Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label penolong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penolong. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2019

Tathāgatalah Satu-Satunya Penolong dan Penjaga





如來已離  三界火宅
寂然閑居  安處林野
今此三界  皆是我有
其中眾生  悉是吾子

Tathāgata yang telah terbebas
dari Tiga Alam, rumah yang terbakar ini,
undur menyepi dalam kedamaian,
berdiam tenteram di hutan belantara.
Kini, Ketiga Alam ini
semuanya adalah penguasaan-Ku.
Makhluk-makhluk di dalamnya
adalah anak-anak-Ku.


而今此處  多諸患難
唯我一人  能為救護

Namun, tempat ini sekarang
dipenuhi banyak bahaya kesukaran.
Hanya Akulah satu-satunya yang
mampu menjadi Penolong dan Penjaga.


—— Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab III, “Perumpamaan”
《妙法蓮華經·譬喻品》
(T. vol. 9, № 262 hlm. 14c)


Kamis, 09 Maret 2017

Motivasi dalam Mengambil Disiplin Buddhis (2)

Lebih buruk dari orang yang mengambil Śīla karena berharap lahir di surga dengan menjalankan moralitas, adalah mereka yang tidak benar-benar berniat menjalankan disiplin, namun mengambilnya hanya demi status. Misalnya: seseorang mengambil Pañca Śīla supaya dipandang sebagai umat Buddha yang baik, supaya dianggap telah menjadi upāsaka yang sah sehingga “lebih tinggi” kedudukannya dibandingkan umat lain yang hanya merupakan simpatisan dalam acara-acara keagamaan. Ada lagi orang yang tidak memiliki keterampilan atau kesulitan mendapat pekerjaan, lalu mengikuti upasaṃpadā supaya dianggap sah sebagai bhikṣu di mata masyarakat sehingga dapat hidup dalam komunitas saṅgha.

Dalam Upāsaka Śīla Sūtra bab IV, “Tentang Pembebasan” 《優婆塞戒經·解脫品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1037a), Buddha bersabda:

「善男子。若人不能一心觀察生死過咎、涅槃安樂,如是之人,雖復惠施、持戒、多聞,終不能得解脫分法。若能厭患生死過咎,深見涅槃功德安樂,如是之人,雖復少施、少戒、少聞,即能獲得解脫分法。」
“Putra berbudi, jikalau seseorang tidak dapat dengan sepenuh hati mengamati keburukan dari saṃsāra dan kebahagiaan dari Nirvāṇa, maka meskipun orang tersebut suka berderma, memegang śīla, atau banyak mendengarkan [Ajaran], ia takkan dapat memperoleh bagian Pembebasan. Jikalau seseorang dapat merasa enggan akan keburukan saṃsāra dan melihat secara mendalam kualitas Nirvāṇa yang membahagiakan, maka meskipun ia sedikit berderma, sedikit memegang Śīla, sedikit mendengar [Ajaran], ia tentu dapat memperoleh bagian Pembebasan.”

Orang yang mengambil dan menuruti disiplin Buddhis, tetapi masih menggemari kelahiran di surga, takkan memperoleh bagian Pembebasan. Apalagi mereka yang mengambilnya tanpa benar-benar berniat untuk menurutinya! Substansi disiplin sesungguhnya tidak terbentuk dalam diri mereka; mereka telah membuang-buang kesempatan emas berjumpa dengan Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan dharma unik (dharmāntara) yang hanya ada pada masa śāsana seorang Samyaksaṃbuddha. Oleh sebab itu, Śīla-Śīla Buddhis seharusnya benar-benar diambil dengan dilandasi semangat untuk bertolak dari saṃsāra.




Bagaimanakah semangat tersebut harus kita kembangkan pada saat kita mengambil Śīla? Vinayācārya Tao-hsüan mengutip (komentar) vinaya kuno berjudul P’i-pa¹ 毘跋律, yang kini telah hilang, dalam Hsing-shih ch’ao 《行事鈔》 (T. vol. 40, № 1804 hlm. 26 a–b):

  1. 發心:「我今求道,當教一切衆生,衆生皆惜壽命」,以此事受,是下品輭心。雖得佛戒,猶非上勝。
    Dengan membangkitkan tekad: “Kini aku hendak mencari Pencerahan; [untuk itu] aku harus menolong semua makhluk sebab semua makhluk menyayangi hidupnya”, ini merupakan penerimaan yang motivasinya asor dan lemah. Walaupun Śīla-Śīla Buddhis didapatkan, namun tidaklah unggul.
“Menolong semua makhluk” bisa diartikan:
  • Sekadar tidak menyakiti makhluk hidup mana pun, sebab semua makhluk menyayangi hidupnya.
  • Membimbing dengan Dharma supaya mereka tidak hanya selamat di masa sekarang, tetapi juga dapat mengatasi segala penderitaan di masa datang.
  • Menyeberangkan seutuhnya dengan berbagai upaya hingga mereka benar-benar mencapai Kebuddhaan.
Maka “Pencerahan” yang dimaksudkan di sini ialah Buah yang dicita-citakan pengikut kedua Kendaraan Kecil, yang hanya sekadar membangkitkan tekad untuk tidak mencelakaï makhluk hidup mana pun.

