Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Kitab 500 Pertanyaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab 500 Pertanyaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2018

6. Re-akseptansi 重受

Ⓥ:不重受。
  Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

Ⓢ:開重受。

  Didispensasikan menerima-ulang.



Masalah lain yang menjadi pokok pertentangan antara Vaibhāṣika dengan Satyasiddha adalah re-akseptansi atau penerimaan-ulang disiplin yang sama. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ④ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mewakili pandangan klasik Vaibhāṣika. Pada orang yang pernah mengambil Lima Śīla, dalam dirinya sudah terbentuk substansi Lima Śīla sehingga ia tidak dapat menerimanya lagi (kecuali jika ia sengaja melepas dahulu substansi yang sudah ia ambil). Jika ia melanggar Śīla, maka yang mesti dilakukannya — sama seperti pelaksana segala tipe disiplin Prātimokṣa lain — seharusnya adalah menjalani pengakuan (āpattideśanā) dan bukan mengambil Lima Śīla kembali. Mengambil Lima Śīla berulang-ulang, seperti yang dipraktikkan dalam “kebaktian yang dihadiri bhikkhu” mazhab tertentu, adalah hal yang sia-sia sebab pelanggaran yang sudah dilakukan takkan termurnikan. Pun substansi Śīla yang semula tidak serta-merta tergantikan dengan substansi yang baru.

Dalam pembahasan kita di awal sekali telah disinggung, walaupun melalui ritual formal yang dipimpin oleh guru yang kredibel, terbentuknya substansi Śīla dalam diri seorang pemohon juga masih sulit. Śīla tidak diperoleh dengan sekadar mengucap ikrar, tanpa didasari kehendak yang kuat. Maka hanya mengulang-ulang permohonan Lima Śīla dalam kebaktian yang berjalan mekanis bukan saja tak dapat menggantikan substansi Lima Śīla yang semula (jika sudah ada dalam diri kita), bahkan avijñapti baru pun belum tentu terbentuk sebab hanya perbuatan yang didasari dorongan kehendak yang kuatlah yang membentuk avijñapti.

Kesériusan kehendak sangat menentukan derajat avijñapti yang akan terbentuk: bisa lemah (mr̥du), menengah (madhya), atau kuat (adhimātra). Avijñapti yang menjadi substansi disiplin Prātimokṣa akan bertahan sampai akhir hayat kita. Sekali terbentuk, menurut Vaibhāṣika, tidak ada cara untuk memodifikasi avijñapti tersebut. Oleh sebab itu, kita harus sangat bersungguh-sungguh ketika mengambil sebuah disiplin. Idealnya kehendak kita semakin kuat saat mengambil disiplin yang lebih tinggi sehingga avijñapti yang terbentuk juga lebih unggul. Kalau avijñapti yang terbentuk saat mengambil Lima Śīla asor, maka diharapkan avijñapti yang terbentuk saat mengambil Sepuluh Śīla madya, dan saat mengambil Upasaṃpanna Śīla unggul.

Sebelumnya telah diterangkan bahwa pada saat mengambil disiplin yang lebih tinggi, substansi disiplin yang lebih rendah akan bergabung dan ko-eksis berbarengan. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā meyakini bahwa dalam ko-eksistensi tersebut terjadi persatuan di mana yang lebih rendah menjadi komponen integral pembentuk yang lebih tinggi (T. vol. 23, hlm. 508b–c):

又五戒中亦有三品:若微品心受戒,得微品戒;若中品心受戒,得中品戒;若上品心受戒,得上品戒。十戒、具戒亦各有三品,如五戒說。
Pun dalam Lima Śīla ada tiga derajat:
① apabila dengan buah-pikir (=kehendak) yang lemah seseorang mengambil Śīla (=disiplin), maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang asor;
② apabila dengan buah-pikir menengah ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang madya;
③ apabila dengan buah-pikir yang kuat ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang unggul.
Sepuluh Śīla dan Upasaṃpanna Śīla masing-masing juga memiliki tiga derajat seperti Lima Śīla.

