Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Tiga Perlindungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiga Perlindungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2022

Tentang 𝘗𝘳𝘢̄𝘯̣𝘰𝘱𝘦𝘵𝘢

Kali ini kita hanya meninjau-ulang posting yang sangat lama.

Di akhir banyak sūtra seringkali terjumpaï orang awam yang, setelah mendengar khotbah Buddha, yakin kepada Triratna dan biasanya menyerahkan diri sebagai upāsaka dengan mengucapkan rumusan pergi berlindung (śaraṇa gamana). Rumusan klisé itu — dengan kukuh oleh kaum Vaibhāṣika, yang tampaknya salah mengutip, dikatakan bersumber dari Mahānāma Sūtra — umumnya berbunyi:

“Eṣo ’haṃ bhagavantam buddhaṃ śaraṇaṃ gacchāmi, dharmaṃ ca bhikṣusaṃghaṃ ca. Upāsakaṃ ca māṃ dhāraya adyāgreṇa yāvajjīvaṃ prāṇopetaṃ śaraṇaṃ gatam abhiprasannam.”
(“Aku berlindung kepada Bhagavan, sang Buddha; serta kepada Dharma dan Bhikṣu-saṅgha. Peganglah [pernyataan ini] bahwa aku adalah upāsaka yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, seumur hidup pergi berlindung dengan penuh keyakinan.”)

Variasi pada sūtra-sūtra lainnya kadang-kadang menambahkan lima langkah latihan dan mengganti klausa terakhir menjadi: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku tidak membunuh, tidak mencuri, … tidak meminum minuman-keras, memegang Śīla dengan penuh kemurnian.” Dengan demikian nyatalah bahwa sejak awal terdapat upāsaka yang hanya mengambil Tiga Perlindungan dan upāsaka yang menambah dengan disiplin Lima Śīla. Kaum Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa tiada upāsaka yang tanpa disiplin lengkap, akan tetapi dengan tegas menolaknya.

Sebagaimana kata abhiprasanna yang dapat diterjemahkan ‘penuh keyakinan’ atau ‘penuh kemurnian’, kata prāṇopeta juga memiliki nuansa dalam penafsiran. Prāṇopeta berarti ‘menjaga kehidupan’. Maka klausa terakhir rumusan pertama di atas biasanya dimengerti sebagai: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, selama aku menjaga kehidupan (selama kehidupanku terjaga/seumur hidupku) pergi berlindung dengan penuh keyakinan.” Namun, kaum Vaibhāṣika menafsirkannya: “… yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, selama itu aku akan menjaga kehidupan dan pergi berlindung dengan penuh kemurnian.”

“Aku akan menjaga kehidupan” dimengerti sebagai “aku akan berpantang membunuh”. Hal ini membuka kemungkinan lagi bahwa terdapat upāsaka yang, di samping mengambil Tiga Perlindungan, hanya mengambil satu langkah latihan saja, yakni: pantang membunuh. Ketika (Proto-)Sautrāntika menjebak dengan menanyakan kemungkinan ini, Vaibhāṣika berkelit kembali menolaknya — akan kita lihat alasannya di bawah.


Bias juga timbul ketika rumusan klisé prāṇopeta dialihbahasakan. Entah sengaja atau tidak, sebagian penerjemah Tionghoa mengikuti pandangan Vaibhāṣika, yang tampaknya sudah mengakar dan populer. Ini bisa kita lihat berulang-ulang dalam Pi-nai-yeh 《鼻奈耶》 (T. № 1464), terjemahan tertua (tidak selesai, hanya dalam 10 jilid) Vinaya Piṭaka milik mazhab yang tidak kita ketahui, di mana rumusan tersebut selalu berbunyi:

「……歸佛、歸法、歸比丘僧。聽為優婆塞,從今日始,盡命不殺生(歸命/受三自歸)。」
“[Aku] berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dharma, berlindung kepada Bhikṣu-saṅgha. Izinkanlah [aku] menjadi upāsaka yang, mulai hari ini hingga akhir hayatku, tidak membunuh kehidupan (dan pergi berlindung/menerima Tiga Perlindungan).”

Di akhir Sūtra tentang Sang Penghitung 《佛說數經》 (T. № 70, berpadanan dengan Gaṇaka Moggallāna Sutta [MN 107]), sang Penghitung mengucapkan:

「我今自歸佛、法、及比丘僧。唯!世尊。我今持優婆塞,從今日始,盡命離殺生,今自歸。」
“Aku kini berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha. Ya! Bhagavan, Aku kini berpegang sebagai upāsaka yang, mulai hari ini hingga akhir hayatku, meninggalkan pembunuhan kehidupan dan kini pergi berlindung.”

Brāhmaṇa Kebocoran Kelahiran 生漏 (tampaknya menerjemahkan suatu bentuk Prakerta dari *Jāna√sru), di akhir sūtra ke-9 dari varga XXXVII Ekottara Āgama (berpadanan dengan Methuna Sutta [AN VII.5: 7]), juga mengucapkan:

「我今自歸佛、法、眾,自今之後不復殺生。唯願受為優婆塞!」
“Aku kini berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha, mulai saat ini dan seterusnya tidak lagi membunuh kehidupan. Berkenanlah kiranya menerimaku sebagai upāsaka!”

Terhadap semua ini, Vaibhāṣika, yang berpendapat bahwa tiada upāsaka yang tanpa disiplin, tidak terjebak. Sebab menurut mereka rumusan Tiga Perlindungan menjadi verba consecrationis, maka saat seseorang selesai mengulangi Tiga Perlindungan, saat itulah disiplin lengkap Lima Śīla diperoleh. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā  (lihat di sini) ditandaskan: baik mengucapkan lima atau hanya mengucapkan satu (atau, bahkan, tidak mengucapkan sama sekali) langkah latihan, semuanya memperoleh disiplin lengkap Lima Śīla karena niat awalnya adalah hendak mengambil Lima Śīla. Juga karena bagian kekuatan masing-masing langkah latihan saling melekat satu sama lain sehingga, meski mengucapkan satu, kelima langkah latihan diperoleh.

Akhirnya, kendati menolak keberadaan upāsaka tanpa disiplin yang hanya pergi berlindung dan upāsaka dengan disiplin tidak lengkap yang mengambil langkah-langkah latihan sebagian saja, Vaibhāṣika menggaungkan bahwa hakikat disiplin Buddhis sesungguhnya adalah meninggalkan tindakan menyakiti makhluk lain (dengan semangat bertolak dari saṃsāra, lihat di sini). Menurut mereka menjaga kehidupan (prāṇopeta) bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan, tetapi juga tidak menyebabkan gangguan pada semua makhluk. Ketika seseorang cuma mengucapkan “aku akan menjaga kehidupan”, ia sebenarnya berkomitmen: “Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, terhadap semua makhluk, aku tidak akan mencelakaï hidupnya, tidak akan mencuri miliknya, tidak akan berzinah dengan istrinya, tidak akan mendustaïnya. Demi menjaga keempat hal ini, aku juga tidak akan meminum minuman keras.”

Senin, 14 Oktober 2019

Memiliki Avetya Prasāda merupakan Faktor Srotāpatti

Sūtra pendek dari Saṃyukta Āgama berikut (T. vol. 2, № 99 hlm. 298c) paralel dengan Brahmacariyogadha Sutta dalam Kanon Pāli (SN LV.1: 2), minus gāthā penutup di akhir. Sūtra ini sebenarnya dimaksudkan sebagai prototipe — dinyatakan dalam catatan setelahnya — dan harus dipecah menjadi tujuh sūtra tersendiri-sendiri dengan mengganti kata “barangsiapa” menjadi “bhikṣu”, “bhikṣuṇī”, “śikṣamāṇā”, “śrāmaṇera”, “śrāmaṇerī”, “upāsaka”, dan “upāsikā” berturut-turut.

Seperti yang pernah disinggung dahulu, kata prasāda dapat dialihkan beragam dalam bahasa Tionghoa. Guṇabhadra, sang penerjemah Saṃyukta Āgama, memilih 淨 ‘kemurnian’. Agar sejalan dengan pembahasan kita, maka ‘keyakinan murni’ akan kita gunakan sebagai padanan.







《四法經》
Sūtra tentang Empat Dharma
(Saṃyukta Āgama 1127)






如是我聞。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛住舍衛國,祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berdiam di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



爾時,世尊告諸比丘:「若有成就四法者,當知!是須陀洹。何等為四?
Pada saat itu Bhagavan bersabda kepada para bhikṣu: “Barangsiapa yang berhasil meraih empat dharma, maka ketahuilah: ia seorang srotāpanna! Apakah keempatnya itu?

謂:
Yakni:
於佛不壞淨,  terhadap Buddha memiliki keyakinan murni yang tak terhancurkan,

於法、     terhadap Dharma
 僧不壞淨,  dan Saṅgha memiliki keyakinan murni yang tak terhancurkan,

聖戒成就。   meraih Śīla [yang dicintaï] para suci.


