Powered by Administrator

Translate

TIADA PERLINDUNGAN LAIN

Orang yang “melayani dari dekat (upāsana)” merupakan arti harfiah dari kata upāsaka. Mahānāma Sūtra dengan jelas mendefinisikan upāsaka sebagai umat awam yang berlindung kepada Triratna. Namun, di antara yang mengaku sebagai upāsaka, berapa banyakkah yang sungguh-sungguh berlindung kepada Triratna? Mungkin banyak di antara kita yang malah gemar melayani dewa-dewa dan, alih-alih bersandar kepada Triratna — terutama saat ditimpa kesulitan — justru melakukan ritual penyembahan roh-roh, berkonsultasi dengan medium, memelihara jimat-jimat, dll.

Dalam jilid 37 Abhidharma Nyāyānusāra Śāstra 《阿毘達磨順正理論》 (T. vol. 29, № 1562 hlm. 554b–555c) disebutkan:







依何義說【鄔波索迦】?
Berdasarkan definisi apakah seseorang disebut sebagai upāsaka?

彼先歸依佛、法、僧寶,親近承事所尊重師,便獲尸羅,故名近事
Ia yang mula-mula berlindung kepada Buddha-, Dharma-, dan Saṅgharatna, berdekatan (upa) dan memberi pelayanan (sevitā) kepada guru yang dihormatinya, lalu memperoleh Śīla¹ [dari guru tersebut], maka ia dinamakan “yang melayani dari dekat”.

或能習近如理所為,壞惡事業,故名近事
Atau ia yang mampu membiasakan diri (āsevita) untuk berdekatan dengan prinsip [Dharma] dalam segala yang dilakukannya, dan menghancurkan segala perbuatan yang tidak-baik (akuśala), maka ia dinamakan “yang melayani dari dekat”.

或能親近事佛為師,故名近事
Atau ia yang mampu berdekatan dan melayani (upāsana) Buddha sebagai guru, maka ia dinamakan “yang melayani dari dekat”.

分同諸佛,得淨尸羅,善意樂故。如有頌曰:
Ia mendapatkan bagian yang sama dengan para Buddha, [yakni] Śīla yang murni, sebab kecenderungan pikirannya yang baik. Seperti ada syair yang berbunyi:

居遠而近佛  由勤勇歸禮
有悲離惡想  故名為近事

Bermukim jauh, lalu mendekati Buddha:
dengan usaha tekun pergi berlindung dan menyembah,
memiliki belas kasih dan menanggalkan pemikiran kejahatan
— oleh karenanya dinamakan “yang melayani dari dekat”.






今應思擇。
Kini hal ini mesti kita kaji.



無智世間,所事種種諸天神眾,為諸近事,應禮彼天。
Orang-orang di dunia, yang tidak berpengetahuan, mewajibkan para upāsaka (Buddhis) untuk menyembah berbagai dewa dan roh-roh yang mereka layani.

如禮世尊,為不應禮。何緣於此,欻爾生疑!
Kita, yang menyembah Sang Bhagavan, tidak semestinya menyembah [deitas-deitas itu]. Apalah yang menyebabkan kita tiba-tiba meragukan hal ini!






以於世間,現有一類事邪天,愛染習其心,樂率己情,作諸事業。不依理教,妄作是言:「鄔波索迦應禮天眾。」
Sebab di dunia sekarang ada segolongan orang yang melayani dewa-dewa sesat, yang batinnya biasa tercemari kecintaan, gemar mengikuti hasratnya sendiri, dan mengerjakan berbagai amalan. Tanpa didasari ajaran yang rasional, mereka membuat klaim: “Para upāsaka wajib menyembah dewa-dewa.”

