Powered by Administrator

Translate

Tampilkan postingan dengan label Jaina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jaina. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2019

Bodhipākṣika pada Esensinya Didasari oleh Śīla

Bodhisattvagocaropāya-viṣaya-vikurvāṇa Nirdeśa Sūtra 《菩薩行方便境界通變化經》 mencatat percakapan antara Raja Caṇḍapradyota dari Avanti dengan Satyaka, seorang nirgrantha (penganut Jainisme) yang telah berkonversi kepada Buddhadharma. Ke hadapan raja, Satyaka memuji-muji Buddha Gautama sehingga keyakinannya terhadap Dharma pun tumbuh.

Versi sūtra ini yang lebih populer dalam bahasa Tionghoa adalah yang diterjemahkan oleh Bodhiruci dengan judul Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa 《大薩遮尼乾子所說經》 (T. vol. 9, № 272). Dalam bab VIII (hlm. 359a) disebutkan:

「大王。一切功德助道之行,舉要言之,以戒為本,持戒為始。若不持戒,乃至不得疥癩野干身,何況當得功德之身?大王。當知!以戒淨故,不斷佛種,成等正覺;不斷法種,分別法性;不斷僧種,修無為道。以持淨戒相續不斷故,功德無盡。」
“Mahārāja, segala praktik kebajikan penyusun Bodhi (bodhipākṣika) pada esensinya, dapat kita katakan, didasari oleh Śīla, diawali dengan memegang Śīla. Jikalau tidak memegang Śīla, bahkan tubuh kudisan seperti rubah liar pun kita tidak dapat memperolehnya — apalagi dapat memperoleh tubuh kebajikan! Mahārāja, ketahuilah! Dengan Śīla yang murni, juriat Buddha tidak terpotong, yakni pencapaian Pencerahan yang Tepat dan Menyeluruh (samyak-saṃbodhi); juriat Dharma tidak terpotong, yakni diferensiasi hakikat Dharma; juriat Saṅgha tidak terpotong, yakni pengembangan Jalan yang tak terkondisi. Dengan tidak terpotongnya kesinambungan pemegangan Śīla yang murni, jasa-jasa-Nya (Gautama) tiada akhir.”



Sabtu, 18 Agustus 2018

SETENGAH PUASA

Jam-jam makan dalam penekunan Puasa Buddhis pada prinsipnya diadopsi dari praktik monastik. Ada kemiripan antara apa yang dipraktikkan bhikṣu-bhikṣuṇī Buddhis dengan sādhu-sādhvī Jaina. Sādhu Jaina boleh makan kurang lebih satu muhūrta (48 menit) setelah matahari terbit. Demikian pula dalam Vinaya Piṭaka seorang bhikṣu baru boleh makan setelah hari cukup terang sehingga garis-garis di telapak tangannya kelihatan jelas. Bhikṣu Buddhis hanya diizinkan makan sampai tengah hari, sedangkan sādhu Jaina dapat makan sampai matahari terbenam. Oleh karenanya, seorang sādhu dapat berkeliling kembali untuk mengemis derma makanan (gocarī) kedua kalinya di sore hari. Akan tetapi, ia tidak diperbolehkan makan atau minum apa pun (termasuk air yang sudah direbus) sejak matahari terbenam sampai keesokan paginya, sementara bhikṣu Buddhis boleh minum.


Pergantian tanggal di India kuno dimulaï sejak terbitnya matahari, bukan sejak tengah malam atau pukul 00.00. Dari 24 jam, 12 jam pertama disebut (siang) hari dan 12 jam kedua disebut malam. Apabila kita anggap hari cukup terang pukul 06.00 dan tengah hari jatuh pukul 12.00, maka seorang Buddhis yang mengambil Delapan Śīla berarti boleh makan dalam enam jam dan berpantang selama delapan belas jam sisanya (tetapi boleh minum air).

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, menurut sistém Sautrāntika-Satyasiddha, Delapan Śīla dapat diambil untuk jangka penekunan kurang dari 24 jam. Sewaktu matahari terbit, seseorang yang mengambil Delapan Śīla sampai matahari terbenam saja disebut berpuasa hanya sehari. Begitu juga seseorang yang di sore hari mengambil Delapan Śīla (berarti ia takkan makan sepanjang malam itu) sampai keesokan paginya disebut berpuasa hanya semalam.