若微品心受戒,得五戒已,後以中、上品心受十戒者,先得五戒更無增無勝。
Jika setelah dengan buah-pikir yang lemah seseorang mengambil dan memperoleh Lima Śīla, kemudian dengan buah-pikir menengah atau kuat ia mengambil Sepuluh Śīla, maka 5 śīla (=langkah latihan) yang ia peroleh sebelumnya tidak meningkat atau menjadi unggul.

於五戒外,乃至 “不非時食” 等殘餘五戒,得增上五戒;先得五戒仍本微品也。
Di luar 5 langkah latihan ini, untuk 5 langkah latihan sisanya [per Sarvāstivāda Vinaya — dari “tidak berbaring di ranjang yang tinggi atau mewah”] hingga “tidak makan bukan pada waktunya”, akan diperolehnya [substansi] yang lebih unggul; sedangkan [substansi untuk] 5 langkah latihan yang ia peroleh sebelumnya tetap asor seperti semula.

即先微品五戒更無增無勝,仍本五戒;自五戒外一切諸戒,以受具戒時,心增上故,得增上戒。
Jadi, 5 langkah latihan sebelumnya yang asor tidak meningkat atau menjadi unggul lagi, namun tetap seperti [saat ia mengambil] Lima Śīla semula. Di luar kelimanya, untuk segala langkah latihan lain, hingga yang ia peroleh saat mengambil Upasaṃpanna Śīla, — berkat keunggulan buah-pikirnya kini — adalah [substansi] yang lebih unggul.

以是義推:波羅提木叉戒無有重得。
Dari prinsip ini disimpulkan: Prātimokṣa Saṃvara tidak mengenal adanya perolehan-ulang.

Istilah perolehan lebih tepatnya adalah pembentukan sebab sesungguhnya avijñapti tidak diperoleh dari siapa pun, melainkan terbentuk berkat kesériusan kehendak kita sendiri. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa berpendapat lebih jauh bahwa avijñapti suatu disiplin bukan saja tidak terbentuk-ulang jika kita menerima kembali disiplin yang sama, avijñapti tersebut bahkan juga tidak terbentuk-ulang (tidak dapat ditingkatkan) saat kita mengambil disiplin yang lebih tinggi dengan buah-pikir lebih kuat. Jadi, dalam substansi disiplin tinggi yang lebih unggul terdapat komponen yang lebih asor, yang berasal dari substansi disiplin rendah. Karena tidak mungkin terjadi re-kreasi atau pembentukan-ulang — bahkan sewaktu mengambil disiplin yang lebih tinggi — maka tidak perlu juga ada re-akseptansi untuk disiplin yang sama.






Bagaimanakah pandangan Bhadanta Harivarman? Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 〈七善律儀品〉 (T. vol. 32, hlm. 303b) ia hanya mengatakan:

問曰:律儀幾時可得?
Tanya: Berapa lamakah disiplin dapat diperoleh (=dibentuk-ulang)?

答曰:有人受一日戒,是初律儀;
Jawab: Ada orang yang mengambil Śīla untuk sehari (Delapan Śīla) — inilah disiplin yang pertama;

即日受優婆塞戒,是第二律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upāsaka Śīla — inilah disiplin kedua;

即日出家作沙彌,是第三律儀;
pada hari yang sama ia meninggalkan rumah-tangga dan menjadi śrāmaṇera — inilah disiplin ketiga;

即日受具足戒,是第四律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upasaṃpanna Śīla — inilah disiplin keempat;

即日得禪定,是第五律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi dhyāna — inilah disiplin kelima;

即日得無色定,是第六律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi tanpa-materi (ārūpya samāpatti) — inilah disiplin keenam;

即日得無漏,是第七律儀。
pada hari yang sama ia memperoleh [buah-pikir] bebas-kebocoran — inilah disiplin ketujuh.

隨得道果,處更得律儀。而本得不失,但 “勝者” 受名。
[Seterusnya] seturut diperolehnya Jalan dan Buah, di setiap tingkat kesucian ia memperoleh (=membentuk) -ulang disiplinnya. [Substansi] yang diperolehnya (=dibentuknya) semula tidak hilang, namun menerima sebutan “lebih unggul”.

