Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Hsing-shih ch'ao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hsing-shih ch'ao. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 April 2022

Kamar yang Gelap Ribuan Tahun, Dengan Satu Pelita Teranglah


又如冬時雪自凝積,日所照故,雪自消散。行人清淨戒日舒光,罪雪盡消亦復如是。
Pun bagaikan salju musim dingin yang bertumpuk membeku: oleh pancaran matahari, buyarlah salju itu meleleh dengan sendirinya. Praktisi yang disinari matahari Śīla yang murni, salju kejahatannya juga meleleh habis sedemikian.

又如室中千年黑闇,一燈倏照,黑闇都盡。亦如行人千生之中所積黑業,……,爍黑闇業,一切都盡。
Pun bagaikan kegelapan ribuan tahun dalam sebuah kamar: oleh pancaran kilat sebuah pelita, berakhirlah kegelapan itu seluruhnya. Begitu pula praktisi yang selama ribuan kelahiran menumpuk karma hitam, …, leburlah segala karma gelap hitam itu, berakhir seluruhnya.

—— Subāhu-paripr̥cchā Tantra 《妙臂菩薩所問經》
(T. vol. 18, № 896 hlm. 759b)

※

Pancaran pelita yang dalam seketika menerangi “kamar gelap ribuan tahun” (varṣasahasra-sañcita-tamondhakāra) merupakan perumpamaan yang sering muncul dalam sūtra, dan populer dikutip oleh penulis-penulis Buddhis, dengan segala variasi (misalnya: mengganti ribuan dengan ratusan). Perumpamaan ini digunakan untuk menggambarkan berbagai hal: Dharmaratna, Śīla, bodhicitta, satu pengamatan Kebenaran Sejati, buah-pikir bertobat, lafalan mantra/nama Buddha, dsb.

Mengulangi penjelasan yang sudah sering kita bahas dari Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 25c) karya Vinayācārya Tᴀᴏ-ʜsᴜ̈ᴀɴ, bahwa:

未受戒前,惡遍法界;今欲進受,翻前惡境,並起善心。故戒發所因還遍法界。
Sebelum menerima Śīla, kejahatan kita merata (memenuhi) Dharmadhātu; kini, saat kita berhasrat maju menerima, kita menukar lingkup kejahatan sebelumnya, serta membangkitkan buah-pikir baik. Oleh karena itu, penyebab terbentuknya [substansi] Śīla terpulang pada serata Dharmadhātu.

Kejahatan kita merata terhadap segenap Dharmadhātu. Walau tidak pernah (atau mungkin pernah di kehidupan-kehidupan lampau — kita tidak ingat lagi) membentuk avijñapti khusus untuk melakukan kejahatan, batin kita senantiasa didasari tiga racun sehingga segenap Dharmadhātu bisa menjadi objek kejahatan kita: baik terhadap yang tak-hidup, maupun yang hidup. Terhadap objek hidup pun bisa mereka yang ada di enam ranah makhluk biasa (pr̥thagjana), maupun di empat ranah pribadi suci (ārya).

Akan tetapi, dengan batin didasari kasih–sayang, kini kita yakin dan berhasrat menerima Śīla para Buddha. Apa yang sebelumnya menjadi lingkup kejahatan kita, kini bertukar menjadi lingkup kebaikan. Segenap Dharmadhātu dalam seketika terliputi buah-pikir baik kita. Jadi, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup pembentukan substansi Śīla (yang merupakan tubuh Dharma kausal) ialah serata Dharmadhātu (yang merupakan tubuh Dharma pada tataran hakiki).




Perumpamaan pancaran pelita yang tersua paling awal adalah dalam sūtra pertama Mahāsannipāta 《大方等大集經・瓔珞品》 (T. vol. 13, № 397 hlm. 4c) terjemahan Dharmakṣema sekitar tahun 414. Dalam sūtra ini Buddha memuji para Bodhisattva yang berhasil memasuki berbagai Samādhi lalu menguntungi banyak makhluk sbb.:

「善男子。譬如一處百年闇室,一燈能破;汝等亦爾,無量世中無明黑闇,今日能破。如日月寶光,住信戒施慧禪定亦爾。」
“Putra berbudi, ibarat kegelapan kamar ratusan tahun di suatu tempat, yang dengan satu pelita mampu terhancurkan, kalian pun demikian: kegelapan dari ketidaktahuan (avidyā) selama kehidupan-kehidupan yang tiada terukur, pada hari ini mampu terhancurkan. Bagaikan cahaya mustika mentari atau rembulan, berdiam dalam keyakinan (Śraddhā), moralitas (Śīla), derma (Dāna), kebijaksanaan (Prajñā), dan meditasi (Dhyāna) begitu pula.”

Maka sekali lagi di sini ditekankan pentingnya Śīla sebelum bisa memperoleh Samādhi dan Prajñā, dan Śīla tidak bisa dimiliki jikalau kita tidak yakin kepada Dharma tentang Śīla itu sendiri. Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra yang kita kutip sebelumnya menyatakan:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha, Śīla adalah dasarnya.

Sabtu, 09 April 2022

Yakinlah bahwa Apa yang Diperoleh itu Sungguh merupakan Benih Tubuh Dharma

Maka kita hendaknya yakin bahwa penerimaan Śīla sungguh merupakan inisiasi ke dalam tubuh Dharma yang sama yang direalisasi Buddha dan para ārya. Hanya melaluinyalah Kebuddhaan kelak akan tercapai sebab, apabila benih tidak ditanam, bagaimana bisa Buah diperoleh.

Petikan dari Brahmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. vol. 24, № 1484 hlm. 1004a) berikut konteksnya membahas disiplin Bodhisattva, yang mengatur penghindaran kejahatan jasmani, ucapan, hingga pikiran. Namun, sebetulnya relevan juga untuk disiplin Prātimokṣa umum yang hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan — baik itu Pañca Śīla perumahtangga yang sangat general, maupun Upasaṃpanna Śīla monastik yang lebih mendetail.

「汝是當成佛  我是已成佛
 常作如是信  戒品已具足

 “Kamu adalah Buddha yang akan jadi;
 Aku adalah Buddha yang telah jadi.
 Senantiasa yakini hal ini sedemikian,
 maka anggota Śīla sudahlah lengkap.

 一切有心者  皆應攝佛戒
 眾生受佛戒  即入諸佛位
 位同大覺已  真是諸佛子」

 Semuanya yang memiliki batin
 hendaklah memeluk Śīla Buddha ini.
 Makhluk hidup yang menerima Śīla Buddha,
 akan memasuki posisi para Buddha.
 Setelah berkedudukan sama dengan Pencerahan Agung,
 sungguhlah mereka merupakan para putra Jina.”

Sewaktu mendefinisikan siapakah seorang upāsaka (lihat di sini), Bhadanta Sᴀɴ̇ɢʜᴀʙʜᴀᴅʀᴀ, guru Vaibhāṣika konservatif yang mengomentari syair-syair (kārikā) Abhidharmakośa karangan Vasubandhu, menulis dalam Nyāyānusāra Śāstra 《阿毘達磨順正理論》 (T. vol. 29, № 1562 hlm. 554b) sbb.:

分同諸佛,得淨尸羅,善意樂故。
Ia (=seorang upāsaka) mendapat bagian yang sama dengan para Buddha, [yakni] Śīla yang murni, sebab kecenderungan pikirannya yang baik.

Di jilid pertama Fa-hua wên-chü chi 《法華文句記》 (‘Catatan atas Kata-kata dan Kalimat dari Saddharma-puṇḍarīka’, T. vol. 34, № 1719 hlm. 162c) Guru Besar Cʜᴀɴ-ᴊᴀɴ alias Mɪᴀᴏ-ʟᴏ, patriark kesembilan Sekolah T’ien-t’ai, menulis:

故論云:「若持五戒,釋迦文佛在汝家中。」
Karenanya Śāstra menyatakan: “Jikalau memegang Lima Śīla, Buddha Śākyamuni berdiam dalam rumahmu.”


Vinayācārya Tᴀᴏ-ʜsᴜ̈ᴀɴ juga menulis di seksi kedelapan Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 26a):

《薩婆多》云:「新受戒人 與 佛 戒齊德也。」
Sarvāstivāda[-vinaya Vibhāṣā] menyatakan: “Orang yang baru menerima Śīla identik dengan Buddha kualitas Śīla-nya.”

Pernyataan ini bersumber dari penjelasan untuk pāyantika/pātayantika ke-20 di jilid 7 Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 545b):

闡那作房,即日成即崩倒。作此大房用三十萬錢——功用甚大。
Chandaka membuat mansiun (mahallaka) yang hari itu jadi, hari itu juga roboh. Pembuatan mansiun besar ini menggunakan tiga puluh laksa kārṣāpaṇa — biaya dan tenaga yang amat besar.

