Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Brahmajala Sutra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brahmajala Sutra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2022

Yakinlah bahwa Apa yang Diperoleh itu Sungguh merupakan Benih Tubuh Dharma

Maka kita hendaknya yakin bahwa penerimaan Śīla sungguh merupakan inisiasi ke dalam tubuh Dharma yang sama yang direalisasi Buddha dan para ārya. Hanya melaluinyalah Kebuddhaan kelak akan tercapai sebab, apabila benih tidak ditanam, bagaimana bisa Buah diperoleh.

Petikan dari Brahmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. vol. 24, № 1484 hlm. 1004a) berikut konteksnya membahas disiplin Bodhisattva, yang mengatur penghindaran kejahatan jasmani, ucapan, hingga pikiran. Namun, sebetulnya relevan juga untuk disiplin Prātimokṣa umum yang hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan — baik itu Pañca Śīla perumahtangga yang sangat general, maupun Upasaṃpanna Śīla monastik yang lebih mendetail.

「汝是當成佛  我是已成佛
 常作如是信  戒品已具足

 “Kamu adalah Buddha yang akan jadi;
 Aku adalah Buddha yang telah jadi.
 Senantiasa yakini hal ini sedemikian,
 maka anggota Śīla sudahlah lengkap.

 一切有心者  皆應攝佛戒
 眾生受佛戒  即入諸佛位
 位同大覺已  真是諸佛子」

 Semuanya yang memiliki batin
 hendaklah memeluk Śīla Buddha ini.
 Makhluk hidup yang menerima Śīla Buddha,
 akan memasuki posisi para Buddha.
 Setelah berkedudukan sama dengan Pencerahan Agung,
 sungguhlah mereka merupakan para putra Jina.”

Sewaktu mendefinisikan siapakah seorang upāsaka (lihat di sini), Bhadanta Sᴀɴ̇ɢʜᴀʙʜᴀᴅʀᴀ, guru Vaibhāṣika konservatif yang mengomentari syair-syair (kārikā) Abhidharmakośa karangan Vasubandhu, menulis dalam Nyāyānusāra Śāstra 《阿毘達磨順正理論》 (T. vol. 29, № 1562 hlm. 554b) sbb.:

分同諸佛,得淨尸羅,善意樂故。
Ia (=seorang upāsaka) mendapat bagian yang sama dengan para Buddha, [yakni] Śīla yang murni, sebab kecenderungan pikirannya yang baik.

Di jilid pertama Fa-hua wên-chü chi 《法華文句記》 (‘Catatan atas Kata-kata dan Kalimat dari Saddharma-puṇḍarīka’, T. vol. 34, № 1719 hlm. 162c) Guru Besar Cʜᴀɴ-ᴊᴀɴ alias Mɪᴀᴏ-ʟᴏ, patriark kesembilan Sekolah T’ien-t’ai, menulis:

故論云:「若持五戒,釋迦文佛在汝家中。」
Karenanya Śāstra menyatakan: “Jikalau memegang Lima Śīla, Buddha Śākyamuni berdiam dalam rumahmu.”


Vinayācārya Tᴀᴏ-ʜsᴜ̈ᴀɴ juga menulis di seksi kedelapan Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 26a):

《薩婆多》云:「新受戒人 與 佛 戒齊德也。」
Sarvāstivāda[-vinaya Vibhāṣā] menyatakan: “Orang yang baru menerima Śīla identik dengan Buddha kualitas Śīla-nya.”

Pernyataan ini bersumber dari penjelasan untuk pāyantika/pātayantika ke-20 di jilid 7 Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 545b):

闡那作房,即日成即崩倒。作此大房用三十萬錢——功用甚大。
Chandaka membuat mansiun (mahallaka) yang hari itu jadi, hari itu juga roboh. Pembuatan mansiun besar ini menggunakan tiga puluh laksa kārṣāpaṇa — biaya dan tenaga yang amat besar.

