Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Mulasarvastivada Vinaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mulasarvastivada Vinaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Desember 2021

Tahu Membalas Budi merupakan Permata yang Sukar Didapat (2)

Menyambung posting sebelumnya, kali ini diberikan contoh versi yang tergolong kelompok kedua, dari “Kṣudraka Vastu” pada Mūlasarvāstivāda Vinaya. Urut-urutan lima hal yang jarang ada di sini tidak sama persis dengan yang termuat dalam “Bhaiṣajya Vastu”, meskipun kedua skandhaka ini sesungguhnya merupakan bagian dari Vinaya Piṭaka satu mazhab yang sama. Istilah kr̥tajña-kr̥tavedin ‘kenal budi dan tahu budi’ ditraduksi oleh sang penerjemah, I-tsing, hampir-hampir harfiah sebagai 知恩報恩 (‘tahu budi dan membalas budi’), dan menjadi begitu populer di kemudian hari.



zhi en bao en 知恩報恩



諸栗㚲毘子既至林所,便即下車,徒步而進,詣世尊所,頂禮雙足,退坐一面,欲聽妙法。世尊為說示教利喜,各令慶悅。
Sesudah para putra Licchavi tiba di hutan itu, maka turunlah mereka dari keretanya, kemudian berjalan kaki melangkah maju, menghampiri tempat Buddha, bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, lalu undur berduduk ke satu sisi, hendak menyimak akan Saddharma. Bhagavan pun membabar, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, sehingga masing-masing kesenangan.



爾時,會中有一婆羅門名曰黃髮摩納婆,從座而起,整衣合掌,白佛言:「世尊。我今樂欲隨喜讚歎!」
Pada saat itu di tengah-tengah persamuhan itu adalah seorang brāhmaṇa bernama Māṇava Rambut Kuning yang bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Ya Bhagavan, kini aku bergemar hendak memuji-muji seturut kegembiraanku!”

佛告摩納婆:「隨汝意說!」
Buddha memberitahu sang māṇava: “Seturut pikiranmu, ucapkanlah!”

既蒙佛許,即說頌曰:
Setelah beroleh izin Buddha, maka diucapkannya syair:

「大王身持寶裝甲  今為國主獲善利
 有佛現生於此處  名稱高遠若須彌
 如白蓮華處池中  於夜開敷散芬馥
 如日流暉照空界  光明遍滿於世間
 當觀如來智慧力  如大明炬照昏冥
 常為人天作智眼  諸來見者皆調伏」

“Sang Raja Agung [Aṅgīrasa] berbaju zirah pusaka pada tubuh-Nya
demi penguasa negeri [Magādha], agar ia beroleh keuntungan baik.
Ada Buddha yang lahir sekarang di tempat ini,
yang kemasyhuran nama-Nya tinggi dan jauh bagai Sumeru.

Bagai bunga seroja putih bertempat di tengah kolam,
yang mekar terbuka pada malam, menyebarkan semerbak.
Bagai mentari beredar memancarkan terik di wilayah angkasa,
terang cahaya-Nya merata memenuhi dunia.

Pandanglah kekuatan kebijaksanaan Tathāgata,
yang bagai suluh terang berpancar di kegelapan senja,
yang bagi dewa dan manusia senantiasa menjadi mata pemahaman,
sehingga semua yang datang melihatnya pun terjinakkan.”



時,諸栗㚲毘聞是說已,同聲讚言:「大摩納婆。善說斯語!」
Kalakian, setelah para Licchavi mendengar ucapan ini, berpadu suara mereka memujinya: “Ya māṇava yang agung, baik sekali kauucapkan perkataan ini!”]

是時,會中有五百栗㚲毘子,各脫上衣,持施黃髮。
Tatkala itu di tengah-tengah persamuhan adalah lima ratus putra Licchavi yang masing-masing melepas jubah atasnya, memegang, dan memberikannya kepada Rambut Kuning.

世尊復為大眾說法,示教利喜,默然而住。
Bhagavan pun, demi persamuhan besar itu, [sekali] lagi membabarkan Dharma, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, kemudian senyap berdiam.



時,諸栗㚲毘子各從座起,整衣合掌,而白佛言:「唯願世尊哀愍我等:與諸苾芻,明日城內受我微供!」
Kalakian para putra Licchavi masing-masing bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya, dan berkata kepada Buddha: “Berkenanlah kiranya Bhagavan mengibaï kami sekalian: bersama para bhikṣu esok hari di dalam kota menerima persembahan sederhana kami!”

佛言:「我與苾芻已許菴沒羅女明日就食。」
Buddha berkata: “Aku bersama para bhikṣu telah meluluskan Āmrapālī besok menjamu makan.”

白言:「大德。我有所失不如彼女,彼有智慧先請世尊。我等不能及時親覲、恭敬、禮拜,我於後時當興供養。」
Kata mereka: “Bhadanta, kami memiliki kecerobohan, tidak seperti wanita itu; dia memiliki kebijaksanaan sehingga terlebih dahulu mengundang Bhagavan. Kami tidak mampu tepat waktu beranjangsana, menghormat, dan bersalam sembah. Di kemudian waktu [lain] kami tentu akan mengadakan persembahan.”

佛言:「甚善!」
Buddha berkata: “Alangkah baiknya!”

聞佛讚已,情懷歡喜,頂禮佛足,奉辭而去。
Setelah mereka dengar pujian Buddha, maka tersimpanlah sukacita dalam emosinya. Lalu bernamaskāralah mereka menyembah kaki Buddha, berpamitan, dan pergi.



