Powered by Administrator

Translate

Minggu, 08 Mei 2022

Sūtra tentang Śīla yang Menghapus Bencana

佛說戒消災經 Foshuo Jie Xiaozai Jing
ada posting sebelumnya telah dikatakan bahwa Śīla merupakan Pelindung yang Sejati. Bilamana substansi Śīla sudah kita miliki, jimat-jimat lain tidaklah perlu, sesuai kutipan Patriark Cʜᴀɴ-ᴊᴀɴ (lihat di sini): “Jikalau memegang Śīla, Buddha Śākyamuni berdiam dalam rumahmu.” Bukan hanya berdiam dalam rumah kita, Buddha bahkan bersemayam dalam diri kita. Kita identik dengan Buddha kualitas Śīla-nya.

Akan tetapi, seringkali kita dengar juga kesaksian orang yang menjalankan moralitas walau tidak pernah mengambil Śīla Buddhis atau mengambil secara asal-asalan (sehingga sebenarnya tidak memiliki substansi Śīla), dan mereka tetap terlindungi dari gangguan makhluk halus, tidak mempan diguna-guna, tidak bisa dikeker oleh cenayang, dsb. Dari manakah perlindungan tersebut diperoleh?

Sūtra pendek berikut mengisahkan adanya dewata-dewata penjaga śīla (langkah latihan) yang dikirimkan oleh Śakra, raja para dewa, untuk mengawal mereka yang bermoral. Kanon Taishō menggolongkan sūtra ini ke dalam divisi Vinaya meski, sebetulnya, ia lebih merupakan sebuah Avadāna. Katalog-katalog kuno menyebutnya sebagai 《戒消伏經》 (‘Sūtra tentang Śīla yang Menghapus dan Menaklukkan’). Namun, judul yang lebih populer kemudian adalah 《戒消災經》 (‘Sūtra tentang Śīla yang Menghapus Bencana’).

Terdapat tiga cerita pengambilan Śīla dalam teks ini. Yang pertama adalah pada seorang upāsaka dari Śrāvastī yang, tidak secara eksplisit diceritakan, mengambil Lima Śīla langsung dari Buddha (atau saṅgha). Pada cerita kedua, seorang pemilik pondokan yang sudah ogah-ogahan memiara makhluk halus untuk penyugihan, kemudian mengambil Lima Śīla dari upāsaka tersebut. Sah atau tidaknya pengambilan ini bisa dipertanyakan — mungkin baik kita anggap ini kasus darurat karena saat itu sukar menemukan anggota saṅgha yang dapat mentransmisikan Śīla. Dan ketiga, yang paling kontroversial, adalah pada seorang wanita yang diperistri hantu pemakan manusia. Ia mengambil Lima Śīla di hadapan suaminya yang bukan manusia yang, bahkan, tidak memegang Lima Śīla.

Pengawalan dari dewata-dewata penjaga śīla tidak menjadi tanda adanya substansi Śīla. Setelah mengetahui upāsaka dari Śrāvastī dikawal para dewata, pemilik pondokan memutuskan mengambil Lima Śīla agar dikawal juga dan dijauhkan dari makhluk halus piaraannya. Namun, ia ditinggalkan para dewata saat pikirannya kalut melihat tulang-belulang korban yang dimangsa hantu pemakan manusia, lalu menyesalkan kepergiannya berlindung kepada Tiga Permata, dan mengabaikan Lima Śīla karena berahi akan kecantikan istri hantu itu. (Padahal, substansi Śīla, yang berasaskan Tiga Perlindungan, baru rontok jikalau seseorang benar-benar serius menolak Triratna. Dan berbarengan dengan substansi Tiga Perlindungan, keduanya rontok secara formal sewaktu mengucapkan: “Aku menolak Triratna.”) Pengawalan dikatakan berlaku kembali ketika ia diam-diam ikut mengambil Lima Śīla lagi bersama istri sang hantu, sehingga mereka berdua tidak bisa didekati hantu tersebut.

Dapat kita lihat bahwa pengawalan dewata itu amat tergantung keadaan pikiran seseorang, berbeda dengan substansi Śīla yang tidak mudah rontok hanya karena memiliki buah-pikir berbeda (anyacitta 異心, lihat di sini). Orang yang menjalankan moralitas hanya dengan motivasi duniawi akan mendapat pengawalan dari dewata-dewata duniawi, sedangkan orang yang memiliki substansi Śīla akan mendapat pelindungan dari para Buddha — bahkan ia identik dengan Buddha. Dalam mengirimkan pengawalan, Śakra pun memiliki tujuan sendiri: demi menambah pasukan surgawi guna menghadapi para asura. Betapa bahagianya para dewa ketika mengetahui bahwa seorang bermoral akan terlahir menjadi bagian dari mereka (lihat di sini)!







《佛說戒消災經》
Sūtra tentang Śīla yang Menghapus Bencana
(T. № 1477)






吳 月支優婆塞支謙 譯
Diterjemahkan oleh upāsaka Tukhāra, Chih Ch’ien,
pada masa Dinasti Wu¹






聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在舍衛國。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī.



爾時,有一縣,皆奉行佛五戒、十善;一縣界無釀酒者。
Pada saat itu ada sebuah distrik yang seisinya menjunjung dan melaksanakan Lima Śīla Buddha dan sepuluh kebaikan; dalam batas sedistrik itu tiada yang memfermentasi arak.

