Powered by Administrator

Translate

Senin, 14 Januari 2019

Prātimokṣa adalah Yang Terunggul

Jilid 3 Vinaya Mātṛkā 《毘尼母經》 (T. vol. 24, № 1463 hlm. 814b) masih melestarikan etimologi lama prātimokṣa sebagai berasal dari kata pramukha dengan infiks -ādi-. Gugus -kṣ- pada bentuk Sanskerta prātimokṣa tentu saja tidak bisa terjelaskan dengan etimologi yang mengandung gugus -kh- ini, kecuali seandainya penjelasan tersebut masih disampaikan dalam suatu dialek Prakerta (seperti, misalnya, pada “Uposatha Khandhaka” dari Vinaya Piṭaka Pāli: pātimokkhanti ādimetaṃ mukhametaṃ pamukhametaṃ kusalānaṃ dhammānaṃ).

Bentuk Prakerta/Pāli pamukha dan Sanskerta pramukha, yang berarti ‘pemimpin, pemandu’, bisa kita bandingkan turunannya dalam bahasa Indonesia: pemuka dan pramuka. Pemuka ialah yang terkemuka/terdepan. Maka terjemahan Tionghoanya di sini 最勝 ‘yang terunggul’.

Mengambil Pātimokkha Saṃvara bukan berarti menimbulkan keterikatan pada aturan-aturan kaku dan profan — yang merupakan salah satu dari sepuluh belenggu (saṃyojana). Orang yang terikat pada nafsu, sebagai contoh, justru berangsur-angsur akan terbebas dari nafsu berkat mengambilnya. Jadi, penafsiran belakangan untuk bentuk prātimokṣa, walaupun harus menggunakan etimologi baru sebagai pengganti, tidaklah berlawanan dengan idé yang semula sebagai ‘pengarah Pembebasan’. Pengekangan Prātimokṣa Saṃvara atas jasmani dan ucapan, yang sepintas terlihat duniawi, akan memandu batin hingga akhirnya tercipta Anāsrava Saṃvara yang bersifat adiduniawi.







波羅提木叉者,名最勝義。以何義故名為最勝?
Prātimokṣa bernama ‘yang terunggul’ (pra- + ādi + -mukha). Arti manakah yang menyebabkannya dinamakan ‘yang terunggul’?

諸善之本以戒為根,眾善得生,故言勝義。
Śīla adalah akar dari dasar segala kebaikan, aneka kebaikan terlahir darinya; karenanya ia dikatakan berarti ‘yang unggul’ (mukha).

復次!戒有二種:
Selanjutnya lagi, Śīla ada dua jenis:
一、出世; 1. Adiduniawi;
二、世間。 2. Duniawi.
此世間者,能為出世作因,故言最勝。
Yang duniawi ini mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi; karenanya ia dikatakan ‘yang terunggul’ (pramukha).

復次!戒有二種:
Selanjutnya lagi, Śīla ada dua jenis:
一者、依身口; 1. Yang terkait jasmani dan ucapan;
二者、依心。  2. Yang terkait batin.
由依身口戒,得依心戒,故名為首。
Dari Śīla yang terkait jasmani dan ucapan ini, diperolehlah Śīla yang terkait batin; karenanya ia dinamakan ‘perintis’ (ādi).

Minggu, 13 Januari 2019

Prātimokṣa Pengarah Pembebasan



戒是正順解脫之本,故名「波羅提木叉」。
Śīla adalah dasar yang tepat untuk menuju (prāti) ke arah Pembebasan (mokṣa). Oleh sebab itu, maka disebut prātimokṣa.

—— Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》
(T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a)

Sabtu, 12 Januari 2019

INTISARI LAÜTAN VINAYA

di Vihara Dharma Satya Rawamangun

Tsongkhapa (1357–1419)
Intisari Laütan Vinaya (‘Dul-ba rgya-mtsho’i snying-po) adalah karya pendek Je Tsongkhapa yang tersusun dalam bait-bait heptasilabis. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda (Mūlasarvāstivāda), pelajaran vinaya yang diringkaskan syair ini secara garis besar sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sekolah Vinaya Tiongkok. Terjemahannya dalam bentuk pdf oleh Lobsang Rabgay dapat diunduh di sini. Terjemahan lain dalam bahasa Inggris, misalnya, di sini.

