Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label brahmacarya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label brahmacarya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2019

INTISARI LAÜTAN VINAYA

di Vihara Dharma Satya Rawamangun

Tsongkhapa (1357–1419)
Intisari Laütan Vinaya (‘Dul-ba rgya-mtsho’i snying-po) adalah karya pendek Je Tsongkhapa yang tersusun dalam bait-bait heptasilabis. Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda (Mūlasarvāstivāda), pelajaran vinaya yang diringkaskan syair ini secara garis besar sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Sekolah Vinaya Tiongkok. Terjemahannya dalam bentuk pdf oleh Lobsang Rabgay dapat diunduh di sini. Terjemahan lain dalam bahasa Inggris, misalnya, di sini.

Terdapat beberapa komentar teks ini yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain:


Tidak ada hal baru yang diuncarkan Je Tsongkhapa di sini selain keunikan langkah-langkah latihan dalam Mūlasarvāstivāda Vinaya (misalnya: enam dharma dan enam anudharma untuk śikṣamāṇā). Secara umum isi teks ini hanya mengulangi apa yang telah dibahas dalam Abhidharmakośa. Hanya dua alternatif yang disajikan dalam pembahasan hakikat substansi disiplin: material atau mental. Kalimat “yang berpandangan tinggi dan rendah” menimbulkan kesan seolah-olah mereka yang menganggapnya material adalah lebih tinggi — walaupun Tsongkhapa sendiri tidak secara jelas menyebutkan mana sekolah yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah.

Dalam komentar-komentar Tibet, sekolah Kendaraan Kecil Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa substansi disiplin itu materi, justru dipandang lebih rendah; sementara Sautrāntika yang menganggapnya mental dipandang lebih tinggi. Selanjutnya sekolah-sekolah Kendaraan Besar biasanya dipandang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah Kendaraan Kecil. Salah satunya, Vijñaptimātra/Cittamātra, dikatakan juga berpendapat bahwa substansi disiplin itu mental. Akan tetapi, Cittamātrin sesungguhnya menganggap substansi disiplin adalah keduanya. Mereka menerima teori bīja dari Sautrāntika, namun di sisi lain juga mengakui keberadaan avijñapti rūpa (kini disebut samādānika rūpa) sebagai sebuah prajñapti. (Pendapat keempat bahwa substansi disiplin itu bukan material juga bukan mental, seperti yang diuraikan Satyasiddhi Śāstra yang hanya tersedia terjemahan Tionghoanya, tentu saja tidak dikenal di Tibet.)

Dalam Sekolah Madhyamaka, kaum Svātantrika juga menganggap substansi disiplin itu mental. Sebaliknya, kaum Prasaṅgika, yang dipandang lebih tinggi daripada Svātantrika, menganggapnya material.







OM̐ SVASTI ASTU!
NAMAḤ SARVAJÑĀYA.


Wahana yang menjadi sandaran
untuk pergi dengan leluasa ke Kota Kebebasan,
yaitu intisari terunggul ajaran Sugata,
yang disebut Prātimokṣa,

akan kujelaskan dalam enam bagian:
hakikat, tipologi, karakteristik individual,
penerima sebagai wadah terbentuknya,
sebab kerontokan, dan manfaat.

(A. HAKIKAT PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain dan segala dasarnya,
dengan dilandasi semangat pertolakan [dari saṃsāra].

“Itu merupakan karma jasmani dan ucapan,”
jadi sebahagian menyatakannya sebagai materi.
Sebahagian lain menyatakan “itu kehendak menghindari (virati)
yang terus bersinambung [di dalam batin] beserta benihnya.”

Maka posisi sekolah-sekolah kita (Buddhis) ada dua:
yang berpandangan tinggi dan rendah.

(B. TIPOLOGI PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

[Disiplin] upavāsaka, upāsaka, upāsikā,
śrāmaṇera, śrāmaṇerī, śikṣamāṇā,
bhikṣunī dan bhikṣu — itulah
delapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara].

