Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Satyasiddhi Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Satyasiddhi Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2018

6. Re-akseptansi 重受

Ⓥ:不重受。
  Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

Ⓢ:開重受。

  Didispensasikan menerima-ulang.



Masalah lain yang menjadi pokok pertentangan antara Vaibhāṣika dengan Satyasiddha adalah re-akseptansi atau penerimaan-ulang disiplin yang sama. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ④ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mewakili pandangan klasik Vaibhāṣika. Pada orang yang pernah mengambil Lima Śīla, dalam dirinya sudah terbentuk substansi Lima Śīla sehingga ia tidak dapat menerimanya lagi (kecuali jika ia sengaja melepas dahulu substansi yang sudah ia ambil). Jika ia melanggar Śīla, maka yang mesti dilakukannya — sama seperti pelaksana segala tipe disiplin Prātimokṣa lain — seharusnya adalah menjalani pengakuan (āpattideśanā) dan bukan mengambil Lima Śīla kembali. Mengambil Lima Śīla berulang-ulang, seperti yang dipraktikkan dalam “kebaktian yang dihadiri bhikkhu” mazhab tertentu, adalah hal yang sia-sia sebab pelanggaran yang sudah dilakukan takkan termurnikan. Pun substansi Śīla yang semula tidak serta-merta tergantikan dengan substansi yang baru.

Dalam pembahasan kita di awal sekali telah disinggung, walaupun melalui ritual formal yang dipimpin oleh guru yang kredibel, terbentuknya substansi Śīla dalam diri seorang pemohon juga masih sulit. Śīla tidak diperoleh dengan sekadar mengucap ikrar, tanpa didasari kehendak yang kuat. Maka hanya mengulang-ulang permohonan Lima Śīla dalam kebaktian yang berjalan mekanis bukan saja tak dapat menggantikan substansi Lima Śīla yang semula (jika sudah ada dalam diri kita), bahkan avijñapti baru pun belum tentu terbentuk sebab hanya perbuatan yang didasari dorongan kehendak yang kuatlah yang membentuk avijñapti.

Kesériusan kehendak sangat menentukan derajat avijñapti yang akan terbentuk: bisa lemah (mr̥du), menengah (madhya), atau kuat (adhimātra). Avijñapti yang menjadi substansi disiplin Prātimokṣa akan bertahan sampai akhir hayat kita. Sekali terbentuk, menurut Vaibhāṣika, tidak ada cara untuk memodifikasi avijñapti tersebut. Oleh sebab itu, kita harus sangat bersungguh-sungguh ketika mengambil sebuah disiplin. Idealnya kehendak kita semakin kuat saat mengambil disiplin yang lebih tinggi sehingga avijñapti yang terbentuk juga lebih unggul. Kalau avijñapti yang terbentuk saat mengambil Lima Śīla asor, maka diharapkan avijñapti yang terbentuk saat mengambil Sepuluh Śīla madya, dan saat mengambil Upasaṃpanna Śīla unggul.

Sebelumnya telah diterangkan bahwa pada saat mengambil disiplin yang lebih tinggi, substansi disiplin yang lebih rendah akan bergabung dan ko-eksis berbarengan. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā meyakini bahwa dalam ko-eksistensi tersebut terjadi persatuan di mana yang lebih rendah menjadi komponen integral pembentuk yang lebih tinggi (T. vol. 23, hlm. 508b–c):

又五戒中亦有三品:若微品心受戒,得微品戒;若中品心受戒,得中品戒;若上品心受戒,得上品戒。十戒、具戒亦各有三品,如五戒說。
Pun dalam Lima Śīla ada tiga derajat:
① apabila dengan buah-pikir (kehendak) yang lemah seseorang mengambil Śīla (disiplin), maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang asor;
② apabila dengan buah-pikir menengah ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang madya;
③ apabila dengan buah-pikir yang kuat ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang unggul.
Sepuluh Śīla dan Upasaṃpanna Śīla masing-masing juga memiliki tiga derajat seperti Lima Śīla.

若微品心受戒,得五戒已,後以中、上品心受十戒者,先得五戒更無增無勝。
Jika setelah dengan buah-pikir yang lemah seseorang mengambil dan memperoleh Lima Śīla, kemudian dengan buah-pikir menengah atau kuat ia mengambil Sepuluh Śīla, maka 5 śīla (langkah latihan) yang ia peroleh sebelumnya tidak meningkat atau menjadi unggul.

於五戒外,乃至 “不非時食” 等殘餘五戒,得增上五戒;先得五戒仍本微品也。
Di luar 5 langkah latihan ini, untuk 5 langkah latihan sisanya [per Sarvāstivāda Vinaya — dari “tidak berbaring di ranjang yang tinggi atau mewah”] hingga “tidak makan bukan pada waktunya”, akan diperolehnya [substansi] yang lebih unggul; sedangkan [substansi untuk] 5 langkah latihan yang ia peroleh sebelumnya tetap asor seperti semula.

即先微品五戒更無增無勝,仍本五戒;自五戒外一切諸戒,以受具戒時,心增上故,得增上戒。
Jadi, 5 langkah latihan sebelumnya yang asor tidak meningkat atau menjadi unggul lagi, namun tetap seperti [saat ia mengambil] Lima Śīla semula. Di luar kelimanya, untuk segala langkah latihan lain, hingga yang ia peroleh saat mengambil Upasaṃpanna Śīla, — berkat keunggulan buah-pikirnya kini — adalah [substansi] yang lebih unggul.

以是義推:波羅提木叉戒無有重得。
Dari prinsip ini disimpulkan: Prātimokṣa Saṃvara tidak mengenal adanya perolehan-ulang.

Istilah perolehan lebih tepatnya adalah pembentukan sebab sesungguhnya avijñapti tidak diperoleh dari siapa pun, melainkan terbentuk berkat kesériusan kehendak kita sendiri. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa berpendapat lebih jauh bahwa avijñapti suatu disiplin bukan saja tidak terbentuk-ulang jika kita menerima kembali disiplin yang sama, avijñapti tersebut bahkan juga tidak terbentuk-ulang (tidak dapat ditingkatkan) saat kita mengambil disiplin yang lebih tinggi dengan buah-pikir lebih kuat. Jadi, dalam substansi disiplin tinggi yang lebih unggul terdapat komponen yang lebih asor, yang berasal dari substansi disiplin rendah. Karena tidak mungkin terjadi re-kreasi atau pembentukan-ulang — bahkan sewaktu mengambil disiplin yang lebih tinggi — maka tidak perlu juga ada re-akseptansi untuk disiplin yang sama.






Bagaimanakah pandangan Bhadanta Harivarman? Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 〈七善律儀品〉 (T. vol. 32, hlm. 303b) ia hanya mengatakan:

問曰:律儀幾時可得?
Tanya: Berapa lamakah disiplin dapat diperoleh (dibentuk-ulang)?

答曰:有人受一日戒,是初律儀;
Jawab: Ada orang yang mengambil Śīla untuk sehari (Delapan Śīla) — inilah disiplin yang pertama;

即日受優婆塞戒,是第二律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upāsaka Śīla — inilah disiplin kedua;

即日出家作沙彌,是第三律儀;
pada hari yang sama ia meninggalkan rumah-tangga dan menjadi śrāmaṇera — inilah disiplin ketiga;

即日受具足戒,是第四律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upasaṃpanna Śīla — inilah disiplin keempat;

即日得禪定,是第五律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi dhyāna — inilah disiplin kelima;

即日得無色定,是第六律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi tanpa-materi (ārūpya samāpatti) — inilah disiplin keenam;

即日得無漏,是第七律儀。
pada hari yang sama ia memperoleh [buah-pikir] bebas-kebocoran — inilah disiplin ketujuh.

隨得道果,處更得律儀。而本得不失,但 “勝者” 受名。
[Seterusnya] seturut diperolehnya Jalan dan Buah, di setiap tingkat kesucian ia memperoleh (membentuk) -ulang disiplinnya. [Substansi] yang diperolehnya (dibentuknya) semula tidak hilang, namun menerima sebutan “lebih unggul”.

Jadi, menurut Bhadanta Harivarman, saat memperoleh/membentuk substansi disiplin tinggi yang unggul, komponen-komponennya pun seharusnya terbentuk unggul. Pandangan pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa malah akan membuat kita merasa janggal. Sebagai contoh, ketika mengikuti upacara pravrajyā, seorang upāsaka tentu akan berusaha membangkitkan buah-pikir kuat secara samarata dalam mengambil seluruh 10 langkah latihannya. Tidak mungkin setelah menjadi śrāmaṇera ia hanya sérius berpantang makan selewat waktunya dan asal-asalan berpantang membunuh karena avijñapti-nya asor saat menjadi upāsaka — padahal kini ia telah membangkitkan buah-pikir kuat dalam mengambil seluruh langkah latihan, baik untuk pantang membunuh maupun pantang makan selewat waktunya.¹

Lantas bagaimana kaum Satyasiddha bisa berpendapat bahwa re-akseptansi atau pengambilan-ulang disiplin yang sama diperbolehkan? Bhadanta Harivarman hanya membahas re-kreasi sebuah disiplin sewaktu mengambil tipe disiplin lain yang lebih tinggi. Hal itu tentu saja terjadi dengan asumsi klasik bahwa buah-pikir yang dibangkitkan lebih kuat sewaktu mengambil disiplin baru. Akan tetapi, jikalau kita baca lebih teliti di akhir petikan di atas, sebenarnya re-kreasi terjadi pula untuk disiplin yang sama.

Anasrāva Saṃvara merupakan disiplin yang dicontohkannya mengalami re-kreasi. Tidak seperti kelompok siswa-siswi Buddhis berbeda memiliki tipe-tipe Prātimokṣa Saṃvara yang berbeda, para ārya dari berbagai tingkat kesucian memiliki Anasrāva Saṃvara yang satu esensinya. Saat seorang ārya merealisasi tingkat kesucian yang lebih unggul, Anasrāva Saṃvara-nya otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul. Hal yang sama terjadi pula pada Dhyānaja Saṃvara, yang otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul saat seorang dhyāyin mencapai dhyāna yang lebih tinggi.

Dalam hal Prātimokṣa Saṃvara sendiri, disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan. Namun, bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Upāsaka yang hanya mengambil satu atau beberapa langkah latihan pun memperoleh substansi disiplin yang satu esensinya dengan yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Substansi disiplin seorang ekadeśakārin, misalnya, akan terbentuk-ulang saat ia membangkitkan buah-pikir hendak menyempurnakan disiplinnya. Penyempurnaan terjadi dengan mengambil langkah-langkah latihan tambahan — tentu dengan asumsi bahwa buah-pikir yang dibangkitkannya lebih kuat. Akan tetapi, seandainya ia masih ingin tetap menjadi ekadeśakārin, lalu mengambil-ulang satu langkah latihan yang sama, hanya saja dengan buah-pikir yang lebih kuat kali ini, tidakkah itu juga termasuk penyempurnaan disiplin? Maka menurut Satyasiddha re-akseptansi adalah boleh dan sangat mungkin terjadi asalkan dilakukan dengan buah-pikir yang lebih kuat.






