Powered by Administrator

Translate

Selasa, 30 Juli 2019

Śīla Buddhislah Satu-Satunya yang Terunggul dalam Memurnikan

Di bab III Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa Sūtra (T. vol. 9, № 272 hlm. 321b) Buddha memujikan Śīla Pāramitā kembali kepada Mañjuśrī dengan mengucapkan gāthā:

  1. 欲離諸生死  安隱到涅槃
    一切如來說  持戒最第一

    Kepada siapa pun yang
     ingin bertolak dari kelahiran-kematian,
    dan dengan selamat tiba di Nirvāṇa,
    semua Tathāgata mengatakan:
    “Memegang Śīla adalah yang terbaik!”

  2. 戒如清涼池  能生諸善花
    亦如猛熾火  能燒諸惡草

    Śīla bagaikan kolam yang jernih dan sejuk,
    mampu melahirkan aneka bunga yang baik;
    juga bagaikan api yang berkobar-kobar,
    mampu membakar aneka ilalang yang jahat.

Śīla Duniawi Tidaklah Murni

Tanpa pernah berkomitmen dengan mengambil suatu disiplin sebelumnya, seseorang yang berhasil meraih pencapaian meditasi tertentu juga memiliki substansi Śīla dalam dirinya, yakni: Dhyānaja Saṃvara. Akan tetapi, sama seperti Dhyāna yang tidak kekal, substansi tersebut sangat mudah terpengaruh keadaan batin (cittānuvartin). Sebagai contoh: meskipun Udraka Rāmaputra telah mencapai Ārūpya Samāpatti, saat kakinya disentuh oleh permaisuri raja, nafsu terbangkitkan dalam batinnya. Ia kehilangan pengendalian diri sehingga tidak mampu terbang kembali ke tempat kediamannya.


Untuk substansi Śīla yang terbentuk karena pengambilan, jika seseorang yang mengaku Buddhis mengambil disiplin-disiplin Buddhis namun tidak disertaï motivasi untuk bertolak dari saṃsāra, maka latihan moralitas yang dijalankannya jadi sama saja dengan latihan non-Buddhis — ajaran-ajaran non-Buddhis pun mewajibkan para penganutnya agar berkomitmen menjaga moralitas (biasanya dengan diiming-imingi pahala surga)! Apalagi jika seseorang yang mengambil disiplin-disiplin Buddhis sama sekali tidak memahami konsep substansi Śīla — apalah beda latihannya dengan norma moralitas umum? Sebab dalam bermasyarakat, walau tidak pernah menyatakan komitmen (dengan mengambil disiplin spesifik), orang-orang di dunia pun berusaha hidup secara bermoral.

Moralitas yang timbul secara alami berkat pencapaian meditasi dan moralitas yang timbul karena pengambilan tergolong sebagai śīla duniawi karena sifatnya terkondisi. Dalam pengertian ini, moralitas yang timbul karena pengambilan mencakup Prātimokṣa (Buddhis) maupun non-Prātimokṣa (non-Buddhis). Hanya Anāsrava Saṃvara-lah yang tergolong śīla adiduniawi sebab tidak terkondisi.

Akan tetapi, sebagaimana dikatakan dalam Vinaya Mātr̥kā bahwa disiplin Prātimokṣa “yang duniawi ini mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi”, maka secara sempit disiplin Prātimokṣa boleh disebut śīla adiduniawi juga, sedangkan disiplin non-Prātimokṣa śīla duniawi. Pengertian ini ditekankan dalam bab XXII Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·五戒品》 (T. vol. 24, № 1488), di mana disiplin Prātimokṣa dinamakan pula śīla tertinggi. Di hlm. 1064a dikatakan:

世戒亦有不殺、不盜;義戒亦有不殺、不盜。至不飲酒,亦復如是。
Dalam śīla duniawi terdapat juga pantangan membunuh dan mencuri [sebagaimana diajarkan] dalam śīla tertinggi untuk tidak membunuh dan tidak mencuri. Bahkan sampai pantangan meminum minuman-keras pun begitu pula.

