Powered by Administrator

Translate

Kamis, 06 Desember 2018

6. Re-akseptansi 重受

Ⓥ:不重受。
  Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

Ⓢ:開重受。

  Didispensasikan menerima-ulang.



Masalah lain yang menjadi pokok pertentangan antara Vaibhāṣika dengan Satyasiddha adalah re-akseptansi atau penerimaan-ulang disiplin yang sama. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ④ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mewakili pandangan klasik Vaibhāṣika. Pada orang yang pernah mengambil Lima Śīla, dalam dirinya sudah terbentuk substansi Lima Śīla sehingga ia tidak dapat menerimanya lagi (kecuali jika ia sengaja melepas dahulu substansi yang sudah ia ambil). Jika ia melanggar Śīla, maka yang mesti dilakukannya — sama seperti pelaksana segala tipe disiplin Prātimokṣa lain — seharusnya adalah menjalani pengakuan (āpattideśanā) dan bukan mengambil Lima Śīla kembali. Mengambil Lima Śīla berulang-ulang, seperti yang dipraktikkan dalam “kebaktian yang dihadiri bhikkhu” mazhab tertentu, adalah hal yang sia-sia sebab pelanggaran yang sudah dilakukan takkan termurnikan. Pun substansi Śīla yang semula tidak serta-merta tergantikan dengan substansi yang baru.

Dalam pembahasan kita di awal sekali telah disinggung, walaupun melalui ritual formal yang dipimpin oleh guru yang kredibel, terbentuknya substansi Śīla dalam diri seorang pemohon juga masih sulit. Śīla tidak diperoleh dengan sekadar mengucap ikrar, tanpa didasari kehendak yang kuat. Maka hanya mengulang-ulang permohonan Lima Śīla dalam kebaktian yang berjalan mekanis bukan saja tak dapat menggantikan substansi Lima Śīla yang semula (jika sudah ada dalam diri kita), bahkan avijñapti baru pun belum tentu terbentuk sebab hanya perbuatan yang didasari dorongan kehendak yang kuatlah yang membentuk avijñapti.

Kesériusan kehendak sangat menentukan derajat avijñapti yang akan terbentuk: bisa lemah (mr̥du), menengah (madhya), atau kuat (adhimātra). Avijñapti yang menjadi substansi disiplin Prātimokṣa akan bertahan sampai akhir hayat kita. Sekali terbentuk, menurut Vaibhāṣika, tidak ada cara untuk memodifikasi avijñapti tersebut. Oleh sebab itu, kita harus sangat bersungguh-sungguh ketika mengambil sebuah disiplin. Idealnya kehendak kita semakin kuat saat mengambil disiplin yang lebih tinggi sehingga avijñapti yang terbentuk juga lebih unggul. Kalau avijñapti yang terbentuk saat mengambil Lima Śīla asor, maka diharapkan avijñapti yang terbentuk saat mengambil Sepuluh Śīla madya, dan saat mengambil Upasaṃpanna Śīla unggul.

Sebelumnya telah diterangkan bahwa pada saat mengambil disiplin yang lebih tinggi, substansi disiplin yang lebih rendah akan bergabung dan ko-eksis berbarengan. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā meyakini bahwa dalam ko-eksistensi tersebut terjadi persatuan di mana yang lebih rendah menjadi komponen integral pembentuk yang lebih tinggi (T. vol. 23, hlm. 508b–c):

又五戒中亦有三品:若微品心受戒,得微品戒;若中品心受戒,得中品戒;若上品心受戒,得上品戒。十戒、具戒亦各有三品,如五戒說。
Pun dalam Lima Śīla ada tiga derajat:
① apabila dengan buah-pikir (=kehendak) yang lemah seseorang mengambil Śīla (=disiplin), maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang asor;
② apabila dengan buah-pikir menengah ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang madya;
③ apabila dengan buah-pikir yang kuat ia mengambil Śīla, maka ia memperoleh [substansi] Śīla yang unggul.
Sepuluh Śīla dan Upasaṃpanna Śīla masing-masing juga memiliki tiga derajat seperti Lima Śīla.

若微品心受戒,得五戒已,後以中、上品心受十戒者,先得五戒更無增無勝。
Jika setelah dengan buah-pikir yang lemah seseorang mengambil dan memperoleh Lima Śīla, kemudian dengan buah-pikir menengah atau kuat ia mengambil Sepuluh Śīla, maka 5 śīla (=langkah latihan) yang ia peroleh sebelumnya tidak meningkat atau menjadi unggul.

於五戒外,乃至 “不非時食” 等殘餘五戒,得增上五戒;先得五戒仍本微品也。
Di luar 5 langkah latihan ini, untuk 5 langkah latihan sisanya [per Sarvāstivāda Vinaya — dari “tidak berbaring di ranjang yang tinggi atau mewah”] hingga “tidak makan bukan pada waktunya”, akan diperolehnya [substansi] yang lebih unggul; sedangkan [substansi untuk] 5 langkah latihan yang ia peroleh sebelumnya tetap asor seperti semula.

即先微品五戒更無增無勝,仍本五戒;自五戒外一切諸戒,以受具戒時,心增上故,得增上戒。
Jadi, 5 langkah latihan sebelumnya yang asor tidak meningkat atau menjadi unggul lagi, namun tetap seperti [saat ia mengambil] Lima Śīla semula. Di luar kelimanya, untuk segala langkah latihan lain, hingga yang ia peroleh saat mengambil Upasaṃpanna Śīla, — berkat keunggulan buah-pikirnya kini — adalah [substansi] yang lebih unggul.

以是義推:波羅提木叉戒無有重得。
Dari prinsip ini disimpulkan: Prātimokṣa Saṃvara tidak mengenal adanya perolehan-ulang.

Istilah perolehan lebih tepatnya adalah pembentukan sebab sesungguhnya avijñapti tidak diperoleh dari siapa pun, melainkan terbentuk berkat kesériusan kehendak kita sendiri. Pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa berpendapat lebih jauh bahwa avijñapti suatu disiplin bukan saja tidak terbentuk-ulang jika kita menerima kembali disiplin yang sama, avijñapti tersebut bahkan juga tidak terbentuk-ulang (tidak dapat ditingkatkan) saat kita mengambil disiplin yang lebih tinggi dengan buah-pikir lebih kuat. Jadi, dalam substansi disiplin tinggi yang lebih unggul terdapat komponen yang lebih asor, yang berasal dari substansi disiplin rendah. Karena tidak mungkin terjadi re-kreasi atau pembentukan-ulang — bahkan sewaktu mengambil disiplin yang lebih tinggi — maka tidak perlu juga ada re-akseptansi untuk disiplin yang sama.






Bagaimanakah pandangan Bhadanta Harivarman? Dalam bab CXII Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 〈七善律儀品〉 (T. vol. 32, hlm. 303b) ia hanya mengatakan:

問曰:律儀幾時可得?
Tanya: Berapa lamakah disiplin dapat diperoleh (=dibentuk-ulang)?