諸比丘為檀越說法:「房雖崩倒,功德成就。房未壞時,佛已到此房中,即是受用。佛是無上福田;佛既受用,功德深廣、不可測量。
Para bhikṣu membabarkan Dharma kepada dānapati: “Meskipun mansiun ini roboh, namun jasa-jasa Anda telah tercapai. Sebelum mansiun hancur, Buddha sempat sampai di mansiun ini, menerima penggunaannya. Buddha adalah ladang jasa yang tiada taranya; jika Buddha sudah mengambil penggunaan, maka jasa-jasa Anda dalam dan ekstensif, tiada boleh terduga atau terukur.”

又云:「房始成時,有一新受戒年少比丘戒德清淨,入此房中,以楊枝猗房。以此一持戒比丘,已畢檀越信施之德。」
Pun mereka berkata: “Saat mansiun mulaï jadi, ada seorang bhikṣu muda yang baru menerima Śīla, yang murni kualitas Śīlanya, memasuki mansiun ini, dan dengan kayu penyugi (dantakaṣṭha) ia bersandar pada mansiun [menggosok gigi]. Oleh satu bhikṣu pemegang Śīla ini, sudahlah terserap kebajikan dānapati yang berderma dengan keyakinan.”

若起億數種種房閣、種種莊嚴,下至金剛地際,高廣嚴飾猶若須彌。設有一淨戒比丘,暫時受用,已畢施恩。何以故?
Kalaulah dibangun berjenis-jenis gedung mansiun sejumlah kotian unit, dengan berjenis-jenis ornamen ke bawah tanah hingga batas bajra (vajratalashāna), dengan tinggi menjulang terhias bagaikan Sumeru. Lalu seandainya terdapat seorang bhikṣu dengan Śīla murni yang mengambil penggunaannya sekejap saja, maka sudahlah terserap budi dari derma tersebut. Apakah sebabnya?

佛於無量劫中修菩薩行。今得成佛道,始體解波羅提木叉以授眾生。波羅提木叉非世間法;是背離世俗、向泥洹門。
Selama berkalpa-kalpa tiada terukur Buddha mengembangkan praktik bodhisattva. Kini, setelah Beliau berhasil mendapat Kebuddhaan, mulaïlah disubstansiasi dan dipahamkan-Nya Prātimokṣa dengan memberikannya kepada makhluk lain. Prātimokṣa bukanlah dharma duniawi; ialah Pintu untuk membelakangkan keduniawian dan menghadap Nirvāṇa.

凡房舍、臥具、飲食、湯藥是世間法,非是離世難得之法。是故!一淨戒比丘若暫受用,已畢施恩。
Setiap tempat tinggal, perlengkapan tidur, makanan, dan obat-obatan adalah dharma duniawi, bukan dharma adiduniawi yang sukar didapat. Oleh sebab itu, seorang bhikṣu dengan Śīla murni, jikalau mengambil penggunaannya sekejap saja, maka sudahlah terserap budi dari derma tersebut!

Selasa, 22 Oktober 2019

Inisiasi ke dalam Tubuh Dharma

Keyakinan yang Tak Tergoyahkan terhadap Śīla, sebagai salah satu faktor srotāpatti, didefinisikan dalam sūtra-sūtra sebagai keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ 聖所愛戒). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara. Anāsrava Saṃvara akan terbentuk pada ārya-pudgala, minimal pada seorang srotāpatti-pratipannaka. (Tentu saja terdapat perbedaan derajat Anāsrava Saṃvara di antara berbagai tingkat kesucian, di mana yang terunggul dimiliki oleh para aśaikṣa — lihat di sini.) Jadi, keyakinan seorang srotāpanna terhadap Śīla bukan hanya berarti keyakinan bahwa Śīla (Prātimokṣa Saṃvara) adalah pemotong nafsu, melainkan juga keyakinan diri bahwa Śīla (Anāsrava Saṃvara) mulaï direalisasi olehnya.

Seperti halnya Dharma sebagai ajaran dan Dharma sebagai Nirvāṇa adalah dua aspek dari Dharmaratna yang sama, begitu pula Prātimokṣa Saṃvara sebagai metode dan Anāsrava Saṃvara sebagai realisasi adalah dua aspek dari Śīla yang sama, yang merupakan agregat tubuh Dharma. Menerima Prātimokṣa Saṃvara (tipe apa pun) berarti menerima benih bagi sempurnanya tubuh Dharma. Sepatutnya kita merasa beruntung apabila Prātimokṣa Saṃvara telah terbentuk dalam diri kita, sebab kita menjadi calon ārya-pudgala di masa datang.

Vinayācārya Tao-hsüan mengatakan dalam  Hsing-shih ch’ao  bahwa Śīla sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan. Tepatlah bila dalam  Upāsaka Śīla Sūtra  Śīla-Śīla Buddhis hanya boleh disebut sebagai śīla adiduniawi. Maka kita mesti menghargaï setinggi-tingginya upaya Buddha mentransmisikan Dharma para suci tersebut kepada kita. Dengan berkenan memberikannya, Beliau telah menginisiasikan kita ke dalam tubuh Dharma.


Tatkala itu kelimaratus wanita Śākya, dengan mulut berlainan dalam satu suara, bersungguh hati merenungkan Buddha: “Namaḥ Śākyamunaye Tathāgatāyārhate Samyak-saṃbuddhaya.” Kembali lagi mereka berseru: “Alangkah menderitanya! Alangkah menderitanya! Alangkah sakitnya! Alangkah sakitnya! Aduhai Bhagavan, sang Sugata!” Pada saat mereka menyeru demikian, berkat kekuatan akar kebaikan cintakasih Tathāgata, di angkasa muncullah awan Mahākaruṇā, hujanlah hujan Mahākaruṇā, yang menghujani tubuh para wanita itu. Setelah menerima hujan tersebut, tangan dan kaki tumbuh pada tubuh mereka seperti sediakala. Para wanita itu amat bergembira dan bersama-sama berseru:“Tathāgata adalah bapa yang penyayang, Bhagavan yang tiada taranya, obat mujarab bagi dunia, biji mata dunia ini, mampu mencabut penderitaan di Triloka dan menganugerahkan kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena kini kita beroleh kelepasan dari penderitaan dan kesukaran. Kini kita harus merenungkan budi Sang Buddha, harus merenungkan membalas budi.” Para wanita merenung: “Bagaimanakah cara kita membalas budi Buddha? Tubuh Tathāgata adalah tubuh vajra, tubuh yang senantiasa bersemayam, tubuh tanpa kelaparan dan dahaga, tubuh dengan fisik yang menakjubkan, yang diperlengkapi dengan ratusan ribu samadhi, indera, kekuatan, faktor Pencerahan, 32 ciri yang tak terbayangkan dan 80 tanda tambahan; Ia sempurna memiliki dua hiasan, bersemayam dalam Nirvāṇa Agung; Ia samarata memandang semua makhluk sebagai Rāhula, menganggap setara yang memusuhi maupun yang mengasihi-Nya, juga tidak pernah mengharapkan balasan ….”


Tiada cara untuk berterimakasih kepada Beliau selain mengikuti jejak 500 wanita Śākya dalam  Mahopāya-kauśalya Buddha Pratyupakāraka Sūtra 《大方便佛報恩經》 (T. vol. 3, № 156 hlm. 152b), yang dipulihkan-Nya setelah selamat dari pembantaian Raja Virūḍhaka, dan berkata:

「欲報佛恩,當持禁戒,護持正法。」
“Jikalau hendak membalas budi Buddha, haruslah kita memegang Śīla demi menjaga bertahannya Saddharma.”

夫能維持佛法,三乘道果相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。
Kemampuan mempertahankan Buddhadharma, dan bersinambungnya Jalan & Buah ketiga Kendaraan tanpa terputus, sepenuhnya bergantung pada Prātimokṣa sebagai akar.

Kamis, 09 Maret 2017

Motivasi dalam Mengambil Disiplin Buddhis (2)

Lebih buruk dari orang yang mengambil Śīla karena berharap lahir di surga dengan menjalankan moralitas, adalah mereka yang tidak benar-benar berniat menjalankan disiplin, namun mengambilnya hanya demi status. Misalnya: seseorang mengambil Pañca Śīla supaya dipandang sebagai umat Buddha yang baik, supaya dianggap telah menjadi upāsaka yang sah sehingga “lebih tinggi” kedudukannya dibandingkan umat lain yang hanya merupakan simpatisan dalam acara-acara keagamaan. Ada lagi orang yang tidak memiliki keterampilan atau kesulitan mendapat pekerjaan, lalu mengikuti upasaṃpadā supaya dianggap sah sebagai bhikṣu di mata masyarakat sehingga dapat hidup dalam komunitas saṅgha.

Dalam Upāsaka Śīla Sūtra bab IV, “Tentang Pembebasan” 《優婆塞戒經·解脫品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1037a), Buddha bersabda:

「善男子。若人不能一心觀察生死過咎、涅槃安樂,如是之人,雖復惠施、持戒、多聞,終不能得解脫分法。若能厭患生死過咎,深見涅槃功德安樂,如是之人,雖復少施、少戒、少聞,即能獲得解脫分法。」
“Putra berbudi, jikalau seseorang tidak dapat dengan sepenuh hati mengamati keburukan dari saṃsāra dan kebahagiaan dari Nirvāṇa, maka meskipun orang tersebut suka berderma, memegang śīla, atau banyak mendengarkan [Ajaran], ia takkan dapat memperoleh bagian Pembebasan. Jikalau seseorang dapat merasa enggan akan keburukan saṃsāra dan melihat secara mendalam kualitas Nirvāṇa yang membahagiakan, maka meskipun ia sedikit berderma, sedikit memegang Śīla, sedikit mendengar [Ajaran], ia tentu dapat memperoleh bagian Pembebasan.”

