Powered by Administrator

Translate

Rabu, 19 Januari 2022

Kisah Pembantaian atas Suku Śākya

Ini hanyalah pengulangan dari deskripsi gambar di posting sebelumnya. Kisah pembantaian suku Śākya oleh Raja Virūḍhaka tercatat dalam teks-teks Buddhis berbagai mazhab. Buddha sendiri tidak bisa mencegah genosidium yang terjadi atas kaum-Nya. Bukannya tidak mau menolong, tetapi karma kolektif yang dilakukan sebagian besar kaum Śākya dalam kehidupan lampaunya memang benar-benar sudah masak dan sudah waktunya berbuah sehingga tidak bisa dibelokkan.

Di jilid 5 Mahopāya-kauśalya Buddha Pratyupakāraka Sūtra 《大方便佛報恩經》 (T. vol. 3, № 156 hlm. 152b) diceritakan bahwa setelah menghabisi kaum Śākya, Virūḍhaka memboyong pulang 500 gadis Śākya ke istananya dengan girang karena merasa menang. Gadis-gadis Śākya mencelanya dengan mengatakan bahwa ia tidak menang; kaum Śākya-lah yang sesungguhnya mengalah sebab mereka siswa-siswa Buddha, yang memegang langkah latihan pantang membunuh. Mereka lebih membiarkan diri mereka diserang karena tidak mau menanggapi orang bodoh seperti Virūḍhaka.

Virūḍhaka, yang marah mendengar ucapan tersebut, menyuruh orang memenggal tangan dan kaki para gadis Śākya tersebut, lalu membuang mereka ke pekuburan. Para gadis Śākya merenungkan Buddha dan dipulihkan seperti sedia kala. Untuk membalas budi, mereka hendak menerima Śīla sebagai bhikṣuṇī. Mereka memilih bukan secara fisis meneruskan juriat Śākya — mengingat sebagian besar kaum Śākya sudah punah saat itu — melainkan secara spiritual supaya populasi pribadi-pribadi yang Tercerahkan terus sinambung.


時,五百釋女,異口同音,至心念佛:「南無釋迦牟尼多陀阿伽度、阿羅訶、三藐三佛陀。」
Tatkala itu kelimaratus wanita Śākya, dengan mulut berlainan dalam satu suara, bersungguh hati merenungkan Buddha: “Namaḥ Śākyamunaye Tathāgatāyārhate Samyak-saṃbuddhāya.”

復更唱言:「苦哉!苦哉!痛哉!痛哉!嗚呼!婆伽婆・修伽陀。」
Kembali lagi mereka berseru: “Alangkah menderitanya! Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Aduhai Bhagavan, sang Sugata!”

作是唱時,於虛空中,以如來慈善根力故,起大悲雲,雨大悲雨,雨諸女身。既蒙雨已,身體手足還生如故。諸女歡喜,同共唱言:「如來慈父,無上世尊,世間妙藥,世間眼目,於三界中能拔其苦,施與快樂。所以者何?我等今者得脫苦難。我等今者,當念佛恩,當念報恩。」
Pada saat mereka menyeru demikian, berkat kekuatan akar kebaikan cintakasih Tathāgata, di angkasa muncullah awan Mahākaruṇā, hujanlah hujan Mahākaruṇā, yang menghujani tubuh para wanita itu. Setelah menerima hujan tersebut, tangan dan kaki tumbuh pada tubuh mereka seperti sediakala. Para wanita itu amat bergembira dan bersama-sama berseru: “Tathāgata adalah bapa yang penyayang, Bhagavan yang tiada taranya, obat mujarab bagi dunia, biji mata dunia ini, mampu mencabut penderitaan di Triloka dan menganugerahkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena kini kita beroleh kelepasan dari penderitaan dan kesukaran. Kini kita harus merenungkan budi Sang Buddha, harus merenungkan membalas budi.”

諸女念言:「當以何事而報佛恩?如來身者,金剛之身,常住之身,無飢渴身,微妙色身,悉是具足百千禪定、根力、覺道、不可思議三十二相、八十種隨形之好;具二莊嚴,住大涅槃;等視眾生如羅睺羅,怨親等觀,亦不望報。我等今者欲報佛恩,當共出家,修持禁戒,護持正法。」
Para wanita merenung: “Bagaimanakah cara kita membalas budi Buddha? Tubuh Tathāgata adalah tubuh vajra, tubuh yang senantiasa bersemayam, tubuh tanpa kelaparan dan dahaga, tubuh dengan fisik yang menakjubkan, yang diperlengkapi dengan ratusan ribu samādhi, indera, kekuatan, faktor Pencerahan, 32 ciri yang tak terbayangkan dan 80 tanda tambahan; Ia sempurna memiliki dua hiasan, bersemayam dalam Nirvāṇa Agung; Ia samarata memandang semua makhluk sebagai Rāhula, menganggap setara yang memusuhi maupun yang mengasihi-Nya, juga tidak pernah mengharapkan balasan. Kini, jikalau kita hendak membalas budi Buddha, haruslah kita meninggalkan rumah-tangga, berlatih dan memegang aturan Śīla demi menjaga bertahannya Saddharma.”

