Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label valid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label valid. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Maret 2014

Substansi Śīla Terbentuk Saat Mengulangi Tiga Perlindungan, Bukan Saat Menyatakan Bunyi Śīlanya

 
有言:「受三歸竟,說不殺一戒,爾時得戒。」
Ada yang berpendapat: “Selesai menerima Tiga Perlindungan, lalu mengucapkan satu śīla saja: tidak membunuh, maka pada saat itu Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.” (Pendapat ini berdasarkan kalimat yang sering dijumpaï dalam sūtra-sūtra: “Saya berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Bhikṣu-saṅgha. Kiranya Bhadanta memegang pernyataan saya, sebagai upāsaka, yang mulaï saat ini menjaga kehidupan,” dst.)

所以說一戒得五戒者,為能持一戒,五戒盡能持故。有以五戒勢分相著故,兼本意誓受五戒故。
Dengan berpendapat bahwa “mengucapkan satu śīla, kelima śīla diperoleh”, maka apabila seseorang menyatakan sanggup memegang satu śīla, berarti kelima śīla sanggup ia pegang seluruhnya. Hal ini (menurut mereka) karena bagian kekuatan dari kelima śīla saling melekat [antara śīla yang satu dengan yang lain], serta karena maksud awalnya adalah berkomitmen menerima kelima śīla seluruhnya.

有言:「受五戒竟,然後得戒。」
Ada lagi yang berpendapat: “Selesai mengucapkan kelima śīla, barulah Śīla [lengkap seorang upāsaka] diperoleh.”

於諸說中,受三歸已得五戒者,此是定義。
Bagaimana pun, di antara semua pendapat, pernyataan “setelah menerima Tiga Perlindungan, kelima śīla diperoleh” inilah prinsip yang pasti [yang kita anut].

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b)
 

Mengikuti pandangan Sarvāstivādin di atas, substansi Śīla secara otomatis terbentuk sewaktu mengulangi tiga kali “aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dharma, aku berlindung kepada Saṅgha”, bukan pada saat mengulangi langkah latihan (śikṣāpada). Setelah seseorang selesai mengulangi Tiga Perlindungan dalam upacara penerimaan Śīla, ia sudah memperoleh Śīla yang ia mohon. Pengucapan langkah latihan selanjutnya — “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup” (prāṇātipāta vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan” (adattādāna vairamaṇa śikṣāpadaṃ samādayāmi), dsb. — hanyalah penegasan agar bentuk śīla yang ia ambil menjadi jelas diketahui. 

Akan tetapi, berbeda dengan pandangan Sarvāstivādin/Vaibhāṣika, dalam tradisi Sekolah Vinaya di Cina kita diperbolehkan hanya mengambil satu atau beberapa śīla saja (tidak lengkap lima). Maka sebelum mengulangi Tiga Perlindungan, seseorang hendaknya menyadari dengan sepenuh hati: dalam rangka mengambil śīla manakah Tiga Perlindungan itu akan ia ucapkan — sebab substansi (untuk satu, beberapa, atau lengkap lima) śīla ia peroleh pada momen tersebut. Selanjutnya, untuk menegaskan śīla mana saja yang ia ambil, pada saat gurunya mengucapkan langkah latihan (dalam tradisi Cina tidak digunakan format pengulangan, tetapi berbentuk tanya-jawab), ia harus menjawab: “Ya, saya sanggup memegangnya” untuk yang ia ambil, dan berdiam/tidak menjawab apa-apa untuk yang tidak diambilnya.

Bagaimanakah jika pada saat transmisi Śīla, Tiga Perlindungan lupa diulangkan, dan hanya langkah latihannya yang diucapkan? Menurut Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 646b):

問:諸有但受近事律儀,不受三歸,得律儀不?
Tanya: Mereka yang hanya menerima disiplin (saṃvara) upāsaka, tetapi tidak menerima Tiga Perlindungan — apakah mereka memperoleh disiplin tersebut?

有說不得。以受三歸,與此律儀,為門、為依、為加行故。
Ada yang berpendapat: Tidak memperoleh. Disiplin tersebut diberikan dengan Tiga Perlindungan sebab itulah pintunya, sandarannya, pendahuluannya (prayoga).

有說不定。謂:若不知先受三歸,後方受戒,信戒師故,便受律儀。彼得律儀;戒師得罪。
Ada yang berpendapat: Tidak tentu. Jikalau tidak mengetahui bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla”, namun karena keyakinannya kepada guru pembimbing Śīla, lalu ia menerima disiplin. Maka ia memperoleh disiplin; akan tetapi, gurunya mendapatkan pelanggaran (yakni duṣkr̥ta, karena lalai memberikan Tiga Perlindungan).

