Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Sautrantika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sautrantika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2022

Tentang 𝘗𝘳𝘢̄𝘯̣𝘰𝘱𝘦𝘵𝘢

Kali ini kita hanya meninjau-ulang posting yang sangat lama.

Di akhir banyak sūtra seringkali terjumpaï orang awam yang, setelah mendengar khotbah Buddha, yakin kepada Triratna dan biasanya menyerahkan diri sebagai upāsaka dengan mengucapkan rumusan pergi berlindung (śaraṇa gamana). Rumusan klisé itu — dengan kukuh oleh kaum Vaibhāṣika, yang tampaknya salah mengutip, dikatakan bersumber dari Mahānāma Sūtra — umumnya berbunyi:

“Eṣo ’haṃ bhagavantam buddhaṃ śaraṇaṃ gacchāmi, dharmaṃ ca bhikṣusaṃghaṃ ca. Upāsakaṃ ca māṃ dhāraya adyāgreṇa yāvajjīvaṃ prāṇopetaṃ śaraṇaṃ gatam abhiprasannam.”
(“Aku berlindung kepada Bhagavan, sang Buddha; serta kepada Dharma dan Bhikṣu-saṅgha. Peganglah [pernyataan ini] bahwa aku adalah upāsaka yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, seumur hidup pergi berlindung dengan penuh keyakinan.”)

Variasi pada sūtra-sūtra lainnya kadang-kadang menambahkan lima langkah latihan dan mengganti klausa terakhir menjadi: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku tidak membunuh, tidak mencuri, … tidak meminum minuman-keras, memegang Śīla dengan penuh kemurnian.” Dengan demikian nyatalah bahwa sejak awal terdapat upāsaka yang hanya mengambil Tiga Perlindungan dan upāsaka yang menambah dengan disiplin Lima Śīla. Kaum Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa tiada upāsaka yang tanpa disiplin lengkap, akan tetapi dengan tegas menolaknya.

Sebagaimana kata abhiprasanna yang dapat diterjemahkan ‘penuh keyakinan’ atau ‘penuh kemurnian’, kata prāṇopeta juga memiliki nuansa dalam penafsiran. Prāṇopeta berarti ‘menjaga kehidupan’. Maka klausa terakhir rumusan pertama di atas biasanya dimengerti sebagai: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, selama aku menjaga kehidupan (selama kehidupanku terjaga/seumur hidupku) pergi berlindung dengan penuh keyakinan.” Namun, kaum Vaibhāṣika menafsirkannya: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, selama itu aku akan menjaga kehidupan dan pergi berlindung dengan penuh kemurnian.”

“Aku akan menjaga kehidupan” dimengerti sebagai “aku akan berpantang membunuh”. Hal ini membuka kemungkinan lagi bahwa terdapat upāsaka yang, di samping mengambil Tiga Perlindungan, hanya mengambil satu langkah latihan saja, yakni: pantang membunuh. Ketika (Proto-)Sautrāntika menjebak dengan menanyakan kemungkinan ini, Vaibhāṣika berkelit kembali menolaknya — akan kita lihat alasannya di bawah.


Bias juga timbul ketika rumusan klisé prāṇopeta dialihbahasakan. Entah sengaja atau tidak, sebagian penerjemah Tionghoa mengikuti pandangan Vaibhāṣika, yang tampaknya sudah mengakar dan populer. Ini bisa kita lihat berulang-ulang dalam Pi-nai-yeh 《鼻奈耶》 (T. № 1464), terjemahan tertua (tidak selesai, hanya dalam 10 jilid) Vinaya Piṭaka milik mazhab yang tidak kita ketahui, di mana rumusan tersebut selalu berbunyi:

「……歸佛、歸法、歸比丘僧。聽為優婆塞,從今日始,盡命不殺生(歸命/受三自歸)。」
“[Aku] berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dharma, berlindung kepada Bhikṣu-saṅgha. Izinkanlah [aku] menjadi upāsaka yang, mulai hari ini hingga akhir hayatku, tidak membunuh kehidupan (dan pergi berlindung/menerima Tiga Perlindungan).”

Di akhir Sūtra tentang Sang Penghitung 《佛說數經》 (T. № 70, berpadanan dengan Gaṇaka Moggallāna Sutta [MN 107]), sang Penghitung mengucapkan:

「我今自歸佛、法、及比丘僧。唯!世尊。我今持優婆塞,從今日始,盡命離殺生,今自歸。」
“Aku kini berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha. Ya! Bhagavan, Aku kini berpegang sebagai upāsaka yang, mulai hari ini hingga akhir hayatku, meninggalkan pembunuhan kehidupan dan kini pergi berlindung.”

Brāhmaṇa Kebocoran Kelahiran 生漏 (tampaknya menerjemahkan suatu bentuk Prakerta dari *Jāna√sru), di akhir sūtra ke-9 dari varga XXXVII Ekottara Āgama (berpadanan dengan Methuna Sutta [AN VII.5: 7]), juga mengucapkan:

「我今自歸佛、法、眾,自今之後不復殺生。唯願受為優婆塞!」
“Aku kini berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha, mulai saat ini dan seterusnya tidak lagi membunuh kehidupan. Berkenanlah kiranya menerimaku sebagai upāsaka!”

Terhadap semua ini, Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa tiada upāsaka yang tanpa disiplin, tidak terjebak. Sebab menurut mereka rumusan Tiga Perlindungan menjadi verba consecrationis, maka saat seseorang selesai mengulangi Tiga Perlindungan, saat itulah disiplin lengkap Lima Śīla diperoleh. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā  (lihat di sini) ditandaskan: baik mengucapkan lima atau hanya mengucapkan satu (atau, bahkan, tidak mengucapkan sama sekali) langkah latihan, semuanya memperoleh disiplin lengkap Lima Śīla karena niat awalnya adalah hendak mengambil Lima Śīla. Juga karena bagian kekuatan masing-masing langkah latihan saling melekat satu sama lain sehingga, meski mengucapkan satu, kelima langkah latihan diperoleh.

Akhirnya, kendati menolak keberadaan upāsaka tanpa disiplin yang hanya pergi berlindung dan upāsaka dengan disiplin tidak lengkap yang mengambil langkah-langkah latihan sebagian saja, Vaibhāṣika menggaungkan bahwa hakikat disiplin Buddhis sesungguhnya adalah meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain (dengan semangat bertolak dari saṃsāra, lihat di sini). Menurut mereka menjaga kehidupan (prāṇopeta) bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan, tetapi juga tidak menyebabkan gangguan pada semua makhluk. Ketika seseorang cuma mengucapkan “aku akan menjaga kehidupan”, ia sebenarnya berkomitmen: “Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, terhadap semua makhluk, aku tidak akan mencelakaï hidupnya, tidak akan mencuri miliknya, tidak akan berzinah dengan istrinya, tidak akan mendustaïnya. Demi menjaga keempat hal ini, aku juga tidak akan meminum minuman keras.”

Sabtu, 12 Januari 2019

INTISARI LAÜTAN VINAYA

di Vihara Dharma Satya Rawamangun

Tsongkhapa (1357–1419)
Intisari Laütan Vinaya (‘Dul-ba rgya-mtsho’i snying-po) adalah karya pendek Je Tsongkhapa yang tersusun dalam bait-bait heptasilabis. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda (Mūlasarvāstivāda), pelajaran vinaya yang diringkaskan syair ini secara garis besar sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sekolah Vinaya Tiongkok. Terjemahannya dalam bentuk pdf oleh Lobsang Rabgay dapat diunduh di sini. Terjemahan lain dalam bahasa Inggris, misalnya, di sini.

Terdapat beberapa komentar teks ini yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain:


Tidak ada hal baru yang diuncarkan Je Tsongkhapa di sini selain keunikan langkah-langkah latihan dalam Mūlasarvāstivāda Vinaya (misalnya: enam dharma dan enam anudharma untuk śikṣamāṇā). Secara umum isi teks ini hanya mengulangi apa yang telah dibahas dalam Abhidharmakośa. Hanya dua alternatif yang disajikan dalam pembahasan hakikat substansi disiplin: material atau mental. Kalimat “yang berpandangan tinggi dan rendah” menimbulkan kesan seolah-olah mereka yang menganggapnya material adalah lebih tinggi — walaupun Tsongkhapa sendiri tidak secara jelas menyebutkan mana sekolah yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah.

Dalam komentar-komentar Tibet, sekolah Kendaraan Kecil Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa substansi disiplin itu materi, justru dipandang lebih rendah; sementara Sautrāntika yang menganggapnya mental dipandang lebih tinggi. Selanjutnya sekolah-sekolah Kendaraan Besar biasanya dipandang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah Kendaraan Kecil. Salah satunya, Vijñaptimātra/Cittamātra, dikatakan juga berpendapat bahwa substansi disiplin itu mental. Akan tetapi, Cittamātrin sesungguhnya menganggap substansi disiplin adalah keduanya. Mereka menerima teori bīja dari Sautrāntika, namun di sisi lain juga mengakui keberadaan avijñapti rūpa (kini disebut samādānika rūpa) sebagai sebuah prajñapti. (Pendapat keempat bahwa substansi disiplin itu bukan material juga bukan mental, seperti yang diuraikan Satyasiddhi Śāstra yang hanya tersedia terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dikenal di Tibet.)

Dalam Sekolah Madhyamaka, kaum Svātantrika juga menganggap substansi disiplin itu mental. Sebaliknya, kaum Prasaṅgika, yang dipandang lebih tinggi daripada Svātantrika, menganggapnya material.







OM̐ SVASTI ASTU!
NAMAḤ SARVAJÑĀYA.


Wahana yang menjadi sandaran
untuk pergi dengan leluasa ke Kota Kebebasan,
yaitu intisari terunggul ajaran Sugata,
yang disebut Prātimokṣa,

akan kujelaskan dalam enam bagian:
hakikat, tipologi, karakteristik individual,
penerima sebagai wadah terbentuknya,
sebab kerontokan, dan manfaat.

(A. HAKIKAT PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain dan segala dasarnya,
dengan dilandasi semangat pertolakan [dari saṃsāra].

“Itu merupakan karma jasmani dan ucapan,”
jadi sebahagian menyatakannya sebagai materi.
Sebahagian lain menyatakan “itu kehendak menghindari (virati)
yang terus bersinambung [di dalam batin] beserta benihnya.”

Maka posisi sekolah-sekolah kita (Buddhis) ada dua:
yang berpandangan tinggi dan rendah.

(B. TIPOLOGI PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

[Disiplin] upavāsaka, upāsaka, upāsikā,
śrāmaṇera, śrāmaṇerī, śikṣamāṇā,
bhikṣunī dan bhikṣu — itulah
delapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara].

Tiga yang pertama merupakan disiplin perumahtangga,
lima yang terakhir merupakan disiplin monastik.

(C. KARAKTERISTIK INDIVIDUAL SETIAP TIPE SAṂVARA:)

  1. Empat akar dan empat anggota —
    penghindaran kedelapannya merupakan disiplin Upavāsa.

    Berhubungan seksual; mengambil yang tak diberikan;
    memotong kehidupan; dan berkata dusta
    adalah keempat akar.
     Beranjang tinggi-mewah;
    minum alkohol; tarian dsb. kalungan bunga dsb.;
    makanan selewat tengah hari
     adalah keempat anggota.

