Powered by Administrator

Translate

Rabu, 03 September 2014

Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha

Ananda's Question
ertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha (A-nan wên shih-fo chi-hsiung ching 《阿難問事佛吉凶經》, T. № 492) merupakan judul sebuah teks yang populer dari masa awal penerjemahan sūtra-sūtra di Tiongkok. Teks ini untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai terjemahan An Shih-kao 安世高 dalam jilid 4 katalog Li-tai San-pao chi 《歷代三寶紀》 (‘Tawarikh Sejarah Triratna Sepanjang Dinasti-Dinasti’, T. vol. 49, № 2034) karya Fei Chang-fang 費長房. Sebab-sebab perbedaan di antara mereka yang melayani/mengikuti Buddha 事佛 (buddhasevana) diterangkan di sini — karena ada sebagian pengikut Buddha, yang melakukan berbagai kegiatan religius Buddhis, mengalami keberuntungan; sementara itu ada pula sebagian lain yang mengalami ketidakberuntungan.

Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha sampai kepada kita dalam dua versi, yang dalam Kanon Taishō dinomori 492A dan 492B. Versi A adalah berdasarkan Tripiṭaka edisi Korea, sedangkan versi B merupakan versi yang lebih umum beredar. Selain itu, terdapat pula dua terjemahan lainnya:
  • Fo-shuo a-nan fên-pieh ching 《佛說阿難分別經》 (‘Sūtra yang Dibabarkan Buddha kepada Ānanda tentang Perbedaan’, T. № 495), yang diterjemahkan oleh Śramaṇa Shih Shêng-chien 釋聖堅 (alias Fa-chien 法堅);
  • serta versi yang lebih singkat, Man-fa ching 《慢法經》 (‘Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma’, T. № 739), oleh Tripiṭakācārya Fa-chü 法炬.

T. № 492A sangat berlainan dengan 492B dalam kata-kata. Keduanya bahkan tampak seperti dua terjemahan berbeda. Versi B justru lebih memiliki kemiripan dengan terjemahan Shêng-chien. Pinjam-meminjam kosakata dari terjemahan yang sudah ada memang acapkali dilakukan oleh berbagai penerjemah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa versi B merupakan terjemahan An Shih-kao yang sebenarnya (yang kosakatanya kemudian dipinjam Shêng-chien). Versi A hanya “penulisan-ulang” daripadanya oleh editor Tripiṭaka Korea. Namun, bisa jadi versi A-lah terjemahan An Shih-kao yang sebenarnya, sedangkan versi B merupakan sebuah salinan unik Fo-shuo a-nan fên-pieh ching yang mengandung variasi di sana-sini (lalu secara salah dianggap sebagai A-nan wên shih-fo chi-hsiung ching).

Karena keterbatasan waktu, kita tidak menyinggung lebih jauh T. № 492. Di bawah ini hanya akan disajikan teks yang lebih pendek, yakni Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma.

Bersandar pada seorang kalyāṇamitra — dalam teks kita disebut guru yang cakap 明師 (secara harfiah: ‘guru penerang’), yakni seorang guru yang memiliki pandangan sesuai Dharma dan pemahaman yang benar tentang segala fenomena dan nomena — merupakan syarat utama bagi mereka yang ingin mendapat keberuntungan. Guru tersebut merupakan penerus kesinambungan ajaran Dharma, yang ortodoksinya harus tidak teragukan. Menerima bimbingan darinya adalah seperti menerima bimbingan dari Buddha. Akan tetapi, ia sendiri harus merupakan seorang praktisi yang hidup “menyelaraskan diri sesuai sūtra-sūtra”, sehingga memiliki realisasi tertentu. Dengan begitu barulah kita dapat menjadikannya inspirasi untuk hidup serupa. Segala kemajuan spiritual dapat berkembang apabila kita dibimbing oleh orang seperti itu. Oleh karenanya, kita harus menimbang-nimbang dahulu kualitas seseorang yang akan kita jadikan guru. Setelah terdapat kecocokan, dan saling mengerti keunggulan dan kelemahan satu sama lain, barulah kita boleh memohon Dharma atau Śīla darinya.

Bagian berikutnya dari teks menerangkan sebab-sebab yang mengakibatkan ketidakberuntungan yang dialami mereka yang juga mengaku sebagai pengikut Buddha, namun belum/tidak menjumpaï guru yang cakap. Kebanyakan orang ikut-ikutan melaksanakan Śīla, entah dengan bertekad sendiri atau mengambilnya dalam sebuah upacara formal. Namun, tanpa penjelasan yang tepat dari seorang guru, mustahil substansi Śīla terbentuk dalam diri mereka. Tanpa substansi Śīla, andaipun mereka bertekad sendiri untuk menjaga moralitas, maka itu hanya menjadi praktik śīla duniawi dan bukan praktik śīla Buddhis. Tanpa adanya substansi Śīla, tidak ada daya yang cukup kuat yang mampu memutus kencenderungan untuk terus berbuat jahat; dan inilah yang menjadi sebab seseorang mengalami ketidakberuntungan.

Sebab lain yang juga mengakibatkan ketidakberuntungan adalah ketidakacuhan terhadap kitab-kitab sūtra (teks-teks Dharma) dan pratimā (gambar/patung Buddha). Sangat disayangkan bahwa banyak orang yang tidak mau menerima teks-teks Dharma — jangankan untuk memuliakannya, bahkan hanya untuk sekadar menyimpannya. Padahal, teks-teks Dharma, apabila dibaca, dapat meluruskan pandangan dan membuka wawasan tentang Buddhadharma selama seseorang belum menemukan guru yang cakap. Tanpa pandangan benar, keyakinannya kepada Triratna mudah goyah; dan ia akan beralih kepada “roh-roh sesat” ketika timbul permasalahan, seperti yang diterangkan seterusnya di bawah.

Kalyana mitra



《慢法經》
Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma
(T. № 739)






西晉 三藏釋法炬 譯
Diterjemahkan oleh Tripiṭakācārya Shih Fa-chü
pada masa dinasti Tsin Barat (290–307)






佛語:「阿難。有人事佛,以後便富貴不衰者。有人事佛,以後衰喪不利者。」
Buddha bersabda: “Ānanda, ada orang yang melayani Buddha dan setelahnya menjadi kaya dan terpandang, tanpa kemunduran. Ada pula orang yang melayani Buddha dan setelahnya mengalami kemunduran, tanpa keuntungan sama sekali.”

阿難問佛:「云何俱事佛,衰利不同?何故得爾?」
Ānanda bertanya kepada Buddha: “Mengapakah mereka yang sama-sama melayani Buddha mengalami kemunduran atau keuntungan yang tidak sama? Apakah sebabnya demikian?”



1. Sebab-Sebab Keberuntungan



佛語:「阿難。有人事佛,當求明師,得了了者,從受戒法。為除諸想,與經相應。
Buddha bersabda: “Ānanda, ada orang yang melayani Buddha yang, sewaktu mencari guru yang cakap, setelah memahami [kelebihan dan kekurangan] satu sama lain, lalu menerima Śīla dan Dharma darinya. Segala pemikirannya ia singkirkan, dan [untuk itu] ia menyelaraskan diri sesuai sūtra-sūtra.

「精進奉行,不失其教。受者不犯,如毛髮者。是人不犯道禁。
“Menjunjung dan mempraktikkan dengan penuh semangat, ia tidak melupakan ajaran [dari gurunya] tersebut. Apa yang diterimanya tidak dilanggarnya, bahkan setipis helaian rambut. Orang ini pun tidak melanggar segala aturan di dalam Jalan.

「常為諸天、善神所侍衛、擁護。所向諧偶,財利百倍,眾人所敬。後當得佛,何況富利耶!如是人輩事佛,為真佛弟子。
“Maka ia akan senantiasa diiringi dan dijaga oleh para dewa dan makhluk halus yang baik. Ke mana pun ia menuju, segalanya akan berjalan lancar; harta dan labanya akan berganda seratus kali lipat; ia akan dihormati oleh semua orang. Di masa mendatang Kebuddhaan niscaya ia peroleh, apalagi cuma kekayaan dan manfaat-manfaat [seperti di atas]! Orang yang melayani Buddha secara demikian sungguh merupakan siswa Buddha yang sejati.



2. Sebab-Sebab Ketidakberuntungan



「又復有人事佛,不值明師。亦無經像,復無禮敬。
“Selain itu, ada pula orang yang melayani Buddha yang tidak menjumpaï guru yang cakap. Tidak ada sūtra atau pratimā [yang ia minati untuk disimpan], tidak pula rasa hormat terhadapnya.

「不知不解,強效人受法戒。無有至信,受戒之後,故復犯眾戒。
“Tidak tahu dan tidak mengerti, ia bersikeras ikut-ikutan orang untuk menerima Śīla dan Dharma. Karena tiada keyakinan yang sungguh-sungguh, sesudah menerima Śīla, ia pun kembali melanggar berbagai śīla.

