Powered by Administrator

Translate

Jumat, 29 Maret 2019

Śīla Tidak Murni, Samādhi Takkan Maujud

(1)

harmatrāta Dhyāna Sūtra 《達摩多羅禪經》 (T. vol. 15, № 618 hlm. 301c), sebuah kitab manual tentang tingkatan-tingkatan praktik spiritual (yogacārā bhūmi) dalam mazhab Sarvāstivāda, menerangkan prasyarat meditasi ānāpānasmr̥ti:

煩惱暫止息  次當淨尸羅
尸羅既清淨  三昧於中起

Gejolak batin untuk sementara dihentikan.
Berikutnya haruslah memurnikan Śīla.
Setelah Śīla murni,
Samādhi akan timbul di sana.

Guru besar T’ien-t’ai, Cʜɪʜ-ɪ 智顗, memparafrase dalam jilid 4-1 risalah Mo-ho chih-kuan《摩訶止觀》 (T. vol. 46, № 1911 hlm. 41b–c):

尸羅清淨,三昧現前,止觀開發。
Apabila Śīla murni, Samādhi akan maujud, śamatha dan vipaśyanā dapat terbentuk.

……

故知!持戒清淨、懇惻懺悔,俱為止觀初緣。
Oleh karena itu, ketahuilah! Memegang disiplin moralitas dengan murni, bertobat dengan tulus dan remuk hati — keduanya merupakan kondisi pertama-tama bagi śamatha dan vipaśyanā.

Sejak zaman Dinasti-Dinasti Utara dan Selatan, dua baris terakhir dari bait ini menjadi pepatah Buddhis yang begitu populer, terutama dalam bentuk kalimat negatif. Misalnya dalam jilid 18 (pada edisi Ming: jilid 22) Hsü Kao-sêng chuan 《續高僧傳》 (‘Lanjutan Hikayat Para Bhikṣu Terkemuka’, T. vol. 50, № 2060 hlm. 574c) diceritakan tentang seorang bermarga Cʜ’ᴇ̂ɴ 陳 dari Shan-chou 陝州, Hopei. Pada tahun ke-12 era K’ai-huang 開皇 (592 M) dari Dinasti Sui, setelah kedua orangtuanya tiada dan ia cukup dewasa, disumbangkannya seluruh hartanya ke biara bhikṣuṇī. Ia sendiri lalu meninggalkan rumah-tangga di bawah Guru Ch’an Cʜ’ɪɴɢ 清禪師 dari Vihāra Ta-t’ung 大通寺, dan menerima upasaṃpadā dengan nama tahbisan Cʜᴇ̂ɴ-ʜᴜɪ 真慧. Cʜ’ɪɴɢ mengunjukkannya urut-urutan metode latihan dan berkata:

「有本曰:『尸羅不淨,三昧無由。』」
“Ada kitab berbunyi: ‘Apabila Śīla tidak murni, Samādhi tiadalah asalnya.’ ”

K’ᴜᴇɪ-ᴄʜɪ 窺基 (632–682), siswa Penerjemah Hsᴜ̈ᴀɴ-ᴛsᴀɴɢ, dalam jilid 3 ensiklopedia Vijñaptimātra-nya, I-lin chang《義林章》 (‘Pasal-Pasal Belantara Makna’, T. vol. 45, № 1861 hlm. 314c) pada “Pasal tentang Vijñapti- dan Avijñapti-rūpa” 表無表色章, mengatakan:

定道得緣者,經中說:「尸羅不清淨,三昧不現前。」
Tentang kondisi untuk diperolehnya Dhyānaja dan Anāsrava, di dalam sūtra disebutkan: “Apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud.”

由此故知,須持淨戒!由持戒故無悔;無悔故心安;心安故得定;得定故起聖道;起聖道故,依俱時思,立定道戒。
Dari sini dapat kita ketahui bahwa adalah perlu memegang disiplin moralitas yang murni! Berkat memegang disiplin moralitas, tiadalah penyesalan; karena tiada penyesalan, batin menjadi tenteram; karena batin tenteram, konsentrasi diperoleh; karena konsentrasi diperoleh, timbullah Jalan Kesucian; karena Jalan Kesucian timbul, bergantung pada kehendak (cetana) di saat bersamaan, terdirikanlah Dhyānaja- dan Anāsrava-Saṃvara.

Di jilid pertama Wan-shan t’ung-kui chi 《萬善同歸集》 (‘Kumpulan [Tanya-Jawab] tentang Bermuaranya Aneka Kebaikan Bersama’, T. vol. 48, № 2017 hlm. 965b), Guru Ch’an Yᴜɴɢ-ᴍɪɴɢ Yᴇɴ-sʜᴏᴜ 永明延壽 (904–975), yang hidup di awal zaman Sung, juga mengatakan:

故經云:「尸羅不清淨,三昧不現前。」
Karenanya di dalam sūtra disebutkan: “Apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud.”

從定發慧,因事顯理;若闕三昧,慧何由成?是知因戒得定,因定得慧。
Dari konsentrasi (samādhi), terbentuklah kebijaksanaan (prajñā); sebab fenomena, terungkaplah nomena. Jikalau Samādhi defisien, apakah yang akan menjadikan kebijaksanaan? Maka dapat kita ketahui: sebab disiplin moralitas, konsentrasi diperoleh; sebab konsentrasi, kebijaksanaan diperoleh.



