Powered by Administrator

Translate

Sabtu, 11 November 2017

Perbandingan Ritus Pravrajyā Beberapa Mazhab

Tabel berikut (klik gambar di bawah) menyajikan perbandingan kisah pravrajyā Rāhula dalam Vinaya Piṭaka beberapa mazhab. Dalam Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律》 (T. № 1435), bahkan dalam skandhaka pertamanya, ritus penahbisan śrāmaṇera pun sudah diuraikan. Namun, konteks ceritanya di luar penahbisan Rāhula sehingga tidak kita perbandingkan. (Ritus Sarvāstivāda Vinaya juga menggunakan format penanyaan kesanggupan, yang berbeda dengan vinaya mazhab lain yang mengulangkan langkah latihan — hal ini akan dibahas kelak.)

Keunikan dapat terlihat di sini: pada ritus Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, Lokottaravāda, Tiga Perlindungan hanya diulangkan sekali di muka sebelum pengucapan langkah latihan apa pun. Ini mungkin merefleksikan pandangan yang mereka anut bahwa substansi Śīla terbentuk dengan mengucapkan langkah-langkah latihan. Hal berbeda dipegang oleh Mahīśāsaka (juga Sarvāstivāda), yang meyakini substansi Śīla terbentuk saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diucapkan. Oleh sebab itu, Tiga Perlindungan diulangkan sebelum lima langkah latihan, dan sekali lagi sebelum sepuluh langkah latihan.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pada ritus Dharmaguptaka penahbisan śrāmaṇera terjadi seketika tanpa didahului dengan pemberian disiplin upāsaka. Tentang masalah ini, Vinayācārya Yüan-chao menafsirkan dalam jilid 2-5 Chi-yüan chi 《濟緣記》 (Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 204c) sbb.:

問:《四分律》中何以求出家者,直受十戒耶?
Tanya: Dalam Dharmaguptaka Vinaya mengapakah mereka yang memohon peninggalan rumahtangga (pravrajyā) langsung menerima Sepuluh Śīla?

答:彼土士女,多有在俗受五戒者,故略之耳。文既不顯,故引《五分》、《多論》,必須次受。
Jawab: Di negeri sana (India), baik pria maupun wanita, banyak yang sudah menerima Lima Śīla sewaktu masih menjadi umat awam; oleh sebab itu, ceritanya disingkat. Karena tidak diungkapkan dalam teksnya, maka menarik [prinsip] dari Mahīśāsaka Vinaya dan Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, haruslah kita menerima secara bertahap.

問:今若不受五戒,為有何過?
Tanya: Kini apabila kita tidak menerima Lima Śīla, apakah salahnya?

答:準如《多論》,失次第故。《尼鈔》注云:「僧得小罪。」
Jawab: Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, berarti malatindak dalam urut-urutan. Rangkuman Vinaya Bhikṣuṇī (karya Tao-hsüan, Zokuzōkyō № 724) memberi anotasi: “Anggota saṅgha [yang melalaikannya] memperoleh pelanggaran kecil (duṣkr̥ta).”

Akan tetapi, dalam Dharmaguptaka Vinaya sebetulnya tidak pernah diceritakan bahwa Rāhula pernah menerima Lima Śīla sebelumnya. Mazhab Dharmaguptaka tampaknya memang membolehkan pemberian langsung Sepuluh Śīla sebab ritus penahbisan śrāmaṇera di luar kasus Rāhula diuraikan kembali pada hlm. 810b vinaya-nya (kali ini format langkah latihannya berupa penanyaan kesanggupan).

Di luar Tripiṭaka Tionghoa, vinaya Pāli memberi kesaksian yang berbeda lagi. Dalam khandhaka pertamanya, “Mahā Khandhaka”, disiplin sāmaṇera diberikan kepada Rāhula hanya dengan mengulangkan rumusan Tiga Perlindungan saja, sama seperti prosedur penabhisan bhikkhu yang mula-mula (saraṇagamana upasaṃpadā). Sepuluh langkah latihan baru ditetapkan oleh Buddha di kemudian hari setelah sekelompok sāmaṇera menanyakan kebingungan mereka akan unsur-unsur disiplinnya.



Rabu, 08 November 2017

ANUPŪRVA ŚĪLA vs AKASMĀD-UTPANNA ŚĪLA

Śīla-śīla Buddhis selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi dua:
  1. Śīla yang terbentuk secara bertahap (*anupūrva śīla 漸次戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya harus didahului dengan mengambil śīla lain.

  2. Śīla yang terbentuk seketika (*akasmād-utpanna śīla 頓立戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya terjadi langsung tanpa didahului dengan mengambil śīla lain.

*Anupūrva śīla meliputi tujuh jenis disiplin pengarah Pembebasan (Prātimokṣa Saṃvara) untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: Lima Śīla untuk upāsaka dan upāsikā, Sepuluh Śīla untuk śrāmaṇera dan śrāmaṇerī, Enam Dharma untuk śikṣamāṇā, dan Upasaṃpanna Śīla untuk bhikṣu dan bhikṣuṇī. Tanpa memiliki substansi Lima Śīla dalam dirinya, seseorang tidak dapat mengambil disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī. Tanpa memiliki substansi disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī, seseorang tidak dapat mengikuti upasaṃpadā untuk mengambil disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī. (Seorang śrāmaṇerī bahkan harus melewati jenjang śikṣamāṇā terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bhikṣuṇī.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, tradisi Asaṅga yang terdapat dalam “Bodhisattvabhūmi” (salah satu bagian dari kompendium pertama Yogācārabhūmi Śāstra 《瑜伽師地論》, T. № 1579) merupakan sebuah *anupūrva śīla. Seseorang harus sudah memiliki disiplin upāsaka/upāsika atau disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebelum dapat mengambilnya. Demikian pula disiplin kebodhisattvaan bagi umat awam — terdiri atas 6 śīla berat dan 28 śīla ringan — yang diuraikan Upāsaka Śīla Sūtra (T. № 1488) mengharuskan seseorang untuk terlebih dahulu mengambil Lima Śīla.

Penggolongan Lima Śīla sebagai *anupūrva śīla didasarkan pada praktik yang umum berlaku dalam Buddhisme Tiongkok di mana, biasanya, seseorang mula-mula hanya mengambil Tiga Perlindungan dan, apabila sudah siap, kelak ia baru mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Śīla. Hal ini tentu saja tidak mutlak. Apabila ia yakin kepada Triratna dan siap menjalankan Śīla, ia bisa langsung mengambilnya tanpa harus menjadi upāsaka tanpa-disiplin (aparipūrṇakārin) dahulu.

Yang menjadi pertanyaan adalah: berapa lamakah yang harus dilalui seorang upāsaka tanpa-disiplin, yang hanya mengambil Tiga Perlindungan, sebelum dapat mengambil salah satu atau lengkap Lima Śīla? Tidak ada aturan yang pasti untuk hal ini. Bab XIV Upāsaka Śīla Sūtra mensyaratkan waktu enam bulan sebelum seseorang diberi Lima Śīla dan Bodhisattva Śīla. Selama enam bulan itu, guru pembimbing akan mengawasi tingkah-lakunya untuk memastikan kelayakannya menerima Śīla. Akan tetapi, prosedur ini jelas hanya berlaku bagi mereka yang ingin menerima disiplin kebodhisattvaan berdasarkan Upāsaka Śīla Sūtra.

Lalu berapa lamakah yang harus dilalui seorang śrāmaṇera sebelum dapat mengambil Upasaṃpanna Śīla? Menurut Po-ni-huan ching 《般泥洹經》(T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), salah satu dari beberapa terjemahan Parinirvāṇa Sūtra versi Hīnayāna: tiga tahun. Namun, sekali lagi, hal ini tidak mutlak. Seseorang śrāmaṇera bisa saja mengikuti upasaṃpadā setelah lebih atau kurang dari tiga tahun. (Seorang śrāmaṇerī, akan tetapi, wajib menjalani masa śikṣamāṇā selama dua tahun sebelum ia mengikuti upasaṃpadā.)




Berikutnya, yang tergolong sebagai *akasmād-utpanna śīla antara lain Delapan Śīla, yang biasa dijalankan umat awam pada hari-hari upavasatha. Substansi Delapan Śīla dapat terbentuk dalam diri siapa pun — bahkan pada yang belum mengambil Tiga Perlindungan — asalkan orang tersebut yakin dan mau berlindung kepada Triratna. Vasubandhu menerangkan bait 30 dari bab IV Abhidharmakośa-nya (lihat 《阿毘達磨俱舍論》, T. vol. 29, № 1558 hlm. 75c) sbb.:

為唯近事得受近住?為餘亦有受近住耶?
Apakah hanya para upāsaka yang dapat menerima Upavāsa? Atau dapatkah yang lain menerima Upavāsa juga?

頌曰:
Kārikā:

近住餘亦有  不受三歸無

Anyasyāpyupavāso ’sti
śaraṇaṃ tvagatasya na


論曰:諸有未受近事律儀,一晝夜中,歸依三寶,說三歸已,受近住戒,彼亦受得近住律儀。異此則無,除不知者。
Bhāṣya: Apabila mereka yang belum menerima disiplin upāsaka [sudi] berlindung kepada Triratna, lalu setelah mengucapkan Tiga Perlindungan, mereka menerima śīla-śīla puasa untuk sehari semalam, maka disiplin penekun puasa (upavāsaka saṃvara) pun mereka peroleh. Selain dengan cara ini (mengulangkan Tiga Perlindungan), tidak dapat. Kecuali karena ketidaktahuan [guru pembimbingnya, yang hanya mengulangkan langkah latihan saja].

Lima Śīla, sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga dapat merupakan śīla yang terbentuk seketika — terlebih-lebih dalam pandangan Vaibhāṣika, yang menolak pemberian Tiga Perlindungan saja tanpa disiplin kepada umat awam. Pada masa awal penyebaran Śāsana, Upasaṃpanna Śīla pun merupakan śīla yang terbentuk seketika di mana seseorang langsung mendapatkannya setelah dipanggil dengan undangan “ehi, Bhikṣu!” oleh Buddha, atau setelah mengulangi Tiga Perlindungan di bawah bimbingan seorang guru. Namun, begitu prosedur jñapti-caturtha karman ditetapkan, seseorang hanya dapat memperoleh upasaṃpadā dari saṅgha setelah menjalani masa novisiat sebagai śrāmaṇera.