Orang yang mengambil dan menuruti disiplin Buddhis, tetapi masih menggemari kelahiran di surga, takkan memperoleh bagian Pembebasan. Apalagi mereka yang mengambilnya tanpa benar-benar berniat untuk menurutinya! Substansi disiplin sesungguhnya tidak terbentuk dalam diri mereka; mereka telah membuang-buang kesempatan emas berjumpa dengan Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan dharma unik (dharmāntara) yang hanya ada pada masa śāsana seorang Samyaksaṃbuddha. Oleh sebab itu, Śīla-Śīla Buddhis seharusnya benar-benar diambil dengan dilandasi semangat untuk bertolak dari saṃsāra.




Bagaimanakah semangat tersebut harus kita kembangkan pada saat kita mengambil Śīla? Vinayācārya Tao-hsüan mengutip (komentar) vinaya kuno berjudul P’i-pa¹ 毘跋律, yang kini telah hilang, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 26 a–b):

  1. 發心:「我今求道,當教一切衆生,衆生皆惜壽命」,以此事受,是下品輭心。雖得佛戒,猶非上勝。
    Dengan membangkitkan tekad: “Kini aku hendak mencari Pencerahan; [untuk itu] aku harus menolong semua makhluk sebab semua makhluk menyayangi hidupnya”, ini merupakan penerimaan yang motivasinya asor dan lemah. Walaupun Śīla-Śīla Buddhis didapatkan, namun tidaklah unggul.
“Menolong semua makhluk” bisa diartikan:
  • Sekadar tidak menyakiti makhluk hidup mana pun, sebab semua makhluk menyayangi hidupnya.
  • Membimbing dengan Dharma supaya mereka tidak hanya selamat di masa sekarang, tetapi juga dapat mengatasi segala penderitaan di masa datang.
  • Menyeberangkan seutuhnya dengan berbagai upaya hingga mereka benar-benar mencapai Kebuddhaan.
Maka “Pencerahan” yang dimaksudkan di sini ialah Buah yang dicita-citakan pengikut kedua Kendaraan Kecil, yang hanya sekadar membangkitkan tekad untuk tidak mencelakaï makhluk hidup mana pun.

  1. 餘二就義明之。
    [Seperti motivasi di atas,] kedua lainnya akan diterangkan sampai pengertiannya.

    云何中品?若言:「我今正心向道,解衆生疑。我爲一切作津梁,亦能自利、復利他人」,受持正戒。
    Bagaimanakah motivasi madya? Apabila seseorang berkata: “Kini dengan batin yang sungguh-sungguh terarah kepada Pencerahan, aku akan mengatasi keraguan semua makhluk. Aku hendak menjadi jembatan penyeberang bagi semua agar dapat, selain menguntungi diriku sendiri, juga menguntungi yang lain”, lalu ia menerima dan memegang Śīla dengan tepat.
“Pencerahan” yang diarah di sini ialah Kebuddhaan. “Keraguan” atau ketidakmantapan menyebabkan semua makhluk terombang-ambing dalam siklus saṃsāra karena terus membuat karma baru. Seorang bodhisattva junior bertindak sebagai “jembatan”, mengenalkan Dharma kepada semua makhluk agar, seperti dirinya, semuanya juga berkesempatan untuk mencapai Pencerahan.

  1. 云何上品?若言:「我今發心受戒,為成三聚戒故,趣三解脫門,正求泥洹果。又以此法引導眾生,令至涅槃;令法久住。」
    Bagaimanakah motivasi utama? Apabila seseorang berkata: “Kini aku membangkitkan tekad hendak menerima Śīla demi menyempurnakan Tiga Etika Akumulatif, demi memasuki Tiga Gerbang Pembebasan dan sungguh-sungguh mencari Buah Nirvāṇa. Dengan Dharma ini, aku akan menarik semua makhluk agar mereka tiba di Nirvāṇa; juga agar Saddharma dapat bertahan lama.”

    如此發心尚是邪想,況不發者,定無尊尚!
    Bahkan orang yang membangkitkan tekad-tekad seperti di atas masih mungkin memiliki pemikiran salah, apalagi yang tidak membangkitkan sama sekali — pastilah tiada mereka indahkan [disiplinnya]!
“Tiga Etika Akumulatif” sering disebut-sebut dalam berbagai teks Mahāyāna, misalnya pada bab VII Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020c). Etika umum bodhisattva ini terdiri atas:
  • Memutuskan semua kejahatan, yakni mengekang diri dalam disiplin (saṃvarika śīla 攝律儀戒).
  • Mengembangkan semua kebaikan (kuśaladharma-saṃgrāhaka śīla 攝善法戒).
  • Menguntungi semua makhluk (sattvārtha-kriyā śīla 攝眾生戒).
Tanpa melalaikan Pencerahannya sendiri, seorang bodhisattva berupaya dengan empat hal yang membawa ketertarikan (catvāri saṃgrahavastūni) untuk menyeberangkan semua makhluk seutuhnya “agar tiba di Nirvāṇa”. Namun, sementara bersungguh-sungguh “mencari Buah Nirvāṇa” bagi dirinya maupun makhluk lain, ia memasuki tiga “Gerbang Pembebasan” (vimokṣa-mukha) yang kosong (śūnya), tanpa-tanda (animitta), dan tanpa-hasrat (apraṇihita). Upayanya menarik makhluk lain untuk mencapai Pencerahan yang sama dengan dirinya pada gilirannya akan diikuti makhluk tersebut, yang juga akan berupaya membawa makhluk lain lagi menuju Pencerahan yang sama, dan seterusnya. Dengan demikian, “Saddharma akan dapat bertahan lama”.






CATATAN:

¹ *Vivarta? *Vibhā? Atau mungkin malah *Vibhāṣā? Jika kita anggap rekonstruksi yang terakhir ini benar, maka teks ini sesungguhnya tidak memiliki judul khusus — nama P’i-pa lü semata-mata hanya berarti ‘komentar vinaya’ (vinayavibhāṣā).

Katalog tertua yang masih lestari, Ch’u san-tsang chi chi 《出三藏記集》(T. vol. 55, № 2145 hlm. 13c), menyebutkan P’i-pa lü dalam “Koleksi Sūtra, Vinaya, dan Śāstra yang Baru Dikumpulkan” 〈新集經律論録〉 sebagai keluaran Śramaṇa Shih Fa-tu 沙門釋法度出 pada masa pemerintahan Kaisar Ch’i Wu-ti (482–493). Tidak ada keterangan apa-apa yang diberikan Sêng-yu, yang menerbitkan katalog ini k.l. tahun 515.

Jilid 11 tawarikh Fei Chang-fang, Li-tai San-pao chi 《歴代三寶紀》 (T. vol. 49, № 2034 hlm. 96a), yang berisi daftar nama-nama penerjemah pada masa Dinasti Ch’i, Liang, dan Chou, juga hanya mengatakan bahwa Śramaṇa Shih Fa-tu dari Yang-chou 揚州 mengeluarkan dua karya:
  • *Kṣāranadī Sutra 《灰河經》 (sebuah sūtra dari Saṃyukta Āgama?), dan
  • P’i-pa lü 《毘跋律》.
Masing-masing dalam satu jilid.

Katalog zaman Sui, Chung-ching mu-lu 《眾經目録》 (T. № 2146) terbitan Fa-ching dkk. pada tahun 593, adalah yang pertama yang menyangsikan otentisitas P’i-pa lü. Pada jilid 5 (vol. 55, hlm. 140a), di antara teks-teks vinaya piṭaka Hīnayāna 〈小乘毘尼藏録〉, P’i-pa lü digolongkan dalam §4-6 sebagai “palsu” atau “didustakan” (眾律偽妄). Alasannya: karena Fa-tu menggunakan istilah lü 律 (vinaya) pada judulnya, lalu menyatakan teks ini sebagai karya terjemahan [dari sumber berbahasa Indis]. Kecaman ini sepertinya berdampak pada kelestarian P’i-pa lü. Meskipun para vinayācārya masih mengutipnya, selepas zaman T’ang teks ini tidak pernah dimasukkan ke dalam kanon Tionghoa edisi cetak, dan lambat laun akhirnya punah.