Jadi, menurut Bhadanta Harivarman, saat memperoleh/membentuk substansi disiplin tinggi yang unggul, komponen-komponennya pun seharusnya terbentuk unggul. Pandangan pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa malah akan membuat kita merasa janggal. Sebagai contoh, ketika mengikuti upacara pravrajyā, seorang upāsaka tentu akan berusaha membangkitkan buah-pikir kuat secara samarata dalam mengambil seluruh 10 langkah latihannya. Tidak mungkin setelah menjadi śrāmaṇera ia hanya sérius berpantang makan selewat waktunya dan asal-asalan berpantang membunuh karena avijñapti-nya asor saat menjadi upāsaka — padahal kini ia telah membangkitkan buah-pikir kuat dalam mengambil seluruh langkah latihan, baik untuk pantang membunuh maupun pantang makan selewat waktunya.¹

Lantas bagaimana kaum Satyasiddha bisa berpendapat bahwa re-akseptansi atau pengambilan-ulang disiplin yang sama diperbolehkan? Bhadanta Harivarman hanya membahas re-kreasi sebuah disiplin sewaktu mengambil tipe disiplin lain yang lebih tinggi. Hal itu tentu saja terjadi dengan asumsi klasik bahwa buah-pikir yang dibangkitkan lebih kuat sewaktu mengambil disiplin baru. Akan tetapi, jikalau kita baca lebih teliti di akhir petikan di atas, sebenarnya re-kreasi terjadi pula untuk disiplin yang sama.

Anasrāva Saṃvara merupakan disiplin yang dicontohkannya mengalami re-kreasi. Tidak seperti kelompok siswa-siswi Buddhis berbeda memiliki tipe-tipe Prātimokṣa Saṃvara yang berbeda, para ārya dari berbagai tingkat kesucian memiliki Anasrāva Saṃvara yang satu esensinya. Saat seorang ārya merealisasi tingkat kesucian yang lebih unggul, Anasrāva Saṃvara-nya otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul. Hal yang sama terjadi pula pada Dhyānaja Saṃvara, yang otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul saat seorang dhyāyin mencapai dhyāna yang lebih tinggi.

Dalam hal Prātimokṣa Saṃvara sendiri, disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan. Namun, bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Upāsaka yang hanya mengambil satu atau beberapa langkah latihan pun memperoleh substansi disiplin yang satu esensinya dengan yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Substansi disiplin seorang ekadeśakārin, misalnya, akan terbentuk-ulang saat ia membangkitkan buah-pikir hendak menyempurnakan disiplinnya. Penyempurnaan terjadi dengan mengambil langkah-langkah latihan tambahan — tentu dengan asumsi bahwa buah-pikir yang dibangkitkannya lebih kuat. Akan tetapi, seandainya ia masih ingin tetap menjadi ekadeśakārin, lalu mengambil-ulang satu langkah latihan yang sama, hanya saja dengan buah-pikir yang lebih kuat kali ini, tidakkah itu juga termasuk penyempurnaan disiplin? Maka menurut Satyasiddha re-akseptansi adalah boleh dan sangat mungkin terjadi asalkan dilakukan dengan buah-pikir yang lebih kuat.






CATATAN:

¹ Pengecualian adalah apabila kita mengikuti pendekatan Vasubandhu, yang berpendapat bahwa dalam ko-eksistensi beberapa tipe disiplin terjadi keterpisahan mutlak masing-masing disiplin. Dengan demikian terdapat langkah latihan dobel dari dua disiplin berbeda, misalnya: pantang membunuh. Akan tetapi, yang akan kita laksanakan adalah dari disiplin tinggi yang lebih unggul. Lihat ilustrasi di sini.⤴

Minggu, 02 Desember 2018

2. Gradualitas 漸頓

Ⓥ:不具受不得戒。
  Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

Ⓢ:不具受得戒。

  Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.



