Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Maharatnakuta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maharatnakuta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2019

Yakinlah kepada Śīla Buddhis

Petikan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 yang telah kita kutip berbunyi:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha, Śīla adalah dasarnya.

Di bab III Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra:sebuah jātaka Mahāyāna 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 306c) Buddha menyabdakan hal yang sama:

「汝等比丘。諦聽!諦聽!入佛法海,信為根本;渡生死河,戒為船筏。」
“Kalian, para bhikṣu, dengarlah baik-baik! dengarlah baik-baik! Untuk memasuki laütan Buddhadharma, keyakinan adalah akarnya; untuk menyeberangi sungai kelahiran-kematian, Śīla adalah rakit kapalnya.”



※



Rumusan Tiga Perlindungan menjadi semacam verba consecrationis (kata-kata “sakti” pengkonsekrir) pada waktu menerimakan disiplin Buddhis mana pun, baik Lima Śīla, Delapan Śīla, Sepuluh Śīla, bahkan (semula juga) Upasaṃpanna Śīla. Dengan mengulanginya lengkap tiga kali, substansi Śīla terbentuk dalam diri si pemohon. Mengacu pembahasan sebelumnya, bagaimana mungkin kita mengulangi rumusan Tiga Perlindungan jikalau kita tidak sudi berlindung kepada Triratna? Bagaimana mungkin kita pergi berlindung jikalau kita tidak memiliki keyakinan?




Keyakinan kepada Dharmaratna beraspek dua: yakin akan Dharma sebagai keadaan bebas-nafsu dan yakin akan Dharma sebagai pemotong nafsu. Penjelasan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā ini dikutip oleh Vinayācārya Tao-hsüan. Berlindung kepada Dharma, sebagai keadaan bebas-nafsu, berarti berlindung kepada Nirvāṇa itu sendiri. Nirvāṇa itu telah direalisasi oleh Buddha, lalu diajarkan-Nya kepada Saṅgha. Maka muncullah aspek lain dari Dharmaratna: sebagai pemotong nafsu yang diajarkan Buddha (yang meliputi menjadi Latihan Berunsur Tiga: Śīla, Samādhi, dan Prajñā). Dalam skema Empat Kebenaran, Dharma yang direalisasi oleh Buddha (alias Nirvāṇa) merupakan yang ketiga, yakni Kebenaran Sejati tentang Akhir Penderitaan. Dharma yang diajarkan Buddha kepada Saṅgha merupakan yang keempat, yakni Kebenaran Sejati tentang Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan.

Dari sini dapat kita lihat betapa pentingnya Śīla, sebagai Dharma yang diajarkan Buddha. Bagaimana mungkin kita berharap dapat terlepas dari segala belenggu dan meraih Kebebasan jikalau kita tidak yakin dan bertekad menjalankan Śīla yang sungguh merupakan pemotong nafsu? Perumpamaan rangkap-empat seringkali digunakan untuk menggambarkan hal ini: Buddha adalah tabib, Dharma (=Nirvāṇa) adalah keadaan kesembuhan, Saṅgha adalah jururawat, dan Śīla adalah obat mujarab. Perumpamaan lain yang juga sering digunakan adalah: Buddha sebagai nakhoda, Dharma (=Nirvāṇa) sebagai pantai seberang, Saṅgha sebagai sesama penumpang, dan Śīla sebagai rakit.

Daśadharmaka Sūtra, sūtra ke-9 dari Mahāratnakuṭa 《大寶積經·大乘十法會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 151b), mengatakan:

信為增上乘  信者是佛子
是故有智者  應常親近信
信是世間最  信者無窮乏
是故有智者  應常親近信
若不信之人  不生諸白法
猶如燒種子  不生根芽等

Keyakinan adalah wahana peningkatan;
mereka yang yakin merupakan putra-putra Jina.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Keyakinan adalah yang terutama di dunia;
mereka yang yakin tiada berkekurangan.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Seseorang yang tidak yakin
takkan melahirkan segala dharma yang putih,
sama seperti benih yang terbakar
takkan melahirkan akar dan tunas.

Jumat, 29 Maret 2019

Śīla Tidak Murni, Samādhi Takkan Maujud

(1)

harmatrāta Dhyāna Sūtra 《達摩多羅禪經》 (T. vol. 15, № 618 hlm. 301c), sebuah kitab manual tentang tingkatan-tingkatan praktik spiritual (yogacārā bhūmi) dalam mazhab Sarvāstivāda, menerangkan prasyarat meditasi ānāpānasmr̥ti:

煩惱暫止息  次當淨尸羅
尸羅既清淨  三昧於中起

Gejolak batin untuk sementara dihentikan.
Berikutnya haruslah memurnikan Śīla.
Setelah Śīla murni,
Samādhi akan timbul di sana.

Guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ 智顗, memparafrase dalam jilid 4-1 risalah Mo-ho chih-kuan《摩訶止觀》 (T. vol. 46, № 1911 hlm. 41b–c):

尸羅清淨,三昧現前,止觀開發。
Apabila Śīla murni, Samādhi akan maujud, śamatha dan vipaśyanā dapat terbentuk.

……

故知!持戒清淨、懇惻懺悔,俱為止觀初緣。
Oleh karena itu, ketahuilah! Memegang disiplin moralitas dengan murni, bertobat dengan tulus dan remuk hati — keduanya merupakan kondisi pertama-tama bagi śamatha dan vipaśyanā.