時,摩納婆見彼諸人辭佛去後,少時而住,即從座起,整衣合掌,白佛言:「大德。彼五百人聞我讚佛,同聲慶喜。為妙語故,各持一衣,來施於我。我持奉佛,唯願慈悲哀愍納受!」
Kalakian, sesudah melihat orang-orang itu berpamitan kepada Buddha dan pergi, sang māṇava, yang tinggal sementara waktu lagi, bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Bhadanta, kelimaratus orang itu mendengarku memuji Buddha dan berpadu suara kesenangan. Oleh karena ucapan yang menakjubkan, masing-masing memegang sehelai jubah, dan datang memberikannya kepadaku. Aku memegang dan menghaturkannya untuk Buddha; berkenanlah kiranya, demi kasih–sayang-Mu, mengibaï kami menerimanya!”



世尊為受,告言:「摩納婆。若如來、應、正等覺出現世間,有五希有事亦現於世。云何為五?
Bhagavan menerimanya dan memberitahu: “Māṇava, jikalau seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini, ada lima hal yang jarang ada yang juga akan muncul. Apakah kelimanya itu?

謂:
Yakni:

於世間若有大師如來、應、正等覺、明行圓滿、善逝、世間解、無上士、調御丈夫、天人師、佛、世尊出現於世,凡所說法初中後善,文義巧妙,純一圓滿,清淨鮮白梵行之相。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第一希有。
Di dunia ini jikalau ada sang Guru Agung — Yang Datang Demikian, Yang Layak, Yang Mencapai Pencerahan Menyeluruh yang Tepat, Yang Penuh Sempurna Pengetahuan dan Tindakannya, Yang Pergi dengan Baik, Pengenal Segenap Alam, Yang Tiada Taranya, Sais Penjinak Insan, Guru Para Dewa dan Manusia, Buddha, Yang Dimuliakan Dunia — yang muncul, maka setiap Dharma yang dibabarkan-Nya akan baik di awal (ādikalyāṇa), pertengahan (madhyakalyāṇa), dan akhir (paryavasānakalyāṇa); indah dalam bahasa (suvyañjana) maupun arti (svartha); unik satu-satunya (kevala) dan penuh sempurna (paripūrṇa); berkarakeristik kehidupan kudus (brahmacarya) yang bersih-jernih (pariśuddha) dan putih-segar (paryavadāta). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada pertama apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有聽聞如是妙法,能善作意一心審諦,攝斂諸根,思念觀察。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第二希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang mendengar dan menyimak Dharma Sejati Tathāgata, lalu mampu mengaplikasikan pikiran (manaskāra) kepada keterpusatan batin dan menyelidiki kebenarannya, merangkum segala indera, merenungkan dan memeriksanya (=melakukan refleksi [pratyavekṣaṇa]). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada kedua apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!其聞法者,情生喜悅獲大善利,於世俗事生厭離心——此是如來、應、正等覺出現世間第三希有。
Selanjutnya lagi, ia yang menyimak Dharma, lalu kegembiraan timbul dalam emosinya karena memperoleh keuntungan baik yang besar, dan terhadap perkara duniawi timbul keceraian karena enggan (saṃvega) — inilah hal yang jarang ada ketiga apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有展轉聽聞法者,皆亦漸漸依教奉持——此是如來、應、正等覺出現世間第四希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang bergulir mendengar dan menyimak Dharma [demi Dharma], dan terhadap semuanya pun berangsur-angsur menjunjung dan memegang sesuai yang diajarkan — inilah hal yang jarang ada keempat apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!諸聞法者繫念思惟,即能通達甚深妙慧——此是如來、應、正等覺出現世間第五希有。
Selanjutnya lagi, mereka yang, terhadap segala Dharma yang disimak, merenungkan dengan intensif dan mempertimbangkannya sehingga mampu menembus kebijaksanaan menakjubkan yang teramat dalam — inilah hal yang jarang ada kelima apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!摩納婆。知恩報恩名大善士:少尚不忘,何況多恩!
Selanjutnya lagi, Māṇava, seseorang yang kenal budi (kr̥tajña) dan [tahu] membalas budi (kr̥tavedin) dinamakan insan baik yang agung (mahā satpuruṣa): budi yang sedikit bahkan tidak dilupakannya, apalagi yang banyak!

是故!汝今應勤修學。」
Oleh karena itu, kini mestilah engkau dengan tekun berlatih dan mengembangkannya!”



摩納婆聞佛說已,歡喜信受,頂禮雙足,辭佛而去。
Setelah sang māṇava mendengar apa yang disabdakan Buddha, dengan sukacita ia meyakini dan menerimanya, lalu bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, berpamitan kepada Buddha dan pergi.

Selasa, 10 September 2019

Jadikanlah Śīla Gurumu




Begitu utamanya Perlindungan Buddhis yang keempat, Śīla, sehingga Buddha menjadikannya pengganti Beliau sendiri, selaku guru (śāstr̥) setelah kemangkatan-Nya. Ujaran populer dari Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 ini dapat kita jumpaï padanannya, terutama, di jilid 38 “Kṣudraka Vastu” dari  Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶雜事》 (T. vol. 24, № 1451 hlm. 398c–399a):