是名四法。成就者,當知!是須陀洹。」
Itulah yang dinamakan keempat dharma. Barangsiapa yang berhasil meraihnya, maka ketahuilah: ia seorang srotāpanna!”



佛說此經已,諸比丘聞佛所說,歡喜奉行。
Setelah selesai Buddha membabarkan sūtra ini, para bhikṣu merasa amat bergembira demi mendengar apa yang Beliau sabdakan, serta menjunjung dan melaksanakannya.







(如不分別說,如是分別比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷成就四法者,當知!是須陀洹,一一經如上說。)
(Seperti contoh yang tidak spesifik ini, demikian spesifikkan untuk bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā “yang berhasil meraih empat Dharma …” — masing-masing sūtra sama dengan yang dicontohkan di atas.)

Selasa, 08 Oktober 2019

Diri Sendiri = Objek Berlindung?

Bahwasanya Perlindungan tertinggi adalah kepada Dharma telah disabdakan oleh Buddha sendiri dalam *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 atau ‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, yang merupakan sūtra ke-2 Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 15b):

「是故!阿難。當自熾燃,熾燃於法;勿他熾燃!
 當自歸依,歸依於法;勿他歸依!」
  “Oleh sebab itu, Ānanda!
 Jadilah pelita bagi diri sendiri (ātmadīpa),
 jadikan Dharma sebagai pelita (dharmadīpa);
  jangan ada pelita yang lain (ananyadīpa)!
 Jadilah Perlindungan bagi diri sendiri (ātmaśaraṇa),
 jadikan Dharma sebagai Perlindungan (dharmaśaraṇa);
  jangan ada Perlindungan yang lain (ananyaśaraṇa)!”

Namun, di sini tampak penyamaan Dharma kembali: dengan diri sendiri kali ini! Diri manakah yang boleh dijadikan Perlindungan? Diri yang telah menginsafi ketanpadirian. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā mengatakan: berlindung kepada Pengakhiran [yang direalisasi] diri sendiri, juga kepada Pengakhiran orang lain — demikianlah “berlindung kepada Dharma”. Diri yang telah menginsafi ketanpadirian mulaï melihat Dharma yang direalisasi oleh Buddha dan para aśaikṣa, hingga pada akhirnya ia merealisasi seutuhnya Dharma itu sendiri.

Dari sepuluh belenggu (saṃyojana) yang mengikat dalam saṃsāra, berpandangan bahwa diri itu nyata (satkāya dr̥ṣṭi) merupakan belenggu pertama. Seseorang yang berhasil mematahkan pandangan tersebut akan mencapai kesrotāpannaan, jenjang kesucian terbawah dalam Kendaraan Kecil. Ia kini termasuk seorang suci (ārya) walaupun masih harus berlatih lagi (śaikṣa). Berangsur-angsur ia akan membentuk tubuh Dharma sebagaimana yang dimiliki para aśaikṣa, yang terdiri atas lima agregat: Śīla, Samādhi, Prajñā, Vimukti, dan Vimukti-jñāna-darśana.

Seorang srotāpanna bukan hanya mematahkan pandangan bahwa diri itu nyata, melainkan juga dua belenggu terendah lainnya: keragu-raguan (vicikitsā), serta kemelekatan irasional pada aturan (śīla) & penekunan (brata). Terbebas dari keragu-raguan berarti memiliki Keyakinan yang Tak Tergoyahkan (avetya prasāda) atau Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda). Keyakinan terhadap apa? Saṅgīti Sūtra 《眾集經》, yang merupakan sūtra ke-9 Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 51a), menyatakan:

復有四法,謂:四須陀洹支
Ada empat dharma lagi, yaïtu: empat faktor srotāpatti —

 比丘於佛得無壞信,
 seorang bhikṣu terhadap Buddha memperoleh keyakinan yang tak terhancurkan,
 於法、     terhadap Dharma,
 於僧、     terhadap Saṅgha,
 於戒得無壞信。 terhadap Śīla
         memperoleh keyakinan yang tak terhancurkan.

Kata avetya ditafsirkan berasal dari akar ava-√i ‘mengerti, mengetahui’. Avetya prasāda adalah keyakinan berdasarkan pengetahuan, yang timbul karena sudah mengerti, dan bukan keyakinan yang membuta. Hanya seorang srotāpanna-lah yang benar-benar memiliki avetya prasāda karena ia sudah melihat Empat Kebenaran Sejati secara langsung, bukan cuma secara intelektual seperti kita makhluk biasa.


Jadi, dapat kita simpulkan, untuk mencapai jenjang kesucian terbawah dalam Kendaraan Kecil bukanlah hal yang mudah! Bagaimana bisa kita menjadi srotāpanna, sementara kepada siapa kita pergi berlindung pun kita tidak mengerti? Meskipun seorang srotāpanna belum sempurna dalam membentuk tubuh Dharma, tetapi ia tidak ragu-ragu kepada Śīla yang merupakan Dharma-sebagai-pemotong-nafsu, untuk merealisasi Śīla yang merupakan salah satu agregat Dharma-sebagai-keadaan-bebas-nafsu.

Selasa, 10 September 2019

Jadikanlah Śīla Gurumu




Begitu utamanya Perlindungan Buddhis yang keempat, Śīla, sehingga Buddha menjadikannya pengganti Beliau sendiri, selaku guru (śāstr̥) setelah kemangkatan-Nya. Ujaran populer dari Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 ini dapat kita jumpaï padanannya, terutama, di jilid 38 “Kṣudraka Vastu” dari  Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶雜事》 (T. vol. 24, № 1451 hlm. 398c–399a):

「汝等苾芻,我涅槃後,作如是念:『我於今日無有大師。』汝等不應起如是見!我令汝等每於半月說波羅底木叉。當知!此則是汝大師、是汝依處,若我住世無有異也。」
“Kalian, para bhikṣu, setelah parinirvāṇa-Ku mungkin akan berpikir demikian: ‘Hari ini kami tiada lagi memiliki guru.’ Kalian tidaklah semestinya membangkitkan pandangan demikian! Telah Kuperintahkan kalian setiap paruh-bulan untuk membabarkan Prātimokṣa. Ketahuilah! Itulah kelak gurumu, itulah sandaranmu, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Pada gāthā penutup Prātimokṣasūtra dari mazhab Dharmaguptaka, baik untuk bhikṣu (T. №. 1429 dan 1430) maupun bhikṣuṇī (T. № 1431), pun termaktub:

世尊涅槃時  興起於大悲
集諸比丘眾  與如是教誡
莫謂我涅槃  淨行者無護
我今說戒經  亦善說毘尼
我雖般涅槃  當視如世尊
此經久住世  佛法得熾盛
以是熾盛故  得入於涅槃

Sang Bhagavan, pada saat nirvāṇa-Nya,
telah membangkitkan belaskasih agung,
menghimpun saṅgha para bhikṣu, dan
memberikan wejangan demikian:

“Janganlah menyangka setelah nirvāṇa-Ku
para brahmacārin tiada memiliki penjaga!
Prātimokṣasūtra yang kini Kuucapkan,
juga Vinaya yang dengan baik Kubabarkan
— meskipun Aku telah parinirvāṇa —
pandanglah ia sebagai Bhagavan.

Apabila sūtra ini bertahan lama di dunia,
Buddhadharma dapatlah gilang-gemilang.
Karena kegemilangannya tersebut,
dapatlah Nirvāṇa dimasuki.”

Adegan paralel juga termuat dalam berbagai redaksi Parinirvāṇa Sūtra milik mazhab berbeda-beda, di mana aspek Dharma sebagai pemotong nafsu, yang menjadi Perlindungan yang keempat ini, biasanya dipecah menjadi Dharma dan Vinaya (terjemahan-terjemahan lebih kuno seringkali menggunakan istilah arkais “Sūtra dan Śīla” 經戒 sebagai substitusi). Dalam Ta po-nieh-p’an ching 《大般涅槃經》 (T. vol. 1, № 7 hlm. 204b) terjemahan Peziarah Fa-hsien, misalnya — ini adalah yang pertama dari dua Parinirvāṇa Sūtra yang kepenerjemahannya disandangkan padanya: versi Hīnayānis dan versi Mahāyānis masing-masing — diceritakan sbb.:

爾時,如來告阿難言:「汝勿見我入般涅槃,便謂正法於此永絕!何以故?我昔為諸比丘,制戒波羅提木叉,及餘所說種種妙法。此即便是汝等大師,如我在世無有異也。」
Pada saat itu Tathāgata pun memberitahu Ānanda: “Janganlah karena melihat-Ku memasuki parinirvāṇa maka kamu menyangka sampai di sini Saddharma akan terhenti selamanya! Apakah sebabnya? Dahulu, demi para bhikṣu, Aku telah menetapkan śīla-śīla Prātimokṣa dan telah membabarkan bermacam-macam Dharma yang menakjubkan di tempat lain. Itulah guru kalian kelak, yang tidak berbeda dengan diri-Ku saat masih berada di dunia.”

