendak menguniversalkan karya penyelamatan-Nya. Bilakah altruisme tersebut mulaï dikembangkan? Seringkali diceritakan bahwa Ia merintis kariér Kebodhisattvaan-Nya tiga asaṅkhyeyakalpa lampau semenjak mengucapkan tekad di hadapan seorang Buddha lain yang juga bernama (Mahā) Śākyamuni.

Kata asaṅkhyeya secara harfiah berarti ‘tiada terhitung’ (無數). Bagaimana bisa ketiadaterhitungan dijadikan unit bilangan, bahkan bernilai tiga? Pada penjelasan untuk bait 93d dari bab III Abhidharmakośa 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 63b-c), Vasubandhu mengutip sebuah muktaka sūtra 解脫經 (‘sūtra lepas’, yakni sūtra yang tidak terkelompokkan dalam āgama/nikāya mana pun):

六十數中,阿僧企耶是其一數。
Di antara enam puluh unit, asaṅkhyeya adalah unit kesatunya (ṣaṣṭiḥ sthānāntarāṇy asaṃkhyeyam).

Perhitungannya dimulaï dari 1 (10⁰) sebagai unit terendah, 10 (10¹) sebagai unit berikutnya, 100 (10²) dst. … hingga berakhir dengan 1 asaṅkhyeya (10⁵⁹) sebagai unit tertinggi. Sementara itu, kalpa adalah jangka waktu yang sudah pernah kita bahas, yang dapat dibedakan menjadi: kalpa kecil, kalpa menengah, dan kalpa besar (mahākalpa). Adapun yang dirujuk oleh “tiga asaṅkhyeyakalpa” (三阿僧祇劫) sejatinya bermaksud 3×10⁵⁹ mahākalpa (三無數大劫). Maka dapatlah kita bayangkan berapa lamanya tiga asaṅkhyeyakalpa itu!



DipankarDipamkara
Buddha Dīpaṅkara memberikan prediksi kepada Sang Bodhisattva
(dipanggil Megha, Sumedha, atau Sumati menurut tradisi tekstual yang berbeda-beda)


Nāgārjuna menjelaskan di bab I-8 Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 87a):

如是菩薩一阿僧祇過,還從一起。
Demikianlah bodhisattva, setelah sebuah asaṅkhyeya berlalu, ia kembali memulaï dari [mahākalpa] kesatu (pada asaṅkhyeya berikutnya).

初阿僧祇中,心不自知:「我當作佛?不作佛?」;
Dalam asaṅkhyeya pertama batinnya tidak mengetahui dirinya sendiri: “Akankah aku menjadi Buddha? atau tidak menjadi Buddha?”;

二阿僧祇中,心雖能知:「我必作佛」,而口不稱:「我當作佛」;
dalam asaṅkhyeya kedua, meskipun batinnya mampu mengetahui: “Aku pasti menjadi Buddha”, namun mulutnya tidak mengucap: “Aku akan menjadi Buddha”;

三阿僧祇中,心了了自知得作佛,口自發言,無所畏難:「我於來世當作佛!」
dalam asaṅkhyeya ketiga batinnya paham-memahami, mengetahui dirinya sendiri dapat menjadi Buddha, dan mulutnya menguncarkan perkataan tanpa kesukaran yang ditakuti: “Di masa mendatang aku akan menjadi Buddha!”

釋迦文佛,從過去釋迦文佛到剌那尸棄佛,為初阿僧祇;是中菩薩永離女人身。
Śākyamuni menuruti Buddha Śākyamuni purba hingga Buddha Ratnaśikhin dalam asaṅkhyeya pertama; di sana Sang Bodhisattva selamanya terbebas dari [kelahiran dengan] tubuh sebagai wanita.

剌那尸棄佛至燃燈佛,為二阿僧祇;是中菩薩七枚青蓮華供養燃燈佛,敷鹿皮衣,布髮掩泥;是時燃燈佛便授其記:「汝當來世作佛,名釋迦牟尼。」
Diturutinya Buddha Ratnaśikhin hingga Buddha Dīpaṅkara dalam asaṅkhyeya kedua; di sana Sang Bodhisattva mempersembahkan tujuh kuntum bunga teratai biru kepada Buddha Dīpaṅkara, menebarkan jubah kulit rusanya, menguraikan rambutnya guna menutupi lumpur; dan saat itu Buddha Dīpaṅkara lalu memberinya prediksi: “Di masa mendatang engkau akan menjadi Buddha yang bernama Śākyamuni.”

燃燈佛至毘婆尸佛,為第三阿僧祇。
Diturutinya Buddha Dīpaṅkara hingga Buddha Vipaśyin dalam asaṅkhyeya ketiga.

若過三阿僧祇劫,是時菩薩種三十二相業因緣。
Selewat tiga asaṅkhyeyakalpa merupakan saat bagi Sang Bodhisattva menanam sebab dan kondisi karma [untuk memperoleh] tiga puluh dua ciri.

Penjelasan di atas adalah berdasarkan tradisi Sarvāstivāda seperti tercatat dalam jilid 178 komentar besar abhidharma-nya, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 892c), di mana pada asaṅkhyeyakalpa pertama Sang Bodhisattva melayani 75.000 Buddha, pada asaṅkhyeyakalpa kedua 76.000 Buddha, dan pada asaṅkhyeyakalpa ketiga 77.000 Buddha. Hal ini juga diikuti Vasubandhu di bait 109–112 bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 95a–b).