Atribusi palsu Fa-ching sebetulnya masih bisa kita sanggah. Memang benar lü 律 digunakan untuk menerjemahkan judul suatu vinaya piṭaka, misalnya: 《他毘利律》 (Sthāvirīya Vinaya, vinaya piṭaka kaum Sthaviravādin), 《摩訶僧祇律》 (Mahāsāṅghika Vinaya), 《根本薩婆多部律》 (Mūlasarvāstivāda-nikāya Vinaya), dsb. Akan tetapi, Samantapāsādikā nāma Vinayavibhāṣā (T. № 1462), yang diterjemahkan ke bahasa Tionghoa dengan judul Shan-chien lü p’i-p’o-sha 《善見律毘婆沙》, kadang-kadang ditulis Shan-chien p’i-p’o-sha lü 《善見毘婆沙律》 (dan disingkat Shan-chien lü 《善見律》). Padahal, jelas itu merupakan sebuah kitab komentar. P’i-pa lü tampaknya juga bukan terjemahan vinaya piṭaka suatu mazhab — walaupun tidak banyak yang dapat kita katakan mengenaï isinya, karena telah punah. Satu-satunya petikan lain yang diketahui terdapat dalam teks Tun-huang Szŭ-fên lü ping lun yao-yung ch’ao 《四部律并論要用抄》 (T. vol. 85, № 2795 hlm. 701b), yang menerangkan tatakrama seorang bhikṣu dalam menerima derma makanan. Beserta dengan petikan yang dikutip Tao-hsüan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa P’i-pa lü mengomentari suatu vinaya [Hīnayāna], namun berdasarkan sudut pandang Mahāyāna.

Kata ch’u 出 pada 釋法度出 (‘keluaran Shih Fa-tu’) belum tentu berarti ‘terjemahan’. Fa-tu bisa saja memang bukan “menerjemahkan” (譯出) dari sebuah teks tunggal, tetapi “mengumpulkan” (集出) dari pelbagai sumber-sumber komentar menjadi satu kitab.⤴

Senin, 20 Februari 2017

Menjadi Baik Tidak Sama dengan Memiliki Śīla

問:一切善作,盡是戒否?
Tanya: Segala tindakan baik apakah semuanya merupakan Śīla?

答:律儀所攝善作名戒。自餘十業,但單稱善,不名為戒。
Jawab: Tindakan baik yang tercakup di bawah disiplin sajalah yang dinamakan Śīla. Sepuluh perbuatan (daśa kuśala karma) di luar itu hanya disebut sebagai kebaikan, bukan dinamakan Śīla.

—— Lü-tsung hui-yüan 《律宗會元》
(Zokuzōkyō vol. 60, № 1110 hlm. 40c),
dirangkum oleh Bhikṣu Shou-i 守一比丘 (Sung)

※

Banyak orang di dunia yang tidak pernah membuat komitmen tertentu untuk berpantang, dan mereka tetap tidak melakukan kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, dsb. Dalam kacamata Buddhis, ada sepuluh jalan (patha) untuk melakukan perbuatan jahat (akuśala karma): tiga melalui jasmani, empat melalui ucapan, dan tiga melalui pikiran. Penghindaran dari segala kejahatan ini tentu saja digolongkan sebagai kebaikan. Akan tetapi, itu cuma kebaikan, yang dilakukan berdasarkan dorongan naluri, dan bukan merupakan disiplin karena terikat komitmen.

Dari kesepuluh jalan perbuatan jahat, Prātimokṣa Saṃvara hanya mengatur penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan. Hal ini sesuai dengan pandangan Hīnayāna yang menganggap tindakan pikiran belum merupakan karma yang sebenarnya (lihat di sini). Tiga kejahatan pikiran hanya merupakan “jalan karma” (karmapatha) sehingga jikalau seseorang yang mengambil Pratimokṣa Samvara melakukannya, ia tidak melanggar disiplin.

Berbeda halnya dengan Bodhisattva Saṃvara di mana penghindaran kejahatan pikiran juga diatur sebagai bagian dari disiplin. Jika seseorang yang sudah mengambil Bodhisattva Saṃvara (misalnya berdasarkan Mahāyāna Brahmajāla Sūtra 《梵網經》, T. № 1484) menyimpan dendam dalam pikirannya — hanya berpikir, dan tidak diekspresikan melalui tindakan ucapan atau jasmani — ia sudah melakukan salah satu pelanggaran berat. Oleh karena itu, disiplin bodhisattva lebih sulit pelaksanaannya.

Tiga langkah latihan pertama dari Pañca Śīla Buddhis bunyinya sama dengan penghindaran tiga kejahatan jasmani. Sedangkan mengenaï langkah latihan keempat, ada perbedaan penafsiran. Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa langkah latihan keempat hanya berkenaan dengan penghindaran dari kedustaan. Menurut sistém Satyasiddhi, langkah latihan keempat mencakup pula penghindaran tiga kejahatan ucapan lainnya.


Agar lebih jelas, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 54b) Vinayācārya Tao-hsüan membuat empat kombinasi:

1.  KEBAIKAN NAMUN BUKAN DISIPLIN 善而非戒
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, penghindaran tiga kejahatan pikiran hanya merupakan kebaikan dan bukan bagian disiplin Prātimokṣa. Bagi orang-orang di dunia yang memang tidak pernah mengikatkan diri dengan disiplin apa pun, bahkan penghindaran kesepuluh kejahatan hanya kebaikan semata dan bukan disiplin.

Hal-hal lain seperti berderma, melakukan meditasi, dsb. juga merupakan kebaikan, tetapi tidak berkaitan dengan norma moralitas. Disiplin Prātimokṣa tidak mengaturnya. (Akan tetapi, bisa saja merupakan bagian dari disiplin non-Buddhis yang, misalnya, menetapkan pengikutnya berdosa apabila tidak berderma untuk menyucikan harta.)

2.  DISIPLIN NAMUN BUKAN KEBAIKAN 戒而不善
Ini terjadi ketika seseorang mengambil “Śīla” yang negatif (asaṃvara — lihat pembahasan sebelumnya). Istilah “Śīla” kurang sesuai di sini karena asaṃvara justru berkaitan dengan kedursilaan. Komitmen seseorang untuk menjalankan profesi sebagai tukang jagal, misalnya, merupakan sebuah disiplin, namun bukan kebaikan.

Contoh lain disiplin yang bukan kebaikan misalnya disiplin non-Buddhis yang mengatur pengikutnya cara berpakaian tertentu, melaksanakan tapa-brata, dll.

3.  KEBAIKAN SEKALIGUS DISIPLIN 亦善亦戒
Penghindaran dari tiga kejahatan jasmani dan empat kejahatan ucapan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara. Sedangkan penghindaran kesepuluh kejahatan merupakan bagian dari disiplin mereka yang mengambil Bodhisattva Saṃvara.

Penghindaran seluruh dari sepuluh kejahatan bisa saja menjadi bagian dari disiplin non-Buddhis tergantung bagaimana ajaran mereka masing-masing.

4.  BUKAN KEBAIKAN JUGA BUKAN DISIPLIN 倶非
Bagi mereka yang mengambil Prātimokṣa Saṃvara, misalnya, melakukan perbuatan yang sifatnya netral (avyākr̥ta) melalui jasmani atau ucapan.

Selasa, 22 April 2014

Ruang Lingkup Śīla ; Tiga Pandangan Berbeda mengenaï Substansi Śīla: Sarvāstivāda, Satyasiddhi, dan Yogācāra

Tao-hsuanarma, yang menjadi penyebab kita terus berada dalam saṃsāra, yang kita lakukan sejak waktu yang tak berawal hingga keberadaan jasmani dan batin kita dalam kehidupan sekarang, sungguh tak terhitung. Seandainya karma memiliki wujud fisik, seluruh ruang angkasa pun takkan cukup menampungnya. Karma bermula dari pikiran, dan pikiran kita yang delusif meliputi seluruh Dharmadhātu. Maka jangkauan pembentukan dan pelaksanaan Śīla juga meliputi seluruh Dharmadhātu — baik terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup, baik terhadap makhluk biasa maupun para suci. Pengertian ini haruslah benar-benar kita pahami. Bagaimana substansi Śīla dapat terbentuk, serta bagaimana kelak kita dapat mempraktekkan Śīla apabila, saat menerima Śīla, kita tidak mengetahui apa yang merupakan ruang lingkupnya?

Menerima Śīla berarti mengubah kecenderungan untuk terus berbuat karma buruk, dan beralih kepada kemurnian moral, sehingga benih yang baik bertumbuh dan menjadi dasar tercapainya Kebuddhaan. Sewaktu seseorang menerima Śīla, kehendaknya mendorongnya untuk memutuskan segala pikiran sesat dan tidak berbuat kejahatan lagi. Pada saat itu seluruh Dharmadhātu, yang juga merupakan ruang lingkup dari Dharma, tergetar. Awan kebenaran Dharma akan berhimpun menaunginya, serta menghujani dan berdiam memenuhi dirinya. Afinitas antara Dharma dengan dirinya itulah yang menimbulkan karma, dan karma tersebut memiliki substansi.