(2)

Seperti dikatakan oleh Cʜɪʜ-ɪ sebelumnya, selain berusaha menjalankan Śīla dengan ketat, hal yang tidak kalah pentingnya adalah bertobat dengan tulus hati. Pertobatan atau pengakuan (per Kendaraan Kecil) dilakukan apabila terjadi pelanggaran, sehingga substansi Śīla termurnikan kembali. Hal ini berlaku bagi semua tipe disiplin Prātimokṣa, termasuk disiplin upāsaka. Bagaimana seseorang bisa melakukan pengakuan bilamana ia tidak tahu apakah terdapat substansi Śīla dalam dirinya? Pelanggaran Śīla mana yang akan ia akui?

Adalah tugas seorang guru pembimbing, seharusnya, bukan cuma mentransmisikan Śīla, melainkan juga mengajari siswa-siswanya cara memurnikan diri apabila terjadi pelanggaran Śīla. Celakanya di zaman modern ini banyak orang yang bahkan tidak mengerti substansi Śīla itu konsep apa, malah memberikan tuntunan Śīla dan, lebih parah lagi, menjadi guru meditasi. Jadi, pantaslah kita meragukan se-Buddhis apakah “pencapaian” yang mereka raih dengan meditasinya, meskipun teknik meditasi tersebut berdasarkan sūtra-sūtra.




Selanjutnya jikalau ada yang berpendapat bahwa pepatah populer di atas hanya ajaran Kendaraan Kecil yang bersumber dari sebuah kitab manual meditasi, sūtra-sūtra Mahāyāna yang dikutipkan berikut justru selaras dengannya. Kita ingat petikan dari Śūraṅgama: “Karena moralitas, lahirlah konsentrasi; karena konsentrasi, berkembanglah kebijaksanaan (因戒生定,因定發慧).” Hal yang sama juga disebutkan dalam Kāśyapa Parivarta 《大寶積經·普明菩薩會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 637b), yang merupakan sūtra ke-43 dari koleksi Mahāratnakūṭa:

依戒得三昧  三昧能修慧
依因所修慧  逮得於淨智

Bersandar pada Śīla akan mendapatkan Samādhi;
Samādhi mampu mengembangkan Prajñā.
Bersandar pada sebab Prajñā yang dikembangkannya,
seseorang akan selekasnya memperoleh Pemahaman Murni.

Candrapradīpa Samādhi 《月燈三昧經》 (T. vol. 15, № 639), yang lebih dikenal dengan judul Samādhirāja Sūtra dan merupakan salah satu dari sembilan dharma utama Mahāyāna di Nepal, menyebutkan di jilid pertamanya (hlm. 553a):

無物能將此定來  必由淨戒之所起

Tiada barang apa pun yang mampu mendatangkan Samādhi ini,
melainkan sewajarnya berasal dari Śīla yang murni.

Di jilid 6 sūtra yang sama (hlm. 584b) tertulis:

彼心無障礙  以住淨戒力
速得離惱定  是為淨戒利

Batinnya tiadalah terhambat
berkat kekuatan berdiam dalam Śīla yang murni;
ia akan segera memperoleh Samādhi tanpa gangguan.
Itulah manfaat dari Śīla yang murni.

Petikan-petikan ini cukuplah menggambarkan betapa pentingnya Śīla sebelum memasuki Samādhi. Jikalau masih ada yang bersikukuh bahwa sebagai pengikut Kendaraan Besar kita tidak perlu menjaga Śīla dengan ketat-ketat amat, maka sūtra-sūtra Mahāyāna ini membantahnya. Kita jangan menyamakan diri dengan tīrthika yang diceritakan dalam sūtra-sūtra tertentu, yang langsung mencapai kesucian berkat mendengar sedikit ajaran Dharma. Kendati dalam kelahiran sekarang mereka tampil menjadi pengikut non-Buddhis yang tidak pernah mengambil Śīla-Śīla (=disiplin Buddhis) apa pun, namun apakah kita tahu seberapa besar pāramitā yang telah mereka kumpulkan atau bagaimana mereka berlatih di kelahiran-kelahiran sebelumnya? Apalagi kini kita hidup di zaman setelah tiadanya Buddha, yang mampu menunjukkan metode terampil yang mencerahkan dalam seketika. Tidakkah lebih baik apabila kita melaksanakan latihan konvensional dengan terlebih dahulu mengambil dan memurnikan Śīla?





(3)

Ch’an seringkali disebut sebagai ajaran khusus Mahāyāna di luar kitab-kitab suci. Walaupun guru-guru Ch’an tidak bergantung pada kata-kata, kenyataannya banyak di antara mereka yang merupakan ahli Tripiṭaka dan telah mengarang berjilid-jilid tulisan dengan topik beragam — bukan melulu kumpulan kung-an — mulaï dari komentar-komentar sūtra, hingga pembahasan śīla dan vinaya. Guru Ch’an Cʜ’ᴀɴɢ-ʟᴜ Tsᴜɴɢ-ᴛsᴇ̂ 長蘆宗賾 (?–1107) dari Dinasti Sung membuka Ch’an-yüan ch’ing-kui 《禪苑清規》 (‘Regula Murni Biara Ch’an’, Zokuzōkyō vol. 63, № 1245) susunannya dengan seksi pertama “Menerima Śīla” 受戒 (hlm. 523a):

三世諸佛,皆曰出家成道。西天二十八祖、唐土六祖,傳佛心印,盡是沙門。
Para Buddha di tiga masa semuanya dikatakan meninggalkan rumah-tangga untuk mencapai Pencerahan. Dua puluh delapan patriark dari Negeri Barat dan enam patriark dari Tanah T’ang, yang mentransmisikan meterai batin Buddha, seluruhnya adalah śramaṇa.

