Powered by Administrator

Translate

Minggu, 26 Februari 2017

ARUṆAVATĪ PARITRĀ




汝當求出離  於佛教勤修
降伏生死軍  如象摧草舍
於此法律中  常為不放逸
能竭煩惱海  當盡苦邊際

Kalian haruslah mencari pertolakan [dari samsāra]!
Kembangkanlah semangat dalam Buddhaśāsana.
Taklukkan balatentara kelahiran dan kematian,
bagaikan gajah yang menghancurkan gubuk ilalang.

Barangsiapa di dalam Dharma-Vinaya ini
senantiasa berlaku tanpa kelengahan,
akan mampulah ia menguras laütan kleśa
dan mengakhiri penderitaan sehabisnya¹.

—— Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra 《根本說一切有部戒經》
(T. vol. 24, № 1454 hlm. 508a)







CATATAN:

¹ Bandingkan penutup Mūlasarvāstivāda Prātimokṣa Sūtra Sanskerta:

Ārabhadhvaṃ niṣkrāmata
yujyadhvaṃ buddhaśāsane |
dhunīta mr̥tyunaḥ sainyaṃ
naḍāgāram iva kuñjaraḥ ||

Yo hy asmin dharmavinaye
apramattaś cariṣyati |
prahāya jātisaṃsāraṃ
duḥkhasyāntaṃ kariṣyati ||

Rabu, 22 Februari 2017

Mereka yang Memiliki Disiplin, Jasa Kebajikannya akan Berkembang Hari demi Hari

Syair terkenal “ārāmaropā vanaropā” seringkali digunakan untuk menjelaskan konsep avijñapti. Ketika seseorang mendermakan ārāma atau benda permanen lainnya kepada saṅgha, avijñapti yang terbentuk akan bertahan hingga benda tersebut habis masa pakainya atau rusak. Begitu pula pada seseorang yang mengambil disiplin, substansi disiplinnya (saṃvara avijñapti) akan bertahan hingga akhir hayatnya atau sampai ia melepas disiplin itu.

Substansi disiplin akan menjadi daya pendorong yang senantiasa mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, sehingga seseorang dimampukan untuk menjadi pemegang Śīla. Karena senantiasa memegang Śīla, jasa kebajikan seseorang yang memiliki substansi disiplin akan berkembang terus-menerus. Ini berbeda dengan seseorang tanpa disiplin yang, misalnya, menghentikan upaya pembunuhan sebab tiba-tiba merasa iba. Karena tidak berada di bawah disiplin, jasa yang ditimbulkannya hanya terjadi setempo-tempo secara kebetulan.




Petikan dari bab XCVI Satyasiddhi Śāstra 《成實論·無作品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 290a–b) berikut dapat memperjelas:

問曰:何法名無作?
Tanya: Dharma apakah yang dinamakan avijñapti?

答曰:因心生罪福,睡眠悶等,是時常生——是名無作。如經中說:
Jawab: Yang muncul karena [korelasinya dengan] batin pada saat melakukan dosa ataupun jasa, dan senantiasa hadir baik di saat tidur ataupun tidak sadar — itulah yang dinamakan avijñapti. Seperti disebutkan di dalam sūtra:

「若種樹園林  造井橋梁等
 是人所為福  晝夜常增長」

“Entah menanami taman dan hutan dengan pepohonan,
atau membuat sumur, jembatan penyeberang dsb.
— jasa yang dilakukan orang tersebut
akan senantiasa berkembang siang dan malam.”

(Bandingkan sutra ke-3 dari varga XXXV Ekottara Āgama.)

問曰:有人言:「作業現可見,若布施、禮拜、殺害等;是應有。無作業不可見,故無。」應明此義!
Tanya: Ada orang berkata: “Vijñapti karma tertampak dan dapat dilihat seperti berderma, melakukan penyembahan, membunuh dsb. Oleh karena itu, pastilah ia ada. Avijñapti karma tidak dapat dilihat, karenanya tiada.” Coba terangkan maknanya!

答曰:若無無作,則無離殺等法。
Jawab: Jika avijñapti tiada, maka tiadalah dharma “penghindaran pembunuhan” (prāṇātipāta virati) dsb.