中有大姓家子,欲遠賈販。臨行,父母語其子言:「汝勤持五戒、奉行十善;慎莫飲酒,犯佛重戒。」
Di sana ada putra dari keluarga berkasta tinggi yang hendak berniaga jauh. Menjelang perjalanannya, ayah–ibunya berucap kepada sang putra tersebut: “Tekunlah engkau memegang Lima Śīla, junjung dan laksanakanlah sepuluh kebaikan; wanti-wanti jangan kauminum arak atau kaulanggar Śīla berat Buddha!”

受教而行,往到他國。
Dengan menerima ajaran itu, ia jalan berangkat sampai di negeri lain.



見故同學、親友相得歡喜。
Manakala [di sana] dijumpaïnya rekan-rekan sepelajar dan kawan-kawan akrab lamanya, mereka pun saling mendapatkan kesukacitaan.

將歸,出蒲萄酒,欲共飲之。辭曰:「吾國土奉佛五戒,無敢犯者。飲酒後生為人愚癡,不值見佛。且辭親行,父母相誡以酒蒸仍違教犯戒,罪莫大也。知識區區,別久會同,心雖悅喜,不宜使吾犯戒、違親教也。」
Saat akan pulang, keluarlah arak anggur untuk diminum sama-sama. Ia menampik: “Di tanah negeriku Lima Śīla Buddha dijunjung, tiada yang berani melanggarnya. Minum arak akan menjadikan pada kelahiran mendatang orang yang bodoh, tidak dapat berjumpa Buddha. Bahkan sepamitanku berjalan, ayah–ibuku telah memperingatkan bahwa uap arak menentangkan ajaran dan melanggarkan Śīla — tiada dosa yang sebesar ia. Persahabatan solider dari kita yang berpisah lama lalu bertemu bareng, meskipun menggembirakan hati, tidaklah patut menjadi penyebabku melanggar Śīla dan menentang ajaran orangtuaku.”

主人言:「吾 與 卿 同師恩,則兄弟;吾親則是子親。父母相欽,豈可違之?若吾在卿家,必順子親。」
Tuan rumah berkata: “Aku dan Anda, terkasih guru yang sama, sudah menjadi saüdara; orangtuaku menjadi orangtuamu. Kita saling menghargaï ayah–ibu [satu sama lain], bagaimana boleh menentangnya? Jikalau aku berada di rumah Anda, tentu akan kupatuhi orangtuamu.”

事不獲已,乃聽飲之。醉臥三日;醒悟,心悔怖懼。
Karena tidak mendapat [jawab] hal ini, maka ia setuju meminumnya. Ia pun tertidur mabuk tiga hari dan, bila tersadar, batinnya menyesal dan merasa gentar.



事訖還家,具首於親。
Setelah urusannya selesai, kembalilah ia ke rumahnya; dengan lengkap dilaporkannya [permasalahannya] kepada orangtuanya.

父母報言:「汝違吾教,加復犯戒,亂法之漸,非孝子也。無得說之,為國作先。」
Ayah–ibunya membalas: “Engkau menentang ajaran kami, ditambah lagi melanggar Śīla; engkau merupakan tahapan bagi kacaunya Dharma dan bukan anak yang berbakti. Tiada dapatlah [permasalahanmu] dibabar sebab di negeri kita inilah yang pertama terjadi.”

便以所得物逐令出國,無宜留此。
Maka dengan segala banda sedapatnya, diusirlah ia ke luar negeri sebab tiada patut tinggal di situ.



子以犯戒,為親所逐,乃到他國,住客舍家。
Oleh melanggar Śīla, sang putra, yang diusir orangtuanya, pun sampai di negeri lain dan menetap pada keluarga sebuah rumah pondokan.

主人所事三鬼神能作人現,對面飲食、與人語言。
Adapun tiga dewata hantu yang dilayani pemilik [rumah pondokan itu] mampu menampilkan diri sebagai orang, makan–minum bersemuka, dan bercakap-cakap dengan manusia.

主人事之,積年疲勞,居財空盡;而家疾病、死喪不絕,患厭此鬼,私共論之。
Sang pemilik melayani mereka selama tahunan, berepot-repot dengan jerih hingga kekayaan yang ia kumpulkan ludes kosong; sementara keluarganya, yang menderita sakit-sakitan dan kematian tidak putus-putus, mengenggani hantu-hantu ini dan secara pribadi sama-sama menggunjingkannya.



鬼知人意而患苦之。
Hantu-hantu, yang mengetahui pikiran manusia, pun menderita karena menyusahinya.

鬼自相共議:「此人財產空訖,正為吾耳,未曾有益,令相厭患。宜求珍寶以施與之,令其心悅!」
Hantu-hantu itu saling berpendapat sama sendirinya: “Aset kekayaan orang ini sudah kosong telak demi kita — dan belum pernah kita ada menguntunginya — sehingga engganlah ia dan menderita. Patutlah bila kita mencari permata berharga dan memberikan kepadanya agar senang hatinya!”

便行盜他方國王庫藏好寶,積置園中,報言:「汝事吾歷年,勤苦甚久。今欲福汝,使得饒富。此乃快乎?」
Maka mereka menjalankan pencurian permata-permata bagus yang tersimpan dalam gudang perbendaharaan raja negeri lain, lalu menaruhnya bertimbun di kebun dan memberitahu: “Engkau telah melayani kami selama tahunan dan bersusah-payah amat lama. Kini kami hendak memberkatimu supaya dapat kaya-raya. Ini menggirangkanmu tidak?”

主人言:「受大神恩。」
Sang pemilik berkata: “Kuterima kasih dari dewata agung.”