Polemik mengenaï boleh tidaknya mengambil śīla sebagian saja (khususnya bagi umat awam) telah terjadi jauh sebelum dituliskannya komentar besar abhidharma Sarvāstivāda, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545), pada Konsili Buddhis keempat di abad I. Dalam mazhab Mahāsāṅghika pengambilan hanya satu atau beberapa langkah latihan diperbolehkan, sebagaimana tercermin di Vinaya Piṭaka-nya. Dalam mazhab Sarvāstivāda sendiri terdapat silang-pendapat sejak lama antara Sarvāstivāda cabang Kashmir dengan cabang Gandhara. Perdébatan antara keduanya sudah pernah dibahas dan tidak perlu kita ulangi lagi secara mendetail di sini.

Sarvāstivādin Kashmir berpendapat bahwa tiada pengambilan tidak lengkap disiplin bagi upāsaka, sama seperti tiada pengambilan hanya satu atau dua langkah latihan saja (tidak lengkap sepuluh) bagi śrāmaṇera. Sedangkan menurut Sarvāstivādin Gandhara (yang pandangannya di kemudian hari diteruskan oleh Sekolah Sautrāntika) hal itu memang diperbolehkan di dalam sūtra dan merupakan keunikan dari disiplin upāsaka. Bahkan terdapat upāsaka yang tidak mengambil disiplin sama sekali dan cuma menyatakan diri berlindung kepada Triratna.

Bhadanta Harivarman juga menyetujui pengambilan sebagian, baik untuk Lima Śīla maupun Delapan Śīla. Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:有人言:「具受則得戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Harus menerima lengkap barulah memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:隨受多少,皆得律儀,但取要有五。
Jawab: Seberapa pun yang diterima, semuanya memperoleh Saṃvara. Esensi yang diambil tetapi [berlangkah] lima.

Disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan (śikṣāpada), namun bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Orang yang mengambil sebagian pun memperoleh disiplin yang satu esensinya dengan orang yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Untuk menyempurnakannya, ia dapat mengambil langkah-langkah latihan sisanya. Dengan kata lain, sistem Satyasiddha mengenal adanya gradualitas atau kemeningkatan status seorang upāsaka.

Dalam Kanon Pāli kita pun dapat melihat contoh upāsaka yang berupaya meningkatkan statusnya. Upāsaka Gavesī, seorang aparipūrakārī (tanpa disiplin) yang hidup di zaman Buddha Kassapa, mengambil lengkap Lima Śīla demi mengungguli 500 upāsaka kawan-kawannya, dan menjadi seorang paripūrakārī (pelaksana sepenuh-bagian). Kawan-kawannya termotivasi oleh tindakannya dan, akhirnya, mengikutinya menjadi paripūrakārī. Lihat kisah selengkapnya di Gavesī Sutta (AN V.18: 10).

Maka petikan dari Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya cukuplah berdasar:

若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?
Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi?

Jadi, dengan mengambil langkah-langkah latihan lagi, status keupāsakaan seseorang meningkat (yakni, substansi disiplinnya semakin sempurna). Ini membuktikan bahwa ia yang sebelumnya mengambil satu atau beberapa langkah latihan saja juga sudah memperoleh Prātimokṣa Saṃvara.


Selanjutnya muncul pertanyaan apakah boleh dari lima guru menerima lima langkah latihan, masing-masing satu. Hal ini tidak dibahas dalam Satyasiddhi Śāstra, tetapi pada pertanyaan ⑦ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan Vimalākṣa membolehkannya. Jawabannya ini tidak bertentangan dengan prinsip Satyasiddha (sebab Vimalākṣa memang membolehkan pengambilan langkah latihan tidak lengkap).

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa orang yang mengambil lengkap lima langkah latihan bukan berarti memiliki lima jenis disiplin. Dalam posting sebelumnya pernah kita bahas bahwa disiplin yang lebih unggul akan mengatasi disiplin yang asor. Pada saat seorang ekadeśakārin, yang sudah mengambil satu langkah latihan dari seorang guru, mengambil sebuah langkah latihan lagi dari guru kedua, bukan berarti bahwa kini ia memiliki dua jenis disiplin berbeda; tetapi, di dalam avijñapti yang baru, substansi disiplinnya yang lama akan bergabung sebagai komponen substansi dari satu kesatuan disiplin pradeśakārin. Demikian pula apabila ia kemudian mengambil langkah latihan lagi dari guru ketiga, di dalam avijñapti yang baru lagi, substansi disiplin pradeśakārin-nya akan bergabung sebagai komponen substansi disiplin yadbhūyaskārin, dst. (Agar lebih jelas, lihat ilustrasi di akhir.)