諸比丘為檀越說法:「房雖崩倒,功德成就。房未壞時,佛已到此房中,即是受用。佛是無上福田;佛既受用,功德深廣、不可測量。
Para bhikṣu membabarkan Dharma kepada dānapati: “Meskipun mansiun ini roboh, namun jasa-jasa Anda telah tercapai. Sebelum mansiun hancur, Buddha sempat sampai di mansiun ini, menerima penggunaannya. Buddha adalah ladang jasa yang tiada taranya; jika Buddha sudah mengambil penggunaan, maka jasa-jasa Anda dalam dan ekstensif, tiada boleh terduga atau terukur.”

又云:「房始成時,有一新受戒年少比丘戒德清淨,入此房中,以楊枝猗房。以此一持戒比丘,已畢檀越信施之德。」
Pun mereka berkata: “Saat mansiun mulaï jadi, ada seorang bhikṣu muda yang baru menerima Śīla, yang murni kualitas Śīlanya, memasuki mansiun ini, dan dengan kayu penyugi (dantakaṣṭha) ia bersandar pada mansiun [menggosok gigi]. Oleh satu bhikṣu pemegang Śīla ini, sudahlah terserap kebajikan dānapati yang berderma dengan keyakinan.”

若起億數種種房閣、種種莊嚴,下至金剛地際,高廣嚴飾猶若須彌。設有一淨戒比丘,暫時受用,已畢施恩。何以故?
Kalaulah dibangun berjenis-jenis gedung mansiun sejumlah kotian unit, dengan berjenis-jenis ornamen ke bawah tanah hingga batas bajra (vajratalashāna), dengan tinggi menjulang terhias bagaikan Sumeru. Lalu seandainya terdapat seorang bhikṣu dengan Śīla murni yang mengambil penggunaannya sekejap saja, maka sudahlah terserap budi dari derma tersebut. Apakah sebabnya?

佛於無量劫中修菩薩行。今得成佛道,始體解波羅提木叉以授眾生。波羅提木叉非世間法;是背離世俗、向泥洹門。
Selama berkalpa-kalpa tiada terukur Buddha mengembangkan praktik bodhisattva. Kini, setelah Beliau berhasil mendapat Kebuddhaan, mulaïlah disubstansiasi dan dipahamkan-Nya Prātimokṣa dengan memberikannya kepada makhluk lain. Prātimokṣa bukanlah dharma duniawi; ialah Pintu untuk membelakangkan keduniawian dan menghadap Nirvāṇa.

凡房舍、臥具、飲食、湯藥是世間法,非是離世難得之法。是故!一淨戒比丘若暫受用,已畢施恩。
Setiap tempat tinggal, perlengkapan tidur, makanan, dan obat-obatan adalah dharma duniawi, bukan dharma adiduniawi yang sukar didapat. Oleh sebab itu, seorang bhikṣu dengan Śīla murni, jikalau mengambil penggunaannya sekejap saja, maka sudahlah terserap budi dari derma tersebut!

Sabtu, 22 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (2)

Apa yang kita bahas pada bagian (1) lalu hanya berkenaan dengan kariér Buddha kita dalam mewujudkan tubuh transformasi-Nya (nirmāṇakāya) sebagai Śākyamuni, yang nama lahirnya Siddhārtha Gautama. Kenyataannya Śākyamuni bukan baru saja Tercerahkan 2.500 tahun silam. Dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab XVI, “Panjang Usia Tathāgata” 《妙法蓮華經·如來壽量品》 (T. vol. 9, № 262 hlm. 43b), dikatakan:

「自我得佛來  所經諸劫數
 無量百千萬  億載阿僧祇」

 “Semenjak Aku beroleh Kebuddhaan,
 hitungan kalpa-kalpa yang telah terlalui
 tiada terukur dengan ratusan, ribuan, laksaan,
 kotian atau asaṅkhyeya-an.”

Sesuai konsep trikāya Mahāyāna, saat seseorang mencapai tingkatan Buddha, ia biasanya merealisasikan tubuh kenikmatan (saṃbhogakāya) terlebih dulu. Tubuh kenikmatan senantiasa berdiam sentosa dalam ranah suci Akaniṣṭha (di bawah ini disimbolkan dengan Gunung Gr̥dhrakūṭa) dan, kepada siapa pun yang perlu diselamatkan dengan tubuh seorang Buddha, ia akan mewujudkan diri dalam rupa Buddha — betul-betul nyata secara fisis — demi membabarkan Dharma (應以佛身得度者,即現佛身而為說法).