如是世戒,根本不淨,受已不淨。莊嚴不淨、覺觀不淨、念心不淨、果報不淨。
Walau demikian, śīla duniawi — karena akarnya tidak murni —, setelah diterima, pun seseorang tidak termurnikan. Hiasannya tidak termurnikan, penalaran (vitarka) dan pengawasannya (vicāra) tidak termurnikan, perhatiannya tidak termurnikan, buahnya pun tidak termurnikan.

故不得名第一義戒,唯名世戒。是故!我當受於義戒。
Maka [moralitas tersebut] tidak dapat dinamakan sebagai śīla tertinggi, tetapi hanya dinamakan śīla duniawi. Oleh karena itu, seharusnyalah kita menerima śīla tertinggi!

“Akarnya tidak murni” sebab śīla duniawi biasanya diambil dengan motivasi agar terlahir di surga. Śīla-śīla Buddhis diambil untuk mencapai Kebebasan dari saṃsāra atau, bagi seorang praktisi Jalan Bodhisattva, untuk mencapai Pencerahan Tertinggi demi menguntungi, bukan cuma diri sendiri, melainkan juga semua makhluk.

“Hiasan” bermakna jasa-jasa (dari pelaksanaan moralitas). Jasa-jasa menjadi penghias Jalan menuju Pencerahan. Bukan hanya untuk tujuan-tujuan duniawi, untuk mencapai tingkatan Pencerahan mana pun, diperlukan jasa-jasa besar. Jasa-jasa dari pelaksanaan śīla duniawi secara egoistis ditujukan agar diri sendiri dapat terlahir di surga. Jasa-jasa dari pelaksanaan śīla-śīla Buddhis ditujukan untuk mencapai Kebebasan dari saṃsāra namun dengan realisasi bahwa pribadi yang terbebas dari saṃsāra pada hakikatnya kosong.

Ruang lingkup śīla duniawi biasanya terbatas. Pantangan membunuh, misalnya, hanya mencakup sesama manusia, sedangkan hewan-hewan boleh dibunuh. Ruang lingkup śīla-śīla Buddhis meliputi seluruh Dharmadhātu. Pantangan membunuh mencakup semua makhluk, bukan hanya yang ada di sistem dunia kita ini saja, bahkan hingga ke sepuluh penjuru dan tiga masa. Karena ruang lingkup śīla duniawi terbatas, mustahil pelaksananya bisa mengembangkan kasih-sayang secara sempurna. Dengan demikian “penalaran dan pengawasannya tidak termurnikan”. Mereka takkan dapat melenyapkan kebencian (dan juga keserakahan & kebodohan) seutuhnya.

Śīla duniawi biasanya dilaksanakan secara mekanis semata-mata karena kewajiban agama sehingga “perhatiannya tidak termurnikan”. Śīla-śīla Buddhis diambil secara sukarela tanpa diwajibkan; seseorang melaksanakannya dengan perhatian penuh dan mendedikasikan segala jasanya untuk mencapai Pencerahan.

Untuk mencapai tingkatan Pencerahan mana pun, diperlukan jasa-jasa besar. Nidhikaṇḍa Sutta dari Khuddaka Pāṭha Pāli menyebutkan:
Pengetahuan analitis (paṭisaṃbhidā), pembebasan (vimokkha),
kesempurnaan seorang siswa (sāvaka pāramī),
pencerahan pacceka (pacceka bodhi), dan tingkatan Buddha (buddha bhūmi)
— semuanya diperoleh [karena buah jasa-jasa].
Hal ini tidak bisa dihasilkan dengan melaksanakan śīla duniawi. Oleh karena itu, “buahnya pun tidak termurnikan”.

Senin, 29 Juli 2019

Moralitas yang Terbentuk karena Pencapaian Meditasi Semata sifatnya Duniawi dan Tidak Stabil

Berbagai posting kita sebelumnya telah membahas peran penting Śīla yang tak boleh disepelekan, bukan cuma bagi praktisi Hīnayāna, tetapi juga praktisi Mahāyāna — bahkan bagi yang mempraktikkan Mantrayāna. Apalah bedanya latihan moralitas duniawi vs. latihan yang dijalankan seseorang yang mengaku Buddhis namun tidak memiliki substansi Śīla Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) dalam dirinya? Moralitas tersebut profan dan takkan dapat menjadi sebab untuk merealisasi Kebebasan Sejati.