  2. Pembunuhan, pencurian, kedustaan, perzinahan,
    minum minuman-keras adalah lima yang dihindari
    sebagai disiplin bagi upāsaka.

    Pelaksana satu-, sedikit-, atau banyak-bagian;
    pelaksana penuh, atau pelaksana [penuh] dengan praktik sélibat;
    atau pemergi berlindung.
     Enam jenis upāsaka ini
    menghindari satu, dua, atau tiga dari keempat akar;
    menghindari aktivitas yang salah, atau segala aktivitas seksual sama sekali;
    atau menjadi upāsaka yang hanya mengambil Perlindungan —
    demikian yang dinyatakan masing-masing berturut-turut.

  3. Empat akar dan enam anggota —
    penghindaran kesepuluhnya merupakan disiplin śrāmaṇera.

    Tarian dsb. serta kalungan bunga dsb. dijadikan dua,
    dan memunyaï mas dan perak sebagai yang ketiga
    — pemecahan ini membentuk enam anggota.

    Memohon [seorang bhikṣu] untuk menjadi upādhyāya,
    menanggalkan penampilan selaku perumahtangga, dan
    mengambil penampilan selaku monastik —
    kegagalan atas ketiga hal ini, apabila ditambahkan,
    membentuk total tiga belas yang harus disingkirkan.

  4. Setelah memperoleh disiplin śrāmaṇerī,
    sebagai tambahan disiplin menghindari
    enam mūladharma dan enam anudharma
    — itulah disiplin bagi śikṣamāṇā.

    Tidak bepergian seorang diri di jalan,
    tidak berenang menyeberangi sungai,
    tidak menyentuh seorang pria,
    tidak tinggal berduaan saja dengan seorang pria,
    tidak berlaku menjadi comblang perantara,
    dan tidak menyembunyikan dosa kecelaan
    — itulah penghindaran enam mūladharma.

    Tidak memegang emas,
    tidak mencukur bulu kemaluan,
    tidak makan makanan yang tak dipersembahkan kepadanya,
    tidak makan makanan yang pernah ditimbun,
    tidak buang air di rumput yang hijau,
    dan tidak menggali tanah
    — itulah penghindaran enam anudharma.

  5. Pārājika delapan, [saṅghāva]śeṣa dua puluh,
    naiḥsargika-pāyantika tiga puluh tiga,
    śuddha-pāyantika seratus delapan puluh,
    pratideśanīya sebelas, dan
    duṣkṛta seratus dua belas —
    tiga ratus enam puluh empat hal inilah
    yang dihindari oleh bhikṣuṇī.

  6. Pārājika empat, serta [saṅghāva]śeṣa
    tiga belas, naiḥsargika-pāyantika tiga puluh,
    śuddha-pāyantika sembilan puluh,
    pratideśanīya empat, dan duṣkṛta
    seratus dua belas — disiplin dengan
    dua ratus lima puluh tiga hal yang dihindari
    inilah karakteristiknya bagi bhikṣu.

(D. PENERIMA YANG MENJADI WADAH PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Demikianlah kedelapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara],
— kecuali pada penghuni Uttarakuru —
pada pria dan wanita dari tiga benua
dapat terbentuk, asalkan ia bukan
śaṇḍaka, paṇḍaka, ubhavyañjana, dsb.

(E. SEBAB-SEBAB KERONTOKAN PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Yang menyebabkan rontoknya disiplin ada dua.
  • Melepas latihan; mati dan pindah [kelahiran];
    menjadi hermafrodit; berubah [kelamin] hingga tiga kali;
    putusnya akar kebaikan
     adalah sebab umum [bagi semua tipe].
  • Baru menyadari belum berusia dua puluh;
    cuma menyetujui ajakan [bersetubuh, meski belum terjadi];
     lewatnya jangka sehari semalam
    adalah sebab khusus bagi masing-masing
    bhikṣu, śikṣamāṇā, dan upavāsaka.

“Jikalau terjadi [salah satu dari empat] pelanggaran akar,
juga tepat saat Saddharma berakhir,
disiplin [secara otomatis] rontok,” demikian sebahagian berpandangan.

Kaum Vaibhāṣika dari Kashmir, akan tetapi,
berpandangan disiplin tetap dimiliki walaupun
 terjadi pelanggaran akar,
ibarat seorang kaya [masih kaya meski] berhutang.

(F. MANFAAT MEMEGANG PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Dengan menjaga disiplin-disiplin ini,
buah temporer sebagai dewa atau manusia, dan
buah tertinggi berupa tiga jenis Bodhi
akan diperoleh — demikian dikatakan.

Maka Anda yang antusias hendaklah,
 terhadap Prātimokṣa,
dengan tekun selalu berusaha menjaganya.



Dengan kebaikan yang telah kuperbuat, semoga semua makhluk
dapat berdiam dalam kehidupan kudus selamanya.

Minggu, 02 Desember 2018

2. Gradualitas 漸頓

Ⓥ:不具受不得戒。
  Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

Ⓢ:不具受得戒。

  Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.



Polemik mengenaï boleh tidaknya mengambil śīla sebagian saja (khususnya bagi umat awam) telah terjadi jauh sebelum dituliskannya komentar besar abhidharma Sarvāstivāda, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545), pada Konsili Buddhis keempat di abad I. Dalam mazhab Mahāsāṅghika pengambilan hanya satu atau beberapa langkah latihan diperbolehkan, sebagaimana tercermin di Vinaya Piṭaka-nya. Dalam mazhab Sarvāstivāda sendiri terdapat silang-pendapat sejak lama antara Sarvāstivāda cabang Kashmir dengan cabang Gandhara. Perdébatan antara keduanya sudah pernah dibahas dan tidak perlu kita ulangi lagi secara mendetail di sini.

Sarvāstivādin Kashmir berpendapat bahwa tiada pengambilan tidak lengkap disiplin bagi upāsaka, sama seperti tiada pengambilan hanya satu atau dua langkah latihan saja (tidak lengkap sepuluh) bagi śrāmaṇera. Sedangkan menurut Sarvāstivādin Gandhara (yang pandangannya di kemudian hari diteruskan oleh Sekolah Sautrāntika) hal itu memang diperbolehkan di dalam sūtra dan merupakan keunikan dari disiplin upāsaka. Bahkan terdapat upāsaka yang tidak mengambil disiplin sama sekali dan cuma menyatakan diri berlindung kepada Triratna.

Bhadanta Harivarman juga menyetujui pengambilan sebagian, baik untuk Lima Śīla maupun Delapan Śīla. Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:有人言:「具受則得戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Harus menerima lengkap barulah memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:隨受多少,皆得律儀,但取要有五。
Jawab: Seberapa pun yang diterima, semuanya memperoleh Saṃvara. Esensi yang diambil tetapi [berlangkah] lima.

Disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan (śikṣāpada), namun bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Orang yang mengambil sebagian pun memperoleh disiplin yang satu esensinya dengan orang yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Untuk menyempurnakannya, ia dapat mengambil langkah-langkah latihan sisanya. Dengan kata lain, sistem Satyasiddha mengenal adanya gradualitas atau kemeningkatan status seorang upāsaka.

Dalam Kanon Pāli kita pun dapat melihat contoh upāsaka yang berupaya meningkatkan statusnya. Upāsaka Gavesī, seorang aparipūrakārī (tanpa disiplin) yang hidup di zaman Buddha Kassapa, mengambil lengkap Lima Śīla demi mengungguli 500 upāsaka kawan-kawannya, dan menjadi seorang paripūrakārī (pelaksana sepenuh-bagian). Kawan-kawannya termotivasi oleh tindakannya dan, akhirnya, mengikutinya menjadi paripūrakārī. Lihat kisah selengkapnya di Gavesī Sutta (AN V.18: 10).

Maka petikan dari Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya cukuplah berdasar:

若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?
Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi?

Jadi, dengan mengambil langkah-langkah latihan lagi, status keupāsakaan seseorang meningkat (yakni, substansi disiplinnya semakin sempurna). Ini membuktikan bahwa ia yang sebelumnya mengambil satu atau beberapa langkah latihan saja juga sudah memperoleh Prātimokṣa Saṃvara.


Selanjutnya muncul pertanyaan apakah boleh dari lima guru menerima lima langkah latihan, masing-masing satu. Hal ini tidak dibahas dalam Satyasiddhi Śāstra, tetapi pada pertanyaan ⑦ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan Vimalākṣa membolehkannya. Jawabannya ini tidak bertentangan dengan prinsip Satyasiddha (sebab Vimalākṣa memang membolehkan pengambilan langkah latihan tidak lengkap).

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa orang yang mengambil lengkap lima langkah latihan bukan berarti memiliki lima jenis disiplin. Dalam posting sebelumnya pernah kita bahas bahwa disiplin yang lebih unggul akan mengatasi disiplin yang asor. Pada saat seorang ekadeśakārin, yang sudah mengambil satu langkah latihan dari seorang guru, mengambil sebuah langkah latihan lagi dari guru kedua, bukan berarti bahwa kini ia memiliki dua jenis disiplin berbeda; tetapi, di dalam avijñapti yang baru, substansi disiplinnya yang lama akan bergabung sebagai komponen substansi dari satu kesatuan disiplin pradeśakārin. Demikian pula apabila ia kemudian mengambil langkah latihan lagi dari guru ketiga, di dalam avijñapti yang baru lagi, substansi disiplin pradeśakārin-nya akan bergabung sebagai komponen substansi disiplin yadbhūyaskārin, dst. (Agar lebih jelas, lihat ilustrasi di akhir.)

Sabtu, 01 Desember 2018

Pertentangan-Pertentangan antara Vaibhāṣika vs Satyasiddha mengenaï Śīla

Silsilah penahbisan bhikṣu-bhikṣuṇī Sarvāstivāda pernah hidup di Cina dan, dengan demikian, terdapatlah mereka yang mengikuti tafsir Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440) serta lebih condong kepada pandangan Vaibhāṣika.

Di sisi lain, para proponen Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646) sempat mendirikan sebuah sekolah indépénden Ch’êng-shih tsung 成實宗 walau usianya pendek dan tidak bertahan lama. Pandangan-pandangan mereka tentang Śīla — secara umum bersesuaian dengan Sautrāntika — belakangan banyak diadopsi Sekolah Vinaya dari silsilah Dharmaguptaka. Perbedaannya yang terutama dengan Sautrāntika adalah mengenaï hakikat substansi Śīla: Sautrāntika menolak sama sekali konsep avijñapti, sementara Satyasiddha menerimanya sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra.

Karena minimnya literatur Sautrāntika yang masih lestari, maka kita hanya dapat menjadikan Satyasiddhi Śāstra, yang tersedia terjemahan Tionghoanya, sebagai bahan pembanding. Pertentangan-pertentangan antara mereka yang pro kepada Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (Ⓥ) dengan yang pro kepada Satyasiddhi Śāstra (Ⓢ) direkapitulasikan pada poin-poin di bawah ini:

  1. Sasaran Penerima 對趣
  2. Ⓥ:餘道眾生不得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

    Ⓢ:餘道眾生得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.

  3. Gradualitas 漸頓
  4. Ⓥ:不具受不得戒。

      Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

    Ⓢ:不具受得戒。

      Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.

  5. Durasi 延促
  6. Ⓥ:五戒必盡形,八必一日夜。

      Lima Śīla harus seumur hidup, Delapan Śīla harus sehari semalam.