「汝等苾芻,我涅槃後,作如是念:『我於今日無有大師。』汝等不應起如是見!我令汝等每於半月說波羅底木叉。當知!此則是汝大師、是汝依處,若我住世無有異也。」
“Kalian, para bhikṣu, setelah parinirvāṇa-Ku mungkin akan berpikir demikian: ‘Hari ini kami tiada lagi memiliki guru.’ Kalian tidaklah semestinya membangkitkan pandangan demikian! Telah Kuperintahkan kalian setiap paruh-bulan untuk membabarkan Prātimokṣa. Ketahuilah! Itulah kelak gurumu, itulah sandaranmu, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Pada gāthā penutup Prātimokṣasūtra dari mazhab Dharmaguptaka, baik untuk bhikṣu (T. №. 1429 dan 1430) maupun bhikṣuṇī (T. № 1431), pun termaktub:

世尊涅槃時  興起於大悲
集諸比丘眾  與如是教誡
莫謂我涅槃  淨行者無護
我今說戒經  亦善說毘尼
我雖般涅槃  當視如世尊
此經久住世  佛法得熾盛
以是熾盛故  得入於涅槃

Sang Bhagavan, pada saat nirvāṇa-Nya,
telah membangkitkan belaskasih agung,
menghimpun saṅgha para bhikṣu, dan
memberikan wejangan demikian:

“Janganlah menyangka setelah nirvāṇa-Ku
para brahmacārin tiada memiliki penjaga!
Prātimokṣasūtra yang kini Kuucapkan,
juga Vinaya yang dengan baik Kubabarkan
— meskipun Aku telah parinirvāṇa —
pandanglah ia sebagai Bhagavan.

Apabila sūtra ini bertahan lama di dunia,
Buddhadharma dapatlah gilang-gemilang.
Karena kegemilangannya tersebut,
dapatlah Nirvāṇa dimasuki.”

Adegan paralel juga termuat dalam berbagai redaksi Parinirvāṇa Sūtra milik mazhab berbeda-beda, di mana aspek Dharma sebagai pemotong nafsu, yang menjadi Perlindungan yang keempat ini, biasanya dipecah menjadi Dharma dan Vinaya (terjemahan-terjemahan lebih kuno seringkali menggunakan istilah arkais “Sūtra dan Śīla” 經戒 sebagai substitusi). Dalam Ta po-nieh-p’an ching 《大般涅槃經》 (T. vol. 1, № 7 hlm. 204b) terjemahan Peziarah Fa-hsien, misalnya — ini adalah yang pertama dari dua Parinirvāṇa Sūtra yang kepenerjemahannya disandangkan padanya: versi Hīnayānis dan versi Mahāyānis masing-masing — diceritakan sbb.:

爾時,如來告阿難言:「汝勿見我入般涅槃,便謂正法於此永絕!何以故?我昔為諸比丘,制戒波羅提木叉,及餘所說種種妙法。此即便是汝等大師,如我在世無有異也。」
Pada saat itu Tathāgata pun memberitahu Ānanda: “Janganlah karena melihat-Ku memasuki parinirvāṇa maka kamu menyangka sampai di sini Saddharma akan terhenti selamanya! Apakah sebabnya? Dahulu, demi para bhikṣu, Aku telah menetapkan śīla-śīla Prātimokṣa dan telah membabarkan bermacam-macam Dharma yang menakjubkan di tempat lain. Itulah guru kalian kelak, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Sedangkan dalam *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 atau ‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, yang merupakan sūtra ke-2 dari Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 26a), sbb.:

「阿難。汝謂佛滅度後無復覆護,失所恃耶?勿造斯觀!我成佛來,所說經戒,即是汝護,是汝所恃。」
“Ānanda, pada sangkamu setelah Buddha parinirvāṇa tidak lagikah engkau memiliki penjaga, dan kehilangan andalan? Janganlah berpandangan demikian! Segala Sūtra dan Śīla yang Kubabarkan semenjak Aku menjadi Buddha itulah penjagamu, itulah yang akan kauandalkan.”

Terjemahan Tionghoa tertua, Fo po-ni-huan ching 《佛般泥洹經》 (T. vol. 1, № 5 hlm. 172b) oleh Śramaṇa Po Fa-tsu 白法祖 yang hidup pada zaman Dinasti Tsin Barat (265–316), menuturkan:

「吾泥曰後,無得以佛去,故言:『無所復怙。』當怙經戒!吾泥曰後,轉相承用,翫經奉戒。」
“Setelah nirvāṇa-Ku, janganlah karena menganggap Buddha telah pergi maka kalian berkata: ‘Kami tidak lagi memiliki pengayom.’ Jadikanlah Sūtra dan Śīla sebagai pengayommu! Setelah nirvāṇa-Ku, berlanjutlah menerima dan menerapkan pengkajian Sūtra dan penjunjungan Śīla.”

Dan terakhir, dalam Po-ni-huan ching 《般泥洹經》 (T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), yang diterjemahkan sedikit lebih belakangan daripada T. № 5 dan sama-sama tidak kita ketahui berasal dari kanon mazhab mana:

「汝諸弟子,當自勗勉。無以懈慢,謂佛已去,莫可歸也!必承法教:常用半月,望晦講戒;六齋之日,高座誦經。歸心於經,令如佛在!」
“Kalian, para siswa, hendaklah bertekun diri. Janganlah karena kemalasan dan kesombongan, menyangka Buddha telah pergi sehingga tidak dapat dijadikan Perlindungan! Haruslah kalian menyambut ajaran Dharma: selalu setiap paruh-bulan, pada purnama dan tilem, ketika Śīla dikhotbahkan; serta pada enam hari poṣadha, ketika Sūtra dibacakan dari kursi tinggi. Berlindunglah kepada Sūtra sama seperti kepada Buddha saat masih ada!”

