Powered by Administrator

Translate

Senin, 10 Januari 2022

Mengapa Memegang Śīla-Śīla Buddhis disebut Membalas Budi Buddha?

Balas budi kepada Buddha yang minimal, menurut homili Bodhisattva *Mayūrarāja sebelum ini, adalah dengan memperoleh Keyakinan yang Tak Terhancurkan — menjadi seorang srotāpanna. Membalas secara demikian merupakan persembahan yang terbaik, sejalan dengan pernyataan “Viniścaya Saṅgraha” dari Yogācārabhūmi Śāstra (lihat di sini):

以一切財而興供養,未將為喜;要以正行而興供養,乃生歡喜。
Sebab Ia tidaklah bergembira dipersembahi dengan segala kekayaan material; namun baru bergembira bila dipersembahi, terutama, dengan praktik yang tepat.







Dharmaratna terdiri atas dua unsur: Dharma dan Vinaya (dalam terjemahan lama seringkali 經戒 ‘Sūtra dan Śīla’ digunakan sebagai padanan). Oleh karena itu, ada empat objek yang kepadanya kita pergi berlindung dan keyakinan kita terhadapnya harus kita murnikan, dari waktu ke waktu, hingga tercapai ketakterhancuran.

Dharmaratna juga memiliki dua aspek: sebagai pemotong nafsu dan sebagai keadaan bebas-nafsu. Setelah mengaplikasikan Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu, seseorang akan merealisasi Dharmaratna-sebagai-keadaan-bebas-nafsu. Aplikasi atas Dharmaratna-sebagai-pemotong-nafsu itulah langkah awal kita untuk membalas budi Buddha, yang telah bersusah-payah mengajarkannya. Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha 《阿難問事佛吉凶經》 (versi panjang dari teks yang pernah kita bahas di sini) menyatakan:

念報佛恩,當持經戒,相率以道。道不可不學,經不可不讀,善不可不行。
Seseorang yang merenungkan bagaimana membalas budi Buddha hendaknya memegang Sūtra dan Śīla, menuntun [diri] dengan menjadikannya Jalan. Jalan tidaklah boleh tidak dipelajari, Sūtra tidaklah boleh tidak dibaca, kebaikan tidaklah boleh tidak dipraktikkan.


Dharma (alias “Sūtra”) bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipraktikkan. Di bab terakhir terjemahan lama Lalitavistara 《普曜經》 (T. vol. 3, № 186 hlm. 537–538a) dikatakan:

佛告賢者迦葉、阿難、彌勒,重相囑累:「受之!持之!諷誦學之,令普流布!示其同學及十方人,皆令蒙濟!使不斷絕,展轉相教,展轉相成,使不稽留。三寶不斷,乃報佛恩。」
Buddha memberitahu Āyuṣman Kāśyapa, Ānanda, Maitreya, dan ulang dipercayakannya: “Terimalah ia! Peganglah ia! Lafalkan dan pelajarilah ia supaya tersebar secara universal! Unjukkan kepada rekan sepelajarmu dan orang-orang di sepuluh penjuru, sehingga semua beroleh perbantuan! Agar tidak putus terpotong, bergulirlah ajar-mengajarkan, bergulirlah sukses-mensukseskan, sehingga tidak tertahan. Menyebabkan Triratna tidak terpotong, barulah itu [bisa dinamakan] membalas budi Buddha.”

Bahkan hanya dengan melafalkan Dharma, kita menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Apalagi jika kita mampu membabarkannya kepada makhluk lain sebagaimana nasihat Vimalakīrti 《說無垢稱經》 (T. vol. 14, № 476 hlm. 561c) kepada Maudgalyāyana:

念報佛恩,意樂清淨,法詞善巧,為三寶種永不斷絕,乃應說法。
Dengan merenungkan bagaimana membalas budi Buddha, dengan kecenderungan pikiran yang murni, dengan keterampilan pengungkapan Dharma, demi tidak terpotongnya juriat Triratna selamanya, barulah mesti kaubabarkan Dharma (buddhekṛtajñena, śuddhāśayena, dharmaniruktividhijñena, triratnavaṃśānupacchedāya ca te dharmo deśayitavyaḥ).