Tiga asaṅkhyeyakalpa merupakan waktu Sang Bodhisattva menyempurnakan empat pāramitā: dāna, śīla, kṣanti, dan vīrya (dua pāramitā sisanya, dhyāna dan prajñā, baru benar-benar sempurna ketika Beliau memasuki Vajropama Samādhi 金剛喻定 sesaat sebelum mencapai Bodhi). Melewati tiga asaṅkhyeyakalpa, sebetulnya masih ada 100 mahākalpa tambahan (三僧祇百大劫) yang harus diselesaikannya untuk mengumpulkan jasa-jasa demi terbentuknya tiga puluh dua ciri orang agung (dvātriṃśan mahāpuruṣa-lakṣaṇa). Namun, tidak seperti bodhisattva-bodhisattva lain, sembilan mahākalpa dilompati Bodhisattva kita berkat ketekunannya menyempurnakan semangat (vīrya) dengan berdiri tujuh hari tujuh malam memandangi Tathāgata Tiṣya sambil memuji-Nya dalam satu bait “Eka Gāthā” yang terkenal. Akibat jasa-jasa ini, ia hanya memerlukan 91 mahākalpa untuk menyempurnakan tiga puluh dua ciri, berawal dari zaman Buddha Vipaśyin.



Sebagaimana umum diketahui, teori penyempurnaan enam pāramitā sudah diajukan oleh mazhab Sarvāstivāda dan bukan khas milik Mahāyāna saja. Dalam Mahāyāna Saṅgraha 《攝大乘論本》 (‘Kompendium Kendaraan Besar’, T. vol. 31, № 1594 hlm. 146a–b) barulah terdapat teori lain yang dijelaskan Asaṅga:

復次!凡經幾時修行諸地可得圓滿?
Selanjutnya lagi, melalui berapa waktukah sehingga pengembangan praktik berbagai tingkatan (bhūmi) boleh dapat sempurna?

有五補特伽羅,經三無數大劫。
Ada lima pudgala yang melalui tiga kalpa besar tiada terhitung (asaṅkhyeyakalpa).

謂:
Yakni:

勝解行補特伽羅,經初無數大劫修行圓滿;
① pudgala yang melaksanakan praktik kebebasan-unggul (adhimukti caryā), setelah melalui kalpa besar tiada terhitung pertama, pengembangannya akan sempurna;

清淨增上意樂行補特伽羅 及 有相行、無相行補特伽羅——於前、六地、及第七地——經第二無數大劫修行圓滿;
② pudgala yang melaksanakan praktik pemurnian kecenderungan-mental-yang-tertingkatkan (śuddhādhyāśaya caryā) serta pudgala yang melaksanakan ③ praktik dengan tanda (nimitta caryā) dan ④ praktik tanpa tanda (animitta caryā) — [yakni, berturut-turut: mereka yang berada] di Jenjang-Jenjang sebelum, VI, dan VII — setelah melalui kalpa besar tiada terhitung kedua, pengembangannya akan sempurna;

即此無功用行補特伽羅,從此已上至第十地,經第三無數大劫修行圓滿。
⑤ maka pudgala ini yang melaksanakan praktik tanpa-perlu-usaha-lagi (anābhoga caryā), dari sini (Jenjang VIII) ke atas hingga Jenjang X, setelah melalui kalpa besar tiada terhitung ketiga, pengembangannya akan sempurna.

Istilah bhūmi berarti ‘tingkatan’ dan bisa merujuk tingkatan-tingkatan spiritual mana pun secara umum. Akan tetapi, Sepuluh Jenjang terakhir yang akan dicapai seorang bodhisattva sebelum menjadi Buddha secara khusus juga disebut Daśa Bhūmi (akan kita eja dengan B kapital). Sederhananya, Asaṅga menjelaskan bahwa seorang bodhisattva akan menyempurnakan segala praktik pra-Bhūmi pada asaṅkhyeyakalpa pertama dan mencapai Bhūmi Kesatu begitu memasuki asaṅkhyeyakalpa kedua. Pada asaṅkhyeyakalpa kedua ia akan menyempurnakan segala praktik Bhūmi-Bhūmi yang lebih rendah secara berurutan (atau mungkin juga langsung melompat ke Bhūmi Keenam atau Ketujuh tergantung perbekalan pāramitā-nya). Ia akan menyelesaikan semuanya dan mencapai Bhūmi Kedelapan begitu memasuki asaṅkhyeyakalpa ketiga. Demikian seterusnya hingga ia mencapai Kebuddhaan setelah genap tiga asaṅkhyeyakalpa.



Seratus mahākalpa tambahan tampaknya tidak dikenal dalam teks-teks Mahāyāna. Dalam Upāsaka Śīla Sūtra bab VI, “Pengembangan Karma bagi Tiga Puluh Dua Ciri” 《優婆塞戒經·修三十二相業品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1039a), dikatakan:

「善男子。我於往昔寶頂佛所,滿足第一阿僧祇劫;然燈佛所,滿足第二阿僧祇劫;迦葉佛所,滿足第三阿僧祇劫。
“Putra berbudi, beranjak ke zaman dahulu, di tempat Buddha Ratnaśikhin Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa pertama; di tempat Buddha Dīpaṅkara Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa kedua; di tempat Buddha Kāśyapa Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa ketiga.