Pendapat-Pendapat yang Mereka Kemukakan

 ◎ 佛聽許故。
Karena Buddha mengizinkannya.
謂:佛聽許供養天神。故契經言:「供養天者,名奉佛教。」
Yakni: Buddha mengizinkan untuk memberi persembahan kepada dewa dan roh. Oleh sebab itu, di dalam sūtra² tertulis: “Ia yang memberi persembahan kepada dewa, dinamakan menjunjung ajaran Buddha.”
 ◎ 又隨念故。
Karena merupakan [objek meditasi] perenungan.
謂:世尊說應隨念天,故應禮天,如說隨念佛、法、僧寶。
Yakni: Bhagavan berkata bahwa kita mesti melakukan perenungan terhadap dewa (devatānusmr̥ti)³; oleh sebab itu, kita mesti menyembah dewa, sama seperti disebutkannya perenungan terhadap Buddha (buddhānusmr̥ti), Dharma (dharmānusmr̥ti), dan Saṅgha (saṅghānusmr̥ti).
 ◎ 又不遮故。
Karena tiada larangan.
謂:無經遮鄔波索迦禮諸天眾。
Yakni: Tiada sūtra yang melarang upāsaka untuk menyembah para dewa.
 ◎ 又有恩故。
Karena memiliki berkah.
謂:彼諸天承奉合儀,能與恩福。
Yakni: Dewa-dewa itu, apabila dipuja sesuai tatacaranya, mampu memberikan berkah kesejahteraan.
 ◎ 又能損故。
Karena dapat menulahi.
謂:彼天神承奉失儀,能為大損。故諸近事應禮天神。
Yakni: Dewa-dewa itu, apabila dipuja tidak sesuai tatacaranya, mampu mendatangkan tulah besar/ kualat. Oleh sebab itu, para upāsaka mesti menyembah dewa dan roh.


略敘彼宗所說如是,此皆非理。
Demikianlah diuraikan secara singkat pendapat yang mereka kemukakan, yang semuanya tidak rasional.






 ◎ 且彼所言佛聽許故,應禮天者,佛意不然,簡別說故。
Tentang apa yang mereka katakan, “karena Buddha mengizinkannya, maka kita mesti menyembah dewa”, bukan begitu maksud Buddha — sebab mereka mengutip sepotong-sepotong.

謂:彼經說諸淨施主,於諸應受祠祀天神,於時時間,應以三事無倒供養,以禮承奉:〔彼於施主必起善心,哀愍護念,令無損惱。〕
Selengkapnya: Sūtra tersebut menyebutkan agar vaiyāvr̥tyakara (‘pengemong caitya’) dewa-dewa dan roh-roh yang layak menerima pengorbanan, secara berkala-kala, hendaknya menghaturkan pemujaan berunsur tiga persembahan yang bebas-keliru: 〔Para deitas itu pun harus membangkit-kan hati yang baik terhadap vaiyāvr̥tyakara, berkasih-kasihan, dan menjaganya sehingga tiada kesusahan.〕

一、於時時應施嚴淨。
1. Secara berkala-kala mesti membersihkan dan menghias [caitya].

二、於時時應施供具。
2. Secara berkala-kala mesti menyiapkan kelengkapan sesajian.

三、於時時應施頌願。
3. Secara berkala-kala mesti menyampaikan syair dedikasi.

以標三事為決定因,證知世尊除三事外,凡所施作,皆非所許。
Dibakukannya tiga unsur ini saja sebagai alasan yang definitif [untuk pemujaan] membuktikan bahwa, di luar ketiganya, melakukan segala unsur lain tidak diizinkan oleh Bhagavan.

— (Mereka berdalih:)

非標數名,便顯定義。如說地動不犯等言。
Bukan karena dibakukan berupa daftar enumerasi sehingga definisinya sudah pasti terungkap. Analoginya seperti perkataan “bumi bergempa”, “tidak mungkin melanggar”, dll.