  1. 餘二就義明之。
    [Seperti motivasi di atas,] kedua lainnya akan diterangkan sampai pengertiannya.

    云何中品?若言:「我今正心向道,解衆生疑。我爲一切作津梁,亦能自利、復利他人」,受持正戒。
    Bagaimanakah motivasi madya? Apabila seseorang berkata: “Kini dengan batin yang sungguh-sungguh terarah kepada Pencerahan, aku akan mengatasi keraguan semua makhluk. Aku hendak menjadi jembatan penyeberang bagi semua agar dapat, selain menguntungi diriku sendiri, juga menguntungi yang lain”, lalu ia menerima dan memegang Śīla dengan tepat.
“Pencerahan” yang diarah di sini ialah Kebuddhaan. “Keraguan” atau ketidakmantapan menyebabkan semua makhluk terombang-ambing dalam siklus saṃsāra karena terus membuat karma baru. Seorang bodhisattva junior bertindak sebagai “jembatan”, mengenalkan Dharma kepada semua makhluk agar, seperti dirinya, semuanya juga berkesempatan untuk mencapai Pencerahan.

  1. 云何上品?若言:「我今發心受戒,為成三聚戒故,趣三解脫門,正求泥洹果。又以此法引導眾生,令至涅槃;令法久住。」
    Bagaimanakah motivasi utama? Apabila seseorang berkata: “Kini aku membangkitkan tekad hendak menerima Śīla demi menyempurnakan Tiga Etika Akumulatif, demi memasuki Tiga Gerbang Pembebasan dan sungguh-sungguh mencari Buah Nirvāṇa. Dengan Dharma ini, aku akan menarik semua makhluk agar mereka tiba di Nirvāṇa; juga agar Saddharma dapat bertahan lama.”

    如此發心尚是邪想,況不發者,定無尊尚!
    Bahkan orang yang membangkitkan tekad-tekad seperti di atas masih mungkin memiliki pemikiran salah, apalagi yang tidak membangkitkan sama sekali — pastilah tiada mereka indahkan [disiplinnya]!
“Tiga Etika Akumulatif” sering disebut-sebut dalam berbagai teks Mahāyāna, misalnya pada bab VII Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. vol. 24, № 1485 hlm. 1020c). Etika umum bodhisattva ini terdiri atas:
  • Memutuskan semua kejahatan, yakni mengekang diri dalam disiplin (saṃvarika śīla 攝律儀戒).
  • Mengembangkan semua kebaikan (kuśaladharma-saṃgrāhaka śīla 攝善法戒).
  • Menguntungi semua makhluk (sattvārtha-kriyā śīla 攝眾生戒).
Tanpa melalaikan Pencerahannya sendiri, seorang bodhisattva berupaya dengan empat hal yang membawa ketertarikan (catvāri saṃgrahavastūni) untuk menyeberangkan semua makhluk seutuhnya “agar tiba di Nirvāṇa”. Namun, sementara bersungguh-sungguh “mencari Buah Nirvāṇa” bagi dirinya maupun makhluk lain, ia memasuki tiga “Gerbang Pembebasan” (vimokṣa-mukha) yang kosong (śūnya), tanpa-tanda (animitta), dan tanpa-hasrat (apraṇihita). Upayanya menarik makhluk lain untuk mencapai Pencerahan yang sama dengan dirinya pada gilirannya akan diikuti makhluk tersebut, yang juga akan berupaya membawa makhluk lain lagi menuju Pencerahan yang sama, dan seterusnya. Dengan demikian, “Saddharma akan dapat bertahan lama”.






CATATAN:

¹ *Vivarta? *Vibhā? Atau mungkin malah *Vibhāṣā? Jika kita anggap rekonstruksi yang terakhir ini benar, maka teks ini sesungguhnya tidak memiliki judul khusus — nama P’i-pa lü semata-mata hanya berarti ‘komentar vinaya’ (vinayavibhāṣā).

