Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label upasampada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label upasampada. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2022

Ber-śīla, tetapi Tidak Ber-Śīla

Sudah mengikuti upacara pengambilan Śīla tetapi, karena tidak yakin dan tidak mengerti, tidak memperoleh substansi Śīla. Selanjutnya berusaha menjalankan “śīla” semaksimal mungkin. Apakah hal ini ada gunanya?

Kita ambil saja contoh orang yang dituntut tradisi negaranya, lalu mengikuti upasaṃpadā untuk menjadi bhikṣu sementara — padahal, seperti pembahasan kita terdahulu, substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Walau didasari ketidakmengertian, ia kemudian tetap menjaga segala aturan layaknya seorang bhikṣu. Ia mungkin juga akan makan sehari sekali, hanya mengenakan tiga lembar kain sebagai jubah, tidur dalam posisi duduk, hidup fakir tanpa uang, berjalan kaki ke mana-mana tanpa sepatu, dsb.

Ketatnya pelaksanaan “śīla” tersebut, sayangnya, tidak kondusif membawa Kesucian. Menyambung kutipan kita sebelumnya (lihat di sini dan di sini), dalam Mahāprajñāpāramitā Upadeśa Bodhisattva Nᴀ̄ɢᴀ̄ʀᴊᴜɴᴀ mempersamakan saja praktik-praktik tersebut dengan pertapaan keras (duṣkara caryā) para tīrthika:

若人棄捨此戒,雖山居苦行,食果服藥,與禽獸無異。
Jika seseorang membuang Śīla ini, kendati bermukim di gunung menjalankan praktik pertapaan keras, hanya memakan buah-buahan dan mengonsumsi jamu-jamuan, ia tidaklah berbeda dengan unggas atau binatang.

或有人但服水為戒,或服乳,或服氣;
Ada orang yang hanya minum air sebagai disiplinnya, atau minum susu, atau makan angin;

或剃髮,或長髮,或頂上留少許髮;
ada yang mencukur rambut, atau memanjangkan rambut, atau meninggalkan sedikit kuncung di puncak kepala;

或著袈裟,或著白衣,或著草衣,或木皮衣;
ada yang mengenakan jubah kaṣāya, atau mengenakan jubah putih, atau mengenakan jubah rumput, atau mengenakan jubah kulit kayu;

或冬入水,或夏火炙;
ada yang di musim dingin berendam air, atau di musim panas berpanggang api;

若自墜高巖,若於恒河中洗;
ada yang menjatuhkan diri dari tebing tinggi, atau berbasuh di Sungai Gaṅgā;

若日三浴,再供養火,種種祠祀,種種呪願。
ada yang sehari mandi tiga kali, lagi memuja api dengan berjenis-jenis pengurbanan, dengan berjenis-jenis mantra.

受行苦行,以無此戒,空無所得。
[Walau] mengambil dan menjalankan praktik pertapaan keras, namun karena tidak memiliki Śīla ini, kosonglah tiada yang diperoleh.

若有人雖處高堂大殿,好衣美食,而能行此戒者,得生好處 及 得道果。
Jika ada orang yang meski tinggal di mansiun tinggi atau astana agung, berpakaian bagus atau bermakanan lezat, namun mampu melaksanakan Śīla ini, dapatlah ia terlahir di tempat yang baik dan memperoleh Jalan & Buah.

若貴若賤、若小若大,能行此淨戒,皆得大利。
Entah kaya entah miskin, entah besar entah kecil, jikalau mampu melaksanakan Śīla murni ini, semuanya akan mendapat keuntungan besar.

Pemeo populer mengatakan sia-sia “bertekun mengembangkan praktik pertapaan keras, namun bukan [menjadi] sebab Nirvāṇa” (勤修苦行,非涅槃因), dan tampaknya muncul pertama kali dalam tulisan-tulisan patriark kesembilan T’ien-t’ai, Cʜᴀɴ-ᴊᴀɴ alias Mɪᴀᴏ-ʟᴏ. Apa sajakah yang bukan menjadi sebab Nirvāṇa? Dalam bab XXVI Lalitavistara 《方廣大莊嚴經》 (T. vol. 3, № 187 hlm. 607b), pada khotbah pertama-Nya di Taman Rusa, Buddha menyebutkan:

一者、心著欲境而不能離——是下劣人·無識凡愚·非聖所行,不應道理,非解脫因,非離欲因,非神通因,非成佛因,非涅槃因。
1. Melekatkan batin pada objek nafsu dan tak mampu tercerai — itu dijalani oleh mereka yang hina, makhluk biasa bodoh yang tak berpengetahuan, bukan orang suci; tidak bersesuaian dengan prinsip Jalan; bukan sebab Kebebasan; bukan sebab keceraian dari nafsu; bukan sebab penembusan spiritual; bukan sebab pencapaian Kebuddhaan; bukan sebab Nirvāṇa.

Dan yang setara dengan hal itu:

二者、不正思惟,自苦其身而求出離,過·現·未來 皆受苦報。
2. Tidak dengan pertimbangan tepat, menyiksa dirinya sendiri demi mencari pertolakan [dari saṃsāra] sehingga dahulu, sekarang, dan mendatang, di segala masa mereka menerima akibat penderitaan.


Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya berbunyi:

「善男子。有人勤求優婆塞戒,於無量世如聞而行,亦不得戒。有出家人求比丘戒、比丘尼戒,於無量世如聞而行,亦不能得。何以故?不能獲得解脫分法故;可名修戒,不名持戒。」
“Putra berbudi, ada orang yang dengan tekun mencari Śīla upāsaka, lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan Śīla. Ada pula pravrajita yang mencari Śīla bhikṣu atau Śīla bhikṣuṇī, lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan Śīla. Apakah sebabnya? Karena mereka tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan. Mereka boleh disebut ‘mengembangkan śīla’, tetapi tidak disebut ‘memegang Śīla’.”