「善男子。我於往昔釋迦牟尼佛所,始發阿耨多羅三藐三菩提心。發是心已,供養無量恒沙諸佛,種諸善根,修道持戒,精進多聞。」
“Putra berbudi, beranjak ke zaman dahulu, di tempat Buddha Śākyamuni Aku mulaï membangkitkan batin Anuttara Samyak-saṃbodhi. Setelah membangkitkan batin tersebut, Aku memuja para Buddha yang tidak terukur seumpama butir-butir pasir Sungai Gaṅgā, menanam berbagai akar kebaikan, mengembangkan Jalan dan memegang Śīla, bersemangat dan banyak mendengar.”

Di sini adalah Kāśyapa (alih-alih Vipaśyin) yang menjadi Buddha terakhir dalam asaṅkhyeyakalpa ketiga. Dengan demikian tiada lagi jeda 100 atau 91 mahākalpa sebagai waktu khusus untuk mengembangkan karma bagi diperolehnya tiga puluh dua ciri. Upāsaka Śīla Sūtra selanjutnya menceritakan urut-urutan ciri mana yang berhasil diperoleh lebih dahulu. [Bulu] mata bagai raja sapi (gopakṣma netra) merupakan ciri yang pertama sebab selama kehidupan-kehidupan yang tak terukur Sang Bodhisattva senantiasa gemar bermata baik, dengan ramah memandang makhluk lain.

Minggu, 05 Januari 2020

Sepuluh Budi Besar Buddha

Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Apa lagikah jasa-jasa Buddha, yang bersedia datang ke dunia yang diliputi lima kekeruhan ini, yang tidak kita kenali?

Sepuluh budi besar Buddha disebutkan oleh Guru Nasional Ch’ing-liang 清涼國師 (737–838), patriark keempat Sekolah Hua-yen, yang mengulas Gocarapariśuddhi Sūtra 〈淨行品〉 dalam komentar Avataṃsaka LXXX-nya 《大方廣佛華嚴經疏》 (T. vol. 35, № 1735 hlm. 617a). Hal ini ia jelaskan lebih lanjut dalam subkomentar yang juga dikarangnya sendiri, Rangkuman Pemaparan Makna turutan Komentar Avataṃsaka 《大方廣佛華嚴經隨疏演義鈔》 (T. vol. 36, № 1736 hlm. 265a), sbb.:

  1. Budi besar karena bertekad menguniversalkan [karya penyelamatan-Nya] 發心普被恩

    Sewaktu Tathāgata membangkitkan bodhicitta pertama kali, Ia bertekad hendak menguniversalkan bagi semua makhluk di Dharmadhātu segala praktik unggul yang dikembangkan-Nya, segala jasa yang dicapai-Nya, agar semua beroleh manfaat dan kebahagiaan.

  2. Budi besar karena mempraktikkan pertapaan keras (duṣkara caryā) yang sukar dilaksanakan 難行苦行恩

    Tathāgata telah mengorbankan kepala, mata, sumsum, otak, wilayah kekuasaan, bahkan anak dan istri-Nya di berbagai kehidupan lampau-Nya. Ia memotong-motong daging-Nya untuk dijadikan seribu pelita, menggerus tulang-Nya untuk dijadikan bubuk dupa, melemparkan tubuh-Nya sebagai santapan harimau, menerjunkan diri-Nya dari puncak salju demi menguntungi semua makhluk.

  3. Budi besar karena altruisme-Nya yang mutlak 一向為他恩

    Dalam mengumpulkan berbagai jasa, Ia tidak mempedulikan tubuh atau nyawa-Nya, namun semata-mata hendak menolong membebaskan semua makhluk. Belum pernah sedetik pun Ia memikirkan diri-Nya sendiri.

    Sūtra mengatakan:

    菩薩所修功德行  不為自己及他人
    但以最上智慧心  利益眾生故迴向

    Praktik-praktik berjasa yang dikembangkan Bodhisattva
    bukanlah demi diri-Nya sendiri atau orang lain (tertentu).
    Hanya dengan batin kebijaksanaan yang tiada taralah
    Ia mendedikasikannya, sebab hendak menguntungi makhluk hidup.

    —— Bandingkan Avataṃsaka LXXX jilid 31

    (T. vol. 10, № 279 hlm. 169c)


  4. Budi besar karena nuzul-Nya ke enam jalur kelahiran 垂形六道恩

    Meskipun telah merealisasi Jalan dan layak menerima kebahagiaan Pemadaman yang Tak Terkondisi, Tathāgata tidak pasif berdiam dalam Nirvāṇa tanpa mengacuhkan dunia sama sekali. Dengan berbagai tubuh transformasi, Ia nuzul ke antara dewa dan manusia di enam jalur kelahiran, bahkan sudi memasuki neraka atau alam-alam penderitaan lainnya.

  5. Budi besar karena pendampingan-Nya kepada semua makhluk 隨逐眾生恩

    Apabila budi besar sebelumnya berkenaan dengan tempat, maka budi besar ini berkenaan dengan waktu.

    Karena ikatan kecintaan satu sama lain yang begitu kuat, setiap makhluk terlibat dalam beragam hubungan personal — misalnya: menjadi orangtua–anak dsb. — sehingga sukar membangkitkan semangat pertolakan (naiṣkramya). Tathāgata rela ikut terjun ke dalam arus saṃsāra dan mendampingi setiap makhluk dari kelahiran ke kelahiran, bahkan hingga berkalpa-kalpa. Bagaikan induk yang membimbing pedet agar berangsur-angsur dapat disapih dan berhenti menyusu, Ia membimbing semua makhluk agar berangsur-angsur mapan dalam aneka praktik dan memasuki Pintu Pembebasan.