Bagaimanakah dengan seseorang yang mengambil Delapan Śīla untuk sehari semalam dan, karena suatu sebab (misalnya: jatuh sakit atau mendadak harus melakukan pekerjaan berat), terpaksa membatalkan puasanya ketika sore hari? Praktik semacam ini disebut setengah puasa 半齋. Kaum Vaibhāṣika berpendapat setengah puasa sama saja dengan tidak berpuasa. Menurut mereka, karena seseorang tidak dapat membuat persepakatan di muka untuk mengambil Delapan Śīla hanya 12 jam saja, substansi Delapan Śīla baru terbentuk apabila diambil untuk sehari semalam — sama seperti substansi Lima Śīla yang baru terbentuk apabila diambil untuk seumur hidup. Jikalau ia tidak kuat berpuasa lagi, maka ia harus melepas delapan langkah latihannya. (Hal ini lebih baik daripada ia merusak Puasa 破齋 karena tetap memegangnya lalu makan malam.) Dengan melepas, berarti ia mundur di tengah jalan dan sama saja tidak berpuasa.

Sementara itu, dalam sistém Sautrāntika-Satyasiddha, karena Delapan Śīla sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial juga boleh diambil sebagian (tidak lengkap delapan), maka seseorang yang harus makan malam dapat saja hanya melepas langkah latihan “tidak makan setelah tengah hari”, dan mempertahankan tujuh sisanya. Ia tidak disebut berpuasa, tetapi tetap disebut memegang anggota (dari Delapan) Śīla.

Tentu saja meskipun hanya ditekuni selama 12 jam, setengah puasa tetap mendatangkan akibat baik seperti dikisahkan dalam cerita ke-13 Rampaian Avadāna Lama 《舊雜譬喻經》 (T. vol. 4, № 206 hlm. 513a) terjemahan K’ang Sêng-hui:

昔有四姓請佛飯。
Dahulu diselenggarakanlah [acara mahādāna] oleh keempat kasta untuk mengundang Buddha makan.

時,有一人賣牛湩。大姓留止飯,教持齋戒,止聽經。
Tatkala itu ada seorang penjual produk-produk melkerei. Orang-orang dari kasta tinggi menyisakan makanan untuknya, dan mengajarinya juga untuk memegang Aturan Puasa serta singgah sejenak mendengarkan khotbah (sūtra).

賓乃歸。
Setelah dijamu, [hingga petang] barulah ia pulang.

婦言:「我朝相待未飯。」便強令夫飯,壞其齋意。
Istrinya berkata: “Sejak pagi aku menunggumu dan belum makan.” Maka dipaksanya suaminya ikut makan sehingga merusak niat Puasanya.

雖爾,七生天上、七生世間。
Kendatipun begitu, ia terlahir tujuh kali di surga dan tujuh kali di dunia [manusia].

 ◎ 師曰:「一日持齋,有六十萬歲糧。

Sang Guru berkata: “Memegang Puasa untuk sehari akan menghasilkan [kecukupan] pangan selama 600.000 tahun.

復有五福:
Ada lagi lima pahala lainnya:

一曰、少病;
1. Sedikit penyakit;

二曰、身安隱;
2. Tubuh tenteram dan bahagia;

三曰、少婬意;
3. Sedikit pikiran nafsu;

四曰、少睡臥;
4. Sedikit kantuk dan kelesuan;

五曰、得生天上,常識宿命所行也。」
5. Dapat terlahir di surga dan senantiasa mengingat apa yang dilakukan di kehidupan lampau.

Jumat, 11 September 2015

LIMA ŚĪLA & LIMA KEBAJIKAN

Jauh sebelum munculnya agama Buddha, di India tumbuhlah berbagai sekte śramaṇa yang menolak otoritas kitab-kitab Veda dan para brāhmaṇa-nya. Tradisi śramaṇa lebih mengutamakan kebajikan personal untuk mencapai Pembebasan dari saṃsāra daripada upacara kurban kepada dewa-dewa. Salah satu dari enam tokoh besar śramaṇa yang hidup sezaman dengan Buddha adalah Mahāvīra, pendiri agama Jainisme, yang berasal dari klan Jñātr̥. Ia lebih dikenal dengan nama Nigaṇṭha Nātaputta (Skt. Nirgrantha Jñātr̥putra) dalam teks-teks Pāli. Ajarannya dinyatakan dalam sutta ke-2 dari Dīgha Nikāya, Sāmaññaphala, berbunyi:

“Seorang nigaṇṭha terkendali dengan empat macam pengendalian diri (cātuyāma saṃvara). Bagaimanakah, o Baginda, seorang nigaṇṭha yang terkendali dengan empat macam pengendalian diri itu? Dalam dunia ini, seorang nigaṇṭha hidup mengendalikan diri terhadap semua air (sabbavāri vārito), mempergunakan semua air (sabbavāri yuto), menyingkirkan semua air (sabbavāri dhuto), dan melumuri dengan semua air (sabbavāri phuṭo).”