Vinaya (alias “Śīla”) juga bukan cuma menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri bila dipegang. Setelah melaksanakan Śīla (Prātimokṣa Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu), seseorang akan merealisasi Śīla (Anāsrava Saṃvara, yang merupakan unsur Dharmaratna dalam aspek keadaan bebas-nafsu). Namun, dengan memegang Śīla, kita secara tidak langsung juga menyebabkan juriat Triratna tidak terpotong. Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa 《大薩遮尼乾子所說經》 yang kita kutip sebelumnya menyatakan:

以戒淨故,不斷佛種,成等正覺;不斷法種,分別法性;不斷僧種,修無為道。以持淨戒相續不斷故,功德無盡。
Dengan Śīla yang murni, juriat Buddha tidak terpotong, yakni pencapaian Pencerahan yang Tepat dan Menyeluruh (samyak-saṃbodhi); juriat Dharma tidak terpotong, yakni diferensiasi hakikat Dharma; juriat Saṅgha tidak terpotong, yakni pengembangan Jalan yang tak terkondisi. Dengan tidak terpotongnya kesinambungan pemegangan Śīla yang murni, jasa-jasa-Nya (Gautama) tiada akhir.

Bahkan hanya dengan menerima dan memegang Śīla, kita sudah melaksanakan amanah Buddha. Tidak sia-sialah Beliau mengajarkan Śīla (dan Sūtra — sebagai dua unsur Dharmaratna dalam aspek pemotong nafsu) karena cita-cita-Nya agar apa yang diajarkan-Nya itu bisa menguntungi makhluk lain sudah tercapai. Apalagi jika kita mampu menerimakan Śīla kepada makhluk lain lagi, maka juriat Buddha benar-benar sinambung terteruskan. Tentunya hal ini hanya dapat kita lakukan kalau Śīla yang kita terima sendiri memang otentis berasal dari Buddha, sebab bagaimana mungkin seseorang mengaku sebagai bagian dari juriat apabila dalam dirinya tidak mengalir darah dari orang yang diaku tersebut!






Sebagai penutup, kita tampilkan dari bab III Brahma Viśeṣacintī Paripṛcchā Sūtra 《思梵天所問經》 (T. vol. 15, № 586 hlm. 37b) kutipan tanya–jawab antara Buddha dengan sang brahma:

「世尊。誰知報佛恩?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang tahu membalas budi Buddha?

佛言:「不斷佛種者。」
Buddha berkata: “Ia yang [menyebabkan] tidak terpotongnya juriat Buddha.”

「世尊。誰能供養佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mempersembahi Buddha?

佛言:「能通達無生際者。」
Buddha berkata: “Ia yang mampu menembus perhinggaan dari yang tak tertimbulkan (sehingga mampu melaksanakan praktik tanpa merasa jemu walaupun berkalpa-kalpa).”

「世尊。誰能親近於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu mengakrabkan diri dengan Buddha?”

佛言:「乃至失命因緣不毀禁者。」
Buddha berkata: “Ia yang, terancam sebab-musabab tertentu, hingga kehilangan nyawa pun tidak merusak aturan (Śīla).”

「世尊。誰能恭敬於佛?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang mampu menghormati Buddha?”

佛言:「善覆六根者。」
Buddha berkata: “Ia yang menyelubungi dengan baik keenam indera.”

「世尊!誰名財富?」
“Ya Bhagavan, siapakah yang dinamakan kaya?”

佛言:「成就七財者。」
Buddha berkata: “Ia yang berhasil memiliki tujuh kekayaan (sapta āryadhana).”

Sabtu, 01 Januari 2022

Sebuah Syair dari 𝘛𝘳𝘪𝘴𝘢𝘮̣𝘷𝘢𝘳𝘢 𝘕𝘪𝘳𝘥𝘦𝘴́𝘢 𝘚𝘶̄𝘵𝘳𝘢


知恩住淨戒  心常樂行捨
捨時心歡喜  菩提不難得

Kenal budi (kr̥tajña) dan berdiam dalam Śīla yang murni,
batin senantiasa gemar melaksanakan pelepasan (tyāga).
Pada saat melepas, batin bersukacita.
Maka Bodhi tidaklah sukar didapat.
—— Trisaṃvara Nirdeśa Sūtra 《大方廣三戒經》
(T. vol. 11, № 311 hlm. 702c)