    Ⓢ:延促任意,皆得。

      Panjang atau pendek sekehendak pikiran, semuanya dapat.

  7. Komprehensi atas Anggota 具支
  8. Ⓥ:但發四支。

      Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

    Ⓢ:皆發七支

      Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.

  9. Swa-komitmen 自誓
  10. Ⓥ:定從他受。

      Wajib mengambil dari orang lain (seorang guru).

    Ⓢ:開自誓受。

      Didispensasikan mengambil dengan berkomitmen sendiri.

  11. Re-akseptansi 重受
  12. Ⓥ:不重受。

      Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

    Ⓢ:開重受。

      Didispensasikan menerima-ulang.

Senin, 20 Agustus 2018

Kedudukan Pelaksana Delapan Śīla dalam Masyarakat Buddhis

Di manakah kedudukan pelaksana Delapan Śīla dalam masyarakat Buddhis? Soal–jawab dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 508c–509a) berikut dapat memperjelas:

問曰:夫以齋法過中不食,乃有九法。何故八事得名?
Tanya: Aturan Puasa (upavāsa), yang tidak makan selepas tengah hari, sebetulnya ada sembilan. Mengapakah namanya hanya disebut berunsur delapan?

答曰:齋法以過中不食為體,以八事助成齋體,共相支持,名八支齋法。是故!言八齋,不云九也。
Jawab: Aturan Puasa terdiri atas tidak makan selepas tengah hari sebagai batang tubuhnya serta delapan unsur pendukung yang menjadi anggota, yang bersama-sama menyusun tubuh upavāsa, sehingga dinamakan Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṣṭāṅga samanvāgata upavāsa śīla). Oleh karenanya dikatakan Puasa berunsur delapan, bukan sembilan!

若受八戒人,於七眾中,為在何眾?
Di antara ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis], orang yang menerima Delapan Śīla termasuk kelompok mana?

雖不受終身戒,以有一日一夜戒故,應名優婆塞。
Meskipun tidak menerima disiplin seumur hidup, namun karena disiplinnya untuk sehari semalam, semestinya mereka dinamakan upāsaka.

有云:「若名優婆塞,無終身戒。若非優婆塞,有一日一夜戒。」但名中間人
Ada yang mengatakan: “Jikalau mereka disebut upāsaka, mereka tidak memiliki disiplin seumur hidup. Tetapi, jikalau mereka bukan upāsaka, mereka berdisiplin untuk sehari semalam.” — Maka mereka hanya dapat disebut “orang yang di tengah-tengah”.

問曰:若七眾外,有波羅提木叉戒不?
Tanya: Di luar [disiplin] ketujuh kelompok, adakah disiplin Prātimokṣa lainnya?

答曰:有,八齋是。以是義推:若受八戒,不在七眾也。
Jawab: Ada, yakni [disiplin] Puasa berunsur delapan. Dari prinsip ini dapat disimpulkan: mereka yang menerima Delapan Śīla tidak berada dalam salah satu dari ketujuh kelompok.

Jadi, jelas pelaksana Delapan Śīla bukan awam dalam arti selayaknya perumahtangga biasa. Akan tetapi, ia juga tidak tergolong anggota monastik. Delapan Śīla, sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial, tidak mentransformasikan substansi disiplin seorang upāsaka yang sudah ia miliki sebelumnya. Ini berbeda dengan apabila ia menjadi śrāmaṇera dan mengambil Sepuluh Śīla. Substansi Lima Śīla yang dimilikinya akan mengalami transformasi dan bersatu menjadi komponen dari substansi disiplin śrāmaṇera (lihat posting sebelumnya berikut ilustrasinya di akhir). Dengan kata lain, jikalau seorang upāsaka yang sudah mengambil Lima Śīla lalu mengambil Delapan Śīla, maka dua saṃvara avijñapti berbeda terbentuk dalam dirinya. Karena memiliki substansi Lima Śīla dan Delapan Śīla, ia adalah seorang upāsaka, namun di saat bersamaan ia juga bukan. Ketika jangka penekunannya selesai — setelah sehari semalam, misalnya — substansi Delapan Śīla-nya kedaluwarsa dan secara otomatis rontok, sedangkan substansi Lima Śīla-nya tidak terpengaruh sama sekali dan tetap utuh.

Bagaimanakah jika seseorang belum pernah mengambil Lima Śīla, tetapi langsung mengambil Delapan Śīla? Baik Vaibhāṣika maupun Sautrāntika membolehkan hal ini; substansi Delapan Śīla terbentuk asalkan seseorang sudi berlindung kepada Triratna. Bagi Vaibhāṣika, ia bukan upāsaka sebab tidak memiliki substansi Lima Śīla. Ia juga bukan anggota monastik. Tetapi, karena ia memiliki disiplin — walaupun hanya sehari semalam — terpaksa ia disebut “orang yang di tengah-tengah” seperti kutipan di atas. Sementara itu, bagi Sautrāntika ia adalah upāsaka sebab, sebagaimana disebutkan dalam Mahānāma Sūtra, seorang awam yang pergi berlindung kepada Triratna sudah berhak disebut upāsaka. Bagi Vaibhāṣika, setelah jangka penekunannya selesai, ia menjadi orang yang berlindung kepada Triratna, yang tidak mempunyaï kedudukan dalam masyarakat Buddhis. Sedangkan bagi Sautrāntika, ia menjadi seorang upāsaka tanpa disiplin (aparipūrṇakārin).

Sistém Sautrāntika membolehkan pengambilan Delapan Śīla dalam sekali waktu untuk seumur hidup, sementara Vaibhāṣika melarangnya. Menurut Vaibhāṣika, karena substansi Delapan Śīla hanya dapat bertahan sehari semalam, maka seseorang yang hendak melaksanakannya seumur hidup harus mengulangi pengambilannya setiap hari. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ⑪ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mencerminkan pandangan ini:

問:頗有八戒白衣不?
Tanya: Sungguhkah ada umat awam berjubah putih pelaksana Delapan Śīla (sebagai śīla permanen)?

答:無。唯有八關齋。
Jawab: Tidak ada. Hanya ada Delapan Śīla dalam penekunan upavasatha.

Di balik segala keleluasaan penekunannya, Delapan Śīla tetap merupakan sebuah disiplin Prātimokṣa, yakni disiplin pengarah Pembebasan yang ditetapkan oleh Buddha sendiri. Justru yang patut kita cermati adalah munculnya berbagai disiplin yang bersifat kuasi-Buddhis. Inovasi yang diciptakan di Indonesia, misalnya, adalah apa yang disebut Pandita Śīla. Institusi pandita bukan dibentuk oleh Buddha. Buddha hanya menetapkan tujuh kelompok kemasyarakatan Buddhis (bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā), masing-masing dengan disiplinnya sendiri-sendiri. Lantas dari mana śīla-śīla pandita ini berasal? Kita tidak bisa dengan seenaknya membuat-buat suatu disiplin, dan menamaïnya Śīla, walaupun disiplin itu kelihatan bagus.

Dalam tradisi tertentu, terdapat wanita yang menerima Sepuluh Śīla tetapi tidak menjadi śrāmaṇerī (dikenal dengan istilah sīla-rhaṅ‘ dll.). Padahal Buddha menetapkan cuma disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī-lah yang terdiri atas sepuluh langkah latihan (śikṣāpada). Jadi, disiplin manakah yang sebetulnya mereka terima? Bukan berarti bahwa semakin banyak langkah latihan semakin baik — sebab disiplin non-Buddhis pun seringkali mengandung banyak aturan yang lebih ketat daripada Buddhis — tetapi, apakah benar disiplin tersebut memang ditetapkan oleh Buddha sebagai Prātimokṣa bagi umat awam.

Contoh lain lagi adalah pemberian Aturan Puasa Beranggota Sembilan (navaṅga uposatha). Ini menunjukkan ketidakmengertian karena menganggap pengembangan cinta-kasih sebagai sebuah langkah latihan, beserta dengan delapan lainnya. Kita tahu bahwa disiplin Prātimokṣa hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan (lihat di sini). Apabila pengembangan cinta-kasih dianggap sebagai sebuah śīla, maka nyaris setiap saat kita akan selalu melakukan pelanggaran sebab mustahil mempertahankannya dalam pikiran selama 24 jam penuh!

Kasus yang paling kontroversial barangkali terjadi pada seorang guru meditasi terkenal yang merombak 250 langkah latihan dari Bhikṣu Prātimokṣa karena menganggapnya tidak relevan lagi. Untuk keadaan sulit, Vinaya Piṭaka memberikan banyak dispensasi dalam penerapan Śīla. Namun, tidak seorang pun selain Buddha sendiri yang berhak mengubah-ubahnya dengan seenaknya. Bagaimana kita bisa yakin disiplin yang diterima dari guru meditasi tersebut dapat mengarahkan kepada Pembebasan bilamana itu bukan Prātimokṣa yang bersumber dari Buddha sendiri? Maka di zaman modern ini kita harus berhati-hati sekali dalam menerima suatu disiplin.

Sabtu, 18 Agustus 2018

SETENGAH PUASA

Jam-jam makan dalam penekunan Puasa Buddhis pada prinsipnya diadopsi dari praktik monastik. Ada kemiripan antara apa yang dipraktikkan bhikṣu-bhikṣuṇī Buddhis dengan sādhu-sādhvī Jaina. Sādhu Jaina boleh makan kurang lebih satu muhūrta (48 menit) setelah matahari terbit. Demikian pula dalam Vinaya Piṭaka seorang bhikṣu baru boleh makan setelah hari cukup terang sehingga garis-garis di telapak tangannya kelihatan jelas. Bhikṣu Buddhis hanya diizinkan makan sampai tengah hari, sedangkan sādhu Jaina dapat makan sampai matahari terbenam. Oleh karenanya, seorang sādhu dapat berkeliling kembali untuk mengemis derma makanan (gocarī) kedua kalinya di sore hari. Akan tetapi, ia tidak diperbolehkan makan atau minum apa pun (termasuk air yang sudah direbus) sejak matahari terbenam sampai keesokan paginya, sementara bhikṣu Buddhis boleh minum.


Pergantian tanggal di India kuno dimulaï sejak terbitnya matahari, bukan sejak tengah malam atau pukul 00.00. Dari 24 jam, 12 jam pertama disebut (siang) hari dan 12 jam kedua disebut malam. Apabila kita anggap hari cukup terang pukul 06.00 dan tengah hari jatuh pukul 12.00, maka seorang Buddhis yang mengambil Delapan Śīla berarti boleh makan dalam enam jam dan berpantang selama delapan belas jam sisanya (tetapi boleh minum air).

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, menurut sistém Sautrāntika-Satyasiddha, Delapan Śīla dapat diambil untuk jangka penekunan kurang dari 24 jam. Sewaktu matahari terbit, seseorang yang mengambil Delapan Śīla sampai matahari terbenam saja disebut berpuasa hanya sehari. Begitu juga seseorang yang di sore hari mengambil Delapan Śīla (berarti ia takkan makan sepanjang malam itu) sampai keesokan paginya disebut berpuasa hanya semalam.