Seseorang bisa saja melaksanakan moralitas serupa upāsaka Buddhis karena sebelumnya sudah pernah mendengar isinya, entah ia kemudian mencari Śīla (memohon Pañca Śīla) dari seorang guru atau tidak. Begitu pula seseorang bisa saja melaksanakan aturan yang lebih ketat serupa bhikṣu Buddhis karena sebelumnya sudah pernah mendengar isinya, entah ia kemudian mencari Śīla (memohon upasaṃpadā) atau pergi bertapa sendiri. Walaupun sudah memohon Śīla, karena ketidakmengertian, pelaksanaan “śīla” tersebut sia-sia belaka sebab ia tidak memperoleh bagian Pembebasan (substansi Śīla). Dalam kehidupan ini mustahillah ia dapat merealisasi Kebebasan.

Permisalan dalam kutipan ini bahkan terlalu bagus karena sangat langka orang yang tidak memperoleh bagian Pembebasan bisa bertemu kembali kesempatan untuk memohon Śīla berulang-ulang. Kebanyakannya, pelaksanaan “śīla” tersebut hanya menjadi karma baik duniawi yang segera berbuah habis di kehidupan berikut sebelum Kebebasan sempat terealisasi.

Bagi orang yang tidak mau belajar mengerti (tidak mau banyak mendengar), Candrapradīpa Samādhi 《月燈三昧經》 (lebih dikenal dengan judul Samādhirāja Sūtra, T. vol. 15, № 639 hlm. 558a) memperingatkan:

自恃持戒慢  而不學多聞
持戒報盡已  還復受諸苦

Seseorang yang sombong mengandalkan pemegangan Śīla sendiri,
namun tidak belajar banyak mendengar,
setelah akibat pemegangan Śīla tersebut berakhir,
akan kembalilah lagi ia menerima berbagai penderitaan.

Ini adalah peringatan bagi yang memang memiliki substansi Śīla, yang dijamin oleh Buddha realisasi Kebebasannya dalam kehidupan ini atau mendatang. Bahkan mereka pun harus memperhatikan hal ini; apalagi orang yang asal-asalan mengambil Śīla, yang tidak mau tahu apakah substansi Śīla terbentuk dalam dirinya atau tidak!

Senin, 23 Juli 2018

KĀLAPARYANTA ŚĪLA vs ĀPRĀṆAKOṬIKA ŚĪLA

Klasifikasi śīla yang akan kita bahas terakhir adalah pengelompokan berdasarkan jangka waktunya (kālapariccheda). Dalam bab II Vimuktimārga 《解脫道論》 (T. vol. 32, № 1648 hlm. 401c) disebutkan:

復次!戒有二種,
Selanjutnya lagi, śīla ada dua jenis

謂:
yaïtu:
時分戒 及  śīla berjangka waktu terbatas (kālaparyanta), dan
盡形戒。   śīla selama hayat dikandung badan (āprāṇakoṭika).
少時暫受,不俱形命,謂時分戒。
Yang diterima sementara untuk waktu pendek, bukan untuk seumur hidup, disebut śīla berjangka waktu terbatas.

從師始誓,乃至捨壽,謂盡形戒。
Yang dimulaï dengan berkomitmen dari seorang guru, hingga akhir hayat, disebut śīla selama hayat dikandung badan.

Ini sama dengan penggolongan śīla untuk waktu lama (cirakāla) vs. tidak untuk waktu lama (acirakāla) seperti yang pernah dibahas dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra. Akan tetapi, śīla-śīla manakah yang boleh diterima untuk sementara dan mana yang tidak?






Dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 890c) Dharmatrāta mengatakan:

謂受律儀戒,盡壽或日夜者,受別解脫律儀有二種:
“Bahwa menerima disiplin (saṃvara) ialah seumur hidup atau sehari semalam”, maksudnya adalah penerimaan Prātimokṣa Saṃvara ada dua jenis:

 ◎ 或盡壽者,謂七眾。
Untuk seumur hidup (yāvajjīva), yakni [penerimaan disiplin] ketujuh kelompok.

(七眾者:比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷。)
(Ketujuh kelompok: bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā.)

 ◎ 日夜者,謂受齋。
Untuk sehari semalam (ahorātra), yakni menerima upavāsa.

(有二種時分齋:日夜 及 盡壽。)
(Ada dua jangka waktu upavāsa: sehari semalam dan seumur hidup.)

問:不律儀復云何?
Tanya: Bagaimana pula dengan kontra-disiplin (asaṃvara)?

答:不律儀盡壽,謂不律儀盡形壽,非日夜。
Jawab: “Kontra-disiplin (asaṃvara) seumur hidup”, berarti kontra-disiplin [berlaku] untuk seumur hidup, tidak pernah sehari semalam.

問:以何等故律儀得日夜,非不律儀?
Tanya: Apakah sebabnya disiplin ada yang sehari semalam, tetapi kontra-disiplin tiada?

答:彼無受性故;無有言:「我日夜受不律儀」者,以可羞厭故。善律儀有受性,可欣慶故。
Jawab: Karena kontra-disiplin tidak memiliki sifat pengambilan (samādāna); tidak ada orang yang [terang-terangan] berikrar: “Selama sehari semalam aku akan mengambil asaṃvara”, sebab hal itu memalukan. Saṃvara memiliki sifat pengambilan sebab hal itu membanggakan.

Bhadanta Harivarman, dalam karyanya Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303b) yang diterima luas di Cina, juga mengatakan hal yang sama:

問曰:是戒律儀二種:一、盡形;二、一日一夜。盡形者,若比丘、優婆塞。一日一夜者,如受八戒。一日一夜,是事云何?
Tanya: Śīla Saṃvara ada dua jenis: 1. untuk seumur hidup; 2. untuk sehari semalam. Untuk seumur hidup, misalnya: [disiplin] bhikṣu dan [disiplin] upāsaka. Untuk sehari semalam, misalnya: menerima Delapan Śīla. Untuk sehari semalam sebenarnya bagaimanakah halnya?