葢以嚴淨毗尼,方能洪範三界;然則參禪問道,戒律為先。既非離過防非,何以成佛作祖?
Bahwa dengan berhiaskan kemurnian vinaya barulah seseorang mampu mengontrol Triloka; maka untuk bergabung dengan Ch’an dan menanyakan Jalan, śīla dan vinaya adalah yang terdahulu. Jika bukan dengan meninggalkan pelanggaran dan mencegah kesalahan, dengan apakah seseorang akan menjadi Buddha atau patriark?

……

Pada seksi kedua, “Menjaga Śīla” 護戒, ia menulis (hlm. 523b):

受戒之後,常應守護。寧有法死,不無法生!
Setelah menerima Śīla, senantiasalah kita harus menjaganya. Lebih baik mati memiliki dharma (=substansi Śīla), daripada hidup tanpa dharma!

如小乘《四分律》四波羅夷、十三僧伽婆尸沙、二不定、三十尼薩耆、九十波逸提、四波羅提提舍尼、一百眾學、七滅諍,大乘《梵網經》十重、四十八輕,竝須讀誦通利。善知持犯開遮。
Sesuai Dharmaguptaka Vinaya dari Kendaraan Kecil dengan 4 pārājika, 13 saṅghāvaśeṣa, 2 aniyata, 30 niḥsargika-pācittika, 90 pācittika, 4 pratideśanīya, 100 śaikṣa, 7 adhikaraṇa-śamatha; serta Brahmajāla Sūtra dari Kendaraan Besar dengan 10 pelanggaran berat dan 48 pelanggaran ringannya — keduanya perlu dibaca, didaraskan, dan dihafalkan hingga lancar. Ketahuilah sebaik-baiknya apa saja yang harus dipegang dan apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dibatasi dan apa yang dikecualikan.

Dapat kita lihat guru-guru Ch’an zaman dahulu begitu menekankan pentingnya Śīla. Kalaupun dalam koleksi-koleksi kung-an diceritakan guru Ch’an tertentu yang berlaku eksentrik, maka harus kita ingat bahwa kung-an merupakan catatan kasus dadakan yang terjadi sewaktu-waktu. Tindakan eksentrik seorang guru Ch’an adalah spontan untuk mencerahkan siswanya pada saat itu saja, dan tidak mencerminkan perilaku normal kesehariannya.




Arhat Jᴀʏᴀᴛᴀ, patriark India ke-20 dalam silsilah Ch’an, dapatlah kita jadikan contoh. Walaupun sama-sama arhat, ia lebih istimewa daripada kawan-kawannya sebab, semenjak belum Tercerahkan, ia selalu menjaga segala śīla dengan sangat teliti, bahkan sampai pada aturan-aturan minor (duṣkr̥ta). Kisahnya termuat dalam avadāna ke-91 dari *Saṃyukta-ratna piṭaka 《雜寶藏經》 (T. vol. 2, № 203 hlm. 483a–b), “Tentang Arhat Jᴀʏᴀᴛᴀ yang Memerintah Naga Jahat Masuk ke Samudra” 〈羅漢祇夜多驅惡龍入海縁〉, yang merupakan salah satu dari beberapa avadāna dalam koleksi ini yang menceritakan tentang dirinya.

昔有尊者阿羅漢,字祇夜多。佛時去世七百年後,出罽賓國。時,罽賓國有一惡龍王,名阿利那。數作災害,惱諸賢聖。國土人民,悉皆患之。
Dahulu terdapatlah seorang arhat bernama Jᴀʏᴀᴛᴀ. Ia lahir 700 tahun setelah Buddha meninggal dunia di Negeri Kashmir. Ketika itu di Negeri Kashmir ada seekor raja naga yang jahat bernama Aʟɪɴᴀ (Aʀᴜɴ̣ᴀ?). Berkali-kali ia membuat gangguan dan mencelakaï para suciwan. Rakyat seisi negeri semua diresahkannya.

時,有二千阿羅漢,各盡神力驅遣此龍,令出國界。其中有五百羅漢,以神通動地。又有五百人,放大光明。復有五百人,入禪定經行。諸人各各盡其神力,不能使動。
Tatkala itu terdapatlah 2.000 arhat yang masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya untuk memerintah naga ini agar meninggalkan wilayah negeri. Di antara mereka ada 500 arhat yang dengan penembusan spiritual (abhijñā) mengguncang bumi. Juga ada 500 orang yang memancarkan cahaya cemerlang. Ada lagi 500 orang yang memasuki konsentrasi dhyāna hilir mudik. Semua orang masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya, namun tidak mampu menggoyahkan [sang naga].