Tiga yang pertama merupakan disiplin perumahtangga,
lima yang terakhir merupakan disiplin monastik.

(C. KARAKTERISTIK INDIVIDUAL SETIAP TIPE SAṂVARA:)

  1. Empat akar dan empat anggota —
    penghindaran kedelapannya merupakan disiplin Upavāsa.

    Berhubungan seksual; mengambil yang tak diberikan;
    memotong kehidupan; dan berkata dusta
    adalah keempat akar.
     Beranjang tinggi-mewah;
    minum alkohol; tarian dsb. kalungan bunga dsb.;
    makanan selewat tengah hari
     adalah keempat anggota.

  2. Pembunuhan, pencurian, kedustaan, perzinahan,
    minum minuman-keras adalah lima yang dihindari
    sebagai disiplin bagi upāsaka.

    Pelaksana satu-, sedikit-, atau banyak-bagian;
    pelaksana penuh, atau pelaksana [penuh] dengan praktik sélibat;
    atau pemergi berlindung.
     Enam jenis upāsaka ini
    menghindari satu, dua, atau tiga dari keempat akar;
    menghindari aktivitas yang salah, atau segala aktivitas seksual sama sekali;
    atau menjadi upāsaka yang hanya mengambil Perlindungan —
    demikian yang dinyatakan masing-masing berturut-turut.

  3. Empat akar dan enam anggota —
    penghindaran kesepuluhnya merupakan disiplin śrāmaṇera.

    Tarian dsb. serta kalungan bunga dsb. dijadikan dua,
    dan memunyaï mas dan perak sebagai yang ketiga
    — pemecahan ini membentuk enam anggota.

    Memohon [seorang bhikṣu] untuk menjadi upādhyāya,
    menanggalkan penampilan selaku perumahtangga, dan
    mengambil penampilan selaku monastik —
    kegagalan atas ketiga hal ini, apabila ditambahkan,
    membentuk total tiga belas yang harus disingkirkan.

  4. Setelah memperoleh disiplin śrāmaṇerī,
    sebagai tambahan disiplin menghindari
    enam mūladharma dan enam anudharma
    — itulah disiplin bagi śikṣamāṇā.

    Tidak bepergian seorang diri di jalan,
    tidak berenang menyeberangi sungai,
    tidak menyentuh seorang pria,
    tidak tinggal berduaan saja dengan seorang pria,
    tidak berlaku menjadi comblang perantara,
    dan tidak menyembunyikan dosa kecelaan
    — itulah penghindaran enam mūladharma.

    Tidak memegang emas,
    tidak mencukur bulu kemaluan,
    tidak makan makanan yang tak dipersembahkan kepadanya,
    tidak makan makanan yang pernah ditimbun,
    tidak buang air di rumput yang hijau,
    dan tidak menggali tanah
    — itulah penghindaran enam anudharma.

  5. Pārājika delapan, [saṅghāva]śeṣa dua puluh,
    naiḥsargika-pāyantika tiga puluh tiga,
    śuddha-pāyantika seratus delapan puluh,
    pratideśanīya sebelas, dan
    duṣkṛta seratus dua belas —
    tiga ratus enam puluh empat hal inilah
    yang dihindari oleh bhikṣuṇī.

  6. Pārājika empat, serta [saṅghāva]śeṣa
    tiga belas, naiḥsargika-pāyantika tiga puluh,
    śuddha-pāyantika sembilan puluh,
    pratideśanīya empat, dan duṣkṛta
    seratus dua belas — disiplin dengan
    dua ratus lima puluh tiga hal yang dihindari
    inilah karakteristiknya bagi bhikṣu.

(D. PENERIMA YANG MENJADI WADAH PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Demikianlah kedelapan tipe Prātimokṣa [Saṃvara],
— kecuali pada penghuni Uttarakuru —
pada pria dan wanita dari tiga benua
dapat terbentuk, asalkan ia bukan
śaṇḍaka, paṇḍaka, ubhavyañjana, dsb.