Bagaimanakah dengan seseorang yang mengambil Delapan Śīla untuk sehari semalam dan, karena suatu sebab (misalnya: jatuh sakit atau mendadak harus melakukan pekerjaan berat), terpaksa membatalkan puasanya ketika sore hari? Praktik semacam ini disebut setengah puasa 半齋. Kaum Vaibhāṣika berpendapat setengah puasa sama saja dengan tidak berpuasa. Menurut mereka, karena seseorang tidak dapat membuat persepakatan di muka untuk mengambil Delapan Śīla hanya 12 jam saja, substansi Delapan Śīla baru terbentuk apabila diambil untuk sehari semalam — sama seperti substansi Lima Śīla yang baru terbentuk apabila diambil untuk seumur hidup. Jikalau ia tidak kuat berpuasa lagi, maka ia harus melepas delapan langkah latihannya. (Hal ini lebih baik daripada ia merusak Puasa 破齋 karena tetap memegangnya lalu makan malam.) Dengan melepas, berarti ia mundur di tengah jalan dan sama saja tidak berpuasa.

Sementara itu, dalam sistém Sautrāntika-Satyasiddha, karena Delapan Śīla sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial juga boleh diambil sebagian (tidak lengkap delapan), maka seseorang yang harus makan malam dapat saja hanya melepas langkah latihan “tidak makan setelah tengah hari”, dan mempertahankan tujuh sisanya. Ia tidak disebut berpuasa, tetapi tetap disebut memegang anggota (dari Delapan) Śīla.

Tentu saja meskipun hanya ditekuni selama 12 jam, setengah puasa tetap mendatangkan akibat baik seperti dikisahkan dalam cerita ke-13 Rampaian Avadāna Lama 《舊雜譬喻經》 (T. vol. 4, № 206 hlm. 513a) terjemahan K’ang Sêng-hui:

昔有四姓請佛飯。
Dahulu diselenggarakanlah [acara mahādāna] oleh keempat kasta untuk mengundang Buddha makan.

時,有一人賣牛湩。大姓留止飯,教持齋戒,止聽經。
Tatkala itu ada seorang penjual produk-produk melkerei. Orang-orang dari kasta tinggi menyisakan makanan untuknya, dan mengajarinya juga untuk memegang Aturan Puasa serta singgah sejenak mendengarkan khotbah (sūtra).

賓乃歸。
Setelah dijamu, [hingga petang] barulah ia pulang.

婦言:「我朝相待未飯。」便強令夫飯,壞其齋意。
Istrinya berkata: “Sejak pagi aku menunggumu dan belum makan.” Maka dipaksanya suaminya ikut makan sehingga merusak niat Puasanya.

雖爾,七生天上、七生世間。
Kendatipun begitu, ia terlahir tujuh kali di surga dan tujuh kali di dunia [manusia].

 ◎ 師曰:「一日持齋,有六十萬歲糧。

Sang Guru berkata: “Memegang Puasa untuk sehari akan menghasilkan [kecukupan] pangan selama 600.000 tahun.

復有五福:
Ada lagi lima pahala lainnya:

一曰、少病;
1. Sedikit penyakit;

二曰、身安隱;
2. Tubuh tenteram dan bahagia;

三曰、少婬意;
3. Sedikit pikiran nafsu;

四曰、少睡臥;
4. Sedikit kantuk dan kelesuan;

五曰、得生天上,常識宿命所行也。」
5. Dapat terlahir di surga dan senantiasa mengingat apa yang dilakukan di kehidupan lampau.

Senin, 13 Agustus 2018

Jangka Waku Delapan Śīla (2)

Untuk penekunan lebih dari sehari semalam, Delapan Śīla boleh diambil sekaligus dalam satu waktu menurut Sautrāntika. Bagaimanakah untuk penekunan kurang dari sehari semalam? Sebagai yang telah dikutip dalam pembahasan terdahulu, Bhadanta Harivarman menyatakan bahwa jangka penekunan Delapan Śīla tidak pasti: bisa sehari semalam, bisa hanya sehari atau hanya semalam, bahkan bisa setengah hari atau setengah malam. Keunikan disiplin ini, seperti biasa, tidak disetujui oleh kaum Vaibhāṣika. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509a–b) terdapat soal–jawab:

問曰:若欲限受晝日齋法,不受夜齋,得八齋不?若欲受夜齋,不受晝齋,得八齋不?
Tanya: Jikalau hendak mengambil secara terbatas Aturan Puasa untuk siang hari [saja], dan tidak berpuasa di malamnya, apakah Puasa berunsur delapan didapatkan? Jikalau hendak mengambil Aturan Puasa untuk malam [saja], dan tidak mengambil untuk siangnya, apakah Puasa berunsur delapan didapatkan?

答曰:不得。所以爾者?佛本聽一日一夜齋法。以有定限,不可違也。
Jawab: Tidak dapat. Mengapa demikian? Buddha sejak semula mengizinkan Aturan Puasa untuk sehari semalam [saja]. Ada batas yang pasti, yang tidak boleh ditentang.

問曰:若不得者,如〈皮革〉中說:
Tanya: Jikalau tidak dapat, di dalam “Carma” diceritakan:

億耳在曠野見諸餓鬼種種受罪:或晝則受福,夜則受罪;或夜則受福,晝則受罪。所以爾者?以本人中,晝受齋法,夜作惡行;或夜受齋法,晝作惡行。是以不同。
Koṭikarṇa di padang belantara melihat setan-setan kelaparan yang menerima berbagai jenis hukuman: ada yang di siang hari menerima kebahagiaan, tetapi malamnya menerima hukuman; ada yang di malam hari menerima kebahagiaan, tetapi siangnya menerima hukuman. Mengapa demikian? Sebab semula, sewaktu mereka menjadi manusia, ada yang siang hari mengambil Aturan Puasa, tetapi malamnya melakukan tindakan kejahatan; ada yang malam hari mengambil Aturan Puasa, tetapi siangnya melakukan tindakan kejahatan. Oleh karenanya [hukuman mereka] tidak sama.

此義云何?
Bagaimanakah prinsip ini [dijelaskan]?

答曰:凡是本生、因緣不可依也。此中說者,非是修多羅,非是毘尼,不可以定義也。有云:「此是迦旃延欲度億耳,故作變化,感悟其心。」非是實事。
Jawab: Segala jātaka dan avadāna tidak boleh diandalkan. Cerita ini bukan dari sūtra, bukan dari vinaya, dan tidak dapat dijadikan prinsip yang pasti. Ada yang mengatakan: “Itu adalah kesaktian Mahā Kātyāyana yang, demi menyelamatkan Koṭikarṇa, sengaja membuat jelmaan untuk menggugah hatinya.” Jadi, kejadian ini bukanlah sebenarnya.

Cerita Koṭikarṇa memang merupakan avadāna pertama dalam koleksi Divyāvadāna. Tetapi, seperti yang dikatakan si penanya, cerita ini sungguh termuat di awal “Carma Dharma”, yang merupakan skandhaka kelima dari Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律·皮革法第五》. Maka kanonisitasnya sebenarnya tidaklah teragukan. Koṭikarṇa merupakan putra seorang hartawan dari Desa Vāsava 王薩薄 di Aśmaka Avanti 阿濕摩伽阿槃地. Nama lengkapnya adalah Śrāvaṇa Koṭikarṇa 沙門億耳 sebab ia lahir di bawah konstelasi Śrāvaṇa 沙門. Śrāvaṇa (atau disingkat: Śroṇa) memimpin kafilah dagang dan ditinggal rombongannya pada suatu pagi setelah tertidur semalaman. Ia tersesat dan memasuki negeri para preta sendirian. Percakapannya dengan dua preta dalam jilid ke-25 Sarvāstivāda Vinaya (T. vol. 23, № 1435 hlm. 179b–c) berikut patut disimak:


前行不久,復見一樹,名婆羅,夜於下宿。搖樹落葉,細者自食、麁者與驢。如是日暮至夜,是中即有床出。男出女出,顏貌端正,著天寶冠,共相娛樂。
Berjalan ke depan tidak lama, dilihatnya kembali sepokok pohon bernama sāla, dan ia bermalam di bawahnya. Diguncangnya pohon itu agar rontok daunnya. Yang halus dimakannya sendiri, sedangkan yang kasar diberikannya kepada keledainya. Demikianlah matahari terbenam dan malam pun tiba, tiba-tiba muncullah di situ sebuah ranjang. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk.

沙門億耳作是思惟:「我不應爾,看他私事。」
Śroṇa Koṭikarṇa berpikir demikian: “Tidak semestinya aku seperti ini, memandangi urusan pribadi mereka.”

時,夜過晝來,即時床滅女滅。有群狗來,噉是男子,肉盡骨在。億耳念言:「我悔不問是人:『先作何行,今得此報夜善晝惡?』我當住待問之。」
Tatkala malam berlalu dan siang pun datang, tiba-tiba ranjang itu raib dan wanita itu pun raib. Adalah sekawanan anjing yang datang dan memakan habis daging pria itu hingga tersisa tulang. Koṭikarṇa merenung: “Aku menyesal tidak menanyaï orang itu tindakan apa yang sebelumnya ia perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di malam hari dan buruk di siang hari. Aku akan berdiam menunggu untuk menanyakannya.”

至夜更有好床。男出女出,顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。億耳即往問男:「汝作何行,今得是報夜善晝惡?」
Hingga malam tiba muncullah kembali sebuah ranjang yang elok. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk. Koṭikarṇa lekas-lekas menanyaï pria itu: “Tindakan apakah yang engkau perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di malam hari dan buruk di siang hari?”

男言:「汝何用問為?」
Pria itu berkata: “Untuk apakah engkau bertanya?”

億耳言:「意欲知之。」
Koṭikarṇa berkata: “Pikiranku hendak mengetahuinya.”

男言:「汝識阿濕摩伽阿槃地國中王薩薄聚落不?」
Pria itu berkata: “Tahukah engkau Desa Vāsava di Negeri Aśmaka Avanti?”

億耳言:「識。」
Koṭikarṇa berkata: “Tahu.”

男言:「我是某甲屠兒。有長老迦旃延,常出入我家,我常供給飲食、衣被、湯藥。億耳!彼常語我言:『莫作惡行,後得大苦。』我時答言:『先世以來,以此為業。今若不作,那得自活?』時,迦旃延復語我言:『汝作此惡,晝多夜多?』我言:『晝多。』即語我言:『汝夜受五戒,可獲微善。』我即從受。今得此報夜善晝惡,皆由作行;悔恨何益?」
Pria itu berkata: “Aku ialah Penjagal X. Ada seorang sthavira bernama Kātyāyana yang sering berkunjung ke rumahku, dan aku sering mempersembahinya makanan, jubah, dan obat-obatan. Koṭikarṇa! Ia sering berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat jahat, kelak engkau mendapat penderitaan besar.’ — Aku saat itu menjawabnya: ‘Sejak dahulu inilah pekerjaanku. Jika aku tidak melakukan ini, bagaimana aku dapat menghidupi diri?’ — Tatkala itu Kātyāyana kembali berkata kepadaku: ‘Engkau melakukan kejahatan ini lebih banyak di siang hari atau di malam hari?’ — Aku berkata: ‘Siang lebih banyak.’ — Maka ia memberitahuku: ‘[Kalau begitu,] terimalah lima aturan moral untuk malam hari sehingga engkau boleh beroleh secuil kebaikan.’ Aku pun menerimanya darinya. Balasan baik di malam hari dan buruk di siang hari yang kini kudapatkan semua karena tindakan yang kuperbuat; apa gunanya menyesalinya?”

男問億耳:「汝欲那去?」
Pria itu bertanya kepada Koṭikarṇa: “Engkau hendak pergi ke mana?”