Terdapat beberapa komentar teks ini yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain:


Tidak ada hal baru yang diuncarkan Je Tsongkhapa di sini selain keunikan langkah-langkah latihan dalam Mūlasarvāstivāda Vinaya (misalnya: enam dharma dan enam anudharma untuk śikṣamāṇā). Secara umum isi teks ini hanya mengulangi apa yang telah dibahas dalam Abhidharmakośa. Hanya dua alternatif yang disajikan dalam pembahasan hakikat substansi disiplin: material atau mental. Kalimat “yang berpandangan tinggi dan rendah” menimbulkan kesan seolah-olah mereka yang menganggapnya material adalah lebih tinggi — walaupun Tsongkhapa sendiri tidak secara jelas menyebutkan mana sekolah yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah.

Dalam komentar-komentar Tibet, sekolah Kendaraan Kecil Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa substansi disiplin itu materi, justru dipandang lebih rendah; sementara Sautrāntika yang menganggapnya mental dipandang lebih tinggi. Selanjutnya sekolah-sekolah Kendaraan Besar biasanya dipandang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah Kendaraan Kecil. Salah satunya, Vijñaptimātra/Cittamātra, dikatakan juga berpendapat bahwa substansi disiplin itu mental. Akan tetapi, Cittamātrin sesungguhnya menganggap substansi disiplin adalah keduanya. Mereka menerima teori bīja dari Sautrāntika, namun di sisi lain juga mengakui keberadaan avijñapti rūpa (kini disebut samādānika rūpa) sebagai sebuah prajñapti. (Pendapat keempat bahwa substansi disiplin itu bukan material juga bukan mental, seperti yang diuraikan Satyasiddhi Śāstra yang hanya tersedia terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dikenal di Tibet.)

Dalam Sekolah Madhyamaka, kaum Svātantrika juga menganggap substansi disiplin itu mental. Sebaliknya, kaum Prasaṅgika, yang dipandang lebih tinggi daripada Svātantrika, menganggapnya material.







OM̐ SVASTI ASTU!
NAMAḤ SARVAJÑĀYA.


Wahana yang menjadi sandaran
untuk pergi dengan leluasa ke Kota Kebebasan,
yaitu intisari terunggul ajaran Sugata,
yang disebut Prātimokṣa,

akan kujelaskan dalam enam bagian:
hakikat, tipologi, karakteristik individual,
penerima sebagai wadah terbentuknya,
sebab kerontokan, dan manfaat.

(A. HAKIKAT PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain dan segala dasarnya,
dengan dilandasi semangat pertolakan [dari saṃsāra].

“Itu merupakan karma jasmani dan ucapan,”
jadi sebahagian menyatakannya sebagai materi.
Sebahagian lain menyatakan “itu kehendak menghindari (virati)
yang terus bersinambung [di dalam batin] beserta benihnya.”

Maka posisi sekolah-sekolah kita (Buddhis) ada dua:
yang berpandangan tinggi dan rendah.

(B. TIPOLOGI PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

[Disiplin] upavāsaka, upāsaka, upāsikā,
śrāmaṇera, śrāmaṇerī, śikṣamāṇā,
bhikṣunī dan bhikṣu — itulah
delapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara].

Tiga yang pertama merupakan disiplin perumahtangga,
lima yang terakhir merupakan disiplin monastik.

(C. KARAKTERISTIK INDIVIDUAL SETIAP TIPE SAṂVARA:)

  1. Empat akar dan empat anggota —
    penghindaran kedelapannya merupakan disiplin Upavāsa.

    Berhubungan seksual; mengambil yang tak diberikan;
    memotong kehidupan; dan berkata dusta
    adalah keempat akar.
     Beranjang tinggi-mewah;
    minum alkohol; tarian dsb. kalungan bunga dsb.;
    makanan selewat tengah hari
     adalah keempat anggota.