時,尊者祇夜多最後往到龍池所。三彈指言:「龍。汝今出去!不得此住!」龍即出去,不敢停住。
Maka ialah Bhadanta Jᴀʏᴀᴛᴀ yang terakhir menuju ke kolam tempat sang naga. Ia menjentikkan jari tiga kali dan berkata: “Naga, kini keluarlah engkau pergi! Jangan berdiam di sini!” Sang naga pun keluar dan pergi, tidak berani tetap tinggal.

爾時,二千羅漢語尊者言:「我與尊者,倶得漏盡。解脱法身,悉皆平等。而我等各各盡其神力,不能令動。尊者云何,以三彈指,令阿利那龍遠入大海耶?」
Pada saat itu keduaribu arhat berkata kepada sang bhadanta: “Kami dan Bhadanta sama-sama telah mengakhiri kebocoran (kṣīṇāsrava). Tubuh Dharma Kebebasan (vimukti dharmakāya) kita adalah setara. Namun, walaupun masing-masing mengerahkan kekuatan kesaktiannya, kami tidak mampu menggoyahkan [sang naga]. Bagaimanakah Bhadanta, dengan menjentikkan jari tiga kali, menyebabkan Naga Aʟɪɴᴀ menjauh masuk ke mahāsamudra?”

于時,尊者答言:「我凡夫已來受持禁戒,至突吉羅,等心護持,如四重無異。今諸仁者,所以不能動此龍者,神力不同,故不能動。」
Saat itu sang bhadanta menjawab: “Semenjak aku masih merupakan orang biasa (pr̥thagjana) yang menerima dan memegang śīla-śīla, hingga pada aturan duṣkr̥ta kujaga semua dengan samarata, tidak berbeda seperti pada empat aturan berat. Kini mengapa para Āyuṣman tidak mampu menggoyahkan naga ini adalah dikarenakan kekuatan kesaktian kita tidak sama sehingga ia tidak tergoyahkan.”

Jumat, 01 Maret 2019

BAHKAN BHIKṢU PUN HARUS MENJUNJUNG LIMA ŚĪLA

Seperti pernah kita bahas sebelumnya, falsafah lima kebajikan (pañcayāma) merupakan ajaran kuno yang diamalkan berbagai sekte śramaṇa di India, termasuk Buddhisme (dalam bentuk lima śīla). Dapat dikatakan 250 langkah latihan bhikṣu Buddhis semata-mata merupakan ekstensi dari lima śīla (misalnya: pantang berdusta dipecah menjadi tiga pācittika/pāyantika pertama dalam Bhikṣu Prātimokṣa-sūtra — lihat di sini).

Dalam Tripiṭaka Tionghoa terdapat beberapa sūtra yang menyatakan bahwa bhikṣu pun harus menjunjung lima śīla, antara lain:

  • Yen tao-su yeh ching 《演道俗業經》 (‘Sūtra tentang Pembahasan Pekerjaan Monastik dan Awam’, T. № 820).
  • Fo mieh-tu hou kuan-lien tsang-sung ching 《佛滅度後棺殮葬送經》 (‘Sūtra tentang Pemulasaraan dan Pengusungan Jenazah Buddha setelah Parinirvāṇa’, T. № 392), yang disebut juga 《比丘師經》 atau 《師比丘經》 (*Ācārya Bhikṣu Sūtra).

Menurut alm. Venerabilis Yin-shun 印順導師 (lihat di sini), *Ācārya Bhikṣu Sūtra, yang berisi ramalan Buddha sehubungan dengan mangkuk pātra-Nya ini, merupakan reminisensi dari kisah penganiayaan Buddhisme di bawah Raja Mihirakula (memerintah 515–540). Nama tokoh utamanya, yang diterjemahkan sebagai 師比丘, mengingatkan kita pada Patriark Siṃha 師子 (empat generasi di atas Bodhidharma) yang dibunuh oleh Mihirakula. Akan tetapi, teks nubuatan ini sesungguhnya sudah disebutkan dalam katalog Ch’u san-tsang chi chi 《出三藏記集》 (‘Kumpulan Catatan [Teks-Teks] yang Telah Diterjemahkan dari Tripiṭaka’, T. № 2145) terbitan Sêng-yu 僧祐 tahun 515. Sêng-yu sendiri juga mendasarkan karyanya pada katalog susunan Tao-an (312–385) yang kini sudah punah. Di jilid 3 Sêng-yu mengelompokkan *Ācārya Bhikṣu Sūtra dalam “Rekaman yang Baru Dikumpulkan atas Sūtra-Sūtra yang Hilang Nama Penerjemahnya sejak [Dicantumkan] Bhadanta An” 新集安公失譯經録. Jadi, pada zaman Tao-an pun teks ini sudah dikenal.

Sementara Siṃha merupakan patriark dalam silsilah ortodoks Mahāyāna, tokoh dalam teks kita adalah seorang yang tidak sah tertahbis. Karena keduanya berbeda, maka lebih aman kita merekonstruksi nama tokoh dalam teks kita, 師, sebagai Ācārya (‘guru’) saja. Meskipun ia adalah bhikṣu palsu, tiada keganjilan dalam penjelasannya tentang lima śīla sehingga harus ditolak sebagai bukan Buddhadharma. Kemampuannya menjelaskan barangkali sebagian juga memang disebabkan pengetahuannya tentang pañcayāma, yang begitu umum dalam tradisi śramaṇa.