Berbagai Cara Membalas Budi Buddha

Ada banyak cara membalas budi Buddha. Dalam syair-syair di jilid 3 Mahāmokṣa-diśām-puṣya Kaukr̥tya-pāpaśodhana Sūtra 《大通方廣懺悔滅罪莊嚴成佛經》 (T. vol. 85, № 2871 hlm. 1351b–c) disebutkan sembilan (atau sepuluh jika bentuk negatif yang terakhir kita balik), antara lain:


  1. 出家持禁戒——是名報佛恩。
    Meninggalkan rumah-tangga dan memegang aturan Śīla — itulah yang dinamakan membalas budi Buddha.

  2. 心生清淨信,了知十方佛常住不涅槃,法、僧亦復然——是名報佛恩。
    Membangkitkan keyakinan murni (prasāda) dalam batin, memahami bahwa para Buddha di sepuluh penjuru senantiasa bersemayam tidak [memasuki] Nirvāṇa, Dharma dan Saṅgha pun demikian — itulah ….

  3. 心無分別相,了知一乘道:過去並未來,十方及現在,唯有一佛乘,無二亦無三——是名報佛恩。
    Tiada [menciptakan] karakteristik diskriminatif, memahami Jalan Kendaraan Tunggal: baik di masa lampau, mendatang, sekarang dan di sepuluh penjuru, hanya ada satu Kendaraan Buddha, tiada yang kedua atau ketiga — itulah ….

  4. 心常生信解,皆言:『諸眾生悉有如來性』——是名報佛恩。
    Senantiasa membangkitkan keyakinan karena paham (adhimukti), dan berkata: ‘Semua makhluk seluruhnya memiliki hakikat Ketathāgataan’ — itulah ….

  5. 若修一念善,不求天果報,直向無上道——是名報佛恩。
    Jikalau berlatih kebajikan dalam satu momen pun, tidak mencari akibat berupa pahala surgawi, melainkan mendedikasikannya demi Jalan yang Tiada Tara — itulah ….

  6. 須臾讀是經,敬重佛法僧,孝順供養師——是名報佛恩。
    Setelah sekejap membaca sūtra ini, [mampu] menghormat dan menghargaï Buddha, Dharma, dan Saṅgha, juga berbakti dan mempersembahi guru [spiritual] — itulah ….

  7. 若人捨一財,飲食 及 衣服,普施諸大眾——是名報佛恩。
    Jikalau seseorang melepas sebahagian kekayaan, sandang ataupun pangan, dan mendermakannya secara universal kepada semua makhluk — itulah ….

  8. 於末法中,能化一人須臾聽是經,復勝別供養百億菩薩眾(如是大乘經,諸佛菩薩母);念佛、敬是經、並諸菩薩眾,等心無彼此——是名報佛恩。
    Di masa Akhir Dharma mampu merubah satu orang agar sekejap saja mendengar sūtra ini, akanlah lebih unggul daripada secara khusus mempersembahi kumpulan ratusan keti bodhisattva (sebab sūtra Kendaraan Besar ini ialah ibu para Buddha dan bodhisattva); [jikalau mampu] merenungkan Buddha, menghormati sūtra ini, dan kumpulan para bodhisattva, dengan batin samarata tanpa mempertentangkan — itulah ….

  9. 於末法中,若欲報佛恩,一念在禪定,勝活三千界滿中一切人。(謗禪壞亂眾,如殺三千界滿中一切人 及 諸眾生類;謗禪壞亂眾,其罪亦如是)。
    Di masa Akhir Dharma, jikalau hendak membalas budi Buddha, satu momen saja berada dalam dhyāna-samādhi, dan akan lebih unggul daripada menghidupi trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia. (Memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna adalah bagaikan membunuh trisahasra[-mahāsahasra]-lokadhātu yang dipenuhi segala manusia dan berbagai jenis makhluk; sedemikianlah dosa dari memfitnah dan mengacaukan mereka yang berada dalam dhyāna.)