Sejak zaman Dinasti-Dinasti Utara dan Selatan, dua baris terakhir dari bait ini menjadi pepatah Buddhis yang begitu populer, terutama dalam bentuk kalimat negatif. Misalnya dalam jilid 18 (pada edisi Ming: jilid 22) Hsü Kao-sêng chuan 《續高僧傳》 (‘Lanjutan Hikayat Para Bhikṣu Terkemuka’, T. vol. 50, № 2060 hlm. 574c) diceritakan tentang seorang bermarga Cʜ’ᴇ̂ɴ 陳 dari Shan-chou 陝州, Hopei. Pada tahun ke-12 era K’ai-huang 開皇 (592 M) dari Dinasti Sui, setelah kedua orangtuanya tiada dan ia cukup dewasa, disumbangkannya seluruh hartanya ke biara bhikṣuṇī. Ia sendiri lalu meninggalkan rumah-tangga di bawah Guru Ch’an Cʜ’ɪɴɢ 清禪師 dari Vihāra Ta-t’ung 大通寺, dan menerima upasaṃpadā dengan nama tahbisan Cʜᴇ̂ɴ-ʜᴜɪ 真慧. Cʜ’ɪɴɢ mengunjukkannya urut-urutan metode latihan dan berkata:

「有本曰:『尸羅不淨,三昧無由。』」
“Ada kitab berbunyi: ‘Apabila Śīla tidak murni, Samādhi tiadalah asalnya.’ ”

K’ᴜᴇɪ-ᴄʜɪ 窺基 (632–682), siswa Penerjemah Hsᴜ̈ᴀɴ-ᴛsᴀɴɢ, dalam jilid 3 ensiklopedia Vijñaptimātra-nya, I-lin chang《義林章》 (‘Pasal-Pasal Belantara Makna’, T. vol. 45, № 1861 hlm. 314c) pada “Pasal tentang Vijñapti- dan Avijñapti-rūpa” 表無表色章, mengatakan:

定道得緣者,經中說:「尸羅不清淨,三昧不現前。」
Tentang kondisi untuk diperolehnya Dhyānaja dan Anāsrava, di dalam sūtra disebutkan: “Apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud.”

由此故知,須持淨戒!由持戒故無悔;無悔故心安;心安故得定;得定故起聖道;起聖道故,依俱時思,立定道戒。
Dari sini dapat kita ketahui bahwa adalah perlu memegang disiplin moralitas yang murni! Berkat memegang disiplin moralitas, tiadalah penyesalan; karena tiada penyesalan, batin menjadi tenteram; karena batin tenteram, konsentrasi diperoleh; karena konsentrasi diperoleh, timbullah Jalan Kesucian; karena Jalan Kesucian timbul, bergantung pada kehendak (cetana) di saat bersamaan, terdirikanlah Dhyānaja- dan Anāsrava-Saṃvara.

Di jilid pertama Wan-shan t’ung-kui chi 《萬善同歸集》 (‘Kumpulan [Tanya-Jawab] tentang Bermuaranya Aneka Kebaikan Bersama’, T. vol. 48, № 2017 hlm. 965b), Guru Ch’an Yᴜɴɢ-ᴍɪɴɢ Yᴇɴ-sʜᴏᴜ 永明延壽 (904–975), yang hidup di awal zaman Sung, juga mengatakan:

故經云:「尸羅不清淨,三昧不現前。」
Karenanya di dalam sūtra disebutkan: “Apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud.”

從定發慧,因事顯理;若闕三昧,慧何由成?是知因戒得定,因定得慧。
Dari konsentrasi (samādhi), terbentuklah kebijaksanaan (prajñā); sebab fenomena, terungkaplah nomena. Jikalau Samādhi defisien, apakah yang akan menjadikan kebijaksanaan? Maka dapat kita ketahui: sebab disiplin moralitas, konsentrasi diperoleh; sebab konsentrasi, kebijaksanaan diperoleh.



(2)

Seperti dikatakan oleh Cʜɪʜ-ɪ sebelumnya, selain berusaha menjalankan Śīla dengan ketat, hal yang tidak kalah pentingnya adalah bertobat dengan tulus hati. Pertobatan atau pengakuan (per Kendaraan Kecil) dilakukan apabila terjadi pelanggaran, sehingga substansi Śīla termurnikan kembali. Hal ini berlaku bagi semua tipe disiplin Prātimokṣa, termasuk disiplin upāsaka. Bagaimana seseorang bisa melakukan pengakuan bilamana ia tidak tahu apakah terdapat substansi Śīla dalam dirinya? Pelanggaran Śīla mana yang akan ia akui?

Adalah tugas seorang guru pembimbing, seharusnya, bukan cuma mentransmisikan Śīla, melainkan juga mengajari siswa-siswanya cara memurnikan diri apabila terjadi pelanggaran Śīla. Celakanya di zaman modern ini banyak orang yang bahkan tidak mengerti substansi Śīla itu konsep apa, malah memberikan tuntunan Śīla dan, lebih parah lagi, menjadi guru meditasi. Jadi, pantaslah kita meragukan se-Buddhis apakah “pencapaian” yang mereka raih dengan meditasinya, meskipun teknik meditasi tersebut berdasarkan sūtra-sūtra.




Selanjutnya jikalau ada yang berpendapat bahwa pepatah populer di atas hanya ajaran Kendaraan Kecil yang bersumber dari sebuah kitab manual meditasi, sūtra-sūtra Mahāyāna yang dikutipkan berikut justru selaras dengannya. Kita ingat petikan dari Śūraṅgama: “Karena moralitas, lahirlah konsentrasi; karena konsentrasi, berkembanglah kebijaksanaan (因戒生定,因定發慧).” Hal yang sama juga disebutkan dalam Kāśyapa Parivarta 《大寶積經·普明菩薩會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 637b), yang merupakan sūtra ke-43 dari koleksi Mahāratnakūṭa:

依戒得三昧  三昧能修慧
依因所修慧  逮得於淨智

Bersandar pada Śīla akan mendapatkan Samādhi;
Samādhi mampu mengembangkan Prajñā.
Bersandar pada sebab Prajñā yang dikembangkannya,
seseorang akan selekasnya memperoleh Pemahaman Murni.