答曰:是事無定:若一日一夜,若但一日、或但一夜,若半日、或半夜——隨能受時,得。出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
Jawab: Halnya tidak pasti: entah sehari semalam, entah hanya sehari atau hanya semalam, entah setengah hari atau setengah malam — sesuai jangka kesanggupan menerima, [disiplin ini] didapatkan. [Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Dari sini jelaslah bahwa substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Disiplin Prātimokṣa merupakan disiplin yang bersifat permanen (nitya śīla) dan tidak dapat diperoleh untuk sementara waktu saja. Maka acara-acara “pravrajyā sementara” — kebaruan yang diimpor dari tradisi asing dan tidak pernah terjumpaï sepanjang sejarah Buddhisme Tiongkok — seperti yang diselenggarakan oleh beberapa vihāra modern, merupakan praktik yang invalid dan ilegal. Invalid sebab pesertanya tidak memperoleh substansi disiplin śrāmaṇera walaupun mereka mengikuti ritual penahbisan. Ilegal sebab guru penahbisnya tetap memberikan Śīla walaupun tahu bahwa pesertanya tidak sungguh-sungguh berniat meninggalkan rumah-tangga.

Kita tahu bahwa ada tiga tipe avijñapti: yang berkenaan dengan disiplin (saṃvara); yang berkenaan dengan kontra-disiplin (asaṃvara); dan yang berkenaan bukan dengan disiplin, bukan pula dengan kontra-disiplin (naivasaṃvara-nāsaṃvara). Hanya perbuatan yang disertai kehendak (cetanā) yang kuat yang akan membentuk dua tipe avijñapti pertama. Kontra-disiplin merupakan “disiplin” dalam bentuk negatif dan seringkali berkenaan dengan profesi-profesi yang buruk, seperti: penjagal, pemburu, pelacur, dsb. Seseorang harus memiliki kehendak atau niat yang kuat untuk, misalnya, berburu hewan liar setiap hari sebagai mata pencaharian agar dapat disebut berprofesi sebagai pemburu. Jikalau ia berburu sekali-sekali atau cuma sekadar hobi, maka ia hanya disebut pemburu amatir dan bukan profesional. Substansi “disiplin” pemburu tidak terbentuk dalam dirinya.

Hal yang sama berlaku pula pada orang yang membuat persepakatan menjadi bhikṣu (atau śrāmaṇera) untuk dua minggu, satu bulan, dsb. Substansi disiplin seorang bhikṣu sesungguhnya tidak terbentuk dalam dirinya; ia bukan berprofesi sebagai bhikṣu. Seseorang boleh saja setelah menjadi bhikṣu, lalu melepas disiplin (lepas jubah) karena tidak kuat dengan kehidupan membiara. Namun, saat menerima upasaṃpadā, sejak semula ia harus sunggguh-sungguh bertekad menjalani kebhikṣuan untuk seumur hidup, dan bukan membuat persepakatan cuma untuk sementara saja! Apakah kelak ia akan lepas jubah atau tidak, itu merupakan lain perkara yang tidak dapat direncanakan sebelumnya di muka.

Di Cina orang pertama yang melontarkan pernyataan bolehnya menerima Lima Śīla untuk sementara waktu tampaknya adalah Vimalākṣa dalam rekaman ceramahnya yang kontroversial, Kitab Lima Ratus Pertanyaan. Meskipun dalam penafsiran vinaya ia tergolong konservatif, namun kadangkala ia menerima beberapa pandangan Sautrāntika seperti: boleh menerima Tiga Perlindungan saja tanpa Lima Śīla, dan boleh menerima satu atau beberapa śīla (tidak lengkap lima). Akan tetapi, pandangan pribadinya mengenaï penerimaan Lima Śīla (bahkan juga Tiga Perlindungan︕) untuk sementara saja adalah lemah dasarnya.

Rabu, 08 November 2017

ANUPŪRVA ŚĪLA vs AKASMĀD-UTPANNA ŚĪLA

Śīla-śīla Buddhis selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi dua:
  1. Śīla yang terbentuk secara bertahap (*anupūrva śīla 漸次戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya harus didahului dengan mengambil śīla lain.

  2. Śīla yang terbentuk seketika (*akasmād-utpanna śīla 頓立戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya terjadi langsung tanpa didahului dengan mengambil śīla lain.

*Anupūrva śīla meliputi tujuh jenis disiplin pengarah Pembebasan (Prātimokṣa Saṃvara) untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: Lima Śīla untuk upāsaka dan upāsikā, Sepuluh Śīla untuk śrāmaṇera dan śrāmaṇerī, Enam Dharma untuk śikṣamāṇā, dan Upasaṃpanna Śīla untuk bhikṣu dan bhikṣuṇī. Tanpa memiliki substansi Lima Śīla dalam dirinya, seseorang tidak dapat mengambil disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī. Tanpa memiliki substansi disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī, seseorang tidak dapat mengikuti upasaṃpadā untuk mengambil disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī. (Seorang śrāmaṇerī bahkan harus melewati jenjang śikṣamāṇā terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bhikṣuṇī.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, tradisi Asaṅga yang terdapat dalam “Bodhisattvabhūmi” (salah satu bagian dari kompendium pertama Yogācārabhūmi Śāstra 《瑜伽師地論》, T. № 1579) merupakan sebuah *anupūrva śīla. Seseorang harus sudah memiliki disiplin upāsaka/upāsika atau disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebelum dapat mengambilnya. Demikian pula disiplin kebodhisattvaan bagi umat awam — terdiri atas 6 śīla berat dan 28 śīla ringan — yang diuraikan Upāsaka Śīla Sūtra (T. № 1488) mengharuskan seseorang untuk terlebih dahulu mengambil Lima Śīla.