  6. Budi besar karena belas-kasih agung-Nya yang mendalam 大悲深重恩

    Melihat semua makhluk yang menderita, Tathāgata turut berdukacita. Walaupun tahu bahwa penderitaan itu berasal dari perbuatan tak baik makhluk-makhluk itu sendiri, batin-Nya terusik, dan dibangkitkan-Nya belas-kasih agung untuk segera menolong mereka.

    Tentang hal ini, Pemuda Sudhana 善財童子 pernah berkata kepada Dewi Aśokaśrī 無憂德神 yang menyambutnya di muka Kota Kapilavastu:

    「聖者。譬如有人唯有一子,愛念情至,忽見被人割截支體,其心痛切不能自安。
    “Dewi, ibarat seseorang yang memiliki anak tunggal, yang teramat dicintaïnya, tiba-tiba melihat anggota badan anak tersebut dipenggal orang, tentu akan sakitlah hatinya tersayat-sayat dan tidak dapat merasa tenteram.

    菩薩摩訶薩亦復如是!見諸眾生造煩惱業,墮三惡趣受種種苦,心大憂惱。
    Bodhisattva Mahāsattva juga demikian! Melihat semua makhluk yang membuat aneka karma karena kekotoran batin, sehingga jatuh ke tiga jalur rendah serta menerima berbagai penderitaan, batin-Nya sangat berdukacita dan terusik.

    若見眾生起身、語、意三種善業,生人天趣,受身心樂,菩薩爾時生大歡喜。」
    [Sebaliknya,] jikalau melihat semua makhluk yang melakukan tiga jenis karma baik melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, sehingga lahir di jalur manusia dan dewa serta menerima kebahagiaan jasmaniah dan batiniah, Bodhisattva pada saat itu akan sangat bersukacita.”

    —— Lihat Avataṃsaka LXXX jilid 75

    (T. vol. 10, № 279 hlm. 405c–406a)


    Budi besar pada poin ini secara singkat hanya mengangkat belas-kasih-Nya yang mendalam, padahal keturutsukacitaan-Nya juga mendalam.

  7. Budi besar karena menyembunyikan keunggulan-Nya dan tampil hina 隱勝彰劣恩

    Meskipun sejatinya telah lama mencapai Pencerahan Sempurna, namun Tathāgata menyembunyikan kebajikan tiada akhir dari wujud saṃbhogakāya-Nya yang terunggul. Hanya bagi para bodhisattva agung seperti Samantabhadra dkk. sajalah Ia membabarkan ajaran eksklusif Kendaraan Besar dalam wujud tersebut, sebagaimana pada Persamuhan Avataṃsaka di (Padma)kusumatala-garbha-vyūhālaṃkāra-lokadhātu-samudra berlipat sepuluh 十蓮華藏莊嚴世界海 — di mana, bahkan, tetesan air samudra yang terkandung dalam sebutir debunya pun sukar didefinisikan. Oleh sebab itu, bagi pengikut Dua Kendaraan dan para bodhisattva pemula, Ia nuzul menjadi manusia biasa yang tubuh fisis-Nya dihiasi 32 ciri insan agung, dan seolah-olah baru menyempurnakan tubuh Dharma beragregat lima-Nya di bawah pohon bodhi.

    Agar ajaran-Nya dapat diterima, Ia tampil sebagai petapa, sama seperti lima bhikṣu pertama-Nya. Maka pada “Perumpamaan Anak yang Hilang” dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra Ia diibaratkan dengan orang kaya yang melepas segala perhiasannya, mengenakan pakaian lusuh dan kumal, lalu mengambil perlengkapan untuk membersihkan kotoran dan bergabung menghampiri anaknya yang telah lama hilang.

  8. Budi besar karena menangguhkan yang sejati dan menganugerahkan yang provisional 隱實施權恩

    Mengamati bahwa kebanyakan makhluk berkapasitas asor, Tathāgata tidak langsung membabarkan ajaran sempurna dan seketika Kendaraan Tunggal yang sejati. Makhluk hidup yang “miskin” lebih menggemari Dharma yang kecil. Karenanya, untuk merangkul mereka, Ia membuka ajaran Tiga Kendaraan yang provisional. Dibimbing-Nya mereka terlebih dahulu supaya mencapai keberhasilan, baru dibebaskan-Nya dengan Dharma yang besar.

    Dalam jilid 3 Vimalakīrti Nirdeśa Sūtra, bab “Buddha Gandhottamakūṭa” 《淨名經第三·香積品》, para bodhisattva dari Dunia Sarvagandhasugandhā bertanya kepada Vimalakīrti:

    「今世尊釋迦牟尼以何說法?」
    “Kini dengan cara apakah Bhagavan Śākyamuni membabarkan Dharma?”

    維摩詰言:「此土眾生剛強難化,故佛為說剛強之語以調伏之,言:“是地獄、是畜生、是餓鬼、是諸難處、是愚人生處、是身邪行、是身邪行報等”……,」
    Vimalakīrti berkata: “Karena makhluk-makhluk di tanah sini keras-kepala dan sukar dirubah, Buddha menggunakan ucapan yang keras untuk menjinakkan mereka, kata-Nya: ‘inilah alam neraka, inilah alam binatang, inilah alam setan kelaparan, inilah tempat segala kesukaran, inilah tempat orang bodoh terlahir, inilah perilaku sesat jasmani, inilah akibat perilaku sesat jasmani dst.’ …,”

    乃至云:
    hingga:

    「如是剛強難化眾生。故以一切苦切之言,乃可入律。」
    “Demikianlah makhluk-makhluk itu keras-kepala dan sukar dirubah. Karenanya, dengan segala perkataan yang pahit menyayat, mereka baru bisa didisiplinkan.”