答言:「至王薩薄聚落。」
Jawab: “Ke Desa Vāsava.”

男言:「從是道去。」
Pria itu berkata: “Berangkatlah dari jalan sini.”

億耳便去。前行不久,復見一樹,名婆羅,住下止宿。搖樹落葉,細者自食,麁者與驢。時,夜過晝來。是處復見床出,男女顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。
Koṭikarṇa pun pergi. Berjalan ke depan tidak lama, dilihatnya kembali sepokok pohon bernama sāla, dan ia bermalam di bawahnya. Diguncangnya pohon itu agar rontok daunnya. Yang halus dimakannya sendiri, sedangkan yang kasar diberikannya kepada keledainya. Tatkala itu malam berlalu dan siang pun datang. Di tempat itu ia kembali melihat sebuah ranjang yang muncul dengan seorang pria dan seorang wanita yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk.

億耳即念:「我不應住此觀他私事。」
Koṭikarṇa pun merenung: “Tidak semestinya aku berdiam di sini mengamati urusan pribadi mereka.”

如是至暮,床滅女滅;百足蟲出,噉是男子,肉盡骨在。億耳念言:「我悔不問:『汝作何行,今得此報晝善夜惡?』當住待問之。」
Demikianlah hingga matahari terbenam, ranjang raib dan wanita pun raib; ulat berkaki seratus muncul dan memakan habis daging pria itu hingga tersisa tulang. Koṭikarṇa merenung: “Aku menyesal tidak menanyaï orang itu tindakan apa yang sebelumnya ia perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari. Aku akan berdiam menunggu untuk menanyakannya.”

夜過晝來,復有床出。男出女出,顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。億耳往問男子:「汝作何行,今獲此報晝善夜惡?」
Malam berlalu dan siang pun datang, dan kembali muncullah sebuah ranjang. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk. Koṭikarṇa menanyaï pria itu: “Tindakan apakah yang engkau perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari?”

男言:「汝何用問為?」
Pria itu berkata: “Untuk apakah engkau bertanya?”

億耳言:「意欲知之。」
Koṭikarṇa berkata: “Pikiranku hendak mengetahuinya.”

男言:「汝識阿濕摩伽阿槃地國中王薩薄聚落不?」
Pria itu berkata: “Tahukah engkau Desa Vāsava di Negeri Aśmaka Avanti?”

答言:「識。」
Jawab: “Tahu.”

「是中某甲男子,婬犯他婦。有長老迦旃延,出入我家,我家常供給飲食、衣被、湯藥。億耳!爾時,彼教我言:『莫作惡行,後得苦報。』我答言:『不能自抑,當可如何?』復語我言:『汝於此事,何時偏多?』我言:『夜多。』時,迦旃延即語我言:『受晝五戒,可獲微善。』我用其言,受晝五戒。故獲斯報,晝善夜惡。悔恨先行,無所復益。」
“Aku ialah Pria Y dari sana yang gemar menzinahi istri orang lain. Ada seorang sthavira bernama Kātyāyana yang sering berkunjung ke rumahku, dan keluargaku sering mempersembahinya makanan, jubah, dan obat-obatan. Koṭikarṇa! Pada saat itu ia mengajariku: ‘Janganlah berbuat jahat, kelak engkau mendapat penderitaan besar.’ — Aku menjawabnya: ‘Aku tidak sanggup mengekang diri, apakah yang boleh kulakukan?’ — Kembali ia berkata kepadaku: ‘Dalam hal ini, kapankah engkau cenderung lebih banyak melakukannya?’ — Aku berkata: ‘Malam lebih banyak.’ — Tatkala itu Kātyāyana pun memberitahuku: ‘[Kalau begitu,] terimalah lima aturan moral untuk siang hari sehingga engkau boleh beroleh secuil kebaikan.’ Mengambil ucapannya, aku pun menerima lima aturan moral untuk siang hari. Oleh sebab itu, aku memperoleh balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari. Menyesali tindakanku dahulu tiadalah berguna lagi.”

男問億耳:「汝欲那去?」
Pria itu bertanya kepada Koṭikarṇa: “Engkau hendak pergi ke mana?”

答言:「欲至王薩薄聚落。」
Jawab: “Hendak ke Desa Vāsava.”

男言:「從是道去。」
Pria itu berkata: “Berangkatlah dari jalan sini.”

前行復見有樹林,池水清淨。億耳於中洗浴、飲驢。是池邊有堂,眾寶莊嚴。億耳仰視見堂,即作是念:「我飢渴欲死,當何所在?」即便上堂,誦佛經偈:
Berjalan ke depan dilihatnya kembali ada sebuah hutan dengan kolam berair jernih. Koṭikarṇa pun mandi di situ dan memberi minum keledainya. Di tepi kolam itu adalah sebuah balai yang berhiaskan aneka permata. Koṭikarṇa menengadah mengamati balai itu, dan merenung demikian: “Aku hampir mati kelaparan dan kehausan, di manakah aku berada?” Maka ia memasuki balai itu dan mendaraskan syair dari sūtra Buddha:

「飢為第一病  行為第一苦
 如是知法寶  涅槃第一樂」

“Kelaparan merupakan penyakit terberat,
segala bentukan (saṃskāra) merupakan penderitaan terbesar.
Demikianlah setelah mengetahui Permata Dharma¹:
Nirvāṇa merupakan kebahagiaan tertinggi.”



Kata-kata yang kita terjemahkan ‘terimalah lima aturan moral’ di sini pada teks Tionghoa aslinya adalah shou wu-chieh 受五戒. Ini merupakan istilah yang sama yang biasanya kita terjemahkan sebagai disiplin Lima Śīla. Pada pertanyaan Vibhāṣa, para preta itu dikatakan mengambil Aturan Puasa 受齋法. Sedangkan dalam Divyāvadāna mereka hanya dikatakan mengambil Śīla (śīlasamādānaṃ gr̥hītam) secara tidak spesifik. Jadi, disiplin manakah yang sebenarnya terbentuk dalam diri mereka?

Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1062a) menerangkan:

或有說言:「若不具受,則不得戒。八戒齋法,亦復如是。」是義不然。何以故?若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?實是得戒,但不具足八戒齋法。若不具受,雖不名齋,可得名善。
Atau jika ada yang mengatakan: “Kalau tidak menerima lengkap, maka disiplin tidak didapatkan. Untuk Aturan Puasa dengan delapan śīla demikian pula.” — Bukan begitu prinsipnya. Apakah sebabnya? Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi? Tentu saja disiplin diperoleh, hanya saja bukan Aturan Puasa dengan delapan śīla lengkap. Jikalau tidak menerima lengkap, meskipun tidak disebut Upavāsa, tetapi bolehlah dinamakan kebaikan.

Dari kutipan ini jelaslah bahwa disiplin yang diterima para preta tersebut adalah bagian dari Delapan Śīla. Seperti halnya Lima Śīla, begitu pula Delapan Śīla boleh diambil sebagian (tidak harus lengkap delapan). Meskipun bunyi langkah latihannya sama (tidak membunuh, tidak mencuri, dst.), namun apabila diambil hanya untuk jangka waktu terbatas, maka substansi yang terbentuk dalam diri seseorang adalah bagian dari Delapan Śīla karena Lima Śīla hanya dapat diambil untuk seumur hidup.

Substansi Delapan Śīla, sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial, terbentuk walau diambil sebagian — hanya saja kurang sempurna. Analoginya adalah seperti substansi Lima Śīla yang juga terbentuk pada orang yang hanya mengambil satu atau beberapa langkah latihan untuk seumur hidup. Ia tetap disebut upāsaka sebab substansi disiplin upāsaka memang ada dalam dirinya. Status keupāsakaannya itu dapat disempurnakan jika, misalnya, sebagai upāsaka ekadeśakārin yang hanya mengambil satu langkah latihan, ia kemudian menjadi upāsaka paripūrṇakārin dengan mengambil empat sisanya.

Seseorang tidak disebut melaksanakan Upavāsa bilamana ia hanya mengambil tujuh langkah latihan selain tidak makan selepas tengah hari. Atau, jikalau ia berpuasa dan mengambil sebagian saja langkah latihan sisanya, ia disebut melaksanakan Upavāsa tetapi tidak berunsur delapan.

Kamis, 09 Agustus 2018

Jangka Waktu Delapan Śīla (1)

Sehubungan dengan jangka waktu Delapan Śīla, marilah kita simak auto-komentar Vasubandhu untuk bait ke-27 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74c):

又此所說別解脫律儀,應齊幾時要期而受?
Disiplin Prātimokṣa yang disebutkan ini mesti untuk berapa lamakah ikrarnya diambil?

頌曰:
Kārikā:

別解脫律儀  盡壽或晝夜

Yāvajjīvaṃ samādānam
ahorātraṃ ca saṃvr̥teḥ

論曰:七眾所持別解脫戒,唯應盡壽要期而受。近住所持別解脫戒,唯一晝夜要期而受。此時定爾。
Bhāṣya: Disiplin Prātimokṣa yang dipegang ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis] ikrarnya mesti diambil untuk seumur hidup saja. Disiplin Prātimokṣa yang dipegang penekun puasa (upavāsaka) ikrarnya cuma diambil untuk sehari semalam. Lama waktu-waktu ini sudahlah tetap.

所以者何?戒時邊際但有二種:
Mengapa demikian? Sebab jangka waktu Śīla hanya ada dua jenis:

一、壽命邊際;  1. Jangka seumur hidup (jīvita paryanta);
二、晝夜邊際。  2. Jangka sehari semalam (ahorātra paryanta).

重說晝夜為半月等。
Yang sehari semalam dapat diikrarkan-ulang [tiap-tiap hari] hingga setengah bulan (pakṣa) dsb.


Hal senada dijelaskan dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509a):

受八齋法,應言:「一日一夜不殺生。」令言語決絕,莫使與終身戒相亂。
Dalam mengambil Aturan Puasa (upavāsa) yang berunsur delapan, seseorang mesti berkata: “Selama sehari semalam aku takkan membunuh makhluk hidup,” dst. Kata-kata ini (“selama sehari semalam”) patutlah definitif supaya jangan terancukan dengan disiplin untuk seumur hidup.

問曰:受八戒法,得二日、三日、乃至十日一時受不?
Tanya: Dalam metode pengambilan Delapan Śīla, dapatkah mengambilnya untuk dua hari, tiga hari, hingga sepuluh hari sekaligus dalam seketika?

答曰:佛本制一日一夜,不得過限。若有力能受,一日過已,次第更受。如是隨力多少,不計日數也。
Jawab: Buddha sejak semula menetapkannya untuk sehari semalam, tidak dapat melampaui batas ini. Apabila seseorang memiliki kesanggupan lebih, setelah lewat sehari, [pada tiap-tiap hari berikutnya] berturut-turut ia dapat menerima kembali. Demikianlah seberapa kali pun sesuai kemampuan, dan bukan dengan merencanakan sejumlah hari tertentu.