Sedangkan dalam *Viharaṇa Sūtra 《遊行經》 atau ‘Sūtra tentang Perjalanan [Terakhir]’, yang merupakan sūtra ke-2 dari Dīrgha Āgama (T. vol. 1, № 1 hlm. 26a), sbb.:

「阿難。汝謂佛滅度後無復覆護,失所恃耶?勿造斯觀!我成佛來,所說經戒,即是汝護,是汝所恃。」
“Ānanda, pada sangkamu setelah Buddha parinirvāṇa tidak lagikah engkau memiliki penjaga, dan kehilangan andalan? Janganlah berpandangan demikian! Segala Sūtra dan Śīla yang Kubabarkan semenjak Aku menjadi Buddha itulah penjagamu, itulah yang akan kauandalkan.”

Terjemahan Tionghoa tertua, Fo po-ni-huan ching 《佛般泥洹經》 (T. vol. 1, № 5 hlm. 172b) oleh Śramaṇa Po Fa-tsu 白法祖 yang hidup pada zaman Dinasti Tsin Barat (265–316), menuturkan:

「吾泥曰後,無得以佛去,故言:『無所復怙。』當怙經戒!吾泥曰後,轉相承用,翫經奉戒。」
“Setelah nirvāṇa-Ku, janganlah karena menganggap Buddha telah pergi maka kalian berkata: ‘Kami tidak lagi memiliki pengayom.’ Jadikanlah Sūtra dan Śīla sebagai pengayommu! Setelah nirvāṇa-Ku, berlanjutlah menerima dan menerapkan pengkajian Sūtra dan penjunjungan Śīla.”

Dan terakhir, dalam Po-ni-huan ching 《般泥洹經》 (T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), yang diterjemahkan sedikit lebih belakangan daripada T. № 5 dan sama-sama tidak kita ketahui berasal dari kanon mazhab mana:

「汝諸弟子,當自勗勉。無以懈慢,謂佛已去,莫可歸也!必承法教:常用半月,望晦講戒;六齋之日,高座誦經。歸心於經,令如佛在!」
“Kalian, para siswa, hendaklah bertekun diri. Janganlah karena kemalasan dan kesombongan, menyangka Buddha telah pergi sehingga tidak dapat dijadikan Perlindungan! Haruslah kalian menyambut ajaran Dharma: selalu setiap paruh-bulan, pada purnama dan tilem, ketika Śīla dikhotbahkan; serta pada enam hari poṣadha, ketika Sūtra dibacakan dari kursi tinggi. Berlindunglah kepada Sūtra sama seperti kepada Buddha saat masih ada!”

Bagi yang meyakini kemajemukan Buddha-Buddha yang eksis bersamaan di saat sekarang, sepeninggal Śākyamuni mungkin mereka dapat mengatakan bahwa mereka berlindung juga kepada para Buddha yang benar-benar nyata hidup di sistem dunia (galaksi) lain di sepuluh penjuru. Namun, bagi yang hanya menerima bahwa Śākyamuni ialah satu-satunya Buddha di seluruh alam semesta dan tidak ada Buddha lain kecuali di galaksi kita, maka ketika mengucapkan “aku berlindung kepada Buddha”, kepada siapakah sesungguhnya perlindungan itu ditujukan, sedangkan Buddha sudah tiada? Tentunya kita tidak dapat berlindung kepada patung-Nya yang hanya merupakan pelambang. Buddha-Buddha masa lampau sama juga sebab, seperti Śākyamuni, mereka pun tidak lagi hidup; sementara Buddha-Buddha masa datang belumlah lahir.

Karena seseorang yang mencapai Nirvāṇa terbebas dari kelahiran dan kematian, terdapat bahaya kita terjebak dalam pandangan bahwa Nirvāṇa adalah kemusnahan mutlak — mencapai Nirvāṇa berarti menjadi tidak ada sama sekali, nihil. Maka pada petikan-petikan di atas Buddha telah mengingatkan: sesudah Beliau parinirvāṇa, Dharmalah pengganti diri-Nya. Dharma, dalam aspeknya berupa ajaran (Sūtra dan Śīla), akan menjadi guru (śāstr̥), penjaga (trāṇa), andalan (pratiśaraṇa), pengayom (parāyaṇa), Perlindungan (śaraṇa) kita. Dharma bukan cuma setara dengan Buddha, tetapi Dharma identik dengan Beliau sendiri.

Dari sinilah tumbuh keyakinan tentang adanya tubuh Dharma (dharmakāya) Buddha. Menurut ide yang mula-mula ini, tubuh Dharma tidak lebih daripada “pertubuhan” atas kumpulan-kumpulan ajaran (dharmaskandha) Beliau. Buddha tetap hadir sesudah Beliau parinirvāṇa, walaupun kehilangan identitas dan tereduksi menjadi pertubuhan ajaran yang impersonal.

Kamis, 05 September 2019

Dengan Meyakini Śīla akan Diperolehlah Jalan

Perikop di bawah ini diambil dari San-hui ching 《三慧經》 (‘Kitab Tiga Yang Bijaksana’, T. vol. 17, № 768 hlm. 702b), sebuah logia atau kumpulan sabda-sabda Buddha, yang umum dijumpaï pada masa awal translasi teks-teks ke bahasa Tionghoa. Diterjemahkan dalam gaya yang arkais, kitab semacam ini bukan benar-benar sebuah sūtra yang memuat narasi yang koheren, tetapi lebih berupa petikan-petikan yang disadur dari berbagai sumber. Contoh logia lain yang sangat populer misalnya: Sūtra Empat Puluh Dua Fasal (T. № 784).

Enumerasi dalam perikop berikut tampaknya dikembangkan dari Empat Keyakinan yang Tak Tergoyahkan. Namun, sejauh ini kita belum berhasil menemukan sūtra yang menjadi sumbernya. Kalyāṇamitra (guru spiritual) di sini mungkin dimaksudkan sebagai wakil Saṅgharatna. Yang menarik adalah Dharmaratna yang dipecah lebih lanjut menjadi Dharma (Nirvāṇa) serta Śīla & Sūtra (Ajaran Buddha). Śīla & Sūtra — kadang diurutkan terbalik: Sūtra & Śīla — adalah padanan arkais untuk Dharma & Vinaya.



有五因緣可信:
Ada lima pendukung yang boleh diyakini:

一者、信佛。   1. Yakin kepada Buddha.
二者、信法。   2. Yakin kepada Dharma.
三者、信戒。   3. Yakin kepada Śīla.
四者、信經。   4. Yakin kepada Sūtra.
五者、信善知識。 5. Yakin kepada kalyāṇamitra.

信是五事得道。
Dengan meyakini kelima hal ini, diperolehlah Jalan.

Senin, 02 September 2019

Śīla sebagai Perlindungan Keempat

Dharmaratna juga terdiri atas dua unsur: Dharma dan Vinaya (dalam terjemahan lama seringkali 經戒 ‘Sūtra dan Śīla’ digunakan sebagai padanan). Maka objek berlindung Buddhis, boleh dibilang, sesungguhnya ada empat — Buddha, Dharma dan Śīla (baik dalam aspeknya sebagai pemotong nafsu maupun sebagai keadaan bebas-nafsu), serta Saṅgha. Keyakinan murni kepada keempatnya disebut Keyakinan yang Tak Tergoyahkan (avetya prāsada) atau Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prāsada). Tidaklah salah bila dalam Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020c) para bodhisattva diharapkan mengajari kandidat penerima Śīla rumusan berikut:

「佛子。復教受四不壞信,依止四依法:
“Putra-putra Jina, ajarilah lagi [sang kandidat] untuk menerima Empat Keyakinan yang Tak Terhancurkan, untuk bersandar pada Empat Dharma Sandaran:

『從今時,盡未來際身,
‘Mulaï saat ini, hingga akhir keberadaanku di masa datang:
歸依佛、    aku berlindung kepada Buddha,
歸依法、    aku berlindung kepada Dharma,
歸依賢聖僧、  aku berlindung kepada Ārya Saṅgha
歸依正法戒。』 aku berlindung kepada Śīla dari Dharma Sejati
        (Saddharma).’

Setelah melaksanakan Dharma (latihan), seseorang merealisasi Dharma (Nirvāṇa). Ia disebut seorang Buddha. Jadi, dapat dikatakan, Buddha terlahir dari Dharma; Buddha adalah manifestasi Dharma. “Buddha adalah Dharma, Dharma juga adalah Buddha,” tulis Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, “Saṅgha pun demikian.” Pada puncaknya Buddha dan Saṅgha kehilangan identitasnya, yang bermuara pada satu Dharma. Maka Perlindungan tertinggi Buddhis setepatnya adalah kepada Dharma. Lalu mengapakah rumusan Tiga Perlindungan bukan diawali dengan berlindung kepada Dharma?

Abhidharma Mahāvibhāṣā mengemukakan alasan karena Buddha adalah pemimpin Ajaran. Bilamana Buddha tidak membabarkan, maka Dharma pun tidak tertampilkan. Oleh sebab itu, berlindung kepada Buddha adalah yang pertama. Selain itu, rumusan Tiga Perlindungan (dan Empat Keyakinan yang Tak Tergoyahkan) memang ditransmisikan begitu dari guru ke murid secara turun-temurun dan telah menjadi tradisi.