鬼曰:「汝園中有金銀,可往取之,方有大福,令得汝願。」
Hantu-hantu berujar: “Di kebunmu ada mas dan perak. Berangkatlah mengambilnya, dan barulah tersedia berkat besar untuk mendapatkan apa yang kauharap.”

主人欣然入園,見物奇異,負摙歸舍,辭謝受恩:「明日欲設飲食,願屈顧下。」
Sang pemilik kegirangan memasuki kebun, menjumpaï benda-benda yang tak biasa dan istimewa, lalu memikul dan mendukungnya pulang ke rumah. Dengan sungkan ia menerima kasih: “Esok hari kami hendak menyediakan makanan dan minuman, mohon berkenanlah untuk acuh turun.”



施設餚饌皆辦,鬼神來詣門,見舍衛國人在主人舍,便奔走而去。
Saat penyediaan hidangan siap semuanya, para dewata hantu datang menghampiri pintu. Namun, demi ditampaknya orang dari Śrāvastī itu berada di rumah sang pemilik, maka dengan tergesa-gesa mereka kabur pergi.

主人追呼請還:「今設微供皆已辦具。大神既已顧下,委去何為?」
Sang pemilik mengejar dan memanggil, mengundang mereka kembali: “Kini persembahan remeh yang kami sediakan telah siap lengkap semuanya. Para dewata agung, yang telah acuh turun, menghindar pergi untuk apakah?”

神曰:「卿舍尊客,吾焉得前?」
Dewata berujar: “Rumah Anda [ada] tamu mulia, kami bagaimana dapat ke depan?”

重復驚走。
Terulang lagilah mereka kabur kengerian.



主人還歸坐自思惟:「吾舍之中無有異人,正有此人耳!」
Sang pemilik kembali pulang dan duduk berpikir sendiri: “Dalam rumahku tiada orang yang istimewa, telak ada orang ini [saja]!”

即出語言,恭設所有,極相娛樂。
Maka keluarlah percakapan [dengannya], disediakanlah dengan takzim apa-apa seadanya, terpuncaklah keasyikannya.



飲食已竟,因問之曰:「卿有何功德於世?有此,吾所事神畏子而走」,客具說佛功德、五戒、十善。
Setelah makan–minum usai, sebab ditanyaï: “Anda memiliki kebajikan apa di dunia? Dengan adanya ini, dewata yang kulayani takut kepadamu dan kabur”, sang tamu pun membabarkan dengan lengkap kebajikan Buddha, Lima Śīla, dan sepuluh kebaikan.

「實犯酒戒,為親所逐,尚餘四戒故,為天神所營護。卿神不敢當之。」
“Sungguhpun melanggar śīla pantang minuman-keras dan diusir orangtuaku, karena empat śīla lainnya, masihlah [atas diriku] diterapkan pengawalan oleh para dewata dewa. Dewata Anda takkan berani menghadapinya.”

主人言:「吾雖事此神,久厭之。今欲奉持佛五戒。」
Sang pemilik berkata: “Kendati melayani dewata ini, sudah lama aku mengengganinya. Kini kuhendak menjunjung dan memegang Lima Śīla Buddha.”



因從客受三自歸、五戒、十善,一心精進,不敢懈怠。問佛所在:「可得見不?」
Syahdan diikutinya sang tamu menerima Tiga Perlindungan, Lima Śīla, sepuluh kebaikan, dan dengan sepenuh hati bersemangat, tidak berani malas atau lalai. Keberadaan Buddha ditanyakannya: “Boleh dapatkah aku menjumpaï-Nya?”

客曰:「佛在舍衛國給孤獨園中,往立可見。」
Sang tamu berujar: “Buddha berada di Śrāvastī di Taman Anāthapiṇḍada. Kalau segera berangkat, bolehlah kaujumpaï.”



主人一心到彼,經歷一亭。中有一女人端正,是噉人鬼婦也。男子行路逈遠,時日逼暮,從女人寄止一宿。
Sang pemilik, yang bersepenuh hati untuk sampai ke sana, melalui sebuah paviliun. Di dalamnya adalah seorang wanita yang rupawan, yang merupakan istri hantu pemakan manusia. Pria itu (sang pemilik pondokan) menjalani rute yang melenceng jauh, sementara matahari telah mendesak senja. Jadi, pada wanita itu ditumpangnya menginap satu malam.

女即報言:「慎勿留此,宜急前去。」
Sang wanita pun membalas: “Wanti-wanti jangan kautinggal di sini; sepatutnya bangat pergilah [melaju lebih] ke depan.”

男子問曰:「用何等故,將有意乎?」
Pria itu bertanya: “Apakah gunanya? Akankah ada niat tertentu?”

女人報曰:「吾已語卿,用復問為?」
Sang wanita membalas: “Aku telah mengucapkan kepada Anda, untuk apa bertanya lagi?”

男子自念:「前舍衛國人,完佛四戒,我神尚為畏之乃爾。我已受三自歸、五戒、十善,心不懈怠。何畏懼乎!」遂自留宿。
Pria itu merenung sendiri: “Sebelumnya si orang Śrāvastī, oleh membaikkan empat śīla Buddha, bahkan sedemikian ditakutkan dewataku. Aku telah menerima Tiga Perlindungan, Lima Śīla, sepuluh kebaikan, dan batinku tidak malas atau lalai. Apalah yang akan kutakutkan!” Jadi, dilanjutkannya dirinya tinggal bermalam.

噉人鬼見護戒威神徘徊其旁,去亭四十里,一宿不歸。
Hantu pemakan manusia, yang menampak dewata-dewata berwibawa penjaga śīla mondar-mandir di sisinya, pergi dari paviliun empat puluh li dan semalaman tidak pulang.