(E. SEBAB-SEBAB KERONTOKAN PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Yang menyebabkan rontoknya disiplin ada dua.
  • Melepas latihan; mati dan pindah [kelahiran];
    menjadi hermafrodit; berubah [kelamin] hingga tiga kali;
    putusnya akar kebaikan
     adalah sebab umum [bagi semua tipe].
  • Baru menyadari belum berusia dua puluh;
    cuma menyetujui ajakan [bersetubuh, meski belum terjadi];
     lewatnya jangka sehari semalam
    adalah sebab khusus bagi masing-masing
    bhikṣu, śikṣamāṇā, dan upavāsaka.

“Jikalau terjadi [salah satu dari empat] pelanggaran akar,
juga tepat saat Saddharma berakhir,
disiplin [secara otomatis] rontok,” demikian sebahagian berpandangan.

Kaum Vaibhāṣika dari Kashmir, akan tetapi,
berpandangan disiplin tetap dimiliki walaupun
 terjadi pelanggaran akar,
ibarat seorang kaya [masih kaya meski] berhutang.

(F. MANFAAT MEMEGANG PRĀTIMOKṢA SAṂVARA:)

Dengan menjaga disiplin-disiplin ini,
buah temporer sebagai dewa atau manusia, dan
buah tertinggi berupa tiga jenis Bodhi
akan diperoleh — demikian dikatakan.

Maka Anda yang antusias hendaklah,
 terhadap Prātimokṣa,
dengan tekun selalu berusaha menjaganya.



Dengan kebaikan yang telah kuperbuat, semoga semua makhluk
dapat berdiam dalam kehidupan kudus selamanya.

Selasa, 04 Desember 2018

4. Komprehensi atas Anggota 具支

Ⓥ:但發四支。
  Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

Ⓢ:皆發七支。

  Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.



Disiplin Prātimokṣa, seperti yang sudah sering kita bahas, hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan. Dari sepuluh tindakan yang menjadi jalan bagi terciptanya karma buruk (daśa akuśala karmapatha), tiga di antaranya dilakukan melalui jasmani (pembunuhan, pencurian, perzinahan) dan empat melalui ucapan (kedustaan, adu-domba, perkataan kasar, omong kosong). Untuk empat kejahatan ucapan, sejauh manakah berbagai tipe disiplin Prātimokṣa mengaturnya?

Kaum Vaibhāṣika menafsirkan “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari ucapan dusta” secara harfiah. Menurut mereka hanya kedustaanlah yang merupakan pelanggaran atas langkah latihan ini, ketiga kejahatan ucapan lainnya bukan. Upāsaka yang mengomong kosong, misalnya, jelas menciptakan karma buruk, namun tidak disebut melanggar Śīla. Pendapat mereka tercatat pada penjelasan antara bait 33–34 bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, hlm. 77a–b):

何緣但制離虛誑語,非離間語等為近事律儀?
Apakah alasannya penghindaran ucapan dusta saja, dan bukan penghindaran ucapan mengadu-domba dll., yang ditetapkan dalam disiplin upāsaka?

亦由前說三種因故,謂:虛誑語最可訶故、諸在家者易遠離故、一切聖者得不作故。
Hal ini juga dikarenakan oleh tiga jenis sebab seperti yang disebutkan sebelumnya, yakni:
① karena ucapan dusta merupakan hal yang paling dicela [di dunia];
② karena umat awam lebih mudah menghindarinya;
③ karena para suci (ārya) semua tidak pernah melakukannya.