思惟是已,即求衣鉢,往詣王園比丘尼精舍,求索出家。
Setelah menimbang demikian, maka mereka mencari jubah dan mangkuk, lalu berangkat menghampiri ārāma para bhikṣuṇī di taman kerajaan demi memohon pravrajyā.

Senin, 10 Januari 2022

Mengapa Memegang Śīla-Śīla Buddhis disebut Membalas Budi Buddha?

Balas budi kepada Buddha yang minimal, menurut homili Bodhisattva *Mayūrarāja sebelum ini, adalah dengan memperoleh Keyakinan yang Tak Terhancurkan — menjadi seorang srotāpanna. Membalas secara demikian merupakan persembahan yang terbaik, sejalan dengan pernyataan “Viniścaya Saṅgraha” dari Yogācārabhūmi Śāstra (lihat di sini):

以一切財而興供養,未將為喜;要以正行而興供養,乃生歡喜。
Sebab Ia tidaklah bergembira dipersembahi dengan segala kekayaan material; namun baru bergembira bila dipersembahi, terutama, dengan praktik yang tepat.







Dharmaratna terdiri atas dua unsur: Dharma dan Vinaya (dalam terjemahan lama seringkali 經戒 ‘Sūtra dan Śīla’ digunakan sebagai padanan). Oleh karena itu, ada empat objek yang kepadanya kita pergi berlindung dan keyakinan kita terhadapnya harus kita murnikan, dari waktu ke waktu, hingga tercapai ketakterhancuran.

Dharmaratna juga memiliki dua aspek: sebagai pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu. Setelah mengaplikasikan Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu, seseorang akan merealisasi Dharmaratna-sebagai-keadaan-bebas-nafsu. Aplikasi atas Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu itulah langkah awal kita untuk membalas budi Buddha, yang telah bersusah-payah mengajarkannya. Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha 《阿難問事佛吉凶經》 (versi panjang dari teks yang pernah kita bahas di sini) menyatakan:

念報佛恩,當持經戒,相率以道。道不可不學,經不可不讀,善不可不行。
Seseorang yang merenungkan bagaimana membalas budi Buddha hendaknya memegang Sūtra dan Śīla, menuntun [diri] dengan menjadikannya Jalan. Jalan tidaklah boleh tidak dipelajari, Sūtra tidaklah boleh tidak dibaca, kebaikan tidaklah boleh tidak dipraktikkan.


Dharma (alias “Sūtra”) bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipraktikkan. Di bab terakhir terjemahan lama Lalitavistara 《普曜經》 (T. vol. 3, № 186 hlm. 537–538a) dikatakan:

佛告賢者迦葉、阿難、彌勒,重相囑累:「受之!持之!諷誦學之,令普流布!示其同學及十方人,皆令蒙濟!使不斷絕,展轉相教,展轉相成,使不稽留。三寶不斷,乃報佛恩。」
Buddha memberitahu Āyuṣman Kāśyapa, Ānanda, Maitreya, dan ulang dipercayakannya: “Terimalah ia! Peganglah ia! Lafalkan dan pelajarilah ia supaya tersebar secara universal! Unjukkan kepada rekan sepelajarmu dan orang-orang di sepuluh penjuru, sehingga semua beroleh perbantuan! Agar tidak putus terpotong, bergulirlah ajar-mengajarkan, bergulirlah sukses-mensukseskan, sehingga tidak tertahan. Menyebabkan Triratna tidak terpotong, barulah itu [bisa dinamakan] membalas budi Buddha.”

Bahkan hanya dengan melafalkan Dharma, kita menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Apalagi jika kita mampu membabarkannya kepada makhluk lain sebagaimana nasihat Vimalakīrti 《說無垢稱經》 (T. vol. 14, № 476 hlm. 561c) kepada Maudgalyāyana:

念報佛恩,意樂清淨,法詞善巧,為三寶種永不斷絕,乃應說法。
Dengan merenungkan bagaimana membalas budi Buddha, dengan kecenderungan pikiran yang murni, dengan keterampilan pengungkapan Dharma, demi tidak terpotongnya juriat Triratna selamanya, barulah mesti kaubabarkan Dharma (buddhekṛtajñena, śuddhāśayena, dharmaniruktividhijñena, triratnavaṃśānupacchedāya ca te dharmo deśayitavyaḥ).