Ada perbedaan pandangan yang dianut berbagai mazhab berkenaan dengan dispilin śrāmaṇera. Menurut Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, sejak semula Sepuluh Śīla sudah diberikan secara bertahap. Seseorang baru dapat menerima Sepuluh Śīla apabila ia telah memperoleh Lima Śīla upāsaka. Prosedur ini bahkan sudah terjumpaï dalam kisah penahbisan Rāhula (lihat di sini). Dalam skandhaka pertama dari Vinaya Piṭaka masing-masing, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda juga mewajibkan hal yang sama. Sebaliknya, penahbisan śrāmaṇera secara seketika terdapat dalam Vinaya Piṭaka mazhab Dharmaguptaka 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 809c), di mana Rāhula menerima Sepuluh Śīla tanpa diberi Lima Śīla dahulu. (Untuk perbandingan kisah penahbisan Rāhula dalam Vinaya Piṭaka berbagai mazhab, lihat tabel.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, disiplin berdasarkan Mahāyāna Brāhmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. № 1484) dan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. № 1485) merupakan contoh śīla yang terbentuk seketika. Disiplin ini dapat diterima siapa saja, baik monastik, umat awam, atau orang yang belum pernah mengambil Prātimokṣa Saṃvara apa pun.

Selasa, 21 Maret 2017

VĀRITRA ŚĪLA vs CĀRITRA ŚĪLA

Pernah kita singgung sambil lalu dalam pembahasan-pembahasan terdahulu klasifikasi lain dari śīla, yaïtu:

  1. Śīla yang sifatnya berhenti (vāritra śīla 止持戒)
    Yakni śīla yang melarang pemegangnya untuk melakukan sesuatu. Jika dilakukan, maka terjadi pelanggaran disiplin.

  2. Śīla yang sifatnya bertindak (cāritra śīla 作持戒)
    Yakni śīla yang memerintahkan pemegangnya untuk melakukan sesuatu. Jika tidak dilakukan, maka terjadi pelanggaran disiplin.

Sebagai bagian dari Prātimokṣa Saṃvara, vāritra śīla menghentikan kejahatan melalui jasmani dan ucapan. Misalnya: pantang membunuh, pantang berdusta, dsb. Disiplin bagi umat awam Buddhis, yang terdiri atas lima śīla, sepenuhnya bersifat vāritra.

Berbeda halnya, disiplin bhikṣu dan bhikṣuṇī mengandung śīla-śīla yang bersifat cāritra, seperti: aturan yang mengharuskan bermukim di suatu tempat selama musim hujan (varṣāvāsa). Jikalau seorang bhikṣu tidak melaksanakannya dan malah berkelana melanjutkan pengembaraan, maka ia melakukan pelanggaran duṣkr̥ta. Seorang bhikṣuṇī yang tidak bermukim selama musim hujan bahkan terkena pelanggaran pācittika/ prāyaścittika.

Sebagian penulis mengatakan bahwa ajaran penghormatan ke enam arah yang terdapat pada Śikhāla Sūtra (terdapat beberapa terjemahan, misalnya: 《尸迦羅越六方禮經》, T. № 16) merupakan cāritra śīla untuk umat awam. Ini adalah pengertian yang keliru karena merancukan istilah śīla. Kita tahu bahwa śīla merupakan sebuah polisem yang memiliki banyak makna, antara lain sebagai ‘etika’ secara umum, atau sebagai ‘disiplin’ (bersinonim dengan saṃvara). Bagaimana pun juga pengelompokan vāritracāritra hanya berkenaan dengan śīla sebagai disiplin.

Seorang upāsaka yang gagal menyokong anak-istrinya atau lalai merawat orangtuanya yang renta, tidak melanggar disiplinnya. Ia bukan kita sebut “hidup secara imoral”, melainkan “hidup dengan tidak etis”.


PRAKR̥TI ŚĪLA vs PRAJÑAPTI ŚĪLA

如有二人同共作罪:一者受戒,二不受戒。
Andaikata terdapat dua orang yang sama-sama berbuat dosa: yang satu menerima Śīla (yakni: Prātimokṣa Saṃvara) dan yang kedua tidak.

已受戒者,犯則罪重;不受戒者,犯則罪輕。
Maka dosa yang dilakukan oleh yang sudah menerima Śīla akan lebih berat; sedangkan dosa yang dilakukan oleh yang tidak menerima Śīla akan lebih ringan.

何以故?毀佛語故。
Mengapakah demikian? Sebab ia [yang sudah menerima Śīla] telah mencederaï sabda Sang Buddha.

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XXII, “Lima Śīla”
《優婆塞戒經·五戒品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1063c)


Mengulang pembahasan-pembahasan terdahulu (lihat di sini dan sini), bahwa dosa atau kecelaan (sāvadya) dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Kecelaan sehubungan dengan jalan karma (karmapathika sāvadya) pasti membawa akibat buruk karena secara alami bertentangan dengan hukum Dharma (contohnya: pembunuhan); sedangkan kecelaan karena kelakuan buruk (durācāra sāvadya) belum tentu. Apa yang buruk — meski sebenarnya tidak bertentangan dengan Dharma — dalam pandangan sebuah masyarakat, bisa jadi tidak apa-apa menurut norma yang berlaku dalam masyarakat lainnya.

Śīla-śīla Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) mengandung kaïdah yang mengatur karmapathika sāvadya maupun yang mengatur durācāra sāvadya. Jadi, kecelaan karena pelanggaran Śīla dapat kita bedakan menjadi dua:

  1. Kecelaan deskriptif (prakr̥ti sāvadya 性罪)
    Merupakan kecelaan yang bertumpang-tindih dengan karmapathika sāvadya. Contohnya dalam pañca śīla Buddhis adalah pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan, yang secara alami dideskripsikan sebagai kecelaan karena memang merupakan jalan karma buruk (akuśala karmapatha).

  2. Kecelaan preskriptif (pratikṣepana sāvadya atau prajñapti sāvadya 遮罪)
    Merupakan kecelaan yang dijadikan preskripsi/ditetapkan begitu saja karena Buddha memandangnya buruk. Contohnya dalam pañca śīla Buddhis adalah meminum minuman-keras. Disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī mengandung lebih banyak lagi preskripsi yang ditetapkan oleh Buddha sebagai kecelaan.

Śīla-śīla yang mengatur prakr̥ti sāvadya disebut śīla deskriptif (prakr̥ti śīla 性戒). Śīla-śīla yang mengatur prajñapti sāvadya disebut śīla preskriptif (prajñapti śīla 遮戒). Prajñapti śīla dapat bersesuaian dengan norma moralitas yang berlaku umum atau dapat juga tidak. Berzinah dengan istri tetangga adalah tercela di mata masyarakat umum maupun di dalam Buddhadharma. Namun, meminum minuman-keras dapat diterima dalam kebudayaan banyak bangsa di dunia. Seorang Buddhis yang meminum minuman-keras tidak tercela di mata masyarakat tempat ia tinggal jika memang hal itu dipandang lazim. Ia juga belum tentu disebut melanggar Śīla di dalam Buddhadharma. Ia baru disebut melanggar Śīla jika ia memang sudah mengambil śīla (langkah latihan) berpantang meminum minuman-keras. Karma buruknya datang semata-mata karena ia melanggar disiplin, dan bukan dari meminum minuman-keras sebab meminum minuman-keras adalah perbuatan yang netral.

pakati sila, pannati sila

Walau demikian, Upāsaka Śīla Sūtra selanjutnya menyambung:

是二種罪,復有輕重。或有人能重罪作輕,輕罪作重。
Kedua jenis kecelaan itu dibedakan lagi menjadi ringan (laghuka) dan berat (guruka). Ada orang yang melakukan dosa berat namun menjadi ringan, [ada pula yang] melakukan dosa ringan namun menjadi berat.

鴦掘魔羅受於世戒,伊羅缽龍受於義戒。鴦掘魔羅破於性重,不得重罪。伊羅缽龍壞於遮制,而得重罪。是故!有人重罪作輕,輕罪作重。
Seperti Aṅgulimāla yang menerima śīla duniawi (laukika śīla), sementara Naga Elāpattra menerima śīla tertinggi (parmārtha śīla). Aṅgulimāla melakukan kecelaan deskriptif, tetapi tidak mendapatkan dosa yang berat. Naga Elāpattra hanya melanggar aturan preskriptif, tetapi mendapatkan dosa yang berat. Oleh karena itu, ada orang yang melakukan dosa berat namun menjadi ringan, [ada pula yang] melakukan dosa ringan namun menjadi berat!

是故!不應以戒同故,得果亦同。
Maka tidaklah mesti bahwa śīla yang sama akan menghasilkan buah yang sama!

Di bawah guru non-Buddhis, Aṅgulimāla mengambil “disiplin” untuk membunuh seribu orang. Avijñapti yang terbentuk pada dirinya adalah asaṃvara avijñapti. Meskipun ia melakukan dosa berat, namun karma buruk tersebut dapat diimbangi dengan karma baik besar dari penerimaan disiplin Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) sehingga ia tidak terjatuh ke alam neraka, tetapi hanya menerima balasan mati karena dilempari batu.

Naga Elāpattra, sebaliknya, pada kehidupan lampaunya merupakan seorang bhikṣu yang meninggalkan rumah-tangga di bawah Buddha Kāśyapa. Suatu ketika, karena terhambat oleh sepokok pohon ketika sedang berjalan, dipatahkannya ranting pohon tersebut. Kendati mematahkan ranting pohon bukanlah suatu perbuatan yang dianggap tak bermoral di mata masyarakat, itu merupakan śīla preskriptif yang telah ditetapkan oleh Buddha Kāśyapa, dan Elāpattra memandangnya remeh. Sebagai bhikṣu, ia tidak mau bertobat menyesali perbuatan tersebut. Akibatnya, setelah meninggal, ia terjatuh ke neraka selama berkalpa-kalpa. Di zaman Buddha Śākyamuni ia baru keluar dan terlahir kembali menjadi seekor naga yang kepalanya ditumbuhi tanaman elā (‘kapulaga’) yang menimbulkan rasa sakit luar-biasa apabila tertiup angin.