謂:
Yakni:

如經言:「四因緣故,大地震動。」〔非不更有,四因緣外,地動因緣。〕
Seperti disebutkan di dalam sūtra: “Karena empat sebab-musabab, bumi besar ini bergempa.” 〔Bukan berarti, di luar empat sebab-musabab ini, tiada lagi penyebab gempa bumi.〕

又如經言:「諸阿羅漢能於五處,畢竟不犯。」〔非不更有餘不犯處。〕
Juga seperti disebutkan di dalam sūtra: “Dalam lima hal, para arhat sepenuhnya tidak mungkin melanggar.” 〔Bukan berarti tiada hal-hal lain lagi yang dilanggar.〕

又如經說:「在家、出家於五處中,應數觀察。」〔非不更有餘處應觀。〕
Juga seperti disebutkan di dalam sūtra: “Umat awam dan monastik hendaklah, di dalam lima hal, senantiasa merefleksikan berulang-ulang.” 〔Bukan berarti tiada hal-hal lain lagi yang mesti direfleksikan.〕

如是等言,其類非一。此亦應爾,非決定因。
Perkataan-perkataan semacam ini bukan cuma pada satu kategori. Maka [pembakuan di atas] semestinya begitu pula tidak menjadi alasan yang definitif.

— (Sanggahan:)

此救不然,如地動等。
Dalih seperti “bumi bergempa” dll. ini tidak benar.

餘經說有不可得。故此標定數,非於餘經。有不定言,如地動等。
Sūtra lain menyebutkan adanya hal-hal yang tak bisa tergapai (anupalabdha). Jadi, pembakuan ini memuat enumerasi yang tetap sebab tidak terdapat di sūtra lain. [Sebaliknya,] ada perkataan-perkataan yang belum tetap seperti “bumi bergempa” dsb.

以此為證知,此經中標列數名,顯決定理。除此,餘理無容有故!
Dengan demikian dapat kita buktikan bahwa daftar enumerasi yang dibakukan sūtra ini mengungkapkan prinsip yang definitif. Hanya ini! sebab prinsip-prinsip lain (penyembahan) tiada dipeluknya.

或應所說蘊、處、界等,如此數名,皆成不定?或如所說蘊、處、界等,動地因等數,亦應定?何緣一類,標列數名?
Atau mestikah daftar-daftar enumerasi seperti skandha, āyatana, dan dhātu menjadi tidak tetap (misalnya: ada skandha lain di luar daftar pañcaskandha yang dapat ditambahkan)? Atau, seperti skandha, āyatana, dan dhātu, mestikah alasan-alasan “bumi bergempa” dll. menjadi enumerasi yang tetap? Apakah musababnya kategori yang satu jadi dasar dalam membakukan daftar enumerasi [lainnya]?



所顯義中,或定不定——以於餘處除此所明——或不見餘,或見餘故。若一切處以言說同,執事皆等便成大過。
Definisi yang diungkap bisa pasti atau tidak pasti karena — tergantung apakah, selain di sini, diterangkan di tempat lain (kanon mazhab lain?) — mungkin tidak ditemukan keterangan lain, atau mungkin juga ditemukan. Apabila keterangan yang sama disebutkan di segala tempat, maka pengemong [yang melakukan unsur-unsur pemujaan menyimpang] semuanya jadi bersalah besar.



若謂經說供養等言,即已顯成應禮拜者,則佛應遣諸天神眾,亦應禮拜能祠施主。
Jika mereka menganggap bahwa perkataan “memberi persembahan” dsb. yang disebutkan di sūtra sudah menjadi indikasi untuk “mesti menyembah”, maka Buddha sendiri memerintahkan para dewa dan roh-roh juga mesti menyembah para vaiyāvr̥tyakara yang telah berkorban.

如彼經言:「諸天神眾,既被供養及承奉已,應反供養等,以報施主恩。」
Sebagaimana sūtra tersebut mengatakan: “Para dewa dan roh-roh, setelah diberi persembahan dan dipuja, sebaliknya mesti memberi persembahan dsb. demi membalas budi vaiyāvr̥tyakara.”

是故!此中但據隨彼所樂欲事,皆正供承名供養等,非申禮敬。
Oleh karena itu, unsur-unsur di sini, yang hanya menyesuaikan dengan apa yang mereka gemari, semuanya merupakan pemujaan yang setepatnya dinamakan “memberi persembahan”, dan bukan menyembah!