「心意朦冥猶豫。亦不肯讀經、行道、作福。乍信,乍不信。
“Batinnya diliputi kegelapan dan kebimbangan. Pun tiada hendak ia membaca sūtra, mempraktikkan Jalan, atau melakukan perbuatan berjasa. Sebentar-sebentar ia yakin, sebentar-sebentar tidak yakin.

「復不能念齋日燒香、燃燈、作禮,故復瞋恚,喚呼罵詈,出入咒咀。口初不合,心懷憎嫉,使人殺生。
“Di samping tak mampu mengingat hari-hari upavasatha untuk membakar dupa, menyalakan pelita, atau melakukan penghormatan, ia malahan mengembangkan kebencian, berteriak dan memaki [pada hari-hari tersebut]. Keluar dan masuk, ia mengumpat-umpat. Mulutnya selalu tak bersesuaian dengan hatinya, yang dipenuhi kedengkian dan iri. Kemudian ia menyebabkan orang lain membunuh makhluk hidup.

「眼見經像,無有禮敬之心。若其有經,趣掛著壁;或擲床席之上;或著故衣被,弊篋器中;或以妻子、小兒,不淨手弄之。煙熏屋漏,不復瞻視。亦不燒香、燃燈、向之作禮。與凡經書無異。
“Ketika matanya melihat sūtra atau pratimā, tiadalah batinnya menghormat. Seandainya pun ada sūtra padanya, akan digantungkannya saja di tembok; atau dicampakkannya di atas ranjang atau kursi; atau diletakkannya di antara pakaian-pakaian bekas, di dalam kotak atau wadah yang nista; atau akan dibiarkannya istrinya atau anaknya memain-mainkannya dengan tangan kotor. Terkepuli asap dan tertetesi bocoran atap rumah, takkan ditengoknya lagi [teks Dharma tersebut]. Takkan pula ia membakar dupa, menyalakan pelita, atau melakukan penghormatan kepadanya. Ia akan menganggapnya tidak berbeda dengan buku-buku duniawi biasa.

「善神離之,惡鬼得其便。隨逐不置,因衰病之。
“Maka makhluk-makhluk halus yang baik meninggalkannya; hantu-hantu jahat akan dapat mencelakaïnya. Apabila tiada mempan, [kesehatannya] akan mundur dan menyebabkannya sakit.

「適得疾病,恐怖猶豫,自念言:
“Tatkala mendapatkan penyakit, diliputi kecemasan dan kebimbangan ia merenung sendiri:

『我初事佛,云何故復疾病耶?』
‘Aku selalu melayani Buddha. Mengapakah aku kembali menderita sakit?’

「不能自信,呼使巫媚之師卜問。解除鎮厭無益,遂便禱賽邪神。
“Karena tidak dapat membangkitkan keyakinan diri, dipanggilnyalah dukun dan ahli nujum untuk berkonsultasi. Setelah segala kias penolak bala tidak berhasil, ia pun mulaï berdoa dan menyajikan sesajen kepada roh-roh sesat.

「眾過遂增。妖魅惡鬼,屯守其門。遂便喪衰,死亡不離門戶。
“Berbagai kesalahannya makin bertambah-tambah. Siluman-siluman dan hantu-hantu jahat bergerombol menghampiri pintunya. Menyusul kemunduran [kesehatannya], kematian tidak beranjak dari rumahnya.

「財產衰耗,家室病疾。更相注續,不離床席。命終墮埿犁中,當被考治讁罰,無有歲數。
“Harta bendanya semakin berkurang, keluarganya sakit-sakitan. Walau [perhatian kepadanya] semakin dicurahkan terus, ia tetap tak dapat meninggalkan tempat tidurnya. Setelah kehidupannya berakhir, terjatuhlah ia ke niraya (alam neraka). Ia akan didakwa dan dihukum [untuk waktu yang sangat lama], bukan dalam hitungan tahun lagi.

「是人但坐不能專一;志意猶豫,無所專據。不信佛法,故得其罪,凶衰如是。」
“Orang ini saat duduk pun tidak mampu berfokus; pendiriannya diliputi kebimbangan dan tak dapat dipusatkannya pada apa pun. Karena tidak meyakini Buddhadharma, demikianlah ketidakberuntungan dan kemunduran yang ia dapat dari perbuatan buruknya.”



Penutup



「世間人不知佛法者,謂呼事佛令得殃衰,不知其人行自不正,違犯佛經戒。心意眾態具足,身自招之,無有與者。」
“Orang-orang di dunia tidak mengetahui Buddhadharma dan hanya menganggap ‘melayani Buddha akan menyebabkan kesialan dan kemunduran’, tanpa mengetahui bahwa kelakuan orang itu sendirilah yang tidak tepat, bertolak-belakang dan melanggar Dharma dan Śīla Buddha. Segala kesempurnaan pola pikir diundang oleh diri sendiri; tiadalah yang dapat memberikannya.”

阿難聞之,便頭面著地,為佛作禮,歡喜奉行。
Pada saat Ānanda mendengar penjelasan ini, ia pun menyentuhkan kepala dan wajahnya ke tanah, bernamaskāra kepada Buddha. Dengan gembira ia menjunjung dan melaksanakannya.






《佛說慢法經》
Akhir dari Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma






Jumat, 02 Mei 2014

Untuk Perbuatan Buruk yang Sama, Yang Mengambil Śīla akan Mendapat Akibat Karma Lebih Berat dibandingkan Yang Tidak


 

Salah satu perbedaan śīla-śīla Buddhis dengan aturan moralitas agama lain adalah: dalam agama lain, aturan-aturan seringkali diturunkan oleh sesosok “Tuhan” untuk seluruh manusia. Manusia mana pun yang melanggarnya dinyatakan berdosa terhadap “Tuhan” tersebut. Padahal, tidak semua manusia memiliki keyakinan terhadap agama itu — bahkan mungkin ada yang tidak mengenal agama tersebut, apalagi ajaran-ajaran yang diturunkan oleh “Tuhan”-nya.
 
Dalam agama Buddha, seseorang baru dikatakan melanggar Śīla bilamana ia memang sudah mengambil Śīla tersebut. Sebelumnya telah diberikan contoh umat awam Buddhis yang hanya berlindung kepada Triratna, tetapi tidak mengambil Pañca Śīla — sebut saja namanya A. Seandainya A melakukan aborsi, ia melakukan karma buruk, tetapi tidak dikatakan melanggar Śīla (sebab memang tiada substansi Śīla apa pun dalam dirinya). A hanya melakukan karmapathika sāvadya 業道罪 (yakni: pembunuhan manusia) saja. [Untuk pembahasan jenis-jenis sāvadya/kecelaan, lihat posting sebelumnya.]
 
Sebaliknya, jika seorang umat awam yang mengambil Pañca Śīla Buddhis — katakanlah namanya B — melakukan aborsi, ia akan dinyatakan melanggar śīla. B melakukan saṃvarika sāvadya 戒罪, di samping karmapathika sāvadya 業道罪. Jadi, karma buruk yang ditimbulkan B lebih besar dibandingkan A karena ia melakukan dua kecelaan sekaligus.
 
Oleh karena itu, sebelum mengambil Śīla apa pun, kita hendaknya mempertimbangkan kesanggupan kita menjaganya dalam kehidupan sehari-hari, selain memahami seluk-beluk/karakteristik Śīla tersebut. Tidak sedikit umat Buddhis yang mengambil Pañca Śīla, tetapi masih meminum minuman keras karena pergaulan sosialnya memaksanya berbuat demikian. Padahal, meminum setetes alkohol pun, walau tidak menyebabkan kemabukan, sudah merupakan pelanggaran Śīla. Maka apabila terdapat kecenderungan besar bagi kita untuk sering melanggar śīla-śīla tertentu dalam kehidupan sehari-hari, lebih baik kita menerima beberapa śīla dahulu (tidak lengkap lima) yang sanggup kita pegang, dan di kemudian hari baru mengambil lengkap setelah situasi memungkinkan.
 
Sebelum menerima Śīla, jika melakukan perbuatan buruk, kita menanggung akibat yang lebih ringan. Setelah menerima Śīla, jika kita melakukan perbuatan yang sama, akibat karma yang kita terima lebih berat. Kalau begitu, apakah lebih baik kita jangan menerima Śīla sama sekali?
 
Harus! Kita harus tetap menerimanya karena — berkat benih yang tertanam sewaktu menerima Śīla — meskipun kemudian kita melanggar Śīla dan terlahir di alam rendah sebagai akibatnya, setelah hukuman itu selesai, kita dapat berjumpa kondisi yang mendukung untuk mempraktekkan Buddhadharma kembali. Jika kita tidak menerima Śīla dan tetap berbuat jahat seperti biasanya, mustahil kita dapat merealisasi Pencerahan!
 
Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-23 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 161a) menuturkan: 

如《優鉢羅華比丘尼本生經》中說
Seperti yang diceritakan dalam “Kisah Kelahiran Lampau Bhikṣuṇī Utpalavarṇā” (judul sebuah avadāna yang tampaknya belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa).

佛在世時,此比丘尼得六神通阿羅漢。入貴人舍,常讚出家法,語諸貴人婦女言:「姊妹!可出家。」
Pada zaman Sang Buddha, bhikṣuṇī ini mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual (ṣaḍ abhijñā). Setiap kali memasuki rumah orang-orang terpandang, ia kerapkali memuji-muji kehidupan kudus, dan berkata kepada wanita-wanita terpandang: “Saüdari-saüdari, Anda sekalian bolehlah meninggalkan rumah-tangga.”

諸貴婦女言:「我等少壯,容色盛美;持戒為難,或當破戒。」
Wanita-wanita terpandang berkata: “Kami masih muda belia dan cantik rupawan; memegang Śīla amatlah sulit, dan kami takut merusak Śīla.”

比丘尼言:「但出家,破戒便破。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Tinggalkanlah rumah-tangga. Jika kelak harus merusak Śīla, ya rusakkanlah!”

問言:「破戒當墮地獄。云何可破?」
Mereka bertanya: “Merusak Śīla akan terjatuh ke neraka. Bagaimana boleh merusakkannya?”

答言:「墮地獄便墮。」
Jawabnya: “Jika harus terjatuh ke neraka, ya jatuhlah!”

諸貴婦女皆笑之言:「地獄受罪。云何可墮?」
Wanita-wanita terpandang itu semua menertawakannya dan berkata: “Di neraka akan menerima hukuman. Bagaimana boleh terjatuh ke sana?”

比丘尼言:「我自憶念本宿命。時,作戲女著種種衣服,而說舊語。或時著比丘尼衣,以為戲笑。以是因緣故,迦葉佛時,作比丘尼。自恃貴姓端政,心生憍慢,而破禁戒。破戒罪故,墮地獄受種種罪。受罪畢竟,值釋迦牟尼佛出家,得六神通阿羅漢道。以是故知!出家受戒,雖復破戒,以戒因緣故,得阿羅漢道。若但作惡,無戒因緣,不得道也。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Aku teringat akan kelahiran lampauku. Saat itu aku menjadi pemain drama yang mengenakan berbagai kostum dan membawakan cerita-cerita lama. Kadang-kadang aku memakai kostum bhikṣuṇī dan menggunakannya untuk bermain-main. Karena sebab inilah, maka pada zaman Buddha Kāśyapa aku dapat menjadi bhikṣuṇī. Tetapi, karena membualkan kebangsawananku yang tinggi dan rupaku yang elok, timbullah keangkuhan dalam hatiku, dan aku merusak Śīla. Sebab merusak Śīla, aku terjatuh ke neraka dan menerima beraneka hukuman. Setelah hukuman itu selesai, aku pun dapat meninggalkan rumah-tangga kembali di masa Buddha Śākyamuni, dan mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual. Oleh karena itu, ketahuilah! Dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla, meskipun kembali merusaknya, namun berkat kondisi [yang tercipta dari] Śīla tersebut, akhirnya akan dapat mencapai kearhatan. Jika hanya berbuat jahat, tanpa kondisi pendukung [yang tercipta dari] Śīla, tiadalah Pencerahan.

「我乃昔時,世世墮地獄。地獄出為惡人,惡人死還入地獄,都無所得。今以此證知,出家受戒,雖復破戒,以是因緣,可得道果。」
“Dahulu aku pernah terjatuh ke neraka dari kelahiran ke kelahiran. Sesudah keluar dari neraka, aku kembali menjadi orang jahat. Sebagai orang jahat, aku mati dan kembali masuk neraka — demikian seterusnya [berulang-kali] tanpa Pencapaian apa-apa. Kini telah kubuktikan dan kuketahui: dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla [satu kali saja], meskipun merusakkan kembali Śīla itu, namun berkat kondisi tersebut, aku akhirnya dapat mencapai buah dari Jalan.”
 

Minggu, 27 April 2014

DOSA DALAM AGAMA BUDDHA

Kata Pāli dosa memiliki dua padanan dalam bahasa Sanskerta:
  • dveṣa, yang berarti ‘kebencian’, dan
  • doṣa, yang berarti ‘kesalahan’.
Bentuk kedua inilah yang diserap oleh bahasa Indonesia dan, sejak kedatangan agama-agama samawi, kata dosa mengalami perubahan konotasi yang berarti ‘pelanggaran terhadap hukum-hukum/perintah Sang Pencipta, yang menyebabkan kemurkaan-Nya, dan terputusnya hubungan antara si pendosa dengan-Nya’.

Dalam agama Buddha, bagaimana pun, tidak dikenal adanya Tuhan Pencipta. Seseorang tidak berdosa terhadap siapa pun, kecuali dirinya sendiri. Dosa semata-mata hanyalah ‘kecelaan’ (sāvadya) karena perbuatan buruk yang dilakukan seseorang, yang akibatnya akan diterima olehnya sendiri, tanpa campur-tangan sosok Mahakuasa mana pun.

Dosa/kecelaan dapat dibedakan menjadi tiga. Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 514a):

凡犯罪有三種:
Segala kecelaan ada tiga jenis:
一、犯業道罪  Kecelaan sehubungan dengan karmapatha (karmapathika sāvadya).
二、犯惡行罪  Kecelaan karena kelakuan buruk (durācāra sāvadya).
三、犯戒罪   Kecelaan karena pelanggaran Śīla (sāṃvarika sāvadya).

1.須提那。
Tentang Sudinna.
 
於三罪中,得犯惡行罪,婬是惡法故。
無業道罪,自己妻故。
無犯戒罪,佛未結戒故。
Di antara ketiga kecelaan, ia hanya melakukan kecelaan karena kelakuan buruk, sebab hubungan seksual merupakan dharma yang tak-baik (akuśala).
Ia tidak melakukan kecelaan sehubungan dengan karmapatha, sebab ia berhubungan dengan istrinya sendiri.
Ia tidak melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla, sebab Buddha belum menetapkan śīla.
 
 
2.林中比丘。
Tentang seorang bhikṣu di hutan.
 
得二罪:
得惡行罪,婬是惡法故;
得業道罪,雌獼猴屬雄獼猴故。
不得犯戒罪,佛未結戒故。
Ia melakukan dua jenis kecelaan:
  • kecelaan karena kelakuan buruk, sebab hubungan seksual merupakan dharma yang tak-baik;
  • kecelaan sehubungan dengan karmapatha, sebab kera betina itu adalah istri seekor kera jantan.
Ia tidak melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla, sebab Buddha belum menetapkan śīla.



Kasus pertama bhikṣu yang berhubungan seksual terjadi sewaktu Sudinna bersetubuh kembali dengan istrinya. Di India, merupakan kebiasaan yang lazim bagi para petapa (śramaṇa) untuk hidup membujang/sélibat (brahmacarya) setelah meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Akan tetapi, sesungguhnya tidak ada suatu aturan tunggal yang pasti, yang mengikat/berlaku untuk seluruh sekte śramaṇa. Berbagai sekte śramaṇa memiliki sistém ajaran yang berbeda-beda, dan masing-masing dapat dikatakan merupakan agama tersendiri-sendiri (misalnya: Buddhisme, Jainisme, dsb.). Pada saat itu Buddha sendiri juga belum menetapkan śīla apa pun bagi bhikṣu-bhikṣu-Nya sehingga, ketika Sudinna berhubungan seksual, ia hanya dikatakan berdosa/melakukan kecelaan karena kelakuan buruk.

Sesudah peristiwa tersebut, untuk pertama kalinya ditetapkanlah śīla: bhikṣu mana pun yang berhubungan seksual, telah melakukan pelanggaran pārājika. Namun, kasus-kasus yang terjadi berikutnya mengharuskan bunyi aturan ini direvisi. Pada kasus kedua, seorang bhikṣu yang tinggal di hutan bersetubuh dengan seekor kera betina. Ia pun hanya dinyatakan melakukan kecelaan sehubungan dengan karmapatha (yakni: perzinahan), di samping kecelaan karena kelakuan buruk. Ia tidak melanggar Śīla sebab, setelah kasusnya tersebut, barulah bunyi aturan pārājika itu disempurnakan: bukan hanya hubungan seksual dengan manusia, tetapi sampai dengan hewan pun merupakan pelanggaran pārājika.