Maka dalam menerima disiplin Buddhis, kita jangan menganggap remeh śīla mana pun walaupun śīla itu terlihat kecil dan tidak penting. Bukankah salah satu kriteria terbentuknya disiplin adalah kesediaan kita memeluk segala aspek yang diatur disiplin tersebut? Khusus untuk disiplin perumahtangga, Buddha bahkan memberikan keleluasaan untuk menerima hanya satu atau beberapa langkah latihan saja (tidak lengkap lima). Kita hendaknya mempertimbangkan baik-baik kesanggupan kita sebelum menerimanya.

Rabu, 15 Maret 2017

LAUKIKA ŚĪLA vs LOKOTTARA ŚĪLA

智者當觀戒有二種:
Seorang bijak hendaknya melihat bahwa śīla ada dua jenis:

一者、世戒。   1. Śīla duniawi (laukika śīla), dan
二者、第一義戒。 2. Śīla tertinggi (paramārtha śīla).

若不依於三寶受戒,是名世戒。是戒不堅,如彩色無膠。
Śīla yang diambil tanpa bersandar pada Triratna disebut śīla duniawi. Śīla demikian tidaklah kokoh, ibarat cat yang tidak mengandung bahan perekat.

是故!我先歸依三寶,然後受戒,若終身受,若一日一夜。
Oleh sebab itu, mula-mula kita harus menyatakan berlindung kepada Triratna, barulah [dapat] menerima śīla, baik untuk seumur hidup, ataupun hanya sehari semalam (yakni: Aṣṭāṅga Śīla).

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XXII, “Lima Śīla”
《優婆塞戒經·五戒品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1063c)


Petikan ini membahas perbedaan antara Śīla Saṃvara yang bersifat Prātimokṣa dengan yang bersifat non-Prātimokṣa. Apakah yang menjadi pembedanya? Yakni: Tiga Perlindungan. Prātimokṣa Saṃvara baru dapat terbentuk jika seseorang benar-benar yakin kepada Triratna dan menjadikan Triratna sebagai satu-satunya Pelindung. Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020b) menyatakan:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha (Buddhakula), Śīla adalah dasarnya.

Agar dapat mempraktikkan ajaran Buddha lebih lanjut, minimal kita harus memiliki keyakinan inisial kepada Triratna. Bagaimana kita bisa mencapai kemajuan jikalau kita tidak yakin bahwa Buddha benar-benar Telah Tercerahkan, bahwa Dharma yang diajarkan-Nya benar-benar dapat membebaskan, dan bahwa terdapat bukti nyata pribadi-pribadi yang telah merealisasi Kebebasan berkat mempraktikkan ajaran tersebut?

Seorang non-Buddhis, sebagai contoh, bisa saja mengikuti sebuah program retret meditasi Buddhis di mana pesertanya diwajibkan mengambil Aṣṭānga Śīla. Ia mungkin saja bertekad sungguh-sungguh untuk menjalankan śīla seperti para peserta Buddhis lainnya. Walau demikian, substansi Śīla yang akan terbentuk dalam dirinya hanyalah Śīla Saṃvara yang bersifat non-Prātimokṣa sebab ia tidak memiliki keyakinan kepada Triratna. Śīla yang ia jalankan tentu merupakan karma baik yang akan menghasilkan manfaat positif baginya. Akan tetapi, itu semua hanya śīla yang bersifat duniawi (laukika śīla) dan tidak dapat menjadi kondisi pendukung Pembebasan Sejati.

Prātimokṣa Saṃvara, sebaliknya, adalah seumpama cat yang memiliki bahan perekat. Meskipun avijñapti yang terbentuk telah berakhir, namun benih (bīja) yang tertanam dalam gudang kesadaran mereka yang mengambilnya akan menjadi kondisi pendukung tercapainya Pembebasan pada suatu hari di masa datang. Oleh karena itu, Prātimokṣa Saṃvara disebut “śīla yang melampaui keduniaan” (lokottara śīla) atau “śīla yang tertinggi” (paramārtha śīla).




Pada bagian lain dari Upāsaka Śīla Sūtra (hlm. 1037b) Buddha bersabda:

「善男子。諸外道等,獲得非想非非想定,壽無量劫。若不能得解脫分法,當觀是人為地獄人。若復有人,阿鼻地獄經無量劫受大苦惱,能得如是解脫分法,當觀是人為涅槃人。善男子。是故!我於鬱頭藍弗生哀愍心,於提婆達多不生憐念心。」
“Putra berbudi, pengikut ajaran non-Buddhis yang telah memperoleh Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana Samādhi, usianya berkalpa-kalpa tidak terukur. Namun, jikalau ia tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan, pandanglah ia sebagai penghuni neraka. Sebaliknya, jikalau terdapat seseorang yang menerima penderitaan besar di Neraka Avīci selama berkalpa-kalpa yang tidak terukur, namun bisa memperoleh bagian Pembebasan, maka pandanglah ia sebagai pencapai Nirvāṇa. Putra berbudi, oleh sebab itu aku merasa iba kepada Udraka Rāmaputra, namun tidak risau akan Devadatta!”

Udraka Rāmaputra adalah guru dari Siddhārtha Gautama sebelum Ia menjadi Buddha. Meskipun ia dapat terlahir di Surga Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana (surga tertinggi dari Alam Dhyāna Tanpa-materi) berkat latihan meditasinya, setelah karma baiknya habis berkalpa-kalpa mendatang, ia akan jatuh ke neraka karena pandangan sesat. Sebaliknya, Devadatta pernah meninggalkan rumah-tangga di bawah Buddha dan menerima Prātimokṣa Saṃvara. Walau kemudian ia memberontak dan terjatuh ke Neraka Avīci, namun Buddha sendiri meramalkan Pencerahannya di masa mendatang. Oleh sebab itu, Buddha tidak risau sama sekali.

Selasa, 14 Maret 2017

Terlahir di Surga Tidaklah Lebih Baik daripada Menjadi Manusia

Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509b) diceritakan:

如昔一時,大目揵連以弟子有病,上忉利天以問耆婆,正值諸天入歡喜園。爾時,目連在路側立,一切諸天無顧看者。耆婆後至,顧見目連,向舉一手,乘車直過。
Seperti pada suatu ketika dahulu — karena muridnya mengalami sakit — Mahāmaudgalyāyana naik ke Surga Trāyastriṃśa untuk bertanya kepada Jīvaka dan, secara kebetulan, menjumpaï para dewa sedang memasuki Taman Nandanavana. Tatkala itu Maudgalyāyana berdiri di tepi jalan, dan para dewa tiada yang mengacuhkannya. Jīvaka tiba belakangan; ia melihat Maudgalyāyana, lalu mengangkat satu tangannya sambil berlalu mengendaraï kereta.

目連自念:「此本人間是我弟子,而今受天福,以著天樂,都失本心。」
Maudgalyāyana merenung: “Sewaktu menjadi manusia, ia adalah siswaku. Namun kini, setelah menerima pahala dewata, ia melekat pada kesenangan surgawi dan kehilangan batinnya yang semula.”

即以神力,制車令住。耆婆下車,禮目連足。
Maka dengan kekuatan gaibnya dibuatnya kereta itu berhenti. Jīvaka pun turun dari kereta dan bernamaskāra di bawah kaki Maudgalyāyana.

目連種種因緣,責其不可。耆婆答目連曰:「以我人中為大德弟子,是故舉手問訊。頗見諸天,有爾者不?生天以著樂染心,不得自在。是使爾耳。」
Dengan bermacam-macam alasan, Maudgalyāyana menegur ketidakpatutannya. Jīvaka membalas: “Karena sewaktu menjadi manusia saya merupakan siswa Bhadanta, maka saya mengangkat tangan untuk menyapa. Tetapi, cobalah tengok para dewa lainnya — adakah mereka [mempunyaï etiket] seperti itu? Mereka yang terlahir sebagai dewa, batinnya tercemari kemelekatan akan kesenangan sehingga tidak mendapatkan kemerdekaan. Hal inilah yang menyebabkan mereka demikian.”

Dapat kita lihat bahkan tabib Sang Buddha yang terlahir di Surga Trāyastriṃśa, Jīvaka Kumārabhr̥ta, walau telah memperoleh Buah Srotāpatti, tidak dapat mengontrol dirinya secara merdeka. Apalagi dewa-dewa lain yang belum mencapai kesucian apa pun — kebanyakan dari mereka terlena batinnya oleh kesenangan surgawi sehingga melupakan Buddhadharma yang sebelumnya mereka latih. Hal ini serupa dengan orang yang terlahir di alam binatang. Meskipun saat menjadi manusia sebelumnya ia adalah seorang yang cerdas, kini batinnya diliputi kebingungan sehingga sering melakukan tindakan yang bodoh. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan śīla-śīla mana pun, seorang Buddhis janganlah bercita-cita untuk terlahir di alam surga.






Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1037b) menyatakan:

「善男子。有人勤求優婆塞戒,於無量世如聞而行,亦不得戒。有出家人求比丘戒、比丘尼戒,於無量世如聞而行,亦不能得。何以故?不能獲得解脫分法故;可名修戒,不名持戒。善男子。若諸菩薩得解脫分法,終不造業求生欲界、色無、色界,常願生於益眾生處。」
“Putra berbudi, ada orang yang dengan tekun mencari Śīla upāsaka (memohon Pañca Śīla), lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan [substansi] Śīla. Ada pula pravrajita yang mencari Śīla bhikṣu atau Śīla bhikṣuṇī (memohon Upasaṃpadā), lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan [substansi] Śīla. Apakah sebabnya? Karena mereka tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan. Mereka boleh disebut ‘mengembangkan śīla (moralitas)’, tetapi tidak disebut ‘memegang Śīla (disiplin)’. Putra berbudi, para bodhisattva yang memperoleh bagian Pembebasan takkan pernah melakukan perbuatan demi terlahir di Alam Nafsu Inderawi (kāmadhātu), Alam Dhyāna Bermateri (rūpadhātu), atau Alam Dhyāna Tanpa-materi (ārūpyadhātu); mereka hanya berharap bisa terlahir di mana pun yang dapat menguntungi makhluk lain.”

Jumat, 10 Maret 2017

Pengelompokan Śīla dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra

Petikan jilid 25 Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra 《正法念處經》 (T. vol. 17, № 721 hlm. 142c–143b), sebuah teks yang (kemungkinan) berasal dari Sautrāntika:



DUBLET



「復次!比丘觀戒幾種?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati: moralitas (śīla) ada berapakah jenisnya?