Penggolongan Lima Śīla sebagai *anupūrva śīla didasarkan pada praktik yang umum berlaku dalam Buddhisme Tiongkok di mana, biasanya, seseorang mula-mula hanya mengambil Tiga Perlindungan dan, apabila sudah siap, kelak ia baru mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Śīla. Hal ini tentu saja tidak mutlak. Apabila ia yakin kepada Triratna dan siap menjalankan Śīla, ia bisa langsung mengambilnya tanpa harus menjadi upāsaka tanpa-disiplin (aparipūrṇakārin) dahulu.

Yang menjadi pertanyaan adalah: berapa lamakah yang harus dilalui seorang upāsaka tanpa-disiplin, yang hanya mengambil Tiga Perlindungan, sebelum dapat mengambil salah satu atau lengkap Lima Śīla? Tidak ada aturan yang pasti untuk hal ini. Bab XIV Upāsaka Śīla Sūtra mensyaratkan waktu enam bulan sebelum seseorang diberi Lima Śīla dan Bodhisattva Śīla. Selama enam bulan itu, guru pembimbing akan mengawasi tingkah-lakunya untuk memastikan kelayakannya menerima Śīla. Akan tetapi, prosedur ini jelas hanya berlaku bagi mereka yang ingin menerima disiplin kebodhisattvaan berdasarkan Upāsaka Śīla Sūtra.

Lalu berapa lamakah yang harus dilalui seorang śrāmaṇera sebelum dapat mengambil Upasaṃpanna Śīla? Menurut Po-ni-huan ching 《般泥洹經》(T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), salah satu dari beberapa terjemahan Parinirvāṇa Sūtra versi Hīnayāna: tiga tahun. Namun, sekali lagi, hal ini tidak mutlak. Seseorang śrāmaṇera bisa saja mengikuti upasaṃpadā setelah lebih atau kurang dari tiga tahun. (Seorang śrāmaṇerī, akan tetapi, wajib menjalani masa śikṣamāṇā selama dua tahun sebelum ia mengikuti upasaṃpadā.)




Berikutnya, yang tergolong sebagai *akasmād-utpanna śīla antara lain Delapan Śīla, yang biasa dijalankan umat awam pada hari-hari upavasatha. Substansi Delapan Śīla dapat terbentuk dalam diri siapa pun — bahkan pada yang belum mengambil Tiga Perlindungan — asalkan orang tersebut yakin dan mau berlindung kepada Triratna. Vasubandhu menerangkan bait 30 dari bab IV Abhidharmakośa-nya (lihat 《阿毘達磨俱舍論》, T. vol. 29, № 1558 hlm. 75c) sbb.:

為唯近事得受近住?為餘亦有受近住耶?
Apakah hanya para upāsaka yang dapat menerima Upavāsa? Atau dapatkah yang lain menerima Upavāsa juga?

頌曰:
Kārikā:

近住餘亦有  不受三歸無

Anyasyāpyupavāso ’sti
śaraṇaṃ tvagatasya na


論曰:諸有未受近事律儀,一晝夜中,歸依三寶,說三歸已,受近住戒,彼亦受得近住律儀。異此則無,除不知者。
Bhāṣya: Apabila mereka yang belum menerima disiplin upāsaka [sudi] berlindung kepada Triratna, lalu setelah mengucapkan Tiga Perlindungan, mereka menerima śīla-śīla puasa untuk sehari semalam, maka disiplin penekun puasa (upavāsaka saṃvara) pun mereka peroleh. Selain dengan cara ini (mengulangkan Tiga Perlindungan), tidak dapat. Kecuali karena ketidaktahuan [guru pembimbingnya, yang hanya mengulangkan langkah latihan saja].

Lima Śīla, sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga dapat merupakan śīla yang terbentuk seketika — terlebih-lebih dalam pandangan Vaibhāṣika, yang menolak pemberian Tiga Perlindungan saja tanpa disiplin kepada umat awam. Pada masa awal penyebaran Śāsana, Upasaṃpanna Śīla pun merupakan śīla yang terbentuk seketika di mana seseorang langsung mendapatkannya setelah dipanggil dengan undangan “ehi, Bhikṣu!” oleh Buddha, atau setelah mengulangi Tiga Perlindungan di bawah bimbingan seorang guru. Namun, begitu prosedur jñapti-caturtha karman ditetapkan, seseorang hanya dapat memperoleh upasaṃpadā dari saṅgha setelah menjalani masa novisiat sebagai śrāmaṇera.

Ada perbedaan pandangan yang dianut berbagai mazhab berkenaan dengan dispilin śrāmaṇera. Menurut Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, sejak semula Sepuluh Śīla sudah diberikan secara bertahap. Seseorang baru dapat menerima Sepuluh Śīla apabila ia telah memperoleh Lima Śīla upāsaka. Prosedur ini bahkan sudah terjumpaï dalam kisah penahbisan Rāhula (lihat di sini). Dalam skandhaka pertama dari Vinaya Piṭaka masing-masing, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda juga mewajibkan hal yang sama. Sebaliknya, penahbisan śrāmaṇera secara seketika terdapat dalam Vinaya Piṭaka mazhab Dharmaguptaka 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 809c), di mana Rāhula menerima Sepuluh Śīla tanpa diberi Lima Śīla dahulu. (Untuk perbandingan kisah penahbisan Rāhula dalam Vinaya Piṭaka berbagai mazhab, lihat tabel.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, disiplin berdasarkan Mahāyāna Brāhmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. № 1484) dan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. № 1485) merupakan contoh śīla yang terbentuk seketika. Disiplin ini dapat diterima siapa saja, baik monastik, umat awam, atau orang yang belum pernah mengambil Prātimokṣa Saṃvara apa pun.

