Powered by Administrator

Translate

Jumat, 11 September 2015

LIMA ŚĪLA & LIMA KEBAJIKAN

Jauh sebelum munculnya agama Buddha, di India tumbuhlah berbagai sekte śramaṇa yang menolak otoritas kitab-kitab Veda dan para brāhmaṇanya. Tradisi śramaṇa lebih mengutamakan kebajikan personal untuk mencapai Pembebasan dari saṃsāra daripada upacara kurban kepada dewa-dewa. Salah satu dari enam tokoh besar śramaṇa yang hidup sezaman dengan Buddha adalah Mahāvīra, pendiri agama Jainisme, yang berasal dari klan Jñātr̥. Ia lebih dikenal dengan nama Nigaṇṭha Nātaputta (Skt. Nirgrantha Jñātr̥putra) dalam teks-teks Pāli. Ajarannya dinyatakan dalam sutta ke-2 dari Dīgha Nikāya, Sāmaññaphala, berbunyi:

“Seorang nigaṇṭha terkendali dengan empat macam pengendalian diri (cātuyāma saṃvara). Bagaimanakah, o Baginda, seorang nigaṇṭha yang terkendali dengan empat macam pengendalian diri itu? Dalam dunia ini, seorang nigaṇṭha hidup mengendalikan diri terhadap semua air (sabbavāri vārito), mempergunakan semua air (sabbavāri yuto), menyingkirkan semua air (sabbavāri dhuto), dan melumuri dengan semua air (sabbavāri phuṭo).”

Teks Pāli, akan tetapi, telah keliru menyandangkan empat pengendalian sebagai ajaran Nātaputta. (Ada beberapa versi Śrāmaṇyaphala Sūtra dalam terjemahan Tionghoa; Mūlasarvāstivāda Vinaya juga memuat narasi Raja Ajātaśatru mengenaï ajaran keenam tokoh śramaṇa ini — tidak satu pun di antara berbagai versi di atas yang menyebut-nyebut empat pengendalian.) Selain itu, komentar Dīgha Nikāya, Sumaṅgalavilāsinī, juga memberi penjelasan membingungkan untuk kata sabbavāri sebagai ‘semua air’, sehingga penerjemah-penerjemah modern dalam bahasa Inggris mengabaikannya dan mengganti dengan makna lainnya: ‘semua penghindaran/pengekangan (dari dosa)’.

Menurut tradisi Jaina yang sebenarnya, empat pengendalian bukan diajarkan Mahāvīra, melainkan oleh Pārśva, tīrthaṅkara (secara harfiah: ‘pembuat arungan’) yang hidup k.l. 150 tahun sebelumnya. Cāturyāma dharma tidak berkaitan dengan penggunaan air dll., tetapi merupakan disiplin yang terdiri atas:
  1. Sarvaprāṇātipāta veramaṇa — Menghindari pembunuhan semua makhluk hidup, yakni mengembangkan ahiṃsā ‘tanpa kekejaman’.
  2. Sarvamr̥ṣāvāda veramaṇa — Menghindari pengucapan semua kedustaan, yakni mengembangkan satya ‘kebenaran’.
  3. Sarvādattādāna veramaṇa — Menghindari pengambilan semua yang tidak diberikan, yakni mengembangkan asteya ‘tanpa pencurian’.
  4. Sarvabahirdhādāna veramaṇa — Menghindari kemelekatan pada semua objek eksternal.

Disiplin keempat sudah kabur maknanya pada zaman Mahāvīra, yang merupakan tīrthaṅkara ke-24 atau terakhir, sehingga ia merincikan dua kebajikan lagi yang harus dikembangkan, agar lebih jelas:
  1. Brahmacarya ‘kehidupan kudus’, dan
  2. Aparigraha ‘tanpa pemilikan’.
Kelima yāma ini berlaku, baik bagi kaum monastik maupun umat awam Jaina. Bagi kaum monastik brahmacarya berarti hidup membujang/selibat, sedangkan bagi umat awam dimengerti sebagai penghindaran aktivitas seksual di luar ikatan pernikahan. Demikian pula penerapan aparigraha bagi umat awam lebih kendur derajatnya dibandingkan kaum monastik, yang hanya boleh memiliki sedikit barang kepunyaan.


Begitu merasuknya ajaran pañcayāma ini sebagai falsafah hidup masyarakat India sehingga literatur dharmaśāstra Hindu belakangan pun meminjamnya. Misalnya, kitab Manusmr̥ti menyebutkan (bab X: 63):

Ahiṁsā satyam asteyaṁ
śaucam indriyanigrahaḥ /
etaṁ sāmāsikaṁ dharmaṁ
cāturvarṇye 'bravīn manuḥ //

“Tanpa kekejaman, kebenaran, tanpa pencurian,
kesucian, dan penguasaan indera —
inilah, secara ringkas, dharma
bagi keempat kasta,” kata Manu.

Baudhāyana Dharma-sūtra praśna II, 10:18 juga menerangkan berbagai sumpah seorang sannyāsin:

Atha imāni vratāni bhavanti: ahiṃsā, satyam, astainyaṃ, maithunasya ca varjanam, tyāga ity eva.
Selanjutnya, inilah brata-brata yang dimilikinya: tanpa kekejaman, kebenaran, tanpa pencurian, pantang berhubungan seksual, dan pelepasan.

Namun, yang paling mempopulerkannya barangkali ialah Patañjali, melalui Yoga Sūtra-nya (bab II “Sādhana Pāda”: 30):

Ahiṁsā-satya-asteya brahmacarya-aparigrahāḥ yamāḥ.
Tanpa kekejaman, kebenaran, tanpa pencurian, kehidupan kudus, dan tanpa pemilikan — [inilah Lima] Pengendalian Diri.