若彼解了先受三歸,後受律儀是正儀式,但憍慢故,不受三歸,作如是言:且應受戒,何用歸信佛、法、僧,為彼慢纏心,雖受不得。
Jikalau ia sudah mengerti bahwa “mula-mula harus menerima Tiga Perlindungan, barulah kemudian menerima śīla” adalah prosedur yang benar, namun karena kesombongannya, ia tidak mau menerima Tiga Perlindungan dan berkata: “Aku seharusnya hanya menerima śīla; apa gunanya berlindung dan yakin kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha?” Maka karena kesombongan yang membelenggu batinnya, meskipun ia menerima, ia tidak memperoleh [disiplin tersebut].


Sabtu, 17 Agustus 2013

HAL-HAL YANG MENENTUKAN VALIDNYA PENERIMAAN TRIŚARAṆA


kalyana mitta

Istilah kalyāṇamitra dalam Buddhisme bukanlah merujuk pada kawan baik yang akrab dengan kita. Lebih dari sekadar teman biasa, seorang kalyāṇamitra adalah seorang guru yang mampu membimbing kita menuju kemajuan spiritual dalam jalan Dharma.

Mengingat pentingnya kalyāṇamitra untuk mencapai kemajuan dalam segala praktek, maka sebelum mengambil Tiga Perlindungan, kita harus meneliti terlebih dahulu kualitas calon guru pembimbing. Kita tidak mungkin memohon Tiga Perlindungan dari seseorang yang dirinya sendiri tidak berlindung kepada Triratna, atau ia telah kehilangan substansi Perlindungan karena, misalnya, ia mempraktekkan/meyakini ajaran spiritual non-Buddhis atau ia sangat mengandalkan benda-benda bertuah, jimat-jimat, “isi” patung-patung, dsb.

Apabila kita sudah yakin bahwa calon guru tersebut kompeten untuk membimbing kita, maka berikutnya kita juga harus mengerti makna sesungguhnya berlindung kepada Triratna, serta apa saja komitmen yang harus kita jaga setelah berlindung. Jika tidak, walaupun kita mengikuti upacara Tiga Perlindungan, maka upacara tersebut kosong belaka, dan tidak ada substansi Perlindungan yang kita terima.

Dalam mengikuti upacara Tiga Perlindungan, kita sebaiknya mengenali bagian-bagian dari ritus tersebut sehingga tahu di mana harus menjawab, di mana harus mengulangi perkataan guru pembimbing, di mana harus bernamaskāra, dll. Kita hendaknya tidak berada terlalu jauh dari guru pembimbing sehingga apa yang disampaikannya terdengar jelas. Apabila kita terkendala masalah bahasa dan tidak memahami apa yang diucapkan guru pembimbing, yang terpenting adalah kita harus berkonsentrasi saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan (“saya seumur hidup berlindung kepada Buddha”, dst.) sebab pada momen inilah substansi Perlindungan diperoleh. 
 

Dalam jilid ke-16 Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) disebutkan:
不得先歸依僧,後歸依法、佛。亦不得雜說。
Janganlah [mengucapkan] berlindung kepada Saṅgha dahulu, baru kemudian kepada Dharma dan Buddha. Jangan pula mengucapkan secara acak.

Maka pemahaman guru pembimbing tentang seluk-beluk ritus Tiga Perlindungan amatlah penting karena apa yang ia ucapkan akan diulangi oleh pemohon. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多論》 (lihat posting sebelumnya) menyatakan:
  • apabila karena tidak mengerti atau tidak sengaja ia mengucapkan secara terbalik, maka Triśaraṇa tersebut valid/sah dan pemohon memperoleh substansi Perlindungan;
  • apabila ia mengerti, namun sengaja mengucapkannya terbalik, maka Triśaraṇa tersebut tidak sah dan pemohon tidak memperoleh substansi Perlindungan. 


Samantapāsādikā 《善見論》 selanjutnya menyambung:
若師教言:「歸依佛」,弟子語不正,言:「歸依弗」,亦成受。
Jika sang guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun siswanya mengulangi secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka [Tiga Perlindungan] terbentuk.

若師教言:「歸依弗」,弟子言:「歸依佛」,亦成受三歸。
Jika gurunya mengajarkan, “Saya berlindung kepada Bodha”, namun sang siswa mengucapkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, maka ia pun mendapatkan Tiga Perlindungan.