Candrapradīpa Samādhi 《月燈三昧經》 (T. vol. 15, № 639), yang lebih dikenal dengan judul Samādhirāja Sūtra dan merupakan salah satu dari sembilan dharma utama Mahāyāna di Nepal, menyebutkan di jilid pertamanya (hlm. 553a):

無物能將此定來  必由淨戒之所起

Tiada barang apa pun yang mampu mendatangkan Samādhi ini,
melainkan sewajarnya berasal dari Śīla yang murni.

Di jilid 6 sūtra yang sama (hlm. 584b) tertulis:

彼心無障礙  以住淨戒力
速得離惱定  是為淨戒利

Batinnya tiadalah terhambat
berkat kekuatan berdiam dalam Śīla yang murni;
ia akan segera memperoleh Samādhi tanpa gangguan.
Itulah manfaat dari Śīla yang murni.

Petikan-petikan ini cukuplah menggambarkan betapa pentingnya Śīla sebelum memasuki Samādhi. Jikalau masih ada yang bersikukuh bahwa sebagai pengikut Kendaraan Besar kita tidak perlu menjaga Śīla dengan ketat-ketat amat, maka sūtra-sūtra Mahāyāna ini membantahnya. Kita jangan menyamakan diri dengan tīrthika yang diceritakan dalam sūtra-sūtra tertentu, yang langsung mencapai kesucian berkat mendengar sedikit ajaran Dharma. Kendati dalam kelahiran sekarang mereka tampil menjadi pengikut non-Buddhis yang tidak pernah mengambil Śīla-Śīla (=disiplin Buddhis) apa pun, namun apakah kita tahu seberapa besar pāramitā yang telah mereka kumpulkan atau bagaimana mereka berlatih di kelahiran-kelahiran sebelumnya? Apalagi kini kita hidup di zaman setelah tiadanya Buddha, yang mampu menunjukkan metode terampil yang mencerahkan dalam seketika. Tidakkah lebih baik apabila kita melaksanakan latihan konvensional dengan terlebih dahulu mengambil dan memurnikan Śīla?





(3)

Ch’an seringkali disebut sebagai ajaran khusus Mahāyāna di luar kitab-kitab suci. Walaupun guru-guru Ch’an tidak bergantung pada kata-kata, kenyataannya banyak di antara mereka yang merupakan ahli Tripiṭaka dan telah mengarang berjilid-jilid tulisan dengan topik beragam — bukan melulu kumpulan kung-an — mulaï dari komentar-komentar sūtra, hingga pembahasan śīla dan vinaya. Guru Ch’an Cʜ’ᴀɴɢ-ʟᴜ Tsᴜɴɢ-ᴛsᴇ̂ 長蘆宗賾 (?–1107) dari Dinasti Sung membuka Ch’an-yüan ch’ing-kui 《禪苑清規》 (‘Regula Murni Biara Ch’an’, Zokuzōkyō vol. 63, № 1245) susunannya dengan seksi pertama “Menerima Śīla” 受戒 (hlm. 523a):

三世諸佛,皆曰出家成道。西天二十八祖、唐土六祖,傳佛心印,盡是沙門。
Para Buddha di tiga masa semuanya dikatakan meninggalkan rumah-tangga untuk mencapai Pencerahan. Dua puluh delapan patriark dari Negeri Barat dan enam patriark dari Tanah T’ang, yang mentransmisikan meterai batin Buddha, seluruhnya adalah śramaṇa.

葢以嚴淨毗尼,方能洪範三界;然則參禪問道,戒律為先。既非離過防非,何以成佛作祖?
Bahwa dengan berhiaskan kemurnian vinaya barulah seseorang mampu mengontrol Triloka; maka untuk bergabung dengan Ch’an dan menanyakan Jalan, śīla dan vinaya adalah yang terdahulu. Jika bukan dengan meninggalkan pelanggaran dan mencegah kesalahan, dengan apakah seseorang akan menjadi Buddha atau patriark?

……

Pada seksi kedua, “Menjaga Śīla” 護戒, ia menulis (hlm. 523b):

受戒之後,常應守護。寧有法死,不無法生!
Setelah menerima Śīla, senantiasalah kita harus menjaganya. Lebih baik mati memiliki dharma (=substansi Śīla), daripada hidup tanpa dharma!

如小乘《四分律》四波羅夷、十三僧伽婆尸沙、二不定、三十尼薩耆、九十波逸提、四波羅提提舍尼、一百眾學、七滅諍,大乘《梵網經》十重、四十八輕,竝須讀誦通利。善知持犯開遮。
Sesuai Dharmaguptaka Vinaya dari Kendaraan Kecil dengan 4 pārājika, 13 saṅghāvaśeṣa, 2 aniyata, 30 niḥsargika-pācittika, 90 pācittika, 4 pratideśanīya, 100 śaikṣa, 7 adhikaraṇa-śamatha; serta Brahmajāla Sūtra dari Kendaraan Besar dengan 10 pelanggaran berat dan 48 pelanggaran ringannya — keduanya perlu dibaca, didaraskan, dan dihafalkan hingga lancar. Ketahuilah sebaik-baiknya apa saja yang harus dipegang dan apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dibatasi dan apa yang dikecualikan.