CATATAN:

¹ Pengecualian adalah apabila kita mengikuti pendekatan Vasubandhu, yang berpendapat bahwa dalam ko-eksistensi beberapa tipe disiplin terjadi keterpisahan mutlak masing-masing disiplin. Dengan demikian terdapat langkah latihan dobel dari dua disiplin berbeda, misalnya: pantang membunuh. Akan tetapi, yang akan kita laksanakan adalah dari disiplin tinggi yang lebih unggul. Lihat ilustrasi di sini.

Rabu, 05 Desember 2018

5. Swa-komitmen 自誓

Ⓥ:定從他受。
  Wajib mengambil dari orang lain (seorang guru).

Ⓢ:開自誓受。

  Didispensasikan mengambil dengan berkomitmen sendiri.



Poin ini berkaitan dengan pengambilan disiplin Prātimokṣa secara paravijñapana seperti yang pernah disinggung sebelumnya. Istilah paravijñapana berarti ‘penunjukan orang lain’: orang lain menunjukkan kepada kita metode penerimaan disiplin melalui sebuah upacara formal (dan, sebenarnya, kita juga menunjukkan kehendak untuk mengambil disiplin kepada orang lain tersebut dengan mengikuti segala prosedur upacaranya). Dalam hal Delapan Śīla, Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (T. vol. 23, hlm. 509a) mengatakan:

夫受齋法必從他受。於何人邊受?
Bahwa penerimaan Aturan Puasa harus diambil dari orang lain. Dari orang-orang manakah kita mengambilnya?

五眾邊。
Dari kelima kelompok (yakni, dari seorang bhikṣu; atau jika tidak tersedia: dari seorang bhikṣuṇī; atau jika tidak tersedia juga: dari seorang śikṣamāṇā, śrāmaṇera, atau śrāmaṇerī).

Begitu sentralnya peran seorang guru dalam pengambilan Delapan Śīla sehingga, menurut Vaibhāṣika, substansi disiplin Upavāsa tidak terbentuk tanpa kehadiran guru. Jika karena suatu alasan seseorang yang hendak menekuni Upavāsa tidak dapat pagi-pagi pergi memohon Śīla dari seorang guru, ia harus memohon di siangnya, bahkan boleh selewat jam makan. Substansi disiplin yang diperolehnya akan berlaku surut, terhitung sejak pagi hari itu. Pada penjelasan untuk bait 28 dari bab IV Abhidharmakośa 《阿毘達磨俱舍釋論》 (T. vol. 29, № 1559 hlm. 232b) dikatakan:

若食已,亦得受。亦應從他受,不得自受。
Setelah makan dapat juga mengambilnya. Juga mesti diterima dari orang lain, tidak dapat mengambil sendiri (sa bhuktvāpi gr̥hṇīyāt; anyataś ca grahītavyo, na svayam).

Walaupun belum memohon disiplin, tentu saja ia harus menjaga agar makannya tidak melampaui tengah hari (sehingga dapat tetap disebut berpuasa). Demikian pula untuk langkah latihan lainnya. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (T. vol. 23, hlm. 509a) mengatakan:

若人欲受八齋,先恣情女色、或作音樂、或貪飲噉、種種戲笑,如是等放逸事,盡心作已,而後受齋。不問中前、中後,盡不得齋。
Jikalau seseorang [telah] berkehendak mengambil Puasa Berunsur Delapan sebelumnya, lalu dengan sesukanya berahi kepada lawan jenis, bermain musik, gelojoh pada makanan, beria-ria dengan aneka hiburan — setelah melakukan berbagai jenis kelengahan seperti ini, ia kemudian [baru memohon] menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia tidak memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.

……

若欲受齋,而以事難自礙,不得自在。事難解已,而受齋者,不問中前、中後,一切得齋。
Jikalau seseorang [telah] berkehendak mengambil Upavāsa, namun karena terkendala oleh suatu masalah yang sulit, tidak dapat leluasa [langsung pergi memohon] — setelah terbebas dari masalah sulit itu, barulah ia menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.






Bagaimanakah jika seseorang yang hendak mengambil Upavāsa tidak dapat menjumpaï seorang guru, bahkan hingga malam hari? Menurut Bhadanta Harivarman sesungguhnya saṃvara avijñapti sudah terbentuk saat orang tersebut bertekad untuk menekuni Upavāsa di pagi hari, walau tanpa kehadiran seorang guru. Dalam bab CXIII Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Delapan Śīla Upavāsa” 〈八戒齋品〉 (T. vol. 32, hlm. 303c) tercatat:

問曰:是八分齋,但應具受?為得分受?
Tanya: Puasa berunsur delapan ini mestikah diambil lengkap saja? Atau dapatkah diambil sebagian?

答曰:隨力能持。
Jawab: Sesuai kesanggupan memegangnya, [seberapa pun boleh].

有人言:「此法但齋一日一夜。」是事不然。隨受多少戒,或可半日,乃至一月,有何咎耶?
Ada yang mengatakan: “Aturan puasa ini hanya [dapat berlaku] sehari semalam.” — Tidak demikian halnya. Seberapa pun śīla yang diambil, entah untuk setengah hari, bahkan hingga satu bulan, apalah salahnya?

有人言:「要從他受。」是亦不定。若無人時,但心念、口言:「我持八戒。」
Ada yang mengatakan: “Harus diambil dari orang lain.” — Ini juga tidak pasti. Apabila tiada orang lain, cukuplah batin [sendiri] bertekad dan mulut mengucap: “Aku akan memegang Delapan Śīla.”

Seandainya seseorang kesulitan menjumpaï seorang guru, ia boleh saja mengambil sendiri disiplin Upavāsa di rumah, misalnya di hadapan altar Buddha dsb. Kejanggalan justru tampak pada konsep berlaku surut Vaibhāṣika, yang berpegangan bahwa disiplin Upavāsa tidak dapat berlaku kurang atau lebih dari sehari semalam. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā menyebutkan:

若本無心受齋,而作種種放逸事;後遇善知識即受齋者。不問中前、中後,一切得齋。
Jikalau seseorang sejak semula tidak memiliki buah-pikir untuk mengambil Upavāsa, lalu melakukan berbagai jenis kelengahan; kemudian ia bertemu dengan seorang guru (kalyāṇamitra) dan menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.

Untuk kasus seperti ini, menurut sistem Satyasiddha tentu saja substansi disiplin Upavāsa juga diperoleh orang tersebut, hanya saja bukan sehari semalam sebab ia telah melewati setengah harinya bukan di bawah disiplin. Saṃvara avijñapti-nya baru terbentuk tepat setelah ia mengambil Śīla dan berlaku sampai keesokan paginya. Jadi, ia hanya melaksanakan Upavāsa selama setengah hari dan satu malam — dan bukan dipaksakan disebut “selama sehari semalam” dengan konsep berlaku surut.

Selasa, 04 Desember 2018

4. Komprehensi atas Anggota 具支

Ⓥ:但發四支。
  Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

Ⓢ:皆發七支。

  Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.



Disiplin Prātimokṣa, seperti yang sudah sering kita bahas, hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan. Dari sepuluh tindakan yang menjadi jalan bagi terciptanya karma buruk (daśa akuśala karmapatha), tiga di antaranya dilakukan melalui jasmani (pembunuhan, pencurian, perzinahan) dan empat melalui ucapan (kedustaan, adu-domba, perkataan kasar, omong kosong). Untuk empat kejahatan ucapan, sejauh manakah berbagai tipe disiplin Prātimokṣa mengaturnya?

Kaum Vaibhāṣika menafsirkan “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari ucapan dusta” secara harfiah. Menurut mereka hanya kedustaanlah yang merupakan pelanggaran atas langkah latihan ini, ketiga kejahatan ucapan lainnya bukan. Upāsaka yang mengomong kosong, misalnya, jelas menciptakan karma buruk, namun tidak disebut melanggar Śīla. Pendapat mereka tercatat pada penjelasan antara bait 33–34 bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, hlm. 77a–b):

何緣但制離虛誑語,非離間語等為近事律儀?
Apakah alasannya penghindaran ucapan dusta saja, dan bukan penghindaran ucapan mengadu-domba dll., yang ditetapkan dalam disiplin upāsaka?

亦由前說三種因故,謂:虛誑語最可訶故、諸在家者易遠離故、一切聖者得不作故。
Hal ini juga dikarenakan oleh tiga jenis sebab seperti yang disebutkan sebelumnya, yakni:
① karena ucapan dusta merupakan hal yang paling dicela [di dunia];
② karena umat awam lebih mudah menghindarinya;
③ karena para suci (ārya) semua tidak pernah melakukannya.

復有別因,
Ada lagi sebab lainnya,

頌曰:
kārikā (bait 34a–b):

以開虛誑語  便越諸學處

Mr̥ṣāvādaprasaṅgāc ca
sarvaśikṣāvyatikrame

論曰:越諸學處被檢問時,若開虛誑語,便言:「我不作。」因斯於戒多所違越,故佛為欲令彼堅持於一切律儀,制離虛誑語:云何令彼,若犯戒時,便自發露能防後犯。
Bhāṣya: Ketika seorang pelanggar berbagai langkah latihan diinterogasi (dalam ritus pengakuan), — seandainya ucapan dusta ditolerir — tentu ia akan berkata: “Aku tidak melakukannya.” Oleh karena di dalam Śīla akan banyak yang dilanggar, maka Buddha, yang menghendaki si pelanggar memegang teguh segala disiplin, menetapkan penghindaran ucapan dusta: bagaimana supaya ia, saat melanggar Śīla, dengan sendirinya akan mengaku sehingga pelanggaran serupa di kemudian hari mampu dicegah.

Alasan ② barangkali paling menjelaskan kaitan antara kejahatan ucapan lain dengan kedustaan. Karena dianggap lebih sérius, orang cenderung tidak berdusta. Menghindari omong kosong, misalnya, justru lebih sulit bagi umat awam ketimbang menghindari kedustaan. Oleh sebab itu, penghindaran omong kosong tidak ditetapkan sebagai bagian disiplin upāsaka, dan hanya penghindaran kedustaan yang dijadikan langkah latihan.

