Powered by Administrator

Translate

Selasa, 07 Mei 2019

Tanpa Śīla, Tiada Keberhasilan dalam Mantranaya (2)

Pada bab V Subāhu-paripr̥cchā Tantra 《妙臂菩薩所問經·分別悉地相分》 (T. vol. 18, № 896 hlm. 751c) Bodhisattva Vajrapāṇi memberitahu Subāhu Kumāra:

當具二法,悉地乃成:
Haruslah sempurna dalam dua dharma maka siddhi baru tercapai:

一者、行人。 1. Dalam hal praktisinya.
二者、真言。 2. Dalam hal mantranya.


一、行人者。
1. Mengenaï sang praktisi.

具足戒德、正勤、精進;不於他人所有名利,而生貪嫉;於己財物,乃至身命,無所吝惜。
Ia haruslah memiliki kebajikan Śīla, ketekunan yang tepat, dan semangat; tidak tamak dan iri pada nama baik atau keuntungan yang dimiliki orang lain; tidak kikir dan merasa sayang akan harta benda, bahkan hingga tubuh dan nyawanya sendiri.

二、真言者。
2. Mengenaï mantra.

以所持誦本部真言之時,當令文句滿足、聲相分明。
Pada saat melafal mantra dari famili deitas (kula) pegangannya, setiap kalimat atau sukukata haruslah lengkap, artikulasi suara haruslah jelas terbedakan.

所有欲求成就之法,皆悉具足,不得闕少。
Keberhasilan apa pun yang hendak dicari, semuanya akan tercapai sempurna jikalau hal-hal ini tidak kekurangan.

Senin, 06 Mei 2019

Tanpa Śīla, Tiada Keberhasilan dalam Mantranaya (1)

Pada bab XII Subāhu-paripr̥cchā Tantra 《妙臂菩薩所問經·說八法分》 (T. vol. 18, № 896 hlm. 759b) Bodhisattva Vajrapāṇi memberitahu Subāhu Kumāra cara mencapai keberhasilan (siddhi) bagi praktisi Jalan Mantra:

「復次!持誦行人,求悉地者,以持戒為根本。然後運菩提心,發精進勇,施正勤力,持誦真言,常不懈退,於佛菩薩倍生恭信。
“Selanjutnya lagi, seorang praktisi pelafal yang mencari siddhi haruslah memegang Śīla sebagai dasar! Kemudian, menghantarkan batinnya kepada Bodhi (bodhicitta), ia membangkitkan semangat dengan gagah, dan mengerahkan kekuatan ketekunan yang tepat, senantiasa memegang dan melafal mantra, tidak pernah lalai atau mundur, terhadap para Buddha dan Bodhisattva berlipat-ganda mempertebal rasa hormat dan yakin.

「譬如輪王,具足七寶,方理國土,而得安靜。持誦行人,奉戒清淨,乃至於佛菩薩倍生恭信。若具此者,息滅罪障,當獲悉地。」
“Ibarat seorang cakravartin, diperlengkapi dengan tujuh permata barulah dapat mengurus seisi negeri sehingga beroleh kesejahteraan. Seorang praktisi pelafal haruslah menjunjung Śīla dengan murni … s/d terhadap para Buddha dan Bodhisattva berlipat-ganda mempertebal rasa hormat dan yakin. Apabila diperlengkapi dengan [tujuh dharma] ini, rintangan dosanya akan terlenyapkan dan ia akan memperoleh siddhi.”

Rabu, 01 Mei 2019

Pentingnya Śīla dalam Mempraktikkan Ajaran Tanah Suci


「舍利弗。不可以少善根福德因緣得生彼國。」
“Śāriputra, tidaklah mungkin dengan dikondisikan akar kebaikan dan jasa yang sedikit dapat terlahir di negeri itu (na avaramātrakeṇa, śāriputra, kuśalamūlenāmitāyuṣas tathāgatasya buddhakṣetre sattvā upapadyante).”