Sejak saat itu aturan ini menjadi final sehingga siapa pun yang mengambil disiplin kebhikṣuan, lalu melakukan hubungan seksual, maka secara otomatis ia melakukan kecelaan karena pelanggaran Śīla di samping dua kecelaan lainnya. Selanjutnya, secara berangsur-angsur Buddha mulaï menetapkan berbagai aturan bagi para bhikṣu: baik yang bersifat perintah (cāritra śīla 作持戒) — yang jika tidak dilakukan merupakan pelanggaran Śīla —; maupun yang bersifat larangan (vāritra śīla 止持戒) — yang jika dilakukan merupakan pelanggaran Śīla.
 

Selasa, 22 April 2014

Ruang Lingkup Śīla ; Tiga Pandangan Berbeda mengenaï Substansi Śīla: Sarvāstivāda, Satyasiddhi, dan Yogācāra

Tao-hsuanarma, yang menjadi penyebab kita terus berada dalam saṃsāra, yang kita lakukan sejak waktu yang tak berawal hingga keberadaan jasmani dan batin kita dalam kehidupan sekarang, sungguh tak terhitung. Seandainya karma memiliki wujud fisik, seluruh ruang angkasa pun takkan cukup menampungnya. Karma bermula dari pikiran, dan pikiran kita yang sesat meliputi seluruh Dharmadhātu. Maka jangkauan pembentukan dan pelaksanaan Śīla juga meliputi seluruh Dharmadhātu — baik terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup, baik terhadap makhluk biasa maupun para suci. Pengertian ini haruslah benar-benar kita pahami. Bagaimana substansi Śīla dapat terbentuk, serta bagaimana kelak kita dapat mempraktekkan Śīla apabila, saat menerima Śīla, kita tidak mengetahui apa yang merupakan ruang lingkupnya?

Menerima Śīla berarti mengubah kecenderungan untuk terus berbuat karma buruk, dan beralih kepada kemurnian moral, sehingga benih yang baik bertumbuh dan menjadi dasar tercapainya Kebuddhaan. Sewaktu seseorang menerima Śīla, kehendaknya mendorongnya untuk memutuskan segala pikiran sesat dan tidak berbuat kejahatan lagi. Pada saat itu seluruh Dharmadhātu, yang juga merupakan ruang lingkup dari Dharma, tergetar. Awan kebenaran Dharma akan berhimpun menaunginya, serta menghujani dan berdiam memenuhi dirinya. Afinitas antara Dharma dengan dirinya itulah yang menimbulkan karma, dan karma tersebut memiliki substansi.

Jadi, substansi Śīla tak lain adalah substansi karma ketika melakukan perbuatan Penerimaan Śīla. Substansi Śīla yang termanifestasi (saṃvara vijñapti) dapat ditangkap melalui organ penglihatan dan pendengaran, nampak dalam aktivitas-aktivitas jasmani (misalnya: berlutut, bernamaskāra, dsb.) maupun ucapan (misalnya: menjawab pertanyaan, mengulangi rumusan Perlindungan, mengucap ikrar, dsb.) sewaktu mengambil Śīla. Aktivitas-aktivitas jasmani dan ucapan akan selesai dengan segera, dan tidak memiliki daya untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan begitu selesai dilakukan. (Maka dapat kita pahami: dengan sekadar mengucap janji — yang merupakan aktivitas ucapan — seseorang tidak serta-merta memperoleh Śīla.) Untuk itu, diperlukan substansi Śīla yang tak termanifestasi (saṃvara avijñapti), yang dapat bersinambung terus sejak terbentuk hingga akhir (misalnya: hingga seumur hidup atau selama jangka waktu tertentu), yang tidak terpengaruh aktivitas keempat skandha penyusun mental (perasaan, pencerapan, bentukan, kesadaran). Bentukan dapat bersifat baik (kuśala 善), tidak baik (akuśala 不善), atau tak-pasti/netral (avyākr̥ta 無記); tiga skandha lainnya bersifat netral; sedangkan saṃvara avijñapti semata-mata hanya bersifat baik.

Lebih lanjut, saṃvara vijñapti hanya merupakan sebab yang dapat mengundang buah/akibat karma di masa depan. Saṃvara avijñapti, sebaliknya, di samping dapat mengundang akibat karma di masa depan, juga memiliki kemampuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan. Sepanjang avijñapti tersebut bertahan, kemampuan ini akan berkembang dari momen ke momen (sehingga karma baik seseorang juga dapat berkembang). Namun, kalau avijñapti itu rusak (misalnya, karena ia melepas Śīla 捨戒 — hal ini akan kita bahas nanti), maka kemampuan ini juga hilang. Hanya akibat karma (yang baik) di masa depan saja, yang datang dari substansi Śīla yang terbentuk sewaktu melakukan perbuatan Penerimaan Śīla, yang dapat berbuah.


Mengenaï esensi dari saṃvara avijñapti, paling tidak ada tiga variasi pandangan mazhab yang berbeda-beda. [Tentang penggolongan mazhab-mazhab, lihat Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》, T. vol. 40, № 1804 hlm. 96b.] Dalam Szŭ-fên-lü hsing-shih ch’ao tzŭ-ch’ih chi 《四分律行事鈔資持記》 (T. vol. 40, № 1805 hlm. 157b), yang merupakan komentar Vinayācārya Ling-chih Yüan-chao 靈芝元照 dari dinasti Sung atas Hsing-shih ch’ao, ketiga pandangan ini ditautkan pada:

  1. Mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma 實法宗
Mazhab-mazhab ini berpegang bahwa segala yang terkondisi tidak kekal, merupakan penderitaan, dan tanpa-aku. Segala fenomena terbentuk karena sebab (hetu 因) dan pendukung (pratyaya 緣). Yang disebut “diri” tidak lain hanyalah kumpulan dari berbagai faktor dasar (dharma 法). Diri ini pada hakikatnya kosong tanpa-aku. Namun, faktor-faktor dasar pembentuknya adalah benar-benar riil/ada. Salah satu mazhab terkenal yang menganut pandangan ini ialah Sarvāstivāda.

Dalam sistém abhidharma Sarvāstivādin, kāya vijñapti dan vāk vijñapti digolongkan sebagai materi (rūpa 色), masing-masing di bawah basis/landasan objek penglihatan (rūpāyatana 色處 atau 色入 pada terjemahan lama) dan objek pendengaran (śabdāyatana 聲處 atau 聲入) karena keduanya dapat dilihat dan didengar. (Pandangan yang mirip dianut juga oleh mazhab-mazhab Vātsīputrīya.)

Kāya avijñapti dan vāk avijñapti, karena korelasinya dengan kāya vijñapti dan vāk vijñapti, yang timbul dengan bergantung pada empat elemen primer (tanah, air, api, dan angin), digolongkan sebagai materi juga. Inilah yang menjadi rūpa ke-11, avijñapti rūpa 無表色, dalam klasifikasi materi menurut abhidharma Sarvāstivādin. Avijñapti rūpa adalah satu-satunya materi yang ada di bawah basis objek pemikiran (dharmāyatana 法處 atau 法入). Karena tidak terpengaruh aktivitas keempat skandha penyusun mental jugalah yang menjadi alasan, secara sederhana, untuk menggolongkan avijñapti sebagai materi.

  1. Mazhab-mazhab yang menganggap bahwa segala dharma hanyalah penamaan semu 假名宗
Mazhab-mazhab ini berpandangan bahwa bukan hanya diri yang kosong, faktor-faktor dasarnya pun kosong. Segala dharma tidak benar-benar nyata, hanya eksis untuk sementara. Secara relatif hanya dharma sekaranglah yang dapat dikatakan “ada”. Dharma lampau telah berlalu, sedangkan dharma mendatang belum tiba. Dengan bergulirnya waktu, dharma sekarang akan kedaluwarsa dan menjadi dharma lampau; dharma mendatang pun dengan segera menjadi dharma sekarang. Menurut mazhab-mazhab ini, penyebutan “dharma” hanyalah penamaan semu (prajñapti 假名) untuk menyesuaikan dengan pemahaman/kebenaran duniawi (saṃvr̥ti satya 世諦), sebab dalam kebenaran tertinggi (paramārtha satya 第一諦) sesungguhnya tiada dharma sama sekali. Contoh penganutnya adalah mazhab Dharmaguptaka, atau juga pandangan yang dipegang Bhadanta Harivarman, pengarang Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. № 1646).

Bagi mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma, suatu perbuatan baru disebut karma bilamana terdapat dua komponen: kehendak (cetanā 思) serta tindakan yang dilakukan berdasarkan dorongan kehendak tersebut (cetayitvā 思所作). Perbuatan pikiran hanyalah karma yang berupa kehendak (cetanā karma 思業) sehingga bukan merupakan karma sebenarnya. Cuma perbuatan jasmani dan ucapanlah yang merupakan karma sebenarnya karena, selain adanya kehendak, juga merupakan karma berupa tindakan yang dilakukan setelah berkehendak (cetayitvā karma 思已業). Dari kesepuluh jalan perbuatan (karmapatha 業道, lihat http://tinyurl.com/neaykvv), tiga perbuatan pikiran — barangkali lebih sesuai disebut “tindakan pikiran” saja sebab bukan merupakan perbuatan/karma yang sebenarnya — hanyalah karmapatha, yang merupakan wilayah pengelanaan dari kehendak; sedangkan tujuh lainnya merupakan karmapatha sekaligus karma, yang memiliki aspek vijñapti dan avijnapti. Perbuatan pikiran, karena tidak termanifestasi kepada orang lain, tidak memiliki aspek vijñapti dan, secara otomatis, juga tidak membentuk avijñapti.