  2. Pembunuhan, pencurian, kedustaan, perzinahan,
    minum minuman-keras adalah lima yang dihindari
    sebagai disiplin bagi upāsaka.

    Pelaksana satu-, sedikit-, atau banyak-bagian;
    pelaksana penuh, atau pelaksana [penuh] dengan praktik sélibat;
    atau pemergi berlindung.
     Enam jenis upāsaka ini
    menghindari satu, dua, atau tiga dari keempat akar;
    menghindari aktivitas yang salah, atau segala aktivitas seksual sama sekali;
    atau menjadi upāsaka yang hanya mengambil Perlindungan —
    demikian yang dinyatakan masing-masing berturut-turut.

  3. Empat akar dan enam anggota —
    penghindaran kesepuluhnya merupakan disiplin śrāmaṇera.

    Tarian dsb. serta kalungan bunga dsb. dijadikan dua,
    dan memunyaï mas dan perak sebagai yang ketiga
    — pemecahan ini membentuk enam anggota.

    Memohon [seorang bhikṣu] untuk menjadi upādhyāya,
    menanggalkan penampilan selaku perumahtangga, dan
    mengambil penampilan selaku monastik —
    kegagalan atas ketiga hal ini, apabila ditambahkan,
    membentuk total tiga belas yang harus disingkirkan.

  4. Setelah memperoleh disiplin śrāmaṇerī,
    sebagai tambahan disiplin menghindari
    enam mūladharma dan enam anudharma
    — itulah disiplin bagi śikṣamāṇā.

    Tidak bepergian seorang diri di jalan,
    tidak berenang menyeberangi sungai,
    tidak menyentuh seorang pria,
    tidak tinggal berduaan saja dengan seorang pria,
    tidak berlaku menjadi comblang perantara,
    dan tidak menyembunyikan dosa kecelaan
    — itulah penghindaran enam mūladharma.

    Tidak memegang emas,
    tidak mencukur bulu kemaluan,
    tidak makan makanan yang tak dipersembahkan kepadanya,
    tidak makan makanan yang pernah ditimbun,
    tidak buang air di rumput yang hijau,
    dan tidak menggali tanah
    — itulah penghindaran enam anudharma.

  5. Pārājika delapan, [saṅghāva]śeṣa dua puluh,
    naiḥsargika-pāyantika tiga puluh tiga,
    śuddha-pāyantika seratus delapan puluh,
    pratideśanīya sebelas, dan
    duṣkṛta seratus dua belas —
    tiga ratus enam puluh empat hal inilah
    yang dihindari oleh bhikṣuṇī.

  6. Pārājika empat, serta [saṅghāva]śeṣa
    tiga belas, naiḥsargika-pāyantika tiga puluh,
    śuddha-pāyantika sembilan puluh,
    pratideśanīya empat, dan duṣkṛta
    seratus dua belas — disiplin dengan
    dua ratus lima puluh tiga hal yang dihindari
    inilah karakteristiknya bagi bhikṣu.

(D. PENERIMA YANG MENJADI WADAH PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Demikianlah kedelapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara],
— kecuali pada penghuni Uttarakuru —
pada pria dan wanita dari tiga benua
dapat terbentuk, asalkan ia bukan
śaṇḍaka, paṇḍaka, ubhavyañjana, dsb.

(E. SEBAB-SEBAB KERONTOKAN PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Yang menyebabkan rontoknya disiplin ada dua.
  • Melepas latihan; mati dan pindah [kelahiran];
    menjadi hermafrodit; berubah [kelamin] hingga tiga kali;
    putusnya akar kebaikan
     adalah sebab umum [bagi semua tipe].
  • Baru menyadari belum berusia dua puluh;
    cuma menyetujui ajakan [bersetubuh, meski belum terjadi];
     lewatnya jangka sehari semalam
    adalah sebab khusus bagi masing-masing
    bhikṣu, śikṣamāṇā, dan upavāsaka.