Teks Pāli, akan tetapi, telah keliru menyandangkan empat pengendalian sebagai ajaran Nātaputta. (Ada beberapa versi Śrāmaṇyaphala Sūtra dalam terjemahan Tionghoa; Mūlasarvāstivāda Vinaya juga memuat narasi Raja Ajātaśatru mengenaï ajaran keenam tokoh śramaṇa ini — tidak satu pun di antara berbagai versi di atas yang menyebut-nyebut empat pengendalian.) Selain itu, komentar Dīgha Nikāya, Sumaṅgalavilāsinī, juga memberi penjelasan membingungkan untuk kata sabbavāri sebagai ‘semua air’, sehingga penerjemah-penerjemah modern dalam bahasa Inggris mengabaikannya dan mengganti dengan makna lainnya: ‘semua penghindaran/pengekangan (dari dosa)’.

Menurut tradisi Jaina yang sebenarnya, empat pengendalian bukan diajarkan Mahāvīra, melainkan oleh Pārśva, tīrthaṅkara (secara harfiah: ‘pembuat arungan’) yang hidup k.l. 150 tahun sebelumnya. Cāturyāma dharma tidak berkaitan dengan penggunaan air dll., tetapi merupakan disiplin yang terdiri atas:
  1. Sarvaprāṇātipāta veramaṇa — Menghindari pembunuhan semua makhluk hidup, yakni mengembangkan ahiṃsā ‘tanpa-kekejaman’.
  2. Sarvamr̥ṣāvāda veramaṇa — Menghindari pengucapan semua kedustaan, yakni mengembangkan satya ‘kebenaran’.
  3. Sarvādattādāna veramaṇa — Menghindari pengambilan semua yang tidak diberikan, yakni mengembangkan asteya ‘tanpa-pencurian’.
  4. Sarvabahirdhādāna veramaṇa — Menghindari kemelekatan pada semua objek eksternal.

Disiplin keempat sudah kabur maknanya pada zaman Mahāvīra, yang merupakan tīrthaṅkara ke-24 atau terakhir, sehingga ia merincikan dua kebajikan lagi yang harus dikembangkan, agar lebih jelas:
  1. Brahmacarya ‘kehidupan kudus’, dan
  2. Aparigraha ‘tanpa-pemilikan’.
Kelima yāma ini berlaku, baik bagi kaum monastik maupun umat awam Jaina. Bagi kaum monastik brahmacarya berarti hidup membujang/selibat, sedangkan bagi umat awam dimengerti sebagai penghindaran aktivitas seksual di luar ikatan pernikahan. Demikian pula penerapan aparigraha bagi umat awam lebih kendur derajatnya dibandingkan kaum monastik, yang hanya boleh memiliki sedikit barang kepunyaan.


Begitu merasuknya ajaran pañcayāma ini sebagai falsafah hidup masyarakat India sehingga literatur dharmaśāstra Hindu belakangan pun meminjamnya. Misalnya, kitab Manusmr̥ti menyebutkan (bab X: 63):

Ahiṁsā satyam asteyaṁ
śaucam indriyanigrahaḥ /
etaṁ sāmāsikaṁ dharmaṁ
cāturvarṇye 'bravīn manuḥ //

“Tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian,
kesucian, dan penguasaan indera —
inilah, secara ringkas, dharma
bagi keempat kasta,” kata Manu.

Baudhāyana Dharma-sūtra praśna II, 10:18 juga menerangkan berbagai sumpah seorang sannyāsin:

Atha imāni vratāni bhavanti: ahiṃsā, satyam, astainyaṃ, maithunasya ca varjanam, tyāga ity eva.
Selanjutnya, inilah brata-brata yang dimilikinya: tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian, pantang berhubungan seksual, dan pelepasan.