Jadi, substansi Śīla tak lain adalah substansi karma ketika melakukan perbuatan Penerimaan Śīla. Substansi Śīla yang termanifestasi (saṃvara vijñapti) dapat ditangkap melalui organ penglihatan dan pendengaran, nampak dalam aktivitas-aktivitas jasmani (misalnya: berlutut, bernamaskāra, dsb.) maupun ucapan (misalnya: menjawab pertanyaan, mengulangi rumusan Perlindungan, mengucap ikrar, dsb.) sewaktu mengambil Śīla. Aktivitas-aktivitas jasmani dan ucapan akan selesai dengan segera, dan tidak memiliki daya untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan begitu selesai dilakukan. (Maka dapat kita pahami: dengan sekadar mengucap janji — yang merupakan aktivitas ucapan — seseorang tidak serta-merta memperoleh Śīla.) Untuk itu, diperlukan substansi Śīla yang tak termanifestasi (saṃvara avijñapti), yang dapat bersinambung terus sejak terbentuk hingga akhir (misalnya: hingga seumur hidup atau selama jangka waktu tertentu), yang tidak terpengaruh aktivitas keempat skandha penyusun mental (perasaan, pencerapan, bentukan, kesadaran). Bentukan dapat bersifat baik (kuśala 善), tidak baik (akuśala 不善), atau tak-pasti/netral (avyākr̥ta 無記); tiga skandha lainnya bersifat netral; sedangkan saṃvara avijñapti semata-mata hanya bersifat baik.

Lebih lanjut, saṃvara vijñapti hanya merupakan sebab yang dapat mengundang buah/akibat karma di masa depan. Saṃvara avijñapti, sebaliknya, di samping dapat mengundang akibat karma di masa depan, juga memiliki kemampuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan. Sepanjang avijñapti tersebut bertahan, kemampuan ini akan berkembang dari momen ke momen (sehingga karma baik seseorang juga dapat berkembang). Namun, kalau avijñapti itu rusak (misalnya, karena ia melepas Śīla 捨戒 — hal ini akan kita bahas nanti), maka kemampuan ini juga hilang. Hanya akibat karma (yang baik) di masa depan saja, yang datang dari substansi Śīla yang terbentuk sewaktu melakukan perbuatan Penerimaan Śīla, yang dapat berbuah.


Mengenaï esensi dari saṃvara avijñapti, paling tidak ada tiga variasi pandangan mazhab yang berbeda-beda. [Tentang penggolongan mazhab-mazhab, lihat Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》, T. vol. 40, № 1804 hlm. 96b.] Dalam Szŭ-fên-lü hsing-shih ch’ao tzŭ-ch’ih chi 《四分律行事鈔資持記》 (T. vol. 40, № 1805 hlm. 157b), yang merupakan komentar Vinayācārya Ling-chih Yüan-chao 靈芝元照 dari dinasti Sung atas Hsing-shih ch’ao, ketiga pandangan ini ditautkan pada:

  1. Mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma 實法宗
Mazhab-mazhab ini berpegang bahwa segala yang terkondisi tidak kekal, merupakan penderitaan, dan tanpa-aku. Segala fenomena terbentuk karena sebab (hetu 因) dan pendukung (pratyaya 緣). Yang disebut “diri” tidak lain hanyalah kumpulan dari berbagai faktor dasar (dharma 法). Diri ini pada hakikatnya kosong tanpa-aku. Namun, faktor-faktor dasar pembentuknya adalah benar-benar riil/ada. Salah satu mazhab terkenal yang menganut pandangan ini ialah Sarvāstivāda.

Dalam sistém abhidharma Sarvāstivādin, kāya vijñapti dan vāk vijñapti digolongkan sebagai materi (rūpa 色), masing-masing di bawah basis/landasan objek penglihatan (rūpāyatana 色處 atau 色入 pada terjemahan lama) dan objek pendengaran (śabdāyatana 聲處 atau 聲入) karena keduanya dapat dilihat dan didengar. (Pandangan yang mirip dianut juga oleh mazhab-mazhab Vātsīputrīya.)

Kāya avijñapti dan vāk avijñapti, karena korelasinya dengan kāya vijñapti dan vāk vijñapti, yang timbul dengan bergantung pada empat elemen primer (tanah, air, api, dan angin), digolongkan sebagai materi juga. Inilah yang menjadi rūpa ke-11, avijñapti rūpa 無表色, dalam klasifikasi materi menurut abhidharma Sarvāstivādin. Avijñapti rūpa adalah satu-satunya materi yang ada di bawah basis objek pemikiran (dharmāyatana 法處 atau 法入). Karena tidak terpengaruh aktivitas keempat skandha penyusun mental jugalah yang menjadi alasan, secara sederhana, untuk menggolongkan avijñapti sebagai materi.

  1. Mazhab-mazhab yang menganggap bahwa segala dharma hanyalah penamaan semu 假名宗
Mazhab-mazhab ini berpandangan bahwa bukan hanya diri yang kosong, faktor-faktor dasarnya pun kosong. Segala dharma tidak benar-benar nyata, hanya eksis untuk sementara. Secara relatif hanya dharma sekaranglah yang dapat dikatakan “ada”. Dharma lampau telah berlalu, sedangkan dharma mendatang belum tiba. Dengan bergulirnya waktu, dharma sekarang akan kedaluwarsa dan menjadi dharma lampau; dharma mendatang pun dengan segera menjadi dharma sekarang. Menurut mazhab-mazhab ini, penyebutan “dharma” hanyalah penamaan semu (prajñapti 假名) untuk menyesuaikan dengan pemahaman/kebenaran duniawi (saṃvr̥ti satya 世諦), sebab dalam kebenaran tertinggi (paramārtha satya 第一諦) sesungguhnya tiada dharma sama sekali. Contoh penganutnya adalah mazhab Dharmaguptaka, atau juga pandangan yang dipegang Bhadanta Harivarman, pengarang Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. № 1646).

Bagi mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma, suatu perbuatan baru disebut karma bilamana terdapat dua komponen: kehendak (cetanā 思) serta tindakan yang dilakukan berdasarkan dorongan kehendak tersebut (cetayitvā 思所作). Perbuatan pikiran hanyalah karma yang berupa kehendak (cetanā karma 思業) sehingga bukan merupakan karma sebenarnya. Cuma perbuatan jasmani dan ucapanlah yang merupakan karma sebenarnya karena, selain adanya kehendak, juga merupakan karma berupa tindakan yang dilakukan setelah berkehendak (cetayitvā karma 思已業). Dari kesepuluh jalan perbuatan (karmapatha 業道, lihat http://tinyurl.com/neaykvv), tiga perbuatan pikiran — barangkali lebih sesuai disebut “tindakan pikiran” saja sebab bukan merupakan perbuatan/karma yang sebenarnya — hanyalah karmapatha, yang merupakan wilayah pengelanaan dari kehendak; sedangkan tujuh lainnya merupakan karmapatha sekaligus karma, yang memiliki aspek vijñapti dan avijnapti. Perbuatan pikiran, karena tidak termanifestasi kepada orang lain, tidak memiliki aspek vijñapti dan, secara otomatis, juga tidak membentuk avijñapti.

Berbeda dengan pandangan mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma, menurut Satyasiddhi Śāstra tindakan pikiran (=cetanā karma) sudah merupakan karma yang sebenarnya, walaupun tanpa disertaï cetayitvā karma. Dari kesepuluh jalan perbuatan, ketamakan, kedengkian, dan pandangan sesat memiliki aspek vijñapti karena, meski tidak termanifestasi kepada orang lain, tetapi termanifestasi dalam batin sendiri. Alhasil, perbuatan pikiran pun membentuk avijñapti.

Semua karma memiliki esensi kehendak karena, setelah berkehendak, seseorang melakukan tindakan, baik melalui jasmani, ucapan, atau pikiran. Kehendak merupakan salah satu fungsi mental (caitasika 心所) atau bentukan yang bersekutu dengan batin/kesadaran (citta-saṃprayukta saṃskāra 心相應行). Jadi, esensi kāya vijñapti dan vāk vijñapti bukan hanya materi, melainkan juga batin.

Bagaimanakah esensi dari avijñapti? Avijñapti tidak cocok digolongkan sepenuhnya sebagai materi sebab materi yang nyata tersusun dari elemen-elemen primer dan objek-objek yang memiliki wujud, bersifat lembam, tertentang, dan dapat ditangkap oleh lima kesadaran inderawi. Avijñapti juga tidak cocok digolongkan sepenuhnya sebagai batin sebab batin memiliki kerja mengetahui dan mempertimbangkan; kadang terfokus, kadang kabur; kadang diliputi kebijaksanaan, kadang diliputi kebodohan; dapat bersifat baik, tidak baik, atau netral; dan merupakan penghasil akibat. Maka dalam sistém Satyasiddhi, avijñapti dengan terpaksa diklasifikasikan sebagai bukan keduanya 強號二非 atau, dengan kata lain, merupakan bentukan yang tidak bersekutu dengan batin/kesadaran (citta-viprayukta saṃskāra 心不相應行).

  1. Mazhab-mazhab dari Ajaran Sempurna 圓教宗
Mazhab-mazhab ini mempersatukan ajaran-ajaran temporer dari Tiga Kendaraan menuju ajaran sejati Kendaraan Tunggal berdasarkan Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. № 374), dan dalam pandangannya banyak dipengaruhi oleh idealisme Yogācāra/Vijñaptimātra. Inilah yang dianut oleh Sekolah Vinaya di Cina, terutama dari silsilah Nan-shan 南山律宗 yang dibawakan oleh Vinayācārya Tao-hsüan 道宣律師 (596–667).