Bagi yang meyakini kemajemukan Buddha-Buddha yang eksis bersamaan di saat sekarang, sepeninggal Śākyamuni mungkin mereka dapat mengatakan bahwa mereka berlindung juga kepada para Buddha yang benar-benar nyata hidup di sistem dunia (galaksi) lain di sepuluh penjuru. Namun, bagi yang hanya menerima bahwa Śākyamuni ialah satu-satunya Buddha di seluruh alam semesta dan tidak ada Buddha lain kecuali di galaksi kita, maka ketika mengucapkan “aku berlindung kepada Buddha”, kepada siapakah sesungguhnya perlindungan itu ditujukan, sedangkan Buddha sudah tiada? Tentunya kita tidak dapat berlindung kepada patung-Nya yang hanya merupakan pelambang. Buddha-Buddha masa lampau sama juga sebab, seperti Śākyamuni, mereka pun tidak lagi hidup; sementara Buddha-Buddha masa datang belumlah lahir.

Karena seseorang yang mencapai Nirvāṇa terbebas dari kelahiran dan kematian, terdapat bahaya kita terjebak dalam pandangan bahwa Nirvāṇa adalah kemusnahan mutlak — mencapai Nirvāṇa berarti menjadi tidak ada sama sekali, nihil. Maka pada petikan-petikan di atas Buddha telah mengingatkan: sesudah Beliau parinirvāṇa, Dharmalah pengganti diri-Nya. Dharma, dalam aspeknya berupa ajaran (Sūtra dan Śīla), akan menjadi guru (śāstr̥), penjaga (trāṇa), andalan (pratiśaraṇa), pengayom (parāyaṇa), Perlindungan (śaraṇa) kita. Dharma bukan cuma setara dengan Buddha, tetapi Dharma identik dengan Beliau sendiri.

Dari sinilah tumbuh keyakinan tentang adanya tubuh Dharma (dharmakāya) Buddha. Menurut ide yang mula-mula ini, tubuh Dharma tidak lebih daripada “pertubuhan” atas kumpulan-kumpulan ajaran (dharmaskandha) Beliau. Buddha tetap hadir sesudah Beliau parinirvāṇa, walaupun kehilangan identitas dan tereduksi menjadi pertubuhan ajaran yang impersonal.

Sabtu, 12 Januari 2019

INTISARI LAÜTAN VINAYA

di Vihara Dharma Satya Rawamangun

Tsongkhapa (1357–1419)
Intisari Laütan Vinaya (‘Dul-ba rgya-mtsho’i snying-po) adalah karya pendek Je Tsongkhapa yang tersusun dalam bait-bait heptasilabis. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda (Mūlasarvāstivāda), pelajaran vinaya yang diringkaskan syair ini secara garis besar sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sekolah Vinaya Tiongkok. Terjemahannya dalam bentuk pdf oleh Lobsang Rabgay dapat diunduh di sini. Terjemahan lain dalam bahasa Inggris, misalnya, di sini.

Terdapat beberapa komentar teks ini yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain:


Tidak ada hal baru yang diuncarkan Je Tsongkhapa di sini selain keunikan langkah-langkah latihan dalam Mūlasarvāstivāda Vinaya (misalnya: enam dharma dan enam anudharma untuk śikṣamāṇā). Secara umum isi teks ini hanya mengulangi apa yang telah dibahas dalam Abhidharmakośa. Hanya dua alternatif yang disajikan dalam pembahasan hakikat substansi disiplin: material atau mental. Kalimat “yang berpandangan tinggi dan rendah” menimbulkan kesan seolah-olah mereka yang menganggapnya material adalah lebih tinggi — walaupun Tsongkhapa sendiri tidak secara jelas menyebutkan mana sekolah yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah.

Dalam komentar-komentar Tibet, sekolah Kendaraan Kecil Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa substansi disiplin itu materi, justru dipandang lebih rendah; sementara Sautrāntika yang menganggapnya mental dipandang lebih tinggi. Selanjutnya sekolah-sekolah Kendaraan Besar biasanya dipandang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah Kendaraan Kecil. Salah satunya, Vijñaptimātra/Cittamātra, dikatakan juga berpendapat bahwa substansi disiplin itu mental. Akan tetapi, Cittamātrin sesungguhnya menganggap substansi disiplin adalah keduanya. Mereka menerima teori bīja dari Sautrāntika, namun di sisi lain juga mengakui keberadaan avijñapti rūpa (kini disebut samādānika rūpa) sebagai sebuah prajñapti. (Pendapat keempat bahwa substansi disiplin itu bukan material juga bukan mental, seperti yang diuraikan Satyasiddhi Śāstra yang hanya tersedia terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dikenal di Tibet.)

Dalam Sekolah Madhyamaka, kaum Svātantrika juga menganggap substansi disiplin itu mental. Sebaliknya, kaum Prasaṅgika, yang dipandang lebih tinggi daripada Svātantrika, menganggapnya material.







OM̐ SVASTI ASTU!
NAMAḤ SARVAJÑĀYA.

※

Wahana yang menjadi sandaran
untuk pergi dengan leluasa ke Kota Kebebasan,
yaitu intisari terunggul ajaran Sugata,
yang disebut Prātimokṣa,

akan kujelaskan dalam enam bagian:
hakikat, tipologi, karakteristik individual,
penerima sebagai wadah terbentuknya,
sebab kerontokan, dan manfaat.

(A. HAKIKAT PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain dan segala dasarnya,
dengan dilandasi semangat pertolakan [dari saṃsāra].

“Itu merupakan karma jasmani dan ucapan,”
jadi sebahagian menyatakannya sebagai materi.
Sebahagian lain menyatakan “itu kehendak menghindari (virati)
yang terus bersinambung [di dalam batin] beserta benihnya.”