Selasa, 14 Maret 2017

Terlahir di Surga Tidaklah Lebih Baik daripada Menjadi Manusia

Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509b) diceritakan:

如昔一時,大目揵連以弟子有病,上忉利天以問耆婆,正值諸天入歡喜園。爾時,目連在路側立,一切諸天無顧看者。耆婆後至,顧見目連,向舉一手,乘車直過。
Seperti pada suatu ketika dahulu — karena muridnya mengalami sakit — Mahāmaudgalyāyana naik ke Surga Trāyastriṃśa untuk bertanya kepada Jīvaka dan, secara kebetulan, menjumpaï para dewa sedang memasuki Taman Nandanavana. Tatkala itu Maudgalyāyana berdiri di tepi jalan, dan para dewa tiada yang mengacuhkannya. Jīvaka tiba belakangan; ia melihat Maudgalyāyana, lalu mengangkat satu tangannya sambil berlalu mengendaraï kereta.

目連自念:「此本人間是我弟子,而今受天福,以著天樂,都失本心。」
Maudgalyāyana merenung: “Sewaktu menjadi manusia, ia adalah siswaku. Namun kini, setelah menerima pahala dewata, ia melekat pada kesenangan surgawi dan kehilangan batinnya yang semula.”

即以神力,制車令住。耆婆下車,禮目連足。
Maka dengan kekuatan gaibnya dibuatnya kereta itu berhenti. Jīvaka pun turun dari kereta dan bernamaskāra di bawah kaki Maudgalyāyana.

目連種種因緣,責其不可。耆婆答目連曰:「以我人中為大德弟子,是故舉手問訊。頗見諸天,有爾者不?生天以著樂染心,不得自在。是使爾耳。」
Dengan bermacam-macam alasan, Maudgalyāyana menegur ketidakpatutannya. Jīvaka membalas: “Karena sewaktu menjadi manusia saya merupakan siswa Bhadanta, maka saya mengangkat tangan untuk menyapa. Tetapi, cobalah tengok para dewa lainnya — adakah mereka [mempunyaï etiket] seperti itu? Mereka yang terlahir sebagai dewa, batinnya tercemari kemelekatan akan kesenangan sehingga tidak mendapatkan kemerdekaan. Hal inilah yang menyebabkan mereka demikian.”

Dapat kita lihat bahkan tabib Sang Buddha yang terlahir di Surga Trāyastriṃśa, Jīvaka Kumārabhr̥ta, walau telah memperoleh Buah Srotāpatti, tidak dapat mengontrol dirinya secara merdeka. Apalagi dewa-dewa lain yang belum mencapai kesucian apa pun — kebanyakan dari mereka terlena batinnya oleh kesenangan surgawi sehingga melupakan Buddhadharma yang sebelumnya mereka latih. Hal ini serupa dengan orang yang terlahir di alam binatang. Meskipun saat menjadi manusia sebelumnya ia adalah seorang yang cerdas, kini batinnya diliputi kebingungan sehingga sering melakukan tindakan yang bodoh. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan śīla-śīla mana pun, seorang Buddhis janganlah bercita-cita untuk terlahir di alam surga.






Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1037b) menyatakan:

「善男子。有人勤求優婆塞戒,於無量世如聞而行,亦不得戒。有出家人求比丘戒、比丘尼戒,於無量世如聞而行,亦不能得。何以故?不能獲得解脫分法故;可名修戒,不名持戒。善男子。若諸菩薩得解脫分法,終不造業求生欲界、色無、色界,常願生於益眾生處。」
“Putra berbudi, ada orang yang dengan tekun mencari Śīla upāsaka (memohon Pañca Śīla), lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan [substansi] Śīla. Ada pula pravrajita yang mencari Śīla bhikṣu atau Śīla bhikṣuṇī (memohon Upasaṃpadā), lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan [substansi] Śīla. Apakah sebabnya? Karena mereka tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan. Mereka boleh disebut ‘mengembangkan śīla (moralitas)’, tetapi tidak disebut ‘memegang Śīla (disiplin)’. Putra berbudi, para bodhisattva yang memperoleh bagian Pembebasan takkan pernah melakukan perbuatan demi terlahir di Alam Nafsu Inderawi (kāmadhātu), Alam Dhyāna Bermateri (rūpadhātu), atau Alam Dhyāna Tanpa-materi (ārūpyadhātu); mereka hanya berharap bisa terlahir di mana pun yang dapat menguntungi makhluk lain.”

Sabtu, 18 Februari 2017

SEBAGAI CONTOH: Seseorang ialah Bhikṣuṇī jika Ia Memiliki Substansi Disiplin Kebhikṣuṇīan


【苾芻尼】者,謂得苾芻尼性。
Yang disebut bhikṣuṇī adalah seseorang yang memperoleh kebhikṣuṇīan (bhikṣuṇībhāva).

云何苾芻尼性?
Bagaimanakah kebhikṣuṇīan itu [diperoleh]?
謂:受近圓。
Yakni: [jikalau ia sudah] upasampadā.

云何近圓?
Bagaimanakah upasampadā itu?
謂:白四羯磨。於所作事,如法成就,將近涅槃,故名近圓。
Yakni: [sesudah ia melalui] jñapti-caturtha karman. Setelah segala prosedurnya dilakukan dengan sempurna (sampadā) sesuai Dharma, ia semakin mendekati (upa) Nirvāṇa — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

又其進受人,以圓滿心希求具戒,要期誓受,情無恚恨,以言表白,語業彰顯,究竟滿足,故名圓具。
Juga karena si kandidat penerima, dengan batin yang sempurna (sampadā), memohon Śīla lengkap, berikrar menyatakan komitmen, bersedia menerima tanpa merasa benci (tanpa berat hati terhadap disiplinnya), serta mengekspresikannya melalui perkataan sehingga terbit karma ucapan dan genap seutuhnya — oleh karenanya dinamakan upasampadā.