Menurut kaum Yogācārin, tindakan jasmani dan ucapan bukanlah substansi karma yang sebenarnya sebab keduanya, pada hakikatnya, bersifat netral sehingga tak dapat mengundang akibat karma di masa depan. Substansi karma semata-mata hanyalah kehendak, dan kehendak dibedakan menjadi tiga:
  1. Kehendak pertimbangan (gati cetanā 審慮思)

    Merupakan kehendak berupa pertimbangan-pertimbangan terawal yang muncul sebelum berbuat.

  2. Kehendak penetapan (niścaya cetanā 決定思)

    Merupakan kehendak berupa kepastian dalam hati, berniat untuk melakukan suatu perbuatan.

  3. Kehendak penggerakan (kiraṇa cetanā 動發勝思)

    Merupakan kehendak untuk menggerakan/mengarahkan jasmani atau ucapan, yang muncul tepat saat akan bertindak, baik dalam perbuatan baik maupun buruk.


Kehendak pertama dan kedua adalah substansi dari perbuatan pikiran; kehendak ketiga adalah substansi dari perbuatan jasmani dan ucapan. Dalam melakukan perbuatan jasmani, katakanlah, pembunuhan, dua komponen memang harus ada: kehendak pembunuhan dan tindakan pembunuhan karena dorongan kehendak tersebut. Akan tetapi, kehendak itu sendiri dapat dibedakan menjadi: kehendak/niat untuk membunuh (=perbuatan pikiran) dan kehendak untuk menggerakan tangan akan membunuh (=perbuatan jasmani). Jadi, sesungguhnya terdapat dua perbuatan yang dilakukan sekaligus di sini.

Lebih lanjut, dalam sistém Yogācāra, kehendak mempunyai benih karma (bīja 種子) yang tersimpan dalam kesadaran ke-8, gudang kesadaran (ālaya vijñāna 阿賴耶識). Sewaktu melakukan perbuatan Penerimaan Śīla, kehendak akan terpresentasi (samudācāra 現行), menampilkan kāya vijñapti dan vāk vijñapti yang sesungguhnya hanyalah penamaan semu. Kekuatan kesériusan dari kehendak, yang merupakan sebuah fungsi mental yang bersekutu dengan kesadaran pikiran (manaḥ saṃprayukta 意識相應), mengukupi (vāsayati 熏) benih yang tersimpan di gudang kesadaran. Benih itu akan bersinambung dan memiliki kemampuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, terpresentasi membentuk avijñapti rūpa yang juga merupakan materi semu. Sementara kāya vijñapti dan vāk vijñapti merupakan materi semu yang ada di bawah basis objek penglihatan dan objek pendengaran, avijñapti rūpa ada di bawah basis objek pemikiran, dan kini disebut dengan istilah baru “materi yang tercetus karena penerimaan” (samādānika rūpa 受所引色) untuk menghindari kerancuan.

Jadi, substansi Śīla yang termanifestasi tidak lain adalah kehendak (yang melalui presentasi membentuk materi semu: vijñapti rūpa); sedangkan substansi Śīla yang tak termanifestasi adalah benih dari kehendak, yang tersimpan dalam gudang kesadaran (yang melalui presentasi membentuk materi semu: samādānika rūpa). Dengan kata lain, dalam sistém Yogācāra substansi Śīla sepenuhnya memiliki esensi batin/kesadaran.

※


【CATATAN:】

Seperti apa sebenarnya pandangan awal mazhab Dharmaguptaka mengenaï substansi Śīla tidaklah kita ketahui dengan persis. Selain terjemahan Vinaya Piṭaka 《四分律》 (T. № 1428) dan sebuah Dīrgha Āgama 《長阿含經》 (T. № 1) dalam Tripiṭaka Tionghoa, adalah sulit untuk mengidentifikasikan dengan pasti — kalaupun ada — literatur lain yang berafiliasi dengan Dharmaguptaka.

Sebuah teks, *Śāriputra Abhidharma Śāstra (Shê-li-fu a-p’i-t’an lun 《舍利弗阿毘曇論》, T. № 1548), diyakini oleh beberapa ahli modern sebagai kitab Dharmaguptaka karena pembagiannya mirip dengan struktur abhidharma lima-bagian yang disebutkan dalam Dharmaguptaka Vinaya (T. vol. 22, № 1428 hlm. 968b). Dalam bagian pertamanya, “Sapraśnaka” 〈問分〉 (T. vol. 28, № 1548 hlm. 526c), kita dapat menemukan kāya-vāk-asaṃvara-avijñapti 身口非戒無教 serta sāsravā kāya-vāk-saṃvara-avijñapti 有漏身口戒無教 di antara materi-materi yang tidak terlihat dan tidak tertentang (anidarśana-apratigha rūpa 不可見無對色), yang ada di bawah basis objek pemikiran (dharmāyatana 法入). Jadi, menurut teks ini avijñapti digolongkan sebagai materi.

南山律宗
Akan tetapi, sebagian isi dari Shê-li-fu a-p’i-t’an lun memiliki kesesuaian juga dengan pandangan Mahāsāṅghika. Struktur abhidharma lima-bagian pun disebutkan pula dalam Vinaya Mātr̥kā 《毘尼母經》 (T. vol. 24, № 1463 hlm. 818a), yang oleh sebagian ahli dianggap berasal dari mazhab Haimavata. Di samping itu, Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 70a) menyatakan bahwa kaum Vātsīputrīya telah melakukan redaksi/pembacaan teks yang kini dikenal sebagai Śāriputra Abhidharma. Tampaknya berbagai mazhab memiliki teks masing-masing yang menggunakan judul umum “Śāriputra Abhidharma” meski isinya mungkin tidak persis sama.

Silsilah Nan-shan 南山律宗, bagaimana pun, memang berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya dan, kadang-kadang, menggunakan tulisan-tulisan Sarvāstivāda sebagai pelengkap; akan tetapi, dalam hal pandangan, lebih mengikuti Ajaran Sempurna berdasarkan Mahāparinirvāṇa Sūtra.

Jumat, 21 Maret 2014

Substansi Śīla dalam Agama Buddha: Vijñapti dan Avijñapti

所以別解脱戒,人並受之。及論明識,止可三五。
Prātimokṣa Saṃvara (dalam arti luas, meliputi Śīla untuk bhikṣu/bhikṣuṇī maupun upāsaka/upāsikā) semua orang dapat menerimanya. Akan tetapi, yang benar-benar mengerti [maksud atau makna penerimaan Śīla] paling-paling hanya tiga atau lima.

皆由先無通敏,不廣咨詢。
Semua ini dikarenakan sebelumnya tidak memiliki pemahaman umum, apalagi melakukan penelaahan ekstensif.

致令正受,多昏體相,盲夢心中,縁成而已。
Sehingga ketika tiba waktunya penerimaan Śīla, dengan pemahaman yang kabur tentang substansi dan karakteristik [dari Śīla yang diambil], kebanyakan orang hanya ikut-ikutan secara membuta dan asal, lalu setelahnya selesai begitu saja.

及論得不,渺同河漢。
Jikalau ditanyakan apakah mereka memperoleh Śīla, maka hal itu amatlah meragukan (atau: mereka sendiri pun tak dapat memastikannya).

—— Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》
(T. vol. 40, № 1804 hlm. 51c)

※

Dalam sebuah upacara transmisi Śīla, pemohon śīla akan memperoleh substansi Śīla, yang tak lain adalah Dharma para suci yang mengejawantah dalam dirinya. Substansi tersebut akan menjadi daya pendorong yang mencegahnya melakukan kesalahan, dan menghentikannya berbuat kejahatan. Daya ini berasal dari kekuatan ikrarnya sendiri. Misalkan, seseorang yang menerima lima śīla, yang berikrar untuk tidak membunuh makhluk hidup, akan terkendalikan tindakannya sehingga ia mampu menghindari pembunuhan walaupun ia sangat tidak menyukaï musuhnya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, substansi Śīla hanya dapat diperoleh dari guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid. Kita tidak mungkin memohon śīla dari seseorang yang tertahbis dalam silsilah yang tidak kredibel (misalnya, “bhikṣu” dari aliran sempalan yang menciptakan sistém penahbisan sendiri atau membuat versi Prātimokṣa sendiri). Tahbisannya sendiri tidak bersumber dari Buddha; bagaimana bisa ia mentransmisikan Śīla yang benar kepada orang lain?

Bahkan sekalipun guru itu berasal dari silsilah yang valid, terbentuknya substansi yang benar dalam diri seorang pemohon juga masih sangat sulit. Di mana-mana sering kita jumpaï sekelompok umat yang secara membuta mengulangi Permohonan Triśaraṇa dan Śīla, ikut-ikutan membaca teks ritual apa adanya, tanpa persiapan apa-apa. Jangankan mengerti karakteristik Śīla secara mendetail — apa saja yang merupakan pelanggaran, apa yang bukan, bagaimana memurnikan diri bila terjadi pelanggaran — pemahaman umum pun tidak mereka miliki, seperti: apa syarat untuk menerima Śīla, siapa yang layak dijadikan guru pembimbing Śīla, dan, yang tak kalah penting: kapan dan bagaimana substansi Śīla terbentuk.