Maka posisi sekolah-sekolah kita (Buddhis) ada dua:
yang berpandangan tinggi dan rendah.

(B. TIPOLOGI PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

[Disiplin] upavāsaka, upāsaka, upāsikā,
śrāmaṇera, śrāmaṇerī, śikṣamāṇā,
bhikṣunī dan bhikṣu — itulah
delapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara].

Tiga yang pertama merupakan disiplin perumahtangga,
lima yang terakhir merupakan disiplin monastik.

(C. KARAKTERISTIK INDIVIDUAL SETIAP TIPE SAṂVARA:)

  1. Empat akar dan empat anggota —
    penghindaran kedelapannya merupakan disiplin Upavāsa.

    Berhubungan seksual; mengambil yang tak diberikan;
    memotong kehidupan; dan berkata dusta
    adalah keempat akar.
     Beranjang tinggi-mewah;
    minum alkohol; tarian dsb. kalungan bunga dsb.;
    makanan selewat tengah hari
     adalah keempat anggota.

  2. Pembunuhan, pencurian, kedustaan, perzinahan,
    minum minuman-keras adalah lima yang dihindari
    sebagai disiplin bagi upāsaka.

    Pelaksana satu-, sedikit-, atau banyak-bagian;
    pelaksana penuh, atau pelaksana [penuh] dengan praktik sélibat;
    atau pemergi berlindung.
     Enam jenis upāsaka ini
    menghindari satu, dua, atau tiga dari keempat akar;
    menghindari aktivitas yang salah, atau segala aktivitas seksual sama sekali;
    atau menjadi upāsaka yang hanya mengambil Perlindungan —
    demikian yang dinyatakan masing-masing berturut-turut.

  3. Empat akar dan enam anggota —
    penghindaran kesepuluhnya merupakan disiplin śrāmaṇera.

    Tarian dsb. serta kalungan bunga dsb. dijadikan dua,
    dan memunyaï mas dan perak sebagai yang ketiga
    — pemecahan ini membentuk enam anggota.

    Memohon [seorang bhikṣu] untuk menjadi upādhyāya,
    menanggalkan penampilan selaku perumahtangga, dan
    mengambil penampilan selaku monastik —
    kegagalan atas ketiga hal ini, apabila ditambahkan,
    membentuk total tiga belas yang harus disingkirkan.

  4. Setelah memperoleh disiplin śrāmaṇerī,
    sebagai tambahan disiplin menghindari
    enam mūladharma dan enam anudharma
    — itulah disiplin bagi śikṣamāṇā.

    Tidak bepergian seorang diri di jalan,
    tidak berenang menyeberangi sungai,
    tidak menyentuh seorang pria,
    tidak tinggal berduaan saja dengan seorang pria,
    tidak berlaku menjadi comblang perantara,
    dan tidak menyembunyikan dosa kecelaan
    — itulah penghindaran enam mūladharma.

    Tidak memegang emas,
    tidak mencukur bulu kemaluan,
    tidak makan makanan yang tak dipersembahkan kepadanya,
    tidak makan makanan yang pernah ditimbun,
    tidak buang air di rumput yang hijau,
    dan tidak menggali tanah
    — itulah penghindaran enam anudharma.

  5. Pārājika delapan, [saṅghāva]śeṣa dua puluh,
    naiḥsargika-pāyantika tiga puluh tiga,
    śuddha-pāyantika seratus delapan puluh,
    pratideśanīya sebelas, dan
    duṣkṛta seratus dua belas —
    tiga ratus enam puluh empat hal inilah
    yang dihindari oleh bhikṣuṇī.

  6. Pārājika empat, serta [saṅghāva]śeṣa
    tiga belas, naiḥsargika-pāyantika tiga puluh,
    śuddha-pāyantika sembilan puluh,
    pratideśanīya empat, dan duṣkṛta
    seratus dua belas — disiplin dengan
    dua ratus lima puluh tiga hal yang dihindari
    inilah karakteristiknya bagi bhikṣu.

(D. PENERIMA YANG MENJADI WADAH PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Demikianlah kedelapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara],
— kecuali pada penghuni Uttarakuru —
pada pria dan wanita dari tiga benua
dapat terbentuk, asalkan ia bukan
śaṇḍaka, paṇḍaka, ubhavyañjana, dsb.

(E. SEBAB-SEBAB KERONTOKAN PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Yang menyebabkan rontoknya disiplin ada dua.
  • Melepas latihan; mati dan pindah [kelahiran];
    menjadi hermafrodit; berubah [kelamin] hingga tiga kali;
    putusnya akar kebaikan
     adalah sebab umum [bagi semua tipe].
  • Baru menyadari belum berusia dua puluh;
    cuma menyetujui ajakan [bersetubuh, meski belum terjadi];
     lewatnya jangka sehari semalam
    adalah sebab khusus bagi masing-masing
    bhikṣu, śikṣamāṇā, dan upavāsaka.

“Jikalau terjadi [salah satu dari empat] pelanggaran akar,
juga tepat saat Saddharma berakhir,
disiplin [secara otomatis] rontok,” demikian sebahagian berpandangan.

Kaum Vaibhāṣika dari Kashmir, akan tetapi,
berpandangan disiplin tetap dimiliki walaupun
 terjadi pelanggaran akar,
ibarat seorang kaya [masih kaya meski] berhutang.

(F. MANFAAT MEMEGANG PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Dengan menjaga disiplin-disiplin ini,
buah temporer sebagai dewa atau manusia, dan
buah tertinggi berupa tiga jenis Bodhi
akan diperoleh — demikian dikatakan.