「彼見世間有二種戒:
“Ia melihat bahwa di dunia ini terdapat dua jenis śīla:
一者、自生。 1. Timbul dari diri sendiri.
二者、從他。 2. Ikutan orang lain.
自生者,自性能持。
Timbul dari diri sendiri adalah karena sifat alami/pembawaan diri sendiri sanggup memegangnya.

從他者,和合而生。
Ikutan orang lain adalah yang timbul (termotivasi) karena hidup serasi (bersama dalam persekutuan).



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、在家。 1. Untuk perumahtangga (āgārika).
二者、出家。 2. Untuk yang meninggalkan rumah-tangga (anāgārika).
在家戒者,所謂五戒。
Śīla untuk perumahtangga yaïtu pañca śīla.

出家戒者,持解脫戒。
Śīla untuk yang meninggalkan rumah-tangga yaïtu memegang prātimokṣa śīla.



「復有二種戒,
“Ada lagi dua jenis śīla,

謂:
yaïtu:
一行戒、  Śīla satu-pelaksanaan (ekākāra), dan
非一行戒。 Śīla bukan satu-pelaksanaan (anekākāra).
一行者,所謂一戒。
Satu-pelaksanaan yaïtu [hanya] satu śīla.

非一行者,或受二戒、或持三戒。
Bukan satu-pelaksanaan yaïtu menerima dan memegang dua atau tiga śīla.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、久時。  1. Untuk waktu lama (cirakāla).
二者、不久時。 2. Tidak untuk waktu lama (acirakāla).
久時者,盡形護戒。
Untuk waktu lama adalah śīla yang dijaga seumur hidup.

不久時者,隨心所要,隨力持戒。
Tidak untuk waktu lama adalah śīla yang dipegang sekuat tenaga selama [jangka waktu] yang dikehendaki sesuka hati.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、有垢。 1. Dengan noda (samala).
二者、無垢。 2. Tanpa noda (amala).
有垢戒者,生於天中。
Śīla dengan noda akan membawa kelahiran ke alam surga.

無垢戒者,至於涅槃。
Śīla tanpa noda akan menghantar ke Nirvāṇa.



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、世間戒。  1. Śīla duniawi (laukika).
二者、出世間戒。 2. Śīla adiduniawi (lokottara).
世間戒者,則有流動。
Śīla duniawi masih memiliki keteradukan (vikṣepa).

出世間戒,則無流動。
Śīla adiduniawi adalah tanpa keteradukan (avikṣepa).



「復有二種戒:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、自護。 1. Menjaga diri sendiri.
二者、護他。 2. Menjaga orang lain.
自持戒者,名曰自護。
Mempertahankan moralitas sendiri itulah yang dinamakan ‘menjaga diri sendiri’.

護他者,令他住於世間,染戒。
‘Menjaga orang lain’ adalah agar orang lain bertahan di dunia, [sengaja] mencemari moralitas sendiri.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、止。 1. Yang sifatnya berhenti (vāritra).
二者、作。 2. Yang sifatnya bertindak (cāritra).
作者,成就諸行,轉於生死。
Yang sifatnya bertindak adalah penyempurnaan segala praktik [kebajikan] sementara berputar-putar dalam saṃsāra.

止者,知因知緣,而不進學。
Yang sifatnya berhenti adalah mengetahui sesuatu sebagai sebab dan kondisi [yang dapat menimbulkan keburukan] dan tidak terus melatihnya.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、智攝。 1. Yang dirangkakan kebijaksanaan (jñāna).
二者、施攝。 2. Yang dirangkakan [niat untuk] berderma (dāna).
布施攝戒,得大富樂。
Śīla yang dirangkakan derma akan menghasilkan kekayaan dan kebahagiaan besar.

智所攝戒,得至涅槃。
Śīla yang dirangkakan kebijaksanaan dapat menghantar ke Nirvāṇa.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、內行。 1. Yang merupakan praktik internal.
二者、外行。 2. Yang merupakan praktik eksternal.
外行者,依於淨身。
Praktik eksternal bertumpu pada pemurnian [karma] jasmani.

內行者,心口意淨。
Praktik internal memperhatikan pemurnian [karma] ucapan dan pikiran.



「復有二種:
“Ada lagi dua jenis śīla:
一者、修習。 1. Yang terbina sebagai kebiasaan.
二者、不習。 2. Yang bukan merupakan kebiasaan.
修習者,已於無量世來修習。
Yang terbina sebagai kebiasaan adalah yang telah dikembangkan selama banyak kehidupan tak terukur.

不習者,一世持戒。
Yang bukan merupakan kebiasaan adalah śīla yang [baru] dipegang dalam satu kehidupan.



「如是!比丘觀如是等無量二戒。」
“Demikianlah! Seorang bhikṣu mengamati dublet-dublet śīla yang tak terhitung demikian.”



TRIPLET



「復次!比丘觀微細戒。有幾種戒?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati moralitas dengan lebih teliti. Ada berapakah jenis śīla?



「比丘觀戒復有三種:
“Seorang bhikṣu mengamati lagi bahwa śīla ada tiga jenis:
一者、少分戒。 1. Śīla sedikit-bagian.
二者、多分戒。 2. Śīla banyak-bagian.
三者、盡受戒。 3. Śīla yang keseluruhannya diterima.
少分戒者,持於一戒。
Śīla sedikit-bagian adalah hanya memegang satu śīla.

多分戒者,或持二、三。
Śīla banyak-bagian adalah memegang dua atau tiga śīla.

盡受戒者,持一切戒。
Śīla yang keseluruhannya diterima adalah memegang semua śīla.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、愛。  1. Disebabkan kecintaan.
二者、不愛。 2. Tidak disebabkan kecintaan.
三者、自性。 3. Karena sifat alami diri sendiri.
愛者,為財利故,而受禁戒。
Disebabkan kecintaan adalah demi [memperoleh] keuntungan dan kekayaan
lalu menerima śīla.

不愛者,疾病故,而受禁戒。
Tidak disebabkan kecintaan adalah karena sakit-sakitan lalu menerima śīla.

自性者,自性淨行。此功德勝。
Karena sifat alami diri sendiri adalah memang pembawaannya [menyukaï] praktik kemurnian. — Inilah yang kebajikannya paling unggul.



「復有三種戒:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、禪行戒。 1. Śīla saat di dalam praktik dhyāna.
二者、無禪戒。 2. Śīla saat tiadanya dhyāna.
三者、離惡戒。 3. Śīla yang berasal dari [tekad] meninggalkan kejahatan.
禪行戒者,修世間禪,乃至入於城邑、聚落,而常修禪。
Śīla saat di dalam praktik dhyāna adalah [moralitas yang dimiliki] mereka yang mengembangkan dhyāna duniawi, yang sampai di kota ataupun desa selalu berada dalam dhyāna.

非禪戒者,離禪行戒。
Śīla saat tiadanya dhyāna adalah moralitas ketika meninggalkan praktik dhyāna.

離惡戒者,恐遭眾惡,捨之不為。如人醉酒,行不善業;智人見之,斷酒不飲。
Śīla yang berasal dari [tekad] meninggalkan kejahatan adalah yang dimiliki mereka yang merasa seram akan aneka kejahatan, sehingga melepas dan tidak melakukannya. Misalnya: Orang yang mabuk arak dapat menjalankan segala perbuatan yang tidak baik. Ketika melihatnya, maka orang bijak meninggalkan arak dan takkan meminumnya.



「復有三種戒:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、諂曲戒。  1. Śīla [yang pura-pura dipegang] dengan tujuan menjilat.
二者、不諂曲戒。 2. Śīla [yang dipegang] bukan bertujuan menjilat.
三者、性善戒。  3. Śīla dari mereka yang sifat alaminya memang baik.
諂曲戒者,垢染不淨,得少果報。
Śīla dengan tujuan menjilat tercemari noda dan tidak murni, sehingga hanya berakibat diperolehnya buah yang kecil.

不諂曲戒者,得大果報。
Śīla yang bukan bertujuan menjilat akan berakibat diperolehnya buah [lebih] besar.

性善戒者,若心增上,則得大果;若心劣弱,其果則小。
Śīla dari mereka yang sifat alaminya memang baik, jika batinnya ditingkatkan, tentu akan menghasilkan buah yang besar; jika batinnya lemah, maka buahnya [lebih] kecil.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、因緣持。  1. Yang dipegang karena sebab tertentu.
二者、非因緣持。 2. Yang dipegang bukan karena sebab tertentu.
三者、法不應作。 3. Yang [sekadar] terlarang karena hukum.
因緣持者,有因緣故,護持禁戒。
Yang dipegang karena sebab tertentu adalah śīla yang dipegang dan dijaga karena adanya kondisi [yang memotivasinya].

非因緣者,無緣持戒。
Yang dipegang bukan karena sebab tertentu adalah śīla yang dipegang tanpa kondisi [yang memotivasi].

不應作者,生於大姓所不應作,護種姓故。
Yang [sekadar] terlarang adalah yang tidak diperbolehkan untuk dilakukan mereka yang lahir sebagai keturunan keluarga besar, demi menjaga tradisi keluarga.


「復次!從緣持戒者,為得佛故,以思勝故,其果則大。
“Selanjutnya lagi, bilamana śīla dipegang karena terkondisi oleh motivasi memperoleh Kebuddhaan, maka — berkat keunggulan kehendaknya (cetanā) — buah yang dihasilkan pun besar.

無緣持戒,其果則小,不識果故。
Bilamana śīla dipegang tanpa kondisi [yang memotivasi], buah yang dihasilkan kecil karena tidak mengenali buahnya.

不應作者,求世名故,其果亦小,生於人中。
Yang [sekadar] terlarang, karena mencari nama baik duniawi, akan menghasilkan buah yang juga kecil, misalnya: terlahir kembali di antara manusia.



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:

一者、畏師。   1. Karena takut kepada guru.
二者、非畏師。  2. Bukan karena takut kepada guru.
三者、畏於惡道。 3. Disebabkan takut [terlahir di] jalur-jalur rendah.

畏師持戒,名下持戒。
Śīla yang dipegang karena takut kepada guru dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] rendah’.

非畏師持戒,名中持戒。
Śīla yang dipegang bukan karena takut kepada guru dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] menengah’.