Berbeda dengan pandangan mazhab-mazhab yang meyakini realitas dari segala dharma, menurut Satyasiddhi Śāstra tindakan pikiran (=cetanā karma) sudah merupakan karma yang sebenarnya, walaupun tanpa disertaï cetayitvā karma. Dari kesepuluh jalan perbuatan, ketamakan, kedengkian, dan pandangan sesat memiliki aspek vijñapti karena, meski tidak termanifestasi kepada orang lain, tetapi termanifestasi dalam batin sendiri. Alhasil, perbuatan pikiran pun membentuk avijñapti.

Semua karma memiliki esensi kehendak karena, setelah berkehendak, seseorang melakukan tindakan, baik melalui jasmani, ucapan, atau pikiran. Kehendak merupakan salah satu fungsi mental (caitasika 心所) atau bentukan yang bersekutu dengan batin/kesadaran (citta-saṃprayukta saṃskāra 心相應行). Jadi, esensi kāya vijñapti dan vāk vijñapti bukan hanya materi, melainkan juga batin.

Bagaimanakah esensi dari avijñapti? Avijñapti tidak cocok digolongkan sepenuhnya sebagai materi sebab materi yang nyata tersusun dari elemen-elemen primer dan objek-objek yang memiliki wujud, bersifat lembam, tertentang, dan dapat ditangkap oleh lima kesadaran inderawi. Avijñapti juga tidak cocok digolongkan sepenuhnya sebagai batin sebab batin memiliki kerja mengetahui dan mempertimbangkan; kadang terfokus, kadang kabur; kadang diliputi kebijaksanaan, kadang diliputi kebodohan; dapat bersifat baik, tidak baik, atau netral; dan merupakan penghasil akibat. Maka dalam sistém Satyasiddhi, avijñapti dengan terpaksa diklasifikasikan sebagai bukan keduanya 強號二非 atau, dengan kata lain, merupakan bentukan yang tidak bersekutu dengan batin/kesadaran (citta-viprayukta saṃskāra 心不相應行).

  1. Mazhab-mazhab dari Ajaran Sempurna 圓教宗
Mazhab-mazhab ini mempersatukan ajaran-ajaran temporer dari Tiga Kendaraan menuju ajaran sejati Kendaraan Tunggal berdasarkan Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. № 374), dan dalam pandangannya banyak dipengaruhi oleh idealisme Yogācāra/Vijñaptimātra. Inilah yang dianut oleh Sekolah Vinaya di Cina, terutama dari silsilah Nan-shan 南山律宗 yang dibawakan oleh Vinayācārya Tao-hsüan 道宣律師 (596–667).

Menurut kaum Yogācārin, tindakan jasmani dan ucapan bukanlah substansi karma yang sebenarnya sebab keduanya, pada hakikatnya, bersifat netral sehingga tak dapat mengundang akibat karma di masa depan. Substansi karma semata-mata hanyalah kehendak, dan kehendak dibedakan menjadi tiga:
  1. Kehendak pertimbangan (gati cetanā 審慮思)

    Merupakan kehendak berupa pertimbangan-pertimbangan terawal yang muncul sebelum berbuat.

  2. Kehendak penetapan (niścaya cetanā 決定思)

    Merupakan kehendak berupa kepastian dalam hati, berniat untuk melakukan suatu perbuatan.

  3. Kehendak penggerakan (kiraṇa cetanā 動發勝思)

    Merupakan kehendak untuk menggerakan/mengarahkan jasmani atau ucapan, yang muncul tepat saat akan bertindak, baik dalam perbuatan baik maupun buruk.


Kehendak pertama dan kedua adalah substansi dari perbuatan pikiran; kehendak ketiga adalah substansi dari perbuatan jasmani dan ucapan. Dalam melakukan perbuatan jasmani, katakanlah, pembunuhan, dua komponen memang harus ada: kehendak pembunuhan dan tindakan pembunuhan karena dorongan kehendak tersebut. Akan tetapi, kehendak itu sendiri dapat dibedakan menjadi: kehendak/niat untuk membunuh (=perbuatan pikiran) dan kehendak untuk menggerakan tangan akan membunuh (=perbuatan jasmani). Jadi, sesungguhnya terdapat dua perbuatan yang dilakukan sekaligus di sini.

Lebih lanjut, dalam sistém Yogācāra, kehendak mempunyai benih karma (bīja 種子) yang tersimpan dalam kesadaran ke-8, gudang kesadaran (ālaya vijñāna 阿賴耶識). Sewaktu melakukan perbuatan Penerimaan Śīla, kehendak akan terpresentasi (samudācāra 現行), menampilkan kāya vijñapti dan vāk vijñapti yang sesungguhnya hanyalah penamaan semu. Kekuatan kesériusan dari kehendak, yang merupakan sebuah fungsi mental yang bersekutu dengan kesadaran pikiran (manaḥ saṃprayukta 意識相應), mengukupi (vāsayati 熏) benih yang tersimpan di gudang kesadaran. Benih itu akan bersinambung dan memiliki kemampuan untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, terpresentasi membentuk avijñapti rūpa yang juga merupakan materi semu. Sementara kāya vijñapti dan vāk vijñapti merupakan materi semu yang ada di bawah basis objek penglihatan dan objek pendengaran, avijñapti rūpa ada di bawah basis objek pemikiran, dan kini disebut dengan istilah baru “materi yang tercetus karena penerimaan” (samādānika rūpa 受所引色) untuk menghindari kerancuan.

Jadi, substansi Śīla yang termanifestasi tidak lain adalah kehendak (yang melalui presentasi membentuk materi semu: vijñapti rūpa); sedangkan substansi Śīla yang tak termanifestasi adalah benih dari kehendak, yang tersimpan dalam gudang kesadaran (yang melalui presentasi membentuk materi semu: samādānika rūpa). Dengan kata lain, dalam sistém Yogācāra substansi Śīla sepenuhnya memiliki esensi batin/kesadaran.


【CATATAN:】

Seperti apa sebenarnya pandangan awal mazhab Dharmaguptaka mengenaï substansi Śīla tidaklah kita ketahui dengan persis. Selain terjemahan Vinaya Piṭaka 《四分律》 (T. № 1428) dan sebuah Dīrgha Āgama 《長阿含經》 (T. № 1) dalam Tripiṭaka Tionghoa, adalah sulit untuk mengidentifikasikan dengan pasti — kalaupun ada — literatur lain yang berafiliasi dengan Dharmaguptaka.

Sebuah teks, *Śāriputra Abhidharma Śāstra (Shê-li-fu a-p’i-t’an lun 《舍利弗阿毘曇論》, T. № 1548), diyakini oleh beberapa ahli modern sebagai kitab Dharmaguptaka karena pembagiannya mirip dengan struktur abhidharma lima-bagian yang disebutkan dalam Dharmaguptaka Vinaya (T. vol. 22, № 1428 hlm. 968b). Dalam bagian pertamanya, “Sapraśnaka” 〈問分〉 (T. vol. 28, № 1548 hlm. 526c), kita dapat menemukan kāya-vāk-asaṃvara-avijñapti 身口非戒無教 serta sāsravā kāya-vāk-saṃvara-avijñapti 有漏身口戒無教 di antara materi-materi yang tidak terlihat dan tidak tertentang (anidarśana-apratigha rūpa 不可見無對色), yang ada di bawah basis objek pemikiran (dharmāyatana 法入). Jadi, menurut teks ini avijñapti digolongkan sebagai materi.

南山律宗
Akan tetapi, sebagian isi dari Shê-li-fu a-p’i-t’an lun memiliki kesesuaian juga dengan pandangan Mahāsāṅghika. Struktur abhidharma lima-bagian pun disebutkan pula dalam Vinaya Mātr̥kā 《毘尼母經》 (T. vol. 24, № 1463 hlm. 818a), yang oleh sebagian ahli dianggap berasal dari mazhab Haimavata. Di samping itu, Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 70a) menyatakan bahwa kaum Vātsīputrīya telah melakukan redaksi/pembacaan teks yang kini dikenal sebagai Śāriputra Abhidharma. Tampaknya berbagai mazhab memiliki teks masing-masing yang menggunakan judul umum “Śāriputra Abhidharma” meski isinya mungkin tidak persis sama.