Di sinilah budi besar keempat Buddha yang disebutkan Guru Nasional Ch’ing-liang. Ia sesungguhnya sudah mencapai Kebuddhaan jauh di masa lampau. Namun, karena belaskasih agung-Nya Ia rela nuzul dan kembali terlibat dalam perputaran saṃsāra. Sebagai upāyakauśalya Ia menampilkan diri seperti makhluk biasa yang berjuang berkalpa-kalpa, dan pada akhirnya meraih Pencerahan Sempurna sebagai seorang Buddha lalu parinirvāṇa. Keseluruhan pertunjukan ini akan diulangi-Nya berapa kali pun manakala kondisi-kondisi yang sesuai muncul, sementara tubuh kenikmatan-Nya selalu berdiam tenteram.

Gāthā di atas bersambung sbb.:

「常說法教化  無數億眾生
 令入於佛道  爾來無量劫

 “Senantiasa membabarkan Dharma, Aku mengajar
 kotian makhluk yang tiada terhitung
 agar memasuki Jalan Kebuddhaan,
 selama berkalpa-kalpa tak terukur.

 為度眾生故  方便現涅槃
 而實不滅度  常住此說法

 Demi menyelamatkan semua makhluk,
 dengan keterampilan upāya Kutampilkan [pari]Nirvāṇa.
 Namun, sesungguhnya Aku tidak padam;
 senantiasa berdiam di sini Kubabarkan Dharma.

 我常住於此  以諸神通力
 令顛倒眾生  雖近而不見

 Aku senantiasa berdiam di sini.
 Dengan berbagai kekuatan penembusan spiritual,
 Kubiarkan makhluk-makhluk terkeliru yang,
 meskipun dekat, namun tidak melihat-Ku.

 眾見我滅度  廣供養舍利
 咸皆懷戀慕  而生渴仰心

 Makhluk-makhluk itu melihat-Ku padam dan
 secara ekstensif memuja [relikui] śarīra-Ku.
 Mereka semua memendam kerinduan,
 batinnya diliputi dahaga sambil menengadah.

 眾生既信伏  質直意柔軟
 一心欲見佛  不自惜身命

 Makhluk-makhluk yang telah yakin tertundukkan.
 Pikirannya lurus lagi lemah-lembut,
 dengan sepenuh hati hendak melihat Buddha
 tanpa sayang ’kan raga dan nyawanya.

 時我及眾僧  俱出靈鷲山
 我時語眾生  常在此不滅
 以方便力故  現有滅不滅」

 Pada saat itu Aku beserta saṅgha
 akan keluar bersama dari Puncak Nasar (Gr̥dhrakūṭa).
 Saat itu akan Kuungkapkan kepada semua makhluk:
 ‘Aku senantiasa berada di sini tanpa padam.
 Karena kekuatan keterampilan upāya-Ku ’lah
 Kutampilkan adanya padam (=wafat) dan tidak padam (=lahir).’ ”


Kapan Buddha kita benar-benar pertama sekali mencapai Kebuddhaan sukarlah terbayangkan. Menurut Brahmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. vol. 24, № 1484 hlm. 1003c):

「吾今來此世界八千返,為此娑婆世界坐金剛座 ……。」
“Kini Aku datang ke dunia ini ke-8.000 kalinya, demi Dunia Sāhā ini Kududuki Takhta Vajra (vajrāsana) ….”

Dari saat Beliau pertama sekali mencapai Kebuddhaan, kita bisa memperkirakan mundur tiga asaṅkhyeyakalpa ke belakang Beliau menjadi bodhisattva yang mengucapkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan secara langsung di hadapan seorang Buddha lain saat itu. Lebih sukar lagi memperkirakan kapan Beliau benar-benar pertama sekali bertekad menguniversalkan karya-Nya ketika masih berstatus sebagai makhluk biasa.

Rabu, 08 November 2017

ANUPŪRVA ŚĪLA vs AKASMĀD-UTPANNA ŚĪLA

Śīla-śīla Buddhis selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi dua:
  1. Śīla yang terbentuk secara bertahap (*anupūrva śīla 漸次戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya harus didahului dengan mengambil śīla lain.