Vinaya (alias “Śīla”) juga bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipegang. Setelah melaksanakan Śīla (Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu), seseorang akan merealisasi Śīla (Anāsrava Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek keadaan bebas-nafsu). Namun, dengan memegang Śīla, kita secara tidak langsung juga menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa 《大薩遮尼乾子所說經》 yang kita kutip sebelumnya menyatakan:

以戒淨故,不斷佛種,成等正覺;不斷法種,分別法性;不斷僧種,修無為道。以持淨戒相續不斷故,功德無盡。
Dengan Śīla yang murni, juriat Buddha tidak terpotong, yakni pencapaian Pencerahan yang Tepat dan Menyeluruh (samyak-saṃbodhi); juriat Dharma tidak terpotong, yakni diferensiasi hakikat Dharma; juriat Saṅgha tidak terpotong, yakni pengembangan Jalan yang tak terkondisi. Dengan tidak terpotongnya kesinambungan pemegangan Śīla yang murni, jasa-jasa-Nya (Gautama) tiada akhir.

Bahkan hanya dengan menerima dan memegang Śīla, kita sudah melaksanakan amanah Buddha. Tidak sia-sialah Beliau mengajarkan Śīla (dan Sūtra — sebagai dua unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu) karena cita-cita-Nya agar apa yang diajarkan-Nya itu bisa menguntungi makhluk lain sudah tercapai. Apalagi jika kita mampu menerimakan Śīla kepada makhluk lain lagi, maka juriat Buddha benar-benar sinambung terteruskan. Tentunya hal ini hanya dapat kita lakukan kalau Śīla yang kita terima sendiri memang otentis berasal dari Buddha, sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku sebagai bagian dari juriat apabila dalam dirinya tidak mengalir darah dari orang yang diaku tersebut!






Sebagai penutup, kita tampilkan dari bab III Brahma Viśeṣacintī Paripṛcchā Sūtra 《思梵天所問經》 (T. vol. 15, № 586 hlm. 37b) kutipan tanya–jawab antara Buddha dengan sang brahma:

「世尊。誰知報佛恩?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang tahu membalas budi Buddha?

佛言:「不斷佛種者。」
Buddha berkata: “Ia yang [menyebabkan] tidak terpotongnya juriat Buddha.”

「世尊。誰能供養佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mempersembahi Buddha?

佛言:「能通達無生際者。」
Buddha berkata: “Ia yang mampu menembus perhinggaan dari yang tak tertimbulkan (sehingga mampu melaksanakan praktik tanpa merasa jemu walaupun berkalpa-kalpa).”

「世尊。誰能親近於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mengakrabkan diri dengan Buddha?”

佛言:「乃至失命因緣不毀禁者。」
Buddha berkata: “Ia yang, terancam sebab-musabab tertentu, hingga kehilangan nyawa pun tidak merusak aturan (Śīla).”

「世尊。誰能恭敬於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu menghormati Buddha?”

佛言:「善覆六根者。」
Buddha berkata: “Ia yang menyelubungi dengan baik keenam indera.”

「世尊!誰名財富?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang dinamakan kaya?”

佛言:「成就七財者。」
Buddha berkata: “Ia yang berhasil memiliki tujuh kekayaan (sapta āryadhana).”

Sabtu, 01 Januari 2022

Sebuah Syair dari 𝘛𝘳𝘪𝘴𝘢𝘮̣𝘷𝘢𝘳𝘢 𝘕𝘪𝘳𝘥𝘦𝘴́𝘢 𝘚𝘶̄𝘵𝘳𝘢


知恩住淨戒  心常樂行捨
捨時心歡喜  菩提不難得

Kenal budi (kr̥tajña) dan berdiam dalam Śīla yang murni,
batin senantiasa gemar melaksanakan pelepasan (tyāga).
Pada saat melepas, batin bersukacita.
Maka Bodhi tidaklah sukar didapat.
—— Trisaṃvara Nirdeśa Sūtra 《大方廣三戒經》
(T. vol. 11, № 311 hlm. 702c)



Berbagai Cara Membalas Budi Buddha

Ada banyak cara membalas budi Buddha. Dalam syair-syair di jilid 3 Mahāmokṣa-diśām-puṣya Kaukr̥tya-pāpaśodhana Sūtra 《大通方廣懺悔滅罪莊嚴成佛經》 (T. vol. 85, № 2871 hlm. 1351b–c) disebutkan sembilan (atau sepuluh jika bentuk negatif yang terakhir kita balik), antara lain:


  1. 出家持禁戒——是名報佛恩。
    Meninggalkan rumah-tangga dan memegang aturan Śīla — itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.