Katalog tertua yang masih lestari, Ch’u san-tsang chi chi 《出三藏記集》(T. vol. 55, № 2145 hlm. 13c), menyebutkan P’i-pa lü dalam “Koleksi Sūtra, Vinaya, dan Śāstra yang Baru Dikumpulkan” 〈新集經律論録〉 sebagai keluaran Śramaṇa Shih Fa-tu 沙門釋法度出 pada masa pemerintahan Kaisar Ch’i Wu-ti (482–493). Tidak ada keterangan apa-apa yang diberikan Sêng-yu, yang menerbitkan katalog ini k.l. tahun 515.

Jilid 11 tawarikh Fei Chang-fang, Li-tai San-pao chi 《歴代三寶紀》 (T. vol. 49, № 2034 hlm. 96a), yang berisi daftar nama-nama penerjemah pada masa Dinasti Ch’i, Liang, dan Chou, juga hanya mengatakan bahwa Śramaṇa Shih Fa-tu dari Yang-chou 揚州 mengeluarkan dua karya:
  • *Kṣāranadī Sutra 《灰河經》 (sebuah sūtra dari Saṃyukta Āgama?), dan
  • P’i-pa lü 《毘跋律》.
Masing-masing dalam satu jilid.

Katalog zaman Sui, Chung-ching mu-lu 《眾經目録》 (T. № 2146) terbitan Fa-ching dkk. pada tahun 593, adalah yang pertama yang menyangsikan otentisitas P’i-pa lü. Pada jilid 5 (vol. 55, hlm. 140a), di antara teks-teks vinaya piṭaka Hīnayāna 〈小乘毘尼藏録〉, P’i-pa lü digolongkan dalam §4-6 sebagai “palsu” atau “didustakan” (眾律偽妄). Alasannya: karena Fa-tu menggunakan istilah 律 (vinaya) pada judulnya, lalu menyatakan teks ini sebagai karya terjemahan [dari sumber berbahasa Indis]. Kecaman ini sepertinya berdampak pada kelestarian P’i-pa lü. Meskipun para vinayācārya masih mengutipnya, selepas zaman T’ang teks ini tidak pernah dimasukkan ke dalam kanon Tionghoa edisi cetak, dan lambat laun akhirnya punah.

Atribusi palsu Fa-ching sebetulnya masih bisa kita sanggah. Memang benar 律 digunakan untuk menerjemahkan judul suatu vinaya piṭaka, misalnya: 《他毘利律》 (Sthāvirīya Vinaya, vinaya piṭaka kaum Sthaviravādin), 《摩訶僧祇律》 (Mahāsāṅghika Vinaya), 《根本薩婆多部律》 (Mūlasarvāstivāda-nikāya Vinaya), dsb. Akan tetapi, Samantapāsādikā nāma Vinayavibhāṣā (T. № 1462), yang diterjemahkan ke bahasa Tionghoa dengan judul Shan-chien lü p’i-p’o-sha 《善見律毘婆沙》, kadang-kadang ditulis Shan-chien p’i-p’o-sha lü 《善見毘婆沙律》 (dan disingkat Shan-chien lü 《善見律》). Padahal, jelas itu merupakan sebuah kitab komentar. P’i-pa lü tampaknya juga bukan terjemahan vinaya piṭaka suatu mazhab — walaupun tidak banyak yang dapat kita katakan mengenaï isinya, karena telah punah. Satu-satunya petikan lain yang diketahui terdapat dalam teks Tun-huang Szŭ-fên lü ping lun yao-yung ch’ao 《四部律并論要用抄》 (T. vol. 85, № 2795 hlm. 701b), yang menerangkan tatakrama seorang bhikṣu dalam menerima derma makanan. Beserta dengan petikan yang dikutip Tao-hsüan di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa P’i-pa lü mengomentari suatu vinaya [Hīnayāna], namun berdasarkan sudut pandang Mahāyāna.

Kata ch’u 出 pada 釋法度出 (‘keluaran Shih Fa-tu’) belum tentu berarti ‘terjemahan’. Fa-tu bisa saja memang bukan “menerjemahkan” (譯出) dari sebuah teks tunggal, tetapi “mengumpulkan” (集出) dari pelbagai sumber-sumber komentar menjadi satu kitab.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Keutamaan Berlindung pada Triratna



如昔有一鴿為鷹所追,入舍利弗影,戰懼不安。移入佛影,泰然不怖。
Seperti dahulu terdapat seekor merpati yang dikejar elang dan bernaung di bawah bayangan Śāriputra, namun tetap merasa gentar dan tidak tenteram. Ketika ia berpindah memasuki bayangan Buddha, ia pun merasa sentosa dan tidak takut lagi.