Vinayācārya Yüan-chao dari Dinasti Sung, dalam jilid 1 karyanya Chih-yüan i-pien 《芝苑遺編》 (Zokuzōkyō vol. 59, № 1104 hlm. 627b) mengatakan:

彼五、八、十,唯發四支;比丘方具。此宗七眾,七支齊禁。
Menurut sistem mereka, dalam Lima, Delapan, dan Sepuluh [Śīla, pantangan] hanya terbentuk atas empat anggota; [dalam disiplin] bhikṣu-lah baru terbentuk lengkap. Sekolah kita, dalam [disiplin] ketujuh kelompok, akan tetapi memantangkan tujuh anggota seutuhnya.

Jadi, menurut Vaibhāṣika penghindaran kejahatan ucapan selain kedustaan hanya tercakup lengkap dalam disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebab diatur secara jelas pada langkah-langkah latihannya. Misalnya: tiga pelanggaran pācittika/pāyantika pertama dalam Bhikṣu Prātimokṣasūtra berturut-turut adalah kebohongan yang disengaja, berkata-kata kasar, dan mengadu-domba sesama bhikṣu lain.






Lalu seperti apakah pendapat Bhadanta Harivarman yang diikuti oleh Sekolah Vinaya di Tiongkok? Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:離兩舌等何故不名為戒?
Tanya: Penghindaran lidah bercabang dll. mengapa tidak disebutkan sebagai langkah latihan?

答曰:是事細微,難可守護。又兩舌等是妄語分;若說妄語,則已總說。
Jawab: Sebab hal-hal tersebut amat halus dan sukar dijaga (sama seperti alasan ② Vaibhāṣika di atas). Namun, lidah bercabang dll. adalah bagian dari ucapan dusta; apabila menyebutkan “[aku menghindari] ucapan dusta”, maka [penghindaran kejahatan ucapan lainnya] sudah tercakup secara umum.

Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-22-1 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 158c) juga mengatakan hal yang senada:

復次!四種口業中,妄語最重。
Selanjutnya lagi, di antara empat jenis karma ucapan, kedustaan merupakan yang terberat.

復次!妄語心生故作;餘者或故作,或不故作。
Selanjutnya lagi, kedustaan dilakukan dengan sengaja karena buah-pikir yang timbul; [karma ucapan] lainnya bisa dilakukan dengan sengaja, bisa juga dilakukan tanpa sengaja.

復次!但說妄語,已攝三事。
Selanjutnya lagi, hanya mengatakan “[aku menghindari] ucapan dusta”, sudah mencakup tiga hal lainnya.

復次!諸善法中,實為最大;若說實語,四種正語皆已攝得。
Selanjutnya lagi, di antara segala dharma yang bersifat baik, kebenaran merupakan yang terbesar; apabila mengatakan ucapan kebenaran, empat jenis ucapan yang tepat telah dapat tercakup semuanya.

復次!白衣處世,當官理務,家業作使。是故!難持不惡口法。妄語故作重事,故不應作。
Selanjutnya lagi, umat awam berjubah putih yang hidup di dunia harus mengurusi berbagai perkara dan menjalankan pekerjaan rumah-tangga. Oleh sebab itu, sangat sukar [bagi mereka] untuk memegang dharma tidak bermulut jahat (yang seringkali dilakukan tanpa sengaja)! Ucapan dusta merupakan hal yang sérius yang [pasti] dilakukan dengan sengaja, maka tidak semestinya mereka melakukannya.

Interpretasi atas ucapan dusta¹ (mr̥ṣāvāda) sesungguhnya bersifat supel. Arti kata mr̥ṣā adalah ‘salah; sia-sia, hampa; tak masuk akal; ironis’. Maka dapat kita lihat mr̥ṣāvāda ‘ucapan salah’ tidak selalu bermakna ‘ucapan bohong’. Demikian pula dalam terjemahan lama ke bahasa Tionghoa, mr̥ṣāvāda diartikan sebagai 妄語 ‘ucapan tak masuk akal; ucapan lancang, gegabah; bualan’. Dalam terjemahan belakangan, seperti pada kutipan Abhidharmakośa di atas, barulah Hsüan-tsang menggunakan translasi dobel 虛誑語 ‘ucapan hampa dan bohong’.






CATATAN:

¹ Dalam bahasa Indonesia sendiri kata dusta mengalami penyempitan makna. Ucapan dusta kini semata-mata merupakan sinonim ucapan bohong. Kata Sanskerta aslinya, duṣṭa, sebenarnya berarti ‘salah, cacat, korup, lancang, jahat’.

Senin, 03 Desember 2018

3. Durasi 延促

Ⓥ:五戒必盡形,八必一日夜。
  Lima Śīla harus seumur hidup, Delapan Śīla harus sehari semalam.

Ⓢ:延促任意,皆得。

  Panjang atau pendek sekehendak pikiran, semuanya dapat.



Ini sudah pernah kita bahas panjang-lebar sebelumnya. Kebebasan jangka waktu sebenarnya hanya dibolehkan dalam pelaksanaan Delapan Śīla. Untuk disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok, yang sifatnya permanen (nitya śīla), Bhadanta Harivarman sependapat dengan Vaibhāṣika bahwa pengambilannya harus seumur hidup sebab hal itu berkaitan dengan profesi seseorang. Seseorang hanya dapat disebut “berprofesi” sebagai upāsaka atau upāsikā bilamana ia berniat sungguh-sungguh untuk mengambil Lima Śīla sebagai disiplin profesinya seumur hidup:

出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
[Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Bagaimanakah jika seseorang mengambil langkah latihan untuk pantang membunuh, pantang mencuri, pantang berzinah, pantang berdusta, dan pantang meminum minuman-keras hanya sehari atau seminggu saja? Maka menurut Bhadanta Harivarman substansi disiplin yang terbentuk pada dirinya adalah bagian dari Delapan Śīla, yang memang boleh diambil tidak lengkap. Ia tidak disebut melaksanakan upavāsa sebab tidak mengambil langkah latihan pantang makan selewat tengah hari. Substansi disiplin yang diperolehnya satu esensinya dengan Delapan Śīla, hanya saja kurang sempurna.

Tentang keleluasaan pelaksanaan Delapan Śīla, yang bukan saja boleh diambil tidak lengkap, tetapi juga boleh dilaksanakan untuk jangka waktu lebih atau kurang dari sehari, lihat di sini dan sini.


Minggu, 02 Desember 2018

2. Gradualitas 漸頓

Ⓥ:不具受不得戒。
  Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

Ⓢ:不具受得戒。

  Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.



Polemik mengenaï boleh tidaknya mengambil śīla sebagian saja (khususnya bagi umat awam) telah terjadi jauh sebelum dituliskannya komentar besar abhidharma Sarvāstivāda, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545), pada Konsili Buddhis keempat di abad I. Dalam mazhab Mahāsāṅghika pengambilan hanya satu atau beberapa langkah latihan diperbolehkan, sebagaimana tercermin di Vinaya Piṭaka-nya. Dalam mazhab Sarvāstivāda sendiri terdapat silang-pendapat sejak lama antara Sarvāstivāda cabang Kashmir dengan cabang Gandhara. Perdébatan antara keduanya sudah pernah dibahas dan tidak perlu kita ulangi lagi secara mendetail di sini.

Sarvāstivādin Kashmir berpendapat bahwa tiada pengambilan tidak lengkap disiplin bagi upāsaka, sama seperti tiada pengambilan hanya satu atau dua langkah latihan saja (tidak lengkap sepuluh) bagi śrāmaṇera. Sedangkan menurut Sarvāstivādin Gandhara (yang pandangannya di kemudian hari diteruskan oleh Sekolah Sautrāntika) hal itu memang diperbolehkan di dalam sūtra dan merupakan keunikan dari disiplin upāsaka. Bahkan terdapat upāsaka yang tidak mengambil disiplin sama sekali dan cuma menyatakan diri berlindung kepada Triratna.

Bhadanta Harivarman juga menyetujui pengambilan sebagian, baik untuk Lima Śīla maupun Delapan Śīla. Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:有人言:「具受則得戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Harus menerima lengkap barulah memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:隨受多少,皆得律儀,但取要有五。
Jawab: Seberapa pun yang diterima, semuanya memperoleh Saṃvara. Esensi yang diambil tetapi [berlangkah] lima.

Disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan (śikṣāpada), namun bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Orang yang mengambil sebagian pun memperoleh disiplin yang satu esensinya dengan orang yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Untuk menyempurnakannya, ia dapat mengambil langkah-langkah latihan sisanya. Dengan kata lain, sistem Satyasiddha mengenal adanya gradualitas atau kemeningkatan status seorang upāsaka.

Dalam Kanon Pāli kita pun dapat melihat contoh upāsaka yang berupaya meningkatkan statusnya. Upāsaka Gavesī, seorang aparipūrakārī (tanpa disiplin) yang hidup di zaman Buddha Kassapa, mengambil lengkap Lima Śīla demi mengungguli 500 upāsaka kawan-kawannya, dan menjadi seorang paripūrakārī (pelaksana sepenuh-bagian). Kawan-kawannya termotivasi oleh tindakannya dan, akhirnya, mengikutinya menjadi paripūrakārī. Lihat kisah selengkapnya di Gavesī Sutta (AN V.18: 10).

Maka petikan dari Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya cukuplah berdasar:

若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?
Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi?

Jadi, dengan mengambil langkah-langkah latihan lagi, status keupāsakaan seseorang meningkat (yakni, substansi disiplinnya semakin sempurna). Ini membuktikan bahwa ia yang sebelumnya mengambil satu atau beberapa langkah latihan saja juga sudah memperoleh Prātimokṣa Saṃvara.


Selanjutnya muncul pertanyaan apakah boleh dari lima guru menerima lima langkah latihan, masing-masing satu. Hal ini tidak dibahas dalam Satyasiddhi Śāstra, tetapi pada pertanyaan ⑦ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan Vimalākṣa membolehkannya. Jawabannya ini tidak bertentangan dengan prinsip Satyasiddha (sebab Vimalākṣa memang membolehkan pengambilan langkah latihan tidak lengkap).

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa orang yang mengambil lengkap lima langkah latihan bukan berarti memiliki lima jenis disiplin. Dalam posting sebelumnya pernah kita bahas bahwa disiplin yang lebih unggul akan mengatasi disiplin yang asor. Pada saat seorang ekadeśakārin, yang sudah mengambil satu langkah latihan dari seorang guru, mengambil sebuah langkah latihan lagi dari guru kedua, bukan berarti bahwa kini ia memiliki dua jenis disiplin berbeda; tetapi, di dalam avijñapti yang baru, substansi disiplinnya yang lama akan bergabung sebagai komponen substansi dari satu kesatuan disiplin pradeśakārin. Demikian pula apabila ia kemudian mengambil langkah latihan lagi dari guru ketiga, di dalam avijñapti yang baru lagi, substansi disiplin pradeśakārin-nya akan bergabung sebagai komponen substansi disiplin yadbhūyaskārin, dst. (Agar lebih jelas, lihat ilustrasi di akhir.)