  2. Śīla yang terbentuk seketika (*akasmād-utpanna śīla 頓立戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya terjadi langsung tanpa didahului dengan mengambil śīla lain.

*Anupūrva śīla meliputi tujuh jenis disiplin pengarah Pembebasan (Prātimokṣa Saṃvara) untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: Lima Śīla untuk upāsaka dan upāsikā, Sepuluh Śīla untuk śrāmaṇera dan śrāmaṇerī, Enam Dharma untuk śikṣamāṇā, dan Upasaṃpanna Śīla untuk bhikṣu dan bhikṣuṇī. Tanpa memiliki substansi Lima Śīla dalam dirinya, seseorang tidak dapat mengambil disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī. Tanpa memiliki substansi disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī, seseorang tidak dapat mengikuti upasaṃpadā untuk mengambil disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī. (Seorang śrāmaṇerī bahkan harus melewati jenjang śikṣamāṇā terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bhikṣuṇī.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, tradisi Asaṅga yang terdapat dalam “Bodhisattvabhūmi” (salah satu bagian dari kompendium pertama Yogācārabhūmi Śāstra 《瑜伽師地論》, T. № 1579) merupakan sebuah *anupūrva śīla. Seseorang harus sudah memiliki disiplin upāsaka/upāsika atau disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebelum dapat mengambilnya. Demikian pula disiplin kebodhisattvaan bagi umat awam — terdiri atas 6 śīla berat dan 28 śīla ringan — yang diuraikan Upāsaka Śīla Sūtra (T. № 1488) mengharuskan seseorang untuk terlebih dahulu mengambil Lima Śīla.

Penggolongan Lima Śīla sebagai *anupūrva śīla didasarkan pada praktik yang umum berlaku dalam Buddhisme Tiongkok di mana, biasanya, seseorang mula-mula hanya mengambil Tiga Perlindungan dan, apabila sudah siap, kelak ia baru mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Śīla. Hal ini tentu saja tidak mutlak. Apabila ia yakin kepada Triratna dan siap menjalankan Śīla, ia bisa langsung mengambilnya tanpa harus menjadi upāsaka tanpa-disiplin (aparipūrṇakārin) dahulu.

Yang menjadi pertanyaan adalah: berapa lamakah yang harus dilalui seorang upāsaka tanpa-disiplin, yang hanya mengambil Tiga Perlindungan, sebelum dapat mengambil salah satu atau lengkap Lima Śīla? Tidak ada aturan yang pasti untuk hal ini. Bab XIV Upāsaka Śīla Sūtra mensyaratkan waktu enam bulan sebelum seseorang diberi Lima Śīla dan Bodhisattva Śīla. Selama enam bulan itu, guru pembimbing akan mengawasi tingkah-lakunya untuk memastikan kelayakannya menerima Śīla. Akan tetapi, prosedur ini jelas hanya berlaku bagi mereka yang ingin menerima disiplin kebodhisattvaan berdasarkan Upāsaka Śīla Sūtra.

Lalu berapa lamakah yang harus dilalui seorang śrāmaṇera sebelum dapat mengambil Upasaṃpanna Śīla? Menurut Po-ni-huan ching 《般泥洹經》(T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), salah satu dari beberapa terjemahan Parinirvāṇa Sūtra versi Hīnayāna: tiga tahun. Namun, sekali lagi, hal ini tidak mutlak. Seseorang śrāmaṇera bisa saja mengikuti upasaṃpadā setelah lebih atau kurang dari tiga tahun. (Seorang śrāmaṇerī, akan tetapi, wajib menjalani masa śikṣamāṇā selama dua tahun sebelum ia mengikuti upasaṃpadā.)




Berikutnya, yang tergolong sebagai *akasmād-utpanna śīla antara lain Delapan Śīla, yang biasa dijalankan umat awam pada hari-hari upavasatha. Substansi Delapan Śīla dapat terbentuk dalam diri siapa pun — bahkan pada yang belum mengambil Tiga Perlindungan — asalkan orang tersebut yakin dan mau berlindung kepada Triratna. Vasubandhu menerangkan bait 30 dari bab IV Abhidharmakośa-nya (lihat 《阿毘達磨俱舍論》, T. vol. 29, № 1558 hlm. 75c) sbb.:

為唯近事得受近住?為餘亦有受近住耶?
Apakah hanya para upāsaka yang dapat menerima Upavāsa? Atau dapatkah yang lain menerima Upavāsa juga?