復有別因,
Ada lagi sebab lainnya,

頌曰:
kārikā (bait 34a–b):

以開虛誑語  便越諸學處

Mr̥ṣāvādaprasaṅgāc ca
sarvaśikṣāvyatikrame

論曰:越諸學處被檢問時,若開虛誑語,便言:「我不作。」因斯於戒多所違越,故佛為欲令彼堅持於一切律儀,制離虛誑語:云何令彼,若犯戒時,便自發露能防後犯。
Bhāṣya: Ketika seorang pelanggar berbagai langkah latihan diinterogasi (dalam ritus pengakuan), — seandainya ucapan dusta ditolerir — tentu ia akan berkata: “Aku tidak melakukannya.” Oleh karena di dalam Śīla akan banyak yang dilanggar, maka Buddha, yang menghendaki si pelanggar memegang teguh segala disiplin, menetapkan penghindaran ucapan dusta: bagaimana supaya ia, saat melanggar Śīla, dengan sendirinya akan mengaku sehingga pelanggaran serupa di kemudian hari mampu dicegah.

Alasan ② barangkali paling menjelaskan kaitan antara kejahatan ucapan lain dengan kedustaan. Karena dianggap lebih sérius, orang cenderung tidak berdusta. Menghindari omong kosong, misalnya, justru lebih sulit bagi umat awam ketimbang menghindari kedustaan. Oleh sebab itu, penghindaran omong kosong tidak ditetapkan sebagai bagian disiplin upāsaka, dan hanya penghindaran kedustaan yang dijadikan langkah latihan.

Vinayācārya Yüan-chao dari Dinasti Sung, dalam jilid 1 karyanya Chih-yüan i-pien 《芝苑遺編》 (Zokuzōkyō vol. 59, № 1104 hlm. 627b) mengatakan:

彼五、八、十,唯發四支;比丘方具。此宗七眾,七支齊禁。
Menurut sistem mereka, dalam Lima, Delapan, dan Sepuluh [Śīla, pantangan] hanya terbentuk atas empat anggota; [dalam disiplin] bhikṣu-lah baru terbentuk lengkap. Sekolah kita, dalam [disiplin] ketujuh kelompok, akan tetapi memantangkan tujuh anggota seutuhnya.

Jadi, menurut Vaibhāṣika penghindaran kejahatan ucapan selain kedustaan hanya tercakup lengkap dalam disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebab diatur secara jelas pada langkah-langkah latihannya. Misalnya: tiga pelanggaran pācittika/pāyantika pertama dalam Bhikṣu Prātimokṣasūtra berturut-turut adalah kebohongan yang disengaja, berkata-kata kasar, dan mengadu-domba sesama bhikṣu lain.






Lalu seperti apakah pendapat Bhadanta Harivarman yang diikuti oleh Sekolah Vinaya di Tiongkok? Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:離兩舌等何故不名為戒?
Tanya: Penghindaran lidah bercabang dll. mengapa tidak disebutkan sebagai langkah latihan?

答曰:是事細微,難可守護。又兩舌等是妄語分;若說妄語,則已總說。
Jawab: Sebab hal-hal tersebut amat halus dan sukar dijaga (sama seperti alasan ② Vaibhāṣika di atas). Namun, lidah bercabang dll. adalah bagian dari ucapan dusta; apabila menyebutkan “[aku menghindari] ucapan dusta”, maka [penghindaran kejahatan ucapan lainnya] sudah tercakup secara umum.

Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-22-1 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 158c) juga mengatakan hal yang senada:

復次!四種口業中,妄語最重。
Selanjutnya lagi, di antara empat jenis karma ucapan, kedustaan merupakan yang terberat.

復次!妄語心生故作;餘者或故作,或不故作。
Selanjutnya lagi, kedustaan dilakukan dengan sengaja karena buah-pikir yang timbul; [karma ucapan] lainnya bisa dilakukan dengan sengaja, bisa juga dilakukan tanpa sengaja.

復次!但說妄語,已攝三事。
Selanjutnya lagi, hanya mengatakan “[aku menghindari] ucapan dusta”, sudah mencakup tiga hal lainnya.

復次!諸善法中,實為最大;若說實語,四種正語皆已攝得。
Selanjutnya lagi, di antara segala dharma yang bersifat baik, kebenaran merupakan yang terbesar; apabila mengatakan ucapan kebenaran, empat jenis ucapan yang tepat telah dapat tercakup semuanya.