Dari perbandingan dengan lima pengendalian di atas, dapat kita lihat bahwa tidak ada yang baru dalam lima śīla Buddhis. Selain śīla menghindari minum minuman keras, śīla-śīla lainnya merupakan hal yang sudah umum diketahui. Kasus yang mirip juga terdapat di Cina, di mana lima śīla Buddhis dipandang tidak lain merupakan pengamalan lima kebajikan konstan (wu-ch’ang 五常) Konfusianisme. Pendekatan-pendekatan untuk menyandingkan keduanya, misalnya, dilakukan:

Dalam komentar guru besar T’ien-t’ai, Chih-i 智顗, atas Narendrarāja Prajñāpāramitā Sūtra 《仁王護國
  般若經疏》 (T. vol. 33, № 1705 hlm. 260c–261a):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.

Dalam risalah Mo-ho chih-kuan 《摩訶止觀》 (T. vol. 46, № 1911 hlm. 77b):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.




Kalau begitu, apakah keunikan śīla-śīla Buddhis? Seperti yang sudah sering disinggung, dengan menerima śīla-śīla Buddhis terbentuklah saṃvara avijñapti khusus, Prātimokṣa Saṃvara, dalam diri kita. Prātimokṣa Saṃvara merupakan dharma yang unik (dharmāntara 別法) yang hanya ada selama berlangsungnya masa Ajaran dari seorang Samyak-saṃbuddha, dan hanya dimiliki oleh Buddhis. Non-Buddhis, yang bertekad menjalankan aturan-aturan moralitas tertentu, cuma mungkin memiliki naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik (menurut sistém Vaibhāṣika) atau saṃvara avijñapti yang bersifat non-Prātimokṣa (menurut sistém Satyasiddhi).

Kita tahu bahwa latihan Buddhis itu berjenjang tiga (tisraḥ śaikṣāḥ), yakni: śīla, samādhi, dan prajñā. Adalah mustahil untuk mencapai samādhi tanpa śīla yang murni; dan śīla yang murni hanya dapat tercapai bila Prātimokṣa Saṃvara, disiplin pengarah Pembebasan, kita peroleh. Śīla-śīla Buddhis dilaksanakan dengan motivasi untuk meraih Pembebasan Sejati, sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain seringkali dilaksanakan hanya demi kelahiran di alam surga. Oleh karena itu, śīla-śīla Buddhis merupakan śīla yang melampaui duniawi (lokottara śīla), sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain hanya disebut śīla duniawi (laukika śīla).

Maka Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 73b) mengatakan:

外道無有所受戒耶?
Tiadakah Śīla yang dimiliki non-Buddhis berkat penerimaan (samādānika śīla)?

雖有,不名別解脫戒。由彼所受無有功能永脫諸惡,依著有故。
Walaupun ada, tetapi tidak disebut Prātimokṣa Saṃvara. Apa yang mereka terima tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan secara mutlak dari segala kejahatan karena mereka masih melekat pada konsep keberadaan (bhava saṃniśritatvāt). [Yakni, bahkan dalam sistém kepercayaan yang meyakini kelahiran kembali, masih terdapat konsep tentang adanya jiwa {atma}. Jiwa-jiwa yang sudah mencapai Kebebasan dari saṃsāra akan tetap eksis selamanya “di suatu tempat di atas dunia”.]

Senin, 07 September 2015

Ko-eksistensi Beberapa Tipe Prātimokṣa Saṃvara

Dalam transmisi Prātimokṣa Saṃvara, derajat kesériusan kehendak akan menentukan kuat–lemahnya avijñapti yang terbentuk. Bisa saja terdapat umat awam yang saṃvara avijñapti-nya kuat dan kaum monastik yang saṃvara avijñapti-nya lemah. Demikian pula saṃvara avijñapti yang terbentuk dalam diri seseorang mungkin kuat saat ia mengambil Śīla śrāmaṇera, namun lemah sewaktu ia menerima upasaṃpadā. Bahkan seorang arhat mungkin mempunyaï saṃvara avijñapti yang lemah, dan seorang bhikṣu biasa (pr̥ṭhagjana) mempunyaï saṃvara avijñapti yang kuat — akan tetapi, tiada Anāsrava Saṃvara dalam diri seorang pr̥ṭhagjana sebagaimana yang dimiliki arhat.

Prātimokṣa Saṃvara yang lemah, menurut sistém Vaibhāṣika, tidak dapat dikuatkan. Hal ini disebabkan avijñapti berlangsung seumur hidup. Kendati seseorang mengikuti kembali upacara pengambilan Śīla yang sama, saṃvara avijñapti yang telah terbentuk sebelumnya tidak serta-merta rontok dan tergantikan dengan yang baru. (Bahkan sesungguhnya tidak terbentuk saṃvara avijñapti baru karena ia masih memiliki yang lama.) Seseorang yang sudah mengambil suatu disiplin tidak akan kehilangan disiplinnya sampai ia mati atau sampai ia melepas Śīla. Satu-satunya solusi hanyalah dengan melepas Śīla dahulu. Jadi, seorang upāsaka dapat mengucapkan pernyataan melepas Lima Śīla (yang lemah) yang telah ia ambil, dan dianggap sebagai umat yang berlindung kepada Triratna saja. Kemudian, pada saat itu juga, ia mengambil kembali Lima Śīla (dengan buah-pikir yang lebih kuat kali ini).

Maka semuanya tergantung dari bagaimana buah-pikir yang kita bangkitkan ketika mengambil disiplin, untuk tipe apa pun. Saṃvara avijñapti yang terbentuk tentu saja diharapkan lebih kuat saat mengambil Śīla-Śīla yang lebih tinggi. Mula-mula kita mungkin mencoba-coba untuk melaksanakan Śīla sementara waktu dengan mengambil disiplin Upavasatha. Seiring dengan berkembangnya pemahaman, dan kita mampu membangkitkan tekad yang kuat, berikutnya bolehlah kita mengambil Lima Śīla untuk seumur hidup. Demikian seterusnya kita mungkin berkehendak untuk menjalani kehidupan monastik, serta menerima pravrajyā dan upasaṃpadā jikalau kita sudah dapat membangkitkan tekad yang lebih kuat lagi.

