Powered by Administrator

Translate

Senin, 02 Desember 2019

Marilah Datang kepada Buddha!

di Vihara Dharma Satya Rawamangun



「我是如來、應供、正遍知、明行足、善逝、世間解、無上士、調御丈夫、天人師、佛、世尊。
“Akulah sang Tathāgata, Arhat, Samyaksaṃbuddha, ….

未度者令度,未解者令解,未安者令安,未涅槃者令得涅槃。
Yang belum terseberangkan akan Kuseberangkan; yang belum terbebaskan akan Kubebaskan; yang belum terlegakan akan Kulegakan; yang belum mencapai Nirvāṇa akan Kucapaikan.

今世、後世,如實知之。我是一切知者、一切見者、知道者、開道者、說道者。
Dunia sekarang dan dunia akan datang Kuketahui sesuai kenyataan yang sebenarnya. Akulah yang Maha Tahu, yang Maha Melihat; Pengenal Jalan, Pembuka Jalan, Pembabar Jalan.

汝等天、人、阿修羅眾,皆應到此,為聽法故!」
Datanglah kamu sekalian, wahai dewa dan manusia dan asura, kemari demi mendengarkan Dharma!”

—— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab III, “Tanaman Obat”
《妙法蓮華經·藥草喻品》
(T. vol. 9, № 262 hlm. 19b)

Minggu, 01 Desember 2019

Petikan dari Kitab Pepatah Dharma (Dharmapada)

Parable of the Burning House
  1. 熱無過婬  毒無過怒
    苦無過身  樂無過滅

    Tiada api yang melebihi nafsu.
    Tiada racun yang melebihi kebencian.
    Tiada penderitaan yang melebihi [gagasan tentang] diri.
    Tiada kebahagiaan yang melebihi Pemadaman.

  2. 無樂小樂  小辯小慧
    觀求大者  乃獲大安

    Janganlah bersenang dengan kesenangan yang kecil,
    dengan bakat yang kecil dan kebijaksanaan yang kecil.
    Amatilah! Para pencari kebesaranlah
    yang akan memperoleh kebahagiaan besar.

  3. 我為世尊  長解無憂
    正度三有  獨降眾魔

    Aku adalah Yang Dimuliakan Dunia,
    senantiasa terbebas, tanpa kesedihan.
    Dengan tepat Kuseberangkan ketiga keberadaan;
    sendirian telah Kutaklukkan segala māra.

—— Kitab Pepatah Dharma bab XXIII, “Kebahagiaan”
《法句經·安寧品第二十三》
(T. vol. 4, № 210 hlm. 567b–c)


Mengenaï sejarah Kitab Pepatah Dharma lihat di sini.

Senin, 25 November 2019

PERUMPAMAAN RUMAH YANG TERBAKAR


「今當復以譬喻更明此義,諸有智者以譬喻得解。」
“Kini akan Kuterangkan lagi makna hal ini dengan perumpamaan, sebab mereka yang bijak dapat mengerti dengan diberi perumpamaan (upamayā iha ekatyā vijñapuruṣā bhāṣitasyārtham ājānanti).”

—— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab III, “Perumpamaan”
《妙法蓮華經·譬喻品》
(T. vol. 9, № 262 hlm. 12b)



告舍利弗  我亦如是
眾聖中尊  世間之父
一切眾生  皆是吾子
深著世樂  無有慧心

“Kuberitahu engkau, Śāriputra:
Demikian pula Aku,
yang termulia di antara para suci,
adalah bapa dunia ini.
Semua makhluk yang
merupakan anak-anak-Ku,
melekat secara mendalam pada kesenangan duniawi
dan tidak berkebijaksanaan.

    —— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra
      bab III, “Perumpamaan”
      《妙法蓮華經 ● 譬喻品》
      (T. vol. 9, № 262 hlm. 14c) Alkisah ada seorang bapa yang mempunyaï banyak anak. Ia tinggal bersama mereka di sebuah rumah tua besar yang sudah lapuk di sana-sini. Suatu hari ia hendak bepergian ke suatu tempat, dan ditinggalkannya anak-anaknya. Sepeninggal bapanya, anak-anak itu bergembira-ria sepanjang hari dan, entah bersumber dari mana, tiba-tiba terjadi kebakaran di rumah lapuk tersebut. Ketika sang bapa pulang, alangkah terkejutnya ia melihat rumah mereka terbakar hebat di keempat sisinya. Ia bertambah khawatir melihat semua anaknya terjebak di dalam, sementara pintu keluar-masuk rumah mereka hanya satu. Dipanggilnya anak-anaknya supaya keluar. Namun, mereka tidak menghiraukannya karena begitu terlena dengan permainannya. Maka dipikirkannya suatu akal: ia akan merayu mereka dengan berbagai mainan yang akan mereka sukaï — kereta-keretaan yang ditarik kambing, rusa, dan lembu. Kembali dipanggilnya mereka: “Anak-anak, keluarlah! Bapa datang, baru membeli mainan untuk kalian. Ada kereta kambing, kereta rusa, dan kereta lembu.” Anak-anak itu segera berlomba-lomba menyambut bapanya. “Bapa, mana? Bapa, mana kereta-keretaan yang Bapa janjikan?” Maka ia menghadiahi mereka bukan dengan kereta-keretaan, melainkan dengan kereta sungguhan — kereta besar yang ditarik sapi putih, berlapis emas, berhiaskan rumbai-rumbai permata, tempat duduknya berkarpet wol dan bantalnya berlapis sutra, disertaï pula dengan kusir dan pengiring-pengiring. PENJELASAN:

①
Bapa ⇨ Buddha

②
Anak-anak ⇨ Semua makhluk

③
Rumah yang terbakar ⇨ Dunia tempat kita berada sekarang

④
● Kereta-keretaan kambing (ajarathaka) ⇨ Kendaraan Śrāvaka (śrāvakayāna)
● Kereta-keretaan rusa (mṛgarathaka) ⇨ Kendaraan Pratyeka (pratyekayāna)
● Kereta-keretaan lembu (gorathaka) ⇨ Kendaraan Bodhisattva (bodhisattvayāna)

⑤
Kereta besar yang ditarik sapi putih ⇨ Kendaraan Tunggal (ekayāna) menuju Kebuddhaan
(Klik gambar untuk memperbesar)

Tathāgatalah Satu-Satunya Penolong dan Penjaga





如來已離  三界火宅
寂然閑居  安處林野
今此三界  皆是我有
其中眾生  悉是吾子

Tathāgata yang telah terbebas
dari Tiga Alam, rumah yang terbakar ini,
undur menyepi dalam kedamaian,
berdiam tenteram di hutan belantara.
Kini, Ketiga Alam ini
semuanya adalah penguasaan-Ku.
Makhluk-makhluk di dalamnya
adalah anak-anak-Ku.


而今此處  多諸患難
唯我一人  能為救護

Namun, tempat ini sekarang
dipenuhi banyak bahaya kesukaran.
Hanya Akulah satu-satunya yang
mampu menjadi Penolong dan Penjaga.


—— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab III, “Perumpamaan”
《妙法蓮華經·譬喻品》
(T. vol. 9, № 262 hlm. 14c)


Tiada Keamanan di Triloka





三界無安  猶如火宅
眾苦充滿  甚可怖畏
常有生老  病死憂患
如是等火  熾然不息

Di Tiga Alam ini tiada keamanan.
Bagaikan rumah yang terbakar,
aneka penderitaan memenuhinya.
Sungguh amat mengerikan!
Senantiasa diliputi kelahiran dan ketuaan,
penyakit dan kematian, dukacita dan kesusahan
— api-api seperti ini
berkobar-kobar tiada henti.


—— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab III, “Perumpamaan”
《妙法蓮華經·譬喻品》
(T. vol. 9, № 262 hlm. 14c)

Senin, 11 November 2019

Viparyāsa

Kembali kita tampilkan sebuah sūtra dari CCSKC (lihat posting sebelumnya) yang tidak terjumpaï dalam koleksi Tsêng-i a-han ching. Sūtra ke-22 (atau -5 dalam edisi Korea) ini berpadanan dengan AN IV.5: 9 (Vipallāsa Sutta). Dalam sūtra ini dibahas empat kekeliruan (viparyāsa) yang menjebak setiap makhluk dalam saṃsāra, yang dalam Saddharmapuṇḍarīka diumpamakan dengan empat sisi rumah yang terbakar.

Viparyāsa diterjemahkan pertama kalinya sebagai 顛倒 (secara harfiah: ‘keterbalikan’) di sini. Istilah ini bertahan dan tetap dipilih penerjemah-penerjemah kemudian, tidak seperti istilah lain yang segera menjadi arkais dan harus direvisi. Contoh di bawah, misalnya, ātma dan anātma yang dipadankan dengan 身 dan 非身 oleh An Shih-kao. (Sebetulnya 身 adalah terjemahan untuk kāya atau satkāya [‘diri’], sebuah sinonim untuk ātma.) Penerjemah-penerjemah belakangan lebih suka mentraduksi sebagai 我 (‘aku’) dan 無我 (‘tanpa-aku’).

Gāthā juga ditraduksi di sini sebagai 絕 (yakni 絕句). Akan tetapi, lanjutannya malah digubah berbentuk prosa. Terjemahan tampaknya belum diperhalus — mungkin karena kekurangan editor yang sanggup mengalihkan ke dalam syair-syair Tionghoa — dan dibiarkan apa adanya.







聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在舍衛國,行在祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



佛便告比丘:「思想有四顛倒;意、見亦爾。
Buddha pun bersabda kepada para bhikṣu: “Dalam hal persepsi (saṃjñā) ada empat kekeliruan; demikian pula dalam hal buah-pikir (citta) dan pandangan (dr̥ṣṭi).

從是顛倒,為人身矇為綜、為人意撰,不能走為走,今世、後世自惱居世間,為生死不得離。
Menuruti kekeliruan ini, pada setiap orang [gagasan tentang] diri secara lugu terbentuk, pada setiap orang buah-pikir tercipta; yang tidak mampu dijalani, dijalani; di kehidupan sekarang dan mendatang, dengan mengiritasi diri sendiri, dunia dihuni; kelahiran dan kematian tidak dapat ditinggalkan.

何等為四?
Apakah keempatnya itu?

一、以非常為常,是為思想顛倒、為意顛倒、為見顛倒。
1. Menganggap yang tidak kekal (anitya) sebagai kekal (nitya) adalah kekeliruan dalam hal persepsi, adalah kekeliruan dalam hal buah-pikir, adalah kekeliruan dalam hal pandangan.

二者、以苦為樂。
2. Menganggap penderitaan (duḥkha) sebagai kebahagiaan (sukha) ….

三者、非身為身。
3. Menganggap yang bukan-diri (=anātma) sebagai diri (=ātma) ….

四者、不淨為淨,為思、為意、為見顛倒。」
4. Menganggap yang tidak murni (aśubha) sebagai murni (śubha) adalah kekeliruan dalam hal persepsi, … dalam hal buah-pikir, … dalam hal pandangan.”



從後說絕:
Maka dari sini tersebutlah syair:

「非常人意為常,思苦為樂,不應身用作身,不淨見淨。
“Yang tidak kekal orang-orang memikirkannya sebagai kekal; mereka mempersepsikan penderitaan sebagai kebahagiaan; yang tidak layak sebagai diri mereka jadikan diri; yang tidak murni mereka pandang murni.