Abhidharmakośa Bhāṣya selanjutnya menyebutkan bahwa kaum Sautrāntika juga setuju bahwa disiplin Prātimokṣa ketujuh kelompok hanya dapat diambil untuk seumur hidup. Andaipun seseorang berikrar memegang untuk waktu yang lebih lama ketika mengambilnya, substansi disiplin tersebut secara otomatis kedaluwarsa tatkala ia meninggal. Di kelahiran berikutnya ia akan kehilangan disiplinnya sebab kini ia menjadi orang yang berbeda dengan tubuh sandaran (kāyāśraya 依身) yang baru; dalam tubuh yang baru, ia tidak memiliki tindakan pemrakarsa (aprayoga 無加行) untuk melanjutkan kesinambungan disiplinnya; ia sendiri juga takkan ingat (asmaraṇa 無憶念) telah mengambil disiplin tertentu di kelahiran lampau. Dalam hal Delapan Śīla, akan tetapi, Sautrāntika tidak sependapat dengan Vaibhāṣika yang menyatakan bahwa jangka waktu disiplin upavāsa hanya dapat berlaku sehari semalam.

毘婆沙者作如是言:「曾無契經說過晝夜有別受得近住律儀。是故!我宗不許斯義。」
Vaibhāṣika berkata demikian: “Tidak pernah disebutkan dalam sūtra mana pun bahwa ada pengambilan spesial disiplin upavāsa lebih dari sehari semalam. Oleh karenanya, prinsip itu tidak diizinkan dalam sekolah kami!”

Alasan Vaibhāṣika ini sederhana dan memang benar. Kita hanya menemukan cerita-cerita umat awam yang hidup di zaman Buddha yang mengambil Delapan Śīla untuk sehari semalam, khususnya pada hari-hari upavasatha. Meskipun ada disebutkan masa-masa puasa yang disebut Paruh-bulan Mukjizat (prātihāraka pakṣa), namun referensi mengenaï pelaksanaan teknisnya amat minim. Maka menurut kaum Vaibhāṣika seseorang yang hendak berpuasa selama Paruh-bulan Mukjizat harus mengambil-ulang Delapan Śīla setiap pagi, sebab disiplin upavāsa yang diambil pada satu hari secara otomatis kedaluwarsa ketika matahari terbit keésokan paginya.

Sementara itu, Sautrāntika mempertanyakan apa salahnya mengambil disiplin upavāsa sekaligus dalam seketika. Alih-alih mengulangi ritus penerimaan Delapan Śīla setiap hari selama Paruh-bulan Mukjizat, menurut Sautrāntika seseorang cukup mengikutinya sekali saja di awal masa puasa dengan memodifikasi klausa “selama sehari semalam” menjadi “selama 15 hari 15 malam”. Tidak adanya cerita di dalam sūtra tentang orang yang mengambil Delapan Śīla lebih dari sehari semalam bukan berarti bahwa Buddha melarangnya. Untuk orang-orang yang inderanya sukar ditundukkanlah (durbalendriyāṇām 根難調者) Buddha mengajarkan upavāsa untuk sehari semalam. Untuk orang-orang yang inderanya mudah ditundukkan, apa salahnya menerima lebih lama?

Jumat, 10 Maret 2017

Pengelompokan Śīla dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra

Petikan jilid 25 Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra 《正法念處經》 (T. vol. 17, № 721 hlm. 142c–143b), sebuah teks yang (kemungkinan) berasal dari Sautrāntika:



DUBLET



「復次!比丘觀戒幾種?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati: moralitas (śīla) ada berapakah jenisnya?



「彼見世間有二種戒:
“Ia melihat bahwa di dunia ini terdapat dua jenis śīla:
一者、自生。 1. Timbul dari diri sendiri.
二者、從他。 2. Ikutan orang lain.
自生者,自性能持。
Timbul dari diri sendiri adalah karena sifat alami/pembawaan diri sendiri sanggup memegangnya.

從他者,和合而生。
Ikutan orang lain adalah yang timbul (termotivasi) karena hidup serasi (bersama dalam persekutuan).



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、在家。 1. Untuk perumahtangga (āgārika).
二者、出家。 2. Untuk yang meninggalkan rumah-tangga (anāgārika).
在家戒者,所謂五戒。
Śīla untuk perumahtangga yaïtu pañca śīla.

出家戒者,持解脫戒。
Śīla untuk yang meninggalkan rumah-tangga yaïtu memegang prātimokṣa śīla.



「復有二種戒,
“Ada lagi dua jenis śīla,

謂:
yaïtu:
一行戒、  Śīla satu-pelaksanaan (ekākāra), dan
非一行戒。 Śīla bukan satu-pelaksanaan (anekākāra).
一行者,所謂一戒。
Satu-pelaksanaan yaïtu [hanya] satu śīla.

非一行者,或受二戒、或持三戒。
Bukan satu-pelaksanaan yaïtu menerima dan memegang dua atau tiga śīla.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、久時。  1. Untuk waktu lama (cirakāla).
二者、不久時。 2. Tidak untuk waktu lama (acirakāla).
久時者,盡形護戒。
Untuk waktu lama adalah śīla yang dijaga seumur hidup.

不久時者,隨心所要,隨力持戒。
Tidak untuk waktu lama adalah śīla yang dipegang sekuat tenaga selama [jangka waktu] yang dikehendaki sesuka hati.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、有垢。 1. Dengan noda (samala).
二者、無垢。 2. Tanpa noda (amala).
有垢戒者,生於天中。
Śīla dengan noda akan membawa kelahiran ke alam surga.

無垢戒者,至於涅槃。
Śīla tanpa noda akan menghantar ke Nirvāṇa.



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、世間戒。  1. Śīla duniawi (laukika).
二者、出世間戒。 2. Śīla adiduniawi (lokottara).
世間戒者,則有流動。
Śīla duniawi masih memiliki keteradukan (vikṣepa).

出世間戒,則無流動。
Śīla adiduniawi adalah tanpa keteradukan (avikṣepa).



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、自護。 1. Menjaga diri sendiri.
二者、護他。 2. Menjaga orang lain.
自持戒者,名曰自護。
Mempertahankan moralitas sendiri itulah yang dinamakan ‘menjaga diri sendiri’.

護他者,令他住於世間,染戒。
‘Menjaga orang lain’ adalah agar orang lain bertahan di dunia, [sengaja] mencemari moralitas sendiri.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、止。 1. Yang sifatnya berhenti (vāritra).
二者、作。 2. Yang sifatnya bertindak (cāritra).
作者,成就諸行,轉於生死。
Yang sifatnya bertindak adalah penyempurnaan segala praktik [kebajikan] sementara berputar-putar dalam saṃsāra.

止者,知因知緣,而不進學。
Yang sifatnya berhenti adalah mengetahui sesuatu sebagai sebab dan kondisi [yang dapat menimbulkan keburukan] dan tidak terus melatihnya.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、智攝。 1. Yang dirangkakan kebijaksanaan (jñāna).
二者、施攝。 2. Yang dirangkakan [niat untuk] berderma (dāna).
布施攝戒,得大富樂。
Śīla yang dirangkakan derma akan menghasilkan kekayaan dan kebahagiaan besar.

智所攝戒,得至涅槃。
Śīla yang dirangkakan kebijaksanaan dapat menghantar ke Nirvāṇa.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、內行。 1. Yang merupakan praktik internal.
二者、外行。 2. Yang merupakan praktik eksternal.
外行者,依於淨身。
Praktik eksternal bertumpu pada pemurnian [karma] jasmani.

內行者,心口意淨。
Praktik internal memperhatikan pemurnian [karma] ucapan dan pikiran.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、修習。 1. Yang terbina sebagai kebiasaan.
二者、不習。 2. Yang bukan merupakan kebiasaan.
修習者,已於無量世來修習。
Yang terbina sebagai kebiasaan adalah yang telah dikembangkan selama banyak kehidupan tak terukur.

不習者,一世持戒。
Yang bukan merupakan kebiasaan adalah śīla yang [baru] dipegang dalam satu kehidupan.



「如是!比丘觀如是等無量二戒。」
“Demikianlah! Seorang bhikṣu mengamati dublet-dublet śīla yang tak terhitung demikian.”



TRIPLET



「復次!比丘觀微細戒。有幾種戒?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati moralitas dengan lebih teliti. Ada berapakah jenis śīla?



「比丘觀戒復有三種:
“Seorang bhikṣu mengamati lagi bahwa śīla ada tiga jenis:
一者、少分戒。 1. Śīla sedikit-bagian.
二者、多分戒。 2. Śīla banyak-bagian.
三者、盡受戒。 3. Śīla yang keseluruhannya diterima.
少分戒者,持於一戒。
Śīla sedikit-bagian adalah hanya memegang satu śīla.

多分戒者,或持二、三。
Śīla banyak-bagian adalah memegang dua atau tiga śīla.

盡受戒者,持一切戒。
Śīla yang keseluruhannya diterima adalah memegang semua śīla.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、愛。  1. Disebabkan kecintaan.
二者、不愛。 2. Tidak disebabkan kecintaan.
三者、自性。 3. Karena sifat alami diri sendiri.
愛者,為財利故,而受禁戒。
Disebabkan kecintaan adalah demi [memperoleh] keuntungan dan kekayaan
lalu menerima śīla.

不愛者,疾病故,而受禁戒。
Tidak disebabkan kecintaan adalah karena sakit-sakitan lalu menerima śīla.

自性者,自性淨行。此功德勝。
Karena sifat alami diri sendiri adalah memang pembawaannya [menyukaï] praktik kemurnian. — Inilah yang kebajikannya paling unggul.



「復有三種戒:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、禪行戒。 1. Śīla saat di dalam praktik dhyāna.
二者、無禪戒。 2. Śīla saat tiadanya dhyāna.
三者、離惡戒。 3. Śīla yang berasal dari [tekad] meninggalkan kejahatan.
禪行戒者,修世間禪,乃至入於城邑、聚落,而常修禪。
Śīla saat di dalam praktik dhyāna adalah [moralitas yang dimiliki] mereka yang mengembangkan dhyāna duniawi, yang sampai di kota ataupun desa selalu berada dalam dhyāna.

非禪戒者,離禪行戒。
Śīla saat tiadanya dhyāna adalah moralitas ketika meninggalkan praktik dhyāna.

離惡戒者,恐遭眾惡,捨之不為。如人醉酒,行不善業;智人見之,斷酒不飲。
Śīla yang berasal dari [tekad] meninggalkan kejahatan adalah yang dimiliki mereka yang merasa seram akan aneka kejahatan, sehingga melepas dan tidak melakukannya. Misalnya: Orang yang mabuk arak dapat menjalankan segala perbuatan yang tidak baik. Ketika melihatnya, maka orang bijak meninggalkan arak dan takkan meminumnya.



「復有三種戒:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、諂曲戒。  1. Śīla [yang pura-pura dipegang] dengan tujuan menjilat.
二者、不諂曲戒。 2. Śīla [yang dipegang] bukan bertujuan menjilat.
三者、性善戒。  3. Śīla dari mereka yang sifat alaminya memang baik.
諂曲戒者,垢染不淨,得少果報。
Śīla dengan tujuan menjilat tercemari noda dan tidak murni, sehingga hanya berakibat diperolehnya buah yang kecil.

不諂曲戒者,得大果報。
Śīla yang bukan bertujuan menjilat akan berakibat diperolehnya buah [lebih] besar.

性善戒者,若心增上,則得大果;若心劣弱,其果則小。
Śīla dari mereka yang sifat alaminya memang baik, jika batinnya ditingkatkan, tentu akan menghasilkan buah yang besar; jika batinnya lemah, maka buahnya [lebih] kecil.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、因緣持。  1. Yang dipegang karena sebab tertentu.
二者、非因緣持。 2. Yang dipegang bukan karena sebab tertentu.
三者、法不應作。 3. Yang [sekadar] terlarang karena hukum.
因緣持者,有因緣故,護持禁戒。
Yang dipegang karena sebab tertentu adalah śīla yang dipegang dan dijaga karena adanya kondisi [yang memotivasinya].

非因緣者,無緣持戒。
Yang dipegang bukan karena sebab tertentu adalah śīla yang dipegang tanpa kondisi [yang memotivasi].

不應作者,生於大姓所不應作,護種姓故。
Yang [sekadar] terlarang adalah yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan mereka yang lahir sebagai keturunan keluarga besar, demi menjaga tradisi keluarga.


「復次!從緣持戒者,為得佛故,以思勝故,其果則大。
“Selanjutnya lagi, bilamana śīla dipegang karena terkondisi oleh motivasi memperoleh Kebuddhaan, maka — berkat keunggulan kehendaknya (cetanā) — buah yang dihasilkan pun besar.

無緣持戒,其果則小,不識果故。
Bilamana śīla dipegang tanpa kondisi [yang memotivasi], buah yang dihasilkan kecil karena tidak mengenali buahnya.

不應作者,求世名故,其果亦小,生於人中。
Yang [sekadar] terlarang, karena mencari nama baik duniawi, akan menghasilkan buah yang juga kecil, misalnya: terlahir kembali di antara manusia.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:

一者、畏師。   1. Karena takut kepada guru.
二者、非畏師。  2. Bukan karena takut kepada guru.
三者、畏於惡道。 3. Disebabkan takut [terlahir di] jalur-jalur rendah.

畏師持戒,名下持戒。
Śīla yang dipegang karena takut kepada guru dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] rendah’.

非畏師持戒,名中持戒。
Śīla yang dipegang bukan karena takut kepada guru dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] menengah’.

若畏惡道,名上持戒。
Jika disebabkan takut [terlahir di] jalur-jalur rendah, maka dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] tinggi’.



「復有三種。
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、自持戒,而不教人。
1. Śīla yang dipegang diri sendiri, namun tidak [sudi] diajarkan kepada orang lain.

二者、自行教人。
2. Yang dijalankan diri sendiri dan diajarkan kepada orang lain.

三者、於他行捨。
3. Yang dijalankan dengan keseimbangan (upekṣā) terhadap orang lain (karena tidak diterima, walaupun telah diajarkan sekuat tenaga).



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、缺戒。   1. Śīla yang berkekurangan.
二者、不缺戒。  2. Śīla yang tidak berkekurangan
三者、一切缺戒。 3. Śīla yang seba-kekurangan.
缺戒者,初善持戒,後則破戒。是名缺戒。
Śīla yang berkekurangan adalah śīla yang dipegang baik pada awalnya, tetapi pada akhirnya dipecah¹. Itulah yang dinamakan śīla yang berkekurangan.

不缺戒者,初中後時,常善持戒。是名不缺戒。
Śīla yang tidak berkekurangan adalah śīla yang selalu dipegang baik pada awal, pertengahan, maupun akhirnya. Itulah yang dinamakan śīla yang tidak berkekurangan.

一切缺戒者,會諸外道,而受齋戒,邪見殺生。是名一切缺戒。」
Śīla yang serba-kekurangan adalah menemui pengikut-pengikut non-Buddhis (bāhyaka), lalu menerima aturan-aturan śīla dan puasa mereka, berpandangan sesat atau membunuh makhluk hidup. Itulah yang dinamakan śīla yang serba-kekurangan.”



KUARTET



「復次!比丘觀四種戒。何等為四?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati empat jenis śīla.
Apakah keempatnya itu?

離口四過:
Meninggalkan empat kesalahan ucapan:
一者、妄語。 1. Kedustaan (mr̥ṣāvāda).
二者、兩舌。 2. Lidah bercabang (paiśunya vācā).
三者、惡口。 3. Bermulut jahat (pāruṣya vācā).
四者、綺語。 4. Omong kosong (saṃbhinna pralāpa).”



KUINTET



「復有五種戒:止五境界。是名為五。」
“Ada lagi lima jenis śīla: berhenti dari kelima ranah [objek inderawi]. Itulah kelimanya.”



SEKSTET



「復有六種因緣,而持禁戒:
“Ada lagi śīla yang dipegang karena enam jenis sebab-musabab:
一者、畏他求便。 1. Karena takut dicelakai orang lain.
二者、畏於罰戮。 2. Karena takut akan hukuman.
三者、怖畏。   3. Karena kengerian.
四者、因緣。   4. Karena sebab tertentu.
五者、不觀。   5. Karena tanpa pengamatan.
六者、自性。   6. Karena sifat alami diri sendiri.”



SEPTET



「復有七種戒,
“Ada lagi tujuh jenis śīla,

謂:
yaïtu:
身三戒、  Tiga śīla [pengendali] jasmani, dan
口有四戒。 Empat śīla [pengendali] ucapan.”






「比丘如是觀無量持戒。眾生畏於惡道,持戒能度。如是持戒,略說二種:一者、世間;二者、出世間。」
“Seorang bhikṣu demikian mengamati [berbagai pengelompokan] yang tak terhitung dalam memegang śīla. Makhluk hidup yang takut akan jalur-jalur rendah dapat terselamatkan dengan memegang śīla. Begitulah secara ringkas memegang śīla dapat digolongkan menjadi dua macam: (1) duniawi, dan (2) adiduniawi.”


Minggu, 01 September 2013

Vaibhāṣika vs Sautrāntika

Mahānāma Sūtra (nama lainnya: Upāsaka Sūtra 《優婆塞經》), yang berpadanan dengan SN LV.4: 37 dan AN VIII.3: 5, memberikan definisi dari upāsaka sbb.:
 
佛告摩訶男:「優婆塞者,在家清白:『乃至盡壽,歸依三寶,為優婆塞。證知我!』」
Buddha bersabda kepada Mahānāma: “Upāsaka adalah seorang umat awam yang dengan jernih mengucapkan: ‘Hingga akhir hayatku, aku berlindung kepada Triratna sebagai upāsaka. Jadilah saksiku, [ya Bhadanta]!’ ”

—— Saṃyukta Āgama 《雜阿含經》, sutrā ke-929
(T. vol. 2, № 99 hlm. 237a)

Versi lain dari sūtra yang sama terdapat dalam koleksi saṃyukta lain dalam Tripiṭaka Tionghoa:
 
佛告釋摩男:「在家白衣,歸依三寶。以是義故,名優婆塞。汝即其人。」
Buddha bersabda kepada Śākya Mahānāma: “Umat awam berjubah putih yang berlindung kepada Triratna — inilah pengertian dari upāsaka. Engkau adalah salah satunya.”

—— Pieh-i Tsa a-han ching 《別譯雜阿含經》, sutrā ke-152
(T. vol. 2, № 100 hlm. 431b)




Dari kutipan sūtra di atas (atau varian bacaannya) timbullah perbedaan penafsiran apakah seseorang cukup menerima Tiga Perlindungan saja ataukah harus ditambah Lima Śīla untuk dapat dinamakan upāsaka. Perbedaan penafsiran yang terjadi sejak lama antara Vaibhāṣika–Sautrāntika, misalnya, tercatat dalam jilid 124 komentar besar abhidharma Sarvāstivādin, Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 645c).

Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa tidak ada upāsaka yang hanya menerima Tiga Perlindungan saja atau menerima Tiga Perlindungan dan beberapa śīla saja (tidak lengkap lima). Selain itu, menurut Vaibhāṣika substansi Śīla sudah terbentuk saat seseorang selesai mengucapkan Tiga Perlindungan. Pengucapan langkah latihan (śikṣāpada, yakni “saya mengambil langkah latihan untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup”, “saya mengambil langkah latihan untuk menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan”, dst.) hanya merupakan penegasan agar bentuk-bentuk disiplin yang diambil diketahui.

Tradisi sekolah Vinaya yang berlaku di Cina mengadopsi pemahaman Vaibhāṣika ini untuk menjelaskan momen di mana substansi Śīla terbentuk. Akan tetapi, Sekolah Vinaya di Cina juga sepaham dengan Sautrāntika bahwa pemberian Tiga Perlindungan saja atau pemberian śīla yang tidak lengkap kepada umat awam adalah boleh karena memang dengan jelas dinyatakan dalam Mahānāma Sūtra dan, terutama, dalam teks Upāsaka-śīla Sūtra yang telah dikutip sebelumnya.

Akhirnya marilah kita simak perbedaan pendapat yang tercatat dalam Mahāvibhāṣā:
 
 
———————————————————————————————
PERTANYAAN DARI VAIBHĀṢIKA KEPADA (PROTO-)SAUTRĀNTIKA
———————————————————————————————

健馱羅國諸論師言:「唯受三歸,及律儀缺減,悉成近事。」
Guru-guru śāstra dari Gandhara mengatakan: “Hanya menerima Tiga Perlindungan saja, dan tidak mengambil disiplin (saṃvara) sama sekali atau mengambil tidak lengkap — semuanya dinamakan upāsaka.”

問:若唯受三歸成近事者,契經文句,寧非無義?經說近事受律儀時,於戒師前作如是說:「我某甲歸佛法僧。願尊憶持!我是近事。我從今者,乃至命終,於其中間,護生歸淨。」
Tanya: Jika hanya menerima Tiga Perlindungan saja menjadikan seseorang upāsaka, bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa kalimat di dalam sūtra berikut bukanlah tanpa arti? Di dalam sūtra dikatakan: ketika seorang upāsaka menerima disiplin, di hadapan guru pembimbingnya ia berkata demikian, “Saya N. berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Kiranya Bhadanta memperhatikan dan memegang [pernyataan ini]! Saya adalah seorang upāsaka. Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, selama itu saya menjaga kehidupan (prāṇopeta) dan pergi berlindung dengan kemurnian¹.”

答:彼由此表但得三歸,名為近事,而未得律儀。後說學處,方得律儀。然彼文句,非為無義。由後自誓,令前三歸得堅牢故。若不護生,歸非淨故。
Jawab: Di sini maksudnya: hanya memperoleh Tiga Perlindungan saja sudah disebut upāsaka, walau belum memperoleh disiplin. Jika ia kemudian mengucapkan langkah latihan (śikṣāpada), barulah ia memperoleh disiplin. Kalimat dalam sūtra di atas memang bukan tanpa arti. Komitmennya di akhir memperkokoh Tiga Perlindungan yang diambil sebelumnya. Karena jika ia tidak menjaga kehidupan, ia pergi berlindung dengan tidak murni².

問:若缺減律儀成近事者,便為善順一分等言。所以者何?若受一,名一分;受二,名少分;受三、受四,名多分;具受五,名滿分故。云何不有律儀缺減勤策、苾芻等耶?
Tanya: Jika tanpa disiplin sama sekali atau disiplin tidak lengkap menjadikan seseorang upāsaka, maka akan bersesuaian dengan istilah “pelaksana satu-bagian” dsb. Mengapa demikian? Karena jika ia hanya menerima satu [bagian disiplin], ia disebut pelaksana satu-bagian (ekadeśakārin); jika ia menerima dua, ia disebut pelaksana sedikit-bagian (pradeśakārin); jika ia menerima tiga atau empat, ia disebut pelaksana banyak-bagian (yadbhūyaskārin); jika ia menerima lengkap kelimanya, ia disebut pelaksana sepenuh-bagian (paripūrṇakārin). Akan tetapi, mengapa tidak ada śrāmaṇera atau bhikṣu yang tanpa disiplin sama sekali atau disiplinnya tidak lengkap? [Yakni, tidak ada, misalnya, śrāmaṇera yang hanya mengambil dua atau tiga śīla saja, tetapi harus lengkap sepuluh śīla.]

答:佛觀所化,機宜不同。授與律儀,亦不一種。如諸近事不樂捨家。為攝引故,佛隨其意,於五學處,多少受得。故彼律儀有缺減受。苾芻、勤策意樂捨家。為安立故,制具律儀,具受乃得。故彼律儀無缺減受。以是世尊內眷屬故。
Jawab: Buddha mengamati bahwa makhluk-makhluk yang diajar-Nya memiliki kapasitas yang tidak sama. Maka dalam memberikan disiplin, juga bukan hanya satu jenis. Misalnya, para upāsaka yang tidak bergemar meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Untuk merangkul dan menarik mereka, Buddha mengikuti pikiran mereka: dalam menerima kelima langkah latihan, mereka boleh memperoleh berapa pun. Oleh sebab itu, terdapat mereka yang tanpa disiplin sama sekali atau menerima disiplin tidak lengkap.
Para bhikṣu dan śrāmaṇera pikirannya bergemar meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Demi membangun mereka, ditetapkanlah disiplin lengkap dan harus diterima seluruhnya barulah mereka memperolehnya. Oleh sebab itu, tidak terdapat mereka yang tanpa disiplin sama sekali atau menerima disiplin tidak lengkap karena mereka merupakan anggota keluarga (parivāra) Bhagavan.
 
 
———————————————————————————————
PERTANYAAN DARI (PROTO-)SAUTRĀNTIKA KEPADA VAIBHĀṢIKA
———————————————————————————————

迦濕彌羅國諸論師言:「無有唯受三歸,及缺減律儀,名為近事。」
Guru-guru śāstra dari Kāśmīra mengatakan: “Bukan dengan menerima Tiga Perlindungan saja, dan tanpa mengambil/mengambil tidak lengkap disiplin (saṃvara), seseorang dinamakan upāsaka.”

問:若爾,契經寧非無義?如說:「我某甲歸佛、法、僧,乃至廣說。」
Tanya: Jika demikian, bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa kalimat di dalam sūtra bukanlah tanpa arti? Seperti yang disebutkan di atas, “Saya N. berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha dst.”

答:彼由此表既得三歸,亦得律儀,故成近事。
Jawab: Di sini maksudnya: seketika ia memperoleh Tiga Perlindungan, ia juga sekaligus memperoleh disiplin; maka ia menjadi upāsaka.

問:此唯自誓離於殺生。云何由此,具得五種?
Tanya: Ini hanya komitmennya sendiri untuk meninggalkan pembunuhan makhluk hidup. Bagaimanakah dari sini ia memperoleh lengkap lima jenis?

答:由此自誓離殺為依,五種律儀亦俱時得。五學處中,彼為勝故。以受戒者,為不損生。於損生中,殺為上首。故以離殺為五所依。
又護生言,非唯離殺,謂不損惱一切有情。彼自誓言:「我從今者,乃至命盡,於諸有情,不害其命、不盜其物、不侵其妻、不行虛誑。為護前四,亦不飲酒。」故護生言,非唯離殺。
然有別誦言捨生者。此言意說捨殺生等。略去等,但說捨生。又捨生言,顯於生類,捨損惱事,即五律儀,皆為遮防損生事故。由此自誓,方得律儀。故彼契經非為無義。
Jawab: Dari komitmennya sendiri untuk meninggalkan pembunuhan, lima jenis [bagian] disiplin diperoleh lengkap dalam seketika karena, di antara kelima langkah latihan (śikṣāpada), itulah yang terutama. Menerima śīla adalah demi tidak menyakiti mahkluk hidup. Di antara segala bentuk menyakiti makhluk hidup, membunuh merupakan yang terutama. Oleh sebab itu, meninggalkan pembunuhan menjadi tumpuan kelima [bagian disiplin].
Selain itu, menjaga kehidupan (prāṇopeta) bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan, tetapi juga tidak menyebabkan gangguan pada semua makhluk. Maka ia [sebenarnya] berkomitmen sendiri, “Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, terhadap semua makhluk, aku tidak akan mencelakaï hidupnya, tidak akan mencuri miliknya, tidak akan berzinah dengan istrinya, tidak akan mendustaïnya. Demi menjaga keempat hal ini, aku juga tidak akan meminum minuman keras.” Oleh sebab itu, menjaga kehidupan bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan.
Di samping itu, ada juga varian bacaan “melepas kehidupan” (prāṇāpeta). [Yakni, varian untuk klausa sūtra di atas, “selama itu saya menjaga kehidupan ...” — klausa tambahan ini ataupun varian bacaannya tidak terdapat pada Mahānāma Sūtra dalam koleksi-koleksi saṃyukta Tionghoa.]³ Maksudnya adalah “melepas pembunuhan kehidupan” (prāṇātipātāpeta). “Pembunuhan” disingkat di sini dan hanya diucapkan “melepas kehidupan”. Melepas kehidupan berarti: terhadap segala yang berkehidupan, ia melepas segala bentuk gangguan. Kelima [bagian] disiplin semuanya adalah demi mencegah menyakiti mahkluk hidup. Dari komitmennya sendiri ini, maka ia memperoleh disiplin. Oleh sebab itu, kalimat di dalam sūtra ini bukanlah tanpa arti.

問:若唯自誓便得律儀,何故復說五種學處?
Tanya: Jika hanya berkomitmen sendiri disiplin diperoleh, mengapakah lima langkah latihan diucapkan lagi?

答:雖由自誓已得律儀,而未了知彼差別相。欲令知故,說五學處。故彼所說,皆非無義。
Jawab: Meskipun dari komitmennya sendiri seseorang telah memperoleh disiplin, namun bentuk-bentuk disiplinnya belum diketahui. Untuk membuatnya diketahui, maka lima langkah latihan diucapkan. Oleh sebab itu, [lima langkah latihan] yang diucapkannya, bukanlah tanpa arti.

問:若爾,何故說有一分等鄔波索迦耶?
Tanya: Jika demikian, lantas mengapakah ada yang disebut upāsaka “pelaksana satu-bagian” dsb.?

答:此說持位,非說受位。謂於五中,持一不持四,名一分;持二不持三,名少分;持三持四,名多分;具持五,名滿分。
Jawab: Ini menyatakan pokok-pokok yang sanggup dipegangnya, bukan pokok-pokok yang diterimanya. Di antara lima [bagian disiplin], jika ia memegang satu dan tidak memegang empat, ia disebut pelaksana satu-bagian; jika ia memegang dua dan tidak memegang tiga, ia disebut pelaksana sedikit-bagian; jika ia memegang tiga atau empat, ia disebut pelaksana banyak-bagian; jika ia memegang lengkap lima, ia disebut pelaksana sepenuh-bagian.






CATATAN:

¹ Kalimat ini memiliki nuansa dalam penafsiran. Teks Cinanya tampaknya sengaja diterjemahkan demikian, mengikuti sudut pandang Vaibhāṣika. Pemahaman Sautrāntika atas kalimat ini mungkin berbeda.
Selama itu saya menjaga kehidupan — Atau bisa juga berarti ‘selama saya memiliki kehidupan’, yakni seumur hidup si pemohon.
Dengan kemurnian — Skt. abhi-prasanna. Dalam teks-teks Buddhis prasanna/prasāda memang memiliki makna ‘kegembiraan’, ‘kebajikan’, ‘kemurnian’, atau ‘keyakinan’ (lihat sebuah sūtra dalam Ekottara Āgama yang membahas istilah yang berkaitan, agra-prasāda); sehingga frase ini bisa juga berarti ‘dengan penuh keyakinan’.
Keseluruhan kalimat dapat dimengerti sebagai: Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, selama saya memiliki kehidupan, saya pergi berlindung dengan penuh keyakinan.

² Maksud Sautrāntika mungkin: Karena jika tidak selama ia memiliki kehidupan (= jika tidak seumur hidupnya), ia pergi berlindung bukan dengan penuh keyakinan.

³ Teks Pāli SN LV.4: 37 dan AN VIII.3: 5 pun — seperti dalam koleksi-koleksi saṃyukta Tionghoa — juga tidak memuatnya. Kaum Vaibhāṣika sepertinya salah mengutip sumber. Pendapat bahwa terdapat suatu versi Mahānāma Sūtra dengan klausa tambahan tersebut disanggah oleh kaum Sautrāntika (lihat Abhidharmakośa Bhāṣya bab IV: 31).

Pada umumnya Mahānāma Sūtra hanya berbunyi sbb.:

“Yataśca, Mahānāma, gr̥hī avadātavasanaḥ puruṣaḥ puruṣendriyeṇa samanvāgato buddhaṃ śaraṇaṃ gacchati, dharmaṃ saṃghaṃ śaraṇaṃ gacchati, vācaṃ ca bhāṣate: ‘Upāsakaṃ ca māṃ dharaya’ — iyatā upāsako bhavati.”
(Padanan Pālinya: “Yato kho, Mahānāma, buddhaṃ saraṇaṃ gato hoti, dhammaṃ saraṇaṃ gato hoti, saṅghaṃ saraṇaṃ gato hoti — ettāvatā kho, Mahānāma, upāsako hoti.”)
dan tidak memiliki klausa tambahan dengan prāṇopeta. (Kaum Vaibhāṣika bahkan lebih jauh mengatakan bahwa pada salinan Mahānāma Sūtra tertentu terbaca prāṇāpeta sebagai varian.)

Walau demikian, Pernyataan sebagai Upāsaka dengan rumusan klisé prāṇopeta sesungguhnya dapat dijumpaï dalam banyak sūtra lain, dan umumnya berbunyi:

“Eṣo ‘haṃ bhagavantam buddhaṃ śaraṇaṃ gacchāmi, dharmaṃ ca bhikṣusaṃghaṃ ca. Upāsakaṃ ca māṃ dhāraya adyāgreṇa yāvajjīvaṃ prāṇopetaṃ śaraṇaṃ gatam abhiprasannam.”
(Padanan Pālinya dapat dijumpaï, misalnya, di akhir Sigālovāda Sutta yang terkenal: “Esāhaṃ, Bhante, bhagavantaṃ saraṇaṃ gacchāmi, dhammañ ca bhikkhusaṅghañ ca. Upāsakaṃ maṃ, Bhagavā, dhāretu ajjatagge pāṇupetaṃ saraṇaṃ gatanti.”)
Rumusan di atas biasanya dimengerti sebagai: “Saya berlindung kepada Bhagavan, sang Buddha; serta kepada Dharma dan Bhikṣu-saṅgha. Peganglah [pernyataan ini] bahwa saya adalah upāsaka yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, seumur hidup pergi berlindung dengan penuh keyakinan.”

⁴ Jadi, dalam pemahaman kaum Vaibhāṣika, yang disebut ekadeśakārin, pradeśakārin, dan yadbhūyaskārin semuanya telah menerima lima śīla lengkap. Yang membedakan mereka adalah: masing-masing hanya ketat dalam memegang satu (atau beberapa) śīla tertentu, sementara śīla-śīla lainnya lebih banyak mereka langgar.