明日男子進路,見鬼所噉人骸骨狼藉,衣毛為起。心怖而悔,退自思惟:「我在本國,家居衣食極快足用。空為此人所化,言佛在舍衛國,未覩奇妙,反見骸骨縱橫。」
Keesokan harinya pria itu melajui rute dan, demi ditampaknya acak-acakan tulang kerangka manusia yang dimangsa hantu, merindinglah bulu romanya. Batinnya ketakutan dan menyesal, lalu diundurkannya dirinya sambil berpikir: “Di negeri asalku sandang dan pangan yang dikumpulkan keluargaku cukup kupakai dengan kegirangan terpuncak. Sia-sia karena ajaran orang itu, yang berkata ‘Buddha berada di Śrāvastī’, sebelum kulihat ketakjuban ajaib-Nya, malah kutampak tulang kerangka malang–melintang.”

惡意更生,自念:「不如還彼女人,將歸本土,共居如故。不亦樂乎?」即時迴還,還至亭所。
Pikiran jahatnya muncul pula, ia merenung sendiri: “Tidakkah sebaiknya aku kembali kepada wanita itu, lalu memboyongnya pulang ke tanah asalku, dan bermukim bersamanya seperti dahulu. Bukankah ini juga menyenangkan?” Seketika itu ia beralih kembali, kembali tiba di tempat paviliun itu.

因從女人復求留宿。
Syahdan pada wanita itu dimohonnya lagi tinggal bermalam.



女人謂男子:「何復還耶?」
Sang wanita menyeru pria itu: “Mengapa kembali lagi?”

答曰:「行計不成;故迴還耳,復寄一宿。」
Jawabnya: “Rencana perjalananku tidak jadi; karenanya aku beralih kembali, menumpang lagi satu malam.”

女言:「卿死矣!吾夫是噉人鬼,方來不久。卿急去!」
Wanita itu berkata: “Anda mati! Suamiku adalah hantu pemakan manusia, baru akan datang tidak lama [lagi]. Anda bangatlah mati!”

此男子不信,遂止不去。心更迷惑,婬意復生,不復信佛三自歸之德、五戒、十善之心。
Pria ini tidak percaya, lanjut menginap dan tidak pergi. Batinnya menyimpang pula terkalutkan, pikiran nafsunya muncul lagi, tidak lagi ia meyakini kebajikan Tiga Perlindungan Buddhis atau berbuah-pikir akan Lima Śīla & sepuluh kebaikan.

天神即去,無復護之;鬼得來還。
Dewata dewa pun pergi, tiada lagi mengawalnya; hantu itu dapatlah datang kembali.



女人恐鬼食此男子,哀愍藏之瓮中。鬼聞人氣謂婦言:「爾得肉耶?吾欲噉之。」
Sang wanita, yang khawatir hantu akan memakan pria ini, berbelaskasih menyembunyikannya dalam tempayan. Hantu, yang mencium hawa manusia, berseru kepada istrinya: “Engkau mendapat dagingkah? Aku hendak memakannya.”

婦言:「我不行,何從得肉?」
Istrinya berkata: “Saya tidak jalan, dari mana mendapat daging?”

婦問鬼:「卿昨夜何以不歸?」
Sang istri menanyaï hantu: “Anda kemarin malam apa sebabnya tidak pulang?”

鬼言:「坐汝所為,而舍尊客宿,令吾見逐。」
Hantu berkata: “Aku menunggui apa yang kauperbuat, namun tamu mulia bermalam di rumah sehingga aku terusir.”

甕中男子踰益恐怖,不復識三自歸意。
Pria dalam tempayan terlampaulah makin ketakutan, tidak lagi mengenal niat akan Tiga Perlindungan.

婦言:「卿何以不得肉乎?」
Sang istri berkata: “Apa sebabnya Anda tidak mendapat daging?”

鬼言:「正為汝舍佛弟子,天神逐我出四十里外。露宿震怖,于今不安;故不得肉。」
Hantu berkata: “Telak karena siswa Buddha di rumahmu, dewata dewa mengusirku empat puluh li ke luar. Di tempat terbuka aku bermalam tergetar ketakutan, hingga kini tidak nyaman; karenanya tidak mendapat daging.”

婦聞默喜,因問其夫:「佛戒云何悉所奉持?」
Mendengarnya, sang istri terdiam gembira. Syahdan ditanyaïnya suaminya: “Bagaimanakah Śīla Buddha yang dijunjung dan dipegang semuanya?”

鬼言:「我大飢極,急以肉來,不須問此。此是無上正真之戒,非吾所敢說也。」
Hantu berkata: “Kelaparan hebatku memuncak; bangat datangkanlah daging, tidak perlu menanyakan hal ini. Ini adalah Śīla dari Kebenaran Sejati yang Tiada Tara, bukan hal yang berani kubabarkan.”

婦言:「為說之,我當與卿肉!」
Sang istri berkata: “Babarkanlah, saya akan memberi Anda daging!”



鬼類貪殘,欲食無止。
Adapun bangsa hantu loba dan kejam, bernafsu makan tiada henti.

婦迫問之,因便為說三自歸、五重戒:
[Teriming-iming] sang istri yang memaksa menanyakannya, syahdan maka dibabarinya Tiga Perlindungan dan Lima Śīla berat:

一曰、「慈仁不殺」;
“Pertama,” ujarnya, “berkasih–sayang tidak membunuh”;

二曰、「清信不盜」;
“kedua,” ujarnya, “jujur kredibel tidak mencuri”;

三曰、「守貞不婬」;
“ketiga,” ujarnya, “menjaga kastitas tidak berzinah”;

四曰、「口無妄言」;
“keempat,” ujarnya, “mulut tiada berkata dusta”;

五曰、「孝順不醉。」
“kelima,” ujarnya, “patuh berbakti dan tidak bermabuk-mabukan.”