答曰:有人受一日戒,是初律儀;
Jawab: Ada orang yang mengambil Śīla untuk sehari (Delapan Śīla) — inilah disiplin yang pertama;

即日受優婆塞戒,是第二律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upāsaka Śīla — inilah disiplin kedua;

即日出家作沙彌,是第三律儀;
pada hari yang sama ia meninggalkan rumah-tangga dan menjadi śrāmaṇera — inilah disiplin ketiga;

即日受具足戒,是第四律儀;
pada hari yang sama ia mengambil Upasaṃpanna Śīla — inilah disiplin keempat;

即日得禪定,是第五律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi dhyāna — inilah disiplin kelima;

即日得無色定,是第六律儀;
pada hari yang sama ia memperoleh konsentrasi tanpa-materi (ārūpya samāpatti) — inilah disiplin keenam;

即日得無漏,是第七律儀。
pada hari yang sama ia memperoleh [buah-pikir] bebas-kebocoran — inilah disiplin ketujuh.

隨得道果,處更得律儀。而本得不失,但 “勝者” 受名。
[Seterusnya] seturut diperolehnya Jalan dan Buah, di setiap tingkat kesucian ia memperoleh (=membentuk) -ulang disiplinnya. [Substansi] yang diperolehnya (=dibentuknya) semula tidak hilang, namun menerima sebutan “lebih unggul”.

Jadi, menurut Bhadanta Harivarman, saat memperoleh/membentuk substansi disiplin tinggi yang unggul, komponen-komponennya pun seharusnya terbentuk unggul. Pandangan pengarang Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣa malah akan membuat kita merasa janggal. Sebagai contoh, ketika mengikuti upacara pravrajyā, seorang upāsaka tentu akan berusaha membangkitkan buah-pikir kuat secara samarata dalam mengambil seluruh 10 langkah latihannya. Tidak mungkin setelah menjadi śrāmaṇera ia hanya sérius berpantang makan selewat waktunya dan asal-asalan berpantang membunuh karena avijñapti-nya asor saat menjadi upāsaka — padahal kini ia telah membangkitkan buah-pikir kuat dalam mengambil seluruh langkah latihan, baik untuk pantang membunuh maupun pantang makan selewat waktunya.¹

Lantas bagaimana kaum Satyasiddha bisa berpendapat bahwa re-akseptansi atau pengambilan-ulang disiplin yang sama diperbolehkan? Bhadanta Harivarman hanya membahas re-kreasi sebuah disiplin sewaktu mengambil tipe disiplin lain yang lebih tinggi. Hal itu tentu saja terjadi dengan asumsi klasik bahwa buah-pikir yang dibangkitkan lebih kuat sewaktu mengambil disiplin baru. Akan tetapi, jikalau kita baca lebih teliti di akhir petikan di atas, sebenarnya re-kreasi terjadi pula untuk disiplin yang sama.

Anasrāva Saṃvara merupakan disiplin yang dicontohkannya mengalami re-kreasi. Tidak seperti kelompok siswa-siswi Buddhis berbeda memiliki tipe-tipe Prātimokṣa Saṃvara yang berbeda, para ārya dari berbagai tingkat kesucian memiliki Anasrāva Saṃvara yang satu esensinya. Saat seorang ārya merealisasi tingkat kesucian yang lebih unggul, Anasrāva Saṃvara-nya otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul. Hal yang sama terjadi pula pada Dhyānaja Saṃvara, yang otomatis terbentuk-ulang menjadi lebih unggul saat seorang dhyāyin mencapai dhyāna yang lebih tinggi.

Dalam hal Prātimokṣa Saṃvara sendiri, disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan. Namun, bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Upāsaka yang hanya mengambil satu atau beberapa langkah latihan pun memperoleh substansi disiplin yang satu esensinya dengan yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Substansi disiplin seorang ekadeśakārin, misalnya, akan terbentuk-ulang saat ia membangkitkan buah-pikir hendak menyempurnakan disiplinnya. Penyempurnaan terjadi dengan mengambil langkah-langkah latihan tambahan — tentu dengan asumsi bahwa buah-pikir yang dibangkitkannya lebih kuat. Akan tetapi, seandainya ia masih ingin tetap menjadi ekadeśakārin, lalu mengambil-ulang satu langkah latihan yang sama, hanya saja dengan buah-pikir yang lebih kuat kali ini, tidakkah itu juga termasuk penyempurnaan disiplin? Maka menurut Satyasiddha re-akseptansi adalah boleh dan sangat mungkin terjadi asalkan dilakukan dengan buah-pikir yang lebih kuat.






CATATAN:

¹ Pengecualian adalah apabila kita mengikuti pendekatan Vasubandhu, yang berpendapat bahwa dalam ko-eksistensi beberapa tipe disiplin terjadi keterpisahan mutlak masing-masing disiplin. Dengan demikian terdapat langkah latihan dobel dari dua disiplin berbeda, misalnya: pantang membunuh. Akan tetapi, yang akan kita laksanakan adalah dari disiplin tinggi yang lebih unggul. Lihat ilustrasi di sini.

Rabu, 05 Desember 2018

5. Swa-komitmen 自誓

Ⓥ:定從他受。
  Wajib mengambil dari orang lain (=seorang guru).

Ⓢ:開自誓受。

  Didispensasikan mengambil dengan berkomitmen sendiri.



Poin ini berkaitan dengan pengambilan disiplin Prātimokṣa secara paravijñapana seperti yang pernah disinggung sebelumnya. Istilah paravijñapana berarti ‘penunjukan orang lain’: orang lain menunjukkan kepada kita metode penerimaan disiplin melalui sebuah upacara formal (dan, sebenarnya, kita juga menunjukkan kehendak untuk mengambil disiplin kepada orang lain tersebut dengan mengikuti segala prosedur upacaranya). Dalam hal Delapan Śīla, Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (T. vol. 23, hlm. 509a) mengatakan:

夫受齋法必從他受。於何人邊受?
Bahwa penerimaan Aturan Puasa harus diambil dari orang lain. Dari orang-orang manakah kita mengambilnya?

五眾邊。
Dari kelima kelompok (yakni, dari seorang bhikṣu; atau jika tidak tersedia: dari seorang bhikṣuṇī; atau jika tidak tersedia juga: dari seorang śikṣamāṇā, śrāmaṇera, atau śrāmaṇerī).

Begitu sentralnya peran seorang guru dalam pengambilan Delapan Śīla sehingga, menurut Vaibhāṣika, substansi disiplin Upavāsa tidak terbentuk tanpa kehadiran guru. Jika karena suatu alasan seseorang yang hendak menekuni Upavāsa tidak dapat pagi-pagi pergi memohon Śīla dari seorang guru, ia harus memohon di siangnya, bahkan boleh selewat jam makan. Substansi disiplin yang diperolehnya akan berlaku surut, terhitung sejak pagi hari itu. Pada penjelasan untuk bait 28 dari bab IV Abhidharmakośa 《阿毘達磨俱舍釋論》 (T. vol. 29, № 1559 hlm. 232b) dikatakan:

若食已,亦得受。亦應從他受,不得自受。
Setelah makan dapat juga mengambilnya. Juga mesti diterima dari orang lain, tidak dapat mengambil sendiri (sa bhuktvāpi gr̥hṇīyāt; anyataś ca grahītavyo, na svayam).