《佛滅度後棺殮葬送經》
Sūtra tentang Pemulasaraan dan Pengusungan Jenazah Buddha setelah Parinirvāṇa
(T. № 392)






失譯人名
今附西晉錄
Nama penerjemahnya hilang,
namun teks ini telah terlampir pada rekaman Dinasti Tsin Barat






聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,眾祐遊於華氏國。
Pada suatu ketika Bhagavan melawat di Kusumapura.

阿難以人定時,白眾祐言:「眾祐滅訖之後,棺殮尊身,其禮云何?」
Saat waktunya orang beristirahat, Ānanda bertanya kepada Bhagavan: “Setelah Bhagavan parinirvāṇa, penghormatan bagaimanakah yang harus kami lakukan dalam memulasara tubuh-Nya?”



眾祐曰:「且自憂身,無憂佛也!吾滅度後,當有梵志、理家,盡禮葬送。」
Sabda Bhagavan: “Hendaknya cemaskanlah diri kalian sendiri; tidak perlu mencemaskan Buddha! Setelah Aku parinirvāṇa, akan ada para brāhmaṇa dan perumahtangga yang cermat, yang mengusungnya dengan segenap penghormatan.”



阿難言:「其禮云何?」
Ānanda berkata: “[Akan tetapi,] bagaimanakah penghormatan itu seharusnya dilakukan?”



眾祐曰:「如飛行皇帝送喪之儀。」
Sabda Bhagavan: “Selayaknya tatacara pemakaman seorang kaisar cakravartin.”



重曰:「願聞儀則!」
Kembali [Ānanda] berkata: “Kiranya kami dapat mendengar tatacara tersebut!”



眾祐曰:「聖帝崩時,以劫波育㲲,千張纏身。香澤灌上,令澤下徹。以香𧂐身,上下四面,使其齊同。放火闍維,撿骨香汁洗,盛以金甕。石為㽃瓳——縱廣三尺,厚一尺——四邊上下,各安一枚,金甕置中。跱剎懸繒,具供所應。起土為塔,華香供養。
Bhagavan bersabda: “Ketika seorang kaisar cakravartin mangkat, tubuhnya akan dibungkus dengan seribu lembar beludru karpāsika. Wewangian akan direcikkan, dari atas membasahi hingga ke bawah. Kemudian jenazahnya dialasi rumput harum: di atas, di bawah, dan di keempat sisinya supaya sama pejal. Api jhāpita disulutkan; dan setelahnya tulang-tulangnya dipungut, dibasuh dengan air wangi, lalu dikumpulkan dalam bejana emas. Struktur batu bata — panjang dan lebarnya tiga kaki, tebal satu kaki — disusun di empat sisi, atas, dan bawah, masing-masing selapis; di tengah-tengahnya bejana emas tersebut ditempatkan. Tiang didirikan, panji-panji sutera digantungkan, persembahan yang selayaknya diperlengkapkan. Sebuah stupa dibangun dengan mengurukkan tanah [di atasnya], lalu disaji bebungaan dan dedupaan.

「佛當踰彼。所以然者,吾自無數劫,以四等弘慈,行六度無極,經緯十方,拯濟群生;功福隆赫,成斯如來、無所著、正真道、最、正覺道法御、天人師,至尊難齊。各以把土供養塔者,其福無量。
“Seperti itulah seharusnya seorang Buddha [diperlakukan]. Mengapa demikian? Karena sejak berkalpa-kalpa yang tidak terbilang, dengan mengembangkan cinta-kasih dan empat kesetaraan (catvāri apramāṇāni), dengan melaksanakan enam pāramitā, Ia malang-melintang ke sepuluh penjuru demi menyelamatkan semua makhluk; jasa-jasa-Nya gilang-gemilang sehingga ia disebut Yang Datang Demikian (Tathāgata), Tanpa Kemelekatan (Arhat), Pencapai Jalan yang Benar dan Tepat (Samyaksaṃbuddha), Yang Tertinggi (Anuttara), Penjinak dengan Metode Pencerahan yang Tepat (Puruṣadamyasārathi), Guru Para Dewa dan Manusia (Śāstādevamanuṣyāṇām), Yang Termulia dan Sukar Disamaï (Bhagavan). Tidak terukurlah jasa-jasa setiap orang yang mempersembahkan segenggam tanah untuk stupa-Nya.

「末世穢濁,民有顛沛之命,財有五家之分。吾以是故,留舍利并鉢。以禳世顛沛之禍、安祐眾生,為宗廟像。令民覩,則沙門以經道化未聞;令生者永去牢獄之酷,死者免三塗之罪、必獲昇天,若為佛廟,當令殊彼矣!」
“Di Masa Akhir yang ternoda kecemaran, rakyat akan bernasib melarat, sementara kekayaan menjadi rebutan lima pihak. Oleh sebab itu, Kutinggalkan relikui śarīra dan pātra-Ku. Demi menangkal kemelaratan dunia dan menenteramkan makhluk hidup, dilakukan penghormatan pratima di caitya-caitya. Supaya rakyat dapat melihat, adalah para śramaṇa yang harus mengajarkan Jalan Dharma kepada yang belum mendengarnya; agar yang hidup tersingkir selamanya dari kekejaman penjara, agar yang mati terhindar dari hukuman di tiga jalur rendah dan pasti memperoleh kelahiran di alam surga, maka [penghormatan] yang dilakukan kepada caitya Buddha mestilah lebih unggul daripada tempat lain!”