諸天神眾,於近事邊,無敢希求禮敬事故,如國君主,於諸苾芻,定無希求禮敬事者。
Sebab para dewa dan roh-roh tidak berani meminta penyembahan dari para upāsaka, sama seperti pemimpin negara yang pasti tidak mungkin menuntut para bhikṣu untuk memberi hormat kepada dirinya.

懼損功德及壽命故。如契經說:
Sebab mereka sendiri takut kualat akan mencederaï jasa kebajikan dan usia mereka. Sebagaimana sūtra menyebutkan:

毘沙門天請大目連舍利子等五百聖眾,至自宮中。設供養已,請施頌願。
Dewa Vaiśramaṇa mengundang Mahā Maudgalyāyana, Śāriputra, dan lima ratus anggota saṅgha suci lain untuk datang ke istananya. Setelah memberi persembahan, ia memohon syair dedikasi (sebagai berkat).

復請:「從今諸出家者、及近事等,至我寺中,一切皆應施我頌願。我等眷屬,亦從今時,每以專誠護持正法,令佛弟子,出家、在家,於一切時,恒無惱害。」
Lalu dipintanya: “Mulaï sekarang, semua anggota monastik dan para upāsaka yang datang ke caitya-ku, hendaknya menyampaikan syair dedikasi untukku. Aku beserta pengikut-pengikutku, setiap kalinya sejak saat ini, akan dengan tulus menjaga dan mempertahankan Saddharma sehingga siswa-siswa Buddha, baik monastik maupun perumahtangga, di segala waktu senantiasa tiada kesusahan.”

時,二大聖許其所請,遍告一切出家、在家:「諸有受持佛禁戒者,從今以去,至天寺中,皆應如法施天頌願。」
Maka kedua suciwan pun meluluskan permintaannya, dan memberitahu seluruh anggota monastik maupun perumahtangga: “Para penerima dan pemegang śīla-śīla Buddhis, mulaï saat ini dan seterusnya, setiap kali datang ke caitya sang dewa, hendaklah menyampaikan syair dedikasi untuknya (memberkatinya) sesuai Dharma.”

然未曾令合掌、敬禮。由此等證定知:世尊於此經中,非許禮敬。
Sesungguhnya [di dalam sūtra bahkan] belum pernah diinstruksikan untuk berañjali atau menyembahnya. Dari bukti-bukti ini dapat kita ketahui dengan pasti: Bhagavan di dalam sūtra ini tidak mengizinkan penyembahan.






 ◎ 隨念故,應禮天者,亦不應理,迷經義故。
Perkataan “karena merupakan [objek meditasi] perenungan, maka kita mesti menyembah dewa” juga tidak dapat dijadikan prinsip, sebab menyimpangkan makna dari sūtra.

謂經意說:
Yakni, maksud sūtra menyebutkan:

應作念言:「彼諸有情成就信等,從此捨命已,得上生四大王天、及餘天眾。我亦成就信等善法,亦應同彼,當得生天。」
Hendaknya lakukan perenungan demikian: “Makhluk-makhluk itu, karena sempurna dalam keyakinan, setelah berakhir usianya di sini, memperoleh kelahiran di antara dewa-dewa Cāturmahārājika dan dewa-dewa lainnya. Jikalau aku sempurna dalam keyakinan dan dharma-dharma baik lainnya, aku pun bisa menyamaï mereka, dapat memperoleh kelahiran di surga.”

令隨念天,與己同德。非令禮敬,名隨念天。
adalah supaya merenungkan dewa dan [mengupayakan] diri sendiri memiliki kebajikan yang sama. Bukanlah penyembahan yang dinamakan perenungan terhadap dewa (devatānusmr̥ti).

故引此經,於彼非證。
Jadi, [prinsip-prinsip] mereka yang ditarik dari sūtra ini tidak terbukti.






 ◎ 不遮故,應禮天者,亦不應理,義已遮故。
Perkataan “karena tiada larangan, maka kita mesti menyembah dewa” juga tidak dapat dijadikan prinsip, sebab makna [sebenarnya] justru dilarang.