Padahal, substansi Śīla (yang terbentuk melalui upacara transmisi Śīla) merupakan pembeda antara orang yang sudah menerima Śīla dengan yang belum. Tanpa adanya substansi Śīla, seseorang tidak dengan serta-merta disebut “memegang Śīla” walaupun ia menjaga moralitas. Seorang non-Buddhis pun dapat saja hidup bermoral dan menjalankan lima pantangan (tidak membunuh, tidak mencuri, dst.) layaknya seorang Buddhis. Akan tetapi, sepanjang tiadanya substansi Śīla dalam dirinya, bagaimana pun ketatnya ia menjaga moralitas, moralitas tersebut hanya akan menghasilkan karma baik (yang bersifat duniawi) saja, dan takkan menjadi menjadi sebab untuk meraih Pembebasan sebagaimana yang terealisasi oleh para suci.

Selanjutnya jika ditanyakan “apakah melakukan aborsi termasuk melanggar Pañca Śīla Buddhis”, maka jawabannya juga bisa “ya” atau “tidak”. “Ya” bagi mereka yang sudah mengambil Śīla tersebut, dan “tidak” bagi mereka yang memang tidak mengambilnya. Seorang umat awam Buddhis yang hanya berlindung kepada Triratna, tetapi tidak mengambil Pañca Śīla, mungkin saja melakukan aborsi. Ia tidak melanggar Śīla sebab memang tiada substansi Śīla apa pun dalam dirinya, walaupun jelas ia telah melakukan karma buruk yang sangat besar (karena aborsi sama dengan membunuh manusia).

Substansi Śīla juga merupakan pembeda berbagai kelompok siswa-siswi Buddhis: substansi yang terbentuk pada bhikṣu/bhikṣuṇī berbeda dengan yang terbentuk pada śrāmaṇera/śrāmaṇerī(ka) dan upāsaka/upāsikā. Jadi, seseorang disebut bhikṣu bukan hanya karena ia mengenakan jubah kaṣāya atau menjalani gaya hidup kebhikṣuan, tetapi apakah ia memiliki substansi Śīla seorang bhikṣu dalam dirinya atau tidak.

Apakah hakikat substansi Śīla sebenarnya? Kita tahu bahwa dalam agama Buddha, kehendak (cetanā 思), itulah yang dinamakan karma, serta tindakan yang dilakukan karena dorongan kehendak (cetayitvā 思所作). Setelah timbulnya kehendak, seseorang melakukan tindakan melalui jasmani (kāya), ucapan (vāk), atau pikirannya (manas). Tindakan jasmani dan ucapan dapat dilihat dan didengar orang lain. Kedua tindakan ini merupakan ekspresi/isyarat yang vijñapti, yakni 表 ‘termanifestasi’ (dalam terjemahan lama: 作 ‘dengan kerja’ atau 教 ‘tertunjukkan’) di luar. Kāya vijñapti tampak pada aktivitas anggota-anggota badan seperti: mengambil, menaruh, menekuk, meregangkan, berjalan, berdiri, duduk, berbaring. Vāk vijñapti tampak pada artikulasi suara berupa kata-kata dan kalimat.

Tindakan-tindakan lahiriah hanya berlangsung sementara. Lantas bagaimanakah potensi untuk berbuahnya karma tercipta bilamana tindakan-tindakan itu berakhir? Ketika seseorang melakukan tindakan karena dorongan kehendak, pada saat yang sama aktivitas pikiran yang mirip dan berkaitan terproyeksikan dalam dirinya, dan timbullah substansi karma 業體 yang bersifat avijñapti 無表 ‘tak termanifestasi’ (atau 無教 ‘tak tertunjukkan’). Substansi karma yang berkaitan dengan kāya vijñapti, yang timbul saat seseorang melakukan tindakan jasmani, disebut kāya avijñapti. Substansi karma yang berkaitan dengan vāk vijñapti, yang timbul saat seseorang melakukan tindakan ucapan, disebut vāk avijñapti.

Substansi karma haruslah terpisah secara tersendiri karena pikiran dinamis dan senantiasa berubah. Avijñapti merupakan impresi/jejak yang tertinggal dan bersifat laten (無作 ‘tanpa kerja’) sehingga dapat terus bersinambung dalam proses berbuahnya karma.
 
Sehubungan dengan śīla, avijñapti dapat digolongkan menjadi tiga kategori:

 
———————————————————————————
1. Saṃvara avijñapti 律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang terbentuk saat seseorang memperoleh disiplin (saṃvara) atau śīla-śīla yang baik.

Śīla bukanlah cuma sekadar praktek berpantang. Telah kita singgung bahwa penghindaran diri dari perbuatan buruk tidak dengan serta-merta membuat seseorang disebut “memegang Śīla/disiplin”. Tidak juga Śīla diperoleh dengan sekadar mengucap ikrar. Śīla merupakan dharma yang unik (dharmāntara 別法), yang baru dapat diperoleh apabila memenuhi kondisi spesifik (guru dari silsilah yang benar, kualifikasi penerima, dsb.) dan mengikuti prosedur tertentu (ritual yang valid).

Dalam penerimaan Pañca Śīla, vijñapti-karma tampak dalam aktivitas-aktivitas seperti berlutut, bernamaskāra, membaca teks ritual, menjawab pertanyaan, mengulangi rumusan, dll. Vijñapti-karma mulaï terbentuk dari saat seseorang memasuki lokasi upacara; sedangkan avijñapti-karma baru mulaï terbentuk saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan. Tepat saat seseorang mengucapkan suku-kata terakhir dari ulangan ketiga, maka baik vijñapti- maupun avijñapti-karma menjadi sempurna. Pada momen berikutnya sesaat kemudian, vijñapti-karma berakhir, sedangkan avijñapti-karma tertinggal. Avijñapti inilah yang menjadi substansi Śīla yang tak termanifestasi, dan akan tetap tinggal baik saat seseorang sadar ataupun tak sadar. Saṃvara avijñapti akan menjadi daya pendorong seumur hidup (atau selama jangka waktu tertentu, sesuai ikrar yang dibuat), yang mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.


———————————————————————————
2. Asaṃvara avijñapti 不律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang terbentuk saat seseorang memperoleh kontra-disiplin (asaṃvara) atau “śīla-śīla” yang buruk.

Yang dimaksud dengan kontra-disiplin ialah imoralitas, yang merupakan antitesis dari śīla. Ini dapat dijumpaï, misalnya, pada seorang anak yang terlahir dalam keluarga tukang jagal, yang kemudian meneruskan usaha keluarganya menjadi penjagal juga. Atau pada seseorang yang bergabung dengan kawanan bajak laut dan membuat ikrar untuk merompak seumur hidup sebagai profesinya. Juga, misalnya, pada orang yang karena dendam, lalu bersumpah: “Kupertaruhkan nyawaku untuk menghabisi anggota suku itu — bahkan sampai anak, cucu, dan seluruh keturunannya — di mana pun mereka berada.”

Avijñapti yang terbentuk dari hal-hal semacam ini akan menjadi daya pendorong yang mencegah seseorang melakukan kebenaran dan menghentikannya berbuat kebaikan.


———————————————————————————
3. Naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti 非律儀非不律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang tidak berkenaan dengan disiplin, tidak pula dengan kontra-disiplin.

Kedua jenis avijñapti yang dibahas di atas terbentuk ketika melakukan perbuatan yang sangat baik atau sangat buruk, sehubungan dengan adopsi cara hidup/disiplin tertentu. Naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti lebih sering dijumpaï dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat bersifat baik (tetapi tidak berkenaan dengan disiplin) atau bersifat buruk (tetapi tidak berkenaan dengan kontra-disiplin). Avijñapti ini terbentuk ketika melakukan perbuatan baik menengah atau perbuatan buruk menengah.

Dalam hal perbuatan baik menengah, avijñapti dapat terbentuk:

  • Karena ladangnya 由田
Pemberian kepada ladang jasa (puṇyakṣetra 福田) secara otomatis akan membentuk avijñapti. Avijñapti yang terbentuk, seperti dari mendermakan vihāra atau taman perisitirahatan kepada saṅgha, akan berlangsung terus selama bangunan atau lahan tersebut masih ada.
  • Karena pengambilan 由受
Avijñapti juga terbentuk jika seseorang mengambil ikrar tertentu, misalnya: “Aku bertekad tidak akan makan sebelum bernamaskāra kepada Buddha” atau “Aku bertekad akan memberi dāna tiap sebulan sekali”.
  • Karena seriusnya perbuatan 由重行
Perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh penuh keseriusan akan membentuk avijñapti. Misalnya: sewaktu seseorang menyembah stūpa dengan melantunkan puji-pujian yang menggetarkan hati sehingga timbul keharuan.