阿難言:「鉢當如之?」
Ānanda berkata: “Bagaimanakah dengan pātra?”



佛言:「吾鉢者,四天大王之所獻也,合四以為一。佛所食器,群生慎無以食矣!
Buddha berkata: “Pātra-Ku dipersembahkan oleh empat Mahārāja-deva, merupakan empat mangkuk yang digabungkan jadi satu. Piranti bersantap Buddha janganlah digunakan oleh makhluk mana pun untuk makan!

「滅度之後,諸國諍之、民心邪荒、賤命貴婬、背孝尊妖。鉢當變化現五色光,飛行昇降,開化民心。黎庶覩之,追存佛德,去愚即明,順用正教,皆興廟寺,旌表佛德。
“Setelah Aku parinirvāṇa, negeri-negeri akan memperebutkannya, hati rakyat akan dilenakan kesesatan. Mereka akan meremehkan nyawa dan menghargakan nafsu, membelakangkan bakti dan memuliakan pikat. Pātra-Ku secara ajaib akan memancarkan cahaya pancawarna, terbang melayang turun-naik, merubah dan membuka hati rakyat. Ketika masyarakat jelata memandangnya, mereka akan menghayati kebajikan Buddha, menyingkirkan kebodohan menuju penerangan, menuruti dan menerapkan Ajaran Benar. Mereka semua akan membangun caitya-caitya dan vihāra-vihāra, serta mengibarkan kebajikan Buddha.

「轉當東遊,所歷諸國凶疫消歇、君民康休、穀帛豐穰、欣懌無患,終遠三塗,皆獲生天。極東國王仁而有明,鉢當翔彼。王崩之後,其嗣婬荒,廢真從邪。民心亦爾,覩鉢無肅敬之禮。天龍見之,悲喜迎鉢,還海供奉。
“[Pātra-Ku] kemudian berhijrah ke arah timur; di negeri-negeri yang dilaluinya wabah ganas akan terlenyapkan, pemerintah dan rakyatnya sehat walafiat, sandang dan pangan melimpah ruah, semua bergembira tanpa penderitaan, meninggal terjauhkan dari tiga jalur rendah, dan memperoleh kelahiran di surga. Adapun raja di negeri timur jauh merupakan seorang yang pengasih dan alim sehingga pātra-Ku beralih padanya. Setelah sang raja mangkat, keturunannya dilenakan oleh nafsu, mengabaikan kebenaran, dan mengikuti kesesatan. Hati rakyatnya pun demikian: ketika mereka memandang pātra tersebut, tiadalah penghormatan yang khidmat. Para dewa dan naga yang menampak keadaan tersebut merasa iba, sekaligus gembira demi menyambut pātra itu kembali ke samudra untuk dipuja.

「王亡尊鉢,憂忿交胸,布告諸國:『購鉢千金!』
“Ketika raja (di masa berikutnya) kehilangan pātra mulia, rasa sedih dan murka berkecamuk di dadanya, dan diberitahukannya ke segala negeri: ‘Akan kubayar pātra itu seribu kati emas (bagi yang menemukannya)!’

「連年募之,令出首尾。民貪重賞,遍索不得。
“Tahun demi tahun hal tersebut diumumkannya, kalau-kalau terbersit ujung-pangkal (kabarnya). Rakyat melobakan hadiah yang besar, namun mencahari ke mana-mana tiada dapat.

「時有賤人,其名曰師,訛作比丘,饕餮酒食,妻居育子。當醉提兒,詣宮門言:『吾知鉢處。』
“Saat itu adalah seorang hina bernama *Ācārya yang secara tidak sah menjadi bhikṣu. Ia gelojoh pada makanan dan minuman keras, tinggal bersama istrinya, dan membesarkan anak. Sewaktu mabuk sambil menggendong anaknya, ia menuju ke gerbang istana dan berkata: ‘Aku tahu keberadaan pātra itu.’

「王聞大喜,請沙門入,曰:『鉢所在乎?』
“Mendengar hal tersebut, raja amat gembira dan mempersilakan śramaṇa itu masuk, lalu berkata: ‘Di manakah pātra itu?’

「答曰:『先以金來。』
“Jawabnya: ‘Pertama-tama bawakanlah emasnya.’

「王賜金千斤。
“Raja pun menganugerahinya emas seribu kati.

「師曰:『惟沙門當盜之耳。』
“Ācārya berkata: ‘Ialah para śramaṇa yang mencurinya.’

「即下書拷推諸沙門。其毒酷烈,臣民覩之靡不怨王。
“Maka diturunkanlah titah untuk menginterogasi dan menekan para śramaṇa. Kekerasan itu begitu kejamnya sehingga, baik pejabat maupun rakyat yang memandangnya, tiada yang tidak membenci raja.




「王曰:『爾為誰沙門乎?』
“Ujar raja: ‘Engkau ini śramaṇa siapa?’

「答曰:『吾師事佛。』
“Jawabnya: ‘Guruku melayani Buddha.’