—— Amitābha Sūtra 《佛說阿彌陀經》
(T. vol. 12, № 366 hlm. 347b)


Sebagaimana semua Buddha senantiasa melepas jasa-jasa kebaikan yang mereka perbuat dan melakukan penyaluran (pariṇamanā), Amitābha pun mendedikasikan segala jasa dari aktivitas Kebuddhaan-Nya kepada semua makhluk, khususnya untuk kelahiran di negeri-Nya. Walaupun jasa terbesar, yang mengkondisikan seseorang terlahir di Sukhāvatī, bersumber dari kelimpahan jasa Amitābha sendiri, ajaran Sekolah Tanah Suci tidak menafikan juga jasa-jasa pribadi. Amitāyurdhyāna Sūtra 《觀無量壽佛經》 (T. vol. 12, № 365 hlm. 341c) menyatakan:

欲生彼國,當修三福:
Barangsiapa yang ingin lahir di negeri itu hendaklah mengembangkan tiga jenis jasa:

一者、孝養父母,奉事師長,慈心不殺,修十善業。
Pertama, berbakti merawat ayah dan ibu, taat melayani guru dan senior, bercinta-kasih dan pantang membunuh, mengembangkan sepuluh perbuatan baik (daśa kuśala karma).

二者、受持三歸,具足眾戒,不犯威儀。
Kedua, menerima dan memegang Tiga Perlindungan, menyempurnakan segala Śīla, tidak melanggar tatakrama (ācāra).

三者、發菩提心,深信因果,讀誦大乘,勸進行者。
Ketiga, membangkitkan bodhicitta, secara mendalam meyakini sebab-akibat, membaca dan melafalkan [sūtra-sūtra] Mahāyāna, menganjurkan agar bersemangat dalam berpraktik.


Dalam komentar Patriark Shan-tao atas Amitāyurdhyāna Sūtra 《觀無量壽佛經疏》(T. vol. 37, № 1753 hlm. 270b) ketiga jenis jasa ini masing-masing disebut:
  1. Jasa duniawi 世福,
  2. Jasa disipliner 戒福,
  3. Jasa praktis 行福.
Jenis jasa yang pertama bersifat umum, dapat dihasilkan oleh siapa saja, Buddhis dan non-Buddhis. Jasa yang kedua berlaku bagi pengikut Ketiga Kendaraan, yang sudah berlindung kepada Triratna dan mengambil berbagai disiplin (saṃvara) — baik disiplin umat awam maupun disiplin monastik. Jenis yang ketiga maksudnya jasa yang dihasilkan dari praktik-praktik yang khas Mahāyāna. Di sini dapat kita lihat: jasa yang dihasilkan dengan mengembangkan sepuluh kebaikan tidaklah lebih tinggi, bahkan, dari jasa yang dihasilkan oleh Lima Śīla (disiplin umat awam) sebab sepuluh kebaikan hanyalah kebaikan duniawi dan bukan disiplin yang ditetapkan Buddha sebagai pengarah Pembebasan.

Berbeda dengan terjemahan Kumārajīva, teks Sanskerta dari Amitābha Sūtra yang dikutip di atas memang hanya menyebutkan ‘dengan akar kebaikan’ (kuśalamūlena) dan tidak memuat ‘dan jasa’. Akar kebaikan yang dimiliki seseoranglah yang menyebabkannya mampu berjumpa dengan ajaran Tanah Suci dan timbul keyakinan. Ia yakin akan aktivitas Kebuddhaan Amitābha yang tanpa batas dan siap menerima kelimpahan jasa-jasa-Nya. Di sisi lain ia mendedikasikan jasa-jasa pribadinya — sesedikit apa pun — demi terlahir di Sukhāvatī.

Ada tidaknya akar kebaikan menentukan apakah seseorang dapat terlahir di Sukhāvatī; ada tidaknya jasa-jasa menentukan tingkat kelahiran yang akan dicapai. Semakin banyak jasa, semakin tinggi tingkat kelahirannya (digambarkan dengan sembilan jenjang teratai). Jadi, memegang Śīla, yang akan menghasilkan jasa-jasa besar, sangatlah penting dalam mempraktikkan ajaran Tanah Suci.