Silsilah Nan-shan 南山律宗, bagaimana pun, memang berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya dan, kadang-kadang, menggunakan tulisan-tulisan Sarvāstivāda sebagai pelengkap; akan tetapi, dalam hal pandangan, lebih mengikuti Ajaran Sempurna berdasarkan Mahāparinirvāṇa Sūtra.

Jumat, 21 Maret 2014

Substansi Śīla dalam Agama Buddha: Vijñapti dan Avijñapti

所以別解脱戒,人並受之。及論明識,止可三五。
Prātimokṣa Saṃvara (dalam arti luas, meliputi Śīla untuk bhikṣu/bhikṣuṇī maupun upāsaka/upāsikā) semua orang dapat menerimanya. Akan tetapi, yang benar-benar mengerti [maksud atau makna penerimaan Śīla] paling-paling hanya tiga atau lima.

皆由先無通敏,不廣咨詢。
Semua ini dikarenakan sebelumnya tidak memiliki pemahaman umum, apalagi melakukan penelaahan ekstensif.

致令正受,多昏體相,盲夢心中,縁成而已。
Sehingga ketika tiba waktunya penerimaan Śīla, dengan pemahaman yang kabur tentang substansi dan karakteristik [dari Śīla yang diambil], kebanyakan orang hanya ikut-ikutan secara membuta dan asal, lalu setelahnya selesai begitu saja.

及論得不,渺同河漢。
Jikalau ditanyakan apakah mereka memperoleh Śīla, maka hal itu amatlah meragukan (atau: mereka sendiri pun tak dapat memastikannya).

—— Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》
(T. vol. 40, № 1804 hlm. 51c)


Dalam sebuah upacara transmisi Śīla, pemohon śīla akan memperoleh substansi Śīla, yang tak lain adalah Dharma para suci yang mengejawantah dalam dirinya. Substansi tersebut akan menjadi daya pendorong yang mencegahnya melakukan kesalahan, dan menghentikannya berbuat kejahatan. Daya ini berasal dari kekuatan ikrarnya sendiri. Misalkan, seseorang yang menerima lima śīla, yang berikrar untuk tidak membunuh makhluk hidup, akan terkendalikan tindakannya sehingga ia mampu menghindari pembunuhan walaupun ia sangat tidak menyukaï musuhnya.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, substansi Śīla hanya dapat diperoleh dari guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid. Kita tidak mungkin memohon śīla dari seseorang yang tertahbis dalam silsilah yang tidak kredibel (misalnya, “bhikṣu” dari aliran sempalan yang menciptakan sistém penahbisan sendiri atau membuat versi Prātimokṣa sendiri). Tahbisannya sendiri tidak bersumber dari Buddha; bagaimana bisa ia mentransmisikan Śīla yang benar kepada orang lain?

Bahkan sekalipun guru itu berasal dari silsilah yang valid, terbentuknya substansi yang benar dalam diri seorang pemohon juga masih sangat sulit. Di mana-mana sering kita jumpaï sekelompok umat yang secara membuta mengulangi Permohonan Triśaraṇa dan Śīla, ikut-ikutan membaca teks ritual apa adanya, tanpa persiapan apa-apa. Jangankan mengerti karakteristik Śīla secara mendetail — apa saja yang merupakan pelanggaran, apa yang bukan, bagaimana memurnikan diri bila terjadi pelanggaran — pemahaman umum pun tidak mereka miliki, seperti: apa syarat untuk menerima Śīla, siapa yang layak dijadikan guru pembimbing Śīla, dan, yang tak kalah penting: kapan dan bagaimana substansi Śīla terbentuk.

Padahal, substansi Śīla (yang terbentuk melalui upacara transmisi Śīla) merupakan pembeda antara orang yang sudah menerima Śīla dengan yang belum. Tanpa adanya substansi Śīla, seseorang tidak dengan serta-merta disebut “memegang Śīla” walaupun ia menjaga moralitas. Seorang non-Buddhis pun dapat saja hidup bermoral dan menjalankan lima pantangan (tidak membunuh, tidak mencuri, dst.) layaknya seorang Buddhis. Akan tetapi, sepanjang tiadanya substansi Śīla dalam dirinya, bagaimana pun ketatnya ia menjaga moralitas, moralitas tersebut hanya akan menghasilkan karma baik (yang bersifat duniawi) saja, dan takkan menjadi menjadi sebab untuk meraih Pembebasan sebagaimana yang terealisasi oleh para suci.

Selanjutnya jika ditanyakan “apakah melakukan aborsi termasuk melanggar Pañca Śīla Buddhis”, maka jawabannya juga bisa “ya” atau “tidak”. “Ya” bagi mereka yang sudah mengambil Śīla tersebut, dan “tidak” bagi mereka yang memang tidak mengambilnya. Seorang umat awam Buddhis yang hanya berlindung kepada Triratna, tetapi tidak mengambil Pañca Śīla, mungkin saja melakukan aborsi. Ia tidak melanggar Śīla sebab memang tiada substansi Śīla apa pun dalam dirinya, walaupun jelas ia telah melakukan karma buruk yang sangat besar (karena aborsi sama dengan membunuh manusia).

Substansi Śīla juga merupakan pembeda berbagai kelompok siswa-siswi Buddhis: substansi yang terbentuk pada bhikṣu/bhikṣuṇī berbeda dengan yang terbentuk pada śrāmaṇera/śrāmaṇerī(ka) dan upāsaka/upāsikā. Jadi, seseorang disebut bhikṣu bukan hanya karena ia mengenakan jubah kaṣāya atau menjalani gaya hidup kebhikṣuan, tetapi apakah ia memiliki substansi Śīla seorang bhikṣu dalam dirinya atau tidak.

Apakah hakikat substansi Śīla sebenarnya? Kita tahu bahwa dalam agama Buddha, kehendak (cetanā ), itulah yang dinamakan karma, serta tindakan yang dilakukan karena dorongan kehendak (cetayitvā 思所作). Setelah timbulnya kehendak, seseorang melakukan tindakan melalui jasmani (kāya), ucapan (vāk), atau pikirannya (manas). Tindakan jasmani dan ucapan dapat dilihat dan didengar orang lain. Kedua tindakan ini merupakan ekspresi/isyarat yang vijñapti, yakni 表 ‘termanifestasi’ (dalam terjemahan lama: 作 ‘dengan kerja’ atau 教 ‘tertunjukkan’) di luar. Kāya vijñapti tampak pada aktivitas anggota-anggota badan seperti: mengambil, menaruh, menekuk, meregangkan, berjalan, berdiri, duduk, berbaring. Vāk vijñapti tampak pada artikulasi suara berupa kata-kata dan kalimat.

Tindakan-tindakan lahiriah hanya berlangsung sementara. Lantas bagaimanakah potensi untuk berbuahnya karma tercipta bilamana tindakan-tindakan itu berakhir? Ketika seseorang melakukan tindakan karena dorongan kehendak, pada saat yang sama aktivitas pikiran yang mirip dan berkaitan terproyeksikan dalam dirinya, dan timbullah substansi karma 業體 yang bersifat avijñapti 無表 ‘tak termanifestasi’ (atau 無教 ‘tak tertunjukkan’). Substansi karma yang berkaitan dengan kāya vijñapti, yang timbul saat seseorang melakukan tindakan jasmani, disebut kāya avijñapti. Substansi karma yang berkaitan dengan vāk vijñapti, yang timbul saat seseorang melakukan tindakan ucapan, disebut vāk avijñapti.

Substansi karma haruslah terpisah secara tersendiri karena pikiran dinamis dan senantiasa berubah. Avijñapti merupakan impresi/jejak yang tertinggal dan bersifat laten (無作 ‘tanpa kerja’) sehingga dapat terus bersinambung dalam proses berbuahnya karma.
 
Sehubungan dengan śīla, avijñapti dapat digolongkan menjadi tiga kategori:

 
———————————————————————————
1. Saṃvara avijñapti 律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang terbentuk saat seseorang memperoleh disiplin (saṃvara) atau śīla-śīla yang baik.

Śīla bukanlah cuma sekadar praktek berpantang. Telah kita singgung bahwa penghindaran diri dari perbuatan buruk tidak dengan serta-merta membuat seseorang disebut “memegang Śīla/disiplin”. Tidak juga Śīla diperoleh dengan sekadar mengucap ikrar. Śīla merupakan dharma yang unik (dharmāntara 別法), yang baru dapat diperoleh apabila memenuhi kondisi spesifik (guru dari silsilah yang benar, kualifikasi penerima, dsb.) dan mengikuti prosedur tertentu (ritual yang valid).