頌曰:
Kārikā:

近住餘亦有  不受三歸無

Anyasyāpyupavāso ’sti
śaraṇaṃ tvagatasya na


論曰:諸有未受近事律儀,一晝夜中,歸依三寶,說三歸已,受近住戒,彼亦受得近住律儀。異此則無,除不知者。
Bhāṣya: Apabila mereka yang belum menerima disiplin upāsaka [sudi] berlindung kepada Triratna, lalu setelah mengucapkan Tiga Perlindungan, mereka menerima śīla-śīla puasa untuk sehari semalam, maka disiplin penekun puasa (upavāsaka saṃvara) pun mereka peroleh. Selain dengan cara ini (=mengulangkan Tiga Perlindungan), tidak dapat. Kecuali karena ketidaktahuan [guru pembimbingnya, yang hanya mengulangkan langkah latihan saja].

Lima Śīla, sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga dapat merupakan śīla yang terbentuk seketika — terlebih-lebih dalam pandangan Vaibhāṣika, yang menolak pemberian Tiga Perlindungan saja tanpa disiplin kepada umat awam. Pada masa awal penyebaran Śāsana, Upasaṃpanna Śīla pun merupakan śīla yang terbentuk seketika di mana seseorang langsung mendapatkannya setelah dipanggil dengan undangan “ehi, Bhikṣu!” oleh Buddha, atau setelah mengulangi Tiga Perlindungan di bawah bimbingan seorang guru. Namun, begitu prosedur jñapti-caturtha karman ditetapkan, seseorang hanya dapat memperoleh upasaṃpadā dari saṅgha setelah menjalani masa novisiat sebagai śrāmaṇera.

Ada perbedaan pandangan yang dianut berbagai mazhab berkenaan dengan dispilin śrāmaṇera. Menurut Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, sejak semula Sepuluh Śīla sudah diberikan secara bertahap. Seseorang baru dapat menerima Sepuluh Śīla apabila ia telah memperoleh Lima Śīla upāsaka. Prosedur ini bahkan sudah terjumpaï dalam kisah penahbisan Rāhula (lihat di sini). Dalam skandhaka pertama dari Vinaya Piṭaka masing-masing, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda juga mewajibkan hal yang sama. Sebaliknya, penahbisan śrāmaṇera secara seketika terdapat dalam Vinaya Piṭaka mazhab Dharmaguptaka 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 809c), di mana Rāhula menerima Sepuluh Śīla tanpa diberi Lima Śīla dahulu. (Untuk perbandingan kisah penahbisan Rāhula dalam Vinaya Piṭaka berbagai mazhab, lihat tabel.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, disiplin berdasarkan Mahāyāna Brāhmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. № 1484) dan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. № 1485) merupakan contoh śīla yang terbentuk seketika. Disiplin ini dapat diterima siapa saja, baik monastik, umat awam, atau orang yang belum pernah mengambil Prātimokṣa Saṃvara apa pun.

Senin, 20 Februari 2017

Menjadi Baik Tidak Sama dengan Memiliki Śīla

問:一切善作,盡是戒否?
Tanya: Segala tindakan baik apakah semuanya merupakan Śīla?

答:律儀所攝善作名戒。自餘十業,但單稱善,不名為戒。
Jawab: Tindakan baik yang tercakup di bawah disiplin sajalah yang dinamakan Śīla. Sepuluh perbuatan (daśa kuśala karma) di luar itu hanya disebut sebagai kebaikan, bukan dinamakan Śīla.