Dapat kita lihat guru-guru Ch’an zaman dahulu begitu menekankan pentingnya Śīla. Kalaupun dalam koleksi-koleksi kung-an diceritakan guru Ch’an tertentu yang berlaku eksentrik, maka harus kita ingat bahwa kung-an merupakan catatan kasus dadakan yang terjadi sewaktu-waktu. Tindakan eksentrik seorang guru Ch’an adalah spontan untuk mencerahkan siswanya pada saat itu saja, dan tidak mencerminkan perilaku normal kesehariannya.




Arhat Jᴀʏᴀᴛᴀ, patriark India ke-20 dalam silsilah Ch’an, dapatlah kita jadikan contoh. Walaupun sama-sama arhat, ia lebih istimewa daripada kawan-kawannya sebab, semenjak belum Tercerahkan, ia selalu menjaga segala śīla dengan sangat teliti, bahkan sampai pada aturan-aturan minor (duṣkr̥ta). Kisahnya termuat dalam avadāna ke-91 dari *Saṃyukta-ratna piṭaka 《雜寶藏經》 (T. vol. 2, № 203 hlm. 483a–b), “Tentang Arhat Jᴀʏᴀᴛᴀ yang Memerintah Naga Jahat Masuk ke Samudra” 〈羅漢祇夜多驅惡龍入海縁〉, yang merupakan salah satu dari beberapa avadāna dalam koleksi ini yang menceritakan tentang dirinya.

昔有尊者阿羅漢,字祇夜多。佛時去世七百年後,出罽賓國。時,罽賓國有一惡龍王,名阿利那。數作災害,惱諸賢聖。國土人民,悉皆患之。
Dahulu terdapatlah seorang arhat bernama Jᴀʏᴀᴛᴀ. Ia lahir 700 tahun setelah Buddha meninggal dunia di Negeri Kashmir. Ketika itu di Negeri Kashmir ada seekor raja naga yang jahat bernama Aʟɪɴᴀ (Aʀᴜɴ̣ᴀ?). Berkali-kali ia membuat gangguan dan mencelakaï para suciwan. Rakyat seisi negeri semua diresahkannya.

時,有二千阿羅漢,各盡神力驅遣此龍,令出國界。其中有五百羅漢,以神通動地。又有五百人,放大光明。復有五百人,入禪定經行。諸人各各盡其神力,不能使動。
Tatkala itu terdapatlah 2.000 arhat yang masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya untuk memerintah naga ini agar meninggalkan wilayah negeri. Di antara mereka ada 500 arhat yang dengan penembusan spiritual (abhijñā) mengguncang bumi. Juga ada 500 orang yang memancarkan cahaya cemerlang. Ada lagi 500 orang yang memasuki konsentrasi dhyāna hilir mudik. Semua orang masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya, namun tidak mampu menggoyahkan [sang naga].

時,尊者祇夜多最後往到龍池所。三彈指言:「龍。汝今出去!不得此住!」龍即出去,不敢停住。
Maka ialah Bhadanta Jᴀʏᴀᴛᴀ yang terakhir menuju ke kolam tempat sang naga. Ia menjentikkan jari tiga kali dan berkata: “Naga, kini keluarlah engkau pergi! Jangan berdiam di sini!” Sang naga pun keluar dan pergi, tidak berani tetap tinggal.

爾時,二千羅漢語尊者言:「我與尊者,倶得漏盡。解脱法身,悉皆平等。而我等各各盡其神力,不能令動。尊者云何,以三彈指,令阿利那龍遠入大海耶?」
Pada saat itu keduaribu arhat berkata kepada sang bhadanta: “Kami dan Bhadanta sama-sama telah mengakhiri kebocoran (kṣīṇāsrava). Tubuh Dharma Kebebasan (vimukti dharmakāya) kita adalah setara. Namun, walaupun masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya, kami tidak mampu menggoyahkan [sang naga]. Bagaimanakah Bhadanta, dengan menjentikkan jari tiga kali, menyebabkan Naga Aʟɪɴᴀ menjauh masuk ke mahāsamudra?”

于時,尊者答言:「我凡夫已來受持禁戒,至突吉羅,等心護持,如四重無異。今諸仁者,所以不能動此龍者,神力不同,故不能動。」
Saat itu sang bhadanta menjawab: “Semenjak aku masih merupakan orang biasa (pr̥thagjana) yang menerima dan memegang śīla-śīla, hingga pada aturan duṣkr̥ta kujaga semua dengan samarata, tidak berbeda seperti pada empat aturan berat. Kini mengapa para Āyuṣman tidak mampu menggoyahkan naga ini adalah dikarenakan kekuatan kesaktian kita tidak sama sehingga ia tidak tergoyahkan.”

Sabtu, 09 Februari 2019

JANGANLAH MEREMEHKAN LIMA ŚĪLA

Sebagian orang yang mengaku sebagai praktisi Kendaraan Besar mengabaikan moralitas dan melaksanakan secara eksklusif praktik meditasi tertentu yang menurut mereka lebih penting. Mereka memandang remeh segala disiplin Prātimokṣa karena mengganggapnya ajaran Kendaraan Kecil. Padahal Śūraṅgama Sūtra, yang menekankan latihan Buddhis klasik berunsur tiga, menyatakan bahwa hanya “karena moralitas, lahirlah konsentrasi; karena konsentrasi, berkembanglah kebijaksanaan.”