大海可移,此鴿不動。所以爾者?
Samudra besar bahkan dapat dipindahkan, akan tetapi merpati ini tidak tergoyahkan. Mengapakah demikian?

佛有大慈大悲,舍利弗無大慈大悲。佛習氣盡,舍利弗習氣未盡。佛三阿僧祇劫修菩薩行,舍利弗六十劫中修習苦行。以是因緣,鴿入舍利弗影中,猶有怖畏。
Buddha memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā, sedangkan Śāriputra tidak memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā. Buddha telah menghentikan energi-kebiasaan (vāsanā), sedangkan Śāriputra energi-kebiasaannya belum terhenti. Buddha berlatih praktik kebodhisattvaan selama tiga asaṅkhyeyakalpa, sedangkan Śāriputra hanya berlatih praktik pertapaan keras (duṣkara caryā) selama enampuluh kalpa. Karena sebab inilah, ketika merpati memasuki bayangan Śāriputra, ia masih merasa takut.


問曰:若歸向三寶能除罪過、息怖畏者,提婆達多亦歸依三寶,以信出家、受具足戒,而犯三逆,墮阿鼻獄?
Tanya: Jika berlindung kepada Triratna dapat memusnahkan karma buruk dan menghentikan ketakutan, mengapakah Devadatta — yang juga berlindung kepada Triratna, dan dengan keyakinan meninggalkan rumahtangga serta menerima Upasaṃpanna Śīla — setelah melakukan tiga perbuatan durhaka (ānantarya), terjatuh ke Neraka Avīci?

答曰:凡救護者,救可救者。提婆達多罪惡深大,兼是定業。是故叵救。
Jawab: Setiap penolong dan penjaga hanya dapat menolong mereka yang memang dapat ditolong. Karma buruk Devadatta amatlah besar dan dalam, dan merupakan karma tetap. Karena itulah, ia tidak dapat ditolong.

問曰:若有大罪,佛不能救。若無罪者,不須佛救。云何三寶能有救護?
Tanya: Jika terdapat karma buruk besar, Buddha tidak dapat menolong. Jika tiada karma buruk, kita tidak butuh pertolongan Buddha. Bagaimanakah Triratna dapat menolong dan menjaga?

答曰:提婆達多雖歸三寶,心不真實,三歸不滿。常求利養、名聞,自號一切智人,與佛共競。以是因緣,三寶雖有大力,不能救也。如阿闍世王,雖有逆罪,應入阿鼻獄,以誠心向佛,故滅阿鼻罪,入黑繩地獄。如人中七日,重罪即盡。是謂三寶救護力也。
Jawab: Walau Devadatta berlindung kepada Triratna, hatinya tidak sungguh-sungguh sehingga Tiga Perlindungannya tidak sempurna. Ia selalu berharap memperoleh persembahan dan kemasyhuran. Ia menyebut dirinya sendiri “Yang Mahatahu” (Sarvajña) dan hendak menyaingi Buddha. Karena sebab inilah, meskipun Triratna memiliki kekuatan mahabesar, ia tidak tertolong. Sementara Raja Ajātaśatru, walau melakukan kedurhakaan besar dan sepatutnya masuk Neraka Avīci, namun dengan tulus hati telah berlindung kepada Buddha. Oleh karena itu, karma buruk [yang seharusnya menyebabkan ia lahir] di Neraka Avīci mereda, dan ia hanya masuk Neraka Kālasūtra. Setelah kira-kira tujuh hari di alam manusia, karma buruknya yang berat berakhir. Demikianlah kekuatan pertolongan dan penjagaan Triratna.

問曰:若調達罪不可救者,又經云:「若人歸依佛者,不墮三惡道。」是義云何?
Tanya: Apabila Devadatta memiliki karma buruk dan tidak dapat ditolong, — ada sūtra yang menyatakan: “Jika seseorang berlindung kepada Buddha, maka ia takkan terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.” Bagaimanakah artinya?

答曰:調達以歸三寶故,雖入阿鼻獄,受苦輕微,亦時得暫息。有如人在山林、曠野、怖畏之處,若念佛功德,怖畏即滅。是故!歸依三寶,救護不虛也。
Jawab: Karena Devadatta berlindung kepada Triratna, meskipun ia masuk Neraka Avīci, namun penderitaan yang diterimanya lebih ringan dan kadangkala berhenti sewaktu-waktu. Seumpama orang yang memasuki hutan di pegunungan, padang belantara, atau tempat-tempat menakutkan, jika ia dapat merenungkan kualitas bajik Buddha, maka ketakutannya akan sirna. Oleh karena itu, jika kita berlindung kepada Triratna, pertolongan dan penjagaan-Nya sungguh tidak hampa.