若師與弟子語俱不正,言:「歸依弗」,不成受三歸。
Jika baik guru maupun siswa sama-sama mengucapkan secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka tidak ada Tiga Perlindungan yang terbentuk.
 
Semua hal berikut akan menyebabkan Triśaraṇa menjadi invalid:

1.  若師教:「歸依佛」,弟子答言:「爾」。
Jika guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun sang siswa hanya menjawab, “Ya [demikianlah, Bhadanta]”.
2.  或語不出口。
Atau ia tidak mengeluarkan suara (hanya mengulangi dalam hati).
3.  或逐語不具足
Atau ia mengulangi secara tidak lengkap —
皆不成受三歸。
maka tiada Tiga Perlindungan yang terbentuk.

Jumat, 16 Agustus 2013

Dua Format Tiga Perlindungan

Menurut Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) Tiga Perlindungan dapat diucapkan dalam dua format:


1. Penerimaan tersendiri-sendiri 別受
Yang dimaksud penerimaan tersendiri-sendiri adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依佛,歸依佛。』
“Saya berlindung kepada Buddha.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依法,歸依法,歸依法。』
“Saya berlindung kepada Dharma.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依僧,歸依僧,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Saṅgha.” (3×)
 Selesai.


2. Penerimaan sekaligus 總受
Yang dimaksud penerimaan sekaligus adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依法,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Buddha, saya berlindung kepada Dharma, saya berlindung kepada Saṅgha.”
 Kalimat ini diulangi tiga kali.

 
 
Dalam Ritus Penerimaan Triśaraṇa, Tiga Perlindungan (no. 5) diucapkan menurut format kedua, yang umum digunakan; sedangkan Tiga Konklusi (yang digabung dengan Tiga Komitmen) diucapkan secara tersendiri-sendiri sesuai format pertama. Dan kedua format ini adalah VALID.

Adakah Perlindungan dalam Dua Pernyataan Saja?


Vinaya Piṭaka beberapa mazhab mencatat kisah dua orang pedagang bersaüdara, Trapuṣa dan Bhallika, yang melintas dengan rombongan lima ratus kereta lembu, dekat hutan tempat Tathāgata berdiam beberapa saat setelah Beliau mencapai Pencerahan. Setelah memberikan dāna makanan, mereka kemudian menyatakan diri berlindung dan menjadi pengikut awam Buddha yang pertama.

Menurut “Śīla-samādāna Skandhaka” dari Mahīśāsaka Vinaya 《五分律》 (T. vol. 22, № 1421 hlm. 103a) dan Dharmaguptaka Vinaya 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 782a), adalah Buddha sendiri yang mengajari mereka untuk mengucapkan Perlindungan dalam Dua Pernyataan 二語 (dvivācika), yakni berlindung kepada Buddha dan berlindung kepada Dharma. Format Dua Pernyataan ini diajarkan juga secara berturut-turut — berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya (urutannya berbeda dalam Mahīśāsaka Vinaya) — kepada:
  •  Dewa pohon harītakī, yang merupakan dewa pertama yang menyatakan berlindung;
(Kisah ini tiada pada Mahīśāsaka Vinaya. Namun, seorang dewa gunung bernama Mo-hsiu-lo 摩修羅 mempersembahkan buah harītakī sebelum kedatangan Trapuṣa dan Bhallika karena Tathāgata menderita penyakit angin, dan tidak disebutkan bahwa ia menerima Perlindungan.)
  •  Seorang brāhmaṇa di Desa Uruvilvā;
(Menurut Mahīśāsaka Vinaya namanya adalah Sena 斯那.)
  •  Istrinya, yang merupakan putri Jenderal Besar Sujata;
  •  Penduduk Desa Uruvilvā lainnya, baik laki-laki maupun perempuan;
(Dalam Mahīśāsaka Vinaya, sesudah Trapuṣa dan Bhallika, yang menyatakan berlindung berturut-turut adalah: Sujatā, putri dari Brāhmaṇa Sena; Sena sendiri; istrinya; keempat saüdari brāhmaṇa tersebut; serta seorang wanita yang memberikan makanan sewaktu Buddha berdiam di bawah pohon ajapāla-nyagrodha.)
  •  dan Raja Naga Mucilinda, yang merupakan hewan pertama yang menyatakan berlindung.
(Kisahnya dalam Mahīśāsaka Vinaya mendahului Sujatā, namun tidak disebutkan bahwa ia menerima Perlindungan.)