Tao-shih 道世 alias Hsüan-yün 玄惲, seorang bhikṣu dari zaman Dinasti T’ang, dalam topik LIX dari karya ensiklopedisnya Fa-yüan Chu-lin 《法苑珠林》 (‘Hutan Mutiara di Taman Dharma’, T. vol. 53, № 2122 hlm. 687c), mengutip perumpamaan ke-10 dari Upamāśataka 《百喻經》 (T. № 209):

往昔愚人癡無所知,到餘富家見三重樓高廣嚴麗,即作是念:「我有財錢不減於彼;云何不造?」
Dahulu terdapatlah seorang bodoh dan tidak berpengetahuan yang pergi ke rumah keluarga kaya lain dan melihat gedung bertingkat tiga yang tinggi, megah, dan terhias indah. Ia berpikir begini: “Aku memiliki kekayaan yang tidak kurang darinya; mengapa tidak kubuat [gedung yang sedemikian]?”

即喚木匠而問言曰:「解作彼舍不?」
Lalu dipanggilnya tukang kayu dan ditanyaïnya: “Mengertikah engkau mengerjakan rumah indah seperti itu?”

木匠答言:「是我所作。」
Tukang kayu menjawab: “Sesungguhnya itu dikerjakan olehku sendiri.”

即便語言:「今為我造。」
Lalu ia berkata: “Kini buatkanlah aku [yang serupa].”

木匠即便經地、壘墼作樓。愚人見壘,語木匠言:「我不欲下二重;先為作最上屋。」
Tukang kayu pun mulaï meyipat tanah dan menumpuk bata untuk membuat gedung. Si bodoh melihat tumpukan tersebut dan berkata kepada tukang kayu: “Aku tidak ingin dua tingkat terbawah; kerjakanlah dahulu lantai teratas.”

木匠答言:「無有是事。何有不作最下,造彼第二?不造第二,云何得造第三屋?」
Tukang kayu menjawab: “Tiada hal seperti itu. Mana mungkin tanpa mengerjakan yang terbawah membuat yang kedua? Tidak membuat yang kedua, bagaimana dapat membuat lantai ketiga?”

愚人固言:「我今不用下二;必為我作上。」
Si bodoh bersikukuh: “Kini aku tidak membutuhkan dua yang bawah; kerjakanlah saja untukku yang atas.”

時人聞已,便生怪笑。
Setelah orang-orang sekitarnya mendengarnya, tertawalah mereka tergeleng-geleng.

譬如世尊四輩弟子,不勤修敬三寶,懶惰懈怠,欲求道果,不欲下三果——唯欲得第四阿羅漢果——亦為時人之所嗤笑,如彼愚者等無有異。
Ibaratnya keempat kelompok siswa Bhagavan yang tidak tekun berlatih serta menghormati Triratna, malas dan lalai, beraspirasi menginginkan Jalan dan Buah, namun tidak menginginkan tiga Buah yang bawah — hanya beraspirasi mendapatkan buah keempat, Kearhatan — sehingga juga dicemooh orang-orang sekitarnya, adalah seperti orang bodoh tadi dan tiada berbeda sama sekali.

 ◎  (ANOTASI TAO-SHIH:)


不依三乘次第,先學大乘,亦復如是。故《地藏經》云:「不先學小乘,後學大乘者,非佛弟子。」
Tidak bersandar pada urut-urutan ketiga Kendaraan, malah lebih dahulu mempelajari Kendaraan Besar, adalah juga demikian. Karenanya Kṣitigarbha Sūtra menyatakan: “Ia yang tidak sebelumnya mempelajari Kendaraan Kecil baru kemudian mempelajari Kendaraan Besar, bukanlah siswa Buddha.”



※



Kṣitigarbha Sūtra yang disinggung di sini ialah Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra 《大乘大集地藏十輪經》 (T. vol. 13, № 411), khususnya bab IV. Bab ini terlalu panjang. Akan tetapi, secara parsial gāthā di jilid 6 (hlm. 753a–b), yang sepertinya dimaksudkan oleh Tao-shih, kami kutipkan sbb.:

無力飲池河  詎能吞大海
不習二乘法  何能學大乘
先信二乘法  方能信大乘
無信誦大乘  空言無所益

Tidak berkekuatan meminum kolam dan sungai,
mungkinkah sanggup menelan mahāsamudra?
Tidak mempelajari Dharma kedua Kendaraan,
bagaimana bisa berlatih Kendaraan Besar?

Yakini dahulu Dharma kedua Kendaraan,
barulah dapat meyakini Kendaraan Besar.
Tanpa keimanan melafalkan Kendaraan Besar
[sama saja] berkata kosong tiada berguna.

Pada paragraf sebelumnya (hlm. 751c) Buddha sendiri memang telah meramalkan kepada Bodhisattva Vajragarbha akan munculnya orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kendaraan Besar, yang meremehkan ajaran Kendaraan Kecil:

「復次!善男子。於未來世,此佛土中有剎帝利旃荼羅、婆羅門旃荼羅、宰官旃荼羅、居士旃荼羅、沙門旃荼羅、長者旃荼羅、茷舍旃荼羅、戍達羅旃荼羅,若男、若女,諂曲、愚癡、懷聰明慢;其性兇悖、懆厲、麁獷;不見、不畏後世苦果;好行殺生,乃至邪見、嫉妬、慳貪、憎背善友、親近惡友——非是三乘賢聖法器。
“Selanjutnya lagi, putra berbudi! Di masa depan, di Tanah Buddha ini (Sahā Lokadhātu) akan terdapatlah caṇḍāla kṣatriya, caṇḍāla brāhmaṇa, caṇḍāla perdana menteri, caṇḍāla kepala keluarga, caṇḍāla śramaṇa, caṇḍāla perumahtangga, caṇḍāla vaiśya, caṇḍāla śūdra, baik laki-laki ataupun perempuan, yang tidak jujur, bodoh, sombong dan sok pintar; tabiat mereka pembangkang, mudah tersinggung, kasar dan bengis; tidak melihat dan tidak takut akan buah penderitaan di kehidupan mendatang; suka membunuh makhluk hidup s/d berpandangan sesat, iri hati, kikir dan serakah, membelakangi sahabat spiritual yang baik, mengakrabi sahabat spiritual yang jahat — bagi para suci dari ketiga Kendaraan, mereka bukanlah wadah Dharma.