復次!白衣處世,當官理務,家業作使。是故!難持不惡口法。妄語故作重事,故不應作。
Selanjutnya lagi, umat awam berjubah putih yang hidup di dunia harus mengurusi berbagai perkara dan menjalankan pekerjaan rumah-tangga. Oleh sebab itu, sangat sukar [bagi mereka] untuk memegang dharma tidak bermulut jahat (yang seringkali dilakukan tanpa sengaja)! Ucapan dusta merupakan hal yang sérius yang [pasti] dilakukan dengan sengaja, maka tidak semestinya mereka melakukannya.

Interpretasi atas ucapan dusta¹ (mr̥ṣāvāda) sesungguhnya bersifat supel. Arti kata mr̥ṣā adalah ‘salah; sia-sia, hampa; tak masuk akal; ironis’. Maka dapat kita lihat mr̥ṣāvāda ‘ucapan salah’ tidak selalu bermakna ‘ucapan bohong’. Demikian pula dalam terjemahan lama ke bahasa Tionghoa, mr̥ṣāvāda diartikan sebagai 妄語 ‘ucapan tak masuk akal; ucapan lancang, gegabah; bualan’. Dalam terjemahan belakangan, seperti pada kutipan Abhidharmakośa di atas, barulah Hsüan-tsang menggunakan translasi dobel 虛誑語 ‘ucapan hampa dan bohong’.






CATATAN:

¹ Dalam bahasa Indonesia sendiri kata dusta mengalami penyempitan makna. Ucapan dusta kini semata-mata merupakan sinonim ucapan bohong. Kata Sanskerta aslinya, duṣṭa, sebenarnya berarti ‘salah, cacat, korup, lancang, jahat’.

Jumat, 11 September 2015

LIMA ŚĪLA & LIMA KEBAJIKAN

Jauh sebelum munculnya agama Buddha, di India tumbuhlah berbagai sekte śramaṇa yang menolak otoritas kitab-kitab Veda dan para brāhmaṇa-nya. Tradisi śramaṇa lebih mengutamakan kebajikan personal untuk mencapai Pembebasan dari saṃsāra daripada upacara kurban kepada dewa-dewa. Salah satu dari enam tokoh besar śramaṇa yang hidup sezaman dengan Buddha adalah Mahāvīra, pendiri agama Jainisme, yang berasal dari klan Jñātr̥. Ia lebih dikenal dengan nama Nigaṇṭha Nātaputta (Skt. Nirgrantha Jñātr̥putra) dalam teks-teks Pāli. Ajarannya dinyatakan dalam sutta ke-2 dari Dīgha Nikāya, Sāmaññaphala, berbunyi:

“Seorang nigaṇṭha terkendali dengan empat macam pengendalian diri (cātuyāma saṃvara). Bagaimanakah, o Baginda, seorang nigaṇṭha yang terkendali dengan empat macam pengendalian diri itu? Dalam dunia ini, seorang nigaṇṭha hidup mengendalikan diri terhadap semua air (sabbavāri vārito), mempergunakan semua air (sabbavāri yuto), menyingkirkan semua air (sabbavāri dhuto), dan melumuri dengan semua air (sabbavāri phuṭo).”

Teks Pāli, akan tetapi, telah keliru menyandangkan empat pengendalian sebagai ajaran Nātaputta. (Ada beberapa versi Śrāmaṇyaphala Sūtra dalam terjemahan Tionghoa; Mūlasarvāstivāda Vinaya juga memuat narasi Raja Ajātaśatru mengenaï ajaran keenam tokoh śramaṇa ini — tidak satu pun di antara berbagai versi di atas yang menyebut-nyebut empat pengendalian.) Selain itu, komentar Dīgha Nikāya, Sumaṅgalavilāsinī, juga memberi penjelasan membingungkan untuk kata sabbavāri sebagai ‘semua air’, sehingga penerjemah-penerjemah modern dalam bahasa Inggris mengabaikannya dan mengganti dengan makna lainnya: ‘semua penghindaran/pengekangan (dari dosa)’.