Walaupun belum memohon disiplin, tentu saja ia harus menjaga agar makannya tidak melampaui tengah hari (sehingga dapat tetap disebut berpuasa). Demikian pula untuk langkah latihan lainnya. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (T. vol. 23, hlm. 509a) mengatakan:

若人欲受八齋,先恣情女色、或作音樂、或貪飲噉、種種戲笑,如是等放逸事,盡心作已,而後受齋。不問中前、中後,盡不得齋。
Jikalau seseorang [telah] berkehendak mengambil Puasa Berunsur Delapan sebelumnya, lalu dengan sesukanya berahi kepada lawan jenis, bermain musik, gelojoh pada makanan, beria-ria dengan aneka hiburan — setelah melakukan berbagai jenis kelengahan seperti ini, ia kemudian [baru memohon] menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia tidak memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.

……

若欲受齋,而以事難自礙,不得自在。事難解已,而受齋者,不問中前、中後,一切得齋。
Jikalau seseorang [telah] berkehendak mengambil Upavāsa, namun karena terkendala oleh suatu masalah yang sulit, tidak dapat leluasa [langsung pergi memohon] — setelah terbebas dari masalah sulit itu, barulah ia menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.






Bagaimanakah jika seseorang yang hendak mengambil Upavāsa tidak dapat menjumpaï seorang guru, bahkan hingga malam hari? Menurut Bhadanta Harivarman sesungguhnya saṃvara avijñapti sudah terbentuk saat orang tersebut bertekad untuk menekuni Upavāsa di pagi hari, walau tanpa kehadiran seorang guru. Dalam bab CXIII Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Delapan Śīla Upavāsa” 〈八戒齋品〉 (T. vol. 32, hlm. 303c) tercatat:

問曰:是八分齋,但應具受?為得分受?
Tanya: Puasa berunsur delapan ini mestikah diambil lengkap saja? Atau dapatkah diambil sebagian?

答曰:隨力能持。
Jawab: Sesuai kesanggupan memegangnya, [seberapa pun boleh].

有人言:「此法但齋一日一夜。」是事不然。隨受多少戒,或可半日,乃至一月,有何咎耶?
Ada yang mengatakan: “Aturan puasa ini hanya [dapat berlaku] sehari semalam.” — Tidak demikian halnya. Seberapa pun śīla yang diambil, entah untuk setengah hari, bahkan hingga satu bulan, apalah salahnya?

有人言:「要從他受。」是亦不定。若無人時,但心念、口言:「我持八戒。」
Ada yang mengatakan: “Harus diambil dari orang lain.” — Ini juga tidak pasti. Apabila tiada orang lain, cukuplah batin [sendiri] bertekad dan mulut mengucap: “Aku akan memegang Delapan Śīla.”

Seandainya seseorang kesulitan menjumpaï seorang guru, ia boleh saja mengambil sendiri disiplin Upavāsa di rumah, misalnya di hadapan altar Buddha dsb. Kejanggalan justru tampak pada konsep berlaku surut Vaibhāṣika, yang berpegangan bahwa disiplin Upavāsa tidak dapat berlaku kurang atau lebih dari sehari semalam. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā menyebutkan:

若本無心受齋,而作種種放逸事;後遇善知識即受齋者。不問中前、中後,一切得齋。
Jikalau seseorang sejak semula tidak memiliki buah-pikir untuk mengambil Upavāsa, lalu melakukan berbagai jenis kelengahan; kemudian ia bertemu dengan seorang guru (kalyāṇamitra) dan menerima Upavāsa. Maka meskipun belum tengah hari atau sudah tengah hari, ia memperoleh [substansi disiplin] Upavāsa.

Untuk kasus seperti ini, menurut sistem Satyasiddha tentu saja substansi disiplin Upavāsa juga diperoleh orang tersebut, hanya saja bukan sehari semalam sebab ia telah melewati setengah harinya bukan di bawah disiplin. Saṃvara avijñapti-nya baru terbentuk tepat setelah ia mengambil Śīla dan berlaku sampai keesokan paginya. Jadi, ia hanya melaksanakan Upavāsa selama setengah hari dan satu malam — dan bukan dipaksakan disebut “selama sehari semalam” dengan konsep berlaku surut.

Selasa, 04 Desember 2018

4. Komprehensi atas Anggota 具支

Ⓥ:但發四支。
  Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

Ⓢ:皆發七支。

  Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.



Disiplin Prātimokṣa, seperti yang sudah sering kita bahas, hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan. Dari sepuluh tindakan yang menjadi jalan bagi terciptanya karma buruk (daśa akuśala karmapatha), tiga di antaranya dilakukan melalui jasmani (pembunuhan, pencurian, perzinahan) dan empat melalui ucapan (kedustaan, adu-domba, perkataan kasar, omong kosong). Untuk empat kejahatan ucapan, sejauh manakah berbagai tipe disiplin Prātimokṣa mengaturnya?

Kaum Vaibhāṣika menafsirkan “aku mengambil langkah latihan untuk menghindari ucapan dusta” secara harfiah. Menurut mereka hanya kedustaanlah yang merupakan pelanggaran atas langkah latihan ini, ketiga kejahatan ucapan lainnya bukan. Upāsaka yang mengomong kosong, misalnya, jelas menciptakan karma buruk, namun tidak disebut melanggar Śīla. Pendapat mereka tercatat pada penjelasan antara bait 33–34 bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, hlm. 77a–b):

何緣但制離虛誑語,非離間語等為近事律儀?
Apakah alasannya penghindaran ucapan dusta saja, dan bukan penghindaran ucapan mengadu-domba dll., yang ditetapkan dalam disiplin upāsaka?

亦由前說三種因故,謂:虛誑語最可訶故、諸在家者易遠離故、一切聖者得不作故。
Hal ini juga dikarenakan oleh tiga jenis sebab seperti yang disebutkan sebelumnya, yakni:
① karena ucapan dusta merupakan hal yang paling dicela [di dunia];
② karena umat awam lebih mudah menghindarinya;
③ karena para suci (ārya) semua tidak pernah melakukannya.

復有別因,
Ada lagi sebab lainnya,

頌曰:
kārikā (bait 34a–b):

以開虛誑語  便越諸學處

Mr̥ṣāvādaprasaṅgāc ca
sarvaśikṣāvyatikrame

論曰:越諸學處被檢問時,若開虛誑語,便言:「我不作。」因斯於戒多所違越,故佛為欲令彼堅持於一切律儀,制離虛誑語:云何令彼,若犯戒時,便自發露能防後犯。
Bhāṣya: Ketika seorang pelanggar berbagai langkah latihan diinterogasi (dalam ritus pengakuan), — seandainya ucapan dusta ditolerir — tentu ia akan berkata: “Aku tidak melakukannya.” Oleh karena di dalam Śīla akan banyak yang dilanggar, maka Buddha, yang menghendaki si pelanggar memegang teguh segala disiplin, menetapkan penghindaran ucapan dusta: bagaimana supaya ia, saat melanggar Śīla, dengan sendirinya akan mengaku sehingga pelanggaran serupa di kemudian hari mampu dicegah.

Alasan ② barangkali paling menjelaskan kaitan antara kejahatan ucapan lain dengan kedustaan. Karena dianggap lebih sérius, orang cenderung tidak berdusta. Menghindari omong kosong, misalnya, justru lebih sulit bagi umat awam ketimbang menghindari kedustaan. Oleh sebab itu, penghindaran omong kosong tidak ditetapkan sebagai bagian disiplin upāsaka, dan hanya penghindaran kedustaan yang dijadikan langkah latihan.