  10. 若人見修善,誹謗不信受,斷壞三寶種——不名報佛恩。
    Jikalau seseorang melihat [Dharma] pengembangan kebaikan, lalu memfitnah, tidak meyakini dan menerimanya, sehingga mengakibatkan terpotongnya juriat Tiga Permata (triratnavaṃśa upaccheda) — itu tidaklah dinamakan membalas budi Buddha.
    (Dinamakan membalas budi jika sebaliknya.)

BALASLAH BUDI SANG BUDDHA

8 bodhisattvas mandala

時,八大菩薩白佛言:「云何是報佛恩?」
Kalakian kedelapan Bodhisattva berkata kepada Buddha: “Bagaimanakah membalas budi Buddha?”

佛言:「咸得成佛已,須廣度有情,不得住寂,自受寂樂。」
Buddha berkata: “Setelah [kalian] semua menjadi Buddha, perlulah secara ekstensif menyelamatkan semua makhluk; jangan berdiam dalam Kedamaian, menikmati sendiri kebahagiaan Kedamaian.”

—— *Amr̥takuṇḍalī Jvāloṣṇīṣa Sūtra
《大妙金剛大甘露軍拏利焰鬘熾盛佛頂經》
(T. vol 19, № 965 hlm. 342a)


Setelah terakhir kali kita lihat bagaimana orang yang kenal budi dan tahu membalas budi (kr̥tajña-kr̥tavedin) dipujikan Buddha, maka yang menjadi pertanyaan sekarang adalah caranya. Budi Buddha sukar dibalas karena begitu besar dan banyak. Dalam kutipan di atas Buddha menjawab delapan Bodhisattva bahwa untuk membalas budi-Nya adalah dengan meraih Kebuddhaan, sama seperti diri-Nya, demi menyelamatkan semua makhluk.

Kita teringat akan syair yang biasa didoakan dalam ibadat pagi, yang bersumber dari pujian Ānanda di akhir jilid 3 Śūraṅgama Sūtra 《大佛頂首楞嚴經》 (T. vol. 19, № 945 hlm. 119b):

「願今得果成寶王  還度如是恒沙眾
 將此深心奉塵剎  是則名為報佛恩
 伏請世尊為證明  五濁惡世誓先入
 如一眾生未成佛  終不於此取泥洹」

 “Semoga kini kuperoleh Buah dan menjadi Raja Permata.
 Kembali, ’kan kuselamatkan makhluk yang bagaikan pasir Gāṅga.
 Biarlah batin mendalam ini kuhaturkan bagi (Buddha)kṣetra sebanyak debu.
 Inilah yang dinamakan membalas budi Buddha.

 Dengan tunduk kuundang Bhagavan sebagai saksi:
 ke dunia yang merosot dengan lima kekeruhan ’ku berkomitmen memasukinya dahulu.
 Jikalau satu makhluknya pun belum mencapai Kebuddhaan,
 selamanya di sini takkan kuambil [kedamaian] Nirvāṇa.”

Menyelamatkan semua makhluk bahkan hanya merupakan cara membalas budi pada tataran fenomenal sebab, pada tataran nomenal, penyelamat, keselamatan, dan yang diselamatkan hakikatnya adalah kosong. *Cittabhūmi-parīkṣā Sūtra 《大乘本生心地觀經》 (T. vol. 3, № 159 hlm. 293c) mengatakan “menginsafi kekosongan ketiga cakra demi membalas budi Buddha” (悟三輪空以報佛恩).


Apabila pernyataan di atas terlalu mengawang-awang, maka teks lain mengatakan:

「舍利弗。唯有二人能報佛恩。何等為二?
“Śāriputra, hanya ada dua pribadi yang mampu membalas budi Buddha. Apakah keduanya itu?

一者、盡漏;
1. Yang mengakhiri kebocoran batin;

二者、發阿耨多羅三藐三菩提心。
2. Yang membangkitkan batin Anuttara Samyak-saṃbodhi.

舍利弗。是二種人善能供養諸佛如來,善報諸佛所有恩惠。」
Śāriputra, kedua jenis pribadi ini dengan baik mampu mempersembahi para Tathāgata, dengan baik membalas budi yang diulurkan para Buddha.”