Sabtu, 01 Desember 2018

1. Sasaran Penerima 對趣

Ⓥ:餘道眾生不得戒。
  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

Ⓢ:餘道眾生得戒。

  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.



Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prātimokṣa jenis apa pun (bahkan hingga Lima Śīla dan Delapan Śīla) cuma dapat terbentuk pada manusia (T. vol. 23, hlm. 509b):

凡得波羅提木叉戒者,以五道而言,唯人道得戒。餘四道不得,如天道以著樂深重,不能得戒。
Tentang segala perolehan Prātimokṣa Saṃvara, di antara kelima jalur kelahiran (pañcagati), dikatakan hanya jalur manusialah (manuṣyagati) yang mendapatkan disiplin. Keempat gati lainnya tidak dapat, misalnya: jalur dewa (devagati), karena dalam dan beratnya kemelekatan mereka akan kesenangan, takkan dapat memperolehnya.

Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā selanjutnya menyambung dengan kisah Jīvaka Kumārabhr̥ta — sudah kita terjemahkan dalam posting sebelumnya — untuk menjelaskan betapa lemahnya batin kebanyakan dewa. Bahkan Jīvaka, seorang srotāpanna, pun tidak dapat mengontrol dirinya secara merdeka setelah terlahir di Surga Trāyastriṃśa; apalagi dewa-dewa biasa yang terlena oleh kesenangan surgawi. Mustahil mereka mampu membangkitkan buah-pikir baik yang cukup kuat untuk mengambil disiplin Prātimokṣa. Begitu pula dengan jalur-jalur kelahiran lainnya. Di alam preta dan neraka makhluk-makhluknya mengalami kelaparan dan siksaan setiap saat; batin mereka disibukkan dengan penderitaannya sendiri sehingga sukar memperoleh disiplin Prātimokṣa. Hewan-hewan, yang memiliki inteligénsi rendah, juga tidak mungkin memperoleh disiplin Prātimokṣa.

Tetapi, kemudian ada yang menyanggah bahwa disiplin Prātimokṣa bisa dimiliki hewan tertentu, seperti: naga (sebangsa ular gaib). Bhadanta Vasubandhu, yang pada prinsipnya hanya mengulangi penjelasan yang sama seperti di atas untuk menerangkan bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa-nya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 80b–c), menukilkan sebuah kutipan:

契經中言:「有卵生龍,半月八日,每從宮出,來至人間,求受八支近住齋戒。」
Di dalam sūtra dikatakan: “Ada naga-naga yang terlahir melalui telur yang, setiap hari kedelapan dari paruh-bulan, keluar dari istananya, datang ke antara manusia, dan memohon untuk menerima Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṇḍajo, bhikṣavo, nāgo 'ṣṭamyāṃ pakṣasya bhāvanād abhyudgamya aṣṭāṅgasamanvāgatam upavāsam upavasati).”

Sūtra yang ia kutip ini, sayangnya, belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa. Namun, dalam Kanon Pāli kita dapat menemukan empat sutta pendek dari Nāga Saṃyutta (SN XXIX.1: 3–6, semuanya berjudul sama Uposatha Sutta) yang isinya serupa. Secara berurutan, masing-masing sutta ini menyebutkan bahwa ada naga-naga yang terlahir melalui telur (aṇḍaja), terlahir melalui rahim (jalābuja), terlahir melalui kelembapan (saṃsedaja), dan terlahir secara spontan (opapātika) yang menekuni Uposatha bahkan sampai rela mengorbankan tubuhnya.

Cerita-cerita tentang naga yang menerima Aturan Puasa pun bukannya tidak dikenal dalam Tripiṭaka Tionghoa. Menjelaskan pāyantika ke-58, dalam “Bhikṣu Vibhaṅga” dari Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶》 (T. vol. 23, № 1442 hlm. 842c dst.), misalnya, dua ekor naga penjaga kolam-kolam air panas di Kota Rājagr̥ha yang bernama Giri 祇利 dan Valgu(ka) 跋窶 dikisahkan berniat menerima Aturan Puasa setiap hari upavasatha. Mereka hendak mengikuti jejak Raja Naga Nanda dan Upananda yang, setelah ditaklukkan Buddha, keluar dari samudra setiap hari upavasatha, dan menuju ke Puncak Sumeru untuk mengambil Aturan Puasa dan mendengarkan Dharma yang dibabarkan Buddha di sana.


Untuk segala sanggahan ini Vaibhāṣika menampiknya dan berpendapat (Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā hlm. 509b):

雖處處經中說龍受齋法,以善心故而受八齋。一日一夜得善心功德,不得齋也,以業障故。
Meskipun dalam berbagai bagian dari kitab suci disebutkan bahwa naga-naga menerima Aturan Puasa, karena buah-pikir yang baiklah mereka menerimanya. Mereka memperoleh kebajikan dari buah-pikir baik tersebut (yakni naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat kuśala) selama sehari semalam, tetapi tidak memperoleh [substansi] Puasa (sebagai sebuah Prātimokṣa saṃvara avijñapti) karena rintangan karmanya.

以四天下而言,唯三天下(閻浮提、瞿耶尼、弗婆提)及三天下中間海洲上人,一切得戒。
Dari kempat kolong langit, dikatakan hanya tiga kolong (Jambudvīpa, Godanīya, Pūrvavideha) beserta manusia-manusia di benua di atas lautannya saja yang dapat memperoleh [substansi] disiplin.

Disiplin Prātimokṣa cuma dapat diperoleh manusia-manusia di tiga benua. Di Uttarakuru Buddhadharma tidak diterima sehingga mustahil memperoleh disiplin Prātimokṣa. Manusia-manusia di sana terlena oleh kesenangan lantaran keadaannya yang hampir menyamaï surga. Karena kehidupan begitu mulus di sana, tidak ada orang yang melakukan tindakan kriminal. Mereka tidak merasa perlu mengadopsi disiplin apa-apa lagi sebab, tanpa disiplin, toh semua sudah baik-baik saja. Selain itu, di Uttarakuru bahkan tiada dhyāna dan, dengan demikian, dua jenis disiplin lainnya (Dhyānaja dan Anāsrava) pun tiada.

Lebih jauh lagi, Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prāṭimoksa hanya terbentuk pada pria (yang memiliki organ reproduksi pria lengkap) dan wanita (yang memiliki organ reproduksi wanita lengkap) saja. Aseksual (śaṇḍaka dan paṇḍaka) serta hermafrodit (ubhavyañjana) takkan dapat memperolehnya. Aseksual adalah manusia-manusia impotén yang terdiri atas beberapa tipe berbeda, misalnya: karena dikebiri, karena kelainan bawaan, dll. Mereka biasanya dianggap sangat frigid. Karena tidak mampu berhubungan seksual, tentu saja mereka tidak merasa perlu mengambil disiplin pantang berzinah. Kebalikannya adalah hermafrodit yang berkelamin ganda dan dianggap memiliki libido yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin pula mengambil disiplin, karena hampir pasti akan melanggarnya.

Singkatnya, pandangan Vaibhāṣika diringkaskan dalam bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa sbb.:

惡戒人除北  二黃門二形
律儀亦在天  唯人具三種

Kontra-disiplin (asaṃvara) bahkan tak hadir di antara manusia Uttara[kuru],
di antara dua jenis aseksual, serta hermafrodit.
Disiplin (saṃvara) hadir juga di antara dewa,
namun hanya manusia yang memiliki lengkap tiga jenis.


Bagaimanakah pandangan Satyasiddha? Kita tahu bahwa pembagian saṃvara avijñapti telah direklasifikasi dalam Satyasiddhi Śāstra. Selama ini, menurut Vaibhāṣika, sekuat apa pun buah-pikir yang dibangkitkan oleh seorang non-Buddhis untuk melaksanakan moralitas, substansi yang terbentuk pada dirinya hanyalah naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik. Demikian pula halnya pada makhluk-makhluk gaib atau naga yang ingin mengambil Aturan Puasa Buddhis.

Menurut Bhadanta Harivarman, pengambilan segala jenis moralitas sepatutnya digolongkan menjadi satu di bawah Śīla saṃvara avijñapti. Non-Buddhis yang mengambil disiplinnya sendiri pun memperoleh Śīla Saṃvara. Apalagi makhluk-makhluk selain manusia yang sudi berlindung kepada Triratna dan mengambil disiplin Buddhis demi memasuki Jalan Pembebasan — apalah alasannya mereka tidak memperoleh Śīla Saṃvara yang bersifat Prātimokṣa (T. vol. 32, hlm. 303a):

問曰:餘道眾生得此戒律儀不?
Tanya: Makhluk-mahluk dari gati lain adakah memperoleh Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa)?

答曰:經中說,諸龍等亦能受一日戒。故知!應有。
Jawab: Di dalam sūtra disebutkan bahwa para naga dsb. juga sanggup menerima disiplin selama sehari. Maka dapat kita ketahui semestinya ada!

Jadi, Bhadanta Harivarman berpendapat jalur kelahiran mana pun bisa memiliki Prātimokṣa Saṃvara (minimal Lima dan Delapan Śīla) sebab perolehan saṃvara avijñapti berasal dari kesungguhan batin. Bahkan hewan, asalkan dapat mengerti ajaran Śīla Buddhis, akan memperolehnya jika bersungguh-sungguh mengambilnya. Begitu pula dengan manusia aseksual dan hermafrodit.

問曰:有人言:「不能男等無戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Aseksual (napuṃsaka, secara harfiah: ‘laki-laki impotén’) dsb. tidak memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:是戒律儀從心邊生。不能男等亦有善心,何故不得?
Jawab: Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa) timbul dari batin (citta). Aseksual dsb. pun dapat memiliki buah-pikir yang baik, mengapa tidak mereka memperolehnya?

問曰:何故不聽作比丘耶?
Tanya: Lantas mengapa mereka tidak diizinkan menjadi bhikṣu?

答曰:是人結使深厚,難得道故。又此人不在比丘中,亦不在比丘尼中,是故不聽。
Jawab: Simpul pembelenggu mereka teramat tebal sehingga sukar memperoleh Jalan (Kesucian). Pun mereka [nantinya] tidak tergolong di antara bhikṣu, juga tidak tergolong di antara bhikṣuṇī; oleh karenanya tidak diizinkan.