Selanjutnya muncul pertanyaan: sewaktu mengambil disiplin yang lebih tinggi, apakah beberapa tipe disiplin hadir, ataukah yang lebih rendah lebur menjadi tipe disiplin baru (yang lebih tinggi)? Menurut bait 14d dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 72b): “Masing-masing terpisah dan tidak saling berlawanan (pr̥thak te cāvirodhinaḥ 各別不相違).”

Bagaimanakah cara beberapa tipe disiplin ko-eksis dalam diri seseorang? Sebuah kutipan dari Po-ni-huan ching 《般泥洹經》(T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), salah satu dari beberapa terjemahan Parinirvāṇa Sūtra versi Hīnayāna, menyebutkan:

「我滅度後,儻有如此外學他術,在異生輩,欲棄束髮,來踐法渚,沐浴清化,捨家就戒,當聽可彼以為沙門。何則用彼有大意?故當先試之三月,知能自損,用心與不。若言、行相應者,為能捨罪,先授十戒。三年無失,乃與二百五十戒。其十戒為本,二百四十戒為禮節威儀。」
“Setelah Aku parinirvāṇa, jika seandainya terdapat praktisi ajaran lain seperti ini, yang berasal dari golongan non-Buddhis, yang hendak menanggalkan berkas rambutnya, datang menyeberangi arungan Dharma, membasuh dirinya dalam kejernihan Ajaran, dan meninggalkan kehidupan rumah-tangga serta menerima Śīla, maka Kuiizinkan untuk memperbolehkannya menjadi śramaṇa. Apalah yang dapat digunakan untuk mengetahui besarnya tekad yang ia miliki? Karenanya, ia mesti diuji terlebih dahulu selama tiga bulan untuk mengetahui apakah ia sanggup menyangkal diri, dengan segenap hatinya atau tidak. Apabila ucapannya bersesuaian dengan tingkah lakunya, dan ia sanggup melepaskan segala dosa, maka transmisikanlah dahulu 10 śīla. Setelah tiga tahun, jikalau tiada kekurangan, barulah berikan 250 śīla kepadanya: 10 śīla merupakan pokok, dan 240 śīla merupakan tatakrama yang berkenaan dengan adab kesopanan.”






Agar lebih jelas lagi, marilah kita simak tanya-jawab dalam jilid 124 komentar besar abhidharma, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, No. 1545 hlm. 646c):

問:諸近事受勤策律儀,及勤策受苾芻律儀,彼為捨前律儀,得後律儀不?若捨前得後者,何故《施設論》說:「前後律儀,彼俱成就」?
又若捨者,後捨勤策為近事時,及捨苾芻為勤策時,更未受戒,云何得彼近事、勤策二律儀耶?
若不捨者,彼既成就二種律儀,或復三種。何故得名唯依後戒?
又親教師,彼既有二。何故佛說後是前非?
Tanya: Para upāsaka yang menerima disiplin śrāmaṇera, atau para śrāmaṇera yang menerima disiplin bhikṣu, apakah disiplin mereka yang sebelumnya lepas sehingga mendapatkan disiplin yang belakangan? Jikalau yang sebelumnya lepas dan yang belakangan didapat, apakah sebabnya Prajñaptipāda Śāstra mengatakan: “Disiplin yang sebelumnya dan yang belakangan, keduanya sama-sama lengkap terbentuk”?
Juga jikalau telah lepas, bilamana seorang śrāmaṇera kembali menjadi upāsaka, atau seorang bhikṣu kembali menjadi śrāmaṇera, walau ia belum menerima Śīla apa pun lagi, apakah sebabnya ia mendapatkan [salah satu dari] kedua disiplin: upāsaka atau śrāmaṇera? [Yakni, misalnya, seorang bhikṣu yang hanya menyatakan lepas jubah, maka secara otomatis ia menjadi śrāmaṇera meskipun tidak mengambil Śīla śrāmaṇera kembali. {Seorang bhikṣu yang hendak lepas jubah menjadi upāsaka harus menyatakan bahwa ia melepas disiplin bhikṣu dan śrāmaṇera; atau juga menyatakan melepas Lima Śīla jikalau ia hanya ingin menjadi umat awam dengan Tiga Perlindungan saja.} Demikian pula halnya śrāmaṇera yang lepas jubah.]
Jikalau tidak lepas, berarti [dalam satu waktu] seseorang dapat memiliki lengkap dua atau tiga tipe disiplin sekaligus. Apakah sebabnya ia hanya disebut berdasarkan Śīla yang ia dapat belakangan? [Yakni, misalnya, seseorang dipanggil “bhikṣu” karena ia terakhir mengambil disiplin kebhikṣuan — padahal kini tiga jenis disiplin hadir bersamaan dalam dirinya.]
Juga dalam hal mengikuti guru pembimbing, kini ia telah memiliki dua. Apakah sebabnya Buddha menyatakan yang terakhir itu guru, bukan yang mula-mula lagi?