Agar lebih jelas Abhidharma Mahāvibhāṣā memberi perumpamaan-perumpamaan, yang selengkapnya dapat dilihat di sini.




Minggu, 01 September 2019

Dua Aspek Dharmaratna


云何是法?八正道分 及 涅槃果,如來略說是法。
Apakah Dharma itu? Jalan Utama Beranggota Delapan dan Buah Nirvāṇa — itulah secara singkat yang Tathāgata katakan Dharma.

—— Śālistamba Sūtra 《佛說稻芉經》
(T. vol. 16, № 709 hlm. 817a)


ʜᴀʀᴍᴀʀᴀᴛɴᴀ, oknum kedua Triratna yang kepadanya kita pergi berlindung, memiliki dua aspek: sebagai pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu. Dharma, sebagai keadaan bebas-nafsu, ialah Nirvāṇa itu sendiri. Nirvāṇa itu telah direalisasi oleh Buddha, lalu diajarkan-Nya kepada Saṅgha. Maka muncullah aspek kedua Dharmaratna: sebagai pemotong nafsu yang diajarkan Buddha (yang meliputi Latihan Berunsur Tiga: Śīla, Samādhi, dan Prajñā). Dalam skema Empat Kebenaran, Dharma yang direalisasi oleh Buddha (alias Nirvāṇa) merupakan yang ketiga, yakni Kebenaran Sejati tentang Akhir Penderitaan. Dharma yang diajarkan Buddha kepada Saṅgha merupakan yang keempat, yakni Kebenaran Sejati tentang Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan.

Jadi, definisi “Dharma adalah ajaran Sang Buddha” kuranglah lengkap. Berlindung kepada Dharma berarti berlindung kepada Nirvāṇa, yang justru merupakan Perlindungan tertinggi. Buddha sendiri menjadikan Dharma sebagai guru, Buddha lahir dari Dharma. Dharma adalah ibu dari Buddha; dengan bersandar kepada Dharma, Buddha terlahir.

Penjelasan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, yang dikutip oleh Vinayācārya Tao-hsüan (lihat bit.ly/2p64GKU), selengkapnya sbb.:

歸依法者。何所歸依,名歸依法?
“Berlindung kepada Dharma”. Apakah yang dijadikan objek berlindung sehingga disebut perlindungan kepada Dharma?

答曰:歸依語,迴轉斷欲、無欲盡諦涅槃。是名歸依法也。
Jawab: Pernyataan berlindung tersebut ditujukan kepada pemotong nafsu dan keadaan bebas-nafsu, yakni Nirvāṇa, yang merupakan Kebenaran Pengakhiran (nirodha satya). Inilah yang dinamakan perlindungan kepada Dharma.

問曰:為歸依自身盡處?他身盡處?
Tanya: Apakah berlindung kepada Pengakhiran [yang direalisasi] diri sendiri? Ataukah kepada Pengakhiran orang lain?

答曰:歸依自身盡處,亦他身盡處。是歸依法。
Jawab: Berlindung kepada Pengakhiran diri sendiri, juga kepada Pengakhiran orang lain. Demikianlah “berlindung kepada Dharma”.

Kamis, 01 Agustus 2019

Yakinlah kepada Śīla Buddhis

Petikan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 yang telah kita kutip berbunyi:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha, Śīla adalah dasarnya.

Di bab III Cittabhūmi-parīkṣā Sūtrasebuah jātaka Mahāyāna 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 306c) Buddha menyabdakan hal yang sama:

「汝等比丘。諦聽!諦聽!入佛法海,信為根本;渡生死河,戒為船筏。」
“Kalian, para bhikṣu, dengarlah baik-baik! dengarlah baik-baik! Untuk memasuki laütan Buddhadharma, keyakinan adalah akarnya; untuk menyeberangi sungai kelahiran-kematian, Śīla adalah rakit kapalnya.”






Rumusan Tiga Perlindungan menjadi semacam verba consecrationis (kata-kata “sakti” pengkonsekrir) pada waktu menerimakan disiplin Buddhis mana pun, baik Lima Śīla, Delapan Śīla, Sepuluh Śīla, bahkan (semula juga) Upasaṃpanna Śīla. Dengan mengulanginya lengkap tiga kali, substansi Śīla terbentuk dalam diri si pemohon. Mengacu pembahasan sebelumnya, bagaimana mungkin kita mengulangi rumusan Tiga Perlindungan jikalau kita tidak sudi berlindung kepada Triratna? Bagaimana mungkin kita pergi berlindung jikalau kita tidak memiliki keyakinan?




Keyakinan kepada Dharmaratna beraspek dua: yakin akan Dharma sebagai keadaan bebas-nafsu dan yakin akan Dharma sebagai pemotong nafsu. Penjelasan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā ini dikutip oleh Vinayācārya Tao-hsüan. Berlindung kepada Dharma, sebagai keadaan bebas-nafsu, berarti berlindung kepada Nirvāṇa itu sendiri. Nirvāṇa itu telah direalisasi oleh Buddha, lalu diajarkan-Nya kepada Saṅgha. Maka muncullah aspek lain dari Dharmaratna: sebagai pemotong nafsu yang diajarkan Buddha (yang meliputi menjadi Latihan Berunsur Tiga: Śīla, Samādhi, dan Prajñā). Dalam skema Empat Kebenaran, Dharma yang direalisasi oleh Buddha (alias Nirvāṇa) merupakan yang ketiga, yakni Kebenaran Sejati tentang Akhir Penderitaan. Dharma yang diajarkan Buddha kepada Saṅgha merupakan yang keempat, yakni Kebenaran Sejati tentang Jalan untuk Mengakhiri Penderitaan.

Dari sini dapat kita lihat betapa pentingnya Śīla, sebagai Dharma yang diajarkan Buddha. Bagaimana mungkin kita berharap dapat terlepas dari segala belenggu dan meraih Kebebasan jikalau kita tidak yakin dan bertekad menjalankan Śīla yang sungguh merupakan pemotong nafsu? Perumpamaan rangkap-empat seringkali digunakan untuk menggambarkan hal ini: Buddha adalah tabib, Dharma (Nirvāṇa) adalah keadaan kesembuhan, Saṅgha adalah jururawat, dan Śīla adalah obat mujarab. Perumpamaan lain yang juga sering digunakan adalah: Buddha sebagai nakhoda, Dharma (Nirvāṇa) sebagai pantai seberang, Saṅgha sebagai sesama penumpang, dan Śīla sebagai rakit.

Daśadharmaka Sūtra, sūtra ke-9 dari Mahāratnakuṭa 《大寶積經·大乘十法會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 151b), mengatakan:

信為增上乘  信者是佛子
是故有智者  應常親近信
信是世間最  信者無窮乏
是故有智者  應常親近信
若不信之人  不生諸白法
猶如燒種子  不生根芽等

Keyakinan adalah wahana peningkatan;
mereka yang yakin merupakan putra-putra Jina.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Keyakinan adalah yang terutama di dunia;
mereka yang yakin tiada berkekurangan.
Oleh sebab itu, seorang yang bijak
semestinya selalu mengeratkan keyakinan.

Seseorang yang tidak yakin
takkan melahirkan segala dharma yang putih,
sama seperti benih yang terbakar
takkan melahirkan akar dan tunas.

Sabtu, 11 November 2017

Perbandingan Ritus Pravrajyā Beberapa Mazhab

Tabel berikut (klik gambar di bawah) menyajikan perbandingan kisah pravrajyā Rāhula dalam Vinaya Piṭaka beberapa mazhab. Dalam Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律》 (T. № 1435), bahkan dalam skandhaka pertamanya, ritus penahbisan śrāmaṇera pun sudah diuraikan. Namun, konteks ceritanya di luar penahbisan Rāhula sehingga tidak kita perbandingkan. (Ritus Sarvāstivāda Vinaya juga menggunakan format penanyaan kesanggupan, yang berbeda dengan vinaya mazhab lain yang mengulangkan langkah latihan — hal ini akan dibahas kelak.)

Keunikan dapat terlihat di sini: pada ritus Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, Lokottaravāda, Tiga Perlindungan hanya diulangkan sekali di muka sebelum pengucapan langkah latihan apa pun. Ini mungkin merefleksikan pandangan yang mereka anut bahwa substansi Śīla terbentuk dengan mengucapkan langkah-langkah latihan. Hal berbeda dipegang oleh Mahīśāsaka (juga Sarvāstivāda), yang meyakini substansi Śīla terbentuk saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diucapkan. Oleh sebab itu, Tiga Perlindungan diulangkan sebelum lima langkah latihan, dan sekali lagi sebelum sepuluh langkah latihan.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pada ritus Dharmaguptaka penahbisan śrāmaṇera terjadi seketika tanpa didahului dengan pemberian disiplin upāsaka. Tentang masalah ini, Vinayācārya Yüan-chao menafsirkan dalam jilid 2-5 Chi-yüan chi 《濟緣記》 (Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 204c) sbb.:

問:《四分律》中何以求出家者,直受十戒耶?
Tanya: Dalam Dharmaguptaka Vinaya mengapakah mereka yang memohon peninggalan rumahtangga (pravrajyā) langsung menerima Sepuluh Śīla?