Menurut tradisi Jaina yang sebenarnya, empat pengendalian bukan diajarkan Mahāvīra, melainkan oleh Pārśva, tīrthaṅkara (secara harfiah: ‘pembuat arungan’) yang hidup k.l. 150 tahun sebelumnya. Cāturyāma dharma tidak berkaitan dengan penggunaan air dll., tetapi merupakan disiplin yang terdiri atas:
  1. Sarvaprāṇātipāta veramaṇa — Menghindari pembunuhan semua makhluk hidup, yakni mengembangkan ahiṃsā ‘tanpa-kekejaman’.
  2. Sarvamr̥ṣāvāda veramaṇa — Menghindari pengucapan semua kedustaan, yakni mengembangkan satya ‘kebenaran’.
  3. Sarvādattādāna veramaṇa — Menghindari pengambilan semua yang tidak diberikan, yakni mengembangkan asteya ‘tanpa-pencurian’.
  4. Sarvabahirdhādāna veramaṇa — Menghindari kemelekatan pada semua objek eksternal.

Disiplin keempat sudah kabur maknanya pada zaman Mahāvīra, yang merupakan tīrthaṅkara ke-24 atau terakhir, sehingga ia merincikan dua kebajikan lagi yang harus dikembangkan, agar lebih jelas:
  1. Brahmacarya ‘kehidupan kudus’, dan
  2. Aparigraha ‘tanpa-pemilikan’.
Kelima yāma ini berlaku, baik bagi kaum monastik maupun umat awam Jaina. Bagi kaum monastik brahmacarya berarti hidup membujang/selibat, sedangkan bagi umat awam dimengerti sebagai penghindaran aktivitas seksual di luar ikatan pernikahan. Demikian pula penerapan aparigraha bagi umat awam lebih kendur derajatnya dibandingkan kaum monastik, yang hanya boleh memiliki sedikit barang kepunyaan.


Begitu merasuknya ajaran pañcayāma ini sebagai falsafah hidup masyarakat India sehingga literatur dharmaśāstra Hindu belakangan pun meminjamnya. Misalnya, kitab Manusmr̥ti menyebutkan (bab X: 63):

Ahiṁsā satyam asteyaṁ
śaucam indriyanigrahaḥ /
etaṁ sāmāsikaṁ dharmaṁ
cāturvarṇye 'bravīn manuḥ //

“Tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian,
kesucian, dan penguasaan indera —
inilah, secara ringkas, dharma
bagi keempat kasta,” kata Manu.

Baudhāyana Dharma-sūtra praśna II, 10:18 juga menerangkan berbagai sumpah seorang sannyāsin:

Atha imāni vratāni bhavanti: ahiṃsā, satyam, astainyaṃ, maithunasya ca varjanam, tyāga ity eva.
Selanjutnya, inilah brata-brata yang dimilikinya: tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian, pantang berhubungan seksual, dan pelepasan.

Namun, yang paling mempopulerkannya barangkali ialah Patañjali, melalui Yoga Sūtra-nya (bab II “Sādhana Pāda”: 30):

Ahiṁsā-satya-asteya brahmacarya-aparigrahāḥ yamāḥ.
Tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian, kehidupan kudus, dan tanpa-pemilikan — [inilah Lima] Pengendalian Diri.

Dari perbandingan dengan lima pengendalian di atas, dapat kita lihat bahwa tidak ada yang baru dalam lima śīla Buddhis. Selain śīla menghindari minum minuman keras, śīla-śīla lainnya merupakan hal yang sudah umum diketahui. Kasus yang mirip juga terdapat di Cina, di mana lima śīla Buddhis dipandang tidak lain merupakan pengamalan lima kebajikan konstan (wu-ch’ang 五常) Konfusianisme. Pendekatan-pendekatan untuk menyandingkan keduanya, misalnya, dilakukan:

Dalam komentar guru besar T’ien-t’ai, Chih-i 智顗, atas Narendrarāja Prajñāpāramitā Sūtra 《仁王護國
  般若經疏》 (T. vol. 33, № 1705 hlm. 260c–261a):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.