Maka Anda yang antusias hendaklah,
 terhadap Prātimokṣa,
dengan tekun selalu berusaha menjaganya.

※

Dengan kebaikan yang telah kuperbuat, semoga semua makhluk
dapat berdiam dalam kehidupan kudus selamanya.

Sabtu, 01 Desember 2018

1. Sasaran Penerima 對趣

Ⓥ:餘道眾生不得戒。
  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

Ⓢ:餘道眾生得戒。

  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.



Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prātimokṣa jenis apa pun (bahkan hingga Lima Śīla dan Delapan Śīla) cuma dapat terbentuk pada manusia (T. vol. 23, hlm. 509b):

凡得波羅提木叉戒者,以五道而言,唯人道得戒。餘四道不得,如天道以著樂深重,不能得戒。
Tentang segala perolehan Prātimokṣa Saṃvara, di antara kelima jalur kelahiran (pañcagati), dikatakan hanya jalur manusialah (manuṣyagati) yang mendapatkan disiplin. Keempat gati lainnya tidak dapat, misalnya: jalur dewa (devagati), karena dalam dan beratnya kemelekatan mereka akan kesenangan, takkan dapat memperolehnya.

Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā selanjutnya menyambung dengan kisah Jīvaka Kumārabhr̥ta — sudah kita terjemahkan dalam posting sebelumnya — untuk menjelaskan betapa lemahnya batin kebanyakan dewa. Bahkan Jīvaka, seorang srotāpanna, pun tidak dapat mengontrol dirinya secara merdeka setelah terlahir di Surga Trāyastriṃśa; apalagi dewa-dewa biasa yang terlena oleh kesenangan surgawi. Mustahil mereka mampu membangkitkan buah-pikir baik yang cukup kuat untuk mengambil disiplin Prātimokṣa. Begitu pula dengan jalur-jalur kelahiran lainnya. Di alam preta dan neraka makhluk-makhluknya mengalami kelaparan dan siksaan setiap saat; batin mereka disibukkan dengan penderitaannya sendiri sehingga sukar memperoleh disiplin Prātimokṣa. Hewan-hewan, yang memiliki inteligénsi rendah, juga tidak mungkin memperoleh disiplin Prātimokṣa.

Tetapi, kemudian ada yang menyanggah bahwa disiplin Prātimokṣa bisa dimiliki hewan tertentu, seperti: naga (sebangsa ular gaib). Bhadanta Vasubandhu, yang pada prinsipnya hanya mengulangi penjelasan yang sama seperti di atas untuk menerangkan bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa-nya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 80b–c), menukilkan sebuah kutipan:

契經中言:「有卵生龍,半月八日,每從宮出,來至人間,求受八支近住齋戒。」
Di dalam sūtra dikatakan: “Ada naga-naga yang terlahir melalui telur yang, setiap hari kedelapan dari paruh-bulan, keluar dari istananya, datang ke antara manusia, dan memohon untuk menerima Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṇḍajo, bhikṣavo, nāgo 'ṣṭamyāṃ pakṣasya bhāvanād abhyudgamya aṣṭāṅgasamanvāgatam upavāsam upavasati).”

Sūtra yang ia kutip ini, sayangnya, belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa. Namun, dalam Kanon Pāli kita dapat menemukan empat sutta pendek dari Nāga Saṃyutta (SN XXIX.1: 3–6, semuanya berjudul sama Uposatha Sutta) yang isinya serupa. Secara berurutan, masing-masing sutta ini menyebutkan bahwa ada naga-naga yang terlahir melalui telur (aṇḍaja), terlahir melalui rahim (jalābuja), terlahir melalui kelembapan (saṃsedaja), dan terlahir secara spontan (opapātika) yang menekuni Uposatha bahkan sampai rela mengorbankan tubuhnya.

Cerita-cerita tentang naga yang menerima Aturan Puasa pun bukannya tidak dikenal dalam Tripiṭaka Tionghoa. Menjelaskan pāyantika ke-58, dalam “Bhikṣu Vibhaṅga” dari Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶》 (T. vol. 23, № 1442 hlm. 842c dst.), misalnya, dua ekor naga penjaga kolam-kolam air panas di Kota Rājagr̥ha yang bernama Giri 祇利 dan Valgu(ka) 跋窶 dikisahkan berniat menerima Aturan Puasa setiap hari upavasatha. Mereka hendak mengikuti jejak Raja Naga Nanda dan Upananda yang, setelah ditaklukkan Buddha, keluar dari samudra setiap hari upavasatha, dan menuju ke Puncak Sumeru untuk mengambil Aturan Puasa dan mendengarkan Dharma yang dibabarkan Buddha di sana.


Untuk segala sanggahan ini Vaibhāṣika menampiknya dan berpendapat (Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā hlm. 509b):

雖處處經中說龍受齋法,以善心故而受八齋。一日一夜得善心功德,不得齋也,以業障故。
Meskipun dalam berbagai bagian dari kitab suci disebutkan bahwa naga-naga menerima Aturan Puasa, karena buah-pikir yang baiklah mereka menerimanya. Mereka memperoleh kebajikan dari buah-pikir baik tersebut (yakni naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat kuśala) selama sehari semalam, tetapi tidak memperoleh [substansi] Puasa (sebagai sebuah Prātimokṣa saṃvara avijñapti) karena rintangan karmanya.