答:彼土士女,多有在俗受五戒者,故略之耳。文既不顯,故引《五分》、《多論》,必須次受。
Jawab: Di negeri sana (India), baik pria maupun wanita, banyak yang sudah menerima Lima Śīla sewaktu masih menjadi umat awam; oleh sebab itu, ceritanya disingkat. Karena tidak diungkapkan dalam teksnya, maka menarik [prinsip] dari Mahīśāsaka Vinaya dan Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, haruslah kita menerima secara bertahap.

問:今若不受五戒,為有何過?
Tanya: Kini apabila kita tidak menerima Lima Śīla, apakah salahnya?

答:準如《多論》,失次第故。《尼鈔》注云:「僧得小罪。」
Jawab: Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, berarti malatindak dalam urut-urutan. Rangkuman Vinaya Bhikṣuṇī (karya Tao-hsüan, Zokuzōkyō № 724) memberi anotasi: “Anggota saṅgha [yang melalaikannya] memperoleh pelanggaran kecil (duṣkr̥ta).”

Akan tetapi, dalam Dharmaguptaka Vinaya sebetulnya tidak pernah diceritakan bahwa Rāhula pernah menerima Lima Śīla sebelumnya. Mazhab Dharmaguptaka tampaknya memang membolehkan pemberian langsung Sepuluh Śīla sebab ritus penahbisan śrāmaṇera di luar kasus Rāhula diuraikan kembali pada hlm. 810b vinaya-nya (kali ini format langkah latihannya berupa penanyaan kesanggupan).

Di luar Tripiṭaka Tionghoa, vinaya Pāli memberi kesaksian yang berbeda lagi. Dalam khandhaka pertamanya, “Mahā Khandhaka”, disiplin sāmaṇera diberikan kepada Rāhula hanya dengan mengulangkan rumusan Tiga Perlindungan saja, sama seperti prosedur penabhisan bhikkhu yang mula-mula (saraṇagamana upasaṃpadā). Sepuluh langkah latihan baru ditetapkan oleh Buddha di kemudian hari setelah sekelompok sāmaṇera menanyakan kebingungan mereka akan unsur-unsur disiplinnya.



Rabu, 15 Maret 2017

LAUKIKA ŚĪLA vs LOKOTTARA ŚĪLA

智者當觀戒有二種:
Seorang bijak hendaknya melihat bahwa śīla ada dua jenis:

一者、世戒。   1. Śīla duniawi (laukika śīla), dan
二者、第一義戒。 2. Śīla tertinggi (paramārtha śīla).

若不依於三寶受戒,是名世戒。是戒不堅,如彩色無膠。
Śīla yang diambil tanpa bersandar pada Triratna disebut śīla duniawi. Śīla demikian tidaklah kokoh, ibarat cat yang tidak mengandung bahan perekat.

是故!我先歸依三寶,然後受戒,若終身受,若一日一夜。
Oleh sebab itu, mula-mula kita harus menyatakan berlindung kepada Triratna, barulah [dapat] menerima śīla, baik untuk seumur hidup, ataupun hanya sehari semalam (yakni: Aṣṭāṅga Śīla).

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XXII, “Lima Śīla”
《優婆塞戒經·五戒品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1063c)


Petikan ini membahas perbedaan antara Śīla Saṃvara yang bersifat Prātimokṣa dengan yang bersifat non-Prātimokṣa. Apakah yang menjadi pembedanya? Yakni: Tiga Perlindungan. Prātimokṣa Saṃvara baru dapat terbentuk jika seseorang benar-benar yakin kepada Triratna dan menjadikan Triratna sebagai satu-satunya Pelindung. Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020b) menyatakan:

入三寶海,以信為本;住在佛家,以戒為本。
Untuk memasuki laütan Triratna, keyakinan adalah dasarnya; untuk berdiam dalam keluarga Buddha (Buddhakula), Śīla adalah dasarnya.

Agar dapat mempraktikkan ajaran Buddha lebih lanjut, minimal kita harus memiliki keyakinan inisial kepada Triratna. Bagaimana kita bisa mencapai kemajuan jikalau kita tidak yakin bahwa Buddha benar-benar Telah Tercerahkan, bahwa Dharma yang diajarkan-Nya benar-benar dapat membebaskan, dan bahwa terdapat bukti nyata pribadi-pribadi yang telah merealisasi Kebebasan berkat mempraktikkan ajaran tersebut?

Seorang non-Buddhis, sebagai contoh, bisa saja mengikuti sebuah program retret meditasi Buddhis di mana pesertanya diwajibkan mengambil Aṣṭānga Śīla. Ia mungkin saja bertekad sungguh-sungguh untuk menjalankan śīla seperti para peserta Buddhis lainnya. Walau demikian, substansi Śīla yang akan terbentuk dalam dirinya hanyalah Śīla Saṃvara yang bersifat non-Prātimokṣa sebab ia tidak memiliki keyakinan kepada Triratna. Śīla yang ia jalankan tentu merupakan karma baik yang akan menghasilkan manfaat positif baginya. Akan tetapi, itu semua hanya śīla yang bersifat duniawi (laukika śīla) dan tidak dapat menjadi kondisi pendukung Pembebasan Sejati.

Prātimokṣa Saṃvara, sebaliknya, adalah seumpama cat yang memiliki bahan perekat. Meskipun avijñapti yang terbentuk telah berakhir, namun benih (bīja) yang tertanam dalam gudang kesadaran mereka yang mengambilnya akan menjadi kondisi pendukung tercapainya Pembebasan pada suatu hari di masa datang. Oleh karena itu, Prātimokṣa Saṃvara disebut “śīla yang melampaui keduniaan” (lokottara śīla) atau “śīla yang tertinggi” (paramārtha śīla).




Pada bagian lain dari Upāsaka Śīla Sūtra (hlm. 1037b) Buddha bersabda:

「善男子。諸外道等,獲得非想非非想定,壽無量劫。若不能得解脫分法,當觀是人為地獄人。若復有人,阿鼻地獄經無量劫受大苦惱,能得如是解脫分法,當觀是人為涅槃人。善男子。是故!我於鬱頭藍弗生哀愍心,於提婆達多不生憐念心。」
“Putra berbudi, pengikut ajaran non-Buddhis yang telah memperoleh Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana Samādhi, usianya berkalpa-kalpa tidak terukur. Namun, jikalau ia tidak bisa memperoleh bagian Pembebasan, pandanglah ia sebagai penghuni neraka. Sebaliknya, jikalau terdapat seseorang yang menerima penderitaan besar di Neraka Avīci selama berkalpa-kalpa yang tidak terukur, namun bisa memperoleh bagian Pembebasan, maka pandanglah ia sebagai pencapai Nirvāṇa. Putra berbudi, oleh sebab itu aku merasa iba kepada Udraka Rāmaputra, namun tidak risau akan Devadatta!”

Udraka Rāmaputra adalah guru dari Siddhārtha Gautama sebelum Ia menjadi Buddha. Meskipun ia dapat terlahir di Surga Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana (surga tertinggi dari Alam Dhyāna Tanpa-materi) berkat latihan meditasinya, setelah karma baiknya habis berkalpa-kalpa mendatang, ia akan jatuh ke neraka karena pandangan sesat. Sebaliknya, Devadatta pernah meninggalkan rumah-tangga di bawah Buddha dan menerima Prātimokṣa Saṃvara. Walau kemudian ia memberontak dan terjatuh ke Neraka Avīci, namun Buddha sendiri meramalkan Pencerahannya di masa mendatang. Oleh sebab itu, Buddha tidak risau sama sekali.

Jumat, 07 Maret 2014

Substansi Śīla Terbentuk Saat Mengulangi Tiga Perlindungan, Bukan Saat Menyatakan Bunyi Śīlanya

 
有言:「受三歸竟,說不殺一戒,爾時得戒。」
Ada yang berpendapat: “Selesai menerima Tiga Perlindungan, lalu mengucapkan satu śīla saja: tidak membunuh, maka pada saat itu Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.” (Pendapat ini berdasarkan kalimat yang sering dijumpaï dalam sūtra-sūtra: “Saya berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha. Kiranya Bhadanta memegang pernyataan saya, sebagai upāsaka, yang mulaï saat ini menjaga kehidupan,” dst.)

所以說一戒得五戒者,為能持一戒,五戒盡能持故。有以五戒勢分相著故,兼本意誓受五戒故。
Dengan berpendapat bahwa “mengucapkan satu śīla, kelima śīla diperoleh”, maka apabila seseorang menyatakan sanggup memegang satu śīla, berarti kelima śīla sanggup ia pegang seluruhnya. Hal ini (menurut mereka) karena bagian kekuatan dari kelima śīla saling melekat [antara śīla yang satu dengan yang lain], serta karena maksud awalnya adalah berkomitmen menerima kelima śīla seluruhnya.

有言:「受五戒竟,然後得戒。」
Ada lagi yang berpendapat: “Selesai mengucapkan kelima śīla, barulah Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.”