Dalam penerimaan Pañca Śīla, vijñapti-karma tampak dalam aktivitas-aktivitas seperti berlutut, bernamaskāra, membaca teks ritual, menjawab pertanyaan, mengulangi rumusan, dll. Vijñapti-karma mulaï terbentuk dari saat seseorang memasuki lokasi upacara; sedangkan avijñapti-karma baru mulaï terbentuk saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan. Tepat saat seseorang mengucapkan suku-kata terakhir dari ulangan ketiga, maka baik vijñapti- maupun avijñapti-karma menjadi sempurna. Pada momen berikutnya sesaat kemudian, vijñapti-karma berakhir, sedangkan avijñapti-karma tertinggal. Avijñapti inilah yang menjadi substansi Śīla yang tak termanifestasi, dan akan tetap tinggal baik saat seseorang sadar ataupun tak sadar. Saṃvara avijñapti akan menjadi daya pendorong seumur hidup (atau selama jangka waktu tertentu, sesuai ikrar yang dibuat), yang mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.


———————————————————————————
2. Asaṃvara avijñapti 不律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang terbentuk saat seseorang memperoleh kontra-disiplin (asaṃvara) atau “śīla-śīla” yang buruk.

Yang dimaksud dengan kontra-disiplin ialah imoralitas, yang merupakan antitesis dari śīla. Ini dapat dijumpaï, misalnya, pada seorang anak yang terlahir dalam keluarga tukang jagal, yang kemudian meneruskan usaha keluarganya menjadi penjagal juga. Atau pada seseorang yang bergabung dengan kawanan bajak laut dan membuat ikrar untuk merompak seumur hidup sebagai profesinya. Juga, misalnya, pada orang yang karena dendam, lalu bersumpah: “Kupertaruhkan nyawaku untuk menghabisi anggota suku itu — bahkan sampai anak, cucu, dan seluruh keturunannya — di mana pun mereka berada.”

Avijñapti yang terbentuk dari hal-hal semacam ini akan menjadi daya pendorong yang mencegah seseorang melakukan kebenaran dan menghentikannya berbuat kebaikan.


———————————————————————————
3. Naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti 非律儀非不律儀無表
———————————————————————————

Merupakan avijñapti yang tidak berkenaan dengan disiplin, tidak pula dengan kontra-disiplin.

Kedua jenis avijñapti yang dibahas di atas terbentuk ketika melakukan perbuatan yang sangat baik atau sangat buruk, sehubungan dengan adopsi cara hidup/disiplin tertentu. Naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti lebih sering dijumpaï dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat bersifat baik (tetapi tidak berkenaan dengan disiplin) atau bersifat buruk (tetapi tidak berkenaan dengan kontra-disiplin). Avijñapti ini terbentuk ketika melakukan perbuatan baik menengah atau perbuatan buruk menengah.

Dalam hal perbuatan baik menengah, avijñapti dapat terbentuk:

  • Karena ladangnya 由田
Pemberian kepada ladang jasa (puṇyakṣetra 福田) secara otomatis akan membentuk avijñapti. Avijñapti yang terbentuk, seperti dari mendermakan vihāra atau taman perisitirahatan kepada saṅgha, akan berlangsung terus selama bangunan atau lahan tersebut masih ada.
  • Karena pengambilan 由受
Avijñapti juga terbentuk jika seseorang mengambil ikrar tertentu, misalnya: “Aku bertekad tidak akan makan sebelum bernamaskāra kepada Buddha” atau “Aku bertekad akan memberi dāna tiap sebulan sekali”.
  • Karena seriusnya perbuatan 由重行
Perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh penuh keseriusan akan membentuk avijñapti. Misalnya: sewaktu seseorang menyembah stūpa dengan melantunkan puji-pujian yang menggetarkan hati sehingga timbul keharuan.

Dalam hal perbuatan buruk, avijñapti terbentuk, misalnya, ketika seseorang dengan emosi yang menyala-nyala memukul orang lain. Perbuatan baik atau buruk tingkat rendah tidak membentuk avijñapti karena kurangnya dorongan kehendak.
 


Jumat, 07 Maret 2014

Substansi Śīla Terbentuk Saat Mengulangi Tiga Perlindungan, Bukan Saat Menyatakan Bunyi Śīlanya

 
有言:「受三歸竟,說不殺一戒,爾時得戒。」
Ada yang berpendapat: “Selesai menerima Tiga Perlindungan, lalu mengucapkan satu śīla saja: tidak membunuh, maka pada saat itu Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.” (Pendapat ini berdasarkan kalimat yang sering dijumpaï dalam sūtra-sūtra: “Saya berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha. Kiranya Bhadanta memegang pernyataan saya, sebagai upāsaka, yang mulaï saat ini menjaga kehidupan,” dst.)

所以說一戒得五戒者,為能持一戒,五戒盡能持故。有以五戒勢分相著故,兼本意誓受五戒故。
Dengan berpendapat bahwa “mengucapkan satu śīla, kelima śīla diperoleh”, maka apabila seseorang menyatakan sanggup memegang satu śīla, berarti kelima śīla sanggup ia pegang seluruhnya. Hal ini (menurut mereka) karena bagian kekuatan dari kelima śīla saling melekat [antara śīla yang satu dengan yang lain], serta karena maksud awalnya adalah berkomitmen menerima kelima śīla seluruhnya.

有言:「受五戒竟,然後得戒。」
Ada lagi yang berpendapat: “Selesai mengucapkan kelima śīla, barulah Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.”

於諸說中,受三歸已得五戒者,此是定義。
Bagaimana pun, di antara semua pendapat, pernyataan “setelah menerima Tiga Perlindungan, kelima śīla diperoleh” inilah prinsip yang pasti [yang kita anut].

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b)
 

Mengikuti pandangan Sarvāstivādin di atas, substansi Śīla secara otomatis terbentuk sewaktu mengulangi tiga kali “aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dharma, aku berlindung kepada Saṅgha”, bukan pada saat mengulangi langkah latihan (śikṣāpada). Setelah seseorang selesai mengulangi Tiga Perlindungan dalam upacara penerimaan Śīla, ia sudah memperoleh Śīla yang ia mohon. Pengucapan langkah latihan selanjutnya — “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup” (prāṇātipāta vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan” (adattādāna vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), dsb. — hanyalah penegasan agar bentuk śīla yang ia ambil menjadi jelas diketahui. 

Akan tetapi, berbeda dengan pandangan Sarvāstivādin/Vaibhāṣika, dalam tradisi Sekolah Vinaya di Cina kita diperbolehkan hanya mengambil satu atau beberapa śīla saja (tidak lengkap lima). Maka sebelum mengulangi Tiga Perlindungan, seseorang hendaknya menyadari dengan sepenuh hati: dalam rangka mengambil śīla manakah Tiga Perlindungan itu akan ia ucapkan — sebab substansi (untuk satu, beberapa, atau lengkap lima) śīla ia peroleh pada momen tersebut. Selanjutnya, untuk menegaskan śīla mana saja yang ia ambil, pada saat gurunya mengucapkan langkah latihan (dalam tradisi Cina tidak digunakan format pengulangan, tetapi berbentuk tanya-jawab), ia harus menjawab: “Ya, saya sanggup memegangnya” untuk yang ia ambil, dan berdiam/tidak menjawab apa-apa untuk yang tidak diambilnya.

Bagaimanakah jika pada saat transmisi Śīla, Tiga Perlindungan lupa diulangkan, dan hanya langkah latihannya yang diucapkan? Menurut Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 646b):

問:諸有但受近事律儀,不受三歸,得律儀不?
Tanya: Mereka yang hanya menerima disiplin (saṃvara) upāsaka, tetapi tidak menerima Tiga Perlindungan — apakah mereka memperoleh disiplin tersebut?

有說不得。以受三歸,與此律儀,為門、為依、為加行故。
Ada yang berpendapat: Tidak memperoleh. Disiplin tersebut diberikan dengan Tiga Perlindungan sebab itulah pintunya, sandarannya, pendahuluannya (prayoga).

有說不定。謂:若不知先受三歸,後方受戒,信戒師故,便受律儀。彼得律儀;戒師得罪。
Ada yang berpendapat: Tidak tentu. Jikalau tidak mengetahui bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla”, namun karena keyakinannya kepada guru pembimbing Śīla, lalu ia menerima disiplin. Maka ia memperoleh disiplin; akan tetapi, gurunya mendapatkan pelanggaran (yakni duṣkr̥ta, karena lalai memberikan Tiga Perlindungan).

若彼解了先受三歸,後受律儀是正儀式,但憍慢故,不受三歸,作如是言:且應受戒,何用歸信佛、法、僧,為彼慢纏心,雖受不得。
Jikalau ia sudah mengerti bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla” adalah prosedur yang benar, namun karena kesombongannya, ia tidak mau menerima Tiga Perlindungan dan berkata: “Aku seharusnya hanya menerima śīla; apa gunanya berlindung dan yakin kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha?” Maka karena kesombongan yang membelenggu batinnya, meskipun ia menerima, ia tidak memperoleh [disiplin tersebut].