「王曰:『佛有何戒?』
“Ujar raja: ‘Buddha memiliki śīla apa?’

「師曰:『有二百五十戒。』
“Kata Ācārya: ‘Ada dua ratus lima puluh śīla.’

「王曰:『首戒云何?』
“Ujar raja: ‘Bagaimanakah śīla-śīla-Nya yang utama¹?’

「答曰:『第一、當遵慈仁。普惠恩施,逮及群生。視天下群生身命若己身命;慈濟悲愍,恕已安彼,道喜開化,護彼若身。潤逮草木,無虛机絕也。
“Jawab: ‘Pertama, mesti menaati kasih-sayang. Secara universal menyalurkan budi baik kepada semua makhluk; menganggap nyawa semua makhluk di kolong langit seperti nyawa sendiri, menolong dengan cinta-kasih dan rasa iba, bertepa-salira dan menenteramkan orang lain, membuka dan merubah [hati] dengan kegembiraan Dharma, menjaga orang lain bagaikan diri sendiri. [Kasih-sayang itu] bahkan diresapkan hingga kepada rerumputan dan pepohonan — tidak sembarang memusnahkannya tanpa alasan.’

「王曰:『善哉!佛之仁化懷天裹地,何生不賴焉!』
“Ujar raja: ‘Alangkah baiknya! Ajaran kasih Buddha mencakup langit dan melingkupi bumi, apa pun yang hidup tidak ditolaknya!’

「『二、當遵清。無積穢寶;尊榮國土,非有無篡;草芥之屬,非惠不取。』
“ ‘Kedua, mesti menaati kejujuran. Tiada menimbun harta yang tidak halal; terhadap negara yang mulia dan makmur, tidak memberontak/menjarah walau tidak berpunya (kekayaan); terhadap sehelai rumput atau sebiji sesawi, tidak mengambilnya jika tidak diberi.’

「王曰:『善哉!斯可謂清白者也。』
“Ujar raja: ‘Alangkah baiknya! Itu boleh disebut kejujuran sepolosnya.’

「『三、當遵貞。心無存婬、口無言調。偽聲邪色,一不視聽。覩彼婦人,以母、以姊、以妹、以女,寧就燔身,無為婬亂。』
“ ‘Ketiga, mesti menaati kemurnian. Hati tidak memelihara nafsu, mulut tidak mengucapkan rayuan gombal. Suara yang menggoda atau rupa yang memikat — satu pun tidak dianggap atau didengarkan. Memandang istri orang lain² sebagai ibu, sebagai kakak, sebagai adik, atau sebagai putri sendiri; lebih memilih tubuh terbakar daripada dikacaukan oleh nafsu.’

「王曰:『善哉!模真景淨,佛化為首矣。』
“Ujar raja: ‘Alangkah baiknya! Sebagai contoh kemurnian yang sesungguhnya, ajaran Buddha-lah yang terutama.’

「『四、當慎言。無兩舌、惡罵、妄言、綺語、前譽後毀,證入無辜,蠱道鬼妖、厭禱呪咀。寧就吞炭,不出毒聲也。』
“ ‘Keempat, mesti berhati-hati dalam perkataan. Janganlah lidah bercabang, memaki-maki, berdusta, mengomong kosong, memuji-muji di depan dan menjelek-jelekkan di belakang, atau — untuk membuktikan tidak bersalah — mengucapkan sumpah, atau mantra-mantra, guna-guna, sihir pengundang hantu, dsb. Lebih baik menelan bara daripada mengeluarkan suara yang beracun.’

「王曰:『善哉!佛化惴惴慄慄,慎言乃如茲乎!』
“Ujar raja: ‘Alangkah baiknya! Ajaran Buddha sungguh menggentarkan, memperhatikan perkataan hingga sedemikian!’

「『五、當絕酒。夫酒者,令君不仁、臣不忠、親不義、子不孝、婦人奢婬;厥失三十有六。亡國破家,靡不由茲。寧飲毒而死,不酒亂而生矣。』
“ ‘Kelima, mesti menyingkirkan minuman keras. Minuman keras menjadikan penguasa tidak berperikemanusiaan, pejabat tidak setia, orangtua tidak lurus, anak tidak berbakti, istri bermain serong; intinya ada tiga puluh enam kerugian. Runtuhnya negara dan hancurnya keluarga, tiada yang tidak bersumber darinya. Lebih baik mati meminum racun daripada hidup dikacaukan minuman keras³.’

「王曰:『善哉!佛之明化令吞德懷道,滅于眾惡、興于諸善;清淨為身、淡泊為志。經化令仁,而爾教吾令殺;戒云守清、無貪,而爾偷金;戒云無婬,而爾畜妻;戒當盡誠,而爾虛譖沙門,云其盜鉢,令吾罪無辜;戒無嗜酒,而爾醉來。外諸沙門有具斯五德為高行者不乎?』
“Ujar raja: ‘Alangkah baiknya! Ajaran Buddha dengan terang mengandung kebajikan dan mencakup Jalan, melenyapkan segala kejahatan, membangun aneka kebaikan; kemurnian menjadi pedoman diri, kesahajaan menjadi cita-citanya. Dharma mengajarkan agar berkasih-sayang, namun engkau mengajariku untuk membunuh; śīla-mu berbunyi harus menjaga kejujuran dan jangan serakah, namun engkau mencuri emas; śīla-mu berbunyi jangan berbuat cabul, namun engkau memelihara istri; śīla-mu mengharuskan engkau tulus seutuhnya, namun engkau memfitnah para śramaṇa, mengatakan mereka mencuri pātra, sehingga menyebabkan aku menghukum yang tidak bersalah; śīla-mu melarang minum minuman keras, namun engkau datang dalam keadaan mabuk. Para śramaṇa di luar sana apakah juga memiliki lengkap lima kebajikan seperti ini sebagai praktisi yang ulung?’