答:受後律儀,不捨前戒。謂:近事受勤策律儀,不捨近事五,更得勤策十。爾時,成就十五律儀。若勤策受苾芻律儀,不捨前十五,更得苾芻過二百五十。爾時,成就過二百六十五律儀。
有餘師說:若近事受勤策律儀,不捨近事五,更得勤策五。爾時,成就十種律儀。若勤策受苾芻律儀,不捨前十,更得苾芻過二百四十。爾時,成就過二百五十律儀。
Jawab: Jikalau menerima disiplin yang belakangan, śīla-śila yang sebelumnya tidak lepas. Jadi, upāsaka yang menerima disiplin śrāmaṇera, 5 śīla upāsaka-nya tidak lepas, dan ia mendapatkan lagi 10 śīla śrāmaṇera. Pada saat ini terbentuk lengkap disiplin dengan 15 śīla. Jikalau śrāmaṇera menerima disiplin bhikṣu, 15 śīla sebelumnya tidak lepas, dan ia mendapatkan lagi 250 lebih śīla bhikṣu. Pada saat ini terbentuk lengkap disiplin dengan 265 śīla lebih. (Vasubandhu tampaknya lebih menyetujui pendapat ini — lihat ilustrasi di bawah.)
Ada guru-guru lain berpendapat: Jikalau upāsaka menerima disiplin śrāmaṇera, 5 śīla upāsaka-nya tidak lepas, dan ia mendapatkan lagi 5 śīla śrāmaṇera. Pada saat ini terbentuk lengkap disiplin dengan 10 śīla. Jikalau śrāmaṇera menerima disiplin bhikṣu, 10 śīla sebelumnya tidak lepas, dan ia mendapatkan lagi 240 lebih śīla bhikṣu. Pada saat ini terbentuk lengkap disiplin dengan 250 śīla lebih.

問:彼既成就二種律儀,或復三種。何故得名唯依後戒?
Tanya: Ia telah memiliki lengkap dua atau tiga tipe disiplin sekaligus. Apakah sebabnya ia hanya disebut berdasarkan Śīla yang ia dapat belakangan?

答:就勝,立名不應為難。如得勝位,捨本劣名。
Jawab: Karena lebih unggul — maka menetapkan sebutannya bukanlah perkara yang rumit. Jikalau seseorang mendapat kedudukan yang lebih unggul, ia menanggalkan sebutannya semula yang lebih asor.

問:彼親教師,既有二種。何故佛說後是前非?
Tanya: Dalam hal mengikuti guru pembimbing, kini ia telah memiliki dua jenis. Apakah sebabnya Buddha menyatakan yang terakhir itu guru, bukan yang mula-mula lagi?

答:以勝律儀,依後師得,不依前故。如不依彼律儀得名,彼師亦爾。
復有說者:捨前律儀。
Jawab: Karena disiplin yang lebih unggul diperoleh dari guru yang belakangan, bukan dari yang sebelumnya. Sebagaimana ia mendapatkan sebutan bukan lagi berdasarkan disiplin [yang mula-mula] itu, demikian pula halnya guru itu.
Tetapi, ada pula [yang masih bersikukuh dengan] pendapat: Berarti disiplin sebelumnya lepas!

問:若爾,何故《施設論》說:「前後律儀,彼俱成就」?
Tanya: Jika demikian, apakah sebabnya Prajñaptipāda Śāstra mengatakan: “Disiplin yang sebelumnya dan yang belakangan, keduanya sama-sama lengkap terbentuk”?

答:彼論意說,由前律儀,資後令勝。前戒勢力,今時猶轉,故說成就。而先律儀,實不成就。
Jawab: Maksud śāstra ini adalah disiplin sebelumnya berkontribusi memperkuat yang belakangan. Kekuatan Śīla yang sebelumnya masih berlanjut saat ini, maka disebut “lengkap terbentuk”. Namun, disiplin yang terdahulu sesungguhnya tidak benar-benar [masih] berbentuk.

問:後捨苾芻為勤策時,及捨勤策為近事時,復云何得彼二戒耶?
Tanya: Lalu pada saat seorang bhikṣu lepas jubah menjadi śrāmaṇera, atau pada saat seorang śrāmaṇera lepas jubah menjadi upāsaka, bagaimanakah ia kembali mendapatkan kedua jenis Śīla tersebut?

答:即由語表自誓:「我今還為勤策或近事」,故得二律儀,非成舊戒。如是說者,不捨前戒,而得後戒。彼後所受,非前所受,相違法故。又前後戒,因緣各別,不應相合,成十數等。
Jawab: Yaïtu dari vak vijñapti berupa pernyataannya sendiri: “Kini aku kembali menjadi śrāmaṇera atau upāsaka”, maka ia mendapatkan [salah satu dari] kedua disiplin itu; bukan karena mendaur-ulang Śīla yang lama. Penjelasan ini maksudnya: bukan karena Śīla sebelumnya tidak lepas (misalnya: Śīla śrāmaṇera sebelum di-upasaṃpadā), maka [secara otomatis] mendapatkan Śīla yang belakangan (Śīla śrāmaṇera setelah lepas jubah). Śīla belakangan yang diterimanya bukanlah yang ia terima sebelumnya, karena keduanya merupakan dharma yang saling berlawanan (virodhin). Juga sebab dan kondisi terbentuknya Śīla yang sebelumnya dengan yang belakangan masing-masing berbeda; janganlah mencampur-aduk pembentukannya (10 śīla dll.)!

Pendekatan I: Abhidharma Mahāvibhāṣā

Pendekatan II: Abhidharma Mahāvibhāṣā, Parinirvāṇa Sūtra, Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā

Pelepasan Disiplin (śikṣāpratyākhyāna)

Lihat juga Perolehan dan Pelepasan Disiplin dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā.