POLISEMI ISTILAH "ŚĪLA"

Dalam percakapan sehari-hari kita sering menggunakan istilah śīla secara bebas. Konotasi manakah yang sebenarnya kita maksud? Sekolah Vinaya di Cina membahasnya dalam empat pokok (lihat seksi pertama dari Szŭ-fên-lü shan-fan pu-ch’üeh hsing-shih ch’ao 《四分律刪繁補闕行事鈔》 [‘Rangkuman mengenaï Tingkah Laku Monastik yang Disempurnakan berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya’, T. vol. 40 № 1804] karangan Vinayācārya Tao-hsüan). Keempat pokok bahasan śīla 戒之四科 itu adalah:
 
 
1. CHIEH-FA 戒法 — Dharma tentang Śīla 
 
Pada kalimat “Buddha menetapkan berbagai śīla demi kesejahteraan pengikut-pengikut-Nya”, maka śīla yang dimaksud di sini adalah Dharma tentang śīla, yang ditetapkan oleh Tathāgata seperti: Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla. Dharma tentang śīla mencakup fungsi, aplikasi, kebajikan, dll. ajaran tentang śīla.
 
Jika demikian, apakah Dharma tentang śīla hanya bersifat teoretis? Menurut Hsing-shih ch’ao (T. vol. 40, № 1804 hlm. 4b):
 
言戒法者,語法而談,不局凡聖。
Yang disebut Dharma tentang śīla meliputi pembahasan śīla secara Dharma, yang berlaku untuk makhluk biasa (pr̥thagjana) maupun para suci (ārya-pudgala) tanpa pembatasan.

直明此法,必能軌成出離之道。要令受者,信知有此。
Tegasnya dinyatakan: Dharma ini dapat menata jalan pertolakan [dari saṃsāra]. Mereka yang menerimanya hendaklah meyakini dan mengetahui hal ini.

雖復凡聖通有此法,今所受者,就已成而言,名爲聖法。
Meskipun Dharma ini berlaku untuk makhluk biasa maupun para suci, namun yang kini kita terima telah terealisasi [oleh para suci]. Oleh sebab itulah dinamakan Dharma Suci (ārya dharma).
 
Secara Dharma, tujuan utama śīla ialah membawa kepada keadaan Kebebasan (dari segala penderitaan). Oleh karenanya, walaupun berlaku juga bagi makhluk biasa, Śīla hanya disebut sebagai Dharma-nya para suci. Menerima Śīla berarti menanam benih Pembebasan dalam diri kita; maka janganlah kita meremehkannya. Akan tetapi, Dharma yang kita terima tersebut haruslah kita junjung dan jaga agar menjadi murni bagaikan mutiara cemerlang.
 
Jadi, ketiga konotasi śīla, yang akan kita bahas berikutnya di bawah, tercakup semua di sini. Dari awal hingga akhir, keseluruhan rangkaian śīla — yang kita terima (substansi), yang kita junjung dan jaga (praktik), yang murni bagaikan mutiara cemerlang (tampilan) — tiada yang bukan merupakan Dharma.
 
 
2. CHIEH-T’I 戒體 — Substansi Śīla (secara harfiah: ‘Badan Śīla’)
 
Pada kalimat “Waisak kemarin kami menerima śīla di wihara sebagai upāsaka-upāsikā”, maka śīla yang dimaksud di sini adalah substansi Śīla, yakni Dharma yang kita terima dan mengejawantah dalam diri kita, yang bersifat laten dan menjadi esensi bagi timbulnya karma (baik). Substansi Śīla memampukan kita untuk mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan, serta menciptakan keberkahan dan menimbulkan kebaikan.
 
Pernah kita kutip sebelumnya bahwa substansi Perlindungan (dan Śīla) diwariskan dalam suatu kesinambungan silsilah. Kita hanya dapat menerima substansi Śīla dari guru yang memang memiliki Dharma tersebut. Guru kita harus sudah menerimanya dari gurunya, dan gurunya itu menerimanya dari gurunya lagi. Demikian seterusnya hingga pada gilirannya bersumber kepada Buddha sendiri.
 
Oleh sebab itu, kita harus benar-benar meneliti calon guru yang akan mentransmisikan Śīla kepada kita. Janganlah kita asal mengucapkan Permohonan Triśaraṇa dan Śīla karena ikut-ikutan orang lain. Tidak ada substansi yang terbentuk pada diri kita jika suatu transmisi tidak valid. Bagaimana bisa kita menjadikan seseorang guru bilamana ia sendiri tidak mengerti apakah dirinya memiliki substansi Śīla atau tidak!
 
Lantas, pada momen manakah substansi Śīla terbentuk dalam suatu upacara penerimaan Śīla? Dalam upasaṃpadā bhikṣu/bhikṣuṇī hal itu terjadi saat jñapti-caturtha karman 白四羯磨 selesai dibacakan; dalam transmisi Daśa Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, dan Pañca Śīla hal itu terjadi saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diulangi oleh pemohon.
 
Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):
 
若欲受五戒,先受三歸。受三歸竟,爾時已得五戒。
Apabila hendak menerima Lima Śīla, sebelumnya kita menerima Tiga Perlindungan dahulu. Ketika Tiga Perlindungan selesai diterima, pada saat itu kita telah memperoleh Lima Śīla.

所以說五戒名者,欲使前人識五戒名字故。
Bunyi kelima śīla yang diucapkan hanyalah agar nama-nama kelima śīla tersebut diketahui oleh orang di hadapan kita.
 
Pandangan kaum Vaibhāṣika, yang diadopsi oleh Sekolah Vinaya di Cina (lihat http://tinyurl.com/m99xydc), ini bukannya tanpa dasar. Pada masa awal penyebaran Ajaran, sebelum Buddha menetapkan prosedur jñapti-caturtha karman, seseorang cukup mendatangi seorang bhikṣu dan mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diucapkan calon gurunya itu. Setelah ia selesai mengulanginya, maka ia memperoleh lengkap disiplin kebhikṣuan (upasaṃpadā). Demikian pula para pengikut awam pertama Buddha menjadi upāsaka-upāsikā hanya dengan mengucapkan Perlindungan (dalam Dua atau Tiga Pernyataan, lihat http://tinyurl.com/oz5nnhk) — walaupun kebanyakan teks tidak menjelaskan apakah pada saat itu mereka mendapatkan substansi Perlindungan saja, ataukah substansi Perlindungan dan Śīla. Di kemudian hari mengulangkan Tiga Perlindungan untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī tidak diizinkan lagi, sehingga hanya kita jumpai dalam prosedur penerimaan Śīla-Śīla yang lebih rendah.
 
 
3. CHIEH-HSING 戒行 — Praktik Śīla
 
Setelah menerima Śīla dan mendapatkan substansinya, maka dengan berbagai upaya kita berlatih untuk menjaga dan tidak melanggarnya, serta memeriksa segala tindakan jasmani, ucapan, maupun pikiran agar teratur sesuai Dharma — inilah yang disebut praktik śīla.
 
Seperti dalam kalimat “Seperti para arhat yang seumur hidup tidak makan pada waktu yang salah, pada hari upavasatha saya menjalankan śīla untuk tidak makan pada waktu yang salah selama sehari semalam”, praktik śīla di sini timbul dengan meneguhkan tekad dan bersemangat mengikuti teladan para suciwan terdahulu, sehingga segala tindakan kita sesuai dengan disiplin yang diterima.
 
 
4. CHIEH-HSIANG 戒相 — Karakteristik Śīla (atau Tampilan Śīla)

Karakteristik śīla dapat dibedakan menjadi dua:

a.  Karakteristik berdasarkan praktik 約行為相
Karakteristik berdasarkan praktik ialah tampilan luar yang terekspresikan karena praktik kita memegang Śīla — perbuatan yang kita ciptakan, tindakan yang kita lakukan (yang bersesuaian dengan Dharma) — sehingga menimbulkan kepujian, seperti yang sering kita dengar dalam kalimat sehari-hari “Menurut saya, Bhikṣu D śīla-nya bagus sekali”. Meminjam istilah filsafat hukum, seperti yang digagas David Hume, karakteristik berdasarkan praktik adalah das Sein, deskripsi fakta apa adanya.
b.  Karakteristik berdasarkan Dharma 約法為相
Karakteristik berdasarkan Dharma ialah tampilan luar yang seharusnya manifes — apa saja yang harus dipegang, apa pelanggaran yang harus dihindari, apa saja yang dikecualikan, apa yang dibatasi — sebagaimana diajarkan dalam Dharma. Masing-masing dari Pañca Śīla, Aṣṭāṅga Śīla, Daśa Śīla, Upasaṃpanna Śīla, dan Bodhisattva Śīla memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meminjam istilah filsafat hukum, karakteristik berdasarkan Dharma adalah das Sollen, norma-norma seharusnya yang diharapkan ditaati.