—— *Sarvadharmāgrasamudgatarāja Sūtra
《諸法勇王經》
(T. vol 17, № 822 hlm. 849b)

Jikalau mencapai Kebuddhaan masih di luar jangkauan pemikiran kita, maka yang lebih rendah adalah dengan mengakhiri kebocoran batin (kṣīṇāsrava), yakni: menjadi arhat. Atau, seperti homili Bodhisattva *Mayūrarāja dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra sebelumnya, untuk membalas budi Buddha minimal kita memiliki Keyakinan yang Tak Terhancurkan (abhedya prasāda).

Keyakinan yang Tak Terhancurkan hanya dimiliki oleh seorang yang, minimal, mencapai Srotāpatti¹. Salah satu unsur dari Keyakinan yang Tak Terhancurkan adalah keyakinan akan “Śīla yang dicintaï para suci” (ārya-kāntaiḥ śīlaiḥ). Śīla manakah yang dicintaï para suci? Yakni: Anāsrava Saṃvara yang bersifat adiduniawi.

Anāsrava Saṃvara dapat tercapai dengan berlatih Prātimokṣa Saṃvara, yang meliputi disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī hingga disiplin upāsaka/upāsikā. Prātimokṣa Saṃvara, yang bersifat duniawi, mampu menjadi sebab bagi yang adiduniawi². Prātimokṣa Saṃvara sesungguhnya adalah Dharma-nya para suci, namun diberlakukan untuk makhluk biasa sebab dapat menata jalan menuju Kebebasan³. Karenanya ia disebut pengarah Pembebasan.






CATATAN:

¹ Lihat Sūtra tentang Empat Dharma.

² Menurut Vinaya Mātr̥kā, etimologi lama (dalam suatu dialek Prakerta) prātimokṣa berasal dari kata pramukha dengan infiks -ādi-, dan ditafsirkan sebagai ‘perintis kepada yang terunggul’ (yakni: yang adiduniawi).

³ Penjelasan Vinayācārya Tao-hsüan.

Minggu, 19 Desember 2021

Tahu Membalas Budi merupakan Permata yang Sukar Didapat (2)

Menyambung posting sebelumnya, kali ini diberikan contoh versi yang tergolong kelompok kedua, dari “Kṣudraka Vastu” pada Mūlasarvāstivāda Vinaya. Urut-urutan lima hal yang jarang ada di sini tidak sama persis dengan yang termuat dalam “Bhaiṣajya Vastu”, meskipun kedua skandhaka ini sesungguhnya merupakan bagian dari Vinaya Piṭaka satu mazhab yang sama. Istilah kr̥tajña-kr̥tavedin ‘kenal budi dan tahu budi’ ditraduksi oleh sang penerjemah, I-tsing, hampir-hampir harfiah sebagai 知恩報恩 (‘tahu budi dan membalas budi’), dan menjadi begitu populer di kemudian hari.



zhi en bao en 知恩報恩



栗㚲毘子既至林所,便即下車,徒步而進,詣世尊所,頂禮雙足,退坐一面,欲聽妙法。世尊為說示教利喜,各令慶悅。
Sesudah para putra Licchavi tiba di hutan itu, maka turunlah mereka dari keretanya, kemudian berjalan kaki melangkah maju, menghampiri tempat Buddha, bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, lalu undur berduduk ke satu sisi, hendak menyimak akan Saddharma. Bhagavan pun membabar, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, sehingga masing-masing kesenangan.



爾時,會中有一婆羅門名曰黃髮摩納婆,從座而起,整衣合掌,白佛言:「世尊。我今樂欲隨喜讚歎!」
Pada saat itu di tengah-tengah persamuhan itu adalah seorang brāhmaṇa bernama Māṇava Rambut Kuning yang bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Ya Bhagavan, kini aku bergemar hendak memuji-muji seturut kegembiraanku!”

佛告摩納婆:「隨汝意說!」
Buddha memberitahu sang māṇava: “Seturut pikiranmu, ucapkanlah!”