Dalam risalah Mo-ho chih-kuan 《摩訶止觀》 (T. vol. 46, № 1911 hlm. 77b):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.




Kalau begitu, apakah keunikan śīla-śīla Buddhis? Seperti yang sudah sering disinggung, dengan menerima śīla-śīla Buddhis terbentuklah saṃvara avijñapti khusus, Prātimokṣa Saṃvara, dalam diri kita. Prātimokṣa Saṃvara merupakan dharma yang unik (dharmāntara 別法) yang hanya ada selama berlangsungnya masa Ajaran dari seorang Samyak-saṃbuddha, dan hanya dimiliki oleh Buddhis. Non-Buddhis, yang bertekad menjalankan aturan-aturan moralitas tertentu, cuma mungkin memiliki naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik (menurut sistém Vaibhāṣika) atau saṃvara avijñapti yang bersifat non-Prātimokṣa (menurut sistém Satyasiddhi).

Kita tahu bahwa latihan Buddhis itu berjenjang tiga (tisraḥ śaikṣāḥ), yakni: śīla, samādhi, dan prajñā. Adalah mustahil untuk mencapai samādhi tanpa śīla yang murni; dan śīla yang murni hanya dapat tercapai bila Prātimokṣa Saṃvara, disiplin pengarah Pembebasan, kita peroleh. Śīla-śīla Buddhis dilaksanakan dengan motivasi untuk meraih Pembebasan Sejati, sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain seringkali dilaksanakan hanya demi kelahiran di alam surga. Oleh karena itu, śīla-śīla Buddhis merupakan śīla yang melampaui duniawi (lokottara śīla), sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain hanya disebut śīla duniawi (laukika śīla).

Maka Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 73b) mengatakan:

外道無有所受戒耶?
Tiadakah Śīla yang dimiliki non-Buddhis berkat penerimaan (samādānika śīla)?

雖有,不名別解脫戒。由彼所受無有功能永脫諸惡,依著有故。
Walaupun ada, tetapi tidak disebut Prātimokṣa Saṃvara. Apa yang mereka terima tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan secara mutlak dari segala kejahatan karena mereka masih melekat pada konsep keberadaan (bhava saṃniśritatvāt). [Yakni, bahkan dalam sistém kepercayaan yang meyakini kelahiran kembali, masih terdapat konsep tentang adanya jiwa {atma}. Jiwa-jiwa yang sudah mencapai Kebebasan dari saṃsāra akan tetap eksis selamanya “di suatu tempat di atas dunia”.]

Minggu, 27 April 2014

DOSA DALAM AGAMA BUDDHA

Kata Pāli dosa memiliki dua padanan dalam bahasa Sanskerta:
  • dveṣa, yang berarti ‘kebencian’, dan
  • doṣa, yang berarti ‘kesalahan’.
Bentuk kedua inilah yang diserap oleh bahasa Indonesia dan, sejak kedatangan agama-agama samawi, kata dosa mengalami perubahan konotasi yang berarti ‘pelanggaran terhadap hukum-hukum/perintah Sang Pencipta, yang menyebabkan kemurkaan-Nya, dan terputusnya hubungan antara si pendosa dengan-Nya’.

Dalam agama Buddha, bagaimana pun, tidak dikenal adanya Tuhan Pencipta. Seseorang tidak berdosa terhadap siapa pun, kecuali dirinya sendiri. Dosa semata-mata hanyalah ‘kecelaan’ (sāvadya) karena perbuatan buruk yang dilakukan seseorang, yang akibatnya akan diterima olehnya sendiri, tanpa campur-tangan sosok Mahakuasa mana pun.