  2. 心生清淨信,了知十方佛常住不涅槃,法、僧亦復然——是名報佛恩。
    Membangkitkan keyakinan murni (prasāda) dalam batin, memahami bahwa para Buddha di sepuluh penjuru senantiasa bersemayam tidak [memasuki] Nirvāṇa, Dharma dan Saṅgha pun demikian — itulah ….

  3. 心無分別相,了知一乘道:過去並未來,十方及現在,唯有一佛乘,無二亦無三——是名報佛恩。
    Tiada [menciptakan] karakteristik diskriminatif, memahami Jalan Kendaraan Tunggal: baik di masa lampau, mendatang, sekarang dan di sepuluh penjuru, hanya ada satu Kendaraan Buddha, tiada yang kedua atau ketiga — itulah ….

  4. 心常生信解,皆言:『諸眾生悉有如來性』——是名報佛恩。
    Senantiasa membangkitkan keyakinan karena paham (adhimukti), dan berkata: ‘Semua makhluk seluruhnya memiliki hakikat Ketathāgataan’ — itulah ….

  5. 若修一念善,不求天果報,直向無上道——是名報佛恩。
    Jikalau berlatih kebajikan dalam satu momen pun, tidak mencari akibat berupa pahala surgawi, melainkan mendedikasikannya demi Jalan yang Tiada Tara — itulah ….

  6. 須臾讀是經,敬重佛法僧,孝順供養師——是名報佛恩。
    Setelah sekejap membaca sūtra ini, [mampu] menghormat dan menghargaï Buddha, Dharma, dan Saṅgha, juga berbakti dan mempersembahi guru [spiritual] — itulah ….

  7. 若人捨一財,飲食 及 衣服,普施諸大眾——是名報佛恩。
    Jikalau seseorang melepas sebahagian kekayaan, sandang ataupun pangan, dan mendermakannya secara universal kepada semua makhluk — itulah ….

  8. 於末法中,能化一人須臾聽是經,復勝別供養百億菩薩眾(如是大乘經,諸佛菩薩母);念佛、敬是經、並諸菩薩眾,等心無彼此——是名報佛恩。
    Di masa Akhir Dharma mampu merubah satu orang agar sekejap saja mendengar sūtra ini, akanlah lebih unggul daripada secara khusus mempersembahi kumpulan ratusan keti bodhisattva (sebab sūtra Kendaraan Besar ini ialah ibu para Buddha dan bodhisattva); [jikalau mampu] merenungkan Buddha, menghormati sūtra ini, dan kumpulan para bodhisattva, dengan batin samarata tanpa mempertentangkan — itulah ….

  9. 於末法中,若欲報佛恩,一念在禪定,勝活三千界滿中一切人。(謗禪壞亂眾,如殺三千界滿中一切人 及 諸眾生類;謗禪壞亂眾,其罪亦如是)。
    Di masa Akhir Dharma, jikalau hendak membalas budi Buddha, satu momen saja berada dalam dhyāna-samādhi, dan akan lebih unggul daripada menghidupi trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia. (Memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna adalah bagaikan membunuh trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia dan berbagai jenis makhluk; sedemikianlah dosa dari memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna.)

  10. 若人見修善,誹謗不信受,斷壞三寶種——不名報佛恩。
    Jikalau seseorang melihat [Dharma] pengembangan kebaikan, lalu memfitnah, tidak meyakini dan menerimanya, sehingga mengakibatkan terpotongnya juriat Tiga Permata (triratnavaṃśa upaccheda) — itu tidaklah dinamakan membalas budi Buddha.
    (Dinamakan membalas budi jika sebaliknya.)

BALASLAH BUDI SANG BUDDHA

8 bodhisattvas mandala

時,八大菩薩白佛言:「云何是報佛恩?」
Kalakian kedelapan Bodhisattva berkata kepada Buddha: “Bagaimanakah membalas budi Buddha?”

佛言:「咸得成佛已,須廣度有情,不得住寂,自受寂樂。」
Buddha berkata: “Setelah [kalian] semua menjadi Buddha, perlulah secara ekstensif menyelamatkan semua makhluk; jangan berdiam dalam Kedamaian, menikmati sendiri kebahagiaan Kedamaian.”