以四天下而言,唯三天下(閻浮提、瞿耶尼、弗婆提)及三天下中間海洲上人,一切得戒。
Dari kempat kolong langit, dikatakan hanya tiga kolong (Jambudvīpa, Godanīya, Pūrvavideha) beserta manusia-manusia di benua di atas lautannya saja yang dapat memperoleh [substansi] disiplin.

Disiplin Prātimokṣa cuma dapat diperoleh manusia-manusia di tiga benua. Di Uttarakuru Buddhadharma tidak diterima sehingga mustahil memperoleh disiplin Prātimokṣa. Manusia-manusia di sana terlena oleh kesenangan lantaran keadaannya yang hampir menyamaï surga. Karena kehidupan begitu mulus di sana, tidak ada orang yang melakukan tindakan kriminal. Mereka tidak merasa perlu mengadopsi disiplin apa-apa lagi sebab, tanpa disiplin, toh semua sudah baik-baik saja. Selain itu, di Uttarakuru bahkan tiada dhyāna dan, dengan demikian, dua jenis disiplin lainnya (Dhyānaja dan Anāsrava) pun tiada.

Lebih jauh lagi, Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prāṭimoksa hanya terbentuk pada pria (yang memiliki organ reproduksi pria lengkap) dan wanita (yang memiliki organ reproduksi wanita lengkap) saja. Aseksual (śaṇḍaka dan paṇḍaka) serta hermafrodit (ubhavyañjana) takkan dapat memperolehnya. Aseksual adalah manusia-manusia impotén yang terdiri atas beberapa tipe berbeda, misalnya: karena dikebiri, karena kelainan bawaan, dll. Mereka biasanya dianggap sangat frigid. Karena tidak mampu berhubungan seksual, tentu saja mereka tidak merasa perlu mengambil disiplin pantang berzinah. Kebalikannya adalah hermafrodit yang berkelamin ganda dan dianggap memiliki libido yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin pula mengambil disiplin, karena hampir pasti akan melanggarnya.

Singkatnya, pandangan Vaibhāṣika diringkaskan dalam bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa sbb.:

惡戒人除北  二黃門二形
律儀亦在天  唯人具三種

Kontra-disiplin (asaṃvara) bahkan tak hadir di antara manusia Uttara[kuru],
di antara dua jenis aseksual, serta hermafrodit.
Disiplin (saṃvara) hadir juga di antara dewa,
namun hanya manusia yang memiliki lengkap tiga jenis.

※

Bagaimanakah pandangan Satyasiddha? Kita tahu bahwa pembagian saṃvara avijñapti telah direklasifikasi dalam Satyasiddhi Śāstra. Selama ini, menurut Vaibhāṣika, sekuat apa pun buah-pikir yang dibangkitkan oleh seorang non-Buddhis untuk melaksanakan moralitas, substansi yang terbentuk pada dirinya hanyalah naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik. Demikian pula halnya pada makhluk-makhluk gaib atau naga yang ingin mengambil Aturan Puasa Buddhis.

Menurut Bhadanta Harivarman, pengambilan segala jenis moralitas sepatutnya digolongkan menjadi satu di bawah Śīla saṃvara avijñapti. Non-Buddhis yang mengambil disiplinnya sendiri pun memperoleh Śīla Saṃvara. Apalagi makhluk-makhluk selain manusia yang sudi berlindung kepada Triratna dan mengambil disiplin Buddhis demi memasuki Jalan Pembebasan — apalah alasannya mereka tidak memperoleh Śīla Saṃvara yang bersifat Prātimokṣa (T. vol. 32, hlm. 303a):

問曰:餘道眾生得此戒律儀不?
Tanya: Makhluk-mahluk dari gati lain adakah memperoleh Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa)?

答曰:經中說,諸龍等亦能受一日戒。故知!應有。
Jawab: Di dalam sūtra disebutkan bahwa para naga dsb. juga sanggup menerima disiplin selama sehari. Maka dapat kita ketahui semestinya ada!

Jadi, Bhadanta Harivarman berpendapat jalur kelahiran mana pun bisa memiliki Prātimokṣa Saṃvara (minimal Lima dan Delapan Śīla) sebab perolehan saṃvara avijñapti berasal dari kesungguhan batin. Bahkan hewan, asalkan dapat mengerti ajaran Śīla Buddhis, akan memperolehnya jika bersungguh-sungguh mengambilnya. Begitu pula dengan manusia aseksual dan hermafrodit.

問曰:有人言:「不能男等無戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Aseksual (napuṃsaka, secara harfiah: ‘laki-laki impotén’) dsb. tidak memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:是戒律儀從心邊生。不能男等亦有善心,何故不得?
Jawab: Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa) timbul dari batin (citta). Aseksual dsb. pun dapat memiliki buah-pikir yang baik, mengapa tidak mereka memperolehnya?

問曰:何故不聽作比丘耶?
Tanya: Lantas mengapa mereka tidak diizinkan menjadi bhikṣu?

答曰:是人結使深厚,難得道故。又此人不在比丘中,亦不在比丘尼中,是故不聽。
Jawab: Simpul pembelenggu mereka teramat tebal sehingga sukar memperoleh Jalan (Kesucian). Pun mereka [nantinya] tidak tergolong di antara bhikṣu, juga tidak tergolong di antara bhikṣuṇī; oleh karenanya tidak diizinkan.

又彼中亦遮餘人,如:睞眼等。是人亦得此善律儀。
Pun dari antara saṅgha, orang-orang lainnya juga didiskualifikasikan, misalnya: yang bermata juling dll. [Namun,] orang-orang tersebut juga memperoleh Śīla Saṃvara ini.