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a)

Jumat, 16 Agustus 2013

Berlindung kepada Triratna: Satu-Satunya Jalan menuju Pembebasan


譬如群鹿怖畏獵師,既得免離。若得一跳,則喻一歸。如是三跳,則喻三歸。以三跳故,得受安樂。眾生亦爾,怖畏四魔惡獵師故,受三歸依。三歸依故,則得安樂。受安樂者,即真解脫。真解脫者,即是如來。如來者,即是涅槃。涅槃者,即是無盡。無盡者,即是佛性。佛性者,即是決定。決定者,即是阿耨多羅三藐三菩提。
Ibarat kawanan rusa yang takut kepada pemburu dan secepatnya lari menghindar: satu lompatan mereka mengumpamakan satu perlindungan; tiga lompatan mengumpamakan tiga perlindungan. Dengan tiga lompatan, tercapailah kebahagiaan. Semua makhluk pun demikian. Karena takut kepada sang pemburu, keempat māra, maka mereka mengambil Tiga Perlindungan. Karena Tiga Perlindungan, tercapailah kebahagiaan. Tercapainya kebahagiaan adalah Pembebasan sejati. Pembebasan sejati adalah Tathāgata. Tathāgata adalah Nirvāṇa. Nirvāṇa adalah tanpa akhir. Tanpa akhir adalah hakikat Kebuddhaan. Hakikat Kebuddhaan adalah kepastian. Kepastian adalah Anuttara-samyak-saṃbodhi.

—— Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 jilid 5
(T. vol. 12, № 374 hlm. 395c)


Menjadikan Triratna sebagai tempat berlindung berarti mengakui-Nya sebagai satu-satunya penolong dan penjaga. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a) diceritakan sebuah perumpamaan:

譬如有人有罪於王,投向異國,以求救護。
Misalkan terdapat seseorang yang bersalah terhadap raja dan melarikan diri ke negeri lain untuk memohon suaka.

異國王言:「汝求無畏者,莫出我境界!莫違我教!必相救護。」
Raja negeri lain itu berkata: “Jika engkau hendak mencari keamanan, jangan keluar dari wilayah kami! Janganlah melawan hukum kami! maka kami dapat menolong dan menjagaïmu.”

眾生亦爾,繫屬於魔,有生死過罪,歸向三寶,以求救護。
Semua makhluk pun demikian. Karena terikat kepada māra, dan karena karma yang menyebabkan mereka berada dalam kelahiran dan kematian (saṃsāra), maka mereka berlindung kepada Triratna untuk memohon pertolongan dan penjagaan.

Jika dengan setulus hati kita hanya berlindung kepada Triratna dan tidak kepada yang lain, serta menaati Ajaran Buddha, maka perlukah kita takut kepada māra dan kejahatannya?


Ada empat jenis māra:

1.   Kleśa-māra 煩惱魔

Kekotoran batin (kleśa) merupakan māra karena merintangi timbulnya kualitas baik di dalam batin. Melalui perlindungan kepada Triratna, kita dapat memperoleh anutpattika-dharma-kṣanti sehingga segala kekotoran batin akan terpotong.
2.   Skandha-māra 陰魔
Kelima agregat (pañcaskandha) pembentuk batin dan jasmani merupakan māra karena senantiasa mengalami perubahan. Melalui perlindungan kepada Triratna, kita dapat merealisasi tubuh Dharma (dharmakāya) sehingga tubuh fisis (rūpakāya) dengan ketidakkekalannya takkan membawa penderitaan lagi.
3.   Mr̥tyu-māra 死魔
Kematian (mr̥tyu) merupakan māra karena terurainya keempat unsur pembentuk jasmani merampas kesempatan hidup kita untuk mengembangkan batin. Melalui perlindungan kepada Triratna, tubuh fisis (rūpakāya) telah kita atasi sehingga keadaan tanpa-kematian dapat kita capai.
4.   Devaputra-māra 天子魔
Raja dewa dari surga ke-6, Paranirmitavaśavartin, yang bernama Pāpīyān/Pāpīmān (‘Si Jahat’) merupakan māra karena, sebagai penguasa Kāmadhātu, ia beserta anak buahnya berusaha menghalangi segala praktek spiritual yang dapat membawa kita kepada Pembebasan. Jika kita telah menaklukkan ketiga māra sebelumnya — berkat perlindungan kepada Triratna — halangan apa lagi yang dapat ia tujukan kepada kita?
Maka dapat kita lihat di sini bahwa berlindung kepada Triratna sungguh merupakan satu-satunya Jalan menuju Pembebasan.


Buddham Saranam Gacchami