「答曰:『其為凶穢,甚於吾矣。』
“Jawab: ‘Mereka melakukan penodaan yang lebih biadab daripada aku.’

「王問有司:『諸沙門何以為業?』
“Raja pun bertanya kepada administratornya: ‘Apakah pekerjaan yang dilakukan para śramaṇa?’

「對曰:『分衛無度;其為眾穢,甚於彼師矣。』
“Sahut mereka: ‘Berpiṇḍapāta (=meminta-minta) dan hidup tanpa batas; berbagai penodaan yang mereka lakukan melebihi ācārya itu.’

「王曰:『佛戒有二百五十——仁過二儀、清等太素、貞齊虛空、信若四時,明跨日月。緣得斯類篡法服、偷應器、訛為沙門,亂正真乎?一戒不奉,而云二百五十。』
“Raja berkata: ‘Śīla-śīla Buddha ada dua ratus lima puluh — [berdasarkan prinsip-prinsip:] kasih-sayang yang melintasi kedua tatanan (langit dan bumi), kejujuran yang menyamaï kepolosan agung, kemurnian yang setara angkasa, kredibilitas yang bagaikan empat musim, kealiman yang melampaui matahari dan rembulan. Apakah karena mereka dapat menyelewengkan jubah Dharma, mencuri jatah yang selayaknya, dan secara tidak sah menjadi śramaṇa, maka kebenaran akan terkacaukan? Satu śīla pun tidak mereka junjung, namun mereka mengatakan dua ratus lima puluh.’

「勅有司曰:『佛清淨廟,賢聖所宗,非鳥獸之巢窟。逐出穢濁者,無令止佛廟矣!』
“Maka diperintahkannya administratornya: ‘Caitya Buddha yang kudus, yang dihormati orang-orang bajik dan suci, bukanlah sarang bagi unggas dan binatang. Usirlah keluar mereka yang ternoda kecemaran, jangan biarkan mereka berdiam di caitya Buddha!’

「國之君子欲興刹廟。惟無快賢處中,宣佛神化者,抆淚而止。自斯大道陵遲,神化日衰。」
“Penguasa negara berkenan membangun vihāra dan caitya. [Namun,] karena hanya mereka yang tidak menyenangi kebajikan yang tinggal di dalamnya, penyebaran ajaran spiritual Buddha akan terhenti dengan sekaan air mata. Dari situlah Jalan Agung akan mengalami kemunduran, matahari ajaran spiritual pun meredup.”



佛告阿難:「吾滅度後,留鉢及舍利。若有賢者肅心奉養,終皆昇天。」
Buddha memberitahu Ānanda: “Setelah Aku parinirvāṇa, Kutinggalkan relikui śarīra dan pātra-Ku. Jikalau terdapat orang-orang bajik yang memujanya dengan khidmat, setelah meninggal semuanya akan terlahir di surga.”



阿難言:「千歲之末,鉢現神德,變化若茲;豈況無上、正真道、最正覺之靈化乎!」
Ānanda berkata: “Di penghujung seribu tahun, keajaiban yang ditampilkan pātra itu bahkan menimbulkan transformasi sedemikian; apalagi keajaiban yang [langsung] ditransformasikan Samyaksaṃbuddha yang Telah Mencapai Pencerahan Tiada Tara!”



佛說經時,天、龍、鬼神、王臣四輩,靡不哽咽,稽首而去。
Pada saat Buddha membabarkan sūtra ini, para dewa, naga, yakṣa, raja, menteri, dan keempat kelompok, tiada yang tidak tersedu-sedan sambil memberi hormat, lalu pergi.






《佛滅度後棺殮葬送經》
Akhir dari Sūtra tentang Pemulasaraan dan Pengusungan Jenazah Buddha setelah Parinirvāṇa






CATATAN:

¹ Berdasarkan Tripiṭaka edisi Korea. Bacaan yang lebih umum: bagaimanakah menjaga śīla 守戒云何. (守 berhomofoni dengan 首.)

² Berdasarkan edisi Korea. Bacaan yang lebih umum: memandang orang lain yang lemah 覩彼羸人.

³ Daripada hidup dikacaukan minuman keras 不酒亂而生 — Bacaan Korea ini tampaknya diubah dengan sengaja agar simetris dengan klausa sebelumnya. Bacaan yang lebih umum hanya bersukukata empat: daripada hidup bermabuk-mabukan 不醉而生.

⁴ Berdasarkan edisi Korea. Bacaan yang lebih umum: [Dapat] kita perkirakan Jalan Agung akan mengalami kemunduran 自思大道陵遲. (思 berhomofoni dengan 斯.)