問曰:離名不作,不作則無法。如人不語時,無不語法生;如不見色時,亦無不見法。
Tanya: Istilah penghindaran (virati) berarti “tak-berbuat”, tidak berbuat maka tiada dharma apa-apa. Misalnya: saat seseorang tidak berbicara, tiada dharma “tak-berbicara” yang muncul; saat seseorang tidak melihat rupa, juga tiada dharma “tak-melihat”.

答曰:因離殺等,得生天上。若無法,云何為因?
Jawab: Karena menghindari pembunuhan, seseorang dapat terlahir di surga. Jika tiada dharma apa pun, bagaimanakah yang menjadi sebab [kelahiran tersebut]?

問曰:不以離故生天,以善心故。
Tanya: Bukan karena penghindarannya ia terlahir di surga, tetapi karena buah-pikir baiknya.

答曰:不然。經中說:「精進人隨壽得福多。隨福多故,久受天樂。」若但善心,云何能有多福?是人不能常有善心故。
Jawab: Bukan begitu. Di dalam sūtra disebutkan: “Orang yang bertekun [cuma untuk sesaat saja], seturut makin panjang usianya, memperoleh makin banyak jasa. Karena makin banyak jasa, makin lama pula ia menerima kebahagiaan di alam surga.” Jikalau hanya karena buah-pikir baik [sesaat], bagaimana bisa seseorang memiliki [semakin] banyak jasa? Sebab orang tersebut tidak bisa senantiasa memiliki buah-pikir yang baik.

又說:「種樹等福德,晝夜常增長。」又說:「持戒堅固……。」若無無作,云何當說福常增長及堅持戒?
Juga disebutkan: “Jasa kebajikan dari menanam pepohonan dsb. akan senantiasa berkembang siang dan malam.” Juga disebutkan: “Memegang Śīla dengan teguh ….” Jika avijñapti tiada, bagaimanakah dapat dikatakan jasa senantiasa berkembang dan Śīla dipegang teguh?

又非作即是殺生,作次第殺生法生,然後得殺罪。如教人殺,隨殺時,教者得殺罪。故知有無作。
Juga bukan berarti bertindak sama dengan membunuh — setelah bertindak [sendiri], baru muncul dharma “pembunuhan” sehingga memperoleh dosa pembunuhan. Misalnya: saat menyuruh orang lain membunuh, seturut terjadinya pembunuhan, si penyuruh pun memperoleh dosa pembunuhan. Maka dapat kita ketahui bahwa avijñapti itu ada.

又意無戒律儀。所以者何?若人在不善、無記心、若無心,亦名持戒。故知!爾時有無作。不善律儀亦如是。
Juga tiada Śīla Saṃvara [yang diatur] pikiran. Mengapa demikian? Sebab ketika batin seseorang berada dalam keadaan tidak baik (akuśala), netral (avyakr̥ta), atau tidak sadar (acittaka), ia tetap disebut memegang disiplin. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa pada saat itu terdapat avijñapti! Demikian pula halnya untuk kontra-disiplin (asaṃvara).

Senin, 20 Februari 2017

Menjadi Baik Tidak Sama dengan Memiliki Śīla

問:一切善作,盡是戒否?
Tanya: Segala tindakan baik apakah semuanya merupakan Śīla?

答:律儀所攝善作名戒。自餘十業,但單稱善,不名為戒。
Jawab: Tindakan baik yang tercakup di bawah disiplin sajalah yang dinamakan Śīla. Sepuluh perbuatan (daśa kuśala karma) di luar itu hanya disebut sebagai kebaikan, bukan dinamakan Śīla.

—— Lü-tsung hui-yüan 《律宗會元》
(Zokuzōkyō vol. 60, № 1110 hlm. 40c),
dirangkum oleh Bhikṣu Shou-i 守一比丘 (Sung)


Banyak orang di dunia yang tidak pernah membuat komitmen tertentu untuk berpantang, dan mereka tetap tidak melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dsb. Dalam kacamata Buddhis, ada sepuluh jalan (patha) untuk melakukan perbuatan jahat (akuśala karma): tiga melalui jasmani, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran. Penghindaran dari segala kejahatan ini tentu saja digolongkan sebagai kebaikan. Akan tetapi, itu cuma kebaikan, yang dilakukan berdasarkan dorongan naluri, dan bukan merupakan disiplin karena terikat komitmen.

Dari kesepuluh jalan perbuatan jahat, Prātimokṣa Saṃvara hanya mengatur penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hīnayāna yang menganggap tindakan pikiran belum merupakan karma yang sebenarnya (lihat di sini). Tiga kejahatan pikiran hanya merupakan “jalan karma” (karmapatha) sehingga jikalau seseorang yang mengambil Pratimokṣa Samvara melakukannya, ia tidak melanggar disiplin.

Berbeda halnya dengan Bodhisattva Saṃvara di mana penghindaran kejahatan pikiran juga diatur sebagai bagian dari disiplin. Jika seseorang yang sudah mengambil Bodhisattva Saṃvara (misalnya berdasarkan Mahāyāna Brahmajāla Sūtra 《梵網經》, T. № 1484) menyimpan dendam dalam pikirannya — hanya berpikir, dan tidak diekspresikan melalui tindakan ucapan atau jasmani — ia sudah melakukan salah satu pelanggaran berat. Oleh karena itu, disiplin bodhisattva lebih sulit pelaksanaannya.

Tiga langkah latihan pertama dari Pañca Śīla Buddhis bunyinya sama dengan penghindaran tiga kejahatan jasmani. Sedangkan mengenaï langkah latihan keempat, ada perbedaan penafsiran. Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa langkah latihan keempat hanya berkenaan dengan penghindaran dari kedustaan. Menurut sistém Satyasiddhi, langkah latihan keempat mencakup pula penghindaran tiga kejahatan ucapan lainnya.


Agar lebih jelas, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 54b) Vinayācārya Tao-hsüan membuat empat kombinasi:

1.  KEBAIKAN NAMUN BUKAN DISIPLIN 善而非戒
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penghindaran tiga kejahatan pikiran hanya merupakan kebaikan dan bukan bagian disiplin Prātimokṣa. Bagi orang-orang di dunia yang memang tidak pernah mengikatkan diri dengan disiplin apa pun, bahkan penghindaran kesepuluh kejahatan hanya kebaikan semata dan bukan disiplin.

Hal-hal lain seperti berderma, melakukan meditasi, dsb. juga merupakan kebaikan, tetapi tidak berkaitan dengan norma moralitas. Disiplin Prātimokṣa tidak mengaturnya. (Akan tetapi, bisa saja merupakan bagian dari disiplin non-Buddhis yang, misalnya, menetapkan pengikutnya berdosa apabila tidak berderma untuk menyucikan harta.)

2.  DISIPLIN NAMUN BUKAN KEBAIKAN 戒而不善
Ini terjadi ketika seseorang mengambil “Śīla” yang negatif (asaṃvara — lihat pembahasan sebelumnya). Istilah “Śīla” kurang sesuai di sini karena asaṃvara justru berkaitan dengan kedursilaan. Komitmen seseorang untuk menjalankan profesi sebagai tukang jagal, misalnya, merupakan sebuah disiplin, namun bukan kebaikan.

Contoh lain disiplin yang bukan kebaikan misalnya disiplin non-Buddhis yang mengatur pengikutnya cara berpakaian tertentu, melaksanakan tapa-brata, dll.

3.  KEBAIKAN SEKALIGUS DISIPLIN 亦善亦戒
Penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara. Sedangkan penghindaran kesepuluh kejahatan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Bodhisattva Saṃvara.

Penghindaran seluruh dari sepuluh kejahatan bisa saja menjadi bagian dari disiplin non-Buddhis tergantung bagaimana ajaran mereka masing-masing.

4.  BUKAN KEBAIKAN JUGA BUKAN DISIPLIN 倶非
Bagi mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara, misalnya, melakukan perbuatan yang sifatnya netral (avyākr̥ta) melalui jasmani atau ucapan.

Sabtu, 18 Februari 2017

SEBAGAI CONTOH: Seseorang ialah Bhikṣuṇī jika Ia Memiliki Substansi Disiplin Kebhikṣuṇīan


【苾芻尼】者,謂得苾芻尼性。
Yang disebut bhikṣuṇī adalah seseorang yang memperoleh kebhikṣuṇīan (bhikṣuṇībhāva).

云何苾芻尼性?
Bagaimanakah kebhikṣuṇīan itu?
謂:受近圓。
Yakni: [jikalau ia sudah] upasampadā.

云何近圓?
Bagaimanakah upasampadā itu?
謂:白四羯磨。於所作事,如法成就,將近涅槃,故名近圓。
Yakni: [sesudah ia melalui] jñapti-caturtha karman. Setelah segala prosedurnya dilakukan dengan sempurna (sampadā) sesuai Dharma, ia semakin mendekati (upa) Nirvāṇa — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

又其進受人,以圓滿心希求具戒,要期誓受,情無恚恨,以言表白,語業彰顯,究竟滿足,故名圓具。
Juga karena si kandidat penerima, dengan batin yang sempurna (sampadā), memohon śīla yang lengkap, berikrar menyatakan komitmen, bersedia menerima tanpa merasa benci (=tanpa berat hati terhadap disiplinnya), serta mengekspresikannya melalui perkataan sehingga terbit karma ucapan dan sepenuhnya sempurna — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

—— Mūlasarvāstivāda Vinaya, Bhikṣuṇī Vibhaṅga: Pārājika I
《根本說一切有部苾芻尼毘奈耶》
(T. vol. 23, № 1443 hlm. 913c)



bhikkhuni upasampada

Rabu, 15 Februari 2017

Kriteria Disiplin

Terjemahan Guṇavarman untuk bait ke-25 surat terkenal Nāgārjuna, Su-hr̥l Lekha, berbunyi:

雖有色族及多聞  若無戒智猶禽獸
雖處醜賤少聞見  能修戒智名勝士

Meskipun seseorang itu rupawan, berbangsa tinggi, atau terpelajar,
jikalau ia tidak memiliki moralitas (śīla) dan kebijaksanaan (jñāna),
maka samalah ia seperti binatang.
Walaupun terlihat buruk, hina, atau kurang terpelajar,
namun bila seseorang sanggup mengembangkan śīla dan jñāna,
maka ia dinamakan seorang pemenang.

—— Syair-Syair Esensi Dharma yang Disuratkan Bodhisattva Nāgārjuna untuk Raja Śātakarṇi
《龍樹菩薩為禪陀迦王說法要偈》
(T. vol. 32, № 1672 hlm. 746a)


Sebagai permisalan, kucing kesayangan yang kita pelihara mungkin tidak akan membunuh sepanjang kita memberinya makan dengan teratur setiap hari. Tetapi, suatu ketika, seandainya kita pergi dan lupa meninggalkan makanan untuknya, naluri berburunya bangkit kembali dan ia mulaï membunuh hewan-hewan kecil untuk dimangsa. Jadi, sepanjang kita memberinya makan dengan teratur, dapatkah kita mengatakan bahwa kucing kita menjaga Śīla pantang membunuh?

Contoh lain adalah seorang pejabat publik dapat tidak melakukan korupsi di sebuah instansi yang sistém pengendaliannya berjalan baik. Namun, seandainya terdapat celah, ia segera mengambil kesempatan sebab sifat dasarnya sebenarnya memang tidak jujur. Hanya karena tiadanya celah yang memungkinkan, apakah bisa dengan serta-merta kita mencapnya sebagai seorang yang bermoral? Bolehkah kita mengatakan bahwa pejabat tersebut telah melaksanakan Śīla pantang mencuri?

Untuk dapat disebut sebagai Śīla — atau lebih teknisnya: disiplin (saṃvara) — menurut Vinayācārya Yüan-chao, paling tidak harus ada dua unsur yang terpenuhi (lihat jilid 3-4 Chi-yüan chi 《濟緣記》, Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 252a):

戒有二義:
Sebab terdapat dua prinsip Śīla:
一、有本期誓;
1. Memiliki ikrar dan komitmen dasar;

二,徧該生境。
2. Memeluk ruang lingkup pembentuknya.

  1. Jadi, pembeda utama antara berdisiplin dengan tidak adalah adanya ikrar dan komitmen. Pernyataan ikrar dan komitmen akan menimbulkan apa yang disebut “substansi disiplin” (yakni: saṃvara avijñapti). Apakah non-Buddhis juga mungkin memiliki saṃvara avijñapti? Menurut Bhadanta Harivarman: ya, hanya saja sifatnya non-Prātimokṣa. Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303a) tertulis:

    問曰:諸外道等得此戒律儀耶?
    Tanya: Apakah non-Buddhis memperoleh Śīla Saṃvara?

    答曰:得。此人亦以深心,離諸惡故。戒師教言:「汝從今日不應起殺等罪。」
    Jawab: Memperoleh. Karena berkat [komitmen] yang mendalam, mereka juga meninggalkan berbagai kejahatan. Guru-guru pembimbing mereka (dalam cara yang hampir mirip dengan Buddhis) mengajari mereka: “Mulaï hari ini janganlah engkau menimbulkan dosa pembunuhan dsb.”

    Kucing peliharaan dan pejabat publik dalam contoh kita jelas tidak berada di bawah disiplin karena mereka memang tidak pernah berikrar/menyatakan komitmen untuk melaksanakan aturan tertentu.


  2. Selanjutnya, karena tiada substansi disiplin dalam diri mereka, andaikata kucing dan pejabat publik di atas membunuh atau mencuri, mereka tidak dinyatakan melanggar disiplin — walau di mata dunia mereka mungkin akan dicap tidak bermoral. Akan tetapi, norma moralitas yang berlaku di dunia kadangkala berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Misalnya: membunuh segala jenis hewan tidak apa-apa dalam kebanyakan masyarakat, namun membunuh manusia adalah berdosa. Komunitas lain menganggap hewan tertentu suci sehingga membunuhnya dipandang sebagai kejahatan besar. Maka suatu aturan harus memiliki kejelasan batasan untuk dapat dinamakan disiplin. Bagaimana seseorang dapat disebut melakukan pelanggaran jikalau batasan-batasan disiplinnya sendiri tidak jelas?

    Tidak cukup seseorang hanya mengucapkan ikrar untuk dapat disebut mengambil disiplin. Ia juga harus memahami dan memeluk ruang lingkup pembentuk disiplin itu; jika tidak, substansi disiplin tidak terbentuk. Dengan kata lain, seseorang harus bersedia menerima segala batasan yang diatur disiplinnya itu. Sewaktu berkomitmen mengambil disiplin Buddhis tidak membunuh makhluk hidup mana pun, umpamanya, ia tidak boleh melakukan pengecualian untuk membunuh kecoak karena semata-mata kecoak merupakan hewan yang ia benci. Dengan membuat pengecualian, berarti ia belum bersungguh-hati hendak mengambil disiplin tersebut.

    Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, ruang lingkup pembentuk disiplin Buddhis meliputi seluruh Dharmadhātu, baik objek hidup maupun objek tak-hidup, baik makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya). Disiplin pantang membunuh dan pantang berzinah hanya berkaitan dengan objek hidup. Disiplin pantang meminum minuman keras hanya berkaitan dengan objek tak-hidup. Disiplin pantang mencuri dan pantang berdusta berkaitan dengan objek hidup dan tak-hidup.

    Seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang membunuh bukan hanya tidak boleh membunuh manusia, tetapi juga hewan, dewa, asura, setan kelaparan, makhluk penghuni neraka, hingga mereka yang berada dalam antarabhāva. Pantangan ini mencakup ke sepuluh penjuru dan tiga masa. Para suci pun tercakup di dalamnya sebab janganlah nanti kita beranggapan bahwa tidak boleh membunuh mahluk biasa, tetapi tidak apa-apa membunuh seorang arhat atau bodhisattva.

    Demikian pula seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang mencuri tidak boleh mencuri segala sesuatu di seluruh dunia. Tanah, sungai, gunung, pepohonan, bunga, buah, daun, bahkan hingga sehelai rumput, sebatang jarum, atau sebutir debu pun tidak boleh sembarangan diambil jikalau ada pemiliknya.


Nagarjuna Suhrllekha