Senin, 20 Agustus 2018

Kedudukan Pelaksana Delapan Śīla dalam Masyarakat Buddhis

Di manakah kedudukan pelaksana Delapan Śīla dalam masyarakat Buddhis? Soal–jawab dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 508c–509a) berikut dapat memperjelas:

問曰:夫以齋法過中不食,乃有九法。何故八事得名?
Tanya: Aturan Puasa (upavāsa), yang tidak makan selepas tengah hari, sebetulnya ada sembilan. Mengapakah namanya hanya disebut berunsur delapan?

答曰:齋法以過中不食為體,以八事助成齋體,共相支持,名八支齋法。是故!言八齋,不云九也。
Jawab: Aturan Puasa terdiri atas tidak makan selepas tengah hari sebagai batang tubuhnya serta delapan unsur pendukung yang menjadi anggota, yang bersama-sama menyusun tubuh upavāsa, sehingga dinamakan Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṣṭāṅga samanvāgata upavāsa śīla). Oleh karenanya dikatakan Puasa berunsur delapan, bukan sembilan!

若受八戒人,於七眾中,為在何眾?
Di antara ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis], orang yang menerima Delapan Śīla termasuk kelompok mana?

雖不受終身戒,以有一日一夜戒故,應名優婆塞。
Meskipun tidak menerima disiplin seumur hidup, namun karena disiplinnya untuk sehari semalam, semestinya mereka dinamakan upāsaka.

有云:「若名優婆塞,無終身戒。若非優婆塞,有一日一夜戒。」但名“中間人”。
Ada yang mengatakan: “Jikalau mereka disebut upāsaka, mereka tidak memiliki disiplin seumur hidup. Tetapi, jikalau mereka bukan upāsaka, mereka berdisiplin untuk sehari semalam.” — Maka mereka hanya dapat disebut “orang yang di tengah-tengah”.

問曰:若七眾外,有波羅提木叉戒不?
Tanya: Di luar [disiplin] ketujuh kelompok, adakah disiplin Prātimokṣa lainnya?

答曰:有,八齋是。以是義推:若受八戒,不在七眾也。
Jawab: Ada, yakni [disiplin] Puasa berunsur delapan. Dari prinsip ini dapat disimpulkan: mereka yang menerima Delapan Śīla tidak berada dalam salah satu dari ketujuh kelompok.

Jadi, jelas pelaksana Delapan Śīla bukan awam dalam arti selayaknya perumahtangga biasa. Akan tetapi, ia juga tidak tergolong anggota monastik. Delapan Śīla, sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial, tidak mentransformasikan substansi disiplin seorang upāsaka yang sudah ia miliki sebelumnya. Ini berbeda dengan apabila ia menjadi śrāmaṇera dan mengambil Sepuluh Śīla. Substansi Lima Śīla yang dimilikinya akan mengalami transformasi dan bersatu menjadi komponen dari substansi disiplin śrāmaṇera (lihat posting sebelumnya berikut ilustrasinya di akhir). Dengan kata lain, jikalau seorang upāsaka yang sudah mengambil Lima Śīla lalu mengambil Delapan Śīla, maka dua saṃvara avijñapti berbeda terbentuk dalam dirinya. Karena memiliki substansi Lima Śīla dan Delapan Śīla, ia adalah seorang upāsaka, namun di saat bersamaan ia juga bukan. Ketika jangka penekunannya selesai — setelah sehari semalam, misalnya — substansi Delapan Śīla-nya kedaluwarsa dan secara otomatis rontok, sedangkan substansi Lima Śīla-nya tidak terpengaruh sama sekali dan tetap utuh.