Senin, 31 Agustus 2015

Keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara

Beberapa keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara dibandingkan dua jenis disiplin lainnya (lihat Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》, T. vol. 23, № 1440 hlm. 507c):

  • DARI SEGI WAKTU
若佛出世,得有此戒。禪戒、無漏戒,一切時有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya ada sewaktu munculnya seorang Samyak-saṃbuddha yang menetapkannya, sehingga lebih langka dan tidak terdapat setiap saat sebagaimana halnya Anāsrava Saṃvara (yang selalu dimiliki para anāgāmin di Alam Śuddhāvāsa, misalnya) dan Dhyānaja Saṃvara (di antara dewa-dewa di Rūpadhātu) .
  • DARI RUANG LINGKUP
於一切眾生、非眾生類,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,但於眾生上得。
Penerapan Prātimokṣa Saṃvara lebih lebar cakupannya: terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup. Sedangkan cakupan dua jenis disiplin lainnya hanya terhadap objek hidup.
Dhyānaja dan Anāsrava Saṃvara hanya mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bersifat alami/yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal. Prātimokṣa Saṃvara, di samping mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal (prakr̥ti sāvadya, misalnya: pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan), juga yang bertentangan dengan norma-norma khusus yang ditetapkan Buddha (prajñapti sāvadya, misalnya: minum minuman keras dan aturan puasa).
  • DARI SEGI BATIN
於一切眾生上慈心,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,不以慈心得也。
Prātimokṣa Saṃvara terbentuk melalui paravijñapana, dengan batin yang diliputi kasih-sayang terhadap semua makhluk. Dua jenis disiplin lainnya terbentuk tidak melalui paravijñapana, tanpa batin yang diliputi kasih-sayang, melainkan hanya dengan Pengetahuan yang diperoleh dari konsentrasi meditasi.
Seseorang yang melaksanakan Prātimokṣa Saṃvara berarti telah melakukan dāna yang besar kepada semua makhluk (misalnya: dengan tidak membunuh, ia telah memberikan rasa aman kepada semua makhluk sehingga semua mahluk tidak merasa terancam nyawanya, dsb.). Karena diambil dengan dilandasi kasih-sayang, Prātimokṣa Saṃvara dapat menjadi sebab, bahkan, untuk meraih Kebuddhaan.
  • DARI FUNGSINYA
夫能維持佛法,有七眾在世間,三乘道果,相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。禪、無漏戒不爾。
Ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis ada karena terdapatnya Prātimokṣa Saṃvara. Berkat kesinambungan penerimaan Prātimokṣa Saṃvara, praktek ketiga Kendaraan masih terlaksana hingga hari ini dan, dengan demikian, masih terbukalah kemungkinan realisasi Jalan dan Buah. Fungsi Prātimokṣa Saṃvara dalam menjaga kelestarian Buddhadharma ini tidak dimiliki oleh dua jenis disiplin lainnya.
  • DARI PENERIMANYA
波羅提木叉戒,但佛、佛弟子有。禪戒,外道俱有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya dimiliki oleh Buddha dan siswa-siswi-Nya. Sedangkan Dhyānaja Saṃvara dapat pula dimiliki oleh non-Buddhis. (Non-Buddhis, yang berada di luar Buddhadharma, tidak mungkin memiliki Anāsrava Saṃvara.)





Kamis, 27 Agustus 2015

Cara Perolehan Prātimokṣa Saṃvara

Sehubungan dengan terbentuknya Prātimokṣa Saṃvara melalui paravijñapana, guru-guru vinaya menyebutkan sepuluh cara yang berbeda-beda, sebagaimana dirinci dalam Vinaya Piṭaka mazhab Sarvāstivāda 《十誦律》 (T. vol. 23, № 1435), bhāṇavāra ke-10 (“Vinītaka Adhyāya” 比尼誦, hlm. 410a). Lihat juga pada penjelasan untuk bait 26 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74b).

Sepuluh cara perolehan Prātimokṣa Saṃvara tersebut antara lain:


  1. Timbul dengan sendirinya (svayaṃbhūtva 由自然)

    Ini berlaku hanya bagi Buddha, sang Bhagavan sendiri, yang memperoleh Prātimokṣa Saṃvara tanpa guru.

  2. Dengan memperoleh Kepastian terbebas dari kelahiran kembali (niyāmāvakrānti 由得入正性離生)

    Dialami oleh kelima murid pertama (Ājñata Kauṇḍinya dkk.). Saat pertama kalinya mereka melihat Kebenaran dan memasuki Jalan Kesucian, saat itu pula mereka memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  3. Melalui panggilan “datanglah, Bhikṣu!” (ehibhikṣuka 由佛命善來苾芻)

    Ketika Buddha berseru kepada seseorang “datanglah, Bhikṣu!”, maka pada saat itu juga substansi Śīla terbentuk dalam diri orang tersebut. Rambutnya akan rontok secara ajaib dan pakaiannya bersalin menjadi tiga jubah monastik. Contoh arhat yang memperoleh disiplin secara demikian adalah Yaśa. Terdapat juga kisah-kisah beberapa wanita yang ditahbis menjadi bhikṣuṇī dengan cara ini.

  4. Dengan keyakinan menerima Buddha sebagai Guru Agung (śāstr̥abhyupagama 由信受佛為大師)

    Mahākāśyapa memperoleh disiplin kebhikṣuan dengan mengucapkan sendiri pernyataan bahwa Buddha adalah gurunya — Sewaktu ia menghormati dewa-dewa, patung-patung para dewa tersebut hancur berkeping-keping. Ia tidak berani memberi salam kepada Buddha karena khawatir tubuh Beliau pun akan hancur berkeping-keping. Namun, Buddha memberi isyarat agar ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dan, ternyata, Buddha tidak terluka sedikit juga. Maka Mahākāśyapa pun berkata: “Dialah guruku (ayaṃ me śāstā)!”

  5. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terampil (praśnārādhana 由善巧酬答所問)

    Cara ini dialami oleh Bhikṣu Sodāyin. Buddha merasa puas karena ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Beliau ajukan, dan pada saat bersamaan Sodāyin pun memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  6. Dengan menerima delapan aturan berat (gurudharmābhyupagama 由敬受八尊重法)

    Khusus berlaku bagi bhikṣuṇī pertama, Mahāprajāpatī Gautamī. Saat ia bersedia menerima delapan aturan berat (gurudharma), saat itu pula substansi Śīla bhikṣuṇī terbentuk dalam dirinya.