—— Mūlasarvāstivāda Vinaya, Bhikṣuṇī Vibhaṅga: Pārājika I
《根本說一切有部苾芻尼毘奈耶》
(T. vol. 23, № 1443 hlm. 913c)



bhikkhuni upasampada

Kamis, 27 Agustus 2015

Cara Perolehan Prātimokṣa Saṃvara

Sehubungan dengan terbentuknya Prātimokṣa Saṃvara melalui paravijñapana, guru-guru vinaya menyebutkan sepuluh cara yang berbeda-beda, sebagaimana dirinci dalam Vinaya Piṭaka mazhab Sarvāstivāda 《十誦律》 (T. vol. 23, № 1435), bhāṇavāra ke-10 (“Vinītaka Adhyāya” 比尼誦, hlm. 410a). Lihat juga pada penjelasan untuk bait 26 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74b).

Sepuluh cara perolehan Prātimokṣa Saṃvara tersebut antara lain:


  1. Timbul dengan sendirinya (svayaṃbhūtva 由自然)

    Ini berlaku hanya bagi Buddha, sang Bhagavan sendiri, yang memperoleh Prātimokṣa Saṃvara tanpa guru.

  2. Dengan memperoleh Kepastian terbebas dari kelahiran kembali (niyāmāvakrānti 由得入正性離生)

    Dialami oleh kelima murid pertama (Ājñata Kauṇḍinya dkk.). Saat pertama kalinya mereka melihat Kebenaran dan memasuki Jalan Kesucian, saat itu pula mereka memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  3. Melalui panggilan “datanglah, Bhikṣu!” (ehibhikṣuka 由佛命善來苾芻)

    Ketika Buddha berseru kepada seseorang “datanglah, Bhikṣu!”, maka pada saat itu juga substansi Śīla terbentuk dalam diri orang tersebut. Rambutnya akan rontok secara ajaib dan pakaiannya bersalin menjadi tiga jubah monastik. Contoh arhat yang memperoleh disiplin secara demikian adalah Yaśa. Terdapat juga kisah-kisah beberapa wanita yang ditahbis menjadi bhikṣuṇī dengan cara ini.

  4. Dengan keyakinan menerima Buddha sebagai Guru Agung (śāstr̥abhyupagama 由信受佛為大師)

    Mahākāśyapa memperoleh disiplin kebhikṣuan dengan mengucapkan sendiri pernyataan bahwa Buddha adalah gurunya — Sewaktu ia menghormati dewa-dewa, patung-patung para dewa tersebut hancur berkeping-keping. Ia tidak berani memberi salam kepada Buddha karena khawatir tubuh Beliau pun akan hancur berkeping-keping. Namun, Buddha memberi isyarat agar ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dan, ternyata, Buddha tidak terluka sedikit juga. Maka Mahākāśyapa pun berkata: “Dialah guruku (ayaṃ me śāstā)!”

  5. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terampil (praśnārādhana 由善巧酬答所問)

    Cara ini dialami oleh Bhikṣu Sodāyin. Buddha merasa puas karena ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Beliau ajukan, dan pada saat bersamaan Sodāyin pun memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  6. Dengan menerima delapan aturan berat (gurudharmābhyupagama 由敬受八尊重法)

    Khusus berlaku bagi bhikṣuṇī pertama, Mahāprajāpatī Gautamī. Saat ia bersedia menerima delapan aturan berat (gurudharma), saat itu pula substansi Śīla bhikṣuṇī terbentuk dalam dirinya.

  7. Melalui utusan (dūta 由遣使)

    Cara ini dialami oleh Ardhakāśī, seorang wanita yang kecantikannya seberharga setengah Negeri Kāśi. Banyak pria yang tergila-gila kepadanya dan ingin melamarnya. Namun, Ardhakāśī lebih suka meninggalkan rumah-tangga. Untuk menghindari kejaran mereka, ia melarikan diri ke taman kerajaan. Para penggemarnya bersepakat: “Para bhikṣuṇī berada di bawah perlindungan kerajaan; jika kita mengganggu seorang bhikṣuṇī, tentu kita akan mendapat hukuman raja. Jangan sampai Ardhakāśī pergi untuk ditahbiskan. Begitu ia keluar taman, marilah kita segera menculiknya.” Mengetahui hal ini, maka Buddha mengutus seorang bhikṣuṇī untuk mewakilinya memohon penahbisan dari saṅgha. Ardhakāśī melakukan segala komunikasi dengan saṅgha dalam penahbisannya, melalui perantaraan utusan tersebut.

    (Lihat kisahnya dalam skandhaka terakhir dari Sarvāstivāda Vinaya, “Kṣudraka Dharma” 《十誦律·雜法》 [T. vol. 23, № 1435 hlm. 295b]. Untuk perolehan Prātimokṣa Saṃvara dengan cara ini, Abhidharmakośa Bhāṣya akan tetapi memberikan contoh kasus Bhikṣuṇī Dharmadinnā.)

  8. Dengan mengulangi tiga kali pernyataan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha (śaraṇagamanaṃ-traivācika 由三說歸佛法僧)

    Merupakan cara yang mula-mula ditetapkan Buddha bagi para bhikṣu dalam memberikan penahbisan. Seseorang yang ingin meninggalkan rumah-tangga dapat memohon seorang bhikṣu lain menjadi guru. Gurunya itu akan mengajarinya rumusan Tiga Perlindungan. Pada saat si pemohon selesai mengulangi tiga kali, maka saat itu pula substansi Śīla bhikṣu ia peroleh. Ini serupa dengan cara penerimaan pengikut-pengikut awam menjadi upāsaka/upāsikā. Pada saat seorang awam selesai mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diajarkan gurunya, maka saat itu pula disiplin upāsaka/upāsikā terbentuk dalam dirinya. Penahbisan bhikṣu dengan cara ini diizinkan beberapa saat lamanya, hingga dilarang kembali oleh Buddha dan diganti dengan cara penahbisan di bawah.