又彼中亦遮餘人,如:睞眼等。是人亦得此善律儀。
Pun dari antara saṅgha, orang-orang lainnya juga didiskualifikasikan, misalnya: yang bermata juling dll. [Namun,] orang-orang tersebut juga memperoleh Śīla Saṃvara ini.

Dalam Vinaya Piṭaka secara jelas memang telah disebutkan kriteria penghalang (antarāyika dharma) yang mendiskualifikasikan seseorang untuk diterima ke dalam saṅgha, antara lain: aseksual, hermafrodit, bermata juling, dll. Tentang tidak memungkinkannya aseksual dll. memperoleh disiplin monastik tidak diperdébatkan lagi. Namun, menurut Bhadanta Harivarman, mengapa tidak mereka memperoleh disiplin yang lebih rendah (Lima Śīla dan Delapan Śīla)?

Vasubandhu menukilkan petikan sebuah versi unik Mahānāma Sūtra yang dijadikan dasar oleh Vaibhāṣika bahwa aseksual dan hermafrodit tidak dapat memperoleh disiplin upāsaka:

佛告大名:「諸有在家白衣男子,男根成就,歸佛、法、僧,起殷淨心,發誠諦語,自稱:『我是鄔波索迦,願尊憶持!慈悲護念!』齊是名曰鄔波索迦。」
Buddha memberitahu Mahānāma: “Umat awam perumahtangga berjubah putih, pria, dengan organ reproduksi pria lengkap, yang berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha, yang membangkitkan keyakinan murni, menguncarkan pernyataan tulus, dan berseru: ‘Aku adalah seorang upāsaka; kiranya Bhadanta mengingat dan memegang [pernyataan ini]! Demi belas-kasihan perhatikanlah aku!’ — semuanya dinamakan upāsaka (yataśca, Mahānāma, gr̥hī avadātavasanaḥ puruṣaḥ puruṣendriyeṇa samanvāgato Buddhaṃ śaraṇaṃ gacchati yāvadvācaṃ bhāṣate, ‘Upāsakaṃ māṃ dhāraya!’ — iyatā copāsako bhavati).”

Akan tetapi, klausa “pria, dengan organ reproduksi pria lengkap” tidak terjumpaï dalam dua versi Saṃyukta Āgama Tionghoa yang pernah kita posting sebelumnya ataupun dalam versi Pāli. Maka tidaklah pasti bahwa hanya pria saja yang dapat memperoleh disiplin upāsaka. Lagipula belum tentu bahwa orang-orang yang terlalu frigid atau terlalu berlibido takkan merasa perlu mengambil langkah latihan pantang berzinah. Jikalau mereka bersungguh-sungguh hendak memasuki Jalan Pembebasan, apalah yang akan memberatkan mereka untuk mengambilnya? Kalaupun mereka belum siap, maka mereka boleh mengambil empat langkah latihan lainnya dahulu sebab substansi disiplin upāsaka pun terbentuk meski diambil sebagian.

Pertentangan-Pertentangan antara Vaibhāṣika vs Satyasiddha mengenaï Śīla

Silsilah penahbisan bhikṣu-bhikṣuṇī Sarvāstivāda pernah hidup di Cina dan, dengan demikian, terdapatlah mereka yang mengikuti tafsir Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440) serta lebih condong kepada pandangan Vaibhāṣika.

Di sisi lain, para proponen Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646) sempat mendirikan sebuah sekolah indépénden Ch’êng-shih tsung 成實宗 walau usianya pendek dan tidak bertahan lama. Pandangan-pandangan mereka tentang Śīla — secara umum bersesuaian dengan Sautrāntika — belakangan banyak diadopsi Sekolah Vinaya dari silsilah Dharmaguptaka. Perbedaannya yang terutama dengan Sautrāntika adalah mengenaï hakikat substansi Śīla: Sautrāntika menolak sama sekali konsep avijñapti, sementara Satyasiddha menerimanya sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra.

Karena minimnya literatur Sautrāntika yang masih lestari, maka kita hanya dapat menjadikan Satyasiddhi Śāstra, yang tersedia terjemahan Tionghoanya, sebagai bahan pembanding. Pertentangan-pertentangan antara mereka yang pro kepada Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (Ⓥ) dengan yang pro kepada Satyasiddhi Śāstra (Ⓢ) direkapitulasikan pada poin-poin di bawah ini:

  1. Sasaran Penerima 對趣
  2. Ⓥ:餘道眾生不得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

    Ⓢ:餘道眾生得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.

  3. Gradualitas 漸頓
  4. Ⓥ:不具受不得戒。

      Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

    Ⓢ:不具受得戒。

      Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.

  5. Durasi 延促
  6. Ⓥ:五戒必盡形,八必一日夜。

      Lima Śīla harus seumur hidup, Delapan Śīla harus sehari semalam.

    Ⓢ:延促任意,皆得。

      Panjang atau pendek sekehendak pikiran, semuanya dapat.

  7. Komprehensi atas Anggota 具支
  8. Ⓥ:但發四支。

      Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

    Ⓢ:皆發七支

      Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.

  9. Swa-komitmen 自誓
  10. Ⓥ:定從他受。

      Wajib mengambil dari orang lain (seorang guru).

    Ⓢ:開自誓受。

      Didispensasikan mengambil dengan berkomitmen sendiri.

  11. Re-akseptansi 重受
  12. Ⓥ:不重受。

      Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

    Ⓢ:開重受。

      Didispensasikan menerima-ulang.

Senin, 23 Juli 2018

KĀLAPARYANTA ŚĪLA vs ĀPRĀṆAKOṬIKA ŚĪLA

Klasifikasi śīla yang akan kita bahas terakhir adalah pengelompokan berdasarkan jangka waktunya (kālapariccheda). Dalam bab II Vimuktimārga 《解脫道論》 (T. vol. 32, № 1648 hlm. 401c) disebutkan:

復次!戒有二種,
Selanjutnya lagi, śīla ada dua jenis

謂:
yaïtu:
時分戒 及  śīla berjangka waktu terbatas (kālaparyanta), dan
盡形戒。   śīla selama hayat dikandung badan (āprāṇakoṭika).
少時暫受,不俱形命,謂時分戒。
Yang diterima sementara untuk waktu pendek, bukan untuk seumur hidup, disebut śīla berjangka waktu terbatas.

從師始誓,乃至捨壽,謂盡形戒。
Yang dimulaï dengan berkomitmen dari seorang guru, hingga akhir hayat, disebut śīla selama hayat dikandung badan.

Ini sama dengan penggolongan śīla untuk waktu lama (cirakāla) vs. tidak untuk waktu lama (acirakāla) seperti yang pernah dibahas dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra. Akan tetapi, śīla-śīla manakah yang boleh diterima untuk sementara dan mana yang tidak?






Dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 890c) Dharmatrāta mengatakan:

謂受律儀戒,盡壽或日夜者,受別解脫律儀有二種:
“Bahwa menerima disiplin (saṃvara) ialah seumur hidup atau sehari semalam”, maksudnya adalah penerimaan Prātimokṣa Saṃvara ada dua jenis:

 ◎ 或盡壽者,謂七眾。
Untuk seumur hidup (yāvajjīva), yakni [penerimaan disiplin] ketujuh kelompok.

(七眾者:比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷。)
(Ketujuh kelompok: bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā.)

 ◎ 日夜者,謂受齋。
Untuk sehari semalam (ahorātra), yakni menerima upavāsa.

(有二種時分齋:日夜 及 盡壽。)
(Ada dua jangka waktu upavāsa: sehari semalam dan seumur hidup.)

問:不律儀復云何?
Tanya: Bagaimana pula dengan kontra-disiplin (asaṃvara)?

答:不律儀盡壽,謂不律儀盡形壽,非日夜。
Jawab: “Kontra-disiplin (asaṃvara) seumur hidup”, berarti kontra-disiplin [berlaku] untuk seumur hidup, tidak pernah sehari semalam.

問:以何等故律儀得日夜,非不律儀?
Tanya: Apakah sebabnya disiplin ada yang sehari semalam, tetapi kontra-disiplin tiada?

答:彼無受性故;無有言:「我日夜受不律儀」者,以可羞厭故。善律儀有受性,可欣慶故。
Jawab: Karena kontra-disiplin tidak memiliki sifat pengambilan (samādāna); tidak ada orang yang [terang-terangan] berikrar: “Selama sehari semalam aku akan mengambil asaṃvara”, sebab hal itu memalukan. Saṃvara memiliki sifat pengambilan sebab hal itu membanggakan.

Bhadanta Harivarman, dalam karyanya Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303b) yang diterima luas di Cina, juga mengatakan hal yang sama:

問曰:是戒律儀二種:一、盡形;二、一日一夜。盡形者,若比丘、優婆塞。一日一夜者,如受八戒。一日一夜,是事云何?
Tanya: Śīla Saṃvara ada dua jenis: 1. untuk seumur hidup; 2. untuk sehari semalam. Untuk seumur hidup, misalnya: [disiplin] bhikṣu dan [disiplin] upāsaka. Untuk sehari semalam, misalnya: menerima Delapan Śīla. Untuk sehari semalam sebenarnya bagaimanakah halnya?

答曰:是事無定:若一日一夜,若但一日、或但一夜,若半日、或半夜——隨能受時,得。出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
Jawab: Halnya tidak pasti: entah sehari semalam, entah hanya sehari atau hanya semalam, entah setengah hari atau setengah malam — sesuai jangka kesanggupan menerima, [disiplin ini] didapatkan. [Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Dari sini jelaslah bahwa substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Disiplin Prātimokṣa merupakan disiplin yang bersifat permanen (nitya śīla) dan tidak dapat diperoleh untuk sementara waktu saja. Maka acara-acara “pravrajyā sementara” — kebaruan yang diimpor dari tradisi asing dan tidak pernah terjumpaï sepanjang sejarah Buddhisme Tiongkok — seperti yang diselenggarakan oleh beberapa vihāra modern, merupakan praktik yang invalid dan ilegal. Invalid sebab pesertanya tidak memperoleh substansi disiplin śrāmaṇera walaupun mereka mengikuti ritual penahbisan. Ilegal sebab guru penahbisnya tetap memberikan Śīla walaupun tahu bahwa pesertanya tidak sungguh-sungguh berniat meninggalkan rumah-tangga.