    彼諸菩薩聞說是已,皆曰:「未曾有也!如世尊釋迦牟尼佛,隱其無量自在之力,乃以貧所樂法度脫眾生。斯諸菩薩亦能勞謙,以無量大悲生是佛土。」
    Setelah para bodhisattva itu mendengar penjelasannya, semuanya berseru: “Sungguh! belum pernah ada yang seperti Bhagavan Śākyamuni Buddha, yang menyembunyikan kekuatan kemerdekaan-Nya yang tak terukur, namun malah dengan Dharma yang digemari mereka yang miskin Ia menyeberangkan dan membebaskan makhluk-makhluk hidup. Para bodhisattva-Nya pun mampu berlelah-payah dan rendah hati, dengan belas-kasih agung yang tak terukur sudi lahir di tanah Buddha ini.”

    —— Lihat Vimalakīrti Nirdeśa Sūtra terjemahan Kumārajīva

    (T. vol. 14, № 475 hlm. 552c–553a)


  9. Budi besar karena mengunjukkan parinirvāṇa-Nya, supaya timbul kerinduan 示滅令慕恩

    Seandainya Buddha tetap tinggal di dunia, maka orang-orang akan menjadi sombong sebab menganggap diri memiliki jasa yang besar sehingga dapat selalu bersama Buddha. Mereka akan menjadi lalai dan tidak menanam akar kebaikan lagi. Lama-kelamaan mereka bahkan merasa bosan melihat-Nya sehingga tidak mempedulikan keberadaan-Nya.

    Melalui parinirvāṇa-Nya, Tathāgata mengunjukkan bahwa perjumpaan dengan seorang Buddha itu sukar. Dengan demikian, semua makhluk akan menyimpan kerinduan kepada-Nya dan berusaha menanam akar kebaikan agar dapat berjumpa dengan Buddha. Untuk jelasnya lihat Saddharmapuṇḍarīka Sūtra (bab XVI pada terjemahan Kumārajīva, T. vol. 9, № 262 hlm. 42c–43a).

    Ada 47 sūtra yang membahas perihal parinirvāṇa Sang Buddha, yang isinya kurang-lebih sama seperti di situ.

  10. Budi besar karena keibaan-Nya yang tiada akhir 悲念無盡恩

    Tathāgata lahir ketika usia rata-rata manusia 100 tahun. Akan tetapi, Karena rasa iba-Nya kepada semua makhluk, Ia rela mengorbankan nyawa-Nya dan mangkat pada usia 80. Jasa-jasa yang seharusnya menghasilkan sisa usia 20 tahun, yang dapat Ia nikmati, didedikasikan-Nya untuk kelangsungan Ajaran-Nya agar bertahan lama. Dengan pengorbanan-Nya tersebut, Ia memproteksi siswa-siswi-Nya hingga masa Akhir Dharma.

    Dalam Candragarbha Sūtra, yang terdapat di jilid 10 Mahāsannipāta 《大集》(月藏分)第十卷, disebutkan:

    「悲愍眾生故  捨壽第三分
     令我法海滿  洗浴諸天人」

     “Karena mengasihani makhluk-makhluk hidup,
     Kukorbankan usia-Ku bagian yang ketiga —
     supaya penuhlah lautan Dharma-Ku
     ’tuk memandikan para dewa dan manusia.”

    —— Lihat jilid 56 Mahāsannipāta edisi Korea, yang memiliki sistem penomoran berbeda,

    dan menjadi basis T. vol. 13, № 397 hlm. 379c


    Ujaran lain lagi berbunyi: “Ia mengorbankan jasa-jasa penghasil ūrṇā-Nya untuk memproteksi siswa-siswi-Nya (留白毫之福,以覆弟子).”

    “Untuk kelangsungan Ajaran-Nya” berarti untuk kemanfaatan ekstensif Tiga Keranjang (tripiṭaka) bagi semua makhluk. Tiga Keranjang merupakan relik Dharma (dharmadhātu) yang, jikalau bersandar padanya kita kembangkan praktik, akan mengakibatkan tercapainya Kebuddhaan. Sedangkan relik jasmani (śarīradhātu), jikalau kepadanya kita lakukan pemujaan, hanya akan mengakibatkan seribu kali kelahiran di alam dewa atau [pahala duniawi] lain-lain.

Selasa, 05 November 2019

Buddha adalah Seorang Pūrvakārin

Pūrvakārin, salah satu dari dua jenis pribadi langka yang kita bahas pada posting sebelumnya, berarti orang yang berinisiatif memberikan bantuan secara sukarela — bahkan hingga mengorbankan dirinya sendiri — tanpa mengharapkan balasan. Buddha adalah seorang Pūrvakārin karena Beliau telah berjasa besar dan seringkali menjadi “sahabat tanpa diminta” (anadhīṣṭa kalyāṇamitra 不請之友). Apa sajakah jasa-jasa Buddha kepada kita?