Vinayācārya Yüan-chao dari Dinasti Sung, dalam jilid 1 karyanya Chih-yüan i-pien 《芝苑遺編》 (Zokuzōkyō vol. 59, № 1104 hlm. 627b) mengatakan:

彼五、八、十,唯發四支;比丘方具。此宗七眾,七支齊禁。
Menurut sistem mereka, dalam Lima, Delapan, dan Sepuluh [Śīla, pantangan] hanya terbentuk atas empat anggota; [dalam disiplin] bhikṣu-lah baru terbentuk lengkap. Sekolah kita, dalam [disiplin] ketujuh kelompok, akan tetapi memantangkan tujuh anggota seutuhnya.

Jadi, menurut Vaibhāṣika penghindaran kejahatan ucapan selain kedustaan hanya tercakup lengkap dalam disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebab diatur secara jelas pada langkah-langkah latihannya. Misalnya: tiga pelanggaran pācittika/pāyantika pertama dalam Bhikṣu Prātimokṣasūtra berturut-turut adalah kebohongan yang disengaja, berkata-kata kasar, dan mengadu-domba sesama bhikṣu lain.






Lalu seperti apakah pendapat Bhadanta Harivarman yang diikuti oleh Sekolah Vinaya di Tiongkok? Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:離兩舌等何故不名為戒?
Tanya: Penghindaran lidah bercabang dll. mengapa tidak disebutkan sebagai langkah latihan?

答曰:是事細微,難可守護。又兩舌等是妄語分;若說妄語,則已總說。
Jawab: Sebab hal-hal tersebut amat halus dan sukar dijaga (sama seperti alasan ② Vaibhāṣika di atas). Namun, lidah bercabang dll. adalah bagian dari ucapan dusta; apabila menyebutkan “[aku menghindari] ucapan dusta”, maka [penghindaran kejahatan ucapan lainnya] sudah tercakup secara umum.

Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-22-1 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 158c) juga mengatakan hal yang senada:

復次!四種口業中,妄語最重。
Selanjutnya lagi, di antara empat jenis karma ucapan, kedustaan merupakan yang terberat.

復次!妄語心生故作;餘者或故作,或不故作。
Selanjutnya lagi, kedustaan dilakukan dengan sengaja karena buah-pikir yang timbul; [karma ucapan] lainnya bisa dilakukan dengan sengaja, bisa juga dilakukan tanpa sengaja.

復次!但說妄語,已攝三事。
Selanjutnya lagi, hanya mengatakan “[aku menghindari] ucapan dusta”, sudah mencakup tiga hal lainnya.

復次!諸善法中,實為最大;若說實語,四種正語皆已攝得。
Selanjutnya lagi, di antara segala dharma yang bersifat baik, kebenaran merupakan yang terbesar; apabila mengatakan ucapan kebenaran, empat jenis ucapan yang tepat telah dapat tercakup semuanya.

復次!白衣處世,當官理務,家業作使。是故!難持不惡口法。妄語故作重事,故不應作。
Selanjutnya lagi, umat awam berjubah putih yang hidup di dunia harus mengurusi berbagai perkara dan menjalankan pekerjaan rumah-tangga. Oleh sebab itu, sangat sukar [bagi mereka] untuk memegang dharma tidak bermulut jahat (yang seringkali dilakukan tanpa sengaja)! Ucapan dusta merupakan hal yang sérius yang [pasti] dilakukan dengan sengaja, maka tidak semestinya mereka melakukannya.

Interpretasi atas ucapan dusta¹ (mr̥ṣāvāda) sesungguhnya bersifat supel. Arti kata mr̥ṣā adalah ‘salah; sia-sia, hampa; tak masuk akal; ironis’. Maka dapat kita lihat mr̥ṣāvāda ‘ucapan salah’ tidak selalu bermakna ‘ucapan bohong’. Demikian pula dalam terjemahan lama ke bahasa Tionghoa, mr̥ṣāvāda diartikan sebagai 妄語 ‘ucapan tak masuk akal; ucapan lancang, gegabah; bualan’. Dalam terjemahan belakangan, seperti pada kutipan Abhidharmakośa di atas, barulah Hsüan-tsang menggunakan translasi dobel 虛誑語 ‘ucapan hampa dan bohong’.






CATATAN:

¹ Dalam bahasa Indonesia sendiri kata dusta mengalami penyempitan makna. Ucapan dusta kini semata-mata merupakan sinonim ucapan bohong. Kata Sanskerta aslinya, duṣṭa, sebenarnya berarti ‘salah, cacat, korup, lancang, jahat’.

Senin, 03 Desember 2018

3. Durasi 延促

Ⓥ:五戒必盡形,八必一日夜。
  Lima Śīla harus seumur hidup, Delapan Śīla harus sehari semalam.

Ⓢ:延促任意,皆得。

  Panjang atau pendek sekehendak pikiran, semuanya dapat.



Ini sudah pernah kita bahas panjang-lebar sebelumnya. Kebebasan jangka waktu sebenarnya hanya dibolehkan dalam pelaksanaan Delapan Śīla. Untuk disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok, yang sifatnya permanen (nitya śīla), Bhadanta Harivarman sependapat dengan Vaibhāṣika bahwa pengambilannya harus seumur hidup sebab hal itu berkaitan dengan profesi seseorang. Seseorang hanya dapat disebut “berprofesi” sebagai upāsaka atau upāsikā bilamana ia berniat sungguh-sungguh untuk mengambil Lima Śīla sebagai disiplin profesinya seumur hidup:

出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
[Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Bagaimanakah jika seseorang mengambil langkah latihan untuk pantang membunuh, pantang mencuri, pantang berzinah, pantang berdusta, dan pantang meminum minuman-keras hanya sehari atau seminggu saja? Maka menurut Bhadanta Harivarman substansi disiplin yang terbentuk pada dirinya adalah bagian dari Delapan Śīla, yang memang boleh diambil tidak lengkap. Ia tidak disebut melaksanakan upavāsa sebab tidak mengambil langkah latihan pantang makan selewat tengah hari. Substansi disiplin yang diperolehnya satu esensinya dengan Delapan Śīla, hanya saja kurang sempurna.

Tentang keleluasaan pelaksanaan Delapan Śīla, yang bukan saja boleh diambil tidak lengkap, tetapi juga boleh dilaksanakan untuk jangka waktu lebih atau kurang dari sehari, lihat di sini dan sini.


Minggu, 02 Desember 2018

Berkat Mengambil Hanya Satu Śīla Saja, Akhirnya Mencapai Kearhatan

Arhat Bakkula (Vakkula) merupakan contoh orang yang mencapai Kearhatan berkat mengambil satu śīla. Kisahnya, yang sering diulangi dalam tulisan-tulisan Sekolah Vinaya, terutama bersumber dari bab ke-24 〈重姓品〉 koleksi Damamūrkha Nidāna 賢愚經 (‘Sūtra tentang Yang Arif dan Yang Bodoh’, T. № 202). Nama Bakkula berasal dari asimilasi dva + kula dalam dialek Prakerta dan berarti 重姓 ‘yang memiliki keluarga dobel’. Akan tetapi, dalam versi lain kisahnya, namanya ditafsirkan sebagai 善容 atau 偉形 ‘berpenampilan menarik’ (dari kata vaggu? [Skt. valgu]).