若畏惡道,名上持戒。
Jika disebabkan takut [terlahir di] jalur-jalur rendah, maka dinamakan ‘śīla yang dipegang dengan [motivasi] tinggi’.



「復有三種。
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、自持戒,而不教人。
1. Śīla yang dipegang diri sendiri, namun tidak [sudi] diajarkan kepada orang lain.

二者、自行教人。
2. Yang dijalankan diri sendiri dan diajarkan kepada orang lain.

三者、於他行捨。
3. Yang dijalankan dengan keseimbangan (upekṣā) terhadap orang lain (karena tidak diterima, walaupun telah diajarkan sekuat tenaga).



「復有三種:
“Ada lagi tiga jenis śīla:
一者、缺戒。   1. Śīla yang berkekurangan.
二者、不缺戒。  2. Śīla yang tidak berkekurangan
三者、一切缺戒。 3. Śīla yang seba-kekurangan.
缺戒者,初善持戒,後則破戒。是名缺戒。
Śīla yang berkekurangan adalah śīla yang dipegang baik pada awalnya, tetapi pada akhirnya dipecah¹. Itulah yang dinamakan śīla yang berkekurangan.

不缺戒者,初中後時,常善持戒。是名不缺戒。
Śīla yang tidak berkekurangan adalah śīla yang selalu dipegang baik pada awal, pertengahan, maupun akhirnya. Itulah yang dinamakan śīla yang tidak berkekurangan.

一切缺戒者,會諸外道,而受齋戒,邪見殺生。是名一切缺戒。」
Śīla yang serba-kekurangan adalah menemui pengikut-pengikut non-Buddhis (bāhyaka), lalu menerima aturan-aturan śīla dan puasa mereka, berpandangan sesat atau membunuh makhluk hidup. Itulah yang dinamakan śīla yang serba-kekurangan.”



KUARTET



「復次!比丘觀四種戒。何等為四?
“Selanjutnya lagi, seorang bhikṣu mengamati empat jenis śīla.
Apakah keempatnya itu?

離口四過:
Meninggalkan empat kesalahan ucapan:
一者、妄語。 1. Kedustaan (mr̥ṣāvāda).
二者、兩舌。 2. Lidah bercabang (paiśunya vācā).
三者、惡口。 3. Bermulut jahat (pāruṣya vācā).
四者、綺語。 4. Omong kosong (saṃbhinna pralāpa).”



KUINTET



「復有五種戒:止五境界。是名為五。」
“Ada lagi lima jenis śīla: berhenti dari kelima ranah [objek inderawi]. Itulah kelimanya.”



SEKSTET



「復有六種因緣,而持禁戒:
“Ada lagi śīla yang dipegang karena enam jenis sebab-musabab:
一者、畏他求便。 1. Karena takut dicelakai orang lain.
二者、畏於罰戮。 2. Karena takut akan hukuman.
三者、怖畏。   3. Karena kengerian.
四者、因緣。   4. Karena sebab tertentu.
五者、不觀。   5. Karena tanpa pengamatan.
六者、自性。   6. Karena sifat alami diri sendiri.”



SEPTET



「復有七種戒,
“Ada lagi tujuh jenis śīla,

謂:
yaïtu:
身三戒、  Tiga śīla [pengendali] jasmani, dan
口有四戒。 Empat śīla [pengendali] ucapan.”






「比丘如是觀無量持戒。眾生畏於惡道,持戒能度。如是持戒,略說二種:一者、世間;二者、出世間。」
“Seorang bhikṣu demikian mengamati [berbagai pengelompokan] yang tak terhitung dalam memegang śīla. Makhluk hidup yang takut akan jalur-jalur rendah dapat terselamatkan dengan memegang śīla. Begitulah secara ringkas memegang śīla dapat digolongkan menjadi dua macam: (1) duniawi, dan (2) adiduniawi.”


Kamis, 09 Maret 2017

Macam-Macam Moralitas


或以希望受  或以恐怖持
有順菩提支  及與清淨戒

Ada yang menerimanya karena pengharapan,
ada yang memegangnya karena ketakutan,
ada yang menjadikannya faktor pengarah Bodhi,
serta ada yang murni moralitasnya.

—— Miśrakābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》
(T. vol. 28, № 1552 hlm. 933b)


Dharmatrāta membedakan empat macam moralitas:
  1. 希望戒者,謂求生天及餘處,故持戒。
    Moralitas karena pengharapan adalah demi mencari kelahiran di surga atau tempat lain [yang baik], maka memegang śīla.

  2. 恐怖戒者,畏自責、畏他責、畏罰、畏惡趣、畏不活、畏惡名,故持戒。
    Moralitas karena ketakutan adalah karena takut akan tanggung-jawab sendiri, takut akan tanggung-jawab orang lain, takut akan hukuman, takut akan jalur kelahiran rendah, takut tidak dapat hidup, takut mendapat nama buruk, maka memegang śīla.

  3. 順覺支戒者,為莊嚴心故,為方便眾具故,求最勝義故持戒。
    Moralitas yang menjadi faktor pengarah Bodhi adalah demi memperhias batin, demi menyempurnakan berbagai upaya, demi mencari kebenaran tertinggi (paramārtha), maka memegang śīla.

  4. 清淨戒者,謂無漏戒,離垢故。
    Moralitas yang murni adalah Anāsrava Saṃvara, karena terbebas dari noda.

Moralitas #1 dan #2 tidak disertaï semangat pertolakan (naiṣkramya) dari saṃsāra sehingga tidak membawa kepada Pembebasan. Moralitas #3-lah yang akan membawa kepada Pembebasan. Moralitas #4 hanya dimiliki oleh para ārya yang telah memasuki Jalan Pembebasan.




Motivasi dalam Mengambil Disiplin Buddhis (2)

Lebih buruk dari orang yang mengambil Śīla karena berharap lahir di surga dengan menjalankan moralitas, adalah mereka yang tidak benar-benar berniat menjalankan disiplin, namun mengambilnya hanya demi status. Misalnya: seseorang mengambil Pañca Śīla supaya dipandang sebagai umat Buddha yang baik, supaya dianggap telah menjadi upāsaka yang sah sehingga “lebih tinggi” kedudukannya dibandingkan umat lain yang hanya merupakan simpatisan dalam acara-acara keagamaan. Ada lagi orang yang tidak memiliki keterampilan atau kesulitan mendapat pekerjaan, lalu mengikuti upasaṃpadā supaya dianggap sah sebagai bhikṣu di mata masyarakat sehingga dapat hidup dalam komunitas saṅgha.

Dalam Upāsaka Śīla Sūtra bab IV, “Tentang Pembebasan” 《優婆塞戒經·解脫品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1037a), Buddha bersabda:

「善男子。若人不能一心觀察生死過咎、涅槃安樂,如是之人,雖復惠施、持戒、多聞,終不能得解脫分法。若能厭患生死過咎,深見涅槃功德安樂,如是之人,雖復少施、少戒、少聞,即能獲得解脫分法。」
“Putra berbudi, jikalau seseorang tidak dapat dengan sepenuh hati mengamati keburukan dari saṃsāra dan kebahagiaan dari Nirvāṇa, maka meskipun orang tersebut suka berderma, memegang śīla, atau banyak mendengarkan [Ajaran], ia takkan dapat memperoleh bagian Pembebasan. Jikalau seseorang dapat merasa enggan akan keburukan saṃsāra dan melihat secara mendalam kualitas Nirvāṇa yang membahagiakan, maka meskipun ia sedikit berderma, sedikit memegang Śīla, sedikit mendengar [Ajaran], ia tentu dapat memperoleh bagian Pembebasan.”

Orang yang mengambil dan menuruti disiplin Buddhis, tetapi masih menggemari kelahiran di surga, takkan memperoleh bagian Pembebasan. Apalagi mereka yang mengambilnya tanpa benar-benar berniat untuk menurutinya! Substansi disiplin sesungguhnya tidak terbentuk dalam diri mereka; mereka telah membuang-buang kesempatan emas berjumpa dengan Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan dharma unik (dharmāntara) yang hanya ada pada masa śāsana seorang Samyaksaṃbuddha. Oleh sebab itu, Śīla-Śīla Buddhis seharusnya benar-benar diambil dengan dilandasi semangat untuk bertolak dari saṃsāra.




Bagaimanakah semangat tersebut harus kita kembangkan pada saat kita mengambil Śīla? Vinayācārya Tao-hsüan mengutip (komentar) vinaya kuno berjudul P’i-pa¹ 毘跋律, yang kini telah hilang, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 26 a–b):

  1. 發心:「我今求道,當教一切衆生,衆生皆惜壽命」,以此事受,是下品輭心。雖得佛戒,猶非上勝。
    Dengan membangkitkan tekad: “Kini aku hendak mencari Pencerahan; [untuk itu] aku harus menolong semua makhluk sebab semua makhluk menyayangi hidupnya”, ini merupakan penerimaan yang motivasinya asor dan lemah. Walaupun Śīla-Śīla Buddhis didapatkan, namun tidaklah unggul.
“Menolong semua makhluk” bisa diartikan:
  • Sekadar tidak menyakiti makhluk hidup mana pun, sebab semua makhluk menyayangi hidupnya.
  • Membimbing dengan Dharma supaya mereka tidak hanya selamat di masa sekarang, tetapi juga dapat mengatasi segala penderitaan di masa datang.
  • Menyeberangkan seutuhnya dengan berbagai upaya hingga mereka benar-benar mencapai Kebuddhaan.
Maka “Pencerahan” yang dimaksudkan di sini ialah Buah yang dicita-citakan pengikut kedua Kendaraan Kecil, yang hanya sekadar membangkitkan tekad untuk tidak mencelakaï makhluk hidup mana pun.

  1. 餘二就義明之。
    [Seperti motivasi di atas,] kedua lainnya akan diterangkan sampai pengertiannya.