“Jikalau terjadi [salah satu dari empat] pelanggaran akar,
juga tepat saat Saddharma berakhir,
disiplin [secara otomatis] rontok,” demikian sebahagian berpandangan.

Kaum Vaibhāṣika dari Kashmir, akan tetapi,
berpandangan disiplin tetap dimiliki walaupun
 terjadi pelanggaran akar,
ibarat seorang kaya [masih kaya meski] berhutang.

(F. MANFAAT MEMEGANG PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Dengan menjaga disiplin-disiplin ini,
buah temporer sebagai dewa atau manusia, dan
buah tertinggi berupa tiga jenis Bodhi
akan diperoleh — demikian dikatakan.

Maka Anda yang antusias hendaklah,
 terhadap Prātimokṣa,
dengan tekun selalu berusaha menjaganya.



Dengan kebaikan yang telah kuperbuat, semoga semua makhluk
dapat berdiam dalam kehidupan kudus selamanya.

Selasa, 01 Januari 2019

Substansi Disiplin itu Material atau Mental?

Perdébatan mengenaï ada tidaknya avijñapti rūpa (materi ‘yang tak termanifestasi’ atau, pada terjemahan lama seperti di sini, ‘tanpa-kerja’) terjadi setelah Buddha parinirvāṇa. Dalam percakapan-Nya dengan Bodhisattva Kāśyapa di bab XII Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. vol. 12, № 374 hlm. 568a), Beliau sendiri telah meramalkan hal ini:

「善男子。往昔一時,菩提王子作如是言:『若有比丘護持禁戒,若發惡心,當知!是時,失比丘戒。』
“Putra berbudi, suatu ketika dahulu Bodhi Rājakumāra pernah berkata demikian: ‘Seandainya terdapat bhikṣu yang menjaga dan memegang Śīla, bilamana ia membangkitkan buah-pikir jahat, maka ketahuilah pada saat itu ia kehilangan Śīla (=disiplin) bhikṣu-nya!’

「我時語言:『菩提王子。戒有七種,從於身口,有無作色。以是無作色因緣故,其心雖在惡、無記中,不名失戒,猶名持戒。』以何因緣名無作色?非異色因 不作 異色因 果。善男子。我諸弟子,聞是說已,不解我意,唱言:『佛說有無作色。』
“Saat itu Aku berkata: ‘Rājakumāra, ada tujuh jenis śīla (=pantangan) jasmani dan ucapan yang menimbulkan materi tanpa-kerja. Sebab terkondisikan oleh materi tanpa-kerja itu, meskipun batin seseorang berada dalam keadaan jahat atau netral, ia tidak dikatakan kehilangan Śīla, malah tetap disebut memegang Śīla.’ Apakah sebab-musababnya sehingga dinamakan materi tanpa-kerja? Sebab material yang bukan-berbeda takkan mengerjakan (=memanifestasikan) buah [seperti yang dihasilkan] sebab material yang berbeda. Putra berbudi, setelah mendengar perkataan ini, tanpa memahami maksud-Ku, siswa-siswa-Ku akan memproklamirkan: ‘Buddha bersabda bahwa ada materi tanpa-kerja.’ ”

「善男子。我於餘經,作如是言:『戒者即是遮制惡法。若不作惡,是名持戒。』我諸弟子,聞是說已,不解我意,唱言:『如來決定宣說無無作色。』」
“Putra berbudi, dalam sūtra lain Aku pernah berkata: ‘Śīla adalah pelarangan dharma yang jahat. Apabila tidak melakukan kejahatan, maka dinamakan memegang Śīla.’ Setelah mendengar perkataan ini, tanpa memahami maksud-Ku, siswa-siswa-Ku akan memproklamirkan: ‘Tathāgata secara definitif bersabda bahwa tiada materi tanpa-kerja.’ ”