Dalam Bakkula Sūtra 《薄拘羅經》dari Madhyama Āgama jilid 8 (T. vol. 1, № 26 hlm. 475c) disebutkan:

復次!尊者薄拘羅作是說:「諸賢。我於此正法律中,學道已來八十年,未曾有病,乃至彈指頃頭痛者;未曾憶服藥,乃至一片訶梨勒。」若尊者薄拘羅作此說,是謂尊者薄拘羅未曾有法。
Selanjutnya lagi, Bhadanta Bakkula berkata demikian: “Para āyuṣman, di dalam Dharma-Vinaya ini telah 80 tahun aku mempelajari Jalan dan belum pernah mengalami sakit, bahkan hingga pening kepala sejentik jari pun; belum pernah ’ku teringat mengonsumsi obat, bahkan hingga seiris buah manjalawai (haritakī) pun.” Apabila Bhadanta Bakkula berkata demikian, itu memang sungguh dharma yang belum pernah ada yang menakjubkan (āścaryādbhūta dharma), yang terdapat pada dirinya.

Bakkula hidup hingga usia yang sangat sepuh. (Beberapa tradisi menyatakan bahwa ia wafat pada umur 160 tahun.) Sepanjang hayatnya ia tidak pernah sakit. Hal itu disebabkan karena 91 kalpa yang lampau, pada zaman Buddha Vipaśyin, sewaktu ia menjadi seorang peramu yang mengumpulkan tanaman obat dan berjual di Kota Bandhumati, ia menghormati saṅgha dan mempersembahkan sebuah haritakī untuk setiap bhikṣu yang sakit. Akibatnya selama 91 kalpa berikutnya ia tidak pernah terjatuh ke jalur rendah, tetapi selalu lahir di surga atau di antara manusia.

Pada zaman Buddha Śākyamuni ia terlahir sebagai putra seorang kaya. Ibunya wafat tidak lama setelah melahirkannya dan ayahnya menikah kembali. Ibu tirinya yang kejam sangat tidak menyukaïnya. Ketika hendak memanggang roti, maka dilemparkannya ia ke dalam tanur. Namun, ayahnya melihatnya dan segera menyelamatkannya. Kedua kalinya, saat hendak merebus daging, Bakkula dimasukkan ke periuk air mendidih yang, ajaibnya, tidak melukaïnya sama sekali. Akhirnya, sewaktu pergi ke sungai, Bakkula, yang saat itu berada dalam gendongan sambil mencengkeram pakaian ibu tirinya, didorong ke air. Lagi-lagi Bakkula tidak tewas, tetapi seekor ikan besar datang menelannya. Ikan itu ditangkap orang dan dijual ke pasar. Secara kebetulan, ayahnya membeli ikan itu dan membawanya pulang. Tatkala perut ikan itu dibelah, Bakkula bukan saja luput dari tusukan pisau, ia bahkan didapati masih bernafas.


Bākula Thera


Versi dalam Damamūrkha Nidāna, akan tetapi, agak berbeda dan lebih dekat dengan cerita-cerita aṭṭhakathā Pāli. Tidak ada tokoh ibu tiri di sini. Bakkula dikatakan hanyut karena tidak sengaja terlepas dari gendongan ibu kandungnya saat perayaan menyambut kelahirannya diadakan di tepi sungai. Ikan yang menelannya berenang ke hilir dan ditangkap oleh satu keluarga kaya yang tidak memiliki keturunan. Perut ikan itu dibelah, dan keluarga tersebut mengadopsi anak yang ada di dalamnya. Orangtua kandung anak itu akhirnya menemukannya dan mengklaimnya. Terjadilah ketegangan antara kedua keluarga, dan permasalahan ini dibawa ke hadapan raja. Raja memutuskan supaya anak itu diasuh bersama dan menyarankan, apabila ia telah dewasa, masing-masing keluarga menikahkannya dengan seorang gadis sehingga mereka akan mendapat cucu untuk meneruskan garis silsilah masing-masing. Kedua keluarga sepakat mengikuti saran dari raja.

Setelah anak itu dewasa, setelah semua saran raja diturutnya, maka ia pun memohon izin untuk meninggalkan rumah-tangga. Orangtua kandung maupun orangtua angkatnya mengizinkannya. Anak itu menghampiri Buddha, dan Buddha menahbiskannya dengan seruan “Ehi, bhikṣu!” Ia diberi-Nya nama tahbisan: Bakkula. Setelah mendengar instruksi Buddha, tak lama kemudian Bakkula pun berhasil mencapai Kearhatan.

Ānanda lalu bertanya kepada Buddha apakah sebabnya Bakkula terjatuh ke sungai dan ditelan ikan, tetapi tidak mati; malahan dapat bertemu Buddha dan menjadi seorang arhat. Buddha menceritakan bahwa hal itu disebabkan karena 91 kalpa yang lampau Bakkula terlahir sebagai seorang perumahtangga di zaman Buddha Vipaśyin. Sewaktu Buddha Vipaśyin sedang berkhotbah tentang dāna dan śīla, perumahtangga itu meyakininya dengan segenap hati. Ia berlindung kepada Triratna dan mengambil hanya satu langkah latihan, yaïtu menghindari pembunuhan makhluk hidup. Selain itu, ia mendermakan 1 kārṣāpaṇa (jumlah uang yang tidak seberapa) untuk Buddha dan saṅgha.

  • ⚠️ Akibat bederma 1 kārṣāpaṇa: ia terlahir kaya-raya, bahkan memiliki dua keluarga yang menyokong segala kebutuhannya!
  • ⚠️ Akibat mempersembahkan buah haritakī untuk bhikṣu yang sakit: selama 160 tahun hidupnya ia tidak pernah sakit sekali pun, bahkan sekadar sakit kepala!
  • ⚠️ Akibat berlindung kepada Triratna dan hanya mengambil śīla pantang membunuh: ia berusia panjang dan sampai lima kali (atau tiga kali) lolos dari kematian:

    ① Dibakar di api tidak terpanggang.
    ② Dididihkan di air tidak terebus.
    ③ Diceburkan ke sungai tidak tenggelam.
    ④ Ditelan ikan tidak tercerna.
    ⑤ Ditusuk pisau tidak terkena.

    Bahkan akhirnya ia dapat berjumpa seorang Buddha kembali, meninggalkan rumah-tangga, dan merealisasi Kearhatan!

Maka dapat kita lihat, mengambil disiplin Buddhis secara tidak lengkap pun takkan sia-sia, malah akan menghasilkan buah yang amat besar. Sebaliknya, jikalau kita tidak sudi menerima bahkan satu langkah latihan saja, mustahillah kita akan mendapatkan Pembebasan dari saṃsāra.





「我聲聞中,第一比丘壽命極長,終不中夭,所謂婆拘羅比丘是。」
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam usia panjang, selamanya tidak terjangkau kematian muda, ialah Bhikṣu Bakkula.”

—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-5 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga 4).

2. Gradualitas 漸頓

Ⓥ:不具受不得戒。
  Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

Ⓢ:不具受得戒。

  Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.