  7. Melalui utusan (dūta 由遣使)

    Cara ini dialami oleh Ardhakāśī, seorang wanita yang kecantikannya seberharga setengah Negeri Kāśi. Banyak pria yang tergila-gila kepadanya dan ingin melamarnya. Namun, Ardhakāśī lebih suka meninggalkan rumah-tangga. Untuk menghindari kejaran mereka, ia melarikan diri ke taman kerajaan. Para penggemarnya bersepakat: “Para bhikṣuṇī berada di bawah perlindungan kerajaan; jika kita mengganggu seorang bhikṣuṇī, tentu kita akan mendapat hukuman raja. Jangan sampai Ardhakāśī pergi untuk ditahbiskan. Begitu ia keluar taman, marilah kita segera menculiknya.” Mengetahui hal ini, maka Buddha mengutus seorang bhikṣuṇī untuk mewakilinya memohon penahbisan dari saṅgha. Ardhakāśī melakukan segala komunikasi dengan saṅgha dalam penahbisannya, melalui perantaraan utusan tersebut.

    (Lihat kisahnya dalam skandhaka terakhir dari Sarvāstivāda Vinaya, “Kṣudraka Dharma” 《十誦律·雜法》 [T. vol. 23, № 1435 hlm. 295b]. Untuk perolehan Prātimokṣa Saṃvara dengan cara ini, Abhidharmakośa Bhāṣya akan tetapi memberikan contoh kasus Bhikṣuṇī Dharmadinnā.)

  8. Dengan mengulangi tiga kali pernyataan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha (śaraṇagamanaṃ-traivācika 由三說歸佛法僧)

    Merupakan cara yang mula-mula ditetapkan Buddha bagi para bhikṣu dalam memberikan penahbisan. Seseorang yang ingin meninggalkan rumah-tangga dapat memohon seorang bhikṣu lain menjadi guru. Gurunya itu akan mengajarinya rumusan Tiga Perlindungan. Pada saat si pemohon selesai mengulangi tiga kali, maka saat itu pula substansi Śīla bhikṣu ia peroleh. Ini serupa dengan cara penerimaan pengikut-pengikut awam menjadi upāsaka/upāsikā. Pada saat seorang awam selesai mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diajarkan gurunya, maka saat itu pula disiplin upāsaka/upāsikā terbentuk dalam dirinya. Penahbisan bhikṣu dengan cara ini diizinkan beberapa saat lamanya, hingga dilarang kembali oleh Buddha dan diganti dengan cara penahbisan di bawah.

  9. Melalui saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang (daśavarga 由十眾)

    Ketika anggota saṅgha semakin banyak, mulaï muncul penyelewengan-penyelewengan. Orang-orang yang seharusnya tidak layak berada di dalam saṅgha malah diterima. Oleh karena itu, prosedur penahbisan pun diperketat. Mengulangi Tiga Perlindungan tidak lagi diizinkan sehingga hanya kita jumpaï dalam pemberian Śīla-Śīla yang lebih rendah. Prosedur baru diperkenalkan, yang disebut jñapti-caturtha karman, di mana seseorang tidak dapat hanya memohon seorang bhikṣu sebagai guru penahbis, tetapi harus kepada saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang bhikṣu (tiga guru dan tujuh saksi 三師七證). Inilah cara yang kemudian berlaku untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī, dan berlanjut terus hingga hari ini.

  10. Dengan pemegang vinaya sebagai yang kelima (vinayadharapañcama 由持律為第五人)

    Ini merupakan toleransi untuk cara #9, khusus bagi daerah-daerah di luar Madhyadeśa di mana saṅgha yang ada tidak memenuhi kuorum sepuluh bhikṣu, sehingga diizinkan untuk melakukan penahbisan dengan dihadiri oleh lima bhikṣu saja (tiga guru dan dua saksi 三師二證).


Dari berbagai cara di atas dapat kita lihat bahwa perolehan Prātimokṣa Saṃvara tidak selalu melibatkan aspek vijñapti, misalnya yang diperoleh tanpa guru oleh Buddha sendiri. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa Buddha pun melalui aspek vijñapti, yakni saat Beliau bertekad di bawah pohon Bodhi: “Aku tidak akan bangkit sebelum mengakhiri segala kebocoran-batin,” dan kemudian duduk. Di sini kāya vijñapti dan vāk vijñapti telah terbentuk. Saat Beliau benar-benar mengakhiri segala kebocoran-batin, maka saat itu pula Prātimokṣa Saṃvara terbentuk dalam diri-Nya.

Begitu juga Prātimokṣa Saṃvara yang diperoleh kelima murid pertama (Pañcavargika) dengan memasuki Jalan adalah tidak melibatkan aspek vijñapti. Namun, ada yang berpendapat bahwa terdapat aspek vijñapti dalam kesediaan mereka duduk dan mendengarkan khotbah Buddha. Selesai khotbah itu disampaikan, saat itu pula mereka melihat Kebenaran, dan terbentuklah Prātimokṣa Saṃvara dalam diri mereka.

Kamis, 06 Agustus 2015

Jenis-Jenis Disiplin: Pratimokṣa Saṃvara, Dhyānaja Saṃvara, dan Anāsrava Saṃvara

Kita telah mengetahui bahwa avijñapti dibedakan menjadi tiga jenis, di mana salah satunya adalah saṃvara avijñapti, yang merupakan substansi Śīla yang tak termanifestasi. Pandangan-pandangan berbeda dari berbagai mazhab mengenaï substansi Śīla pun telah diuraikan. Sekarang kita akan meninjau saṃvara, yang dalam bahasa Cina ditafsirkan sebagai 律儀 ‘disiplin’, 禁戒 ‘aturan-pantangan’, atau 護 ‘penjaga’.