Sebuah sūtra dari Ekottara Āgama menyebutkan tujuan kemunculan Buddha di dunia:
  1. Untuk memutar Roda Dharma.
  2. Demi menyelamatkan orangtua-Nya.
  3. Untuk membangun dasar keyakinan bagi orang-orang yang tidak percaya.
  4. Agar mereka yang belum memiliki pikiran bodhisattva membangkitkan Batin Pencerahan.
  5. Untuk memberikan prediksi pencapaian Kebuddhaan di masa datang.


Orangtua yang akan diselamatkan-Nya bukan hanya orangtua pada kehidupan terakhir-Nya sebagai Siddhārtha Gautama, melainkan juga orangtua-orangtua dari kehidupan-kehidupan lampaunya. Akan tetapi,

一切眾生,從無始來,在生死中輪迴不息,靡不曾作父母、兄弟、男女、眷屬。
Semenjak waktu yang tak berawal dalam siklus saṃsāra yang berputar tanpa henti, tiada satu makhluk pun yang belum pernah menjadi ayah, ibu, kakak, adik, putra, putri, atau salah satu kerabat kita.

—— Laṅkāvatāra Sūtra 《大乘入楞伽經》
(T. vol. 16, № 672 hlm. 623a)

Tidak terhitungnya jumlah kelahiran kita dalam saṃsāra berimplikasi tidak terhitung pula jumlah orangtua yang pernah kita, termasuk Buddha, miliki. Bahkan dapat dikatakan:

一切男子皆是父  一切女人皆是母

Semua pria merupakan ayahku,
semua wanita merupakan ibuku.

—— Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra 《大乘本生心地觀經》
(T. vol. 3, № 159 hlm. 306c)

Semua makhluk adalah orangtua-Nya. Namun, karena belum mengkontemplasikan kebijaksanaan melalui Smr̥tyupasthāna, semua makhluk terjebak dalam empat kekeliruan atau “keterbalikan” (viparyāsa catuṣka 四倒): menganggap jasmani yang tidak murni sebagai murni, perasaan yang hakikatnya penderitaan sebagai kebahagiaan, batin yang tidak kekal sebagai kekal, dan dharma yang tanpa-aku sebagai aku. Karena empat kekeliruan tersebut, muncullah 84.000 kekotoran batin (kleśa) yang meliputi tubuh beragregat lima (pañcaskandha) ini — digambarkan dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra ibarat rumah besar yang mengalami kebakaran hebat di keempat sisinya.

Hanya Buddha satu-satunya yang rela menerobos kobaran api dan mengikhtiarkan berbagai upaya untuk menuntun keluar mereka yang terjebak di dalam rumah tersebut. Karya penyelamatan-Nya masih dipersulit oleh lima kekeruhan (pañcakaṣāya 五濁) yang sedang melanda Dunia Sahā tempat kita tinggal saat ini: kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan kotoran batin, kekeruhan makhluk, dan kekeruhan usia. Maka atas segala budi besar-Nya, layaklah Ia dipuji:

“Alangkah langkanya Sang Śākyamuni! Alangkah sukar yang dilakukan Sang Śākyādhirāja, yang mampu di Dunia Sahā dengan lima kekeruhannya ini merealisasi Anuttara Samyak-saṃbodhi dan, demi semua makhluk, membabarkan Dharma yang sukar dipercaya seisi dunia!”

—— Amitābha Sūtra

Jumat, 01 November 2019

Dua Jenis Pribadi yang Langka

Bacaan hari ini diambil dari sūtra ke-5 (atau -32 dalam edisi Korea) Ch’i-ch’u san-kuan ching 《七處三觀經》 (T. vol. 2, № 150A hlm. 881a), sebuah koleksi pendek yang disusun oleh An Shih-kao 安世高 yang datang ke Cina tahun 147. An Shih-kao aktif menerjemahkan sampai pertengahan era Chien-ning 建寧 (168–172). Karena ketidakstabilan politik saat itu — menjelang runtuhnya Dinasti Han — ia berpindah ke Cina Selatan dan hidup hingga sepuluh tahun lagi kira-kira.

CCSKC terstruktur dalam kelompok-kelompok yang meningkat secara numeris mengikuti prinsip ekottara. Disusun dari beberapa sūtra pilihan, CCSKC tampaknya dimaksudkan An Shih-kao sebagai pengenalan sebelum ada teks Ekottara Āgama lengkap yang dibawa dan diterjemahkan ke Cina. Dalam bentuknya sekarang, terdapat perbedaan urutan isi antara CCSKC yang termuat dalam edisi-edisi Tripiṭaka yang diterbitkan di Tiongkok dengan edisi Korea. Untuk lebih jelasnya lihat di sini.

Sūtra pendek di bawah ini, seperti sūtra-sūtra lainnya dalam CCSKC, tidak berjudul. Ia juga tidak terjumpaï dalam koleksi Ekottara Āgama yang diterjemahkan belakangan, Tsêng-i a-han ching 《增壹阿含經》 (T. № 125), yang berasal dari kanon mazhab berbeda. Padanannya malah ada dalam kanon Pāli, yakni AN II.11: 2 (Āsā Duppajaha Sutta ⑵).







聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在舍衛國,行在祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



是時,佛告比丘:「二人世間難得。何等二人?
Tatkala itu Buddha bersabda kepada para bhikṣu: “Dua pribadi sukar didapati di dunia ini. Apakah kedua pribadi itu?