鬼初說一戒時,婦輒受之——五戒心執、口誦。男子於甕中識五戒,隨受之。
Saat bermula hantu itu membabar satu śīla, sang istri seketika itu juga mengambilnya — kelima śīla pun ia genggam secara mental, ia lafalkan secara oral. Pria dalam tempayan [juga kembali] mengenali kelima śīla dan turut mengambilnya.

天帝知此二人心自歸佛;即選善神五十人,擁護兩人。鬼遂走去。
Penguasa para dewa, Śakra, mengetahui kedua orang ini batinnya berlindung kepada Buddha; maka dipilihnya dewata baik lima puluh orang untuk mengawal dan menjaga keduanya². Hantu itu pun lanjut kabur dan pergi.



到明日,婦問男子:「怖乎?」
Sampai keesokan harinya, sang istri bertanya kepada pria itu: “Takut tidak?”

答曰:「大怖!蒙仁者恩,心悟識佛。」
Jawabnya: “Takut sekali! Berkat menerima kasih Saudari, batinku pun terinsaf dan mengenali Buddha.”

婦言男子:「昨何以迴還?」
Sang istri berkata kepada pria itu: “Kemarin apa sebabnya engkau beralih dan kembali?”

答曰:「吾見新久死人骸骨,縱橫恐畏;故屈還耳。」
Jawabnya: “Kutampak tulang kerangka orang mati, yang baru dan yang lama, malang–melintang sungguh menakutkan; karenanya aku condong dan kembali.”

婦言:「骨是吾所棄者也。吾本良家之女,為鬼所掠,取吾作妻,悲窮無訴。今蒙仁恩,得聞佛戒,得離此鬼。」
Sang istri berkata: “Tulang itu akulah yang meninggalkannya. Aku semula adalah putri keluarga baik-baik yang diculik oleh hantu, yang mengambilku sebagai istri, sehingga prihatin tuntas tiada terungkapkan. Kini [juga] berkat menerima kasih Saudara, aku dapat mendengar Śīla Buddha, dapat meninggalkan hantu ini.”



婦言:「賢者。今欲到何所?」
Sang istri berkata: “Insan yang Arif³, kini hendak sampai ke mana?”

男子報言:「吾欲到舍衛國見佛。」
Pria itu membalas: “Aku hendak sampai ke Śrāvastī menjumpaï Buddha.”

婦曰:「善哉!吾置本國及父母,隨賢者見佛。」
Sang istri berujar: “Baguslah! Aku akan menaruh negeri asalku dan ayah–ibuku, dan menuruti Insan yang Arif menjumpaï Buddha.”

便俱前行,逢四百九十八人。因相問訊:「諸賢者從何所來,欲到何所?」
Maka mereka berjalan ke depan bersama dan bersua dengan empat ratus sembilan puluh delapan orang. Oleh sebab ini, mereka menanyaïnya kabar: “Insan yang Arif sekalian datang dari mana, hendak sampai ke mana?”

答曰:「吾等從佛所來。」
Jawab: “Kami datang dari tempat Buddha.”

問言:「卿等已得見佛,何為復去?」
Tanya: “Anda sekalian telah dapat menjumpaï Buddha, untuk apa pergi lagi?”

報言:「佛日說經;意中罔罔故尚不解。今還本國。」
Balas: “Buddha tiap hari membabarkan sūtra; karena dalam pikiran kami melayang-layang, kami bahkan tidak paham. Kini kembalilah kami ke negeri asal.”

兩賢者具說本末,以鬼畏戒。高行之人,意乃開解,俱還見佛。
Kedua Insan yang Arif membabarkan secara lengkap ujung–pangkalnya bagaimana hantu takut akan Śīla. Para Praktisi Tinggi pun pikirannya terbuka dan memahami, lalu kembali bersama menjumpaï Buddha.



佛遙見之,則笑,口中五色光出。
Apabila dari kejauhan Buddha menampak mereka, maka tersenyumlah Beliau, dan dari mulut-Nya keluar cahaya pancawarna.

阿難長跪:「佛不妄笑;將有所說?」
Ānanda pun bertelut: “Buddha tidak sembarang tersenyum; akankah ada yang Beliau sabdakan?”

佛語阿難:「汝見是四百九十八人還不?」
Buddha bersabda kepada Ānanda: “Tampakkah olehmu empat ratus sembilan puluh delapan orang yang kembali ini?”

對曰:「見之。」
Sahutnya: “Tampak.”

佛言:「此四百九十八人,今得其本師;來見佛者,皆當得道。」
Buddha berkata: “Empat ratus sembilan puluh delapan orang ini kini mendapati gurunya yang asali; mereka yang datang menjumpaï Buddha semuanya akan mendapat Jalan.”



五百人至佛所前,為佛作禮,一心聽經,心開意解,皆作沙門,得阿羅漢道。
Kelimaratus orang itu pun tiba di hadapan Buddha, memberi-Nya hormat, dan dengan sepenuh hati menyimak sūtra. Batin mereka terbuka, pikirannya memahami; semuanya menjadi śramaṇa dan mendapat Kearhatan.