—— Lü-tsung hui-yüan 《律宗會元》
(Zokuzōkyō vol. 60, № 1110 hlm. 40c),
dirangkum oleh Bhikṣu Shou-i 守一比丘 (Sung)

※

Banyak orang di dunia yang tidak pernah membuat komitmen tertentu untuk berpantang, dan mereka tetap tidak melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dsb. Dalam kacamata Buddhis, ada sepuluh jalan (patha) untuk melakukan perbuatan jahat (akuśala karma): tiga melalui jasmani, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran. Penghindaran dari segala kejahatan ini tentu saja digolongkan sebagai kebaikan. Akan tetapi, itu cuma kebaikan, yang dilakukan berdasarkan dorongan naluri, dan bukan merupakan disiplin karena terikat komitmen.

Dari kesepuluh jalan perbuatan jahat, Prātimokṣa Saṃvara hanya mengatur penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hīnayāna yang menganggap tindakan pikiran belum merupakan karma yang sebenarnya (lihat di sini). Tiga kejahatan pikiran hanya merupakan “jalan karma” (karmapatha) sehingga jikalau seseorang yang mengambil Pratimokṣa Samvara melakukannya, ia tidak melanggar disiplin.

Berbeda halnya dengan Bodhisattva Saṃvara di mana penghindaran kejahatan pikiran juga diatur sebagai bagian dari disiplin. Jika seseorang yang sudah mengambil Bodhisattva Saṃvara (misalnya berdasarkan Mahāyāna Brahmajāla Sūtra 《梵網經》, T. № 1484) menyimpan dendam dalam pikirannya — hanya berpikir, dan tidak diekspresikan melalui tindakan ucapan atau jasmani — ia sudah melakukan salah satu pelanggaran berat. Oleh karena itu, disiplin bodhisattva lebih sulit pelaksanaannya.

Tiga langkah latihan pertama dari Pañca Śīla Buddhis bunyinya sama dengan penghindaran tiga kejahatan jasmani. Sedangkan mengenaï langkah latihan keempat, ada perbedaan penafsiran. Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa langkah latihan keempat hanya berkenaan dengan penghindaran dari kedustaan. Menurut sistém Satyasiddhi, langkah latihan keempat mencakup pula penghindaran tiga kejahatan ucapan lainnya.


Agar lebih jelas, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 54b) Vinayācārya Tao-hsüan membuat empat kombinasi:

1.  KEBAIKAN NAMUN BUKAN DISIPLIN 善而非戒
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penghindaran tiga kejahatan pikiran hanya merupakan kebaikan dan bukan bagian disiplin Prātimokṣa. Bagi orang-orang di dunia yang memang tidak pernah mengikatkan diri dengan disiplin apa pun, bahkan penghindaran kesepuluh kejahatan hanya kebaikan semata dan bukan disiplin.

Hal-hal lain seperti berderma, melakukan meditasi, dsb. juga merupakan kebaikan, tetapi tidak berkaitan dengan norma moralitas. Disiplin Prātimokṣa tidak mengaturnya. (Akan tetapi, bisa saja merupakan bagian dari disiplin non-Buddhis yang, misalnya, menetapkan pengikutnya berdosa apabila tidak berderma untuk menyucikan harta.)

2.  DISIPLIN NAMUN BUKAN KEBAIKAN 戒而不善
Ini terjadi ketika seseorang mengambil “Śīla” yang negatif (asaṃvara — lihat pembahasan sebelumnya). Istilah “Śīla” kurang sesuai di sini karena asaṃvara justru berkaitan dengan kedursilaan. Komitmen seseorang untuk menjalankan profesi sebagai tukang jagal, misalnya, merupakan sebuah disiplin, namun bukan kebaikan.

Contoh lain disiplin yang bukan kebaikan misalnya disiplin non-Buddhis yang mengatur pengikutnya cara berpakaian tertentu, melaksanakan tapa-brata, dll.

3.  KEBAIKAN SEKALIGUS DISIPLIN 亦善亦戒
Penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara. Sedangkan penghindaran kesepuluh kejahatan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Bodhisattva Saṃvara.

Penghindaran seluruh dari sepuluh kejahatan bisa saja menjadi bagian dari disiplin non-Buddhis tergantung bagaimana ajaran mereka masing-masing.

4.  BUKAN KEBAIKAN JUGA BUKAN DISIPLIN 倶非
Bagi mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara, misalnya, melakukan perbuatan yang sifatnya netral (avyākr̥ta) melalui jasmani atau ucapan.