  9. Melalui saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang (daśavarga 由十眾)

    Ketika anggota saṅgha semakin banyak, mulaï muncul penyelewengan-penyelewengan. Orang-orang yang seharusnya tidak layak berada di dalam saṅgha malah diterima. Oleh karena itu, prosedur penahbisan pun diperketat. Mengulangi Tiga Perlindungan tidak lagi diizinkan sehingga hanya kita jumpaï dalam pemberian Śīla-Śīla yang lebih rendah. Prosedur baru diperkenalkan, yang disebut jñapti-caturtha karman, di mana seseorang tidak dapat hanya memohon seorang bhikṣu sebagai guru penahbis, tetapi harus kepada saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang bhikṣu (tiga guru dan tujuh saksi 三師七證). Inilah cara yang kemudian berlaku untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī, dan berlanjut terus hingga hari ini.

  10. Dengan pemegang vinaya sebagai yang kelima (vinayadharapañcama 由持律為第五人)

    Ini merupakan toleransi untuk cara #9, khusus bagi daerah-daerah di luar Madhyadeśa di mana saṅgha yang ada tidak memenuhi kuorum sepuluh bhikṣu, sehingga diizinkan untuk melakukan penahbisan dengan dihadiri oleh lima bhikṣu saja (tiga guru dan dua saksi 三師二證).


Dari berbagai cara di atas dapat kita lihat bahwa perolehan Prātimokṣa Saṃvara tidak selalu melibatkan aspek vijñapti, misalnya yang diperoleh tanpa guru oleh Buddha sendiri. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa Buddha pun melalui aspek vijñapti, yakni saat Beliau bertekad di bawah pohon Bodhi: “Aku tidak akan bangkit sebelum mengakhiri segala kebocoran-batin,” dan kemudian duduk. Di sini kāya vijñapti dan vāk vijñapti telah terbentuk. Saat Beliau benar-benar mengakhiri segala kebocoran-batin, maka saat itu pula Prātimokṣa Saṃvara terbentuk dalam diri-Nya.

Begitu juga Prātimokṣa Saṃvara yang diperoleh kelima murid pertama (Pañcavargika) dengan memasuki Jalan adalah tidak melibatkan aspek vijñapti. Namun, ada yang berpendapat bahwa terdapat aspek vijñapti dalam kesediaan mereka duduk dan mendengarkan khotbah Buddha. Selesai khotbah itu disampaikan, saat itu pula mereka melihat Kebenaran, dan terbentuklah Prātimokṣa Saṃvara dalam diri mereka.

Jumat, 07 Maret 2014

POLISEMI ISTILAH "ŚĪLA"

Dalam percakapan sehari-hari kita sering menggunakan istilah śīla secara bebas. Konotasi manakah yang sebenarnya kita maksud? Sekolah Vinaya di Cina membahasnya dalam empat pokok (lihat seksi pertama dari Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》 [‘Rangkuman mengenaï Tingkah Laku Monastik yang Disempurnakan berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya’, T. vol. 40 № 1804] karangan Vinayācārya Tao-hsüan). Keempat pokok bahasan Śīla 戒之四科 itu adalah:
 
 
1. CHIEH-FA 戒法 — Dharma tentang Śīla 
 
Pada kalimat “Buddha menetapkan berbagai Śīla demi kesejahteraan pengikut-pengikut-Nya”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah Dharma tentang Śīla, yang ditetapkan oleh Tathāgata seperti: Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla. Dharma tentang Śīla mencakup fungsi, aplikasi, kebajikan, dll. ajaran tentang Śīla.
 
Jika demikian, apakah Dharma tentang Śīla hanya bersifat teoretis? Menurut Hsing-shih ch’ao (T. vol. 40, № 1804 hlm. 4b):
 
言戒法者,語法而談,不局凡聖。
Yang disebut Dharma tentang Śīla meliputi pembahasan śīla secara Dharma, yang berlaku untuk makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya-pudgala) tanpa penyekatan.

直明此法,必能軌成出離之道。要令受者,信知有此。
Tegasnya dinyatakan: Dharma ini dapat menata jalan pertolakan [dari saṃsāra]. Mereka yang menerimanya hendaklah meyakini dan mengetahui hal ini.

雖復凡聖通有此法,今所受者,就已成而言,名爲聖法。
Meskipun Dharma ini berlaku untuk makhluk biasa maupun para suci, namun yang kini kita terima telah terealisasi [oleh para suci]. Oleh sebab itulah dinamakan Dharma Suci (ārya dharma).
 
Secara Dharma, tujuan utama Śīla ialah membawa kepada keadaan Kebebasan (dari segala penderitaan). Oleh karenanya, walaupun berlaku juga bagi makhluk biasa, Śīla hanya disebut sebagai Dharma-nya para suci. Menerima Śīla berarti menanam benih Pembebasan dalam diri kita; maka janganlah kita meremehkannya. Akan tetapi, Dharma yang kita terima tersebut haruslah kita junjung dan jaga agar menjadi murni bagaikan mutiara cemerlang.
 
Jadi, ketiga konotasi Śīla, yang akan kita bahas berikutnya di bawah, tercakup semua di sini. Dari awal hingga akhir, keseluruhan rangkaian Śīla — yang kita terima (substansi), yang kita junjung dan jaga (praktik), yang murni bagaikan mutiara cemerlang (tampilan) — tiada yang bukan merupakan Dharma.
 