Penerjemah I-tsing, dalam Mūlasarvāstivāda Ekaśatakarman 《根本說一切有部百一羯磨》 (T. vol. 24, № 1453 hlm. 455c), memberikan catatan untuk kata majemuk lü-i-hu 律儀護 (‘disiplin-penjaga’) yang ia gunakan:

此言【護】者,梵云「三跋羅」,譯為擁護。由受歸戒護,使不落三塗。
Istilah hu di sini bahasa Sanskertanya ialah saṃvara, yang terjemahan harfiahnya ‘menjaga/ mengekang’. Penjagaan yang diterima dari [Tiga] Perlindungan dan Śīla akan mencegah kita agar tidak terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.

舊云【律儀】,乃當義譯,云是律法儀式。若但云【護】,恐學者未詳,故兩俱存。
Istilah lama lü-i merupakan terjemahan bebas sesuai makna teknisnya, yakni ‘tata-tertib hukum’. Apabila hanya diterjemahkan sebagai hu, saya khawatir orang yang mempelajari [tulisan saya] tak dapat menangkapnya. Oleh karena itu, kedua istilah ini saya pertahankan.

《明了論》已譯為【護】,即是戒體無表色也。
Dalam Ming-liao lun (judul sebuah śāstra terjemahan Paramārtha yang membahas vinaya mazhab Saṃmitīya, T. № 1461) istilah hu [sebenarnya] telah digunakan juga untuk merujuk avijñapti-rūpa, yakni substansi Śīla yang tak termanifestasi.


Pada posting terdahulu, yang kita bahas secara garis besar sebenarnya hanya menyinggung tipe pertama dari tiga tipe saṃvara avijñapti. Adapun ketiga tipe saṃvara avijñapti tersebut adalah:


———————————————————————————
1.1 PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 別解脫律儀
———————————————————————————

Dalam bahasa Cina kata prātimokṣa ditafsirkan sebagai 別解脫 ‘pembebasan khusus’. PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ adalah tipe disiplin khusus yang dapat membebaskan dari kekotoran batin dan karma buruk, yang berbeda dengan dua jenis disiplin yang akan diterangkan selanjutnya di bawah (ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ). PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ meliputi disiplin untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: disiplin bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, dan upāsikā (kadang-kadang disiplin pelaksana upavāsa [upavāsastha] ditambahkan sebagai yang kedelapan).

Prātimokṣa juga ditafsirkan sebagai 處處解脫 ‘pembebasan segi demi segi’ karena mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan jasmani dan ucapan, khususnya yang dilakukan melalui masing-masing dari ketujuh jalan-karma. (Tentang karmapatha lihat di sini.) Dengan memegang satu śīla, akan diperolehlah kebebasan dalam satu segi. Dengan memegang lengkap semua śīla, akan diperolehlah kebebasan lengkap dalam semua segi.

Prātimokṣa pada akhirnya bukan hanya membawa pembebasan dalam hal yang terkondisi (saṃskr̥ta) saja, melainkan juga Buah Kebebasan yang tak terkondisi (asaṃskr̥ta). Maka tafsiran lain untuk prātimokṣa ialah 隨順解脫 ‘pengarah Pembebasan’. Dalam Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 (T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a) dikatakan:

戒是正順解脫之本,故名「波羅提木叉」。
Śīla adalah dasar yang tepat untuk menuju (prāti) ke arah Pembebasan (mokṣa). Oleh sebab itu, maka disebut prātimokṣa.

Āᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi (kāmāvacara). Disiplin ini diterima berkat penunjukan orang lain (paravijñapana 由他教), yakni dari saṅgha atau dari seorang guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid, melalui upacara transmisi secara formal.

Avijñapti yang terbentuk akan tetap tinggal saat seseorang memiliki batin yang berbeda (anyacitta 異心) atupun saat tidak sadar (acittaka 無心). Jadi, walaupun seseorang memiliki buah-pikir jahat atau netral, disiplinnya tidak serta-merta menjadi rontok. Begitu pula saat ia tidak sadar, misalnya sewaktu tidur atau pingsan, ia tidak kehilangan disiplinnya. Avijñapti tersebut akan berlangsung seumur hidupnya (khusus untuk disiplin upavāsastha: sehari-semalam) atau sampai ia melepas Śīla.


———————————————————————————
1.2 DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 靜慮律儀
———————————————————————————

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya konsentrasi meditasi 定共戒.

Sementara ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi, ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang berkenaan dengan Ranah Dhyāna Bermateri (rūpāvacara). Dhyāna Bermateri dapat dibagi menjadi empat tingkatan Dhyāna Pokok (mauladhyāna 根本靜慮). Masing-masing tingkatan didahului oleh sebuah konsentrasi Pendekatan (sāmantaka 近分) yang menjadi tetangganya. Selain itu, terdapat “dhyāna kelima” di antara Dhyāna I dengan II (dhyānāntara 靜慮中間) di mana vitarka telah ditanggalkan, namun vicāra masih ada. Jadi, secara rinci ada sembilan jenjang Dhyāna Bermateri.

DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ timbul dalam pencapaian keempat Dhyāna Pokok (samāpatti), keempat konsentrasi Pendekatan, maupun Dhyānāntara. Seseorang dengan buah-pikir baik — tetapi masih bersifat duniawi/disertaï kebocoran (sāsrava)¹ — yang memasuki, minimal, konsentrasi Pendekatan pra-Dhyāna I (disebut anāgamya 未至), dapat memiliki disiplin ini. Avijñapti yang terbentuk berkat meditasinya akan mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.

Berbeda dengan ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang tidak hilang karena perubahan (saat buah-pikir pemiliknya menjadi jahat/netral, atau saat tidak sadar), ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sangat terpengaruh oleh keadaan batin (cittānuvartin 隨心轉). DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ akan hilang saat pemiliknya terjatuh dari konsentrasinya atau, khusus dewa-dewa di Rūpadhātu, saat mengalami kematian dan terlahir kembali di alam surga yang lebih rendah/lebih tinggi.