「或少聽習聲聞乘法,便於諸佛共所護持獨覺乘法、無上乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。或少聽習獨覺乘法,便於諸佛共所護持聲聞乘法、無上乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。或少聽習無上乘法,便於諸佛共所護持聲聞乘法、獨覺乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。
“Entah karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Śrāvaka, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Pratyeka dan Kendaraan Tiada Tara yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama. Atau karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Pratyeka, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Tiada Tara yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama. Atau karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Tiada Tara, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama.

「為求名利,唱如是言:『我是大乘,是大乘黨。唯樂聽習受持大乘,不樂聲聞、獨覺乘法,不樂親近學二乘人。』如是詐稱大乘人等,由自愚癡憍慢勢力,如是謗毀、障蔽、隱沒三乘正法,不令流布;憎嫉修學三乘法人,誹謗毀辱令無威勢。」
“Demi mencari ketenaran dan keuntungan, mereka akan memproklamirkan demikian: ‘Aku adalah Mahāyānis, seorang partisan Mahāyāna. Hanya gemar mendengar, mempelajari, menerima, dan memegang Kendaraan Besar; aku tidak gemar akan Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Pratyeka, tidak gemar mengakrabkan diri dengan orang yang berlatih kedua Kendaraan.’ Demikianlah orang-orang yang mengklaim diri sebagai Mahāyānis, karena kekuatan kesombongan dan kebodohannya sendiri, akan sedemikian memfitnah, merintangi, menyembunyikan Dharma yang Benar dari ketiga Kendaraan, dan tidak membiarkannya tersebar; akan mengiri dan mendengki kepada orang-orang yang berlatih dan mengembangkan Dharma ketiga Kendaraan, memfitnah dan menindas mereka sehingga tiada berdaya.”

Orang-orang yang diberi julukan caṇḍāla tersebut, dikatakan dalam gāthā, akan sia-sia saja mempelajari dan melafalkan teks-teks Kendaraan Besar, khususnya yang membahas ajaran kekosongan yang mendalam. Karena tidak memiliki landasan yang kuat dalam Kendaraan Kecil, mereka akan salah memahaminya dan, secara tidak sadar, malah mengimani Mahāyāna sebagai nihilisme. Mereka bahkan tidak layak menjadi wadah penerima warisan Dharma Kendaraan Kecil — apalagi Kendaraan Besar.

Kembali ke gāthā di atas, yang selanjutnya menyambung:

內真懷斷見  妄自號大乘
不護三業罪  壞亂我正法
彼人命終後  定墮無間獄
故應觀機說  勿為非器者

Di dalam mereka sejatinya menganut pandangan nihilisme,
namun secara dusta menyebut diri seorang Mahāyānis.
Tidak menjaga ketiga [saluran] karma dari dosa kecelaan,
malah menghancurkan dan mengacaukan Saddharma-Ku.

Orang-orang seperti itu, setelah hidupnya berakhir,
tentu akan terjatuh ke Neraka Tanpa Jeda (Avīci).
Maka dalam membabarkan semestinyalah mengamati kualifikasi
supaya jangan kepada yang bukan wadahnya [ditransmisikan].

Adalah salah besar mewariskan ajaran yang tinggi kepada orang-orang tersebut sebab, setelah mendapat pewarisan, demi ketenaran dan keuntungan, mereka akan berlagak menjadi guru dan meneruskan kesesatannya kepada orang lain. Di halaman 754b Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra tertulis:

「善男子。有諸眾生,於聲聞乘、獨覺乘法,未作劬勞正勤修學。如是眾生根機未熟、根機下劣、精進微少。若有為說微妙甚深大乘正法,說、聽二人俱獲大罪,亦為違逆一切諸佛。所以者何?
“Putra berbudi, terdapat makhluk hidup yang, terhadap Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka, belum pernah bersusah-payah berlatih dan mengembangkannya dengan ketekunan benar. Makhluk-makhluk demikian belum matang kualifikasi inderanya, asor kualifikasi inderanya, lemah semangatnya. Jikalau ada orang yang membabarkan kepadanya Ajaran Benar dari Kendaraan Besar yang halus, menakjubkan, dan teramat dalam, maka baik pembabar maupun pendengar, keduanya sama-sama beroleh dosa besar, juga telah bertolak-belakang dengan segala Buddha. Mengapa demikian?

「若諸眾生於聲聞乘、獨覺乘法,未作劬勞正勤修學,根機未熟、根機下劣、精進微少,而便聽受微妙甚深大乘正法,如是眾生實是愚癡自謂聰叡,陷斷滅邊,墜顛狂想,執無因論,於諸業果生斷滅想,撥無一切善作、惡作。
“Jikalau makhluk-makhluk, yang terhadap Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka belum pernah bersusah-payah berlatih dan mengembangkannya dengan ketekunan benar; yang belum matang kualifikasi inderanya, asor kualifikasi inderanya, lemah semangatnya; dibiarkan mendengar dan menerima Ajaran Benar dari Kendaraan Besar yang halus, menakjubkan, dan teramat dalam; maka makhluk-makhluk yang sejatinya bodoh tersebut akan menyebut diri pandai, terjebak dalam ékstrém nihilisme, terbenam dalam gagasan keliru, berpegang pada teori tiada sebab, membangkitkan gagasan nihilis akan segala buah karma, menguncarkan bahwa tiada tindakan yang baik atau tindakan yang jahat.