Dalam kerangka Latihan Berunsur Tiga (trīṇi śikṣāṇi) juga ditekankan bahwa apabila Śīla tidak murni, Samādhi takkan maujud. Memang benar, bahwa dengan moralitas yang tidak murni-murni amat, terdapat orang-orang yang berhasil meraih pencapaian meditasi tertentu. Akan tetapi, non-Buddhis pun bisa memiliki dhyāna; dan itu bersifat duniawi, bukan Samādhi yang dipujikan Buddha.

Dhyāna tidaklah kekal. Bahkan andaipun seseorang telah mencapai dhyāna yang tertinggi, apabila ia tidak berhasil merealisasi Kebebasan, suatu saat pastilah ia terjatuh. Di jilid 38 Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. vol. 12, № 374 hlm. 589b) dikatakan:

「雖復得受梵天之身,乃至非想非非想天,命終還墮三惡道中。」
“Meskipun seseorang dapat lagi menerima tubuh sebagai brahma, bahkan hingga sebagai dewa Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana, ia akan jatuh kembali ke tiga jalur-kelahiran rendah setelah hidupnya berakhir.”



Udraka Rāmaputra merupakan guru Siddhārtha Gautama sebelum menjadi Buddha dan seringkali dijadikan contoh orang yang tak pernah mengambil disiplin Buddhis apa pun, namun berhasil meraih Ārūpya Samāpatti tertinggi. Ia pernah disinggung dalam Upāsaka Śīla Sūtra yang telah kita kutip. Kisah selengkapnya terdapat dalam jilid 61 Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545) di mana namanya diterjemahkan sebagai 猛喜子 (*Rudraka Rāmaputra). Kisah ini diulangi secara singkat di bab I-28 Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 188c):

鬱陀羅伽仙人得五通,日日飛到王宮中食。
Seperti Resi Udraka, yang memperoleh lima penembusan (pañca abhijñā), setiap hari terbang ke istana raja untuk bersantap.

王大夫人,如其國法,捉足而禮。
Permaisuri utama raja, sesuai adat negeri tersebut, menjamah kakinya sebagai penghormatan.

夫人手觸,即失神通。從王求車,乘駕而出,還其本處。
Demi tersentuh tangan sang permaisuri, dalam seketika ia kehilangan penembusan spiritualnya. Maka dipintanya dari raja sebuah kereta agar dapat dikendaraïnya pulang, dan kembalilah ia ke tempat asalnya.

入林樹間,更求五通,一心專至。
Ia pun masuk hutan belantara, mencari kembali lima penembusan, berintens dengan sepenuh hati untuk mencapainya.

垂當得時,有鳥在樹上急鳴,以亂其意。
Tatkala akan memperolehnya, seekor burung di atas pohon tiba-tiba berkicau sehingga mengacaukan pikirannya.

捨樹至水邊求定,復聞魚鬪動水之聲。此人求禪不得,即生瞋恚:「我當盡殺魚、鳥!」
Maka ditinggalkannya pohon tersebut dan pergilah ia ke tepi air untuk mencari samāpatti. Lagi-lagi kedengaran suara ikan beradu menggolakkan air. Karena tidak berhasil memperoleh dhyāna, timbul kebencian padanya: “Akan kubunuh habis semua ikan dan burung!”

此人久後思惟得定,生非有想非無想處。於彼壽盡,下生作飛狸,殺諸魚、鳥。作無量罪,墮三惡道。
Setelah lama bermeditasi, ia pun berhasil memperoleh samāpatti dan [kelak kemudian] terlahir di Naivasaṃjñā-nāsaṃjñāyatana. Tetapi di sana, sesudah hidupnya berakhir, ia akan merosot lahir sebagai tupai terbang dan membunuh segala ikan dan burung. Melakukan kejahatan-kejahatan yang tak terukur, terjatuhlah ia ke tiga jalur kelahiran rendah.

是為禪定中著心因緣。外道如此,佛弟子中亦有。
Demikianlah sebab-musabab karena batin yang melekat dalam dhyāna dan samāpatti. Para tīrthika seperti ini, siswa-siswi Buddhis pun juga ada [yang begini].