於諸說中,受三歸已得五戒者,此是定義。
Bagaimana pun, di antara semua pendapat, pernyataan “setelah menerima Tiga Perlindungan, kelima śīla diperoleh” inilah prinsip yang pasti [yang kita anut].

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b)
 

Mengikuti pandangan Sarvāstivādin di atas, substansi Śīla secara otomatis terbentuk sewaktu mengulangi tiga kali “aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dharma, aku berlindung kepada Saṅgha”, bukan pada saat mengulangi langkah latihan (śikṣāpada). Setelah seseorang selesai mengulangi Tiga Perlindungan dalam upacara penerimaan Śīla, ia sudah memperoleh Śīla yang ia mohon. Pengucapan langkah latihan selanjutnya — “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup” (prāṇātipāta vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan” (adattādāna vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), dsb. — hanyalah penegasan agar bentuk śīla yang ia ambil menjadi jelas diketahui. 

Akan tetapi, berbeda dengan pandangan Sarvāstivādin/Vaibhāṣika, dalam tradisi Sekolah Vinaya di Cina kita diperbolehkan hanya mengambil satu atau beberapa śīla saja (tidak lengkap lima). Maka sebelum mengulangi Tiga Perlindungan, seseorang hendaknya menyadari dengan sepenuh hati: dalam rangka mengambil śīla manakah Tiga Perlindungan itu akan ia ucapkan — sebab substansi (untuk satu, beberapa, atau lengkap lima) śīla ia peroleh pada momen tersebut. Selanjutnya, untuk menegaskan śīla mana saja yang ia ambil, pada saat gurunya mengucapkan langkah latihan (dalam tradisi Cina tidak digunakan format pengulangan, tetapi berbentuk tanya-jawab), ia harus menjawab: “Ya, saya sanggup memegangnya” untuk yang ia ambil, dan berdiam/tidak menjawab apa-apa untuk yang tidak diambilnya.

Bagaimanakah jika pada saat transmisi Śīla, Tiga Perlindungan lupa diulangkan, dan hanya langkah latihannya yang diucapkan? Menurut Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 646b):

問:諸有但受近事律儀,不受三歸,得律儀不?
Tanya: Mereka yang hanya menerima disiplin (saṃvara) upāsaka, tetapi tidak menerima Tiga Perlindungan — apakah mereka memperoleh disiplin tersebut?

有說不得。以受三歸,與此律儀,為門、為依、為加行故。
Ada yang berpendapat: Tidak memperoleh. Disiplin tersebut diberikan dengan Tiga Perlindungan sebab itulah pintunya, sandarannya, pendahuluannya (prayoga).

有說不定。謂:若不知先受三歸,後方受戒,信戒師故,便受律儀。彼得律儀;戒師得罪。
Ada yang berpendapat: Tidak tentu. Jikalau tidak mengetahui bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla”, namun karena keyakinannya kepada guru pembimbing Śīla, lalu ia menerima disiplin. Maka ia memperoleh disiplin; akan tetapi, gurunya mendapatkan pelanggaran (yakni duṣkr̥ta, karena lalai memberikan Tiga Perlindungan).

若彼解了先受三歸,後受律儀是正儀式,但憍慢故,不受三歸,作如是言:且應受戒,何用歸信佛、法、僧,為彼慢纏心,雖受不得。
Jikalau ia sudah mengerti bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla” adalah prosedur yang benar, namun karena kesombongannya, ia tidak mau menerima Tiga Perlindungan dan berkata: “Aku seharusnya hanya menerima śīla; apa gunanya berlindung dan yakin kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha?” Maka karena kesombongan yang membelenggu batinnya, meskipun ia menerima, ia tidak memperoleh [disiplin tersebut].


POLISEMI ISTILAH "ŚĪLA"

Dalam percakapan sehari-hari kita sering menggunakan istilah śīla secara bebas. Konotasi manakah yang sebenarnya kita maksud? Sekolah Vinaya di Cina membahasnya dalam empat pokok (lihat seksi pertama dari Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》 [‘Rangkuman mengenaï Tingkah Laku Monastik yang Disempurnakan berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya’, T. vol. 40 № 1804] karangan Vinayācārya Tao-hsüan). Keempat pokok bahasan Śīla 戒之四科 itu adalah:
 
 
1. CHIEH-FA 戒法 — Dharma tentang Śīla 
 
Pada kalimat “Buddha menetapkan berbagai Śīla demi kesejahteraan pengikut-pengikut-Nya”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah Dharma tentang Śīla, yang ditetapkan oleh Tathāgata seperti: Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla. Dharma tentang Śīla mencakup fungsi, aplikasi, kebajikan, dll. ajaran tentang Śīla.
 
Jika demikian, apakah Dharma tentang Śīla hanya bersifat teoretis? Menurut Hsing-shih ch’ao (T. vol. 40, № 1804 hlm. 4b):
 
言戒法者,語法而談,不局凡聖。
Yang disebut Dharma tentang Śīla meliputi pembahasan śīla secara Dharma, yang berlaku untuk makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya-pudgala) tanpa penyekatan.

直明此法,必能軌成出離之道。要令受者,信知有此。
Tegasnya dinyatakan: Dharma ini dapat menata jalan pertolakan [dari saṃsāra]. Mereka yang menerimanya hendaklah meyakini dan mengetahui hal ini.

雖復凡聖通有此法,今所受者,就已成而言,名爲聖法。
Meskipun Dharma ini berlaku untuk makhluk biasa maupun para suci, namun yang kini kita terima telah terealisasi [oleh para suci]. Oleh sebab itulah dinamakan Dharma Suci (ārya dharma).
 
Secara Dharma, tujuan utama Śīla ialah membawa kepada keadaan Kebebasan (dari segala penderitaan). Oleh karenanya, walaupun berlaku juga bagi makhluk biasa, Śīla hanya disebut sebagai Dharma-nya para suci. Menerima Śīla berarti menanam benih Pembebasan dalam diri kita; maka janganlah kita meremehkannya. Akan tetapi, Dharma yang kita terima tersebut haruslah kita junjung dan jaga agar menjadi murni bagaikan mutiara cemerlang.
 
Jadi, ketiga konotasi Śīla, yang akan kita bahas berikutnya di bawah, tercakup semua di sini. Dari awal hingga akhir, keseluruhan rangkaian Śīla — yang kita terima (substansi), yang kita junjung dan jaga (praktik), yang murni bagaikan mutiara cemerlang (tampilan) — tiada yang bukan merupakan Dharma.
 
 
2. CHIEH-T’I 戒體 — Substansi Śīla (secara harfiah: ‘Badan Śīla’)
 
Pada kalimat “Waisak kemarin kami menerima Śīla sebagai upāsaka-upāsikā”, maka Śīla yang dimaksud di sini adalah substansi Śīla, yakni Dharma yang kita terima dan mengejawantah dalam diri kita, yang bersifat laten dan menjadi esensi bagi timbulnya karma (baik). Substansi Śīla memampukan kita untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, serta menciptakan keberkahan dan menimbulkan kebaikan.
 
Pernah kita kutip sebelumnya bahwa substansi Perlindungan (dan Śīla) diwariskan dalam suatu kesinambungan silsilah. Kita hanya dapat menerima substansi Śīla dari guru yang memang memiliki Dharma tersebut. Guru kita harus sudah menerimanya dari gurunya, dan gurunya itu menerimanya dari gurunya lagi. Demikian seterusnya hingga pada gilirannya bersumber kepada Buddha sendiri.
 
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar meneliti calon guru yang akan mentransmisikan Śīla kepada kita. Janganlah kita asal mengucapkan Permohonan Triśaraṇa dan Śīla karena ikut-ikutan orang lain. Tidak ada substansi yang terbentuk pada diri kita jika suatu transmisi tidak valid. Bagaimana bisa kita menjadikan seseorang guru bilamana ia sendiri tidak mengerti apakah dirinya memiliki substansi Śīla atau tidak!
 
Lantas, pada momen manakah substansi Śīla terbentuk dalam suatu upacara penerimaan Śīla? Dalam upasaṃpadā bhikṣu/bhikṣuṇī hal itu terjadi saat jñapti-caturtha karman 白四羯磨 selesai dibacakan; dalam transmisi Daśa Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, dan Pañca Śīla hal itu terjadi saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diulangi oleh pemohon.
 
Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):
 
若欲受五戒,先受三歸。受三歸竟,爾時已得五戒。
Apabila hendak menerima Lima Śīla, sebelumnya kita menerima Tiga Perlindungan dahulu. Ketika Tiga Perlindungan selesai diterima, pada saat itu kita telah memperoleh Lima Śīla.

所以說五戒名者,欲使前人識五戒名字故。
Bunyi kelima śīla yang diucapkan hanyalah agar nama-nama kelima śīla tersebut diketahui oleh orang di hadapan kita.
 