Polemik mengenaï boleh tidaknya mengambil śīla sebagian saja (khususnya bagi umat awam) telah terjadi jauh sebelum dituliskannya komentar besar abhidharma Sarvāstivāda, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. No. 1545), pada Konsili Buddhis keempat di abad I. Dalam mazhab Mahāsāṅghika pengambilan hanya satu atau beberapa langkah latihan diperbolehkan, sebagaimana tercermin di Vinaya Piṭaka-nya. Dalam mazhab Sarvāstivāda sendiri terdapat silang-pendapat sejak lama antara Sarvāstivāda cabang Kashmir dengan cabang Gandhara. Perdébatan antara keduanya sudah pernah dibahas dan tidak perlu kita ulangi lagi secara mendetail di sini.

Sarvāstivādin Kashmir berpendapat bahwa tiada pengambilan tidak lengkap disiplin bagi upāsaka, sama seperti tiada pengambilan hanya satu atau dua langkah latihan saja (tidak lengkap sepuluh) bagi śrāmaṇera. Sedangkan menurut Sarvāstivādin Gandhara (yang pandangannya di kemudian hari diteruskan oleh Sekolah Sautrāntika) hal itu memang diperbolehkan di dalam sūtra dan merupakan keunikan dari disiplin upāsaka. Bahkan terdapat upāsaka yang tidak mengambil disiplin sama sekali dan cuma menyatakan diri berlindung kepada Triratna.

Bhadanta Harivarman juga menyetujui pengambilan sebagian, baik untuk Lima Śīla maupun Delapan Śīla. Dalam bab CIX Satyasiddhi Śāstra, “Tentang Lima Śīla” 〈五戒品〉 (T. vol. 32, hlm. 300b), ia menjawab:

問曰:有人言:「具受則得戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Harus menerima lengkap barulah memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:隨受多少,皆得律儀,但取要有五。
Jawab: Seberapa pun yang diterima, semuanya memperoleh Saṃvara. Esensi yang diambil tetapi [berlangkah] lima.

Disiplin upāsaka terdiri atas lima langkah latihan (śikṣāpada), namun bukan berarti bahwa ada lima jenis disiplin. Orang yang mengambil sebagian pun memperoleh disiplin yang satu esensinya dengan orang yang mengambil lengkap, hanya saja kurang sempurna. Untuk menyempurnakannya, ia dapat mengambil langkah-langkah latihan sisanya. Dengan kata lain, sistem Satyasiddha mengenal adanya gradualitas atau kemeningkatan status seorang upāsaka.

Dalam Kanon Pāli kita pun dapat melihat contoh upāsaka yang berupaya meningkatkan statusnya. Upāsaka Gavesī, seorang aparipūrakārī (tanpa disiplin) yang hidup di zaman Buddha Kassapa, mengambil lengkap Lima Śīla demi mengungguli 500 upāsaka kawan-kawannya, dan menjadi seorang paripūrakārī (pelaksana sepenuh-bagian). Kawan-kawannya termotivasi oleh tindakannya dan, akhirnya, mengikutinya menjadi paripūrakārī. Lihat kisah selengkapnya di Gavesī Sutta (AN V.18: 10).

Maka petikan dari Upāsaka Śīla Sūtra yang kita kutip sebelumnya cukuplah berdasar:

若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?
Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi?

Jadi, dengan mengambil langkah-langkah latihan lagi, status keupāsakaan seseorang meningkat (yakni, substansi disiplinnya semakin sempurna). Ini membuktikan bahwa ia yang sebelumnya mengambil satu atau beberapa langkah latihan saja juga sudah memperoleh Prātimokṣa Saṃvara.


Selanjutnya muncul pertanyaan apakah boleh dari lima guru menerima lima langkah latihan, masing-masing satu. Hal ini tidak dibahas dalam Satyasiddhi Śāstra, tetapi pada pertanyaan ⑦ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan Vimalākṣa membolehkannya. Jawabannya ini tidak bertentangan dengan prinsip Satyasiddha (sebab Vimalākṣa memang membolehkan pengambilan langkah latihan tidak lengkap).

Sekali lagi perlu ditekankan bahwa orang yang mengambil lengkap lima langkah latihan bukan berarti memiliki lima jenis disiplin. Dalam posting sebelumnya pernah kita bahas bahwa disiplin yang lebih unggul akan mengatasi disiplin yang asor. Pada saat seorang ekadeśakārin, yang sudah mengambil satu langkah latihan dari seorang guru, mengambil sebuah langkah latihan lagi dari guru kedua, bukan berarti bahwa kini ia memiliki dua jenis disiplin berbeda; tetapi, di dalam avijñapti yang baru, substansi disiplinnya yang lama akan bergabung sebagai komponen substansi dari satu kesatuan disiplin pradeśakārin. Demikian pula apabila ia kemudian mengambil langkah latihan lagi dari guru ketiga, di dalam avijñapti yang baru lagi, substansi disiplin pradeśakārin-nya akan bergabung sebagai komponen substansi disiplin yadbhūyaskārin, dst. (Agar lebih jelas, lihat ilustrasi di akhir.)

Sabtu, 01 Desember 2018

1. Sasaran Penerima 對趣

Ⓥ:餘道眾生不得戒。
  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

Ⓢ:餘道眾生得戒。

  Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.



Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prātimokṣa jenis apa pun (bahkan hingga Lima Śīla dan Delapan Śīla) cuma dapat terbentuk pada manusia (T. vol. 23, hlm. 509b):

凡得波羅提木叉戒者,以五道而言,唯人道得戒。餘四道不得,如天道以著樂深重,不能得戒。
Tentang segala perolehan Prātimokṣa Saṃvara, di antara kelima jalur kelahiran (pañcagati), dikatakan hanya jalur manusialah (manuṣyagati) yang mendapatkan disiplin. Keempat gati lainnya tidak dapat, misalnya: jalur dewa (devagati), karena dalam dan beratnya kemelekatan mereka akan kesenangan, takkan dapat memperolehnya.

Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā selanjutnya menyambung dengan kisah Jīvaka Kumārabhr̥ta — sudah kita terjemahkan dalam posting sebelumnya — untuk menjelaskan betapa lemahnya batin kebanyakan dewa. Bahkan Jīvaka, seorang srotāpanna, pun tidak dapat mengontrol dirinya secara merdeka setelah terlahir di Surga Trāyastriṃśa; apalagi dewa-dewa biasa yang terlena oleh kesenangan surgawi. Mustahil mereka mampu membangkitkan buah-pikir baik yang cukup kuat untuk mengambil disiplin Prātimokṣa. Begitu pula dengan jalur-jalur kelahiran lainnya. Di alam preta dan neraka makhluk-makhluknya mengalami kelaparan dan siksaan setiap saat; batin mereka disibukkan dengan penderitaannya sendiri sehingga sukar memperoleh disiplin Prātimokṣa. Hewan-hewan, yang memiliki inteligénsi rendah, juga tidak mungkin memperoleh disiplin Prātimokṣa.