Kita tahu bahwa ada tiga tipe avijñapti: yang berkenaan dengan disiplin (saṃvara); yang berkenaan dengan kontra-disiplin (asaṃvara); dan yang berkenaan bukan dengan disiplin, bukan pula dengan kontra-disiplin (naivasaṃvara-nāsaṃvara). Hanya perbuatan yang disertai kehendak (cetanā) yang kuat yang akan membentuk dua tipe avijñapti pertama. Kontra-disiplin merupakan “disiplin” dalam bentuk negatif dan seringkali berkenaan dengan profesi-profesi yang buruk, seperti: penjagal, pemburu, pelacur, dsb. Seseorang harus memiliki kehendak atau niat yang kuat untuk, misalnya, berburu hewan liar setiap hari sebagai mata pencaharian agar dapat disebut berprofesi sebagai pemburu. Jikalau ia berburu sekali-sekali atau cuma sekadar hobi, maka ia hanya disebut pemburu amatir dan bukan profesional. Substansi “disiplin” pemburu tidak terbentuk dalam dirinya.

Hal yang sama berlaku pula pada orang yang membuat persepakatan menjadi bhikṣu (atau śrāmaṇera) untuk dua minggu, satu bulan, dsb. Substansi disiplin seorang bhikṣu sesungguhnya tidak terbentuk dalam dirinya; ia bukan berprofesi sebagai bhikṣu. Seseorang boleh saja setelah menjadi bhikṣu, lalu melepas disiplin (lepas jubah) karena tidak kuat dengan kehidupan membiara. Namun, saat menerima upasaṃpadā, sejak semula ia harus sunggguh-sungguh bertekad menjalani kebhikṣuan untuk seumur hidup, dan bukan membuat persepakatan cuma untuk sementara saja! Apakah kelak ia akan lepas jubah atau tidak, itu merupakan lain perkara yang tidak dapat direncanakan sebelumnya di muka.

Di Cina orang pertama yang melontarkan pernyataan bolehnya menerima Lima Śīla untuk sementara waktu tampaknya adalah Vimalākṣa dalam rekaman ceramahnya yang kontroversial, Kitab Lima Ratus Pertanyaan. Meskipun dalam penafsiran vinaya ia tergolong konservatif, namun kadangkala ia menerima beberapa pandangan Sautrāntika seperti: boleh menerima Tiga Perlindungan saja tanpa Lima Śīla, dan boleh menerima satu atau beberapa śīla (tidak lengkap lima). Akan tetapi, pandangan pribadinya mengenaï penerimaan Lima Śīla (bahkan juga Tiga Perlindungan︕) untuk sementara saja adalah lemah dasarnya.

Rabu, 22 Februari 2017

Mereka yang Memiliki Disiplin, Jasa Kebajikannya akan Berkembang Hari demi Hari

Syair terkenal “ārāmaropā vanaropā” seringkali digunakan untuk menjelaskan konsep avijñapti. Ketika seseorang mendermakan ārāma atau benda permanen lainnya kepada saṅgha, avijñapti yang terbentuk akan bertahan hingga benda tersebut habis masa pakainya atau rusak. Begitu pula pada seseorang yang mengambil disiplin, substansi disiplinnya (saṃvara avijñapti) akan bertahan hingga akhir hayatnya atau sampai ia melepas disiplin itu.

Substansi disiplin akan menjadi daya pendorong yang senantiasa mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, sehingga seseorang dimampukan untuk menjadi pemegang Śīla. Karena senantiasa memegang Śīla, jasa kebajikan seseorang yang memiliki substansi disiplin akan berkembang terus-menerus. Ini berbeda dengan seseorang tanpa disiplin yang, misalnya, menghentikan upaya pembunuhan sebab tiba-tiba merasa iba. Karena tidak berada di bawah disiplin, jasa yang ditimbulkannya hanya terjadi setempo-tempo secara kebetulan.




Petikan dari bab XCVI Satyasiddhi Śāstra 《成實論·無作品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 290a–b) berikut dapat memperjelas:

問曰:何法名無作?
Tanya: Dharma apakah yang dinamakan avijñapti?

答曰:因心生罪福,睡眠悶等,是時常生——是名無作。如經中說:
Jawab: Yang muncul karena [korelasinya dengan] batin pada saat melakukan dosa ataupun jasa, dan senantiasa hadir baik di saat tidur ataupun tidak sadar — itulah yang dinamakan avijñapti. Seperti disebutkan di dalam sūtra:

「若種樹園林  造井橋梁等
 是人所為福  晝夜常增長」

“Entah menanami taman dan hutan dengan pepohonan,
atau membuat sumur, jembatan penyeberang dsb.
— jasa yang dilakukan orang tersebut
akan senantiasa berkembang siang dan malam.”

(Bandingkan sutra ke-3 dari varga XXXV Ekottara Āgama.)

問曰:有人言:「作業現可見,若布施、禮拜、殺害等;是應有。無作業不可見,故無。」應明此義!
Tanya: Ada orang berkata: “Vijñapti karma tertampak dan dapat dilihat seperti berderma, melakukan penyembahan, membunuh dsb. Oleh karena itu, pastilah ia ada. Avijñapti karma tidak dapat dilihat, karenanya tiada.” Coba terangkan maknanya!

答曰:若無無作,則無離殺等法。
Jawab: Jika avijñapti tiada, maka tiadalah dharma “penghindaran pembunuhan” (prāṇātipāta virati) dsb.

問曰:離名不作,不作則無法。如人不語時,無不語法生;如不見色時,亦無不見法。
Tanya: Istilah penghindaran (virati) berarti “tak-berbuat”, tidak berbuat maka tiada dharma apa-apa. Misalnya: saat seseorang tidak berbicara, tiada dharma “tak-berbicara” yang muncul; saat seseorang tidak melihat rupa, juga tiada dharma “tak-melihat”.

答曰:因離殺等,得生天上。若無法,云何為因?
Jawab: Karena menghindari pembunuhan, seseorang dapat terlahir di surga. Jika tiada dharma apa pun, bagaimanakah yang menjadi sebab [kelahiran tersebut]?

問曰:不以離故生天,以善心故。
Tanya: Bukan karena penghindarannya ia terlahir di surga, tetapi karena buah-pikir baiknya.

答曰:不然。經中說:「精進人隨壽得福多。隨福多故,久受天樂。」若但善心,云何能有多福?是人不能常有善心故。
Jawab: Bukan begitu. Di dalam sūtra disebutkan: “Orang yang bertekun [cuma untuk sesaat saja], seturut makin panjang usianya, memperoleh makin banyak jasa. Karena makin banyak jasa, makin lama pula ia menerima kebahagiaan di alam surga.” Jikalau hanya karena buah-pikir baik [sesaat], bagaimana bisa seseorang memiliki [semakin] banyak jasa? Sebab orang tersebut tidak bisa senantiasa memiliki buah-pikir yang baik.

又說:「種樹等福德,晝夜常增長。」又說:「持戒堅固……。」若無無作,云何當說福常增長及堅持戒?
Juga disebutkan: “Jasa kebajikan dari menanam pepohonan dsb. akan senantiasa berkembang siang dan malam.” Juga disebutkan: “Memegang Śīla dengan teguh ….” Jika avijñapti tiada, bagaimanakah dapat dikatakan jasa senantiasa berkembang dan Śīla dipegang teguh?

又非作即是殺生,作次第殺生法生,然後得殺罪。如教人殺,隨殺時,教者得殺罪。故知有無作。
Juga bukan berarti bertindak sama dengan membunuh — setelah bertindak [sendiri], baru muncul dharma “pembunuhan” sehingga memperoleh dosa pembunuhan. Misalnya: saat menyuruh orang lain membunuh, seturut terjadinya pembunuhan, si penyuruh pun memperoleh dosa pembunuhan. Maka dapat kita ketahui bahwa avijñapti itu ada.

又意無戒律儀。所以者何?若人在不善、無記心、若無心,亦名持戒。故知!爾時有無作。不善律儀亦如是。
Juga tiada Śīla Saṃvara [yang diatur] pikiran. Mengapa demikian? Sebab ketika batin seseorang berada dalam keadaan tidak baik (akuśala), netral (avyakr̥ta), atau tidak sadar (acittaka), ia tetap disebut memegang disiplin. Oleh karena itu, ketahuilah bahwa pada saat itu terdapat avijñapti! Demikian pula halnya untuk kontra-disiplin (asaṃvara).

Senin, 20 Februari 2017

Menjadi Baik Tidak Sama dengan Memiliki Śīla

問:一切善作,盡是戒否?
Tanya: Segala tindakan baik apakah semuanya merupakan Śīla?

答:律儀所攝善作名戒。自餘十業,但單稱善,不名為戒。
Jawab: Tindakan baik yang tercakup di bawah disiplin sajalah yang dinamakan Śīla. Sepuluh perbuatan (daśa kuśala karma) di luar itu hanya disebut sebagai kebaikan, bukan dinamakan Śīla.

—— Lü-tsung hui-yüan 《律宗會元》
(Zokuzōkyō vol. 60, № 1110 hlm. 40c),
dirangkum oleh Bhikṣu Shou-i 守一比丘 (Sung)


Banyak orang di dunia yang tidak pernah membuat komitmen tertentu untuk berpantang, dan mereka tetap tidak melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dsb. Dalam kacamata Buddhis, ada sepuluh jalan (patha) untuk melakukan perbuatan jahat (akuśala karma): tiga melalui jasmani, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran. Penghindaran dari segala kejahatan ini tentu saja digolongkan sebagai kebaikan. Akan tetapi, itu cuma kebaikan, yang dilakukan berdasarkan dorongan naluri, dan bukan merupakan disiplin karena terikat komitmen.

Dari kesepuluh jalan perbuatan jahat, Prātimokṣa Saṃvara hanya mengatur penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hīnayāna yang menganggap tindakan pikiran belum merupakan karma yang sebenarnya (lihat di sini). Tiga kejahatan pikiran hanya merupakan “jalan karma” (karmapatha) sehingga jikalau seseorang yang mengambil Pratimokṣa Samvara melakukannya, ia tidak melanggar disiplin.

Berbeda halnya dengan Bodhisattva Saṃvara di mana penghindaran kejahatan pikiran juga diatur sebagai bagian dari disiplin. Jika seseorang yang sudah mengambil Bodhisattva Saṃvara (misalnya berdasarkan Mahāyāna Brahmajāla Sūtra 《梵網經》, T. № 1484) menyimpan dendam dalam pikirannya — hanya berpikir, dan tidak diekspresikan melalui tindakan ucapan atau jasmani — ia sudah melakukan salah satu pelanggaran berat. Oleh karena itu, disiplin bodhisattva lebih sulit pelaksanaannya.

Tiga langkah latihan pertama dari Pañca Śīla Buddhis bunyinya sama dengan penghindaran tiga kejahatan jasmani. Sedangkan mengenaï langkah latihan keempat, ada perbedaan penafsiran. Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa langkah latihan keempat hanya berkenaan dengan penghindaran dari kedustaan. Menurut sistém Satyasiddhi, langkah latihan keempat mencakup pula penghindaran tiga kejahatan ucapan lainnya.