Bagaimanakah jika seseorang belum pernah mengambil Lima Śīla, tetapi langsung mengambil Delapan Śīla? Baik Vaibhāṣika maupun Sautrāntika membolehkan hal ini; substansi Delapan Śīla terbentuk asalkan seseorang sudi berlindung kepada Triratna. Bagi Vaibhāṣika, ia bukan upāsaka sebab tidak memiliki substansi Lima Śīla. Ia juga bukan anggota monastik. Tetapi, karena ia memiliki disiplin — walaupun hanya sehari semalam — terpaksa ia disebut “orang yang di tengah-tengah” seperti kutipan di atas. Sementara itu, bagi Sautrāntika ia adalah upāsaka sebab, sebagaimana disebutkan dalam Mahānāma Sūtra, seorang awam yang pergi berlindung kepada Triratna sudah berhak disebut upāsaka. Bagi Vaibhāṣika, setelah jangka penekunannya selesai, ia menjadi orang yang berlindung kepada Triratna, yang tidak mempunyaï kedudukan dalam masyarakat Buddhis. Sedangkan bagi Sautrāntika, ia menjadi seorang upāsaka tanpa disiplin (aparipūrṇakārin).

Sistém Sautrāntika membolehkan pengambilan Delapan Śīla dalam sekali waktu untuk seumur hidup, sementara Vaibhāṣika melarangnya. Menurut Vaibhāṣika, karena substansi Delapan Śīla hanya dapat bertahan sehari semalam, maka seseorang yang hendak melaksanakannya seumur hidup harus mengulangi pengambilannya setiap hari. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ⑪ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mencerminkan pandangan ini:

問:頗有八戒白衣不?
Tanya: Sungguhkah ada umat awam berjubah putih pelaksana Delapan Śīla (sebagai śīla permanen)?

答:無。唯有八關齋。
Jawab: Tidak ada. Hanya ada Delapan Śīla dalam penekunan upavasatha.

Di balik segala keleluasaan penekunannya, Delapan Śīla tetap merupakan sebuah disiplin Prātimokṣa, yakni disiplin pengarah Pembebasan yang ditetapkan oleh Buddha sendiri. Justru yang patut kita cermati adalah munculnya berbagai disiplin yang bersifat kuasi-Buddhis. Inovasi yang diciptakan di Indonesia, misalnya, adalah apa yang disebut Pandita Śīla. Institusi pandita bukan dibentuk oleh Buddha. Buddha hanya menetapkan tujuh kelompok kemasyarakatan Buddhis (bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā), masing-masing dengan disiplinnya sendiri-sendiri. Lantas dari mana śīla-śīla pandita ini berasal? Kita tidak bisa dengan seenaknya membuat-buat suatu disiplin, dan menamaïnya Śīla, walaupun disiplin itu kelihatan bagus.

Dalam tradisi tertentu, terdapat wanita yang menerima Sepuluh Śīla tetapi tidak menjadi śrāmaṇerī (dikenal dengan istilah sīla-rhaṅ‘ dll.). Padahal Buddha menetapkan cuma disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī-lah yang terdiri atas sepuluh langkah latihan (śikṣāpada). Jadi, disiplin manakah yang sebetulnya mereka terima? Bukan berarti bahwa semakin banyak langkah latihan semakin baik — sebab disiplin non-Buddhis pun seringkali mengandung banyak aturan yang lebih ketat daripada Buddhis — tetapi, apakah benar disiplin tersebut memang ditetapkan oleh Buddha sebagai Prātimokṣa bagi umat awam.

Contoh lain lagi adalah pemberian Aturan Puasa Beranggota Sembilan (navaṅga uposatha). Ini menunjukkan ketidakmengertian karena menganggap pengembangan cinta-kasih sebagai sebuah langkah latihan, beserta dengan delapan lainnya. Kita tahu bahwa disiplin Prātimokṣa hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan (lihat di sini). Apabila pengembangan cinta-kasih dianggap sebagai sebuah śīla, maka nyaris setiap saat kita akan selalu melakukan pelanggaran sebab mustahil mempertahankannya dalam pikiran selama 24 jam penuh!