「妄說大乘,壞亂我法:非法說法、法說非法,實非沙門說是沙門、實是沙門說非沙門,實非毘奈耶說是毘奈耶、實是毘奈耶說非毘奈耶。愚癡、顛倒、憍慢、嫉妬、朋黨之心,於大乘法稱讚、擁衛、令廣流布;於聲聞乘、獨覺乘法,謗毀、障蔽,不令流布。
“Secara dusta mereka akan menyebut diri Mahāyānis, menghancurkan dan mengacaukan Saddharma-Ku: yang bukan Dharma akan mereka sebut Dharma, yang Dharma akan mereka sebut bukan Dharma; sejatinya bukan śramaṇa akan mereka sebut śramaṇa, sejatinya śramaṇa akan mereka sebut bukan śramaṇa; sejatinya bukan Vinaya akan mereka sebut Vinaya, sejatinya Vinaya akan mereka sebut bukan Vinaya. Dengan batin diliputi kebodohan, kekeliruan, iri hati, dan nepotisme, terhadap Dharma dari Kendaraan Besar mereka akan memuji, mengamankan, dan membiarkannya tersebar luas; terhadap Dharma dari Kendaraan Kecil mereka akan memfitnah, menyembunyikan, dan tidak membiarkannya tersebar.

「不能如實依聲聞乘、或獨覺乘、或無上乘,捨俗出家,受具足戒成苾芻性;亦不如實修集一切善法因緣。於我弟子,或是法器、或非法器——謂:勤修行學、無學行,乃至證得最後極果;真善異生、持戒、破戒、無戒者所——種種毀罵、呵責、惱亂,奪其衣鉢,不聽受用諸資生具,繫縛、禁閉。如是撥無一切因果斷滅論者,雖在人中,實是羅剎。於當來世,無數大劫,難得人身。寧在地獄受無量苦,不處人中起斷滅見!」
“Mereka takkan mampu sebenar-benarnya melepas kehidupan awam, meninggalkan rumah tangga, menerima Upasaṃpanna Śīla untuk mendapatkan kebhikṣuan berdasarkan Kendaraan Śrāvaka, Kendaraan Pratyeka, atau Kendaraan Tiada Tara; juga takkan sebenar-benarnya mengembangkan sebab-musabab agar segala dharma yang baik terhimpun. Kepada siswa-siswa-Ku, baik kepada yang merupakan wadah Dharma maupun yang bukan wadah Dharma — yakni: kepada yang sedang bertekun mengembangkan praktik [untuk menjadi] śaikṣa dan aśaikṣa, hingga kepada yang telah merealisasi Buah terakhir yang tertinggi; kepada kalyāṇa pr̥thagjana, pemegang Śīla, perusak Śīla, atau yang tanpa Śīla — dengan bermacam-macam cara mereka akan menghardik, mencela, dan mengganggunya; akan merampas jubah dan mangkuknya; takkan mengizinkannya menerima dan menggunakan berbagai barang kebutuhan pokok; akan mengikat, membelenggu, dan mengurungnya. Demikianlah mereka yang menguncarkan teori nihilis bahwa tiada segala sebab dan akibat, meskipun berada di antara manusia, sesungguhnya merupakan rākṣasa. Di masa mendatang, selama mahākalpa yang tiada terbilang, sukarlah mereka mendapatkan [kelahiran dengan] tubuh manusia lagi. Lebih baik berada di neraka menerima penderitaan yang tak terukur daripada bertempat di antara manusia namun membangkitkan pandangan nihilisme!”

Guru-guru palsu ini akan mengklaim diri telah memperoleh realisasi tertentu atau Pencerahan seketika, persis seperti yang dikatakan dalam Śūraṅgama Sūtra: “Yang belum diperoleh akan mereka akui telah diperoleh; yang belum direalisasi akan mereka akui telah direalisasi.” Mereka akan memuji-muji diri dan kelompoknya sendiri, sementara mengkritik siswa-siswi Buddhis lain, baik yang merupakan wadah Dharma maupun yang bukan. Secara tidak sadar membangkitkan pandangan nihilisme, mereka takkan mengerti bahwa segala dharma kosong pada tataran nomenal, namun riil pada tataran fenomenal. Hukum karma itu sungguh nyata. Tetapi, karena menyamakan kekosongan dengan ketiadaan, mereka tidak takut akan buah dari tindakan jahat seperti membunuh makhluk hidup s/d berpandangan sesat. Maka meskipun berjubah bhikṣu, mereka sendiri tidak mampu memegang śīla yang sederhana, malah menganjurkan umat awam maupun monastik untuk melanggarnya juga dengan dalih “kita tidak perlu melekat”.




Padahal dalam bab XXII dari Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·五戒品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1064b) disebutkan:

「若有說言:『離五戒已度生死』者,無有是處。善男子。若人欲度生死大海,應當至心受持五戒。」
“Jikalau ada yang berkata bahwa dengan meninggalkan Lima Śīla ia telah terseberangkan dari kelahiran dan kematian, maka itu adalah hal yang mustahil. Putra berbudi, seseorang yang hendak terseberangkan dari samudra kelahiran dan kematian haruslah dengan sungguh hati menerima dan memegang Lima Śīla.”