Tetapi, kemudian ada yang menyanggah bahwa disiplin Prātimokṣa bisa dimiliki hewan tertentu, seperti: naga (sebangsa ular gaib). Bhadanta Vasubandhu, yang pada prinsipnya hanya mengulangi penjelasan yang sama seperti di atas untuk menerangkan bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa-nya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 80b–c), menukilkan sebuah kutipan:

契經中言:「有卵生龍,半月八日,每從宮出,來至人間,求受八支近住齋戒。」
Di dalam sūtra dikatakan: “Ada naga-naga yang terlahir melalui telur yang, setiap hari kedelapan dari paruh-bulan, keluar dari istananya, datang ke antara manusia, dan memohon untuk menerima Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṇḍajo, bhikṣavo, nāgo 'ṣṭamyāṃ pakṣasya bhāvanād abhyudgamya aṣṭāṅgasamanvāgatam upavāsam upavasati).”

Sūtra yang ia kutip ini, sayangnya, belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa. Namun, dalam Kanon Pāli kita dapat menemukan empat sutta pendek dari Nāga Saṃyutta (SN XXIX.1: 3–6, semuanya berjudul sama Uposatha Sutta) yang isinya serupa. Secara berurutan, masing-masing sutta ini menyebutkan bahwa ada naga-naga yang terlahir melalui telur (aṇḍaja), terlahir melalui rahim (jalābuja), terlahir melalui kelembapan (saṃsedaja), dan terlahir secara spontan (opapātika) yang menekuni Uposatha bahkan sampai rela mengorbankan tubuhnya.

Cerita-cerita tentang naga yang menerima Aturan Puasa pun bukannya tidak dikenal dalam Tripiṭaka Tionghoa. Menjelaskan pāyantika ke-58, dalam “Bhikṣu Vibhaṅga” dari Mūlasarvāstivāda Vinaya 《根本說一切有部毘奈耶》 (T. vol. 23, № 1442 hlm. 842c dst.), misalnya, dua ekor naga penjaga kolam-kolam air panas di Kota Rājagr̥ha yang bernama Ch’i-li 祇利 dan Pa-chü 跋窶 dikisahkan berniat menerima Aturan Puasa setiap hari upavasatha. Mereka hendak mengikuti jejak Raja Naga Nanda dan Upananda yang, setelah ditaklukkan Buddha, keluar dari samudra setiap hari upavasatha, dan menuju ke Puncak Sumeru untuk mengambil Aturan Puasa dan mendengarkan Dharma yang dibabarkan Buddha di sana.


Untuk segala sanggahan ini Vaibhāṣika menampiknya dan berpendapat (Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā hlm. 509b):

雖處處經中說龍受齋法,以善心故而受八齋。一日一夜得善心功德,不得齋也,以業障故。
Meskipun dalam berbagai bagian dari kitab suci disebutkan bahwa naga-naga menerima Aturan Puasa, karena buah-pikir yang baiklah mereka menerimanya. Mereka memperoleh kebajikan dari buah-pikir baik tersebut (yakni naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat kuśala) selama sehari semalam, tetapi tidak memperoleh [substansi] Puasa (sebagai sebuah Prātimokṣa saṃvara avijñapti) karena rintangan karmanya.

以四天下而言,唯三天下(閻浮提、瞿耶尼、弗婆提)及三天下中間海洲上人,一切得戒。
Dari kempat kolong langit, dikatakan hanya tiga kolong (Jambudvīpa, Godanīya, Pūrvavideha) beserta manusia-manusia di benua di atas lautannya saja yang dapat memperoleh [substansi] disiplin.

Disiplin Prātimokṣa cuma dapat diperoleh manusia-manusia di tiga benua. Di Uttarakuru Buddhadharma tidak diterima sehingga mustahil memperoleh disiplin Prātimokṣa. Manusia-manusia di sana terlena oleh kesenangan lantaran keadaannya yang hampir menyamaï surga. Karena kehidupan begitu mulus di sana, tidak ada orang yang melakukan tindakan kriminal. Mereka tidak merasa perlu mengadopsi disiplin apa-apa lagi sebab, tanpa disiplin, toh semua sudah baik-baik saja. Selain itu, di Uttarakuru bahkan tiada dhyāna dan, dengan demikian, dua jenis disiplin lainnya (Dhyānaja dan Anāsrava) pun tiada.

Lebih jauh lagi, Vaibhāṣika berpendapat bahwa disiplin Prāṭimoksa hanya terbentuk pada pria (yang memiliki organ reproduksi pria lengkap) dan wanita (yang memiliki organ reproduksi wanita lengkap) saja. Aseksual (śaṇḍaka dan paṇḍaka) serta hermafrodit (ubhavyañjana) takkan dapat memperolehnya. Aseksual adalah manusia-manusia impotén yang terdiri atas beberapa tipe berbeda, misalnya: karena dikebiri, karena kelainan bawaan, dll. Mereka biasanya dianggap sangat frigid. Karena tidak mampu berhubungan seksual, tentu saja mereka tidak merasa perlu mengambil disiplin pantang berzinah. Kebalikannya adalah hermafrodit yang berkelamin ganda dan dianggap memiliki libido yang sangat tinggi sehingga tidak mungkin pula mengambil disiplin, karena hampir pasti akan melanggarnya.

Singkatnya, pandangan Vaibhāṣika diringkaskan dalam bait ke-43 dari bab IV Abhidharmakośa sbb.:

惡戒人除北  二黃門二形
律儀亦在天  唯人具三種

Kontra-disiplin (asaṃvara) bahkan tak hadir di antara manusia Uttara[kuru],
di antara dua jenis aseksual, serta hermafrodit.
Disiplin (saṃvara) hadir juga di antara dewa,
namun hanya manusia yang memiliki lengkap tiga jenis.


Bagaimanakah pandangan Satyasiddha? Kita tahu bahwa pembagian saṃvara avijñapti telah direklasifikasi dalam Satyasiddhi Śāstra. Selama ini, menurut Vaibhāṣika, sekuat apa pun buah-pikir yang dibangkitkan oleh seorang non-Buddhis untuk melaksanakan moralitas, substansi yang terbentuk pada dirinya hanyalah naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik. Demikian pula halnya pada makhluk-makhluk gaib atau naga yang ingin mengambil Aturan Puasa Buddhis.

Menurut Bhadanta Harivarman, pengambilan segala jenis moralitas sepatutnya digolongkan menjadi satu di bawah Śīla saṃvara avijñapti. Non-Buddhis yang mengambil disiplinnya sendiri pun memperoleh Śīla Saṃvara. Apalagi makhluk-makhluk selain manusia yang sudi berlindung kepada Triratna dan mengambil disiplin Buddhis demi memasuki Jalan Pembebasan — apalah alasannya mereka tidak memperoleh Śīla Saṃvara yang bersifat Prātimokṣa (T. vol. 32, hlm. 303a):

問曰:餘道眾生得此戒律儀不?
Tanya: Makhluk-mahluk dari gati lain adakah memperoleh Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa)?

答曰:經中說,諸龍等亦能受一日戒。故知!應有。
Jawab: Di dalam sūtra disebutkan bahwa para naga dsb. juga sanggup menerima disiplin selama sehari. Maka dapat kita ketahui semestinya ada!

Jadi, Bhadanta Harivarman berpendapat jalur kelahiran mana pun bisa memiliki Prātimokṣa Saṃvara (minimal Lima dan Delapan Śīla) sebab perolehan saṃvara avijñapti berasal dari kesungguhan batin. Bahkan hewan, asalkan dapat mengerti ajaran Śīla Buddhis, akan memperolehnya jika bersungguh-sungguh mengambilnya. Begitu pula dengan manusia aseksual dan hermafrodit.