Pandangan kaum Vaibhāṣika, yang diadopsi oleh Sekolah Vinaya di Cina (lihat http://tinyurl.com/m99xydc), ini bukannya tanpa dasar. Pada masa awal penyebaran Ajaran, sebelum Buddha menetapkan prosedur jñapti-caturtha karman, seseorang cukup mendatangi seorang bhikṣu dan mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diucapkan calon gurunya itu. Setelah ia selesai mengulanginya, maka ia memperoleh lengkap disiplin kebhikṣuan (upasaṃpadā). Demikian pula para pengikut awam pertama Buddha menjadi upāsaka-upāsikā hanya dengan mengucapkan Perlindungan (dalam Dua atau Tiga Pernyataan, lihat http://tinyurl.com/oz5nnhk) — walaupun kebanyakan teks tidak menjelaskan apakah pada saat itu mereka mendapatkan substansi Perlindungan saja, ataukah substansi Perlindungan dan Śīla. Di kemudian hari mengulangkan Tiga Perlindungan untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī tidak diizinkan lagi, sehingga hanya kita jumpai dalam prosedur penerimaan Śīla-Śīla yang lebih rendah.
 
 
3. CHIEH-HSING 戒行 — Praktik Śīla
 
Setelah menerima Śīla dan mendapatkan substansinya, maka dengan berbagai upaya kita berlatih untuk menjaga dan tidak melanggarnya, serta memeriksa segala tindakan jasmani, ucapan, maupun pikiran agar teratur sesuai Dharma — inilah yang disebut praktik Śīla.
 
Seperti dalam kalimat “Seperti para arhat yang seumur hidup tidak makan pada waktu yang salah, pada hari upavasatha saya menjalankan śīla untuk tidak makan pada waktu yang salah selama sehari semalam”, praktik Śīla di sini timbul dengan meneguhkan tekad dan bersemangat mengikuti teladan para suciwan terdahulu, sehingga segala tindakan kita sesuai dengan disiplin yang diterima.
 
 
4. CHIEH-HSIANG 戒相 — Karakteristik Śīla (atau Tampilan Śīla)

Karakteristik Śīla dapat dibedakan menjadi dua:

a.  Karakteristik merujuk pada praktik 約行為相
Karakteristik merujuk pada praktik ialah tampilan luar yang terekspresikan karena praktik kita memegang Śīla — perbuatan yang kita ciptakan, tindakan yang kita lakukan (yang bersesuaian dengan Dharma) — sehingga menimbulkan kepujian, seperti yang sering kita dengar dalam kalimat sehari-hari: “Berdasarkan pengamatanku di biara ini, rupanya śīla bagi para bhikṣu untuk tidak tersentuh wanita dalam situasi apa pun”. Meminjam istilah filsafat hukum, seperti yang digagas David Hume, karakteristik berdasarkan praktik adalah das Sein, deskripsi fakta apa adanya.
b.  Karakteristik merujuk pada Dharma 約法為相
Karakteristik merujuk pada Dharma ialah tampilan luar yang seharusnya manifes — apa saja yang harus dipegang, apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dikecualikan, apa yang dibatasi — sebagaimana diajarkan dalam Dharma. Masing-masing dari Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meminjam istilah filsafat hukum, karakteristik berdasarkan Dharma adalah das Sollen, norma-norma seharusnya yang diharapkan ditaati. Contoh dalam kalimat: “Terdapat śīla dalam Prātimokṣasūtra di mana seorang bhikṣu, ketika pikirannya sedang diliputi birahi, tidak boleh secara sengaja menyentuh atau membiarkan diri tersentuh seorang wanita”.


Sabtu, 17 Agustus 2013

Keutamaan Berlindung pada Triratna



如昔有一鴿為鷹所追,入舍利弗影,戰懼不安。移入佛影,泰然不怖。
Seperti dahulu terdapat seekor merpati yang dikejar elang dan bernaung di bawah bayangan Śāriputra, namun tetap merasa gentar dan tidak tenteram. Ketika ia berpindah memasuki bayangan Buddha, ia pun merasa sentosa dan tidak takut lagi.

大海可移,此鴿不動。所以爾者?
Samudra besar bahkan dapat dipindahkan, akan tetapi merpati ini tidak tergoyahkan. Mengapakah demikian?

佛有大慈大悲,舍利弗無大慈大悲。佛習氣盡,舍利弗習氣未盡。佛三阿僧祇劫修菩薩行,舍利弗六十劫中修習苦行。以是因緣,鴿入舍利弗影中,猶有怖畏。
Buddha memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā, sedangkan Śāriputra tidak memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā. Buddha telah menghentikan energi-kebiasaan (vāsanā), sedangkan Śāriputra energi-kebiasaannya belum terhenti. Buddha berlatih praktik kebodhisattvaan selama tiga asaṅkhyeyakalpa, sedangkan Śāriputra hanya berlatih praktik pertapaan keras (duṣkara caryā) selama enampuluh kalpa. Karena sebab inilah, ketika merpati memasuki bayangan Śāriputra, ia masih merasa takut.


問曰:若歸向三寶能除罪過、息怖畏者,提婆達多亦歸依三寶,以信出家、受具足戒,而犯三逆,墮阿鼻獄?
Tanya: Jika berlindung kepada Triratna dapat memusnahkan karma buruk dan menghentikan ketakutan, mengapakah Devadatta — yang juga berlindung kepada Triratna, dan dengan keyakinan meninggalkan rumahtangga serta menerima Upasaṃpanna Śīla — setelah melakukan tiga perbuatan durhaka (ānantarya), terjatuh ke Neraka Avīci?

答曰:凡救護者,救可救者。提婆達多罪惡深大,兼是定業。是故叵救。
Jawab: Setiap penolong dan penjaga hanya dapat menolong mereka yang memang dapat ditolong. Karma buruk Devadatta amatlah besar dan dalam, dan merupakan karma tetap. Karena itulah, ia tidak dapat ditolong.

問曰:若有大罪,佛不能救。若無罪者,不須佛救。云何三寶能有救護?
Tanya: Jika terdapat karma buruk besar, Buddha tidak dapat menolong. Jika tiada karma buruk, kita tidak butuh pertolongan Buddha. Bagaimanakah Triratna dapat menolong dan menjaga?

答曰:提婆達多雖歸三寶,心不真實,三歸不滿。常求利養、名聞,自號一切智人,與佛共競。以是因緣,三寶雖有大力,不能救也。如阿闍世王,雖有逆罪,應入阿鼻獄,以誠心向佛,故滅阿鼻罪,入黑繩地獄。如人中七日,重罪即盡。是謂三寶救護力也。
Jawab: Walau Devadatta berlindung kepada Triratna, hatinya tidak sungguh-sungguh sehingga Tiga Perlindungannya tidak sempurna. Ia selalu berharap memperoleh persembahan dan kemasyhuran. Ia menyebut dirinya sendiri “Yang Mahatahu” (Sarvajña) dan hendak menyaingi Buddha. Karena sebab inilah, meskipun Triratna memiliki kekuatan mahabesar, ia tidak tertolong. Sementara Raja Ajātaśatru, walau melakukan kedurhakaan besar dan sepatutnya masuk Neraka Avīci, namun dengan tulus hati telah berlindung kepada Buddha. Oleh karena itu, karma buruk [yang seharusnya menyebabkan ia lahir] di Neraka Avīci mereda, dan ia hanya masuk Neraka Kālasūtra. Setelah kira-kira tujuh hari di alam manusia, karma buruknya yang berat berakhir. Demikianlah kekuatan pertolongan dan penjagaan Triratna.

問曰:若調達罪不可救者,又經云:「若人歸依佛者,不墮三惡道。」是義云何?
Tanya: Apabila Devadatta memiliki karma buruk dan tidak dapat ditolong, — ada sūtra yang menyatakan: “Jika seseorang berlindung kepada Buddha, maka ia takkan terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.” Bagaimanakah artinya?

答曰:調達以歸三寶故,雖入阿鼻獄,受苦輕微,亦時得暫息。有如人在山林、曠野、怖畏之處,若念佛功德,怖畏即滅。是故!歸依三寶,救護不虛也。
Jawab: Karena Devadatta berlindung kepada Triratna, meskipun ia masuk Neraka Avīci, namun penderitaan yang diterimanya lebih ringan dan kadangkala berhenti sewaktu-waktu. Seumpama orang yang memasuki hutan di pegunungan, padang belantara, atau tempat-tempat menakutkan, jika ia dapat merenungkan kualitas bajik Buddha, maka ketakutannya akan sirna. Oleh karena itu, jika kita berlindung kepada Triratna, pertolongan dan penjagaan-Nya sungguh tidak hampa.

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a)

Kisah Sakra yang Meninggal dan Terlahir sebagai Keledai, lalu Kembali Lagi Menjadi Raja Para Dewa berkat Berlindung kepada Triratna

所行非常  謂興衰法
夫生輒死  此滅為樂

2. Segala yang berkondisi tidak kekal,
semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
Apa yang lahir, niscaya akan mati.
Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.


譬如陶家  埏埴作器
一切要壞  人命亦然

3. Bagaikan bejana yang dibuat
tukang tembikar yang mengadon tanah:
semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
Seperti itu pulalah hidup manusia.