 
2. CHIEH-T’I 戒體 — Substansi Śīla (secara harfiah: ‘Badan Śīla’)
 
Pada kalimat “Waisak kemarin kami menerima Śīla sebagai upāsaka-upāsikā”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah substansi Śīla, yakni Dharma yang kita terima dan mengejawantah dalam diri kita, yang bersifat laten dan menjadi esensi bagi timbulnya karma (baik). Substansi Śīla memampukan kita untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, serta menciptakan keberkahan dan menimbulkan kebaikan.
 
Pernah kita kutip sebelumnya bahwa substansi Perlindungan (dan Śīla) diwariskan dalam suatu kesinambungan silsilah. Kita hanya dapat menerima substansi Śīla dari guru yang memang memiliki Dharma tersebut. Guru kita harus sudah menerimanya dari gurunya, dan gurunya itu menerimanya dari gurunya lagi. Demikian seterusnya hingga pada gilirannya bersumber kepada Buddha sendiri.
 
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar meneliti calon guru yang akan mentransmisikan Śīla kepada kita. Janganlah kita asal mengucapkan Permohonan Triśaraṇa dan Śīla karena ikut-ikutan orang lain. Tidak ada substansi yang terbentuk pada diri kita jika suatu transmisi tidak valid. Bagaimana bisa kita menjadikan seseorang guru bilamana ia sendiri tidak mengerti apakah dirinya memiliki substansi Śīla atau tidak!
 
Lantas, pada momen manakah substansi Śīla terbentuk dalam suatu upacara penerimaan Śīla? Dalam upasaṃpadā bhikṣu/bhikṣuṇī hal itu terjadi saat jñapti-caturtha karman 白四羯磨 selesai dibacakan; dalam transmisi Daśa Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, dan Pañca Śīla hal itu terjadi saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diulangi oleh pemohon.
 
Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):
 
若欲受五戒,先受三歸。受三歸竟,爾時已得五戒。
Apabila hendak menerima Lima Śīla, sebelumnya kita menerima Tiga Perlindungan dahulu. Ketika Tiga Perlindungan selesai diterima, pada saat itu kita telah memperoleh Lima Śīla.

所以說五戒名者,欲使前人識五戒名字故。
Bunyi kelima śīla yang diucapkan hanyalah agar nama-nama kelima śīla tersebut diketahui oleh orang di hadapan kita.
 
Pandangan kaum Vaibhāṣika, yang diadopsi oleh Sekolah Vinaya di Cina (lihat http://tinyurl.com/m99xydc), ini bukannya tanpa dasar. Pada masa awal penyebaran Ajaran, sebelum Buddha menetapkan prosedur jñapti-caturtha karman, seseorang cukup mendatangi seorang bhikṣu dan mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diucapkan calon gurunya itu. Setelah ia selesai mengulanginya, maka ia memperoleh lengkap disiplin kebhikṣuan (upasaṃpadā). Demikian pula para pengikut awam pertama Buddha menjadi upāsaka-upāsikā hanya dengan mengucapkan Perlindungan (dalam Dua atau Tiga Pernyataan, lihat http://tinyurl.com/oz5nnhk) — walaupun kebanyakan teks tidak menjelaskan apakah pada saat itu mereka mendapatkan substansi Perlindungan saja, ataukah substansi Perlindungan dan Śīla. Di kemudian hari mengulangkan Tiga Perlindungan untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī tidak diizinkan lagi, sehingga hanya kita jumpai dalam prosedur penerimaan Śīla-Śīla yang lebih rendah.
 
 
3. CHIEH-HSING 戒行 — Praktik Śīla
 
Setelah menerima Śīla dan mendapatkan substansinya, maka dengan berbagai upaya kita berlatih untuk menjaga dan tidak melanggarnya, serta memeriksa segala tindakan jasmani, ucapan, maupun pikiran agar teratur sesuai Dharma — inilah yang disebut praktik Śīla.
 
Seperti dalam kalimat “Seperti para arhat yang seumur hidup tidak makan pada waktu yang salah, pada hari upavasatha saya menjalankan śīla untuk tidak makan pada waktu yang salah selama sehari semalam”, praktik Śīla di sini timbul dengan meneguhkan tekad dan bersemangat mengikuti teladan para suciwan terdahulu, sehingga segala tindakan kita sesuai dengan disiplin yang diterima.
 
 
4. CHIEH-HSIANG 戒相 — Karakteristik Śīla (atau Tampilan Śīla)

Karakteristik Śīla dapat dibedakan menjadi dua:

a.  Karakteristik merujuk pada praktik 約行為相
Karakteristik merujuk pada praktik ialah tampilan luar yang terekspresikan karena praktik kita memegang Śīla — perbuatan yang kita ciptakan, tindakan yang kita lakukan (yang bersesuaian dengan Dharma) — sehingga menimbulkan kepujian, seperti yang sering kita dengar dalam kalimat sehari-hari: “Berdasarkan pengamatanku di biara ini, rupanya śīla bagi para bhikṣu untuk tidak tersentuh wanita dalam situasi apa pun”. Meminjam istilah filsafat hukum, seperti yang digagas David Hume, karakteristik berdasarkan praktik adalah das Sein, deskripsi fakta apa adanya.
b.  Karakteristik merujuk pada Dharma 約法為相
Karakteristik merujuk pada Dharma ialah tampilan luar yang seharusnya manifes — apa saja yang harus dipegang, apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dikecualikan, apa yang dibatasi — sebagaimana diajarkan dalam Dharma. Masing-masing dari Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meminjam istilah filsafat hukum, karakteristik berdasarkan Dharma adalah das Sollen, norma-norma seharusnya yang diharapkan ditaati. Contoh dalam kalimat: “Terdapat śīla dalam Prātimokṣasūtra di mana seorang bhikṣu, ketika pikirannya sedang diliputi birahi, tidak boleh secara sengaja menyentuh atau membiarkan diri tersentuh seorang wanita”.