Kasus yang paling kontroversial barangkali terjadi pada seorang guru meditasi terkenal yang merombak 250 langkah latihan dari Bhikṣu Prātimokṣa karena menganggapnya tidak relevan lagi. Untuk keadaan sulit, Vinaya Piṭaka memberikan banyak dispensasi dalam penerapan Śīla. Namun, tidak seorang pun selain Buddha sendiri yang berhak mengubah-ubahnya dengan seenaknya. Bagaimana kita bisa yakin disiplin yang diterima dari guru meditasi tersebut dapat mengarahkan kepada Pembebasan bilamana itu bukan Prātimokṣa yang bersumber dari Buddha sendiri? Maka di zaman modern ini kita harus berhati-hati sekali dalam menerima suatu disiplin.

Senin, 23 Juli 2018

KĀLAPARYANTA ŚĪLA vs ĀPRĀṆAKOṬIKA ŚĪLA

Klasifikasi śīla yang akan kita bahas terakhir adalah pengelompokan berdasarkan jangka waktunya (kālapariccheda). Dalam bab II Vimuktimārga 《解脫道論》 (T. vol. 32, № 1648 hlm. 401c) disebutkan:

復次!戒有二種,
Selanjutnya lagi, śīla ada dua jenis

謂:
yaïtu:
時分戒 及  śīla berjangka waktu terbatas (kālaparyanta), dan
盡形戒。   śīla selama hayat dikandung badan (āprāṇakoṭika).
少時暫受,不俱形命,謂時分戒。
Yang diterima sementara untuk waktu pendek, bukan untuk seumur hidup, disebut śīla berjangka waktu terbatas.

從師始誓,乃至捨壽,謂盡形戒。
Yang dimulaï dengan berkomitmen dari seorang guru, hingga akhir hayat, disebut śīla selama hayat dikandung badan.

Ini sama dengan penggolongan śīla untuk waktu lama (cirakāla) vs. tidak untuk waktu lama (acirakāla) seperti yang pernah dibahas dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra. Akan tetapi, śīla-śīla manakah yang boleh diterima untuk sementara dan mana yang tidak?






Dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 890c) Dharmatrāta mengatakan:

“謂受律儀戒,盡壽或日夜”者,受別解脫律儀有二種:
“Bahwa menerima disiplin (saṃvara) ialah seumur hidup atau sehari semalam”, maksudnya adalah penerimaan Prātimokṣa Saṃvara ada dua jenis:

 ◎ 或盡壽者,謂七眾。
Untuk seumur hidup (yāvajjīva), yakni [penerimaan disiplin] ketujuh kelompok.

(七眾者:比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷。)
(Ketujuh kelompok: bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā.)

 ◎ 日夜者,謂受齋。
Untuk sehari semalam (ahorātra), yakni menerima upavāsa.

(有二種時分齋:日夜 及 盡壽。)
(Ada dua jangka waktu upavāsa: sehari semalam dan seumur hidup.)

問:不律儀復云何?
Tanya: Bagaimana pula dengan kontra-disiplin (asaṃvara)?

答:“不律儀盡壽”,謂不律儀盡形壽,非日夜。
Jawab: “Kontra-disiplin (asaṃvara) seumur hidup”, berarti kontra-disiplin [berlaku] untuk seumur hidup, tidak pernah sehari semalam.

問:以何等故律儀得日夜,非不律儀?
Tanya: Apakah sebabnya disiplin ada yang sehari semalam, tetapi kontra-disiplin tiada?

答:彼無受性故;無有言:「我日夜受不律儀」者,以可羞厭故。善律儀有受性,可欣慶故。
Jawab: Karena kontra-disiplin tidak memiliki sifat pengambilan (samādāna); tidak ada orang yang [terang-terangan] berikrar: “Selama sehari semalam aku akan mengambil asaṃvara”, sebab hal itu memalukan. Saṃvara memiliki sifat pengambilan sebab hal itu membanggakan.

Bhadanta Harivarman, dalam karyanya Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303b) yang diterima luas di Cina, juga mengatakan hal yang sama:

問曰:是戒律儀二種:一、盡形;二、一日一夜。盡形者,若比丘、優婆塞。一日一夜者,如受八戒。一日一夜,是事云何?
Tanya: Śīla Saṃvara ada dua jenis: 1. untuk seumur hidup; 2. untuk sehari semalam. Untuk seumur hidup, misalnya: [disiplin] bhikṣu dan [disiplin] upāsaka. Untuk sehari semalam, misalnya: menerima Delapan Śīla. Untuk sehari semalam sebenarnya bagaimanakah halnya?