—— Kitab Pepatah Dharma bab I, “Ketidakkekalan”
《法句經·無常品第一》
(T. vol. 4, № 210 hlm. 559a)



CERITA LATAR BELAKANGNYA
Dari bab I Dharmapada-avadāna (Fa-chü p’i-yü ching 《法句譬喩經》, T. № 211):


  Kali ini lima kualitas meninggalkan diri Śakra, raja para dewa sendiri. Ia sadar bahwa hidupnya akan berakhir dan ia akan terlahir kembali di dunia, dikandung dalam rahim keledai seorang tukang tembikar. Apakah kelima kualitas tersebut?
  1. Cahaya tubuhnya padam.
  2. Hiasan bunga di atas kepalanya layu.
  3. Ia tidak merasa nyaman lagi duduk di tempatnya.
  4. Ketiaknya mengeluarkan keringat yang bau.
  5. Debu-debu menempel di badannya.

  Karena kelima hal ini, tahulah ia bahwa karma baiknya telah habis, dan ia merasa amat khawatir. Ia teringat bahwa di Triloka ini hanya Buddhalah yang dapat menolong orang-orang dari segala penderitaan, maka ia pun segera pergi menuju ke tempat Sang Buddha.

  Pada saat itu Buddha berada dalam sebuah gua di Gunung Gr̥dhrakūṭa, sedang duduk bermeditasi memasuki samādhi yang bernama “Pertolongan Universal”. Tatkala sang raja para dewa melihat Buddha, ia pun memberi hormat dengan bersujud ke tanah dan dengan sepenuh hati mengucapkan Tiga Perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Belum sempat ia bangkit (dari namaskāra), hidupnya tiba-tiba berakhir dan ia mendapati dirinya menjadi anak dalam rahim keledai betina seorang tukang tembikar.

  Pada saat itu keledai tersebut melepaskan diri dari ikatannya, berlarian di tengah-tengah tembikar, dan memecahkan bejana-bejana. Majikannya memukulnya dan dalam seketika melukaï janinnya (yang merupakan Śakra). Kesadaran Śakra pun kembali ke tubuh lamanya sebagai raja para dewa, lengkap dengan lima kualitas seperti semula. 

  Maka Buddha bangkit dari samādhi-Nya dan memuji: “Bagus, Raja Para Dewa! Sewaktu batas hidupmu hampir berakhir, engkau dapat berlindung kepada Tiga Yang Mulia. Balasan karma burukmu telah selesai dan engkau tidak lagi harus menderita.” Pada saat itu Bhagavan mengucapkan gāthā pujian berikut:

  所行非常  謂興衰法
  夫生輒死  此滅為樂

  Segala yang berkondisi tidak kekal,
  semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
  Apa yang lahir, niscaya akan mati.
  Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.

  譬如陶家  埏埴作器
  一切要壞  人命亦然

  Bagaikan bejana yang dibuat
  tukang tembikar yang mengadon tanah:
  semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
  Seperti itu pulalah hidup manusia.

  Mendengar gāthā ini, Raja Śakra pun menyadari esensi ketidakkekalan. Ia menangkap perubahan akibat karma baik dan buruk; ia mengerti asal-mula kemunculan dan kelenyapan. Praktek menuju Pemadaman (Nirvāṇa) pun diturutnya. Dengan gembira ia menerimanya dan memperoleh Srotāpatti-mārga.



anicca Sakka



HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TIGA PERLINDUNGAN

Substansi Tiga Perlindungan yang telah diterima akan rusak apabila:

1.  受三歸已,造作癡業,受外道法、自在天語。以是因縁,失於三歸。
Setelah menerima Triśaraṇa, seseorang melakukan tindakan bodoh sesuai ajaran non-Buddhis atau menerima kata-kata Īśvara (“Tuhan”, dewa-dewa, dsb.) — karena sebab inilah maka ia kehilangan Tiga Perlindungan.
2.  若有造作種種雜業,爲受樂故,修於善事如市易法,其心不能憐愍衆生。如是之人,不得三歸。
Jika seseorang melakukan berbagai macam tindakan demi mendapatkan kesenangan; mengerjakan hal-hal baik [yang bersifat duniawi] seperti berbisnis, dsb.; namun tidak memiliki belaskasih dalam hatinya terhadap makhluk lain — maka orang semacam ini tidak memperoleh Tiga Perlindungan.
3.  若人至心,信其能救一切怖畏,禮拜外道。是人則失三歸依法。
Jika seseorang dengan sungguh hati menyembah (yakni: bergantung pada) praktisi spiritual non-Buddhis, meyakini bahwa mereka mampu menolongnya dari segala ketakutan — maka orang ini kehilangan substansi Tiga Perlindungan.

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XX, “Tiga Perlindungan yang Murni”
《優婆塞戒經·淨三歸品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1062a)


Allah = berhala

HAL-HAL YANG MENENTUKAN VALIDNYA PENERIMAAN TRIŚARAṆA


kalyana mitta

Istilah kalyāṇamitra dalam Buddhisme bukanlah merujuk pada kawan baik yang akrab dengan kita. Lebih dari sekadar teman biasa, seorang kalyāṇamitra adalah seorang guru yang mampu membimbing kita menuju kemajuan spiritual dalam jalan Dharma.

Mengingat pentingnya kalyāṇamitra untuk mencapai kemajuan dalam segala praktek, maka sebelum mengambil Tiga Perlindungan, kita harus meneliti terlebih dahulu kualitas calon guru pembimbing. Kita tidak mungkin memohon Tiga Perlindungan dari seseorang yang dirinya sendiri tidak berlindung kepada Triratna, atau ia telah kehilangan substansi Perlindungan karena, misalnya, ia mempraktekkan/meyakini ajaran spiritual non-Buddhis atau ia sangat mengandalkan benda-benda bertuah, jimat-jimat, “isi” patung-patung, dsb.

Apabila kita sudah yakin bahwa calon guru tersebut kompeten untuk membimbing kita, maka berikutnya kita juga harus mengerti makna sesungguhnya berlindung kepada Triratna, serta apa saja komitmen yang harus kita jaga setelah berlindung. Jika tidak, walaupun kita mengikuti upacara Tiga Perlindungan, maka upacara tersebut kosong belaka, dan tidak ada substansi Perlindungan yang kita terima.

Dalam mengikuti upacara Tiga Perlindungan, kita sebaiknya mengenali bagian-bagian dari ritus tersebut sehingga tahu di mana harus menjawab, di mana harus mengulangi perkataan guru pembimbing, di mana harus bernamaskāra, dll. Kita hendaknya tidak berada terlalu jauh dari guru pembimbing sehingga apa yang disampaikannya terdengar jelas. Apabila kita terkendala masalah bahasa dan tidak memahami apa yang diucapkan guru pembimbing, yang terpenting adalah kita harus berkonsentrasi saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan (“saya seumur hidup berlindung kepada Buddha”, dst.) sebab pada momen inilah substansi Perlindungan diperoleh. 
 

Dalam jilid ke-16 Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) disebutkan:
不得先歸依僧,後歸依法、佛。亦不得雜說。
Janganlah [mengucapkan] berlindung kepada Saṅgha dahulu, baru kemudian kepada Dharma dan Buddha. Jangan pula mengucapkan secara acak.

Maka pemahaman guru pembimbing tentang seluk-beluk ritus Tiga Perlindungan amatlah penting karena apa yang ia ucapkan akan diulangi oleh pemohon. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多論》 (lihat posting sebelumnya) menyatakan:
  • apabila karena tidak mengerti atau tidak sengaja ia mengucapkan secara terbalik, maka Triśaraṇa tersebut valid/sah dan pemohon memperoleh substansi Perlindungan;
  • apabila ia mengerti, namun sengaja mengucapkannya terbalik, maka Triśaraṇa tersebut tidak sah dan pemohon tidak memperoleh substansi Perlindungan. 


Samantapāsādikā 《善見論》 selanjutnya menyambung:
若師教言:「歸依佛」,弟子語不正,言:「歸依弗」,亦成受。
Jika sang guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun siswanya mengulangi secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka [Tiga Perlindungan] terbentuk.

若師教言:「歸依弗」,弟子言:「歸依佛」,亦成受三歸。
Jika gurunya mengajarkan, “Saya berlindung kepada Bodha”, namun sang siswa mengucapkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, maka ia pun mendapatkan Tiga Perlindungan.

若師與弟子語俱不正,言:「歸依弗」,不成受三歸。
Jika baik guru maupun siswa sama-sama mengucapkan secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka tidak ada Tiga Perlindungan yang terbentuk.
 
Semua hal berikut akan menyebabkan Triśaraṇa menjadi invalid:

1.  若師教:「歸依佛」,弟子答言:「爾」。
Jika guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun sang siswa hanya menjawab, “Ya [demikianlah, Bhadanta]”.
2.  或語不出口。
Atau ia tidak mengeluarkan suara (hanya mengulangi dalam hati).
3.  或逐語不具足
Atau ia mengulangi secara tidak lengkap —
皆不成受三歸。
maka tiada Tiga Perlindungan yang terbentuk.