一者、前施人者,
1. Ia yang mengulurkan [budi bantuan] dahulu (pūrvakārin),

二者、有返復不忘恩。」
2. Ia yang berusaha membalas dan tidak melupakan budi (kr̥tajña-kr̥tavedin).”



佛說如是。……
Demikianlah sabda Sang Buddha. …

Rabu, 30 Oktober 2019

Bersandar pada Prātimokṣa merupakan Cara Membalas Budi Buddha


大師將涅槃  慈父有遺囑
四念處修道  當依木叉住

Menjelang nirvāṇa-Nya, sang Guru Agung,
sang Bapa yang Penyayang, mewasiatkan:
“Berlatihlah dalam Empat Penempatan Perenungan,
berdiamlah dalam sandaran [Prāti]mokṣa.”

—— Kuan-hsin lun 《觀心論》
(T. vol. 46, № 1920 hlm. 584b)


Guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ, menyusun dalam bentuk gāthā Kuan-hsin lun (‘Risalah Pengamatan Batin’), guna membahas wejangan terakhir Buddha untuk berlatih dengan bersandar pada Empat Penempatan Perenungan (catuḥ smr̥tyupasthāna) dan berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa Saṃvara. Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ 灌頂, muridnya, membuat komentar atas risalah ini, 《觀心論疏》 (T. № 1921). Ia menjelaskan penerapan Smr̥tyupasthāna & Prātimokṣa dalam Kendaraan Kecil dan, terutama, dalam Kendaraan Besar. Walau terlihat singkat, namun kedua Dharma yang diwejangkan Buddha ini pada prinsipnya mencakup segala Pintu Dharma. Smr̥tyupasthāna, yang esensinya adalah kebijaksanaan, ibarat mata. Sedangkan Prātimokṣa, yang esensinya adalah moralitas, ibarat kaki. Dengan mengembangkan pembebasan (vimokṣa) melalui Smr̥tyupasthāna, seseorang mengumpulkan hiasan pemahaman (jñāna saṃbhāra). Dengan mengembangkan aktivitas (caryā) melalui Prātimokṣa, seseorang mengumpulkan hiasan jasa (puṇya saṃbhāra).

Mulaï bait ketiga dst. Cʜɪʜ-ɪ menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak dapat kita identifikasi sumbernya (barangkali dikutip dari suatu avadāna). Komentar Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ (hlm. 589c) amat membantu memperjelas: Dahulu terdapatlah seorang raja yang sedang berpelesir dan merasa lelah. Ia hampir tertidur di tengah rerumputan. Seekor ular hendak memagutnya. Tatkala itu adalah seekor gagak putih yang mematuki sang raja untuk membangunkannya. Raja tersadar dan sesudahnya segera kembali ke istana. Dititahkannya para menterinya mencari gagak putih itu untuk membalas budinya. Para menteri menjawab: “Jikalau secara khusus kita mencari gagak putih, kita takkan dapat menemukannya. Apabila Raja berderma saja kepada segala gagak biasa secara universal, bukankah itu sama dengan membalas budi sang gagak putih?”

Gagak putih mengumpamaï para suci (ārya), khususnya Buddha. Gagak biasa mengumpamaï makhluk biasa (pr̥thagjana). Ular berbisa mengumpamaï ketiga racun: rāga, dveṣa, dan moha. Sedangkan raja mengumpamaï praktisi kebanyakan, yang terdiri atas empat kelompok siswa-siswi. Buddha berupaya mencerahkan kita agar terhindar dari gigitan ketiga racun kleśa. Sudah sepatutnya kita berterimakasih dan berupaya membalas budi-Nya. Akan tetapi, sebagai praktisi kebanyakan yang belum mengkontemplasikan kebijaksanaan melalui Smr̥tyupasthāna, kita melekat pada trikotomi bahwa Buddha, makhluk lain, dan diri sendiri adalah berbeda. Dalam berderma kita memilah-milah benih secara tidak samarata, untuk ditanam di ladang yang subur (para suci) atau yang kurang subur (makhluk biasa). Ini seperti raja yang bingung memutuskan untuk berderma kepada gagak putih atau gagak hitam.

Kebalikannya dapat kita lihat pada Bodhisattva Sadāparibhūta 常不輕 yang, dikisahkan dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra, memiliki keyakinan sempurna sehingga tidak pernah meremehkan makhluk mana pun, dan bernamaskāra kepada semua orang seraya berkata: “Anda sekalian adalah Buddha!” Upāsaka Vimalakīrti 維摩詰 juga membagi kalung berumbai yang diterimanya, lalu mendermakannya kepada pengemis terhina di kota dan kepada Tathāgata Duṣprasaha secara samarata. Mengapakah para bodhisattva dapat bertindak sedemikian? Karena mereka telah berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa sehingga tidak lagi membuat pembedaan ladang yang subur dan yang kurang subur. Bahkan tiada lagi pembedaan antara diri sendiri dengan orang lain. Semua ladang adalah baik; membina diri sendiri sama dengan menghantarkan semua makhluk menuju Kebuddhaan.


Maka Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ selanjutnya (hlm. 590a) mengomentari:

經云:「依教修行,名報佛恩。」能助佛宣化,亦名報於聖恩。
Sūtra mengatakan: “Berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.” Mampu membantu Buddha menyebarkan pengajaran-Nya pun termasuk membalas budi kepada para suci.