—— *Amr̥takuṇḍalī Jvāloṣṇīṣa Sūtra
《大妙金剛大甘露軍拏利焰鬘熾盛佛頂經》
(T. vol 19, № 965 hlm. 342a)


Setelah terakhir kali kita lihat bagaimana orang yang kenal budi dan tahu membalas budi (kr̥tajña-kr̥tavedin) dipujikan Buddha, maka yang menjadi pertanyaan sekarang adalah caranya. Budi Buddha sukar dibalas karena begitu besar dan banyak. Dalam kutipan di atas Buddha menjawab delapan Bodhisattva bahwa untuk membalas budi-Nya adalah dengan meraih Kebuddhaan, sama seperti diri-Nya, demi menyelamatkan semua makhluk.

Kita teringat akan syair yang biasa didoakan dalam ibadat pagi, yang bersumber dari pujian Ānanda di akhir jilid 3 Śūraṅgama Sūtra 《大佛頂首楞嚴經》 (T. vol. 19, № 945 hlm. 119b):

「願今得果成寶王  還度如是恒沙眾
 將此深心奉塵剎  是則名為報佛恩
 伏請世尊為證明  五濁惡世誓先入
 如一眾生未成佛  終不於此取泥洹」

 “Semoga kini kuperoleh Buah dan menjadi Raja Permata.
 Kembali, ’kan kuselamatkan makhluk yang bagaikan pasir Gāṅga.
 Biarlah batin mendalam ini kuhaturkan bagi (Buddha)kṣetra sebanyak debu.
 Inilah yang dinamakan membalas budi Buddha.

 Dengan tunduk kuundang Bhagavan sebagai saksi:
 ke dunia yang merosot dengan lima kekeruhan ’ku berkomitmen memasukinya dahulu.
 Jikalau satu makhluknya pun belum mencapai Kebuddhaan,
 selamanya di sini takkan kuambil [kedamaian] Nirvāṇa.”

Menyelamatkan semua makhluk bahkan hanya merupakan cara membalas budi pada tataran fenomenal sebab, pada tataran nomenal, penyelamat, keselamatan, dan yang diselamatkan hakikatnya adalah kosong. *Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 293c) mengatakan “menginsafi kekosongan ketiga cakra demi membalas budi Buddha” (悟三輪空以報佛恩).


Apabila pernyataan di atas terlalu mengawang-awang, maka teks lain mengatakan:

「舍利弗。唯有二人能報佛恩。何等為二?
“Śāriputra, hanya ada dua pribadi yang mampu membalas budi Buddha. Apakah keduanya itu?

一者、盡漏;
1. Yang mengakhiri kebocoran batin;

二者、發阿耨多羅三藐三菩提心。
2. Yang membangkitkan batin Anuttara Samyak-saṃbodhi.

舍利弗。是二種人善能供養諸佛如來,善報諸佛所有恩惠。」
Śāriputra, kedua jenis pribadi ini dengan baik mampu mempersembahi para Tathāgata, dengan baik membalas budi yang diulurkan para Buddha.”

—— *Sarvadharmāgrasamudgatarāja Sūtra
《諸法勇王經》
(T. vol 17, № 822 hlm. 849b)

Jikalau mencapai Kebuddhaan masih di luar jangkauan pemikiran kita, maka yang lebih rendah adalah dengan mengakhiri kebocoran batin (kṣīṇāsrava), yakni: menjadi arhat. Atau, seperti homili Bodhisattva *Mayūrarāja dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra sebelumnya, untuk membalas budi Buddha minimal kita memiliki Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda).

Keyakinan yang Tak Terhancurkan hanya dimiliki oleh seorang yang, minimal, mencapai Srotāpatti¹. Salah satu unsur dari Keyakinan yang Tak Terhancurkan adalah keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara yang bersifat adiduniawi.

Anāsrava Saṃvara dapat tercapai dengan berlatih Prātimokṣa Saṃvara, yang meliputi disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī hingga disiplin upāsaka/upāsikā. Prātimokṣa Saṃvara, yang bersifat duniawi, mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi². Prātimokṣa Saṃvara sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan³. Karenanya ia disebut pengarah Pembebasan.






CATATAN:

¹ Lihat Sūtra tentang Empat Dharma.

² Menurut Vinaya Mātr̥kā, etimologi lama (dalam suatu dialek Prakerta) prātimokṣa berasal dari kata pramukha dengan infiks -ādi-, dan ditafsirkan sebagai ‘perintis kepada yang terunggul’ (yakni: yang adiduniawi).

³ Penjelasan Vinayācārya Tao-hsüan.