Akan tetapi, sūtra-sūtra yang menceritakan riwayat hidup Buddha seperti Hsiu-hsing pên-ch’i ching 《修行本起經》 (T. vol. 3, № 184 hlm. 472b), T’ai-tzŭ jui-ying pên-ch’i ching 《太子瑞應本起經》 (T. vol. 3, № 185 hlm. 479b), Kuo-ch’ü hsien-tsai yin-kuo ching 《過去現在因果經》 (T. vol. 3, № 189 hlm. 643c), Fo pên-hsing chi ching 《佛本行集經》 (T. vol. 3, № 190 hlm. 802b), dan Chung-hsü mo-ho-ti ching 《眾許摩訶帝經》 (T. vol. 3, № 191 hlm. 951c) secara sepakat menyatakan bahwa Buddha mengajari Trapuṣa dan Bhallika untuk mengucapkan Perlindungan dalam Tiga Pernyataan 三語 (traivācika), yakni berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dharma, dan berlindung kepada Saṅgha.

Perlindungan kepada Saṅgha sebagai antisipasi ditegaskan dalam Kuo-ch’ü hsien-tsai yin-kuo ching:

食既畢竟,澡漱洗缽,即授商人三歸:
Setelah selesai makan, [Buddha] berkumur dan mencuci mangkuk-Nya, lalu mengajarkan Tiga Perlindungan kepada kedua pedagang itu, yakni:
一、歸依佛,   Berlindung kepada Buddha,
二、歸依法,   Berlindung kepada Dharma,
三、歸依將來僧。 Berlindung kepada Saṅgha yang akan datang.

Dalam I-ch’u p’u-sa pên-ch’i ching 《異出菩薩本起經》 (T. vol. 3, № 188 hlm. 620b), tatkala Raja Naga Mucilinda menyatakan:
「從今以去,我自歸佛、自歸經。」
“Mulaï saat ini dan seterusnya, saya berlindung kepada Buddha dan kepada Dharma.”
Maka Buddha berkata kepadanya:
「比後當有眾阿羅漢比丘僧。汝亦當復務自歸之!」
“Kelak akan terdapat bhikṣu-saṅgha yang terdiri atas kumpulan arhat. Engkau pun harus menyatakan berlindung pada-Nya!”
(Mahīśāsaka Vinaya [hlm. 107a] dan Dharmaguptaka Vinaya [hlm. 792c] menceritakan pula kisah Raja Naga Elāpattra, yang merupakan hewan pertama yang mengucapkan Perlindungan dalam Tiga Pernyataan.)


Kedua format di atas sebenarnya tidak terlalu menjadi persoalan sebab, dengan melihat skema di sini, meskipun dari sisi fenomena Triratna belum lengkap, namun dari sisi nomena Triratna senantiasa hadir. Bagaimana persisnya Perlindungan yang diberikan pada masa awal penyebaran Ajaran tidaklah kita ketahui dengan pasti. Yang jelas, di kemudian hari hanya Tiga Pernyataanlah yang digunakan secara definitif. 




Kutipan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):

問曰:若受三歸,或時先稱法寶,後稱佛者,成三歸不?
Tanya: Pada saat memberikan Tiga Perlindungan, apabila lebih dahulu mengucapkan [berlindung] kepada Dharmaratna, baru mengucapkan kepada Buddha, apakah [substansi] Tiga Perlindungan terbentuk?

答曰:若無所曉知,說不次第者,自不得罪,得成三歸。若有所解,故倒說者,得突吉羅,亦不成三歸。
Jawab: Apabila tidak tahu dan mengucapkannya tidak berurutan, maka tiada pelanggaran dan Tiga Perlindungan terbentuk. Apabila sudah mengerti, namun dengan sengaja mengucapkan terbalik, maka terjadi pelanggaran duṣkr̥ta dan Tiga Perlindungan tidak terbentuk.

問曰:若稱佛及法,不稱僧者,成三歸不?若稱法僧,不稱佛寶,成三歸不?若稱佛僧,不稱法寶,成三歸不?
Tanya: Apabila hanya menyebutkan Buddha dan Dharma, tidak menyebutkan Saṅgha, terbentukkah Tiga Perlindungan? Apabila hanya menyebutkan Dharma dan Saṅgha, tidak menyebutkan Buddharatna, terbentukkah Tiga Perlindungan? Apabila hanya menyebutkan Buddha dan Saṅgha, tidak menyebutkan Dharmaratna, terbentukkah Tiga Perlindungan?

答曰:不成三歸。
Jawab: Tidak terbentuk.