答曰:是事無定:若一日一夜,若但一日、或但一夜,若半日、或半夜——隨能受時,得。出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
Jawab: Halnya tidak pasti: entah sehari semalam, entah hanya sehari atau hanya semalam, entah setengah hari atau setengah malam — sesuai jangka kesanggupan menerima, [disiplin ini] didapatkan. [Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Dari sini jelaslah bahwa substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Disiplin Prātimokṣa merupakan disiplin yang bersifat permanen (nitya śīla) dan tidak dapat diperoleh untuk sementara waktu saja. Maka acara-acara “pravrajyā sementara” — kebaruan yang diimpor dari tradisi asing dan tidak pernah terjumpaï sepanjang sejarah Buddhisme Tiongkok — seperti yang diselenggarakan oleh beberapa vihāra modern, merupakan praktik yang invalid dan ilegal. Invalid sebab pesertanya tidak memperoleh substansi disiplin śrāmaṇera walaupun mereka mengikuti ritual penahbisan. Ilegal sebab guru penahbisnya tetap memberikan Śīla walaupun tahu bahwa pesertanya tidak sungguh-sungguh berniat meninggalkan rumah-tangga.

Kita tahu bahwa ada tiga tipe avijñapti: yang berkenaan dengan disiplin (saṃvara); yang berkenaan dengan kontra-disiplin (asaṃvara); dan yang berkenaan bukan dengan disiplin, bukan pula dengan kontra-disiplin (naivasaṃvara-nāsaṃvara). Hanya perbuatan yang disertai kehendak (cetanā) yang kuat yang akan membentuk dua tipe avijñapti pertama. Kontra-disiplin merupakan “disiplin” dalam bentuk negatif dan seringkali berkenaan dengan profesi-profesi yang buruk, seperti: penjagal, pemburu, pelacur, dsb. Seseorang harus memiliki kehendak atau niat yang kuat untuk, misalnya, berburu hewan liar setiap hari sebagai mata pencaharian agar dapat disebut berprofesi sebagai pemburu. Jikalau ia berburu sekali-sekali atau cuma sekadar hobi, maka ia hanya disebut pemburu amatir dan bukan profesional. Substansi “disiplin” pemburu tidak terbentuk dalam dirinya.

Hal yang sama berlaku pula pada orang yang membuat persepakatan menjadi bhikṣu (atau śrāmaṇera) untuk dua minggu, satu bulan, dsb. Substansi disiplin seorang bhikṣu sesungguhnya tidak terbentuk dalam dirinya; ia bukan berprofesi sebagai bhikṣu. Seseorang boleh saja setelah menjadi bhikṣu, lalu melepas disiplin (=lepas jubah) karena tidak kuat dengan kehidupan membiara. Namun, saat menerima upasaṃpadā, sejak semula ia harus sunggguh-sungguh bertekad menjalani kebhikṣuan untuk seumur hidup, dan bukan membuat persepakatan cuma untuk sementara saja! Apakah kelak ia akan lepas jubah atau tidak, itu merupakan lain perkara yang tidak dapat direncanakan sebelumnya di muka.

Di Cina orang pertama yang melontarkan pernyataan bolehnya menerima Lima Śīla untuk sementara waktu tampaknya adalah Vimalākṣa dalam rekaman ceramahnya yang kontroversial, Kitab Lima Ratus Pertanyaan. Meskipun dalam penafsiran vinaya ia tergolong konservatif, namun kadangkala ia menerima beberapa pandangan Sautrāntika seperti: boleh menerima Tiga Perlindungan saja tanpa Lima Śīla, dan boleh menerima satu atau beberapa śīla (tidak lengkap lima). Akan tetapi, pandangan pribadinya mengenaï penerimaan Lima Śīla (bahkan juga Tiga Perlindungan︕) untuk sementara saja adalah lemah dasarnya.