經唯許三事供養天神。豈不此定言已遮禮敬?
Sūtra hanya mengizinkan tiga unsur dalam memberikan persembahan kepada dewa dan roh. Bagaimana bisa perkataan yang sudah pasti ini bukan melarang penyembahan?



又准略說:毘柰耶中,亦已義遮禮天神故。
Juga, kalau boleh disebutkan secara singkat: Sebab di dalam Vinaya pun telah terdefinisikan larangan penyembahan dewa dan roh.

謂:
Yakni:

佛曾說略毘柰耶,告諸苾芻:「我隨文句所遮制者,皆不應行;所開許者,汝等應行。若非所遮、非所開許,順穢違淨,皆不應行;順淨違穢,汝等應行。」
Buddha pernah memberitahukan sebuah vinaya singkat kepada para bhikṣu: “Sesuai kalimat rumusannya, ① apa yang Kutetapkan sebagai larangan, semuanya janganlah dijalankan; ② apa yang Kuizinkan, kalian hendaklah menjalankannya. Apa yang tidak Kularang, tetapi juga tidak Kuizinkan, ③ bilamana kondusif kepada kekotoran dan bertentangan dengan kemurnian, semuanya janganlah dijalankan; ④ bilamana kondusif kepada kemurnian dan bertentangan dengan kekotoran, kalian hendaklah menjalankannya.”

既執如來不遮近事禮諸天眾,亦不曾見開許近事禮諸天神。豈不此應第三聚攝?
Sudah kita tangkap bahwa Tathāgata tidak melarang upāsaka untuk menyembah para dewa, tetapi juga tidak pernah ditemukan Beliau mengizinkan upāsaka untuk menyembah para dewa. Mengapa tidak [perihal penyembahan dewa] ini kita masukkan ke kelompok ③?

然諸近事若禮天神,如是所為順穢違淨。理應是:佛所不許行。
Sesungguhnya apabila para upāsaka menyembah dewa dan roh, hal ini kondusif kepada kekotoran dan bertentangan dengan kemurnian. Maka prinsip yang semestinya adalah: tidak diizinkan oleh Buddha untuk dijalankan.

是則還成,佛已遮制。言不遮故,因不極成。
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Buddha telah menetapkan larangan. Perkataan “karena tidak dilarang” tidak cukup menjadi alasan.

— (Tanya:)

何緣禮天順穢違淨?
Apakah musababnya menyembah dewa kondusif kepada kekotoran dan bertentangan dengan kemurnian?

— (Jawab:)

以若近事樂禮天神,便與外道等無差別,愛樂邪徒所作業故。
Sebab apabila upāsaka gemar menyembah dewa dan roh, maka mereka jadi tidak berbeda dengan para non-Buddhis, karena mencintaï segala perbuatan yang dilakukan pengikut-pengikut sesat.

又若近事禮敬天神,則應愛重讚天邪論。便與愛樂敬天邪徒,同稟尸羅,作諸勞侶。由此方便,習近邪師。墮惡趣因,漸堅增盛。從此展轉,乃至多生,亦樂多行如是邪行。
Juga apabila upāsaka menyembah dewa dan roh, mereka diharuskan mencintaï, mengagungkan, memuji risalah sesat dewa-dewa. Kemudian, dengan para pengikut sesat yang mencintaï penyembahan dewa-dewa, mereka akan bersama-sama menerima śīla (disiplin non-Buddhis), dan menjadi rekan sejawat. Dari upaya tersebut, terbiasalah mereka berkarib dengan guru-guru sesat. Penyebab untuk jatuh ke jalur-kelahiran rendah (durgati) lambat-laun bertambah kokoh. Beranjak dari saat itu, hingga banyak kelahiran berikutnya, mereka akan gemar selalu menjalankan praktik sesat seperti ini.

又若禮敬諸邪天神,因此便憎如來聖教。以無不敬邪天神者,聞佛功德,生憤恚心。乍可處中,心無憎愛?
Juga karena menyembah para dewa dan roh-roh sesat, mereka akan membenci ajaran suci Tathāgata. Tidak dapat tidak menyembah dewa dan roh-roh sesat, bilamana mereka mendengar kualitas bajik dari Buddha, timbullah sikap antipati. Bagaimana mungkin berada di tengah [pengikut-pengikut sesat] tanpa membenci sekaligus mencinta?