Dalam Vinaya Piṭaka secara jelas memang telah disebutkan kriteria penghalang (antarāyika dharma) yang mendiskualifikasikan seseorang untuk diterima ke dalam saṅgha, antara lain: aseksual, hermafrodit, bermata juling, dll. Tentang tidak memungkinkannya aseksual dll. memperoleh disiplin monastik tidak diperdébatkan lagi. Namun, menurut Bhadanta Harivarman, mengapa tidak mereka memperoleh disiplin yang lebih rendah (Lima Śīla dan Delapan Śīla)?

Vasubandhu menukilkan petikan sebuah versi unik Mahānāma Sūtra yang dijadikan dasar oleh Vaibhāṣika bahwa aseksual dan hermafrodit tidak dapat memperoleh disiplin upāsaka:

佛告大名:「諸有在家白衣男子,男根成就,歸佛、法、僧,起殷淨心,發誠諦語,自稱:『我是鄔波索迦,願尊憶持!慈悲護念!』齊是名曰鄔波索迦。」
Buddha memberitahu Mahānāma: “Umat awam perumahtangga berjubah putih, pria, dengan organ reproduksi pria lengkap, yang berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha, yang membangkitkan keyakinan murni, menguncarkan pernyataan tulus, dan berseru: ‘Aku adalah seorang upāsaka; kiranya Bhadanta mengingat dan memegang [pernyataan ini]! Demi belas-kasihan perhatikanlah aku!’ — semuanya dinamakan upāsaka (yataśca, Mahānāma, gr̥hī avadātavasanaḥ puruṣaḥ puruṣendriyeṇa samanvāgato Buddhaṃ śaraṇaṃ gacchati yāvadvācaṃ bhāṣate, ‘Upāsakaṃ māṃ dhāraya!’ — iyatā copāsako bhavati).”

Akan tetapi, klausa “pria, dengan organ reproduksi pria lengkap” tidak terjumpaï dalam dua versi Saṃyukta Āgama Tionghoa yang pernah kita posting sebelumnya ataupun dalam versi Pāli. Maka tidaklah pasti bahwa hanya pria saja yang dapat memperoleh disiplin upāsaka. Lagipula belum tentu bahwa orang-orang yang terlalu frigid atau terlalu berlibido takkan merasa perlu mengambil langkah latihan pantang berzinah. Jikalau mereka bersungguh-sungguh hendak memasuki Jalan Pembebasan, apalah yang akan memberatkan mereka untuk mengambilnya? Kalaupun mereka belum siap, maka mereka boleh mengambil empat langkah latihan lainnya dahulu sebab substansi disiplin upāsaka pun terbentuk meski diambil sebagian.

Minggu, 26 Februari 2017

ARUṆAVATĪ PARITRĀ




汝當求出離  於佛教勤修
降伏生死軍  如象摧草舍
於此法律中  常為不放逸
能竭煩惱海  當盡苦邊際

Kalian haruslah mencari pertolakan [dari samsāra]!
Kembangkanlah semangat dalam Buddhaśāsana.
Taklukkan balatentara kelahiran dan kematian,
bagaikan gajah yang menghancurkan gubuk ilalang.

Barangsiapa di dalam Dharma-Vinaya ini
senantiasa berlaku tanpa kelengahan,
akan mampulah ia menguras laütan kleśa
dan mengakhiri penderitaan sehabisnya¹.

—— Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra 《根本說一切有部戒經》
(T. vol. 24, № 1454 hlm. 508a)







CATATAN:

¹ Bandingkan penutup Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra Sanskerta:

Ārabhadhvaṃ niṣkrāmata
yujyadhvaṃ buddhaśāsane |
dhunīta mr̥tyunaḥ sainyaṃ
naḍāgāram iva kuñjaraḥ ||

Yo hy asmin dharmavinaye
apramattaś cariṣyati |
prahāya jātisaṃsāraṃ
duḥkhasyāntaṃ kariṣyati ||
⤴

Sabtu, 18 Februari 2017

SEBAGAI CONTOH: Seseorang ialah Bhikṣuṇī jika Ia Memiliki Substansi Disiplin Kebhikṣuṇīan


【苾芻尼】者,謂得苾芻尼性。
Yang disebut bhikṣuṇī adalah seseorang yang memperoleh kebhikṣuṇīan (bhikṣuṇībhāva).

云何苾芻尼性?
Bagaimanakah kebhikṣuṇīan itu [diperoleh]?
謂:受近圓。
Yakni: [jikalau ia sudah] upasampadā.

云何近圓?
Bagaimanakah upasampadā itu?
謂:白四羯磨。於所作事,如法成就,將近涅槃,故名近圓。
Yakni: [sesudah ia melalui] jñapti-caturtha karman. Setelah segala prosedurnya dilakukan dengan sempurna (sampadā) sesuai Dharma, ia semakin mendekati (upa) Nirvāṇa — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

又其進受人,以圓滿心希求具戒,要期誓受,情無恚恨,以言表白,語業彰顯,究竟滿足,故名圓具。
Juga karena si kandidat penerima, dengan batin yang sempurna (sampadā), memohon Śīla lengkap, berikrar menyatakan komitmen, bersedia menerima tanpa merasa benci (=tanpa berat hati terhadap disiplinnya), serta mengekspresikannya melalui perkataan sehingga terbit karma ucapan dan genap seutuhnya — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

—— Mūlasarvāstivāda Vinaya, Bhikṣuṇī Vibhaṅga: Pārājika I
《根本說一切有部苾芻尼毘奈耶》
(T. vol. 23, № 1443 hlm. 913c)



bhikkhuni upasampada