而今行者依念處觀慧、依木叉而住,即是依教修行,名報佛恩。
Sekarang, seorang praktisi yang mengkontemplasikan kebijaksanaan dengan bersandar pada Smr̥tyupasthāna, yang berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa, adalah telah berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, dan dapat dinamakan membalas budi Buddha.

復能以己之行,化導一切眾生,即是普施烏鴉之食,能報白鴉之恩也。
Dan lagi ia, yang dengan praktik pribadinya mampu merubah dan membimbing semua makhluk, telah secara universal memberi makan segala gagak biasa, dan dapat membalas budi sang gagak putih.

Selasa, 22 Oktober 2019

Inisiasi ke dalam Tubuh Dharma

Keyakinan yang Tak Tergoyahkan terhadap Śīla, sebagai salah satu faktor srotāpatti, didefinisikan dalam sūtra-sūtra sebagai keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ 聖所愛戒). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara. Anāsrava Saṃvara akan terbentuk pada ārya-pudgala, minimal pada seorang srotāpatti-pratipannaka. (Tentu saja terdapat perbedaan derajat Anāsrava Saṃvara di antara berbagai tingkat kesucian, di mana yang terunggul dimiliki oleh para aśaikṣa — lihat di sini.) Jadi, keyakinan seorang srotāpanna terhadap Śīla bukan hanya berarti keyakinan bahwa Śīla (Prātimokṣa Saṃvara) adalah pemotong nafsu, melainkan juga keyakinan diri bahwa Śīla (Anāsrava Saṃvara) mulaï direalisasi olehnya.

Seperti halnya Dharma sebagai ajaran dan Dharma sebagai Nirvāṇa adalah dua aspek dari Dharmaratna yang sama, begitu pula Prātimokṣa Saṃvara sebagai metode dan Anāsrava Saṃvara sebagai realisasi adalah dua aspek dari Śīla yang sama, yang merupakan agregat tubuh Dharma. Menerima Prātimokṣa Saṃvara (tipe apa pun) berarti menerima benih bagi sempurnanya tubuh Dharma. Sepatutnya kita merasa beruntung apabila Prātimokṣa Saṃvara telah terbentuk dalam diri kita, sebab kita menjadi calon ārya-pudgala di masa datang.

Vinayācārya Tao-hsüan mengatakan dalam  Hsing-shih ch’ao  bahwa Śīla sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan. Tepatlah bila dalam  Upāsaka Śīla Sūtra  Śīla-Śīla Buddhis hanya boleh disebut sebagai śīla adiduniawi. Maka kita mesti menghargaï setinggi-tingginya upaya Buddha mentransmisikan Dharma para suci tersebut kepada kita. Dengan berkenan memberikannya, Beliau telah menginisiasikan kita ke dalam tubuh Dharma.


Tatkala itu kelimaratus wanita Śākya, dengan mulut berlainan dalam satu suara, bersungguh hati merenungkan Buddha: “Namaḥ Śākyamunaye Tathāgatāyārhate Samyak-saṃbuddhaya.” Kembali lagi mereka berseru: “Alangkah menderitanya! Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Aduhai Bhagavan, sang Sugata!” Pada saat mereka menyeru demikian, berkat kekuatan akar kebaikan cintakasih Tathāgata, di angkasa muncullah awan Mahākaruṇā, hujanlah hujan Mahākaruṇā, yang menghujani tubuh para wanita itu. Setelah menerima hujan tersebut, tangan dan kaki tumbuh pada tubuh mereka seperti sediakala. Para wanita itu amat bergembira dan bersama-sama berseru:“Tathāgata adalah bapa yang penyayang, Bhagavan yang tiada taranya, obat mujarab bagi dunia, biji mata dunia ini, mampu mencabut penderitaan di Triloka dan menganugerahkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena kini kita beroleh kelepasan dari penderitaan dan kesukaran. Kini kita harus merenungkan budi Sang Buddha, harus merenungkan membalas budi.” Para wanita merenung: “Bagaimanakah cara kita membalas budi Buddha? Tubuh Tathāgata adalah tubuh vajra, tubuh yang senantiasa bersemayam, tubuh tanpa kelaparan dan dahaga, tubuh dengan fisik yang menakjubkan, yang diperlengkapi dengan ratusan ribu samadhi, indera, kekuatan, faktor Pencerahan, 32 ciri yang tak terbayangkan dan 80 tanda tambahan; Ia sempurna memiliki dua hiasan, bersemayam dalam Nirvāṇa Agung; Ia samarata memandang semua makhluk sebagai Rāhula, menganggap setara yang memusuhi maupun yang mengasihi-Nya, juga tidak pernah mengharapkan balasan ….”


Tiada cara untuk berterimakasih kepada Beliau selain mengikuti jejak 500 wanita Śākya dalam  Mahopāya-kauśalya Buddha Pratyupakāraka Sūtra 《大方便佛報恩經》 (T. vol. 3, № 156 hlm. 152b), yang dipulihkan-Nya setelah selamat dari pembantaian Raja Virūḍhaka, dan berkata:

「欲報佛恩,當持禁戒,護持正法。」
“Jikalau hendak membalas budi Buddha, haruslah kita memegang Śīla demi menjaga bertahannya Saddharma.”

夫能維持佛法,三乘道果相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。
Kemampuan mempertahankan Buddhadharma, dan bersinambungnya Jalan & Buah ketiga Kendaraan tanpa terputus, sepenuhnya bergantung pada Prātimokṣa sebagai akar.