Dalam hal perbuatan buruk, avijñapti terbentuk, misalnya, ketika seseorang dengan emosi yang menyala-nyala memukul orang lain. Perbuatan baik atau buruk tingkat rendah tidak membentuk avijñapti karena kurangnya dorongan kehendak.
 


Jumat, 07 Maret 2014

POLISEMI ISTILAH "ŚĪLA"

Dalam percakapan sehari-hari kita sering menggunakan istilah śīla secara bebas. Konotasi manakah yang sebenarnya kita maksud? Sekolah Vinaya di Cina membahasnya dalam empat pokok (lihat seksi pertama dari Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》 [‘Rangkuman mengenaï Tingkah Laku Monastik yang Disempurnakan berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya’, T. vol. 40 № 1804] karangan Vinayācārya Tao-hsüan). Keempat pokok bahasan Śīla 戒之四科 itu adalah:
 
 
1. CHIEH-FA 戒法 — Dharma tentang Śīla 
 
Pada kalimat “Buddha menetapkan berbagai Śīla demi kesejahteraan pengikut-pengikut-Nya”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah Dharma tentang Śīla, yang ditetapkan oleh Tathāgata seperti: Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla. Dharma tentang Śīla mencakup fungsi, aplikasi, kebajikan, dll. ajaran tentang Śīla.
 
Jika demikian, apakah Dharma tentang Śīla hanya bersifat teoretis? Menurut Hsing-shih ch’ao (T. vol. 40, № 1804 hlm. 4b):
 
言戒法者,語法而談,不局凡聖。
Yang disebut Dharma tentang Śīla meliputi pembahasan śīla secara Dharma, yang berlaku untuk makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya-pudgala) tanpa penyekatan.

直明此法,必能軌成出離之道。要令受者,信知有此。
Tegasnya dinyatakan: Dharma ini dapat menata jalan pertolakan [dari saṃsāra]. Mereka yang menerimanya hendaklah meyakini dan mengetahui hal ini.

雖復凡聖通有此法,今所受者,就已成而言,名爲聖法。
Meskipun Dharma ini berlaku untuk makhluk biasa maupun para suci, namun yang kini kita terima telah terealisasi [oleh para suci]. Oleh sebab itulah dinamakan Dharma Suci (ārya dharma).
 
Secara Dharma, tujuan utama Śīla ialah membawa kepada keadaan Kebebasan (dari segala penderitaan). Oleh karenanya, walaupun berlaku juga bagi makhluk biasa, Śīla hanya disebut sebagai Dharma-nya para suci. Menerima Śīla berarti menanam benih Pembebasan dalam diri kita; maka janganlah kita meremehkannya. Akan tetapi, Dharma yang kita terima tersebut haruslah kita junjung dan jaga agar menjadi murni bagaikan mutiara cemerlang.
 
Jadi, ketiga konotasi Śīla, yang akan kita bahas berikutnya di bawah, tercakup semua di sini. Dari awal hingga akhir, keseluruhan rangkaian Śīla — yang kita terima (substansi), yang kita junjung dan jaga (praktik), yang murni bagaikan mutiara cemerlang (tampilan) — tiada yang bukan merupakan Dharma.
 
 
2. CHIEH-T’I 戒體 — Substansi Śīla (secara harfiah: ‘Badan Śīla’)
 
Pada kalimat “Waisak kemarin kami menerima Śīla sebagai upāsaka-upāsikā”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah substansi Śīla, yakni Dharma yang kita terima dan mengejawantah dalam diri kita, yang bersifat laten dan menjadi esensi bagi timbulnya karma (baik). Substansi Śīla memampukan kita untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, serta menciptakan keberkahan dan menimbulkan kebaikan.
 
Pernah kita kutip sebelumnya bahwa substansi Perlindungan (dan Śīla) diwariskan dalam suatu kesinambungan silsilah. Kita hanya dapat menerima substansi Śīla dari guru yang memang memiliki Dharma tersebut. Guru kita harus sudah menerimanya dari gurunya, dan gurunya itu menerimanya dari gurunya lagi. Demikian seterusnya hingga pada gilirannya bersumber kepada Buddha sendiri.
 
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar meneliti calon guru yang akan mentransmisikan Śīla kepada kita. Janganlah kita asal mengucapkan Permohonan Triśaraṇa dan Śīla karena ikut-ikutan orang lain. Tidak ada substansi yang terbentuk pada diri kita jika suatu transmisi tidak valid. Bagaimana bisa kita menjadikan seseorang guru bilamana ia sendiri tidak mengerti apakah dirinya memiliki substansi Śīla atau tidak!
 
Lantas, pada momen manakah substansi Śīla terbentuk dalam suatu upacara penerimaan Śīla? Dalam upasaṃpadā bhikṣu/bhikṣuṇī hal itu terjadi saat jñapti-caturtha karman 白四羯磨 selesai dibacakan; dalam transmisi Daśa Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, dan Pañca Śīla hal itu terjadi saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diulangi oleh pemohon.
 
Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):
 
若欲受五戒,先受三歸。受三歸竟,爾時已得五戒。
Apabila hendak menerima Lima Śīla, sebelumnya kita menerima Tiga Perlindungan dahulu. Ketika Tiga Perlindungan selesai diterima, pada saat itu kita telah memperoleh Lima Śīla.

所以說五戒名者,欲使前人識五戒名字故。
Bunyi kelima śīla yang diucapkan hanyalah agar nama-nama kelima śīla tersebut diketahui oleh orang di hadapan kita.
 
Pandangan kaum Vaibhāṣika, yang diadopsi oleh Sekolah Vinaya di Cina (lihat http://tinyurl.com/m99xydc), ini bukannya tanpa dasar. Pada masa awal penyebaran Ajaran, sebelum Buddha menetapkan prosedur jñapti-caturtha karman, seseorang cukup mendatangi seorang bhikṣu dan mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diucapkan calon gurunya itu. Setelah ia selesai mengulanginya, maka ia memperoleh lengkap disiplin kebhikṣuan (upasaṃpadā). Demikian pula para pengikut awam pertama Buddha menjadi upāsaka-upāsikā hanya dengan mengucapkan Perlindungan (dalam Dua atau Tiga Pernyataan, lihat http://tinyurl.com/oz5nnhk) — walaupun kebanyakan teks tidak menjelaskan apakah pada saat itu mereka mendapatkan substansi Perlindungan saja, ataukah substansi Perlindungan dan Śīla. Di kemudian hari mengulangkan Tiga Perlindungan untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī tidak diizinkan lagi, sehingga hanya kita jumpai dalam prosedur penerimaan Śīla-Śīla yang lebih rendah.
 
 
3. CHIEH-HSING 戒行 — Praktik Śīla
 
Setelah menerima Śīla dan mendapatkan substansinya, maka dengan berbagai upaya kita berlatih untuk menjaga dan tidak melanggarnya, serta memeriksa segala tindakan jasmani, ucapan, maupun pikiran agar teratur sesuai Dharma — inilah yang disebut praktik Śīla.
 
Seperti dalam kalimat “Seperti para arhat yang seumur hidup tidak makan pada waktu yang salah, pada hari upavasatha saya menjalankan śīla untuk tidak makan pada waktu yang salah selama sehari semalam”, praktik Śīla di sini timbul dengan meneguhkan tekad dan bersemangat mengikuti teladan para suciwan terdahulu, sehingga segala tindakan kita sesuai dengan disiplin yang diterima.
 
 
4. CHIEH-HSIANG 戒相 — Karakteristik Śīla (atau Tampilan Śīla)

Karakteristik Śīla dapat dibedakan menjadi dua:

a.  Karakteristik merujuk pada praktik 約行為相
Karakteristik merujuk pada praktik ialah tampilan luar yang terekspresikan karena praktik kita memegang Śīla — perbuatan yang kita ciptakan, tindakan yang kita lakukan (yang bersesuaian dengan Dharma) — sehingga menimbulkan kepujian, seperti yang sering kita dengar dalam kalimat sehari-hari: “Berdasarkan pengamatanku di biara ini, rupanya śīla bagi para bhikṣu untuk tidak tersentuh wanita dalam situasi apa pun”. Meminjam istilah filsafat hukum, seperti yang digagas David Hume, karakteristik berdasarkan praktik adalah das Sein, deskripsi fakta apa adanya.
b.  Karakteristik merujuk pada Dharma 約法為相
Karakteristik merujuk pada Dharma ialah tampilan luar yang seharusnya manifes — apa saja yang harus dipegang, apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dikecualikan, apa yang dibatasi — sebagaimana diajarkan dalam Dharma. Masing-masing dari Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meminjam istilah filsafat hukum, karakteristik berdasarkan Dharma adalah das Sollen, norma-norma seharusnya yang diharapkan ditaati. Contoh dalam kalimat: “Terdapat śīla dalam Prātimokṣasūtra di mana seorang bhikṣu, ketika pikirannya sedang diliputi birahi, tidak boleh secara sengaja menyentuh atau membiarkan diri tersentuh seorang wanita”.