顛倒如是,意業離便助魔。
Keliru sedemikian, berpikir meninggalkan malah mendukung Māra dalam pekerjaan.

不宜欲得宜,令致老死,譬喻犢母。
Di tengah ketidaknyamanan hendak mendapatkan kenyamanan, mereka terpaksa sampai mati menua bagaikan induk pedet [yang menanggung kuk].

已有佛在世間,念天上、天下得道眼度世,便見是法除一切苦。
Namun, Buddha telah hadir di dunia; Ia merenungkan bagaimana segala yang di atas langit dan di kolong langit mendapatkan mata Pencerahan untuk menyeberangi dunia, bagaimana dengan melihat Dharma mereka melenyapkan segala penderitaan.

亦說苦從生亦度苦,亦見賢者八種行道至甘露。
Dibabarkan-Nya pula penderitaan yang menyertaï kelahiran dan keterseberangan dari penderitaan; juga dilihat-Nya delapan jenis insan arif (satpuruṣa) yang mempraktikkan Jalan akan tiba pada Keabadian (amr̥ta).

已聞是法者,便見非常、苦、非身,亦身已不淨見不淨。
Sesudah mendengar Dharma ini, mereka akan melihat ketidakkekalan, penderitaan, tanpa-diri; juga tubuh yang tidak murni yang akan mereka lihat tidak murni.

便無所畏,得樂見世,得無為,從一切惱度世,無所著。」
Sehingga tiada lagi yang ditakuti, mendapati kebahagiaan mereka akan memandang dunia, mendapati yang tak terkondisi; dari segala iritasi mereka menyeberangi dunia, tanpa kemelekatan lagi.”



佛說如是。……
Demikianlah sabda Sang Buddha. …

Selasa, 05 November 2019

Buddha adalah Seorang Pūrvakārin

Pūrvakārin, salah satu dari dua jenis pribadi langka yang kita bahas pada posting sebelumnya, berarti orang yang berinisiatif memberikan bantuan secara sukarela — bahkan hingga mengorbankan dirinya sendiri — tanpa mengharapkan balasan. Buddha adalah seorang Pūrvakārin karena Beliau telah berjasa besar dan seringkali menjadi “sahabat tanpa diminta” (anadhīṣṭa kalyāṇamitra 不請之友). Apa sajakah jasa-jasa Buddha kepada kita?

Sebuah sūtra dari Ekottara Āgama menyebutkan tujuan kemunculan Buddha di dunia:
  1. Untuk memutar Roda Dharma.
  2. Demi menyelamatkan orangtua-Nya.
  3. Untuk membangun dasar keyakinan bagi orang-orang yang tidak percaya.
  4. Agar mereka yang belum memiliki pikiran bodhisattva membangkitkan Batin Pencerahan.
  5. Untuk memberikan prediksi pencapaian Kebuddhaan di masa datang.


Orangtua yang akan diselamatkan-Nya bukan hanya orangtua pada kehidupan terakhir-Nya sebagai Siddhārtha Gautama, melainkan juga orangtua-orangtua dari kehidupan-kehidupan lampaunya. Akan tetapi,

一切眾生,從無始來,在生死中輪迴不息,靡不曾作父母、兄弟、男女、眷屬。
Semenjak waktu yang tak berawal dalam siklus saṃsāra yang berputar tanpa henti, tiada satu makhluk pun yang belum pernah menjadi ayah, ibu, kakak, adik, putra, putri, atau salah satu kerabat kita.

—— Laṅkāvatāra Sūtra 《大乘入楞伽經》
(T. vol. 16, № 672 hlm. 623a)

Tidak terhitungnya jumlah kelahiran kita dalam saṃsāra berimplikasi tidak terhitung pula jumlah orangtua yang pernah kita, termasuk Buddha, miliki. Bahkan dapat dikatakan:

一切男子皆是父  一切女人皆是母

Semua pria merupakan ayahku,
semua wanita merupakan ibuku.

—— Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra 《大乘本生心地觀經》
(T. vol. 3, № 159 hlm. 306c)

Semua makhluk adalah orangtua-Nya. Namun, karena belum mengkontemplasikan kebijaksanaan melalui Smr̥tyupasthāna, semua makhluk terjebak dalam empat kekeliruan atau “keterbalikan” (viparyāsa catuṣka 四倒): menganggap jasmani yang tidak murni sebagai murni, perasaan yang hakikatnya penderitaan sebagai kebahagiaan, batin yang tidak kekal sebagai kekal, dan dharma yang tanpa-aku sebagai aku. Karena empat kekeliruan tersebut, muncullah 84.000 kekotoran batin (kleśa) yang meliputi tubuh beragregat lima (pañcaskandha) ini — digambarkan dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra ibarat rumah besar yang mengalami kebakaran hebat di keempat sisinya.

Hanya Buddha satu-satunya yang rela menerobos kobaran api dan mengikhtiarkan berbagai upaya untuk menuntun keluar mereka yang terjebak di dalam rumah tersebut. Karya penyelamatan-Nya masih dipersulit oleh lima kekeruhan (pañcakaṣāya 五濁) yang sedang melanda Dunia Sahā tempat kita tinggal saat ini: kekeruhan kalpa, kekeruhan pandangan, kekeruhan kotoran batin, kekeruhan makhluk, dan kekeruhan usia. Maka atas segala budi besar-Nya, layaklah Ia dipuji:

“Alangkah langkanya Sang Śākyamuni! Alangkah sukar yang dilakukan Sang Śākyādhirāja, yang mampu di Dunia Sahā dengan lima kekeruhannya ini merealisasi Anuttara Samyak-saṃbodhi dan, demi semua makhluk, membabarkan Dharma yang sukar dipercaya seisi dunia!”

—— Amitābha Sūtra

Jumat, 01 November 2019

Dua Jenis Pribadi yang Langka

Bacaan hari ini diambil dari sūtra ke-5 (atau -32 dalam edisi Korea) Ch’i-ch’u san-kuan ching 《七處三觀經》 (T. vol. 2, № 150A hlm. 881a), sebuah koleksi pendek yang disusun oleh An Shih-kao 安世高 yang datang ke Cina tahun 147. An Shih-kao aktif menerjemahkan sampai pertengahan era Chien-ning 建寧 (168–172). Karena ketidakstabilan politik saat itu — menjelang runtuhnya Dinasti Han — ia berpindah ke Cina Selatan dan hidup hingga sepuluh tahun lagi kira-kira.

CCSKC terstruktur dalam kelompok-kelompok yang meningkat secara numeris mengikuti prinsip ekottara. Disusun dari beberapa sūtra pilihan, CCSKC tampaknya dimaksudkan An Shih-kao sebagai pengenalan sebelum ada teks Ekottara Āgama lengkap yang dibawa dan diterjemahkan ke Cina. Dalam bentuknya sekarang, terdapat perbedaan urutan isi antara CCSKC yang termuat dalam edisi-edisi Tripiṭaka yang diterbitkan di Tiongkok dengan edisi Korea. Untuk lebih jelasnya lihat di sini.

Sūtra pendek di bawah ini, seperti sūtra-sūtra lainnya dalam CCSKC, tidak berjudul. Ia juga tidak terjumpaï dalam koleksi Ekottara Āgama yang diterjemahkan belakangan, Tsêng-i a-han ching 《增壹阿含經》 (T. № 125), yang berasal dari kanon mazhab berbeda. Padanannya malah ada dalam kanon Pāli, yakni AN II.11: 2 (Āsā Duppajaha Sutta ⑵).







聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在舍衛國,行在祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



是時,佛告比丘:「二人世間難得。何等二人?
Tatkala itu Buddha bersabda kepada para bhikṣu: “Dua pribadi sukar didapati di dunia ini. Apakah kedua pribadi itu?

一者、前施人者,
1. Ia yang mengulurkan [budi bantuan] dahulu (pūrvakārin),

二者、有返復不忘恩。」
2. Ia yang berusaha membalas dan tidak melupakan budi (kr̥tajña-kr̥tavedin).”



佛說如是。……
Demikianlah sabda Sang Buddha. …

Rabu, 30 Oktober 2019

Bersandar pada Prātimokṣa merupakan Cara Membalas Budi Buddha


大師將涅槃  慈父有遺囑
四念處修道  當依木叉住

Menjelang nirvāṇa-Nya, sang Guru Agung,
sang Bapa yang Penyayang, mewasiatkan:
“Berlatihlah dalam Empat Penempatan Perenungan,
berdiamlah dalam sandaran [Prāti]mokṣa.”

—— Kuan-hsin lun 《觀心論》
(T. vol. 46, № 1920 hlm. 584b)


Guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ, menyusun dalam bentuk gāthā Kuan-hsin lun (‘Risalah Pengamatan Batin’), guna membahas wejangan terakhir Buddha untuk berlatih dengan bersandar pada Empat Penempatan Perenungan (catuḥ smr̥tyupasthāna) dan berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa Saṃvara. Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ 灌頂, muridnya, membuat komentar atas risalah ini, 《觀心論疏》 (T. № 1921). Ia menjelaskan penerapan Smr̥tyupasthāna & Prātimokṣa dalam Kendaraan Kecil dan, terutama, dalam Kendaraan Besar. Walau terlihat singkat, namun kedua Dharma yang diwejangkan Buddha ini pada prinsipnya mencakup segala Pintu Dharma. Smr̥tyupasthāna, yang esensinya adalah kebijaksanaan, ibarat mata. Sedangkan Prātimokṣa, yang esensinya adalah moralitas, ibarat kaki. Dengan mengembangkan pembebasan (vimokṣa) melalui Smr̥tyupasthāna, seseorang mengumpulkan hiasan pemahaman (jñānasaṃbhāra). Dengan mengembangkan aktivitas (caryā) melalui Prātimokṣa, seseorang mengumpulkan hiasan jasa (puṇyasaṃbhāra).

Mulaï bait ketiga dst. Cʜɪʜ-ɪ menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak dapat kita identifikasi sumbernya (barangkali dikutip dari suatu avadāna). Komentar Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ (hlm. 589c) amat membantu memperjelas: Dahulu terdapatlah seorang raja yang sedang berpelesir dan merasa lelah. Ia hampir tertidur di tengah rerumputan. Seekor ular hendak memagutnya. Tatkala itu adalah seekor gagak putih yang mematuki sang raja untuk membangunkannya. Raja tersadar dan sesudahnya segera kembali ke istana. Dititahkannya para menterinya mencari gagak putih itu untuk membalas budinya. Para menteri menjawab: “Jikalau secara khusus kita mencari gagak putih, kita takkan dapat menemukannya. Apabila Raja berderma saja kepada segala gagak biasa secara universal, bukankah itu sama dengan membalas budi sang gagak putih?”

Gagak putih mengumpamaï para suci (ārya), khususnya Buddha. Gagak biasa mengumpamaï makhluk biasa (pr̥thagjana). Ular berbisa mengumpamaï ketiga racun: rāga, dveṣa, dan moha. Sedangkan raja mengumpamaï praktisi kebanyakan, yang terdiri atas empat kelompok siswa-siswi. Buddha berupaya mencerahkan kita agar terhindar dari gigitan ketiga racun kleśa. Sudah sepatutnya kita berterimakasih dan berupaya membalas budi-Nya. Akan tetapi, sebagai praktisi kebanyakan yang belum mengkontemplasikan kebijaksanaan melalui Smr̥tyupasthāna, kita melekat pada trikotomi bahwa Buddha, makhluk lain, dan diri sendiri adalah berbeda. Dalam berderma kita memilah-milah benih secara tidak samarata, untuk ditanam di ladang yang subur (para suci) atau yang kurang subur (makhluk biasa). Ini seperti raja yang bingung memutuskan untuk berderma kepada gagak putih atau gagak hitam.

Kebalikannya dapat kita lihat pada Bodhisattva Sadāparibhūta 常不輕 yang, dikisahkan dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra, memiliki keyakinan sempurna sehingga tidak pernah meremehkan makhluk mana pun, dan bernamaskāra kepada semua orang seraya berkata: “Anda sekalian adalah Buddha!” Upāsaka Vimalakīrti 維摩詰 juga membagi kalung berumbai yang diterimanya, lalu mendermakannya kepada pengemis terhina di kota dan kepada Tathāgata Duṣprasaha secara samarata. Mengapakah para bodhisattva dapat bertindak sedemikian? Karena mereka telah berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa sehingga tidak lagi membuat pembedaan ladang yang subur dan yang kurang subur. Bahkan tiada lagi pembedaan antara diri sendiri dengan orang lain. Semua ladang adalah baik; membina diri sendiri sama dengan menghantarkan semua makhluk menuju Kebuddhaan.


Maka Kᴜᴀɴ-ᴛɪɴɢ selanjutnya (hlm. 590a) mengomentari:

經云:「依教修行,名報佛恩。」能助佛宣化,亦名報於聖恩。
Sūtra mengatakan: “Berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.” Mampu membantu Buddha menyebarkan pengajaran-Nya pun termasuk membalas budi kepada para suci.

而今行者依念處觀慧、依木叉而住,即是依教修行,名報佛恩。
Sekarang, seorang praktisi yang mengkontemplasikan kebijaksanaan dengan bersandar pada Smr̥tyupasthāna, yang berdiam dengan bersandar pada Prātimokṣa, adalah telah berlatih mempraktikkan sesuai Ajaran, dan dapat dinamakan membalas budi Buddha.

復能以己之行,化導一切眾生,即是普施烏鴉之食,能報白鴉之恩也。
Dan lagi ia, yang dengan praktik pribadinya mampu merubah dan membimbing semua makhluk, telah secara universal memberi makan segala gagak biasa, dan dapat membalas budi sang gagak putih.

Rabu, 23 Oktober 2019

Kelestarian Agama Buddha


vinayo nama buddhasasanassa ayu

毘尼藏者,是佛法壽;毘尼藏住,佛法亦住。
Vinaya adalah nyawanya Buddhaśāsana; apabila Vinaya lestari, Buddhaśāsana juga lestari.

—— Samantapāsādikā 《善見律毘婆沙》
(T. vol. 24, № 1462 hlm. 675a)

Selasa, 22 Oktober 2019

Inisiasi ke dalam Tubuh Dharma

Keyakinan yang Tak Tergoyahkan terhadap Śīla, sebagai salah satu faktor srotāpatti, didefinisikan dalam sūtra-sūtra sebagai keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ 聖所愛戒). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara. Anāsrava Saṃvara akan terbentuk pada ārya-pudgala, minimal pada seorang srotāpatti-pratipannaka. (Tentu saja terdapat perbedaan derajat Anāsrava Saṃvara di antara berbagai tingkat kesucian, di mana yang terunggul dimiliki oleh para aśaikṣa — lihat di sini.) Jadi, keyakinan seorang srotāpanna terhadap Śīla bukan hanya berarti keyakinan bahwa Śīla (Prātimokṣa Saṃvara) adalah pemotong nafsu, melainkan juga keyakinan diri bahwa Śīla (Anāsrava Saṃvara) mulaï direalisasi olehnya.

Seperti halnya Dharma sebagai ajaran dan Dharma sebagai Nirvāṇa adalah dua aspek dari Dharmaratna yang sama, begitu pula Prātimokṣa Saṃvara sebagai metode dan Anāsrava Saṃvara sebagai realisasi adalah dua aspek dari Śīla yang sama, yang merupakan agregat tubuh Dharma. Menerima Prātimokṣa Saṃvara (tipe apa pun) berarti menerima benih bagi sempurnanya tubuh Dharma. Sepatutnya kita merasa beruntung apabila Prātimokṣa Saṃvara telah terbentuk dalam diri kita, sebab kita menjadi calon ārya-pudgala di masa datang.

Vinayācārya Tao-hsüan mengatakan dalam  Hsing-shih ch’ao  bahwa Śīla sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan. Tepatlah bila dalam  Upāsaka Śīla Sūtra  Śīla-Śīla Buddhis hanya boleh disebut sebagai śīla adiduniawi. Maka kita mesti menghargaï setinggi-tingginya upaya Buddha mentransmisikan Dharma para suci tersebut kepada kita. Dengan berkenan memberikannya, Beliau telah menginisiasikan kita ke dalam tubuh Dharma.


Tatkala itu kelimaratus wanita Śākya, dengan mulut berlainan dalam satu suara, bersungguh hati merenungkan Buddha: “Namaḥ Śākyamunaye Tathāgatāyārhate Samyak-saṃbuddhaya.” Kembali lagi mereka berseru: “Alangkah menderitanya! Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Aduhai Bhagavan, sang Sugata!” Pada saat mereka menyeru demikian, berkat kekuatan akar kebaikan cintakasih Tathāgata, di angkasa muncullah awan Mahākaruṇā, hujanlah hujan Mahākaruṇā, yang menghujani tubuh para wanita itu. Setelah menerima hujan tersebut, tangan dan kaki tumbuh pada tubuh mereka seperti sediakala. Para wanita itu amat bergembira dan bersama-sama berseru:“Tathāgata adalah bapa yang penyayang, Bhagavan yang tiada taranya, obat mujarab bagi dunia, biji mata dunia ini, mampu mencabut penderitaan di Triloka dan menganugerahkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena kini kita beroleh kelepasan dari penderitaan dan kesukaran. Kini kita harus merenungkan budi Sang Buddha, harus merenungkan membalas budi.” Para wanita merenung: “Bagaimanakah cara kita membalas budi Buddha? Tubuh Tathāgata adalah tubuh vajra, tubuh yang senantiasa bersemayam, tubuh tanpa kelaparan dan dahaga, tubuh dengan fisik yang menakjubkan, yang diperlengkapi dengan ratusan ribu samadhi, indera, kekuatan, faktor Pencerahan, 32 ciri yang tak terbayangkan dan 80 tanda tambahan; Ia sempurna memiliki dua hiasan, bersemayam dalam Nirvāṇa Agung; Ia samarata memandang semua makhluk sebagai Rāhula, menganggap setara yang memusuhi maupun yang mengasihi-Nya, juga tidak pernah mengharapkan balasan ….”


Tiada cara untuk berterimakasih kepada Beliau selain mengikuti jejak 500 wanita Śākya dalam  Mahopāya-kauśalya Buddha Pratyupakāraka Sūtra 《大方便佛報恩經》 (T. vol. 3, № 156 hlm. 152b), yang dipulihkan-Nya setelah selamat dari pembantaian Raja Virūḍhaka, dan berkata:

「欲報佛恩,當持禁戒,護持正法。」
“Jikalau hendak membalas budi Buddha, haruslah kita memegang Śīla demi menjaga bertahannya Saddharma.”

夫能維持佛法,三乘道果相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。
Kemampuan mempertahankan Buddhadharma, dan bersinambungnya Jalan & Buah ketiga Kendaraan tanpa terputus, sepenuhnya bergantung pada Prātimokṣa sebagai akar.

Senin, 14 Oktober 2019

Memiliki Avetya Prasāda merupakan Faktor Srotāpatti

Sūtra pendek dari Saṃyukta Āgama berikut (T. vol. 2, № 99 hlm. 298c) paralel dengan Brahmacariyogadha Sutta dalam Kanon Pāli (SN LV.1: 2), minus gāthā penutup di akhir. Sūtra ini sebenarnya dimaksudkan sebagai prototipe — dinyatakan dalam catatan setelahnya — dan harus dipecah menjadi tujuh sūtra tersendiri-sendiri dengan mengganti kata “barangsiapa” menjadi “bhikṣu”, “bhikṣuṇī”, “śikṣamāṇā”, “śrāmaṇera”, “śrāmaṇerī”, “upāsaka”, dan “upāsikā” berturut-turut.

Seperti yang pernah disinggung dahulu, kata prasāda dapat dialihkan beragam dalam bahasa Tionghoa. Guṇabhadra, sang penerjemah Saṃyukta Āgama, memilih 淨 ‘kemurnian’. Agar sejalan dengan pembahasan kita, maka ‘keyakinan murni’ akan kita gunakan sebagai padanan.







《四法經》
Sūtra tentang Empat Dharma
(Saṃyukta Āgama 1127)






如是我聞。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛住舍衛國,祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berdiam di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



爾時,世尊告諸比丘:「若有成就四法者,當知!是須陀洹。何等為四?
Pada saat itu Bhagavan bersabda kepada para bhikṣu: “Barangsiapa yang berhasil meraih empat dharma, maka ketahuilah: ia seorang srotāpanna! Apakah keempatnya itu?

謂:
Yakni:
於佛不壞淨,  terhadap Buddha memiliki keyakinan murni yang tak terhancurkan,

於法、     terhadap Dharma
 僧不壞淨,  dan Saṅgha memiliki keyakinan murni yang tak terhancurkan,

聖戒成就。   meraih Śīla [yang dicintaï] para suci.


是名四法。成就者,當知!是須陀洹。」
Itulah yang dinamakan keempat dharma. Barangsiapa yang berhasil meraihnya, maka ketahuilah: ia seorang srotāpanna!”



佛說此經已,諸比丘聞佛所說,歡喜奉行。
Setelah selesai Buddha membabarkan sūtra ini, para bhikṣu merasa amat bergembira demi mendengar apa yang Beliau sabdakan, serta menjunjung dan melaksanakannya.







(如不分別說,如是分別比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷成就四法者,當知!是須陀洹,一一經如上說。)
(Seperti contoh yang tidak spesifik ini, demikian spesifikkan untuk bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā “yang berhasil meraih empat Dharma …” — masing-masing sūtra sama dengan yang dicontohkan di atas.)

Selasa, 08 Oktober 2019

Diri Sendiri = Objek Berlindung?

Bahwasanya Perlindungan tertinggi adalah kepada Dharma telah disabdakan oleh Buddha sendiri dalam *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 atau ‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, yang merupakan sūtra ke-2 Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 15b):

「是故!阿難。當自熾燃,熾燃於法;勿他熾燃!
 當自歸依,歸依於法;勿他歸依!」
  “Oleh sebab itu, Ānanda!
 Jadilah pelita bagi diri sendiri (ātmadīpa),
 jadikan Dharma sebagai pelita (dharmadīpa);
  jangan ada pelita yang lain (ananyadīpa)!
 Jadilah Perlindungan bagi diri sendiri (ātmaśaraṇa),
 jadikan Dharma sebagai Perlindungan (dharmaśaraṇa);
  jangan ada Perlindungan yang lain (ananyaśaraṇa)!”

Namun, di sini tampak penyamaan Dharma kembali: dengan diri sendiri kali ini! Diri manakah yang boleh dijadikan Perlindungan? Diri yang telah menginsafi ketanpadirian. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā mengatakan: berlindung kepada Pengakhiran [yang direalisasi] diri sendiri, juga kepada Pengakhiran orang lain — demikianlah “berlindung kepada Dharma”. Diri yang telah menginsafi ketanpadirian mulaï melihat Dharma yang direalisasi oleh Buddha dan para aśaikṣa, hingga pada akhirnya ia merealisasi seutuhnya Dharma itu sendiri.

Dari sepuluh belenggu (saṃyojana) yang mengikat dalam saṃsāra, berpandangan bahwa diri itu nyata (satkāya dr̥ṣṭi) merupakan belenggu pertama. Seseorang yang berhasil mematahkan pandangan tersebut akan mencapai kesrotāpannaan, jenjang kesucian terbawah dalam Kendaraan Kecil. Ia kini termasuk seorang suci (ārya) walaupun masih harus berlatih lagi (śaikṣa). Berangsur-angsur ia akan membentuk tubuh Dharma sebagaimana yang dimiliki para aśaikṣa, yang terdiri atas lima agregat: Śīla, Samādhi, Prajñā, Vimukti, dan Vimukti-jñāna-darśana.

Seorang srotāpanna bukan hanya mematahkan pandangan bahwa diri itu nyata, melainkan juga dua belenggu terendah lainnya: keragu-raguan (vicikitsā), serta kemelekatan irasional pada aturan (śīla) & penekunan (brata). Terbebas dari keragu-raguan berarti memiliki Keyakinan yang Tak Tergoyahkan (avetya prasāda) atau Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda). Keyakinan terhadap apa? Saṅgīti Sūtra 《眾集經》, yang merupakan sūtra ke-9 Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 51a), menyatakan:

復有四法,謂:四須陀洹支
Ada empat dharma lagi, yaïtu: empat faktor srotāpatti —

 比丘於佛得無壞信,
 seorang bhikṣu terhadap Buddha memperoleh keyakinan yang tak terhancurkan,
 於法、     terhadap Dharma,
 於僧、     terhadap Saṅgha,
 於戒得無壞信。 terhadap Śīla
         memperoleh keyakinan yang tak terhancurkan.

Kata avetya ditafsirkan berasal dari akar ava-√i ‘mengerti, mengetahui’. Avetya prasāda adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan, yang timbul karena sudah mengerti, dan bukan keyakinan yang membuta. Hanya seorang srotāpanna-lah yang benar-benar memiliki avetya prasāda karena ia sudah melihat Empat Kebenaran Sejati secara langsung, bukan cuma secara intelektual seperti kita makhluk biasa.


Jadi, dapat kita simpulkan, untuk mencapai jenjang kesucian terbawah dalam Kendaraan Kecil bukanlah hal yang mudah! Bagaimana bisa kita menjadi srotāpanna, sementara kepada siapa kita pergi berlindung pun kita tidak mengerti? Meskipun seorang srotāpanna belum sempurna dalam membentuk tubuh Dharma, tetapi ia tidak ragu-ragu kepada Śīla yang merupakan Dharma-sebagai-pemotong-nafsu, untuk merealisasi Śīla yang merupakan salah satu agregat Dharma-sebagai-keadaan-bebas-nafsu.

Selasa, 01 Oktober 2019

TUBUH DHARMA MELIPUTI SELURUH ALAM SEMESTA

Doa saat membakar dupa berdasarkan Sūtra tentang Jasa & Kebajikan Memandikan Pratimā 《佛說浴像功德經》 (T. vol. 16, № 697 hlm. 799b):

戒定慧解知見香  遍十方剎常芬馥
願此香煙亦如是  迴作自他五種身

Keharuman Śīla, Samādhi, Prajñā, Vimukti, dan Vimukti-jñāna-darśana
melingkupi buddhakṣetra di sepuluh penjuru, senantiasa mewangi.
Asap dupa persembahanku ini pun kiranya demikian,
sebagai dedikasi bagi terbentuknya tubuh [Dharma] berjenis lima (pañcaskandha dharmakāya) diriku sendiri dan makhluk lain.


Kamis, 26 September 2019

Tubuh Dharma Beragregat Lima

Dalam Śālistamba Sūtra 《佛說稻芉經》 (T. vol. 16, № 709 hlm. 816c) …

世尊覩見稻芉,而作是說:「汝等比丘!見十二因緣,即是見法;見法,即是見佛。」
Sang Bhagavan melihat tangkai padi, lalu bersabda demikian: “Duhai para bhikṣu! Barangsiapa yang melihat dua belas sebab-musabab [yang muncul saling bergantungan], ia melihat Dharma; barangsiapa yang melihat Dharma, ia melihat Buddha.”

Petikan terkenal di atas — juga dapat dijumpaï dalam sūtra-sūtra lain — secara gamblang menyamakan Dharma dengan Buddha. Dharma yang manakah? Yakni: Nirvāṇa.




Kemunculan saling bergantungan (pratītyasamutpāda) merupakan cara untuk menjelaskan perhubungan Empat Kebenaran Sejati yang diajarkan Buddha. Progresi pratītyasamutpāda dalam urutan reguler (anuloma) menghubungkan Kebenaran kedua (Sebab Penderitaan) dengan Kebenaran pertama (Penderitaan) — menjelaskan sebab-akibat keberadaan dalam saṃsāra. Sedangkan dalam urutan terbalik (pratiloma) ia menghubungkan Kebenaran keempat (Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan) dengan Kebenaran ketiga (Akhir Penderitaan) — menjelaskan sebab-akibat kelepasan dari saṃsāra.

Karena penderitaan dalam saṃsāra muncul dari sebab-musabab yang terkondisi saling bergantungan, maka untuk mengakhiri penderitaan seseorang harus membalikkan prosesnya (dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang dapat dikelompokkan menjadi Latihan Berunsur Tiga). Setelah menginsafi segala fenomena (dharma) ini seutuhnya, dengan mata kebijaksanaan ia akan melihat Dharma yang direalisasi oleh Buddha. Dan Dharma itulah Buddha, sarat dengan kualitas-kualitas sempurna.

Dari sini kita mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang tubuh Dharma Buddha. Sama halnya dengan Dharmaratna yang beraspek dua (sebagai ajaran pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu), tubuh Dharma Buddha pun beraspek dua. Menurut ide yang mula-mula, tubuh Dharma hanyalah “pertubuhan” dari kumpulan-kumpulan ajaran Beliau. Tetapi, sekarang, tubuh Dharma kita mengerti sebagai “pertubuhan” dari kualitas-kualitas sempurna Nirvāṇa.

Nirvāṇa itu sendiri tidak terbayangkan, dan sesungguhnya mustahil dapat kita lukiskan kualitas-kualitasnya yang tanpa batas. Kualitas-kualitas tersebut dimiliki, terutama, oleh para aśaikṣa dan secara parsial juga oleh para śaikṣa. Pada umumnya tubuh Dharma dipandang sebagai pertubuhan dari sempurnanya kualitas-kualitas berikut:
  • Śīla 戒: ketiadaan imoralitas pada tubuh, ucapan, dan pikiran Tathāgata.
  • Samādhi 定: kedamaian sejati dalam batin Tathāgata tanpa diliputi pemikiran delusif.
  • Prajñā 慧: pemahaman sejati Tathāgata yang sempurna menyoroti dan mengamati hakikat segala fenomena — pemahaman akar (mūla jñāna 根本智).
  • Vimukti 解脫: kebebasan batin dan jasmani Tathāgata dari segala belenggu — pencapaian Nirvāṇa.
  • Vimukti-jñāna-darśana 解脫知見: pengetahuan bahwa diri-Nya telah benar-benar terbebaskan — pemahaman perolehan yang kemudian (pr̥ṣṭhalabdha jñāna 後得智).

Daśottara Sūtra 《十上經》, sūtra ke-10 dari Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 54a), menyebutkan:

云何五證法?
Bagaimanakah lima dharma yang harus direalisasi itu?

謂:五無學聚
Yakni: kelima agregat dari yang tak perlu berlatih lagi (aśaikṣa pañcaskandhāḥ) —

  無學
    戒聚、    agregat moralitas (śīlaskandha),
    定聚、    agregat konsentrasi (samādhiskandha),
    慧聚、    agregat kebijaksanaan (prajñāskandha),
    解脫聚、   agregat kebebasan (vimuktiskandha),
    解脫知見聚。 agregat pengetahuan dan pandangan akan kebebasan
           (vimuktijñānadarśanaskandha)
  dari yang tak perlu berlatih lagi.

Yang disebut tubuh fisis (rūpakāya), sebagaimana dimiliki makhluk hidup biasa, merupakan pertubuhan dari unsur-unsur material dan mental yang masing-masing terkumpulkan/ter-agregasi dalam lima kelompok. Tubuh Dharma dari mereka yang tak perlu berlatih lagi pun merupakan pertubuhan dari kumpulan kualitas murni dalam lima kelompok yang disebutkan di atas. Oleh karena itu, kelimanya dinamakan pula “agregat bebas-kebocoran” (anāsravaskandha), “agregat adiduniawi” (lokottaraskandha), atau “agregat Dharma” (dharmaskandha).

Paralel dengan tidak ditemukannya suatu aku (ātma) di balik kelima agregat penyusun tubuh fisis (sesuai doktrin anātma), maka tiada penjelasan “apa” yang ada di balik kelima agregat penyusun tubuh Dharma. Sistem Kendaraan Kecil tidak membuat spekulasi metafisis lebih jauh. Hanya dalam sūtra-sūtra Mahāyāna-lah kita akan menemukan pembahasan selanjutnya mengenaï Tubuh Dharma pada tataran nomena, yang melampaui konsep ada dan tiada, dan hakikatnya kekosongan.

Selasa, 10 September 2019

Jadikanlah Śīla Gurumu




Begitu utamanya Perlindungan Buddhis yang keempat, Śīla, sehingga Buddha menjadikannya pengganti Beliau sendiri, selaku guru (śāstr̥) setelah kemangkatan-Nya. Ujaran populer dari Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 ini dapat kita jumpaï padanannya, terutama, di jilid 38 “Kṣudraka Vastu” dari  Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶雜事》 (T. vol. 24, № 1451 hlm. 398c–399a):

「汝等苾芻,我涅槃後,作如是念:『我於今日無有大師。』汝等不應起如是見!我令汝等每於半月說波羅底木叉。當知!此則是汝大師、是汝依處,若我住世無有異也。」
“Kalian, para bhikṣu, setelah parinirvāṇa-Ku mungkin akan berpikir demikian: ‘Hari ini kami tiada lagi memiliki guru.’ Kalian tidaklah semestinya membangkitkan pandangan demikian! Telah Kuperintahkan kalian setiap paruh-bulan untuk membabarkan Prātimokṣa. Ketahuilah! Itulah kelak gurumu, itulah sandaranmu, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Pada gāthā penutup Prātimokṣasūtra dari mazhab Dharmaguptaka, baik untuk bhikṣu (T. №. 1429 dan 1430) maupun bhikṣuṇī (T. № 1431), pun termaktub:

世尊涅槃時  興起於大悲
集諸比丘眾  與如是教誡
莫謂我涅槃  淨行者無護
我今說戒經  亦善說毘尼
我雖般涅槃  當視如世尊
此經久住世  佛法得熾盛
以是熾盛故  得入於涅槃

Sang Bhagavan, pada saat nirvāṇa-Nya,
telah membangkitkan belas-kasih agung,
menghimpun saṅgha para bhikṣu, dan
memberikan wejangan demikian:

“Janganlah menyangka setelah nirvāṇa-Ku
para brahmacārin tiada memiliki penjaga!
Prātimokṣasūtra yang kini Kuucapkan,
juga Vinaya yang dengan baik Kubabarkan
— meskipun Aku telah parinirvāṇa —
pandanglah ia sebagai Bhagavan.

Apabila sūtra ini bertahan lama di dunia,
Buddhadharma dapatlah gilang-gemilang.
Karena kegemilangannya tersebut,
dapatlah Nirvāṇa dimasuki.”

Adegan paralel juga termuat dalam berbagai redaksi Parinirvāṇa Sūtra milik mazhab berbeda-beda, di mana aspek Dharma sebagai pemotong nafsu, yang menjadi Perlindungan yang keempat ini, biasanya dipecah menjadi Dharma dan Vinaya (terjemahan-terjemahan lebih kuno seringkali menggunakan istilah arkais “Sūtra dan Śīla” 經戒 sebagai substitusi). Dalam Ta po-nieh-p’an ching 《大般涅槃經》 (T. vol. 1, № 7 hlm. 204b) terjemahan Peziarah Fa-hsien, misalnya — ini adalah yang pertama dari dua Parinirvāṇa Sūtra yang kepenerjemahannya disandangkan padanya: versi Hīnayānis dan versi Mahāyānis masing-masing — diceritakan sbb.:

爾時,如來告阿難言:「汝勿見我入般涅槃,便謂正法於此永絕!何以故?我昔為諸比丘,制戒波羅提木叉,及餘所說種種妙法。此即便是汝等大師,如我在世無有異也。」
Pada saat itu Tathāgata pun memberitahu Ānanda: “Janganlah karena melihat-Ku memasuki parinirvāṇa maka kamu menyangka sampai di sini Saddharma akan terhenti selamanya! Apakah sebabnya? Dahulu, demi para bhikṣu, Aku telah menetapkan śīla-śīla Prātimokṣa dan telah membabarkan bermacam-macam Dharma yang menakjubkan di tempat lain. Itulah guru kalian kelak, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Sedangkan dalam *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 atau ‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, yang merupakan sūtra ke-2 dari Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 26a), sbb.:

「阿難。汝謂佛滅度後無復覆護,失所恃耶?勿造斯觀!我成佛來,所說經戒,即是汝護,是汝所恃。」
“Ānanda, pada sangkamu setelah Buddha parinirvāṇa tidak lagikah engkau memiliki penjaga, dan kehilangan andalan? Janganlah berpandangan demikian! Segala Sūtra dan Śīla yang Kubabarkan semenjak Aku menjadi Buddha itulah penjagamu, itulah yang akan kauandalkan.”

Terjemahan Tionghoa tertua, Fo po-ni-huan ching 《佛般泥洹經》 (T. vol. 1, № 5 hlm. 172b) oleh Śramaṇa Po Fa-tsu 白法祖 yang hidup pada zaman Dinasti Tsin Barat (265–316), menuturkan:

「吾泥曰後,無得以佛去,故言:『無所復怙。』當怙經戒!吾泥曰後,轉相承用,翫經奉戒。」
“Setelah nirvāṇa-Ku, janganlah karena menganggap Buddha telah pergi maka kalian berkata: ‘Kami tidak lagi memiliki pengayom.’ Jadikanlah Sūtra dan Śīla sebagai pengayommu! Setelah nirvāṇa-Ku, berlanjutlah menerima dan menerapkan pengkajian Sūtra dan penjunjungan Śīla.”

Dan terakhir, dalam Po-ni-huan ching 《般泥洹經》 (T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), yang diterjemahkan sedikit lebih belakangan daripada T. № 5 dan sama-sama tidak kita ketahui berasal dari kanon mazhab mana:

「汝諸弟子,當自勗勉。無以懈慢,謂佛已去,莫可歸也!必承法教:常用半月,望晦講戒;六齋之日,高座誦經。歸心於經,令如佛在!」
“Kalian, para siswa, hendaklah bertekun diri. Janganlah karena kemalasan dan kesombongan, menyangka Buddha telah pergi sehingga tidak dapat dijadikan Perlindungan! Haruslah kalian menyambut ajaran Dharma: selalu setiap paruh-bulan, pada purnama dan tilem, ketika Śīla dikhotbahkan; serta pada enam hari poṣadha, ketika Sūtra dibacakan dari kursi tinggi. Berlindunglah kepada Sūtra sama seperti kepada Buddha saat masih ada!”

Bagi yang meyakini kemajemukan Buddha-Buddha yang eksis bersamaan di saat sekarang, sepeninggal Śākyamuni mungkin mereka dapat mengatakan bahwa mereka berlindung juga kepada para Buddha yang benar-benar nyata hidup di sistem dunia (galaksi) lain di sepuluh penjuru. Namun, bagi yang hanya menerima bahwa Śākyamuni ialah satu-satunya Buddha di seluruh alam semesta dan tidak ada Buddha lain kecuali di galaksi kita, maka ketika mengucapkan “aku berlindung kepada Buddha”, kepada siapakah sesungguhnya perlindungan itu ditujukan, sedangkan Buddha sudah tiada? Tentunya kita tidak dapat berlindung kepada patung-Nya yang hanya merupakan pelambang. Buddha-Buddha masa lampau sama juga sebab, seperti Śākyamuni, mereka pun tidak lagi hidup; sementara Buddha-Buddha masa datang belumlah lahir.

Karena seseorang yang mencapai Nirvāṇa terbebas dari kelahiran dan kematian, terdapat bahaya kita terjebak dalam pandangan bahwa Nirvāṇa adalah kemusnahan mutlak — mencapai Nirvāṇa berarti menjadi tidak ada sama sekali, nihil. Maka pada petikan-petikan di atas Buddha telah mengingatkan: sesudah Beliau parinirvāṇa, Dharmalah pengganti diri-Nya. Dharma, dalam aspeknya berupa ajaran (Sūtra dan Śīla), akan menjadi guru (śāstr̥), penjaga (trāṇa), andalan (pratiśaraṇa), pengayom (parāyaṇa), Perlindungan (śaraṇa) kita. Dharma bukan cuma setara dengan Buddha, tetapi Dharma identik dengan Beliau sendiri.

Dari sinilah tumbuh keyakinan tentang adanya tubuh Dharma (dharmakāya) Buddha. Menurut ide yang mula-mula ini, tubuh Dharma tidak lebih daripada “pertubuhan” atas kumpulan-kumpulan ajaran (dharmaskandha) Beliau. Buddha tetap hadir sesudah Beliau parinirvāṇa, walaupun kehilangan identitas dan tereduksi menjadi pertubuhan ajaran yang impersonal.

Kamis, 05 September 2019

Dengan Meyakini Śīla akan Diperolehlah Jalan

Perikop di bawah ini diambil dari San-hui ching 《三慧經》 (‘Kitab Tiga Yang Bijaksana’, T. vol. 17, № 768 hlm. 702b), sebuah logia atau kumpulan sabda-sabda Buddha, yang umum dijumpaï pada masa awal translasi teks-teks ke bahasa Tionghoa. Diterjemahkan dalam gaya yang arkais, kitab semacam ini bukan benar-benar sebuah sūtra yang memuat narasi yang koheren, tetapi lebih berupa petikan-petikan yang disadur dari berbagai sumber. Contoh logia lain yang sangat populer misalnya: Sūtra Empat Puluh Dua Fasal (T. № 784).

Enumerasi dalam perikop berikut tampaknya dikembangkan dari Empat Keyakinan yang Tak Tergoyahkan. Namun, sejauh ini kita belum berhasil menemukan sūtra yang menjadi sumbernya. Kalyāṇamitra (guru spiritual) di sini mungkin dimaksudkan sebagai wakil Saṅgharatna. Yang menarik adalah Dharmaratna yang dipecah lebih lanjut menjadi Dharma (=Nirvāṇa) serta Śīla & Sūtra (=Ajaran Buddha). Śīla & Sūtra — kadang diurutkan terbalik: Sūtra & Śīla — adalah padanan arkais untuk Dharma & Vinaya.



有五因緣可信:
Ada lima pendukung yang boleh diyakini:

一者、信佛。   1. Yakin kepada Buddha.
二者、信法。   2. Yakin kepada Dharma.
三者、信戒。   3. Yakin kepada Śīla.
四者、信經。   4. Yakin kepada Sūtra.
五者、信善知識。 5. Yakin kepada kalyāṇamitra.

信是五事得道。
Dengan meyakini kelima hal ini, diperolehlah Jalan.

Senin, 02 September 2019

Śīla sebagai Perlindungan Keempat

Karena Dharmaratna beraspek dua — sebagai keadaan bebas-nafsu (Nirvāṇa) dan sebagai pemotong nafsu (Ajaran Buddha, di mana Śīla merupakan salah satu dari Latihan Berunsur Tiga yang diajarkan-Nya) — objek berlindung Buddhis, boleh dibilang, sesungguhnya ada empat. Keyakinan murni kepada keempatnya: Buddha, Dharma, Saṅgha, dan Śīla, disebut Keyakinan yang Tak Tergoyahkan (avetya prāsada) atau Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prāsada). Maka tidak salah juga bila dalam Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020c) para bodhisattva diharapkan mengajari kandidat penerima Śīla rumusan berikut:

「佛子。復教受四不壞信,依止四依法:
“Putra-putra Jina, ajarilah lagi [sang kandidat] untuk menerima Empat Keyakinan yang Tak Terhancurkan, untuk bersandar pada Empat Dharma Sandaran:

『從今時,盡未來際身,
‘Mulaï saat ini, hingga akhir keberadaanku di masa datang:
歸依佛、    aku berlindung kepada Buddha,
歸依法、    aku berlindung kepada Dharma,
歸依賢聖僧、  aku berlindung kepada Ārya Saṅgha
歸依正法戒。』 aku berlindung kepada Śīla dari Dharma Sejati
        (Saddharma).’

Setelah melaksanakan Dharma (=latihan), seseorang merealisasi Dharma (=Nirvāṇa). Ia disebut seorang Buddha. Jadi, dapat dikatakan, Buddha terlahir dari Dharma; Buddha adalah manifestasi Dharma. “Buddha adalah Dharma, Dharma juga adalah Buddha,” tulis Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, “Saṅgha pun demikian.” Pada puncaknya Buddha dan Saṅgha kehilangan identitasnya, yang bermuara pada satu Dharma. Maka Perlindungan tertinggi Buddhis setepatnya adalah kepada Dharma. Lalu mengapakah rumusan Tiga Perlindungan bukan diawali dengan berlindung kepada Dharma?

Abhidharma Mahāvibhāṣā mengemukakan alasan karena Buddha adalah pemimpin Ajaran. Bilamana Buddha tidak membabarkan, maka Dharma pun tidak tertampilkan. Oleh sebab itu, berlindung kepada Buddha adalah yang pertama. Selain itu, rumusan Tiga Perlindungan (dan Empat Keyakinan yang Tak Tergoyahkan) memang ditransmisikan begitu dari guru ke murid secara turun-temurun dan telah menjadi tradisi.

Agar lebih jelas Abhidharma Mahāvibhāṣā memberi perumpamaan-perumpamaan, yang selengkapnya dapat dilihat di sini.




Minggu, 01 September 2019

Dua Aspek Dharmaratna


云何是法?八正道分 及 涅槃果,如來略說是法。
Apakah Dharma itu? Jalan Utama Beranggota Delapan dan Buah Nirvāṇa — itulah secara singkat yang Tathāgata katakan Dharma.

—— Śālistamba Sūtra 《佛說稻芉經》
(T. vol. 16, № 709 hlm. 817a)


ʜᴀʀᴍᴀʀᴀᴛɴᴀ, oknum kedua Triratna yang kepadanya kita pergi berlindung, memiliki dua aspek: sebagai pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu. Dharma, sebagai keadaan bebas-nafsu, ialah Nirvāṇa itu sendiri. Nirvāṇa itu telah direalisasi oleh Buddha, lalu diajarkan-Nya kepada Saṅgha. Maka muncullah aspek kedua Dharmaratna: sebagai pemotong nafsu yang diajarkan Buddha (yang meliputi Latihan Berunsur Tiga: Śīla, Samādhi, dan Prajñā). Dalam skema Empat Kebenaran, Dharma yang direalisasi oleh Buddha (alias Nirvāṇa) merupakan yang ketiga, yakni Kebenaran Sejati tentang Akhir Penderitaan. Dharma yang diajarkan Buddha kepada Saṅgha merupakan yang keempat, yakni Kebenaran Sejati tentang Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan.

Jadi, definisi “Dharma adalah ajaran Sang Buddha” kuranglah lengkap. Berlindung kepada Dharma berarti berlindung kepada Nirvāṇa, yang justru merupakan Perlindungan tertinggi. Buddha sendiri menjadikan Dharma sebagai guru, Buddha lahir dari Dharma. Dharma adalah ibu dari Buddha; dengan bersandar kepada Dharma, Buddha terlahir.

Penjelasan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, yang dikutip oleh Vinayācārya Tao-hsüan (lihat bit.ly/2p64GKU), selengkapnya sbb.:

歸依法者。何所歸依,名歸依法?
“Berlindung kepada Dharma”. Apakah yang dijadikan objek berlindung sehingga disebut perlindungan kepada Dharma?

答曰:歸依語,迴轉斷欲、無欲盡諦涅槃。是名歸依法也。
Jawab: Pernyataan berlindung tersebut ditujukan kepada pemotong nafsu dan keadaan bebas-nafsu, yakni Nirvāṇa, yang merupakan Kebenaran Pengakhiran (nirodha satya). Inilah yang dinamakan perlindungan kepada Dharma.

問曰:為歸依自身盡處?他身盡處?
Tanya: Apakah berlindung kepada Pengakhiran [yang direalisasi] diri sendiri? Ataukah kepada Pengakhiran orang lain?

答曰:歸依自身盡處,亦他身盡處。是歸依法。
Jawab: Berlindung kepada Pengakhiran diri sendiri, juga kepada Pengakhiran orang lain. Demikianlah “berlindung kepada Dharma”.

Kamis, 01 Agustus 2019

EMPAT KEBENARAN SEJATI

Di bab XXII Kitab Pepatah Dharma (Dharmapada) tertulis:

  1. 或多自歸  山川樹神
    廟立圖像  祭祀求福

    Banyaklah orang yang pergi berlindung
    kepada dewata penunggu gunung, sungai, dan pohon,
    kepada berhala yang didirikan di kuil-kuil,
    serta mempersembahkan sesajian demi memohon berkah.

  2. 自歸如是  非吉非上
    彼不能來  度我眾苦

    Namun, perlindungan yang demikian
    bukanlah yang teraman dan bukan yang terbaik.
    Perlindungan itu tidak dapat mendatangkan
    keselamatan bagi kita dari segala penderitaan.

  3. 如有自歸  佛法聖眾
    道德四諦  必見正慧

    Jikalau ada yang berlindung
    kepada Buddha, Dharma, dan Ārya Saṅgha,
    maka Empat Kebenaran Mulia dari Sang Jalan
    akan terlihat dengan kebijaksanaan benar, [yakni:]

  4. 生死極苦  從諦得度
    度世八道  斯除眾苦

    “Kelahiran dan kematian sungguh merupakan penderitaan (duḥkha).
    Bertolak dari Kebenaran ini (tentang asal duḥkha),
     dapatlah kita terseberangkan (menuju akhir duḥkha).
    Jalan Berunsur Delapan penyelamat dunia —
    inilah yang menghapuskan segala penderitaan.”

  5. 自歸三尊  最吉最上
    唯獨有是  度一切苦

    Berlindung kepada Tiga yang Mulia
    merupakan yang teraman dan yang terbaik.
    Hanya inilah satu-satunya
    yang menyelamatkan dari segala penderitaan.

  6. 士如中正  志道不慳
    利哉斯人  自歸佛者

    Orang yang benar-benar lurus,
    yang demi Sang Jalan, tidak merasa sayang [mengorbankan segalanya]
    — sungguh beruntunglah orang seperti itu,
    yang berlindung kepada Buddha.






Pada pemutaran Roda Dharma yang pertama di Taman Rusa, Empat Kebenaran Sejati menjadi topik bahasan utama Buddha. Empat Kebenaran merupakan kerangka klasik yang mendasari segala ajaran-Nya sepanjang 45 (atau menurut tradisi lain 49) tahun Ia berkarya, walau dapat dimengerti pada beberapa tataran. Dalam Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 (T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a), Aniruddha berkata:

「月可令熱,日可令冷,佛說四諦不可令異。」
“Rembulan bisa jadi panas, matahari bisa jadi dingin, namun Empat Kebenaran yang disabdakan Buddha tidaklah bisa berbeda.”

Premis-premis Empat Kebenaran menunjukkan prinsip sebab-akibat:
  1. Penyusun penderitaan (duḥkhasamudaya) adalah sebab berada di dunia.
  2. Penderitaan (duḥkha) merupakan buah berada di dunia.
  3. Jalan untuk mengakhiri penderitaan (duḥkhanirodha gāminīpratipat) adalah sebab bertolak dari dunia.
  4. Akhir penderitaan (duḥkhanirodha) merupakan buah bertolak dari dunia.
Walau demikian, rumusannya secara formal selalu berurutan 2-1-4-3.

Sebagai tabib yang baik, pertama-tama Buddha mendiagnosa gejala-gejala penyakit (=penderitaan) semua makhluk. Oleh karena itulah, Kebenaran tentang duḥkha ditempatkan pertama. Untuk dapat mengobatinya, Beliau harus menemukan dahulu sebab penyakit itu. Maka Kebenaran tentang penyusun duḥkha ditempatkan kedua. Beliau menyatakan bahwa kesembuhan adalah mungkin, lalu Beliau pun meresepkan obatnya — Kebenaran tentang akhir duḥkha dan jalan untuk mengakhirinya. Karena beragamnya penyakit semua makhluk, diperlukan beragam obat dengan kombinasi bahan yang berbeda-beda (meskipun bahan dasar obat tersebut sama). Maka seringkali dikatakan bahwa Buddha mengajarkan 84.000 Pintu Dharma yang berbeda-beda sesuai kapasitas dan kondisi makhluk yang berbeda-beda.



Sewaktu memutar Roda Dharma pertama kalinya, Buddha bahkan sampai melakukan tiga putaran (parivarta) untuk keempat Kebenaran. Eksegesa dalam Buddhisme Tiongkok menafsirkan bahwa putaran-putaran tersebut masing-masing bersifat indikatif, rekomendatif, dan evidensial.
  • Putaran indikatif 示轉 maksudnya bersifat penunjukan.
    Hal ini ditandaï dengan kata-kata tunjuk: “inilah” (ayaṃ, idaṃ). Mereka dengan kapasitas utama, dengan indera yang tajam, langsung tercerahkan begitu mendengar penunjukan seperti ini saja —
      此是苦 inilah penderitaan,
      此是集 inilah penyusunnya,
      此是滅 inilah akhirnya,
      此是道 inilah jalannya.
  • Putaran rekomendatif 勸轉 maksudnya bersifat penganjuran.
    Kata-kata kuncinya di sini: “harus diketahui” (parijñeya), “harus dipotong” (prahātavya), “harus direalisasi” (sākṣātkartavya), “harus dikembangkan” (bhāvayitavya). Mereka dengan kapasitas madya, dengan indera menengah, tidak langsung tercerahkan dengan penunjukan pertama, sehingga harus diberi anjuran sekali lagi —
     此苦當知 penderitaan ini harus diketahui,
     此集當斷 penyusunnya ini harus dipotong,
     此滅當證 akhirnya ini harus direalisasi,
     此道當修 jalannya ini harus dikembangkan.
  • Putaran evidensial 證轉 maksudnya bersifat pemberian bukti.
    Kata-kata kuncinya di sini: “telah Kuketahui” (parijñāta), “telah Kupotong” (prahīṇa), “telah Kurealisasi” (sākṣātkr̥ta), “telah Kukembangkan” (bhāvita). Mereka dengan kapasitas asor, dengan indera yang tumpul, bahkan tidak tercerahkan setelah mendengar dua kali, dan harus diberi bukti agar yakin —
    此苦我已知 penderitaan ini telah Kuketahui,
    此集我已斷 penyusunnya ini telah Kupotong,
    此滅我已證 akhirnya ini telah Kurealisasi,
    此道我已修 jalannya ini telah Kukembangkan.

Untuk jelasnya lihat interpretasi guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ, dalam jilid 7 Fa-hua wên-chü 《法華文句》 (‘Kata-kata dan Kalimat dari Saddharmapuṇḍarīka’, T. vol. 34, № 1718 hlm. 99a). Cʜɪʜ-ɪ lebih jauh lagi menautkan tiga putaran dengan tiga Kendaraan: para bodhisattva tercerahkan cukup dengan satu putaran, para pratyeka ditambah dengan yang kedua, dan para śrāvaka membutuhkan tiga-tiganya semua.

Yakinlah kepada Śīla Buddhis

Petikan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 yang telah kita kutip berbunyi:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha, Śīla adalah dasarnya.

Di bab III Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra: sebuah jātaka Mahāyāna 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 306c) Buddha menyabdakan hal yang sama:

「汝等比丘。諦聽!諦聽!入佛法海,信為根本;渡生死河,戒為船筏。」
“Kalian, para bhikṣu, dengarlah baik-baik! dengarlah baik-baik! Untuk memasuki laütan Buddhadharma, keyakinan adalah akarnya; untuk menyeberangi sungai kelahiran-kematian, Śīla adalah rakit kapalnya.”






Rumusan Tiga Perlindungan menjadi semacam verba consecrationis (kata-kata “sakti” pengkonsekrir) pada waktu menerimakan disiplin Buddhis mana pun, baik Lima Śīla, Delapan Śīla, Sepuluh Śīla, bahkan (semula juga) Upasaṃpanna Śīla. Dengan mengulanginya lengkap tiga kali, substansi Śīla terbentuk dalam diri si pemohon. Mengacu pembahasan sebelumnya, bagaimana mungkin kita mengulangi rumusan Tiga Perlindungan jikalau kita tidak sudi berlindung kepada Triratna? Bagaimana mungkin kita pergi berlindung jikalau kita tidak memiliki keyakinan?




Keyakinan kepada Dharmaratna beraspek dua: yakin akan Dharma sebagai keadaan bebas-nafsu dan yakin akan Dharma sebagai pemotong nafsu. Penjelasan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā ini dikutip oleh Vinayācārya Tao-hsüan. Berlindung kepada Dharma, sebagai keadaan bebas-nafsu, berarti berlindung kepada Nirvāṇa itu sendiri. Nirvāṇa itu telah direalisasi oleh Buddha, lalu diajarkan-Nya kepada Saṅgha. Maka muncullah aspek lain dari Dharmaratna: sebagai pemotong nafsu yang diajarkan Buddha (yang meliputi menjadi Latihan Berunsur Tiga: Śīla, Samādhi, dan Prajñā). Dalam skema Empat Kebenaran, Dharma yang direalisasi oleh Buddha (alias Nirvāṇa) merupakan yang ketiga, yakni Kebenaran Sejati tentang Akhir Penderitaan. Dharma yang diajarkan Buddha kepada Saṅgha merupakan yang keempat, yakni Kebenaran Sejati tentang Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan.

Dari sini dapat kita lihat betapa pentingnya Śīla, sebagai Dharma yang diajarkan Buddha. Bagaimana mungkin kita berharap dapat terlepas dari segala belenggu dan meraih Kebebasan jikalau kita tidak yakin dan bertekad menjalankan Śīla yang sungguh merupakan pemotong nafsu? Perumpamaan rangkap-empat seringkali digunakan untuk menggambarkan hal ini: Buddha adalah tabib, Dharma (=Nirvāṇa) adalah keadaan kesembuhan, Saṅgha adalah jururawat, dan Śīla adalah obat mujarab. Perumpamaan lain yang juga sering digunakan adalah: Buddha sebagai nakhoda, Dharma (=Nirvāṇa) sebagai pantai seberang, Saṅgha sebagai sesama penumpang, dan Śīla sebagai rakit.

Daśadharmaka Sūtra, sūtra ke-9 dari Mahāratnakuṭa 《大寶積經·大乘十法會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 151b), mengatakan:

信為增上乘  信者是佛子
是故有智者  應常親近信
信是世間最  信者無窮乏
是故有智者  應常親近信
若不信之人  不生諸白法
猶如燒種子  不生根芽等

Keyakinan adalah wahana peningkatan;
mereka yang yakin merupakan putra-putra Jina.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Keyakinan adalah yang terutama di dunia;
mereka yang yakin tiada berkekurangan.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Seseorang yang tidak yakin
takkan melahirkan segala dharma yang putih,
sama seperti benih yang terbakar
takkan melahirkan akar dan tunas.

Selasa, 30 Juli 2019

Śīla Buddhislah Satu-Satunya yang Terunggul dalam Memurnikan

Di bab III Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa Sūtra (T. vol. 9, № 272 hlm. 321b) Buddha memujikan Śīla Pāramitā kembali kepada Mañjuśrī dengan mengucapkan gāthā:

  1. 欲離諸生死  安隱到涅槃
    一切如來說  持戒最第一

    Kepada siapa pun yang
     ingin bertolak dari kelahiran-kematian,
    dan dengan selamat tiba di Nirvāṇa,
    semua Tathāgata mengatakan:
    “Memegang Śīla adalah yang terbaik!”

  2. 戒如清涼池  能生諸善花
    亦如猛熾火  能燒諸惡草

    Śīla bagaikan kolam yang jernih dan sejuk,
    mampu melahirkan aneka bunga yang baik;
    juga bagaikan api yang berkobar-kobar,
    mampu membakar aneka ilalang yang jahat.

Śīla Duniawi Tidaklah Murni

Tanpa pernah berkomitmen dengan mengambil suatu disiplin sebelumnya, seseorang yang berhasil meraih pencapaian meditasi tertentu juga memiliki substansi Śīla dalam dirinya, yakni: Dhyānaja Saṃvara. Akan tetapi, sama seperti Dhyāna yang tidak kekal, substansi tersebut sangat mudah terpengaruh keadaan batin (cittānuvartin). Sebagai contoh: meskipun Udraka Rāmaputra telah mencapai Ārūpya Samāpatti, saat kakinya disentuh oleh permaisuri raja, nafsu terbangkitkan dalam batinnya. Ia kehilangan pengendalian diri sehingga tidak mampu terbang kembali ke tempat kediamannya.


Untuk substansi Śīla yang terbentuk karena pengambilan, jika seseorang yang mengaku Buddhis mengambil disiplin-disiplin Buddhis namun tidak disertaï motivasi untuk bertolak dari saṃsāra, maka latihan moralitas yang dijalankannya jadi sama saja dengan latihan non-Buddhis — ajaran-ajaran non-Buddhis pun mewajibkan para penganutnya agar berkomitmen menjaga moralitas (biasanya dengan diiming-imingi pahala surga)! Apalagi jika seseorang yang mengambil disiplin-disiplin Buddhis sama sekali tidak memahami konsep substansi Śīla — apalah beda latihannya dengan norma moralitas umum? Sebab dalam bermasyarakat, walau tidak pernah menyatakan komitmen (dengan mengambil disiplin spesifik), orang-orang di dunia pun berusaha hidup secara bermoral.

Moralitas yang timbul secara alami berkat pencapaian meditasi dan moralitas yang timbul karena pengambilan tergolong sebagai śīla duniawi karena sifatnya terkondisi. Dalam pengertian ini, moralitas yang timbul karena pengambilan mencakup Prātimokṣa (Buddhis) maupun non-Prātimokṣa (non-Buddhis). Hanya Anāsrava Saṃvara-lah yang tergolong śīla adiduniawi sebab tidak terkondisi.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan dalam Vinaya Mātr̥kā bahwa disiplin Prātimokṣa “yang duniawi ini mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi”, maka secara sempit disiplin Prātimokṣa boleh disebut śīla adiduniawi juga, sedangkan disiplin non-Prātimokṣa śīla duniawi. Pengertian ini ditekankan dalam bab XXII Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·五戒品》 (T. vol. 24, № 1488), di mana disiplin Prātimokṣa dinamakan pula śīla tertinggi. Di hlm. 1064a dikatakan:

世戒亦有不殺、不盜;義戒亦有不殺、不盜。至不飲酒,亦復如是。
Dalam śīla duniawi terdapat juga pantangan membunuh dan mencuri [sebagaimana diajarkan] dalam śīla tertinggi untuk tidak membunuh dan tidak mencuri. Bahkan sampai pantangan meminum minuman-keras pun begitu pula.

如是世戒,根本不淨,受已不淨。莊嚴不淨、覺觀不淨、念心不淨、果報不淨。
Walau demikian, śīla duniawi — karena akarnya tidak murni —, setelah diterima, pun seseorang tidak termurnikan. Hiasannya tidak termurnikan, penalaran (vitarka) dan pengawasannya (vicāra) tidak termurnikan, perhatiannya tidak termurnikan, buahnya pun tidak termurnikan.

故不得名第一義戒,唯名世戒。是故!我當受於義戒。
Maka [moralitas tersebut] tidak dapat dinamakan sebagai śīla tertinggi, tetapi hanya dinamakan śīla duniawi. Oleh karena itu, seharusnyalah kita menerima śīla tertinggi!

“Akarnya tidak murni” sebab śīla duniawi biasanya diambil dengan motivasi agar terlahir di surga. Śīla-śīla Buddhis diambil untuk mencapai Kebebasan dari saṃsāra atau, bagi seorang praktisi Jalan Bodhisattva, untuk mencapai Pencerahan Tertinggi demi menguntungkan, bukan cuma diri sendiri, melainkan juga semua makhluk.

“Hiasan” bermakna jasa-jasa (dari pelaksanaan moralitas). Jasa-jasa menjadi penghias Jalan menuju Pencerahan. Bukan hanya untuk tujuan-tujuan duniawi, untuk mencapai tingkatan Pencerahan mana pun, diperlukan jasa-jasa besar. Jasa-jasa dari pelaksanaan śīla duniawi secara egoistis ditujukan agar diri sendiri dapat terlahir di surga. Jasa-jasa dari pelaksanaan śīla-śīla Buddhis ditujukan untuk mencapai Kebebasan dari saṃsāra namun dengan realisasi bahwa pribadi yang terbebas dari saṃsāra pada hakikatnya kosong.

Ruang lingkup śīla duniawi biasanya terbatas. Pantangan membunuh, misalnya, hanya mencakup sesama manusia, sedangkan hewan-hewan boleh dibunuh. Ruang lingkup śīla-śīla Buddhis meliputi seluruh Dharmadhātu. Pantangan membunuh mencakup semua makhluk, bukan hanya yang ada di sistem dunia kita ini saja, bahkan hingga ke sepuluh penjuru dan tiga masa. Karena ruang lingkup śīla duniawi terbatas, mustahil pelaksananya bisa mengembangkan kasih-sayang secara sempurna. Dengan demikian “penalaran dan pengawasannya tidak termurnikan”. Mereka takkan dapat melenyapkan kebencian (dan juga keserakahan & kebodohan) seutuhnya.

Śīla duniawi biasanya dilaksanakan secara mekanis semata-mata karena kewajiban agama sehingga “perhatiannya tidak termurnikan”. Śīla-śīla Buddhis diambil secara sukarela tanpa diwajibkan; seseorang melaksanakannya dengan perhatian penuh dan mendedikasikan segala jasanya untuk mencapai Pencerahan.

Untuk mencapai tingkatan Pencerahan mana pun, diperlukan jasa-jasa besar. Nidhikaṇḍa Sutta dari Khuddaka Pāṭha Pāli menyebutkan:
Pengetahuan analitis (paṭisaṃbhidā), pembebasan (vimokkha),
kesempurnaan seorang siswa (sāvaka pāramī),
pencerahan pacceka (pacceka bodhi), dan tingkatan Buddha (buddha bhūmi)
— semuanya diperoleh [karena buah jasa-jasa].
Hal ini tidak bisa dihasilkan dengan melaksanakan śīla duniawi. Oleh karena itu, “buahnya pun tidak termurnikan”.

Senin, 29 Juli 2019

Moralitas yang Terbentuk karena Pencapaian Meditasi Semata sifatnya Duniawi dan Tidak Stabil

Berbagai posting kita sebelumnya telah membahas peran penting Śīla yang tak boleh disepelekan, bukan cuma bagi praktisi Hīnayāna, tetapi juga praktisi Mahāyāna — bahkan bagi yang mempraktikkan Mantrayāna. Apalah bedanya latihan moralitas duniawi vs. latihan yang dijalankan seseorang yang mengaku Buddhis namun tidak memiliki substansi Śīla Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) dalam dirinya? Moralitas tersebut profan dan takkan dapat menjadi sebab untuk merealisasi Kebebasan Sejati.

Dalam kerangka Latihan Berunsur Tiga (trīṇi śikṣāṇi) juga ditekankan bahwa apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud. Memang benar, bahwa dengan moralitas yang tidak murni-murni amat, terdapat orang-orang yang berhasil meraih pencapaian meditasi tertentu. Akan tetapi, non-Buddhis pun bisa memiliki dhyāna; dan itu bersifat duniawi, bukan Samādhi yang dipujikan Buddha.

Dhyāna tidaklah kekal. Bahkan andaipun seseorang telah mencapai dhyāna yang tertinggi, apabila ia tidak berhasil merealisasi Kebebasan, suatu saat pastilah ia terjatuh. Di jilid 38 Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. vol. 12, № 374 hlm. 589b) dikatakan:

「雖復得受梵天之身,乃至非想非非想天,命終還墮三惡道中。」
“Meskipun seseorang dapat lagi menerima tubuh sebagai brahma, bahkan hingga sebagai dewa Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana, ia akan jatuh kembali ke tiga jalur-kelahiran rendah setelah hidupnya berakhir.”



Udraka Rāmaputra merupakan guru Siddhārtha Gautama sebelum menjadi Buddha dan seringkali dijadikan contoh orang yang tak pernah mengambil disiplin Buddhis apa pun, namun berhasil meraih Ārūpya Samāpatti tertinggi. Ia pernah disinggung dalam Upāsaka Śīla Sūtra yang telah kita kutip. Kisah selengkapnya terdapat dalam jilid 61 Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545) di mana namanya diterjemahkan sebagai 猛喜子 (=*Rudraka Rāmaputra). Kisah ini diulangi secara singkat di bab I-28 Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 188c):

鬱陀羅伽仙人得五通,日日飛到王宮中食。
Seperti Resi Udraka, yang memperoleh lima penembusan (pañca abhijñā), setiap hari terbang ke istana raja untuk bersantap.

王大夫人,如其國法,捉足而禮。
Permaisuri utama raja, sesuai adat negeri tersebut, menjamah kakinya sebagai penghormatan.

夫人手觸,即失神通。從王求車,乘駕而出,還其本處。
Demi tersentuh tangan sang permaisuri, dalam seketika ia kehilangan penembusan spiritualnya. Maka dipintanya dari raja sebuah kereta agar dapat dikendaraïnya pulang, dan kembalilah ia ke tempat asalnya.

入林樹間,更求五通,一心專至。
Ia pun masuk hutan belantara, mencari kembali lima penembusan, berintens dengan sepenuh hati untuk mencapainya.

垂當得時,有鳥在樹上急鳴,以亂其意。
Tatkala akan memperolehnya, seekor burung di atas pohon tiba-tiba berkicau sehingga mengacaukan pikirannya.

捨樹至水邊求定,復聞魚鬪動水之聲。此人求禪不得,即生瞋恚:「我當盡殺魚、鳥!」
Maka ditinggalkannya pohon tersebut dan pergilah ia ke tepi air untuk mencari samāpatti. Lagi-lagi kedengaran suara ikan beradu menggolakkan air. Karena tidak berhasil memperoleh dhyāna, timbul kebencian padanya: “Akan kubunuh habis semua ikan dan burung!”

此人久後思惟得定,生非有想非無想處。於彼壽盡,下生作飛狸,殺諸魚、鳥。作無量罪,墮三惡道。
Setelah lama bermeditasi, ia pun berhasil memperoleh samāpatti dan [kelak kemudian] terlahir di Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana. Tetapi di sana, sesudah hidupnya berakhir, ia akan merosot lahir sebagai tupai terbang dan membunuh segala ikan dan burung. Melakukan kejahatan-kejahatan yang tak terukur, terjatuhlah ia ke tiga jalur kelahiran rendah.

是為禪定中著心因緣。外道如此,佛弟子中亦有。
Demikianlah sebab-musabab karena batin yang melekat dalam dhyāna dan samāpatti. Para tīrthika seperti ini, siswa-siswi Buddhis pun juga ada [yang begini].

Selasa, 07 Mei 2019

Tanpa Śīla, Tiada Keberhasilan dalam Mantranaya (2)

Pada bab V Subāhu-paripr̥cchā Tantra 《妙臂菩薩所問經·分別悉地相分》 (T. vol. 18, № 896 hlm. 751c) Bodhisattva Vajrapāṇi memberitahu Subāhu Kumāra:

當具二法,悉地乃成:
Haruslah sempurna dalam dua dharma maka siddhi baru tercapai:

一者、行人。 1. Dalam hal praktisinya.
二者、真言。 2. Dalam hal mantranya.


一、行人者。
1. Mengenaï sang praktisi.

具足戒德、正勤、精進;不於他人所有名利,而生貪嫉;於己財物,乃至身命,無所吝惜。
Ia haruslah memiliki kebajikan Śīla, ketekunan yang tepat, dan semangat; tidak tamak dan iri pada nama baik atau keuntungan yang dimiliki orang lain; tidak kikir dan merasa sayang akan harta benda, bahkan hingga tubuh dan nyawanya sendiri.

二、真言者。
2. Mengenaï mantra.

以所持誦本部真言之時,當令文句滿足、聲相分明。
Pada saat melafal mantra dari famili deitas (kula) pegangannya, setiap kalimat atau sukukata haruslah lengkap, artikulasi suara haruslah jelas terbedakan.

所有欲求成就之法,皆悉具足,不得闕少。
Keberhasilan apa pun yang hendak dicari, semuanya akan tercapai sempurna jikalau hal-hal ini tidak kekurangan.

Senin, 06 Mei 2019

Tanpa Śīla, Tiada Keberhasilan dalam Mantranaya (1)

Pada bab XII Subāhu-paripr̥cchā Tantra 《妙臂菩薩所問經·說八法分》 (T. vol. 18, № 896 hlm. 759b) Bodhisattva Vajrapāṇi memberitahu Subāhu Kumāra cara mencapai keberhasilan (siddhi) bagi praktisi Jalan Mantra:

「復次!持誦行人,求悉地者,以持戒為根本。然後運菩提心,發精進勇,施正勤力,持誦真言,常不懈退,於佛菩薩倍生恭信。
“Selanjutnya lagi, seorang praktisi pelafal yang mencari siddhi haruslah memegang Śīla sebagai dasar! Kemudian, menghantarkan batinnya kepada Bodhi (bodhicitta), ia membangkitkan semangat dengan gagah, dan mengerahkan kekuatan ketekunan yang tepat, senantiasa memegang dan melafal mantra, tidak pernah lalai atau mundur, terhadap para Buddha dan Bodhisattva berlipat-ganda mempertebal rasa hormat dan yakin.

「譬如輪王,具足七寶,方理國土,而得安靜。持誦行人,奉戒清淨,乃至於佛菩薩倍生恭信。若具此者,息滅罪障,當獲悉地。」
“Ibarat seorang cakravartin, diperlengkapi dengan tujuh permata barulah dapat mengurus seisi negeri sehingga beroleh kesejahteraan. Seorang praktisi pelafal haruslah menjunjung Śīla dengan murni … s/d terhadap para Buddha dan Bodhisattva berlipat-ganda mempertebal rasa hormat dan yakin. Apabila diperlengkapi dengan [tujuh dharma] ini, rintangan dosanya akan terlenyapkan dan ia akan memperoleh siddhi.”

Rabu, 01 Mei 2019

Pentingnya Śīla dalam Mempraktikkan Ajaran Tanah Suci


「舍利弗。不可以少善根福德因緣得生彼國。」
“Śāriputra, tidaklah mungkin dengan dikondisikan akar kebaikan dan jasa yang sedikit dapat terlahir di negeri itu (na avaramātrakeṇa, śāriputra, kuśalamūlenāmitāyuṣas tathāgatasya buddhakṣetre sattvā upapadyante).”

—— Amitābha Sūtra 《佛說阿彌陀經》
(T. vol. 12, № 366 hlm. 347b)


Sebagaimana semua Buddha senantiasa melepas jasa-jasa kebaikan yang mereka perbuat dan melakukan penyaluran (pariṇamanā), Amitābha pun mendedikasikan segala jasa dari aktivitas Kebuddhaan-Nya kepada semua makhluk, khususnya untuk kelahiran di negeri-Nya. Walaupun jasa terbesar, yang mengkondisikan seseorang terlahir di Sukhāvatī, bersumber dari kelimpahan jasa Amitābha sendiri, ajaran Sekolah Tanah Suci tidak menafikan juga jasa-jasa pribadi. Amitāyurdhyāna Sūtra 《觀無量壽佛經》 (T. vol. 12, № 365 hlm. 341c) menyatakan:

欲生彼國,當修三福:
Barangsiapa yang ingin lahir di negeri itu hendaklah mengembangkan tiga jenis jasa:

一者、孝養父母,奉事師長,慈心不殺,修十善業。
Pertama, berbakti merawat ayah dan ibu, taat melayani guru dan senior, bercinta-kasih dan pantang membunuh, mengembangkan sepuluh perbuatan baik (daśa kuśala karma).

二者、受持三歸,具足眾戒,不犯威儀。
Kedua, menerima dan memegang Tiga Perlindungan, menyempurnakan segala Śīla, tidak melanggar tatakrama (ācāra).

三者、發菩提心,深信因果,讀誦大乘,勸進行者。
Ketiga, membangkitkan bodhicitta, secara mendalam meyakini sebab-akibat, membaca dan melafalkan [sūtra-sūtra] Mahāyāna, menganjurkan agar bersemangat dalam berpraktik.


Dalam komentar Patriark Shan-tao atas Amitāyurdhyāna Sūtra 《觀無量壽佛經疏》(T. vol. 37, № 1753 hlm. 270b) ketiga jenis jasa ini masing-masing disebut:
  1. Jasa duniawi 世福,
  2. Jasa disipliner 戒福,
  3. Jasa praktis 行福.
Jenis jasa yang pertama bersifat umum, dapat dihasilkan oleh siapa saja, Buddhis dan non-Buddhis. Jasa yang kedua berlaku bagi pengikut Ketiga Kendaraan, yang sudah berlindung kepada Triratna dan mengambil berbagai disiplin (saṃvara) — baik disiplin umat awam maupun disiplin monastik. Jenis yang ketiga maksudnya jasa yang dihasilkan dari praktik-praktik yang khas Mahāyāna. Di sini dapat kita lihat: jasa yang dihasilkan dengan mengembangkan sepuluh kebaikan tidaklah lebih tinggi, bahkan, dari jasa yang dihasilkan oleh Lima Śīla (disiplin umat awam) sebab sepuluh kebaikan hanyalah kebaikan duniawi dan bukan disiplin yang ditetapkan Buddha sebagai pengarah Pembebasan.

Berbeda dengan terjemahan Kumārajīva, teks Sanskerta dari Amitābha Sūtra yang dikutip di atas memang hanya menyebutkan ‘dengan akar kebaikan’ (kuśalamūlena) dan tidak memuat ‘dan jasa’. Akar kebaikan yang dimiliki seseoranglah yang menyebabkannya mampu berjumpa dengan ajaran Tanah Suci dan timbul keyakinan. Ia yakin akan aktivitas Kebuddhaan Amitābha yang tanpa batas dan siap menerima kelimpahan jasa-jasa-Nya. Di sisi lain ia mendedikasikan jasa-jasa pribadinya — sesedikit apa pun — demi terlahir di Sukhāvatī.

Ada tidaknya akar kebaikan menentukan apakah seseorang dapat terlahir di Sukhāvatī; ada tidaknya jasa-jasa menentukan tingkat kelahiran yang akan dicapai. Semakin banyak jasa, semakin tinggi tingkat kelahirannya (digambarkan dengan sembilan jenjang teratai). Jadi, memegang Śīla, yang akan menghasilkan jasa-jasa besar, sangatlah penting dalam mempraktikkan ajaran Tanah Suci.