Bahkan dalam sūtra pertama dari Mahāratnakūṭa, Trisaṃvara Nirdeśa 《大寶積經·三律儀會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 16a), meskipun menganut Kendaraan Besar, kepada umat awam dinasihatkan:

「迦葉。在家菩薩有三種修,能於菩提,而作利益。何等為三?
“Kāśyapa, ada tiga jenis pengembangan bagi bodhisattva perumahtangga, yang dapat membawa manfaat menuju Bodhi. Apakah ketiganya?

為一切智故,深生愛樂;
Membangkitkan hasrat yang mendalam terhadap kemahatahuan (sarvajñatā);

不墮本業;
tidak melekat pada karya yang telah dilakukan;

堅持五戒。」
dengan kukuh memegang Lima Śīla.”

Lagi dalam bab XIV dari Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·受戒品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1047c–1048a) disebutkan:

「善男子。優婆塞戒極為甚難!何以故?是戒能為沙彌戒、大比丘戒、及菩薩戒,乃至阿耨多羅三藐三菩提而作根本;至心受持優婆塞戒,則能獲得如是等戒無量利益。若有毀破如是戒者,則於無量、無邊世中處三惡道,受大苦惱。」
“Putra berbudi, Upāsaka Śīla ini sungguh teramat sukar! Apakah sebabnya? Śīla ini mampu menjadi dasar bagi Śrāmaṇera Śīla, Bhikṣu Śīla, dan Bodhisattva Śīla, hingga tercapainya Anuttara Samyak-saṃbodhi; manfaat yang tak terukur dari berbagai Śīla demikian akan dapat diperoleh dengan bersungguh hati menerima dan memegang Upāsaka Śīla. Jikalau Śīla ini dirusak, maka selama kehidupan yang tak terukur dan tak bertepi akan terjatuhlah ke tiga jalur rendah dan menerima penderitaan besar.”

Akhirnya kita teringat akan sabda Buddha sendiri dalam Ekottara Āgama, yang telah dikutip sebelumnya:

「若善男子、善女人,欲求作聲聞、緣覺、佛乘者,悉成其願。
“Apabila putra dan putri berbudi beraspirasi menjadi Śrāvaka, Pratyeka, atau mencari Kendaraan Buddha, semuanya akan tercapai sesuai yang dicita-citakannya.

「吾今成佛,由其持戒。五戒十善,無願不獲。諸比丘!若欲成其道者,當作是學。」
“Kini Aku sendiri pun mencapai Kebuddhaan berkat memegang Śīla. Dengan Lima Śīla dan sepuluh kebaikan, tiada cita-cita yang tidak terperoleh. Para bhikṣu, jikalau kalian beraspirasi mencapai segala Pencerahan tersebut, itulah yang harus kalian pelajari!”



※



Sebagai penutup, gāthā di jilid 6 Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra menyambung dengan bait-bait berikut:

憍傲無慈愍  暴惡志下劣
智者應當知  是懷斷見者
非聲聞緣覺  亦非大乘器
諂謗毀諸佛  必墮無間獄
持戒樂喧鬧  慳法畏苦惡
智者應當了  是名聲聞乘
樂施觀生滅  常欣獨靜處
智者應當了  是名獨覺乘
具足諸善根  守護慈悲本
常樂攝利物  是名為大乘
捨身命護戒  不惱害眾生
精進求空法  應知是大乘
心堪忍諸法  善言無祕吝
於法常欣樂  應知是大乘
法器非法器  利樂心平等
不染諸世法  應知是大乘
是故有智者  普敬說三乘
不惱我僧徒  速成無上覺

Sombong, congkak, dan tidak berbelas-kasih,
kejam terhadap yang cita-citanya asor
— orang bijak semestinya mengetahui
seperti itulah penganut pandangan nihilisme.

Tidaklah bagi Śrāvaka- atau Pratyeka-,
juga tidak bagi Mahā-yāna mereka menjadi wadah.
Mereka, penggombal dan pemfitnah para Buddha,
tentu akan terjatuh ke Neraka Tanpa Jeda (Avīci).

Memegang Śīla pantang menggemari keramaian,
hemat akan Dharma, takut akan kejahatan pembawa penderitaan
— orang bijak semestinya mengerti
seperti itulah yang dinamakan Śrāvakayānis.

Gemar berderma dan mengamati kemunculan dan kelenyapan,
senantiasa bergembira seorang diri di tempat yang sunyi
— orang bijak semestinya mengerti
seperti itulah yang dinamakan Pratyekayānis.

Menyempurnakan segala akar kebaikan,
menjaga dan mempertahankan dasar kasih-sayang,
senantiasa bergemar merangkul dan menguntungi makhluk lain
— seperti itulah yang dinamakan Mahāyānis.

Demi menjaga Śīla, melepas tubuh dan nyawa;
tidak menggganggu atau mencelakaï makhluk hidup;
bersemangat mencari Dharma tentang kekosongan
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Batin tahan sabar menanggung [kekosongan] segala fenomena;
berkata-kata baik, tanpa berahasia dengan kikir;
di dalam Dharma senantiasa bergembira
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Baik kepada wadah Dharma maupun bukan wadah Dharma,
[senantiasa] menguntungi dan membahagiaï dengan batin samarata;
tidak tercemari oleh segala dharma duniawi
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Oleh karena itu, orang yang memiliki kebijaksanaan
secara universal menghormati pembabar ketiga Kendaraan!
Tidak mengganggu saṅgha pengikut-Ku,
ia selekasnya akan mencapai Pencerahan Tiada Tara.