——————————————————————————— 
1.3 AɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀
——————————————————————————— 

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya tingkat-tingkat kesucian 道共戒.

Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dimiliki oleh para ārya-pudgala, baik yang masih harus berlatih (śaikṣa) maupun yang tidak perlu berlatih lagi (aśaikṣa). Disiplin ini diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri — dalam keempat Mauladhyāna, Dhyānāntara, ataupun Anāgamya — oleh mereka dengan buah-pikir bebas-kebocoran (anāsravacitta), yakni buah-pikir yang membentuk Jalan. Seseorang yang, minimal, mencapai Jalan Penglihatan (darśana mārga 見道) dan merealisasi pengetahuan langsung tentang Empat Kebenaran Mulia untuk pertama kalinya, akan memiliki disiplin ini sebagai srotāpatti-pratipannaka.

Sebagaimana ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang sangat terpengaruh oleh keadaan batin, ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ juga akan hilang saat pemiliknya merealisasi Buah dari Jalan yang selama ini ia arah (misalnya: dari Srotāpatti-pratipanna lalu merealisasi Srotāpatti-phala) atau, masih dalam tingkatan yang sama, saat terjadi penyempurnaan indera dari lemah menjadi tajam (misalnya: seorang srotāpatti-pratipannaka beralih dari śraddhānusārin menjadi dharmānusārin). Disipin ini juga akan hilang jika pemiliknya, sebaliknya, terjatuh dari konsentrasi bebas-kebocoran.

Di alam manusia seseorang dapat memiliki ketiga tipe disiplin. Sedangkan di surga-surga Alam Nafsu Inderawi dan Alam Dhyāna Bermateri terdapat dua jenis disiplin: ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ. Di Alam Dhyāna Tanpa-materi disiplin tidak hadir².






CATATAN:

¹ Demikian menurut Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558). Pada penjelasan untuk bait 18 dari bab IV (hlm. 73b), Vasubandhu menggolongkan semua disiplin yang diperoleh dalam Anāgamya maupun Mauladhyāna sebagai ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ bila masih disertaï kebocoran, dan sebagai ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ bila bebas-kebocoran.

Akan tetapi, Dharmatrāta, dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 891c) karyanya, memberikan definisi yang berbeda. DʜʏĀɴᴀᴊᴀ hanya mencakup semua disiplin yang diperoleh dalam Mauladhyāna, entah yang disertaï kebocoran ataupun bebas-kebocoran. Sedangkan yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara, bila masih disertaï kebocoran, tidak digolongkan sebagai disiplin. Dengan kata lain, substansi moralitas yang terbentuk bukanlah saṃvara avijñapti, melainkan naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti.

Untuk lebih jelasnya, hal ini dinyatakan dalam empat kombinasi:

a.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀非無漏者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
b.  Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀非禪者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.
c.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sekaligus ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 亦禪無漏律儀者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
d.  Bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ bukan pula ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 非禪無漏律儀者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.

² Karena disiplin (saṃvara) merupakan sebuah tipe avijñapti; sedangkan avijñapti sendiri digolongkan sebagai materi (rūpa) dalam Abhidharma. Menurut kaum Vaibhāṣika, ārya-pudgala yang terlahir di Ārūpyadhātu mempunyaï pemilikan (samanvāgama) atas disiplin, tetapi hanya berupa potensi, karena disiplin tidak maujud (na saṃmukhībhāva) di sana.

Pendapat berbeda dipegang oleh Bhadanta Harivarman dalam Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646). Dalam sistém Satyasiddhi, karena avijñapti digolongkan sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra, yang bukan merupakan materi ataupun batin, maka avijñapti hadir pula di Ārūpyadhātu. Jadi, dewa-dewa di sana pun memiliki saṃvara. Lebih lanjut, Harivarman melakukan re-klasifikasi atas saṃvara avijñapti (lihat bab CXII, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 七善律儀品) menjadi:

a.  Śīʟᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 戒律儀
Meliputi segala disiplin yang terbentuk berkat paravijñapana, baik bagi kalangan Buddhis maupun non-Buddhis. Dalam sistém Abhidharma selama ini, sebagai lawan kontra-disiplin (asaṃvara), pengadopsian moralitas digolongkan ke dalam sebuah tipe saṃvara avijñapti, yaïtu ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ. Akan tetapi, hanya moralitas Buddhislah yang dimasukkan ke sana. Seketat apa pun moralitas yang diadopsi oleh non-Buddhis, avijñapti yang terbentuk hanya digolongkan sebagai naivasaṃvara-nāsaṃvara. Padahal, mereka mungkin membangkitkan tekad dengan cara yang hampir mirip dengan Buddhis. Oleh sebab itu, sepatutnyalah tipe saṃvara avijñapti ini diklasifikasi-ulang dan mencakup pula non-ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ.
b.  DʜʏĀɴᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀
Meliputi ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dalam klasifikasi Abhidharma. Kedua tipe disiplin ini pada hakikatnya adalah sama karena sama-sama diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri. Yang membedakannya hanyalah: yang satu disertaï kebocoran, yang lainnya bebas-kebocoran.
c.  SᴀᴍĀᴘᴀᴛᴛɪ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 定律儀
Merupakan disiplin yang timbul dalam pencapaian Dhyāna Tanpa-Materi (ārūpya samāpatti). Ini sudah diterangkan di atas: karena dalam sistém Satyasiddhi avijñapti merupakan sebuah citta-viprayukta saṃskāra sehingga saṃvara avijñapti pun terdapat di Ārūpyadhātu.

Penggolongan avijnapti dalam Abhidharma
Jenis-jenis avijñapti menurut sistém Vaibhāṣika


Penggolongan avijnapti dalam Satyasiddhi Sastra
Jenis-jenis avijñapti menurut Bhadanta Harivarman