Agar lebih jelas, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 54b) Vinayācārya Tao-hsüan membuat empat kombinasi:

1.  KEBAIKAN NAMUN BUKAN DISIPLIN 善而非戒
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penghindaran tiga kejahatan pikiran hanya merupakan kebaikan dan bukan bagian disiplin Prātimokṣa. Bagi orang-orang di dunia yang memang tidak pernah mengikatkan diri dengan disiplin apa pun, bahkan penghindaran kesepuluh kejahatan hanya kebaikan semata dan bukan disiplin.

Hal-hal lain seperti berderma, melakukan meditasi, dsb. juga merupakan kebaikan, tetapi tidak berkaitan dengan norma moralitas. Disiplin Prātimokṣa tidak mengaturnya. (Akan tetapi, bisa saja merupakan bagian dari disiplin non-Buddhis yang, misalnya, menetapkan pengikutnya berdosa apabila tidak berderma untuk menyucikan harta.)

2.  DISIPLIN NAMUN BUKAN KEBAIKAN 戒而不善
Ini terjadi ketika seseorang mengambil “Śīla” yang negatif (asaṃvara — lihat pembahasan sebelumnya). Istilah “Śīla” kurang sesuai di sini karena asaṃvara justru berkaitan dengan kedursilaan. Komitmen seseorang untuk menjalankan profesi sebagai tukang jagal, misalnya, merupakan sebuah disiplin, namun bukan kebaikan.

Contoh lain disiplin yang bukan kebaikan misalnya disiplin non-Buddhis yang mengatur pengikutnya cara berpakaian tertentu, melaksanakan tapa-brata, dll.

3.  KEBAIKAN SEKALIGUS DISIPLIN 亦善亦戒
Penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara. Sedangkan penghindaran kesepuluh kejahatan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Bodhisattva Saṃvara.

Penghindaran seluruh dari sepuluh kejahatan bisa saja menjadi bagian dari disiplin non-Buddhis tergantung bagaimana ajaran mereka masing-masing.

4.  BUKAN KEBAIKAN JUGA BUKAN DISIPLIN 倶非
Bagi mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara, misalnya, melakukan perbuatan yang sifatnya netral (avyākr̥ta) melalui jasmani atau ucapan.

Rabu, 15 Februari 2017

Kriteria Disiplin

Terjemahan Guṇavarman untuk bait ke-25 surat terkenal Nāgārjuna, Su-hr̥l Lekha, berbunyi:

雖有色族及多聞  若無戒智猶禽獸
雖處醜賤少聞見  能修戒智名勝士

Meskipun seseorang itu rupawan, berbangsa tinggi, atau terpelajar,
jikalau ia tidak memiliki Śīla dan Jñāna,
maka samalah ia seperti binatang.
Walaupun terlihat buruk, hina, atau kurang terpelajar,
namun bila seseorang sanggup mengembangkan Śīla dan Jñāna,
maka ia dinamakan seorang pemenang.

—— Syair-Syair Esensi Dharma yang Disuratkan Bodhisattva Nāgārjuna untuk Raja Śātakarṇi
《龍樹菩薩為禪陀迦王說法要偈》
(T. vol. 32, № 1672 hlm. 746a)


Sebagai permisalan, kucing kesayangan yang kita pelihara mungkin tidak akan membunuh sepanjang kita memberinya makan dengan teratur setiap hari. Tetapi, suatu ketika, seandainya kita pergi dan lupa meninggalkan makanan untuknya, naluri berburunya bangkit kembali dan ia mulaï membunuh hewan-hewan kecil untuk dimangsa. Jadi, sepanjang kita memberinya makan dengan teratur, dapatkah kita mengatakan bahwa kucing kita menjaga Śīla pantang membunuh?

Contoh lain adalah seorang pejabat publik dapat tidak melakukan korupsi di sebuah instansi yang sistém pengendaliannya berjalan baik. Namun, seandainya terdapat celah, ia segera mengambil kesempatan sebab sifat dasarnya sebenarnya memang tidak jujur. Hanya karena tiadanya celah yang memungkinkan, apakah bisa dengan serta-merta kita mencapnya sebagai seorang yang bermoral? Bolehkah kita mengatakan bahwa pejabat tersebut telah melaksanakan Śīla pantang mencuri?

Untuk dapat disebut sebagai Śīla — atau lebih teknisnya: disiplin (saṃvara) — menurut Vinayācārya Yüan-chao, paling tidak harus ada dua unsur yang terpenuhi (lihat jilid 3-4 Chi-yüan chi 《濟緣記》, Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 252a):

戒有二義:
Sebab terdapat dua prinsip Śīla:
一、有本期誓;
1. Memiliki ikrar dan komitmen dasar;

二,徧該生境。
2. Memeluk ruang lingkup pembentuknya.

  1. Jadi, pembeda utama antara berdisiplin dengan tidak adalah adanya ikrar dan komitmen. Pernyataan ikrar dan komitmen akan menimbulkan apa yang disebut “substansi disiplin” (yakni: saṃvara avijñapti). Apakah non-Buddhis juga mungkin memiliki saṃvara avijñapti? Menurut Bhadanta Harivarman: ya, hanya saja sifatnya non-Prātimokṣa. Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303a) tertulis:

    問曰:諸外道等得此戒律儀耶?
    Tanya: Apakah non-Buddhis memperoleh Śīla Saṃvara?

    答曰:得。此人亦以深心,離諸惡故。戒師教言:「汝從今日不應起殺等罪。」
    Jawab: Memperoleh. Karena berkat [komitmen] yang mendalam, mereka juga meninggalkan berbagai kejahatan. Guru-guru pembimbing mereka (dalam cara yang hampir mirip dengan Buddhis) mengajari mereka: “Mulaï hari ini janganlah engkau menimbulkan dosa pembunuhan dsb.”

    Kucing peliharaan dan pejabat publik dalam contoh kita jelas tidak berada di bawah disiplin karena mereka memang tidak pernah berikrar/menyatakan komitmen untuk melaksanakan aturan tertentu.


  2. Selanjutnya, karena tiada substansi disiplin dalam diri mereka, andaikata kucing dan pejabat publik di atas membunuh atau mencuri, mereka tidak dinyatakan melanggar disiplin — walau di mata dunia mereka mungkin akan dicap tidak bermoral. Akan tetapi, norma moralitas yang berlaku di dunia kadangkala berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Misalnya: membunuh segala jenis hewan tidak apa-apa dalam kebanyakan masyarakat, namun membunuh manusia adalah berdosa. Komunitas lain menganggap hewan tertentu suci sehingga membunuhnya dipandang sebagai kejahatan besar. Maka suatu aturan harus memiliki kejelasan batasan untuk dapat dinamakan disiplin. Bagaimana seseorang dapat disebut melakukan pelanggaran jikalau batasan-batasan disiplinnya sendiri tidak jelas?

    Tidak cukup seseorang hanya mengucapkan ikrar untuk dapat disebut mengambil disiplin. Ia juga harus memahami dan memeluk ruang lingkup pembentuk disiplin itu; jika tidak, substansi disiplin tidak terbentuk. Dengan kata lain, seseorang harus bersedia menerima segala batasan yang diatur disiplinnya itu. Sewaktu berkomitmen mengambil disiplin Buddhis tidak membunuh makhluk hidup mana pun, umpamanya, ia tidak boleh melakukan pengecualian untuk membunuh kecoak karena semata-mata kecoak merupakan hewan yang ia benci. Dengan membuat pengecualian, berarti ia belum bersungguh-hati hendak mengambil disiplin tersebut.

    Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, ruang lingkup pembentuk disiplin Buddhis meliputi seluruh Dharmadhātu, baik objek hidup maupun objek tak-hidup, baik makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya). Disiplin pantang membunuh dan pantang berzinah hanya berkaitan dengan objek hidup. Disiplin pantang meminum minuman keras hanya berkaitan dengan objek tak-hidup. Disiplin pantang mencuri dan pantang berdusta berkaitan dengan objek hidup dan tak-hidup.

    Seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang membunuh bukan hanya tidak boleh membunuh manusia, tetapi juga hewan, dewa, asura, setan kelaparan, makhluk penghuni neraka, hingga mereka yang berada dalam antarabhāva. Pantangan ini mencakup ke sepuluh penjuru dan tiga masa. Para suci pun tercakup di dalamnya sebab janganlah nanti kita beranggapan bahwa tidak boleh membunuh mahluk biasa, tetapi tidak apa-apa membunuh seorang arhat atau bodhisattva.

    Demikian pula seorang Buddhis yang mengambil disiplin pantang mencuri tidak boleh mencuri segala sesuatu di seluruh dunia. Tanah, sungai, gunung, pepohonan, bunga, buah, daun, bahkan hingga sehelai rumput, sebatang jarum, atau sebutir debu pun tidak boleh sembarangan diambil jikalau ada pemiliknya.


Nagarjuna Suhrllekha

Kamis, 06 Agustus 2015

Jenis-Jenis Disiplin: Pratimokṣa Saṃvara, Dhyānaja Saṃvara, dan Anāsrava Saṃvara

Kita telah mengetahui bahwa avijñapti dibedakan menjadi tiga jenis, di mana salah satunya adalah saṃvara avijñapti, yang merupakan substansi Śīla yang tak termanifestasi. Pandangan-pandangan berbeda dari berbagai mazhab mengenaï substansi Śīla pun telah diuraikan. Sekarang kita akan meninjau saṃvara, yang dalam bahasa Cina ditafsirkan sebagai 律儀 ‘disiplin’, 禁戒 ‘aturan-pantangan’, atau 護 ‘penjaga’.

Penerjemah I-tsing, dalam Mūlasarvāstivāda Ekaśatakarman 《根本說一切有部百一羯磨》 (T. vol. 24, № 1453 hlm. 455c), memberikan catatan untuk kata majemuk lü-i-hu 律儀護 (‘penjaga disipliner’) yang ia gunakan:

此言【護】者,梵云「三跋羅」,譯為擁護。由受歸戒護,使不落三塗。
Istilah hu di sini bahasa Sanskertanya ialah saṃvara, yang terjemahan harfiahnya ‘menjaga/ mengekang’. Penjagaan Śīla yang berasal dari penerimaan [Tiga] Perlindungan akan mencegah kita agar tidak terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.

舊云【律儀】,乃當義譯,云是律法儀式。若但云【護】,恐學者未詳,故兩俱存。
Istilah lama lü-i merupakan terjemahan bebas sesuai makna teknisnya, yakni ‘tatatertib hukum perundangan’. Apabila hanya diterjemahkan sebagai hu, saya khawatir orang yang mempelajari [tulisan saya] tak dapat menangkapnya. Oleh karena itu, kedua istilah ini saya pertahankan.