又於過失禮敬持心,必定怨嫌敬功德者。
Juga terobsesi batinnya pada penyembahan yang salah, tentu mereka mendengki kepada yang menghormat kualitas bajik [dari Buddha].

— (Tanya:)

何緣信奉大力天神,而說名為敬過失者?
Apakah musababnya memuja dengan keyakinan kepada Dewa yang Mahaperkasa disebut kesalahan penyembahan?

— (Jawab:)

以彼禮敬,恒樂於他摧伏、背恩、害、諂誑等、有過失境,為增上故。
Sebab dalam penyembahan itu, mereka senantiasa gemar menaklukkan orang lain, membelakangi budi, mencelakaï, menipu, menjilat, dan hal-hal lainnya di dalam ranah kesalahan, demi menjadi [penyembah] yang lebih utama.

由此唯有無聞愚夫,於彼天神,深生敬愛。
Dari sini [dapat kita lihat] hanya orang-orang bodoh yang tak terpelajar saja yang membangkitkan rasa hormat dan kecintaan mendalam kepada dewa-dewa dan roh-roh tersebut.

若諸賢聖,唯於斷滅、遠離、寂靜、大智悲等、眾德集成諸佛世尊,深生敬愛。
Orang-orang bajik dan suci hanya menghormati dan mencintaï secara mendalam para Buddha-Bhagavan yang sempurna segala kualitasnya, seperti: pemadaman, penyingkiran, kedamaian, kebijaksanaan agung dan belas kasih.

依如是義,故有頌曰:
Berdasarkan pengertian ini, karenanya terdapat syair yang berbunyi:

貧賤有希怖  愚類敬天神
富貴無怖求  智人唯敬佛

Yang hina dina menuntut ketaklukan
hingga golongan yang bodoh menyembah dewanya.
Yang kaya raya tidak menebar teror;
hanya orang-orang bijak itu sendiri yang menghormat Buddha.



又若近事禮敬天神,引多有情,作大衰損。
Juga apabila upāsaka menyembah dewa dan roh, mereka akan menyeret banyak makhluk kepada keruntuhan besar.

謂:
Yakni:

事天者咸作是言:「鄔波索迦深閑佛教,現來禮敬我所事天,必於天神有懷敬信。善哉!我等無倒歸依。」
Mereka yang melayani dewa akan berkata demikian: “Para upāsaka telah benar-benar melengangkan Ajaran Buddha dan sekarang datang menyembah dewa yang kita layani. Tentulah mereka memiliki keyakinan dan penghormatan kepada dewa. Alangkah bagusnya perlindungan kita yang bebas-keliru!”

又諸世間樂觀察者,推尋佛教,未究其真。覩此便生如是僻執:「佛教應似世間書傳,不能決定辯真義理。乃令如是解佛教人,還來歸依諸天神眾。」
Juga orang-orang di dunia, yang gemar melakukan peninjauan, akan membuat asumsi atas Ajaran Buddha walau belum menelaäh kebenarannya. Melihat perihal ini, timbul prasangka demikian: “Ajaran Buddha patutlah serupa dongeng dalam buku-buku duniawi, tidak mampu membuat pembelaan yang pasti untuk prinsip kebenaran [yang dianutnya]. Bahkan menyebabkan orang-orang ini, yang memahami Ajaran Buddha itu sendiri, berpaling dan datang berlindung kepada para dewa dan roh-roh.”

引如是等無量有情,令增邪執,名大衰損。
Menyeret makhluk-makhluk yang tak terbilang demikian, sehingga bertambah prasangka sesatnya, dinamakan keruntuhan besar.

近事如是禮敬天神,違淨順穢,佛所遮止。故不應言不遮止故
Demikianlah penyembahan dewa-dewa dan roh-roh oleh upāsaka bertentangan dengan kemurnian dan kondusif kepada kekotoran, serta dilarang oleh Buddha. Oleh sebab itu, tidaklah semestinya mengatakan “karena tiada larangan”.