既蒙佛許,即說頌曰:
Setelah beroleh izin Buddha, maka diucapkannya syair:

「大王身持寶裝甲  今為國主獲善利
 有佛現生於此處  名稱高遠若須彌
 如白蓮華處池中  於夜開敷散芬馥
 如日流暉照空界  光明遍滿於世間
 當觀如來智慧力  如大明炬照昏冥
 常為人天作智眼  諸來見者皆調伏」

“Sang Raja Agung [Aṅgīrasa] berbaju zirah pusaka pada tubuh-Nya
demi penguasa negeri [Magādha], agar ia beroleh keuntungan baik.
Ada Buddha yang lahir sekarang di tempat ini,
yang kemasyhuran nama-Nya tinggi dan jauh bagai Sumeru.

Bagai bunga seroja putih bertempat di tengah kolam,
yang mekar terbuka pada malam, menyebarkan semerbak.
Bagai mentari beredar memancarkan terik di wilayah angkasa,
terang cahaya-Nya merata memenuhi dunia.

Pandanglah kekuatan kebijaksanaan Tathāgata,
yang bagai suluh terang berpancar di kegelapan senja,
yang bagi dewa dan manusia senantiasa menjadi mata pemahaman,
sehingga semua yang datang melihatnya pun terjinakkan.”



時,諸栗㚲毘聞是說已,同聲讚言:「大摩納婆。善說斯語!」
Kalakian, setelah para Licchavi mendengar ucapan ini, berpadu suara mereka memujinya: “Ya māṇava yang agung, baik sekali kauucapkan perkataan ini!”]

是時,會中有五百栗㚲毘子,各脫上衣,持施黃髮
Tatkala itu di tengah-tengah persamuhan adalah lima ratus putra Licchavi yang masing-masing melepas jubah atasnya, memegang, dan memberikannya kepada Rambut Kuning.

世尊復為大眾說法,示教利喜,默然而住。
Bhagavan pun, demi persamuhan besar itu, [sekali] lagi membabarkan Dharma, mengunjukkan ajaran-Nya yang menguntungkan dan menggembirakan, kemudian senyap berdiam.



時,諸栗㚲毘子各從座起,整衣合掌,而白佛言:「唯願世尊哀愍我等:與諸苾芻,明日城內受我微供!」
Kalakian para putra Licchavi masing-masing bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya, dan berkata kepada Buddha: “Berkenanlah kiranya Bhagavan mengibaï kami sekalian: bersama para bhikṣu esok hari di dalam kota menerima persembahan sederhana kami!”

佛言:「我與苾芻已許菴沒羅女明日就食。」
Buddha berkata: “Aku bersama para bhikṣu telah meluluskan Āmrapālī besok menjamu makan.”

白言:「大德。我有所失不如彼女,彼有智慧先請世尊。我等不能及時親覲、恭敬、禮拜,我於後時當興供養。」
Kata mereka: “Bhadanta, kami memiliki kecerobohan, tidak seperti wanita itu; dia memiliki kebijaksanaan sehingga terlebih dahulu mengundang Bhagavan. Kami tidak mampu tepat waktu beranjangsana, menghormat, dan bersalam sembah. Di kemudian waktu [lain] kami tentu akan mengadakan persembahan.”

佛言:「甚善!」
Buddha berkata: “Alangkah baiknya!”

聞佛讚已,情懷歡喜,頂禮佛足,奉辭而去。
Setelah mereka dengar pujian Buddha, maka tersimpanlah sukacita dalam emosinya. Lalu bernamaskāralah mereka menyembah kaki Buddha, berpamitan, dan pergi.



時,摩納婆見彼諸人辭佛去後,少時而住,即從座起,整衣合掌,白佛言:「大德。彼五百人聞我讚佛,同聲慶喜。為妙語故,各持一衣,來施於我。我持奉佛,唯願慈悲哀愍納受!」
Kalakian, sesudah melihat orang-orang itu berpamitan kepada Buddha dan pergi, sang māṇava, yang tinggal sementara waktu lagi, bangkit dari tempat duduknya, merapikan jubahnya dan berañjali, lalu berkata kepada Buddha: “Bhadanta, kelimaratus orang itu mendengarku memuji Buddha dan berpadu suara kesenangan. Oleh karena ucapan yang menakjubkan, masing-masing memegang sehelai jubah, dan datang memberikannya kepadaku. Aku memegang dan menghaturkannya untuk Buddha; berkenanlah kiranya, demi kasih–sayang-Mu, mengibaï kami menerimanya!”