佛言:「犯酒戒者,則是客舍主人 與 此女人累世兄弟也;然此二人是四百九十八人前世之師也。世人求道,要當得其本師及其善友,爾乃解耳。」
Buddha berkata: “Ia yang melanggar śīla pantang minuman-keras adalah dengan pemilik rumah pondokan dan wanita ini kakak–beradik selama berkehidupan-kehidupan; namun, kedua orang ini merupakan guru dari kehidupan terdahulu empat ratus sembilan puluh delapan orang itu. Orang-orang di dunia yang mencari Jalan maulah mendapat guru asali dan sahabat-sahabat yang baik, barulah akan memahami [Jalan tersebut].”



佛說經竟,諸比丘皆大歡喜,前為佛作禮而去。
Usai Buddha menyabdakan sūtra ini, para bhikṣu semuanya merasa amat bersukacita, lalu ke depan memberi Beliau hormat dan pergi.






《佛說戒消災經》
Akhir dari Sūtra tentang Śīla yang Menghapus Bencana






CATATAN:

¹ Salah satu kerajaan dari zaman Tiga Negara (220–280). Atribusi kepenerjemahan sūtra ini pada Chih Ch’ien diragukan.

² Masing-masing dikawal oleh 25 dewata. Siapa sajakah dewata itu tidak kita ketahui dari sūtra ini. Nama-nama mereka pertama kali disebutkan di jilid 4 Sūtra tentang Dhāraṇī Agung yang Diucapkan Tujuh Buddha dan Delapan Bodhisattva 《七佛八菩薩所說大陀羅尼神呪經》 (T. № 1332). Untuk setiap langkah latihan dari Lima Śīla, ada lima dewata penjaganya sbb.:

護戒神 Fo Shuo Jie Xiao Zai Jing

Yang diperikan daftar ini tampaknya lebih merupakan nama golongan dewata tertentu, alih-alih nama pribadi perorangan.

³ Skt. satpuruṣa.

Sabtu, 07 Mei 2022

Memiliki Śīla dalam Diri merupakan Pelindung yang Sejati, Jimat Lain Tidak Diperlukan

Di bab III Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa Sūtra (T. vol. 9, № 272 hlm. 321b) Buddha memujikan Śīla Pāramitā kembali kepada Mañjuśrī dengan mengucapkan gāthā:

  1. 戒善持行者  如鳥飛虛空
    不懼墮生死  諸趣惡道中

    Praktisi yang Śīla-nya dipegang baik
    laksana burung yang terbang di angkasa:
    tidak gentar dalam saṃsāra akan terjatuh
    ke segala jalur kelahiran rendah.

  2. 惡道大毒龍  無明諸羅剎
    見持淨戒者  恭敬捨害心

    Naga berbisa jalur kelahiran rendah (durgati),
    para rākṣasa kegelapan batin (avidyā),
    demi melihat pemegang Śīla yang murni,
    menghormat dan melepaskan niat mencelakaïnya.

  3. 一切諸如來  安隱住涅槃
    斷諸惡趣道  皆由持戒故

    Sekalian Tathāgata pun dapat
    berdiam sentosa dalam Nirvāṇa
    dan memotong segala jalur kelahiran rendah
    berkat dari pada memegang Śīla.

  4. 是故諸佛子  欲求無上道
    堅固諸善本  持戒波羅蜜

    Oleh sebab itu, para putra Jina yang
    ingin mencari Pencerahan Tiada Tara
    dan kukuh dalam segala dasar kebaikan,
    hendaknya memegang Śīla Pāramitā.

Minggu, 01 Mei 2022

Ber-śīla, tetapi Tidak Ber-Śīla

Sudah mengikuti upacara pengambilan Śīla tetapi, karena tidak yakin dan tidak mengerti, tidak memperoleh substansi Śīla. Selanjutnya berusaha menjalankan “śīla” semaksimal mungkin. Apakah hal ini ada gunanya?

Kita ambil saja contoh orang yang dituntut tradisi negaranya, lalu mengikuti upasaṃpadā untuk menjadi bhikṣu sementara — padahal, seperti pembahasan kita terdahulu, substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Walau didasari ketidakmengertian, ia kemudian tetap menjaga segala aturan layaknya seorang bhikṣu. Ia mungkin juga akan makan sehari sekali, hanya mengenakan tiga lembar kain sebagai jubah, tidur dalam posisi duduk, hidup fakir tanpa uang, berjalan kaki ke mana-mana tanpa sepatu, dsb.

Ketatnya pelaksanaan “śīla” tersebut, sayangnya, tidak kondusif membawa Kesucian. Menyambung kutipan kita sebelumnya (lihat di sini dan di sini), dalam Mahāprajñāpāramitā Upadeśa Bodhisattva Nᴀ̄ɢᴀ̄ʀᴊᴜɴᴀ mempersamakan saja praktik-praktik tersebut dengan pertapaan keras (duṣkara caryā) para tīrthika:

若人棄捨此戒,雖山居苦行,食果服藥,與禽獸無異。
Jika seseorang membuang Śīla ini, kendati bermukim di gunung menjalankan praktik pertapaan keras, hanya memakan buah-buahan dan mengonsumsi jamu-jamuan, ia tidaklah berbeda dengan unggas atau binatang.

或有人但服水為戒,或服乳,或服氣;
Ada orang yang hanya minum air sebagai disiplinnya, atau minum susu, atau makan angin;

或剃髮,或長髮,或頂上留少許髮;
ada yang mencukur rambut, atau memanjangkan rambut, atau meninggalkan sedikit kuncung di puncak kepala;

或著袈裟,或著白衣,或著草衣,或木皮衣;
ada yang mengenakan jubah kaṣāya, atau mengenakan jubah putih, atau mengenakan jubah rumput, atau mengenakan jubah kulit kayu;

或冬入水,或夏火炙;
ada yang di musim dingin berendam air, atau di musim panas berpanggang api;

若自墜高巖,若於恒河中洗;
ada yang menjatuhkan diri dari tebing tinggi, atau berbasuh di Sungai Gaṅgā;

若日三浴,再供養火,種種祠祀,種種呪願。
ada yang sehari mandi tiga kali, lagi memuja api dengan berjenis-jenis pengurbanan, dengan berjenis-jenis mantra.