《明了論》已譯為【護】,即是戒體無表色也。
Dalam Ming-liao lun (judul sebuah śāstra terjemahan Paramārtha yang membahas vinaya mazhab Saṃmitīya, T. № 1461) istilah hu [sebenarnya] telah digunakan juga untuk merujuk avijñapti-rūpa, yakni substansi Śīla yang tak termanifestasi.


Pada posting terdahulu, yang kita bahas secara garis besar sebenarnya hanya menyinggung tipe pertama dari tiga tipe saṃvara avijñapti. Adapun ketiga tipe saṃvara avijñapti tersebut adalah:


———————————————————————————
1.1 PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 別解脫律儀
———————————————————————————

Dalam bahasa Cina kata prātimokṣa ditafsirkan sebagai 別解脫 ‘pembebasan khusus’. PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ adalah tipe disiplin khusus yang dapat membebaskan dari kekotoran batin dan karma buruk, yang berbeda dengan dua jenis disiplin yang akan diterangkan selanjutnya di bawah (ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ). PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ meliputi disiplin untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: disiplin bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, dan upāsikā (kadang-kadang disiplin pelaksana upavāsa [upavāsastha] ditambahkan sebagai yang kedelapan).

Prātimokṣa juga ditafsirkan sebagai 處處解脫 ‘pembebasan segi demi segi’ karena mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan jasmani dan ucapan, khususnya yang dilakukan melalui masing-masing dari ketujuh jalan-karma. (Tentang karmapatha lihat di sini.) Dengan memegang satu śīla, akan diperolehlah kebebasan dalam satu segi. Dengan memegang lengkap semua śīla, akan diperolehlah kebebasan lengkap dalam semua segi.

Prātimokṣa pada akhirnya bukan hanya membawa pembebasan dalam hal yang terkondisi (saṃskr̥ta) saja, melainkan juga Buah Kebebasan yang tak terkondisi (asaṃskr̥ta). Maka tafsiran lain untuk prātimokṣa ialah 隨順解脫 ‘pengarah Pembebasan’. Dalam Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 (T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a) dikatakan:

戒是正順解脫之本,故名「波羅提木叉」。
Śīla adalah dasar yang tepat untuk menuju (prāti) ke arah Pembebasan (mokṣa). Oleh sebab itu, maka disebut prātimokṣa.

Āᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi (kāmāvacara). Disiplin ini diterima berkat penunjukan orang lain (paravijñapana 由他教), yakni dari saṅgha atau dari seorang guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid, melalui upacara transmisi secara formal.

Avijñapti yang terbentuk akan tetap tinggal saat seseorang memiliki batin yang berbeda (anyacitta 異心) atupun saat tidak sadar (acittaka 無心). Jadi, walaupun seseorang memiliki buah-pikir jahat atau netral, disiplinnya tidak serta-merta menjadi rontok. Begitu pula saat ia tidak sadar, misalnya sewaktu tidur atau pingsan, ia tidak kehilangan disiplinnya. Avijñapti tersebut akan berlangsung seumur hidupnya (khusus untuk disiplin upavāsastha: sehari-semalam) atau sampai ia melepas Śīla.


———————————————————————————
1.2 DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 靜慮律儀
———————————————————————————

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya konsentrasi meditasi 定共戒.

Sementara ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi, ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang berkenaan dengan Ranah Dhyāna Bermateri (rūpāvacara). Dhyāna Bermateri dapat dibagi menjadi empat tingkatan Dhyāna Pokok (mauladhyāna 根本靜慮). Masing-masing tingkatan didahului oleh sebuah konsentrasi Pendekatan (sāmantaka 近分) yang menjadi tetangganya. Selain itu, terdapat “dhyāna kelima” di antara Dhyāna I dengan II (dhyānāntara 靜慮中間) di mana vitarka telah ditanggalkan, namun vicāra masih ada. Jadi, secara rinci ada sembilan jenjang Dhyāna Bermateri.

DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ timbul dalam pencapaian keempat Dhyāna Pokok (samāpatti), keempat konsentrasi Pendekatan, maupun Dhyānāntara. Seseorang dengan buah-pikir baik — tetapi masih bersifat duniawi/disertaï kebocoran (sāsrava)¹ — yang memasuki, minimal, konsentrasi Pendekatan pra-Dhyāna I (disebut anāgamya 未至), dapat memiliki disiplin ini. Avijñapti yang terbentuk berkat meditasinya akan mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.

Berbeda dengan ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang tidak hilang karena perubahan (saat buah-pikir pemiliknya menjadi jahat/netral, atau saat tidak sadar), ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sangat terpengaruh oleh keadaan batin (cittānuvartin 隨心轉). DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ akan hilang saat pemiliknya terjatuh dari konsentrasinya atau, khusus dewa-dewa di Rūpadhātu, saat mengalami kematian dan terlahir kembali di alam surga yang lebih rendah/lebih tinggi.


——————————————————————————— 
1.3 AɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀
——————————————————————————— 

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya tingkat-tingkat kesucian 道共戒.

Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dimiliki oleh para ārya-pudgala, baik yang masih harus berlatih (śaikṣa) maupun yang tidak perlu berlatih lagi (aśaikṣa). Disiplin ini diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri — dalam keempat Mauladhyāna, Dhyānāntara, ataupun Anāgamya — oleh mereka dengan buah-pikir bebas-kebocoran (anāsravacitta), yakni buah-pikir yang membentuk Jalan. Seseorang yang, minimal, mencapai Jalan Penglihatan (darśana mārga 見道) dan merealisasi pengetahuan langsung tentang Empat Kebenaran Mulia untuk pertama kalinya, akan memiliki disiplin ini sebagai srotāpatti-pratipannaka.

Sebagaimana ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang sangat terpengaruh oleh keadaan batin, ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ juga akan hilang saat pemiliknya merealisasi Buah dari Jalan yang selama ini ia arah (misalnya: dari Srotāpatti-pratipanna lalu merealisasi Srotāpatti-phala) atau, masih dalam tingkatan yang sama, saat terjadi penyempurnaan indera dari lemah menjadi tajam (misalnya: seorang srotāpatti-pratipannaka beralih dari śraddhānusārin menjadi dharmānusārin). Disipin ini juga akan hilang jika pemiliknya, sebaliknya, terjatuh dari konsentrasi bebas-kebocoran.

Di alam manusia seseorang dapat memiliki ketiga tipe disiplin. Sedangkan di surga-surga Alam Nafsu Inderawi dan Alam Dhyāna Bermateri terdapat dua jenis disiplin: ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ. Di Alam Dhyāna Tanpa-materi disiplin tidak hadir².






CATATAN:

¹ Demikian menurut Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558). Pada penjelasan untuk bait 18 dari bab IV (hlm. 73b), Vasubandhu menggolongkan semua disiplin yang diperoleh dalam Anāgamya maupun Mauladhyāna sebagai ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ bila masih disertaï kebocoran, dan sebagai ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ bila bebas-kebocoran.

Akan tetapi, Dharmatrāta, dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 891c) karyanya, memberikan definisi yang berbeda. DʜʏĀɴᴀᴊᴀ hanya mencakup semua disiplin yang diperoleh dalam Mauladhyāna, entah yang disertaï kebocoran ataupun bebas-kebocoran. Sedangkan yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara, bila masih disertaï kebocoran, tidak digolongkan sebagai disiplin. Dengan kata lain, substansi moralitas yang terbentuk bukanlah saṃvara avijñapti, melainkan naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti.

Untuk lebih jelasnya, hal ini dinyatakan dalam empat kombinasi:

a.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀非無漏者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
b.  Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀非禪者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.
c.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sekaligus ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 亦禪無漏律儀者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
d.  Bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ bukan pula ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 非禪無漏律儀者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.

² Karena disiplin (saṃvara) merupakan sebuah tipe avijñapti; sedangkan avijñapti sendiri digolongkan sebagai materi (rūpa) dalam Abhidharma. Menurut kaum Vaibhāṣika, ārya-pudgala yang terlahir di Ārūpyadhātu mempunyaï pemilikan (samanvāgama) atas disiplin, tetapi hanya berupa potensi, karena disiplin tidak maujud (na saṃmukhībhāva) di sana.

Pendapat berbeda dipegang oleh Bhadanta Harivarman dalam Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646). Dalam sistém Satyasiddhi, karena avijñapti digolongkan sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra, yang bukan merupakan materi ataupun batin, maka avijñapti hadir pula di Ārūpyadhātu. Jadi, dewa-dewa di sana pun memiliki saṃvara. Lebih lanjut, Harivarman melakukan re-klasifikasi atas saṃvara avijñapti (lihat bab CXII, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 七善律儀品) menjadi:

a.  Śīʟᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 戒律儀
Meliputi segala disiplin yang terbentuk berkat paravijñapana, baik bagi kalangan Buddhis maupun non-Buddhis. Dalam sistém Abhidharma selama ini, sebagai lawan kontra-disiplin (asaṃvara), pengadopsian moralitas digolongkan ke dalam sebuah tipe saṃvara avijñapti, yaïtu ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ. Akan tetapi, hanya moralitas Buddhislah yang dimasukkan ke sana. Seketat apa pun moralitas yang diadopsi oleh non-Buddhis, avijñapti yang terbentuk hanya digolongkan sebagai naivasaṃvara-nāsaṃvara. Padahal, mereka mungkin membangkitkan tekad dengan cara yang hampir mirip dengan Buddhis. Oleh sebab itu, sepatutnyalah tipe saṃvara avijñapti ini diklasifikasi-ulang dan mencakup pula non-ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ.
b.  DʜʏĀɴᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀
Meliputi ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dalam klasifikasi Abhidharma. Kedua tipe disiplin ini pada hakikatnya adalah sama karena sama-sama diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri. Yang membedakannya hanyalah: yang satu disertaï kebocoran, yang lainnya bebas-kebocoran.
c.  SᴀᴍĀᴘᴀᴛᴛɪ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 定律儀
Merupakan disiplin yang timbul dalam pencapaian Dhyāna Tanpa-Materi (ārūpya samāpatti). Ini sudah diterangkan di atas: karena dalam sistém Satyasiddhi avijñapti merupakan sebuah citta-viprayukta saṃskāra sehingga saṃvara avijñapti pun terdapat di Ārūpyadhātu.

Penggolongan avijnapti dalam Abhidharma
Jenis-jenis avijñapti menurut sistém Vaibhāṣika


Penggolongan avijnapti dalam Satyasiddhi Sastra
Jenis-jenis avijñapti menurut Bhadanta Harivarman