Dosa/kecelaan dapat dibedakan menjadi tiga. Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 514a):

凡犯罪有三種:
Segala kecelaan ada tiga jenis:
一、犯業道罪  Kecelaan sehubungan dengan karmapatha (karmapathika sāvadya).
二、犯惡行罪  Kecelaan karena kelakuan buruk (durācāra sāvadya).
三、犯戒罪   Kecelaan karena pelanggaran Śīla (sāṃvarika sāvadya).

1.須提那。
Tentang Sudinna.
 
於三罪中,得犯惡行罪,婬是惡法故。
無業道罪,自己妻故。
無犯戒罪,佛未結戒故。
Di antara ketiga kecelaan, ia hanya melakukan kecelaan karena kelakuan buruk, sebab hubungan seksual merupakan dharma yang tak-baik (akuśala).
Ia tidak melakukan kecelaan sehubungan dengan karmapatha, sebab ia berhubungan dengan istrinya sendiri.
Ia tidak melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla, sebab Buddha belum menetapkan śīla.
 
 
2.林中比丘。
Tentang seorang bhikṣu di hutan.
 
得二罪:
得惡行罪,婬是惡法故;
得業道罪,雌獼猴屬雄獼猴故。
不得犯戒罪,佛未結戒故。
Ia melakukan dua jenis kecelaan:
  • kecelaan karena kelakuan buruk, sebab hubungan seksual merupakan dharma yang tak-baik;
  • kecelaan sehubungan dengan karmapatha, sebab kera betina itu adalah istri seekor kera jantan.
Ia tidak melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla, sebab Buddha belum menetapkan śīla.



Kasus pertama bhikṣu yang berhubungan seksual terjadi sewaktu Sudinna bersetubuh kembali dengan istrinya. Di India, merupakan kebiasaan yang lazim bagi para petapa (śramaṇa) untuk hidup membujang/sélibat (brahmacarya) setelah meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Akan tetapi, sesungguhnya tidak ada suatu aturan tunggal yang pasti, yang mengikat/berlaku untuk seluruh sekte śramaṇa. Berbagai sekte śramaṇa memiliki sistém ajaran yang berbeda-beda, dan masing-masing dapat dikatakan merupakan agama tersendiri-sendiri (misalnya: Buddhisme, Jainisme, dsb.). Pada saat itu Buddha sendiri juga belum menetapkan śīla apa pun bagi bhikṣu-bhikṣu-Nya sehingga, ketika Sudinna berhubungan seksual, ia hanya dikatakan berdosa/melakukan kecelaan karena kelakuan buruk.

Sesudah peristiwa tersebut, untuk pertama kalinya ditetapkanlah śīla: bhikṣu mana pun yang berhubungan seksual, telah melakukan pelanggaran pārājika. Namun, kasus-kasus yang terjadi berikutnya mengharuskan bunyi aturan ini direvisi. Pada kasus kedua, seorang bhikṣu yang tinggal di hutan bersetubuh dengan seekor kera betina. Ia pun hanya dinyatakan melakukan kecelaan sehubungan dengan karmapatha (yakni: perzinahan), di samping kecelaan karena kelakuan buruk. Ia tidak melanggar Śīla sebab, setelah kasusnya tersebut, barulah bunyi aturan pārājika itu disempurnakan: bukan hanya hubungan seksual dengan manusia, tetapi sampai dengan hewan pun merupakan pelanggaran pārājika.

Sejak saat itu aturan ini menjadi final sehingga siapa pun yang mengambil disiplin kebhikṣuan, lalu melakukan hubungan seksual, maka secara otomatis ia melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla di samping dua kecelaan lainnya. Selanjutnya, secara berangsur-angsur Buddha mulaï menetapkan berbagai aturan bagi para bhikṣu: baik yang bersifat perintah (cāritra śīla 作持戒) — yang jika tidak dilakukan merupakan pelanggaran Śīla —; maupun yang bersifat larangan (vāritra śīla 止持戒) — yang jika dilakukan merupakan pelanggaran Śīla.