不遮止非應作因。
Juga “karena tiada larangan” tidak patut dijadikan alasan.

如佛不遮苾芻捨戒。以曾無處,佛作是言:「苾芻不應捨所學戒。」
Seperti Buddha sendiri tidak melarang bhikṣu untuk melepas disiplin (lepas jubah). Tidak di satu tempat pun Buddha pernah berkata begini: “Bhikṣu tidak boleh melepas disiplin yang dilatihnya.”

非於捨戒佛曾不遮,則諸苾芻法應捨戒。
Bukan karena Buddha tidak pernah melarang melepas disiplin, lantas bagi para bhikṣu hukumnya wajib untuk melepas disiplin.

故不應說:「鄔波索迦應禮天神,佛不遮故。」
Oleh sebab itu, tidaklah semestinya menyebut: “Karena Buddha tidak melarangnya, upāsaka wajib menyembah dewa dan roh.”






 ◎ 有恩故,應禮天者,亦不應理,聞有怨故。
Perkataan “karena memiliki berkah, maka kita mesti menyembah dewa” juga tidak dapat dijadikan prinsip, sebab konon [dewa juga] memiliki dendam.

傳聞熱、病、老、死等苦,亦有是彼天神所作。不應定說於世有恩
Diceritakan bahwa demam, penyakit, ketuaan, kematian, dan penderitaan lain konon juga diciptakan oleh dewa dan roh tersebut. Maka tidak mesti ia disebut dengan pasti “memiliki berkah terhadap dunia”.



又婆羅門、長者、居士,於苾芻眾,佛說有恩。供給命緣,令無乏故。豈苾芻眾應禮施主?
Juga brāhmaṇa, perumahtangga, kepala keluarga dikatakan oleh Buddha memiliki berkah terhadap para bhikṣu. Pemberian mereka menyokong kehidupan [para bhikṣu] sehingga tiada berkekurangan. Bagaimana bisa para bhikṣu mesti menyembah donatur-donatur?

既不應禮一切有恩,故所立因,有不定失。
Karena tidak mesti bahwa semua yang memiliki berkah disembah, maka alasan yang mereka dirikan ini juga tak pasti dan meleset.



又諸含識,皆悉受用,自業所招諸異熟果。是故!所說所事天神,於世有恩有不成失。
Juga segala yang diterima dan dinikmati semua makhluk semuanya berasal dari karma sendiri, yang mendatangkan buah yang matangnya berbeda-beda. Oleh sebab itu, menyebut “dewa-dewa yang kami layani memiliki berkah terhadap dunia” tidak valid dan meleset!






 ◎ 由此亦破能損故因。
Dari sini, alasan “karena dapat menulahi” juga terpatahkan.

一切有情,皆依自業。說誰有力,能損於誰?
Semua makhluk bersandar pada karmanya sendiri. Sebutkanlah siapa yang memiliki kuasa, dan mampu menulahi siapa?



又彼於他,既能為損,誰有智者愛敬己怨?世有善人,能益他者,諸蒙益者應敬彼人。
Juga apabila ia mampu menulahi orang lain, siapakah yang memiliki kebijaksanaan yang mau menghormati [ia yang seperti] musuh sendiri? Di dunia ini orang-orang baik yang mampu memberi manfaat kepada orang lainlah yang patut dihormati oleh para penerima manfaat.

是諸天神,性多憤恚,恒樂損惱他諸有情。如嫉己怨,不應敬禮。
Para dewa dan roh-roh tersebut tabiatnya pemarah dan pembenci, senantiasa gemar menulahi dan menyusahi makhluk lain. Mereka, yang seperti mencemburui musuhnya sendiri, tidak layak disembah.

故彼所說,成相違因。
Oleh sebab itu, apa yang mereka (para penyembahnya) katakan, menjadi alasan yang kontradiktif.