世尊為受,告言:「摩納婆。若如來、應、正等覺出現世間,有五希有事亦現於世。云何為五?
Bhagavan menerimanya dan memberitahu: “Māṇava, jikalau seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini, ada lima hal yang jarang ada yang juga akan muncul. Apakah kelimanya itu?

謂:
Yakni:

於世間若有大師如來、應、正等覺、明行圓滿、善逝、世間解、無上士、調御丈夫、天人師、佛、世尊出現於世,凡所說法初中後善,文義巧妙,純一圓滿,清淨鮮白梵行之相。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第一希有。
Di dunia ini jikalau ada sang Guru Agung — Yang Datang Demikian, Yang Layak, Yang Mencapai Pencerahan Menyeluruh yang Tepat, Yang Penuh Sempurna Pengetahuan dan Tindakannya, Yang Pergi dengan Baik, Pengenal Segenap Alam, Yang Tiada Taranya, Sais Penjinak Insan, Guru Para Dewa dan Manusia, Buddha, Yang Dimuliakan Dunia — yang muncul, maka setiap Dharma yang dibabarkan-Nya akan baik di awal (ādikalyāṇa), pertengahan (madhyakalyāṇa), dan akhir (paryavasānakalyāṇa); indah dalam bahasa (suvyañjana) maupun arti (svartha); unik satu-satunya (kevala) dan penuh sempurna (paripūrṇa); berkarakeristik kehidupan kudus (brahmacarya) yang bersih-jernih (pariśuddha) dan putih-segar (paryavadāta). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada pertama apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有聽聞如是妙法,能善作意一心審諦,攝斂諸根,思念觀察。當知!此是如來、應、正等覺出現世間第二希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang mendengar dan menyimak Dharma Sejati Tathāgata, lalu mampu mengaplikasikan pikiran (manaskāra) kepada keterpusatan batin dan menyelidiki kebenarannya, merangkum segala indera, merenungkan dan memeriksanya (melakukan refleksi [pratyavekṣaṇa]). Ketahuilah! Inilah hal yang jarang ada kedua apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!其聞法者,情生喜悅獲大善利,於世俗事生厭離心——此是如來、應、正等覺出現世間第三希有。
Selanjutnya lagi, ia yang menyimak Dharma, lalu kegembiraan timbul dalam emosinya karena memperoleh keuntungan baik yang besar, dan terhadap perkara duniawi timbul keceraian karena enggan (saṃvega) — inilah hal yang jarang ada ketiga apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!若有展轉聽聞法者,皆亦漸漸依教奉持——此是如來、應、正等覺出現世間第四希有。
Selanjutnya lagi, jikalau ada yang bergulir mendengar dan menyimak Dharma [demi Dharma], dan terhadap semuanya pun berangsur-angsur menjunjung dan memegang sesuai yang diajarkan — inilah hal yang jarang ada keempat apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!諸聞法者繫念思惟,即能通達甚深妙慧——此是如來、應、正等覺出現世間第五希有。
Selanjutnya lagi, mereka yang, terhadap segala Dharma yang disimak, merenungkan dengan intensif dan mempertimbangkannya sehingga mampu menembus kebijaksanaan menakjubkan yang teramat dalam — inilah hal yang jarang ada kelima apabila seorang Tathāgata, Arhat, Samyak-saṃbuddha muncul di dunia ini.

復次!摩納婆。知恩報恩名大善士:少尚不忘,何況多恩!
Selanjutnya lagi, Māṇava, seseorang yang kenal budi (kr̥tajña) dan [tahu] membalas budi (kr̥tavedin) dinamakan insan baik yang agung (mahā satpuruṣa): budi yang sedikit bahkan tidak dilupakannya, apalagi yang banyak!

是故!汝今應勤修學。」
Oleh karena itu, kini mestilah engkau dengan tekun berlatih dan mengembangkannya!”



摩納婆聞佛說已,歡喜信受,頂禮雙足,辭佛而去。
Setelah sang māṇava mendengar apa yang disabdakan Buddha, dengan sukacita ia meyakini dan menerimanya, lalu bernamaskāra menyembah sepasang kaki-Nya, berpamitan kepada Buddha dan pergi.