受行苦行,以無此戒,空無所得。
[Walau] mengambil dan menjalankan praktik pertapaan keras, namun karena tidak memiliki Śīla ini, kosonglah tiada yang diperoleh.

若有人雖處高堂大殿,好衣美食,而能行此戒者,得生好處 及 得道果。
Jika ada orang yang meski tinggal di mansiun tinggi atau astana agung, berpakaian bagus atau bermakanan lezat, namun mampu melaksanakan Śīla ini, dapatlah ia terlahir di tempat yang baik dan memperoleh Jalan & Buah.

若貴若賤、若小若大,能行此淨戒,皆得大利。
Entah kaya entah miskin, entah besar entah kecil, jikalau mampu melaksanakan Śīla murni ini, semuanya akan mendapat keuntungan besar.

Pemeo populer mengatakan sia-sia “bertekun mengembangkan praktik pertapaan keras, namun bukan [menjadi] sebab Nirvāṇa” (勤修苦行,非涅槃因), dan tampaknya muncul pertama kali dalam tulisan-tulisan patriark kesembilan T’ien-t’ai, Cʜᴀɴ-ᴊᴀɴ alias Mɪᴀᴏ-ʟᴏ. Apa sajakah yang bukan menjadi sebab Nirvāṇa? Dalam bab XXVI Lalitavistara 《方廣大莊嚴經》 (T. vol. 3, № 187 hlm. 607b), pada khotbah pertama-Nya di Taman Rusa, Buddha menyebutkan:

一者、心著欲境而不能離——是下劣人·無識凡愚·非聖所行,不應道理,非解脫因,非離欲因,非神通因,非成佛因,非涅槃因。
1. Melekatkan batin pada objek nafsu dan tak mampu tercerai — itu dijalani oleh mereka yang hina, makhluk biasa bodoh yang tak berpengetahuan, bukan orang suci; tidak bersesuaian dengan prinsip Jalan; bukan sebab Kebebasan; bukan sebab keceraian dari nafsu; bukan sebab penembusan spiritual; bukan sebab pencapaian Kebuddhaan; bukan sebab Nirvāṇa.

Dan yang setara dengan hal itu:

二者、不正思惟,自苦其身而求出離,過·現·未來 皆受苦報。
2. Tidak dengan pertimbangan tepat, menyiksa dirinya sendiri demi mencari pertolakan [dari saṃsāra] sehingga dahulu, sekarang, dan mendatang, di segala masa mereka menerima akibat penderitaan.


Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya berbunyi:

「善男子。有人勤求優婆塞戒,於無量世如聞而行,亦不得戒。有出家人求比丘戒、比丘尼戒,於無量世如聞而行,亦不能得。何以故?不能獲得解脫分法故;可名修戒,不名持戒。」
“Putra berbudi, ada orang yang dengan tekun mencari Śīla upāsaka, lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan Śīla. Ada pula pravrajita yang mencari Śīla bhikṣu atau Śīla bhikṣuṇī, lalu selama berkelahiran-kelahiran yang tak terukur melaksanakannya sesuai yang didengarnya, namun juga tidak mendapatkan Śīla. Apakah sebabnya? Karena mereka tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan. Mereka boleh disebut ‘mengembangkan śīla’, tetapi tidak disebut ‘memegang Śīla’.”

Seseorang bisa saja melaksanakan moralitas serupa upāsaka Buddhis karena sebelumnya sudah pernah mendengar isinya, entah ia kemudian mencari Śīla (memohon Pañca Śīla) dari seorang guru atau tidak. Begitu pula seseorang bisa saja melaksanakan aturan yang lebih ketat serupa bhikṣu Buddhis karena sebelumnya sudah pernah mendengar isinya, entah ia kemudian mencari Śīla (memohon upasaṃpadā) atau pergi bertapa sendiri. Walaupun sudah memohon Śīla, karena ketidakmengertian, pelaksanaan “śīla” tersebut sia-sia belaka sebab ia tidak memperoleh bagian Pembebasan (substansi Śīla). Dalam kehidupan ini mustahillah ia dapat merealisasi Kebebasan.

Permisalan dalam kutipan ini bahkan terlalu bagus karena sangat langka orang yang tidak memperoleh bagian Pembebasan bisa bertemu kembali kesempatan untuk memohon Śīla berulang-ulang. Kebanyakannya, pelaksanaan “śīla” tersebut hanya menjadi karma baik duniawi yang segera berbuah habis di kehidupan berikut sebelum Kebebasan sempat terealisasi.

Bagi orang yang tidak mau belajar mengerti (tidak mau banyak mendengar), Candrapradīpa Samādhi 《月燈三昧經》 (lebih dikenal dengan judul Samādhirāja Sūtra, T. vol. 15, № 639 hlm. 558a) memperingatkan:

自恃持戒慢  而不學多聞
持戒報盡已  還復受諸苦

Seseorang yang sombong mengandalkan pemegangan Śīla sendiri,
namun tidak belajar banyak mendengar,
setelah akibat pemegangan Śīla tersebut berakhir,
akan kembalilah lagi ia menerima berbagai penderitaan.