    云何中品?若言:「我今正心向道,解衆生疑。我爲一切作津梁,亦能自利、復利他人」,受持正戒。
    Bagaimanakah motivasi madya? Apabila seseorang berkata: “Kini dengan batin yang sungguh-sungguh terarah kepada Pencerahan, aku akan mengatasi keraguan semua makhluk. Aku hendak menjadi jembatan penyeberang bagi semua agar dapat, selain menguntungi diriku sendiri, juga menguntungi yang lain”, lalu ia menerima dan memegang Śīla dengan tepat.
“Pencerahan” yang diarah di sini ialah Kebuddhaan. “Keraguan” atau ketidakmantapan menyebabkan semua makhluk terombang-ambing dalam siklus saṃsāra karena terus membuat karma baru. Seorang bodhisattva junior bertindak sebagai “jembatan”, mengenalkan Dharma kepada semua makhluk agar, seperti dirinya, semuanya juga berkesempatan untuk mencapai Pencerahan.

  1. 云何上品?若言:「我今發心受戒,為成三聚戒故,趣三解脫門,正求泥洹果。又以此法引導眾生,令至涅槃;令法久住。」
    Bagaimanakah motivasi utama? Apabila seseorang berkata: “Kini aku membangkitkan tekad hendak menerima Śīla demi menyempurnakan Tiga Etika Akumulatif, demi memasuki Tiga Gerbang Pembebasan dan sungguh-sungguh mencari Buah Nirvāṇa. Dengan Dharma ini, aku akan menarik semua makhluk agar mereka tiba di Nirvāṇa; juga agar Saddharma dapat bertahan lama.”

    如此發心尚是邪想,況不發者,定無尊尚!
    Bahkan orang yang membangkitkan tekad-tekad seperti di atas masih mungkin memiliki pemikiran salah, apalagi yang tidak membangkitkan sama sekali — pastilah tiada mereka indahkan [disiplinnya]!
“Tiga Etika Akumulatif” sering disebut-sebut dalam berbagai teks Mahāyāna, misalnya pada bab VII Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020c). Etika umum bodhisattva ini terdiri atas:
  • Memutuskan semua kejahatan, yakni mengekang diri dalam disiplin (saṃvarika śīla 攝律儀戒).
  • Mengembangkan semua kebaikan (kuśaladharma-saṃgrāhaka śīla 攝善法戒).
  • Menguntungi semua makhluk (sattvārtha-kriyā śīla 攝眾生戒).
Tanpa melalaikan Pencerahannya sendiri, seorang bodhisattva berupaya dengan empat hal yang membawa ketertarikan (catvāri saṃgrahavastūni) untuk menyeberangkan semua makhluk seutuhnya “agar tiba di Nirvāṇa”. Namun, sementara bersungguh-sungguh “mencari Buah Nirvāṇa” bagi dirinya maupun makhluk lain, ia memasuki tiga “Gerbang Pembebasan” (vimokṣa-mukha) yang kosong (śūnya), tanpa-tanda (animitta), dan tanpa-hasrat (apraṇihita). Upayanya menarik makhluk lain untuk mencapai Pencerahan yang sama dengan dirinya pada gilirannya akan diikuti makhluk tersebut, yang juga akan berupaya membawa makhluk lain lagi menuju Pencerahan yang sama, dan seterusnya. Dengan demikian, “Saddharma akan dapat bertahan lama”.






CATATAN:

¹ *Vivarta? *Vibhā? Atau mungkin malah *Vibhāṣā? Jika kita anggap rekonstruksi yang terakhir ini benar, maka teks ini sesungguhnya tidak memiliki judul khusus — nama P’i-pa lü semata-mata hanya berarti ‘komentar vinaya’ (vinayavibhāṣā).

Katalog tertua yang masih lestari, Ch’u san-tsang chi chi 《出三藏記集》(T. vol. 55, № 2145 hlm. 13c), menyebutkan P’i-pa lü dalam “Koleksi Sūtra, Vinaya, dan Śāstra yang Baru Dikumpulkan” 〈新集經律論録〉 sebagai keluaran Śramaṇa Shih Fa-tu 沙門釋法度出 pada masa pemerintahan Kaisar Ch’i Wu-ti (482–493). Tidak ada keterangan apa-apa yang diberikan Sêng-yu, yang menerbitkan katalog ini k.l. tahun 515.

Jilid 11 tawarikh Fei Chang-fang, Li-tai San-pao chi 《歴代三寶紀》 (T. vol. 49, № 2034 hlm. 96a), yang berisi daftar nama-nama penerjemah pada masa Dinasti Ch’i, Liang, dan Chou, juga hanya mengatakan bahwa Śramaṇa Shih Fa-tu dari Yang-chou 揚州 mengeluarkan dua karya:
  • *Kṣāranadī Sutra 《灰河經》 (sebuah sūtra dari Saṃyukta Āgama?), dan
  • P’i-pa lü 《毘跋律》.
Masing-masing dalam satu jilid.

Katalog zaman Sui, Chung-ching mu-lu 《眾經目録》 (T. № 2146) terbitan Fa-ching dkk. pada tahun 593, adalah yang pertama yang menyangsikan otentisitas P’i-pa lü. Pada jilid 5 (vol. 55, hlm. 140a), di antara teks-teks vinaya piṭaka Hīnayāna 〈小乘毘尼藏録〉, P’i-pa lü digolongkan dalam §4-6 sebagai “palsu” atau “didustakan” (眾律偽妄). Alasannya: karena Fa-tu menggunakan istilah 律 (vinaya) pada judulnya, lalu menyatakan teks ini sebagai karya terjemahan [dari sumber berbahasa Indis]. Kecaman ini sepertinya berdampak pada kelestarian P’i-pa lü. Meskipun para vinayācārya masih mengutipnya, selepas zaman T’ang teks ini tidak pernah dimasukkan ke dalam kanon Tionghoa edisi cetak, dan lambat laun akhirnya punah.

Atribusi palsu Fa-ching sebetulnya masih bisa kita sanggah. Memang benar 律 digunakan untuk menerjemahkan judul suatu vinaya piṭaka, misalnya: 《他毘利律》 (Sthāvirīya Vinaya, vinaya piṭaka kaum Sthaviravādin), 《摩訶僧祇律》 (Mahāsāṅghika Vinaya), 《根本薩婆多部律》 (Mūlasarvāstivāda-nikāya Vinaya), dsb. Akan tetapi, Samantapāsādikā nāma Vinayavibhāṣā (T. № 1462), yang diterjemahkan ke bahasa Tionghoa dengan judul Shan-chien lü p’i-p’o-sha 《善見律毘婆沙》, kadang-kadang ditulis Shan-chien p’i-p’o-sha lü 《善見毘婆沙律》 (dan disingkat Shan-chien lü 《善見律》). Padahal, jelas itu merupakan sebuah kitab komentar. P’i-pa lü tampaknya juga bukan terjemahan vinaya piṭaka suatu mazhab — walaupun tidak banyak yang dapat kita katakan mengenaï isinya, karena telah punah. Satu-satunya petikan lain yang diketahui terdapat dalam teks Tun-huang Szŭ-fên lü ping lun yao-yung ch’ao 《四部律并論要用抄》 (T. vol. 85, № 2795 hlm. 701b), yang menerangkan tatakrama seorang bhikṣu dalam menerima derma makanan. Beserta dengan petikan yang dikutip Tao-hsüan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa P’i-pa lü mengomentari suatu vinaya [Hīnayāna], namun berdasarkan sudut pandang Mahāyāna.

Kata ch’u 出 pada 釋法度出 (‘keluaran Shih Fa-tu’) belum tentu berarti ‘terjemahan’. Fa-tu bisa saja memang bukan “menerjemahkan” (譯出) dari sebuah teks tunggal, tetapi “mengumpulkan” (集出) dari pelbagai sumber-sumber komentar menjadi satu kitab.

Motivasi dalam Mengambil Disiplin Buddhis (1)

Bhadanta Harivarman menegaskan bahwa Śīla Saṃvara dimiliki pula oleh non-Buddhis. Maka substansi disiplin harus kita bedakan antara yang bersifat Prātimokṣa dan non-Prātimokṣa.

Banyak orang yang hidup di dunia sekadar menjadi baik bukan karena terikat sebuah komitmen, dan juga tanpa didasari cita-cita apa pun. Sebagian lain, yang mengikuti disiplin religius tertentu, menjalankan moralitas agar masuk surga setelah meninggal; atau ada juga yang mengharapkan kelahiran yang lebih baik sebagai manusia di kehidupan berikutnya apabila mereka meyakini reinkarnasi. Pada sistem religi yang lebih maju, disiplin diambil dengan harapan dapat membebaskan atma dari siklus reinkarnasi selamanya.

Dalam mengambil disiplinnya — baik Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, ataupun Upasaṃpanna Śīla — seorang Buddhis janganlah mengikuti kebiasaan orang-orang duniawi yang berharap memperoleh kelahiran yang lebih baik di alam manusia atau surga. Menjadi kaya, rupawan, terlahir di surga dsb. pada kehidupan berikut merupakan implikasi alamiah dari pelaksanaan moralitas jika kita belum juga terbebaskan. Prātimokṣa Saṃvara atau ‘disiplin pengarah Pembebasan’, sesuai namanya, seharusnya diambil semata-mata untuk merealisasi Pembebasan Sejati.

Seseorang masih bisa hanya mengambil Tiga Perlindungan dengan motivasi rendah, seperti: demi terluput dari tiga jalur kelahiran rendah dsb. (Contoh yang terkenal, misalnya, kisah Śakra di sini.) Pengambilan disiplin Prātimokṣa, sebaliknya, harus didasari semangat pertolakan (naiṣkramya) dari saṃsāra. Seseorang harus bertekad untuk memutus kelahiran dan kematian sewaktu mengambil Śīla-Śīla Buddhis apa pun.

Dalam jilid 2 karyanya yang lain, Chih-yüan chi 《芝園集》 (Zokuzōkyō vol. 59, № 1105 hlm. 662a), Vinayācārya Yüan-chao membagi motivasi seorang Buddhis dalam mengambil Śīla menjadi tiga:

  1. 唯期脫苦、專求自利,名為下品。此二乘心也。
    Hanya berharap terbebas dari penderitaan (duḥkha), intens mencari manfaat untuk diri sendiri — ini dinamakan motivasi asor. Merupakan cita-cita pengikut kedua Kendaraan Kecil.

  2. 為物解疑、自他兼濟,名為中品。此小菩薩心也。
    Mengatasi keraguan demi semua makhluk, membantu diri sendiri dan yang lain — ini dinamakan motivasi madya. Merupakan cita-cita bodhisattva junior.