問曰:有人言:「不能男等無戒律儀。」是事云何?
Tanya: Ada orang berkata: “Aseksual (napuṃsaka, secara harfiah: ‘laki-laki impotén’) dsb. tidak memperoleh Śīla Saṃvara.” Bagaimanakah hal ini diterangkan?

答曰:是戒律儀從心邊生。不能男等亦有善心,何故不得?
Jawab: Śīla Saṃvara ini (yang bersifat Prātimokṣa) timbul dari batin (citta). Aseksual dsb. pun dapat memiliki buah-pikir yang baik, mengapa tidak mereka memperolehnya?

問曰:何故不聽作比丘耶?
Tanya: Lantas mengapa mereka tidak diizinkan menjadi bhikṣu?

答曰:是人結使深厚,難得道故。又此人不在比丘中,亦不在比丘尼中,是故不聽。
Jawab: Ikatan belenggu mereka teramat dalam sehingga sukar memperoleh Jalan (Kesucian). Pun mereka [nantinya] tidak tergolong di antara bhikṣu, juga tidak tergolong di antara bhikṣuṇī; oleh karenanya tidak diizinkan.

又彼中亦遮餘人,如:睞眼等。是人亦得此善律儀。
Pun dari antara saṅgha, orang-orang lainnya juga didiskualifikasikan, misalnya: yang bermata juling dll. [Namun,] orang-orang tersebut juga memperoleh Śīla Saṃvara ini.

Dalam Vinaya Piṭaka secara jelas memang telah disebutkan kriteria penghalang (antarāyika dharma) yang mendiskualifikasikan seseorang untuk diterima ke dalam saṅgha, antara lain: aseksual, hermafrodit, bermata juling, dll. Tentang tidak memungkinkannya aseksual dll. memperoleh disiplin monastik tidak diperdébatkan lagi. Namun, menurut Bhadanta Harivarman, mengapa tidak mereka memperoleh disiplin yang lebih rendah (Lima Śīla dan Delapan Śīla)?

Vasubandhu menukilkan petikan sebuah versi unik Mahānāma Sūtra yang dijadikan dasar oleh Vaibhāṣika bahwa aseksual dan hermafrodit tidak dapat memperoleh disiplin upāsaka:

佛告大名:「諸有在家白衣男子,男根成就,歸佛、法、僧,起殷淨心,發誠諦語,自稱:『我是鄔波索迦,願尊憶持!慈悲護念!』齊是名曰鄔波索迦。」
Buddha memberitahu Mahānāma: “Umat awam perumahtangga berjubah putih, pria, dengan organ reproduksi pria lengkap, yang berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha, yang membangkitkan keyakinan murni, menguncarkan pernyataan tulus, dan berseru: ‘Aku adalah seorang upāsaka; kiranya Bhadanta mengingat dan memegang [pernyataan ini]! Demi belas-kasihan perhatikanlah aku!’ — semuanya dinamakan upāsaka (yataśca, Mahānāma, gr̥hī avadātavasanaḥ puruṣaḥ puruṣendriyeṇa samanvāgato Buddhaṃ śaraṇaṃ gacchati yāvadvācaṃ bhāṣate, ‘Upāsakaṃ māṃ dhāraya!’ — iyatā copāsako bhavati).”

Akan tetapi, klausa “pria, dengan organ reproduksi pria lengkap” tidak terjumpaï dalam dua versi Saṃyukta Āgama Tionghoa yang pernah kita posting sebelumnya ataupun dalam versi Pāli. Maka tidaklah pasti bahwa hanya pria saja yang dapat memperoleh disiplin upāsaka. Lagipula belum tentu bahwa orang-orang yang terlalu frigid atau terlalu berlibido takkan merasa perlu mengambil langkah latihan pantang berzinah. Jikalau mereka bersungguh-sungguh hendak memasuki Jalan Pembebasan, apalah yang akan memberatkan mereka untuk mengambilnya? Kalaupun mereka belum siap, maka mereka boleh mengambil empat langkah latihan lainnya dahulu sebab substansi disiplin upāsaka pun terbentuk meski diambil sebagian.

Pertentangan-Pertentangan antara Vaibhāṣika vs Satyasiddha mengenaï Śīla

Silsilah penahbisan bhikṣu-bhikṣuṇī Sarvāstivāda pernah hidup di Cina dan, dengan demikian, terdapatlah mereka yang mengikuti tafsir Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440) serta lebih condong kepada pandangan Vaibhāṣika.

Di sisi lain, para proponen Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646) sempat mendirikan sebuah sekolah indépénden Ch’êng-shih tsung 成實宗 walau usianya pendek dan tidak bertahan lama. Pandangan-pandangan mereka tentang Śīla — secara umum bersesuaian dengan Sautrāntika — belakangan banyak diadopsi Sekolah Vinaya dari silsilah Dharmaguptaka. Perbedaannya yang terutama dengan Sautrāntika adalah mengenaï hakikat substansi Śīla: Sautrāntika menolak sama sekali konsep avijñapti, sementara Satyasiddha menerimanya sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra.

Karena minimnya literatur Sautrāntika yang masih lestari, maka kita hanya dapat menjadikan Satyasiddhi Śāstra, yang tersedia terjemahan Tionghoanya, sebagai bahan pembanding. Pertentangan-pertentangan antara mereka yang pro kepada Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (Ⓥ) dengan yang pro kepada Satyasiddhi Śāstra (Ⓢ) direkapitulasikan pada poin-poin di bawah ini:

  1. Sasaran Penerima 對趣
  2. Ⓥ:餘道眾生不得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain (selain manusia) tidak dapat memperoleh disiplin.

    Ⓢ:餘道眾生得戒。

      Makhluk-makhluk dari jalur kelahiran lain dapat memperoleh disiplin.

  3. Gradualitas 漸頓
  4. Ⓥ:不具受不得戒。

      Tidak mengambil lengkap tidak memperoleh disiplin.

    Ⓢ:不具受得戒。

      Tidak mengambil lengkap pun memperoleh disiplin.

  5. Durasi 延促
  6. Ⓥ:五戒必盡形,八必一日夜。

      Lima Śīla harus seumur hidup, Delapan Śīla harus sehari semalam.

    Ⓢ:延促任意,皆得。

      Panjang atau pendek sekehendak pikiran, semuanya dapat.

  7. Komprehensi atas Anggota 具支
  8. Ⓥ:但發四支。

      Hanya terbentuk atas empat anggota (dari kesepuluh jalan karma).

    Ⓢ:皆發七支

      Dalam semua [tipe disiplin] terbentuk atas tujuh anggota.

  9. Swa-komitmen 自誓
  10. Ⓥ:定從他受。

      Wajib mengambil dari orang lain (=seorang guru).

    Ⓢ:開自誓受。

      Didispensasikan mengambil dengan berkomitmen sendiri.

  11. Re-akseptansi 重受
  12. Ⓥ:不重受。

      Tidak dapat menerima-ulang [disiplin yang sama, kalau belum kedaluwarsa].

    Ⓢ:開重受。

      Didispensasikan menerima-ulang.