Ini adalah peringatan bagi yang memang memiliki substansi Śīla, yang dijamin oleh Buddha realisasi Kebebasannya dalam kehidupan ini atau mendatang. Bahkan mereka pun harus memperhatikan hal ini; apalagi orang yang asal-asalan mengambil Śīla, yang tidak mau tahu apakah substansi Śīla terbentuk dalam dirinya atau tidak!

BUKAN JURIAT BUDDHA IA YANG TIDAK MEMILIKI SUBSTANSI ŚĪLA


「若有人問:『汝誰種姓?』,當答彼言:『我是沙門釋種子也。』亦可自稱:『我是沙門種,親從口生,從法化生,現得清淨,後亦清淨。』所以者何?大梵名者,即如來號;如來為世間眼,為世間智,為世間法,為世間梵,為世間法輪,為世間甘露,為世間法主。」
“Jikalau ada orang bertanya: ‘Kamu klan atau kasta apa?’, maka hendaklah kamu menjawab: ‘Kami adalah śramaṇa, putra-putra Ia dari klan Śākya.’ Juga boleh kamu menyebut diri: ‘Kami adalah juriat sang Śramaṇa, dilahirkan langsung dari mulut-Nya, lahir dari transformasi Dharma, kini beroleh kemurnian, kelak pun juga murni.’ Mengapa demikian? Istilah Mahā Brahmā ialah gelar Tathāgata; Tathāgata ialah mata bagi dunia, Pemahaman bagi dunia, Dharma bagi dunia, Brahmā bagi dunia, roda Dharma bagi dunia, amerta bagi dunia, yang empunya Dharma dunia ini.”

—— *Cūlla Nidāna Sūtra 《小緣經》
(‘Sūtra Kecil tentang Kausalitas’)


Membalas klaim kasta brāhmaṇa bahwa para brāhmaṇa dilahirkan langsung oleh Brahmā, lahir dari Brahmā (Brahman?), pada petikan di atas Buddha mengajari Vāsiṣṭha dan Bhāradvāja untuk menjawab bahwa mereka śramaṇa yang dilahirkan langsung oleh Buddha, lahir dari Dharma. Petikan ini bersumber dari padanan Aggañña Sutta versi Dharmaguptaka, yang ditempatkan sebagai sūtra ke-5 Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 37b). Menurut versi Sarvāstivāda, yang ditempatkan sebagai sūtra ke-154 Madhyama Āgama (T. vol. 1, № 26 hlm. 674a), jawaban yang diajarkan kepada Vāsiṣṭha dan Bhāradvāja hanya meniru klaim para brāhmaṇa: “Kami [pun] brāhmaṇa, putra-putra Brahmā, dilahirkan dari mulutnya, ditransformasikan oleh Brahmā demi Brahmā” (我等梵志是梵天子,從彼口生,梵梵所化), tetapi dengan catatan bahwa Brahmā adalah gelar sang Tathāgata sendiri.
catur varna
Gelar-gelar unik, yang berlainan pada setiap versi, selanjutnya ditambahkan lagi masing-masing. Versi Pāli memerikan daftar: Dhammakāya, Brahmakāya, Dhammabhūta, Brahmabhūta. Penyebutan Tathāgata sebagai Dhammakāya (‘tubuh Dharma’) adalah yang paling menarik, mengingatkan kita pada posting terdahulu bahwa Buddha merupakan pertubuhan dari sempurnanya kualitas-kualitas Dharma — Śīla, Samādhi, Prajñā, Vimukti, dan Vimukti-jñāna-darśana. Dengan mengajarkan Dharma (Latihan Berunsur Tiga), Buddha berusaha menghantarkan semua makhluk kepada Dharma (kualitas-kualitas sempurna, yakni Nirvāṇa, yang merupakan tubuh-Nya).

Ketimbang menyelenggarakan upacara-upacara kurban seperti para brāhmaṇa, Buddhisme, sebagai sebuah tradisi śramaṇa, lebih mengutamakan kebajikan personal untuk mencapai Pembebasan. Hal ini terlihat dalam praktik Latihan Berunsur Tiga, yang diawali Śīla. Dengan menerima Śīla, benih tubuh Dharma sesungguhnya ditanamkan dalam diri seseorang; ia diinisiasi ke dalam tubuh Dharma. Oleh karena itu, siswa-siswi Buddhis yang menerima Śīla dikatakan ‘lahir dari Dharma’ (dharmaja).

Menerima Śīla berarti pula meneruskan juriat Buddha. Bagaimana bisa kita mengaku sebagai putra seseorang jikalau kita tidak memiliki DNA yang sama dengannya dalam diri kita? Begitu pula bagaimana bisa kita mengaku sebagai putra-putra Jina jikalau kita tidak memiliki substansi Śīla yang sama dengan-Nya dalam diri kita?

Sayangnya banyak orang yang mengambil Śīla, tetapi tidak memperoleh substansi Śīla karena tidak yakin dan tidak mengerti apa yang mereka ambil. Mereka mengambil Śīla demi status sosial belaka (agar sah dianggap sebagai upāsaka atau bhikṣu di mata masyarakat), dan hanya secara eksternal saja kelihatan Buddhis. Meskipun mungkin melaksanakan “śīla” layaknya Buddhis dan memperoleh sedikit manfaat dengan menerapkan ajaran Buddha, mereka ibarat orang yang melakukan operasi plastik agar wajahnya terlihat mirip dengan orang yang mereka aku sebagai bapa. Namun, sampai kapan pun mereka tetap bukan anaknya sebab tidak memiliki DNA yang sama dengannya.