  3. 忘己利生、福智雙運、了達本性、求佛菩提,名為上品。此大菩薩心也。
    Melupakan diri dalam menguntungi semua makhluk, sementara mengembangkan jasa (puṇya) dan kebijaksanaan (jñāna); memahami hakikat dasar (kekosongan pribadi dan segala dharma), sementara mencari Pencerahan Buddha — ini dinamakan motivasi utama. Merupakan cita-cita bodhisattva agung.


Minggu, 26 Februari 2017

ARUṆAVATĪ PARITRĀ




汝當求出離  於佛教勤修
降伏生死軍  如象摧草舍
於此法律中  常為不放逸
能竭煩惱海  當盡苦邊際

Kalian haruslah mencari pertolakan [dari samsāra]!
Kembangkanlah semangat dalam Buddhaśāsana.
Taklukkan balatentara kelahiran dan kematian,
bagaikan gajah yang menghancurkan gubuk ilalang.

Barangsiapa di dalam Dharma-Vinaya ini
senantiasa berlaku tanpa kelengahan,
akan mampulah ia menguras laütan kleśa
dan mengakhiri penderitaan sehabisnya¹.

—— Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra 《根本說一切有部戒經》
(T. vol. 24, № 1454 hlm. 508a)







CATATAN:

¹ Bandingkan penutup Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra Sanskerta:

Ārabhadhvaṃ niṣkrāmata
yujyadhvaṃ buddhaśāsane |
dhunīta mr̥tyunaḥ sainyaṃ
naḍāgāram iva kuñjaraḥ ||

Yo hy asmin dharmavinaye
apramattaś cariṣyati |
prahāya jātisaṃsāraṃ
duḥkhasyāntaṃ kariṣyati ||

Rabu, 22 Februari 2017

Mereka yang Memiliki Disiplin, Jasa Kebajikannya akan Berkembang Hari demi Hari

Syair terkenal “ārāmaropā vanaropā” seringkali digunakan untuk menjelaskan konsep avijñapti. Ketika seseorang mendermakan ārāma atau benda permanen lainnya kepada saṅgha, avijñapti yang terbentuk akan bertahan hingga benda tersebut habis masa pakainya atau rusak. Begitu pula pada seseorang yang mengambil disiplin, substansi disiplinnya (saṃvara avijñapti) akan bertahan hingga akhir hayatnya atau sampai ia melepas disiplin itu.

Substansi disiplin akan menjadi daya pendorong yang senantiasa mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, sehingga seseorang dimampukan untuk menjadi pemegang Śīla. Karena senantiasa memegang Śīla, jasa kebajikan seseorang yang memiliki substansi disiplin akan berkembang terus-menerus. Ini berbeda dengan seseorang tanpa disiplin yang, misalnya, menghentikan upaya pembunuhan sebab tiba-tiba merasa iba. Karena tidak berada di bawah disiplin, jasa yang ditimbulkannya hanya terjadi setempo-tempo secara kebetulan.




Petikan dari bab XCVI Satyasiddhi Śāstra 《成實論·無作品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 290a–b) berikut dapat memperjelas:

問曰:何法名無作?
Tanya: Dharma apakah yang dinamakan avijñapti?

答曰:因心生罪福,睡眠悶等,是時常生——是名無作。如經中說:
Jawab: Yang muncul karena [korelasinya dengan] batin pada saat melakukan dosa ataupun jasa, dan senantiasa hadir baik di saat tidur ataupun tidak sadar — itulah yang dinamakan avijñapti. Seperti disebutkan di dalam sūtra:

「若種樹園林  造井橋梁等
 是人所為福  晝夜常增長」

“Entah menanami taman dan hutan dengan pepohonan,
atau membuat sumur, jembatan penyeberang dsb.
— jasa yang dilakukan orang tersebut
akan senantiasa berkembang siang dan malam.”

(Bandingkan sutra ke-3 dari varga XXXV Ekottara Āgama.)

問曰:有人言:「作業現可見,若布施、禮拜、殺害等;是應有。無作業不可見,故無。」應明此義!
Tanya: Ada orang berkata: “Vijñapti karma tertampak dan dapat dilihat seperti berderma, melakukan penyembahan, membunuh dsb. Oleh karena itu, pastilah ia ada. Avijñapti karma tidak dapat dilihat, karenanya tiada.” Coba terangkan maknanya!

答曰:若無無作,則無離殺等法。
Jawab: Jika avijñapti tiada, maka tiadalah dharma “penghindaran pembunuhan” (prāṇātipāta virati) dsb.

問曰:離名不作,不作則無法。如人不語時,無不語法生;如不見色時,亦無不見法。
Tanya: Istilah penghindaran (virati) berarti “tak-berbuat”, tidak berbuat maka tiada dharma apa-apa. Misalnya: saat seseorang tidak berbicara, tiada dharma “tak-berbicara” yang muncul; saat seseorang tidak melihat rupa, juga tiada dharma “tak-melihat”.

答曰:因離殺等,得生天上。若無法,云何為因?
Jawab: Karena menghindari pembunuhan, seseorang dapat terlahir di surga. Jika tiada dharma apa pun, bagaimanakah yang menjadi sebab [kelahiran tersebut]?

問曰:不以離故生天,以善心故。
Tanya: Bukan karena penghindarannya ia terlahir di surga, tetapi karena buah-pikir baiknya.

答曰:不然。經中說:「精進人隨壽得福多。隨福多故,久受天樂。」若但善心,云何能有多福?是人不能常有善心故。
Jawab: Bukan begitu. Di dalam sūtra disebutkan: “Orang yang bertekun [cuma untuk sesaat saja], seturut makin panjang usianya, memperoleh makin banyak jasa. Karena makin banyak jasa, makin lama pula ia menerima kebahagiaan di alam surga.” Jikalau hanya karena buah-pikir baik [sesaat], bagaimana bisa seseorang memiliki [semakin] banyak jasa? Sebab orang tersebut tidak bisa senantiasa memiliki buah-pikir yang baik.

又說:「種樹等福德,晝夜常增長。」又說:「持戒堅固……。」若無無作,云何當說福常增長及堅持戒?
Juga disebutkan: “Jasa kebajikan dari menanam pepohonan dsb. akan senantiasa berkembang siang dan malam.” Juga disebutkan: “Memegang Śīla dengan teguh ….” Jika avijñapti tiada, bagaimanakah dapat dikatakan jasa senantiasa berkembang dan Śīla dipegang teguh?

又非作即是殺生,作次第殺生法生,然後得殺罪。如教人殺,隨殺時,教者得殺罪。故知有無作。
Juga bukan berarti bertindak sama dengan membunuh — setelah bertindak [sendiri], baru muncul dharma “pembunuhan” sehingga memperoleh dosa pembunuhan. Misalnya: saat menyuruh orang lain membunuh, seturut terjadinya pembunuhan, si penyuruh pun memperoleh dosa pembunuhan. Maka dapat kita ketahui bahwa avijñapti itu ada.

又意無戒律儀。所以者何?若人在不善、無記心、若無心,亦名持戒。故知!爾時有無作。不善律儀亦如是。
Juga tiada Śīla Saṃvara [yang diatur] pikiran. Mengapa demikian? Sebab ketika batin seseorang berada dalam keadaan tidak baik (akuśala), netral (avyakr̥ta), atau tidak sadar (acittaka), ia tetap disebut memegang disiplin. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa pada saat itu terdapat avijñapti! Demikian pula halnya untuk kontra-disiplin (asaṃvara).

Senin, 20 Februari 2017

Menjadi Baik Tidak Sama dengan Memiliki Śīla

問:一切善作,盡是戒否?
Tanya: Segala tindakan baik apakah semuanya merupakan Śīla?

答:律儀所攝善作名戒。自餘十業,但單稱善,不名為戒。
Jawab: Tindakan baik yang tercakup di bawah disiplin sajalah yang dinamakan Śīla. Sepuluh perbuatan (daśa kuśala karma) di luar itu hanya disebut sebagai kebaikan, bukan dinamakan Śīla.

—— Lü-tsung hui-yüan 《律宗會元》
(Zokuzōkyō vol. 60, № 1110 hlm. 40c),
dirangkum oleh Bhikṣu Shou-i 守一比丘 (Sung)


Banyak orang di dunia yang tidak pernah membuat komitmen tertentu untuk berpantang, dan mereka tetap tidak melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dsb. Dalam kacamata Buddhis, ada sepuluh jalan (patha) untuk melakukan perbuatan jahat (akuśala karma): tiga melalui jasmani, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran. Penghindaran dari segala kejahatan ini tentu saja digolongkan sebagai kebaikan. Akan tetapi, itu cuma kebaikan, yang dilakukan berdasarkan dorongan naluri, dan bukan merupakan disiplin karena terikat komitmen.

Dari kesepuluh jalan perbuatan jahat, Prātimokṣa Saṃvara hanya mengatur penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hīnayāna yang menganggap tindakan pikiran belum merupakan karma yang sebenarnya (lihat di sini). Tiga kejahatan pikiran hanya merupakan “jalan karma” (karmapatha) sehingga jikalau seseorang yang mengambil Pratimokṣa Samvara melakukannya, ia tidak melanggar disiplin.

Berbeda halnya dengan Bodhisattva Saṃvara di mana penghindaran kejahatan pikiran juga diatur sebagai bagian dari disiplin. Jika seseorang yang sudah mengambil Bodhisattva Saṃvara (misalnya berdasarkan Mahāyāna Brahmajāla Sūtra 《梵網經》, T. № 1484) menyimpan dendam dalam pikirannya — hanya berpikir, dan tidak diekspresikan melalui tindakan ucapan atau jasmani — ia sudah melakukan salah satu pelanggaran berat. Oleh karena itu, disiplin bodhisattva lebih sulit pelaksanaannya.

Tiga langkah latihan pertama dari Pañca Śīla Buddhis bunyinya sama dengan penghindaran tiga kejahatan jasmani. Sedangkan mengenaï langkah latihan keempat, ada perbedaan penafsiran. Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa langkah latihan keempat hanya berkenaan dengan penghindaran dari kedustaan. Menurut sistém Satyasiddhi, langkah latihan keempat mencakup pula penghindaran tiga kejahatan ucapan lainnya.


Agar lebih jelas, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 54b) Vinayācārya Tao-hsüan membuat empat kombinasi:

1.  KEBAIKAN NAMUN BUKAN DISIPLIN 善而非戒
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penghindaran tiga kejahatan pikiran hanya merupakan kebaikan dan bukan bagian disiplin Prātimokṣa. Bagi orang-orang di dunia yang memang tidak pernah mengikatkan diri dengan disiplin apa pun, bahkan penghindaran kesepuluh kejahatan hanya kebaikan semata dan bukan disiplin.

Hal-hal lain seperti berderma, melakukan meditasi, dsb. juga merupakan kebaikan, tetapi tidak berkaitan dengan norma moralitas. Disiplin Prātimokṣa tidak mengaturnya. (Akan tetapi, bisa saja merupakan bagian dari disiplin non-Buddhis yang, misalnya, menetapkan pengikutnya berdosa apabila tidak berderma untuk menyucikan harta.)

2.  DISIPLIN NAMUN BUKAN KEBAIKAN 戒而不善
Ini terjadi ketika seseorang mengambil “Śīla” yang negatif (asaṃvara — lihat pembahasan sebelumnya). Istilah “Śīla” kurang sesuai di sini karena asaṃvara justru berkaitan dengan kedursilaan. Komitmen seseorang untuk menjalankan profesi sebagai tukang jagal, misalnya, merupakan sebuah disiplin, namun bukan kebaikan.

Contoh lain disiplin yang bukan kebaikan misalnya disiplin non-Buddhis yang mengatur pengikutnya cara berpakaian tertentu, melaksanakan tapa-brata, dll.

3.  KEBAIKAN SEKALIGUS DISIPLIN 亦善亦戒
Penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara. Sedangkan penghindaran kesepuluh kejahatan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Bodhisattva Saṃvara.

Penghindaran seluruh dari sepuluh kejahatan bisa saja menjadi bagian dari disiplin non-Buddhis tergantung bagaimana ajaran mereka masing-masing.

4.  BUKAN KEBAIKAN JUGA BUKAN DISIPLIN 倶非
Bagi mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara, misalnya, melakukan perbuatan yang sifatnya netral (avyākr̥ta) melalui jasmani atau ucapan.

Sabtu, 18 Februari 2017

SEBAGAI CONTOH: Seseorang ialah Bhikṣuṇī jika Ia Memiliki Substansi Disiplin Kebhikṣuṇīan


【苾芻尼】者,謂得苾芻尼性。
Yang disebut bhikṣuṇī adalah seseorang yang memperoleh kebhikṣuṇīan (bhikṣuṇībhāva).

云何苾芻尼性?
Bagaimanakah kebhikṣuṇīan itu [diperoleh]?
謂:受近圓。
Yakni: [jikalau ia sudah] upasampadā.

云何近圓?
Bagaimanakah upasampadā itu?
謂:白四羯磨。於所作事,如法成就,將近涅槃,故名近圓。
Yakni: [sesudah ia melalui] jñapti-caturtha karman. Setelah segala prosedurnya dilakukan dengan sempurna (sampadā) sesuai Dharma, ia semakin mendekati (upa) Nirvāṇa — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

又其進受人,以圓滿心希求具戒,要期誓受,情無恚恨,以言表白,語業彰顯,究竟滿足,故名圓具。
Juga karena si kandidat penerima, dengan batin yang sempurna (sampadā), memohon Śīla lengkap, berikrar menyatakan komitmen, bersedia menerima tanpa merasa benci (tanpa berat hati terhadap disiplinnya), serta mengekspresikannya melalui perkataan sehingga terbit karma ucapan dan genap seutuhnya — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

—— Mūlasarvāstivāda Vinaya, Bhikṣuṇī Vibhaṅga: Pārājika I
《根本說一切有部苾芻尼毘奈耶》
(T. vol. 23, № 1443 hlm. 913c)



bhikkhuni upasampada

Rabu, 15 Februari 2017

Kriteria Disiplin

Terjemahan Guṇavarman untuk bait ke-25 surat terkenal Nāgārjuna, Su-hr̥l Lekha, berbunyi:

雖有色族及多聞  若無戒智猶禽獸
雖處醜賤少聞見  能修戒智名勝士

Meskipun seseorang itu rupawan, berbangsa tinggi, atau terpelajar,
jikalau ia tidak memiliki Śīla dan Jñāna,
maka samalah ia seperti binatang.
Walaupun terlihat buruk, hina, atau kurang terpelajar,
namun bila seseorang sanggup mengembangkan Śīla dan Jñāna,
maka ia dinamakan seorang pemenang.

—— Syair-Syair Esensi Dharma yang Disuratkan Bodhisattva Nāgārjuna untuk Raja Śātakarṇi
《龍樹菩薩為禪陀迦王說法要偈》
(T. vol. 32, № 1672 hlm. 746a)


Sebagai permisalan, kucing kesayangan yang kita pelihara mungkin tidak akan membunuh sepanjang kita memberinya makan dengan teratur setiap hari. Tetapi, suatu ketika, seandainya kita pergi dan lupa meninggalkan makanan untuknya, naluri berburunya bangkit kembali dan ia mulaï membunuh hewan-hewan kecil untuk dimangsa. Jadi, sepanjang kita memberinya makan dengan teratur, dapatkah kita mengatakan bahwa kucing kita menjaga Śīla pantang membunuh?

Contoh lain adalah seorang pejabat publik dapat tidak melakukan korupsi di sebuah instansi yang sistém pengendaliannya berjalan baik. Namun, seandainya terdapat celah, ia segera mengambil kesempatan sebab sifat dasarnya sebenarnya memang tidak jujur. Hanya karena tiadanya celah yang memungkinkan, apakah bisa dengan serta-merta kita mencapnya sebagai seorang yang bermoral? Bolehkah kita mengatakan bahwa pejabat tersebut telah melaksanakan Śīla pantang mencuri?

Untuk dapat disebut sebagai Śīla — atau lebih teknisnya: disiplin (saṃvara) — menurut Vinayācārya Yüan-chao, paling tidak harus ada dua unsur yang terpenuhi (lihat jilid 3-4 Chi-yüan chi 《濟緣記》, Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 252a):

戒有二義:
Sebab terdapat dua prinsip Śīla:
一、有本期誓;
1. Memiliki ikrar dan komitmen dasar;

二,徧該生境。
2. Memeluk ruang lingkup pembentuknya.

  1. Jadi, pembeda utama antara berdisiplin dengan tidak adalah adanya ikrar dan komitmen. Pernyataan ikrar dan komitmen akan menimbulkan apa yang disebut “substansi disiplin” (yakni: saṃvara avijñapti). Apakah non-Buddhis juga mungkin memiliki saṃvara avijñapti? Menurut Bhadanta Harivarman: ya, hanya saja sifatnya non-Prātimokṣa. Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303a) tertulis:

    問曰:諸外道等得此戒律儀耶?
    Tanya: Apakah non-Buddhis memperoleh Śīla Saṃvara?

    答曰:得。此人亦以深心,離諸惡故。戒師教言:「汝從今日不應起殺等罪。」
    Jawab: Memperoleh. Karena berkat [komitmen] yang mendalam, mereka juga meninggalkan berbagai kejahatan. Guru-guru pembimbing mereka (dalam cara yang hampir mirip dengan Buddhis) mengajari mereka: “Mulaï hari ini janganlah engkau menimbulkan dosa pembunuhan dsb.”

    Kucing peliharaan dan pejabat publik dalam contoh kita jelas tidak berada di bawah disiplin karena mereka memang tidak pernah berikrar/menyatakan komitmen untuk melaksanakan aturan tertentu.


  2. Selanjutnya, karena tiada substansi disiplin dalam diri mereka, andaikata kucing dan pejabat publik di atas membunuh atau mencuri, mereka tidak dinyatakan melanggar disiplin — walau di mata dunia mereka mungkin akan dicap tidak bermoral. Akan tetapi, norma moralitas yang berlaku di dunia kadangkala berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Misalnya: membunuh segala jenis hewan tidak apa-apa dalam kebanyakan masyarakat, namun membunuh manusia adalah berdosa. Komunitas lain menganggap hewan tertentu suci sehingga membunuhnya dipandang sebagai kejahatan besar. Maka suatu aturan harus memiliki kejelasan batasan untuk dapat dinamakan disiplin. Bagaimana seseorang dapat disebut melakukan pelanggaran jikalau batasan-batasan disiplinnya sendiri tidak jelas?

    Tidak cukup seseorang hanya mengucapkan ikrar untuk dapat disebut mengambil disiplin. Ia juga harus memahami dan memeluk ruang lingkup pembentuk disiplin itu; jika tidak, substansi disiplin tidak terbentuk. Dengan kata lain, seseorang harus bersedia menerima segala batasan yang diatur disiplinnya itu. Sewaktu berkomitmen mengambil disiplin Buddhis tidak membunuh makhluk hidup mana pun, umpamanya, ia tidak boleh melakukan pengecualian untuk membunuh kecoak karena semata-mata kecoak merupakan hewan yang ia benci. Dengan membuat pengecualian, berarti ia belum bersungguh-hati hendak mengambil disiplin tersebut.

    Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, ruang lingkup pembentuk disiplin Buddhis meliputi seluruh Dharmadhātu, baik objek hidup maupun objek tak-hidup, baik makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya). Disiplin pantang membunuh dan pantang berzinah hanya berkaitan dengan objek hidup. Disiplin pantang meminum minuman keras hanya berkaitan dengan objek tak-hidup. Disiplin pantang mencuri dan pantang berdusta berkaitan dengan objek hidup dan tak-hidup.

    Seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang membunuh bukan hanya tidak boleh membunuh manusia, tetapi juga hewan, dewa, asura, setan kelaparan, makhluk penghuni neraka, hingga mereka yang berada dalam antarabhāva. Pantangan ini mencakup ke sepuluh penjuru dan tiga masa. Para suci pun tercakup di dalamnya sebab janganlah nanti kita beranggapan bahwa tidak boleh membunuh mahluk biasa, tetapi tidak apa-apa membunuh seorang arhat atau bodhisattva.

    Demikian pula seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang mencuri tidak boleh mencuri segala sesuatu di seluruh dunia. Tanah, sungai, gunung, pepohonan, bunga, buah, daun, bahkan hingga sehelai rumput, sebatang jarum, atau sebutir debu pun tidak boleh sembarangan diambil jikalau ada pemiliknya.


Nagarjuna Suhrllekha