又見世間歸敬天者,天神於彼有時作衰。亦有有情,不敬天者,天神於彼不能為害。
Juga ditemukan di dunia ini mereka yang berlindung dan menghormati dewa; ada kalanya dewanya membawa keruntuhan baginya. Juga ada makhluk yang tidak menghormati dewa, namun dewa-dewa dan roh-roh tidak mampu mencelakaïnya.

故彼所說,非敬天因。
Oleh sebab itu, apa yang mereka katakan, bukanlah alasan untuk menyembah dewa.



若謂如王,亦不應理。世間依屬,法應爾故。
Lalu jika mereka menganggap [bergantung kepada dewa adalah] seperti kepada raja, hal ini juga tidak dapat dijadikan prinsip. Sebab sebagaimana dépéndensi duniawi, di dalam Dharma semestinya demikian pula.

非諸近事,繫屬天神自是邪徒,相率歸附。
Di luar para upāsaka, dépénden sang dewa ialah pengikut-pengikut sesatnya sendiri, yang bersama-sama tunduk mematuhinya.

世間君主,眾所依投;非出家人,皆應致敬。
Pemimpin duniawi merupakan tempat bergantung warga-warganya; di luar anggota monastik (pravrajita), seluruhnya wajib memberinya hormat.

是故!近事不應敬禮一切天神,理極成立。
Oleh sebab itu, bahwa upāsaka tidak semestinya menyembah segala dewa, cukuplah [beralasan] untuk menjadi prinsip.






CATATAN:

¹ Demikianlah definisi Saṅghabhadra, sesuai pandangan Vaibhāṣika. Saṅghabhadra menulis Nyāyānusāra Śāstra ini sebagai komentar atas syair-syair (kārikā) Abhidharmakośa karangan Vasubandhu sebab siswanya itu membuat auto-komentar (bhāṣya) yang lebih condong kepada pandangan Sautrāntika. Mengenaï perbedaan pandangan Sautrāntika, yang menganggap bahwa seseorang yang menerima Tiga Perlindungan saja sudah berhak disebut upāsaka, lihat di sini.

² Entah dari sūtra mana kutipan ini berasal. Saṅghabhadra memaparkan isinya lebih lanjut pada paragraf-paragraf berikutnya. Di sepanjang Kanon Tionghoa tidak ditemukan sūtra yang menceritakan hal serupa. Sebuah gāthā disinggung dalam jilid 3 Mūlasarvāstivāda Nidāna Muktaka 《根本說一切有部尼陀那目得迦》 (T. vol. 24, № 1452 hlm. 425b) yang barangkali dilatari cerita yang sama:
爾時,世尊為摩揭陀國大臣,婆羅門名曰行雨,略宣法要,說伽他曰:
Pada saat itu, demi membabarkan esensi Dharma secara singkat kepada Brāhmaṇa Varṣākāra, menteri besar Magadha, Bhagavan pun mengucapkan gāthā berikut:
「若正信丈夫  供養諸天眾
 能順大師教  諸佛所稱揚」
“Apabila seseorang dengan keyakinan benar
memberi persembahan kepada para dewa,
ia telah mampu menuruti ajaran sang Guru Agung,
dan akan dipuji oleh para Buddha.”
Akan tetapi, sebagai sebuah antologi lepasan-lepasan vinaya, kelanjutan teks ini hanya membahas aturan kebhikṣuan: para bhikṣu dilarang melakukan pemujaan dewa-dewa, namun juga dilarang meremehkan mereka atau menghancurkan caitya mereka, dst. Aturan yang sama dapat ditemukan pula di akhir “Kṣudraka Dharma”, sebuah skandhaka dalam Mahīśāsaka Vinaya 《彌沙塞部和醯五分律》 (T. vol. 22, № 1421 hlm. 176c).

³ Salah satu dari ṣaḍ anusmr̥tayaḥ.

⁴ Lihat paralelnya, misalnya, di akhir “Bhesajjakkhandhaka” dalam Vinaya Piṭaka Pāli. Keempat hal ini dikenal sebagai Catu Mahāpadesa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar