Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label sambhara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sambhara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Maret 2022

Śīla adalah Vas yang Mampu Menampung Segala Kebajikan yang Terkumpul


福資糧者,謂:施、戒、忍,三種加行;
Perbekalan jasa meliputi tiga jenis praktik pendahuluan (prayoga): derma, moralitas, kesabaran;

智資糧者,謂:精進、靜慮、及聞慧等。
perbekalan pemahaman meliputi: pemajuan semangat, pengheningan cipta, dan kebijaksanaan berkat mendengar.

—— Mahāyāna-saṅgraha Upanibandhana 《攝大乘論釋》
(T. vol. 31, № 1598 hlm. 417b)


Nidhikaṇḍa Sutta Pāli, yang pernah kita kutip sebelumnya, menyatakan bahwa simpanan jasa-jasa diperlukan dalam meraih segala kebahagiaan — bukan hanya dalam pencapaian manusiawi dan kesenangan alam surgawi, bahkan hingga Pencerahan dari ketiga Kendaraan. Teks-teks Mahāyāna mengistilahinya dengan ‘perbekalan’ (saṃbhāra). Di jilid 8 Candrapradīpa Samādhi 《月燈三昧經》 (T. vol. 15, № 639 hlm. 603a), atau lebih dikenal dengan judul Samādhirāja Sūtra, Guru Dharma Supuṣpacandra 善花月法師 mengucapkan gāthā bagi para bodhisattva:

「為求菩提修勝因  積集福德及智慧
 習學彼故常修行  為欲救濟眾生故」

 “Demi mencari Bodhi, [para Tathāgata masa lampau] mengembangkan sebab yang unggul,
 menumpuk himpunan kebajikan-jasa dan kebijaksanaan-menuju-pemahaman.
 Belajar [meneladani] mereka, karenanya senantiasalah berlatih praktik
 demi menghendaki tertolongnya makhluk-makhluk hidup.”

Pengarang risalah (śāstra) berbeda-beda memiliki pertimbangan berbeda-beda untuk mengelompokkan pāramitā-pāramitā mana yang tergolong perbekalan jasa (puṇya saṃbhāra) dan mana yang tergolong perbekalan pemahaman (jñāna saṃbhāra) dalam penyempurnaannya. Yang sederhana adalah membagi berurutan tiga-tiga seperti dalam karya Upāsaka Asvabhāva 無性菩薩 yang menjelaskan Mahāyāna Saṅgraha di atas. Pembagian demikian juga dapat dijumpaï di bab I-26 Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 172b):

欲成佛道,凡有二門:
Hendak mencapai Pencerahan Buddha, ada dua pintunya:
一者、福德, 1. Pintu kebajikan-jasa,
二者、智慧。 2. Pintu kebijaksanaan-menuju-pemahaman.

行施、戒、忍是為福德門;知一切諸法實相,摩訶般若波羅蜜,是為智慧門。
Melaksanakan derma, moralitas, kesabaran merupakan pintu kebajikan-jasa; mengetahui karakteristik sejati segala dharma, MAHĀPRAJÑĀPĀRAMITĀ, merupakan pintu kebijaksanaan-menuju-pemahaman.

菩薩入福德門,除一切罪,所願皆得;若不得願者,以罪垢遮故。
Seorang bodhisattva yang memasuki pintu kebajikan-jasa akan melenyapkan segala dosa, akan mendapatkan segala yang diharapnya; jikalau apa yang diharap tidak didapat, ialah dikarenaï terhambat kekotoran dosa.

入智慧門,則不厭生死、不樂涅槃,二事一故。今欲出生摩訶般若波羅蜜,般若波羅蜜要因禪定門,禪定門必須大精進力。
Saat memasuki pintu kebijaksanaan-menuju-pemahaman, maka takkanlah ia enggan akan saṃsāra, takkanlah ia bergemar akan Nirvāṇa, sebab keduanya adalah satu. Kini jikalau dikehendakinya MAHĀPRAJÑĀPĀRAMITĀ terbit, Prājñā Pāramitā mestilah disebabi oleh pintu semedi (Dhyāna), pintu semedi itu tentulah memerlukan kekuatan pemajuan semangat (Vīrya).

Baik dalam pengelompokan pāramitā secara di atas ataupun secara lain, penyempurnaan Śīla Pāramitā biasanya digolongkan sebagai pengumpulan perbekalan jasa. Oleh karena itu, mustahillah pāramitā-pāramitā lain dapat sempurna jikalau kita tidak memiliki Śīla dan, dengan demikian, kekurangan jasa.


Dalam Mahāyāna Śīla Sūtra 《佛說大乘戒經》 (juga disebut Śīla Saṃyukta Sūtra, T. vol. 24, № 1497 hlm. 1104a–b), Śīla diibaratkan sebagai sebuah vas kebajikan (bhadra ghaṭa), yaïtu vas ajaib yang mampu mengeluarkan permata. Jikalau vas itu tiada, bukan saja takkan muncul permata-permata baru, permata-permata yang sudah ada juga akan berantakan. Selengkapnya:

若持戒人成就一切法寶,譬如賢瓶,圓滿堅固,能盛一切珍寶;如是破損,珍寶散失。若破律儀,則捨一切善法。
Jikalau seseorang memegang Śīla, akan berhasillah ia dalam segala permata Dharma ibarat vas kebajikan yang penuh kukuh mampu menampung segala permata berharga; jikalau pecah dan rusak, permata-permata berharga itu akan hilang terserak. Jikalau seseorang memecah disiplin (saṃvara), maka terlepaslah segala dharma yang baik darinya.

Rabu, 30 Oktober 2019

Bersandar pada Prātimokṣa merupakan Cara Membalas Budi Buddha


大師將涅槃  慈父有遺囑
四念處修道  當依木叉住

Menjelang nirvāṇa-Nya, sang Guru Agung,
sang Bapa yang Penyayang, mewasiatkan:
“Berlatihlah dalam Empat Penempatan Perenungan,
berdiamlah dalam sandaran [Prāti]mokṣa.”

—— Kuan-hsin lun 《觀心論》
(T. vol. 46, № 1920 hlm. 584b)


Guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ, menyusun dalam bentuk gāthā Kuan-hsin lun (‘Risalah Pengamatan Batin’), guna membahas wejangan terakhir Buddha untuk berlatih dengan bersandar pada Empat Penempatan Perenungan (catuḥ smr̥tyupasthāna) dan berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa Saṃvara. Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ 灌頂, muridnya, membuat komentar atas risalah ini, 《觀心論疏》 (T. № 1921). Ia menjelaskan penerapan Smr̥tyupasthāna & Prātimokṣa dalam Kendaraan Kecil dan, terutama, dalam Kendaraan Besar. Walau terlihat singkat, namun kedua Dharma yang diwejangkan Buddha ini pada prinsipnya mencakup segala Pintu Dharma. Smr̥tyupasthāna, yang esensinya adalah kebijaksanaan, ibarat mata. Sedangkan Prātimokṣa, yang esensinya adalah moralitas, ibarat kaki. Dengan mengembangkan pembebasan (vimokṣa) melalui Smr̥tyupasthāna, seseorang mengumpulkan hiasan pemahaman (jñāna saṃbhāra). Dengan mengembangkan aktivitas (caryā) melalui Prātimokṣa, seseorang mengumpulkan hiasan jasa (puṇya saṃbhāra).

Mulaï bait ketiga dst. Cʜɪʜ-ɪ menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak dapat kita identifikasi sumbernya (barangkali dikutip dari suatu avadāna). Komentar Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ (hlm. 589c) amat membantu memperjelas: Dahulu terdapatlah seorang raja yang sedang berpelesir dan merasa lelah. Ia hampir tertidur di tengah rerumputan. Seekor ular hendak memagutnya. Tatkala itu adalah seekor gagak putih yang mematuki sang raja untuk membangunkannya. Raja tersadar dan sesudahnya segera kembali ke istana. Dititahkannya para menterinya mencari gagak putih itu untuk membalas budinya. Para menteri menjawab: “Jikalau secara khusus kita mencari gagak putih, kita takkan dapat menemukannya. Apabila Raja berderma saja kepada segala gagak biasa secara universal, bukankah itu sama dengan membalas budi sang gagak putih?”

Gagak putih mengumpamaï para suci (ārya), khususnya Buddha. Gagak biasa mengumpamaï makhluk biasa (pr̥thagjana). Ular berbisa mengumpamaï ketiga racun: rāga, dveṣa, dan moha. Sedangkan raja mengumpamaï praktisi kebanyakan, yang terdiri atas empat kelompok siswa-siswi. Buddha berupaya mencerahkan kita agar terhindar dari gigitan ketiga racun kleśa. Sudah sepatutnya kita berterimakasih dan berupaya membalas budi-Nya. Akan tetapi, sebagai praktisi kebanyakan yang belum mengkontemplasikan kebijaksanaan melalui Smr̥tyupasthāna, kita melekat pada trikotomi bahwa Buddha, makhluk lain, dan diri sendiri adalah berbeda. Dalam berderma kita memilah-milah benih secara tidak samarata, untuk ditanam di ladang yang subur (para suci) atau yang kurang subur (makhluk biasa). Ini seperti raja yang bingung memutuskan untuk berderma kepada gagak putih atau gagak hitam.

Kebalikannya dapat kita lihat pada Bodhisattva Sadāparibhūta 常不輕 yang, dikisahkan dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra, memiliki keyakinan sempurna sehingga tidak pernah meremehkan makhluk mana pun, dan bernamaskāra kepada semua orang seraya berkata: “Anda sekalian adalah Buddha!” Upāsaka Vimalakīrti 維摩詰 juga membagi kalung berumbai yang diterimanya, lalu mendermakannya kepada pengemis terhina di kota dan kepada Tathāgata Duṣprasaha secara samarata. Mengapakah para bodhisattva dapat bertindak sedemikian? Karena mereka telah berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa sehingga tidak lagi membuat pembedaan ladang yang subur dan yang kurang subur. Bahkan tiada lagi pembedaan antara diri sendiri dengan orang lain. Semua ladang adalah baik; membina diri sendiri sama dengan menghantarkan semua makhluk menuju Kebuddhaan.


Maka Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ selanjutnya (hlm. 590a) mengomentari:

經云:「依教修行,名報佛恩。」能助佛宣化,亦名報於聖恩。
Sūtra mengatakan: “Berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.” Mampu membantu Buddha menyebarkan pengajaran-Nya pun termasuk membalas budi kepada para suci.

而今行者依念處觀慧、依木叉而住,即是依教修行,名報佛恩。
Sekarang, seorang praktisi yang mengkontemplasikan kebijaksanaan dengan bersandar pada Smr̥tyupasthāna, yang berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa, adalah telah berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, dan dapat dinamakan membalas budi Buddha.

復能以己之行,化導一切眾生,即是普施烏鴉之食,能報白鴉之恩也。
Dan lagi ia, yang dengan praktik pribadinya mampu merubah dan membimbing semua makhluk, telah secara universal memberi makan segala gagak biasa, dan dapat membalas budi sang gagak putih.