Namun, yang paling mempopulerkannya barangkali ialah Patañjali, melalui Yoga Sūtra-nya (bab II “Sādhana Pāda”: 30):

Ahiṁsā-satya-asteya brahmacarya-aparigrahāḥ yamāḥ.
Tanpa-kekejaman, kebenaran, tanpa-pencurian, kehidupan kudus, dan tanpa-pemilikan — [inilah Lima] Pengendalian Diri.

Dari perbandingan dengan lima pengendalian di atas, dapat kita lihat bahwa tidak ada yang baru dalam lima śīla Buddhis. Selain śīla menghindari minum minuman keras, śīla-śīla lainnya merupakan hal yang sudah umum diketahui. Kasus yang mirip juga terdapat di Cina, di mana lima śīla Buddhis dipandang tidak lain merupakan pengamalan lima kebajikan konstan (wu-ch’ang 五常) Konfusianisme. Pendekatan-pendekatan untuk menyandingkan keduanya, misalnya, dilakukan:

Dalam komentar guru besar T’ien-t’ai, Chih-i 智顗, atas Narendrarāja Prajñāpāramitā Sūtra 《仁王護國
  般若經疏》 (T. vol. 33, № 1705 hlm. 260c–261a):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.

Dalam risalah Mo-ho chih-kuan 《摩訶止觀》 (T. vol. 46, № 1911 hlm. 77b):
  • Tidak membunuh berpadan dengan jên 仁 ‘cinta-kasih kemanusiaan’.
  • Tidak mencuri berpadan dengan i 義 ‘kelurusan’.
  • Tidak berzinah berpadan dengan li 禮 ‘keadaban’.
  • Tidak berdusta berpadan dengan hsin 信 ‘kredibilitas/dapat dipercaya’.
  • Tidak meminum minuman keras berpadan dengan chih 智 ‘kebijaksanaan’.




Kalau begitu, apakah keunikan śīla-śīla Buddhis? Seperti yang sudah sering disinggung, dengan menerima śīla-śīla Buddhis terbentuklah saṃvara avijñapti khusus, Prātimokṣa Saṃvara, dalam diri kita. Prātimokṣa Saṃvara merupakan dharma yang unik (dharmāntara 別法) yang hanya ada selama berlangsungnya masa Ajaran dari seorang Samyak-saṃbuddha, dan hanya dimiliki oleh Buddhis. Non-Buddhis, yang bertekad menjalankan aturan-aturan moralitas tertentu, cuma mungkin memiliki naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti yang bersifat baik (menurut sistém Vaibhāṣika) atau saṃvara avijñapti yang bersifat non-Prātimokṣa (menurut sistém Satyasiddhi).

Kita tahu bahwa latihan Buddhis itu berjenjang tiga (tisraḥ śaikṣāḥ), yakni: śīla, samādhi, dan prajñā. Adalah mustahil untuk mencapai samādhi tanpa śīla yang murni; dan śīla yang murni hanya dapat tercapai bila Prātimokṣa Saṃvara, disiplin pengarah Pembebasan, kita peroleh. Śīla-śīla Buddhis dilaksanakan dengan motivasi untuk meraih Pembebasan Sejati, sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain seringkali dilaksanakan hanya demi kelahiran di alam surga. Oleh karena itu, śīla-śīla Buddhis merupakan śīla yang melampaui duniawi (lokottara śīla), sedangkan ajaran-ajaran moralitas dalam kepercayaan lain hanya disebut śīla duniawi (laukika śīla).

Maka Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 73b) mengatakan:

外道無有所受戒耶?
Tiadakah Śīla yang dimiliki non-Buddhis berkat penerimaan (samādānika śīla)?

雖有,不名別解脫戒。由彼所受無有功能永脫諸惡,依著有故。
Walaupun ada, tetapi tidak disebut Prātimokṣa Saṃvara. Apa yang mereka terima tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan secara mutlak dari segala kejahatan karena mereka masih melekat pada konsep keberadaan (bhava saṃniśritatvāt). [Yakni, bahkan dalam sistém kepercayaan yang meyakini kelahiran kembali, masih terdapat konsep tentang adanya jiwa {atma}. Jiwa-jiwa yang sudah mencapai Kebebasan dari saṃsāra akan tetap eksis selamanya “di suatu tempat di atas dunia”.]