Powered by Administrator

Translate

Senin, 31 Agustus 2015

Keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara

Beberapa keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara dibandingkan dua jenis disiplin lainnya (lihat Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》, T. vol. 23, № 1440 hlm. 507c):

  • DARI SEGI WAKTU
若佛出世,得有此戒。禪戒、無漏戒,一切時有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya ada sewaktu munculnya seorang Samyak-saṃbuddha yang menetapkannya, sehingga lebih langka dan tidak terdapat setiap saat sebagaimana halnya Anāsrava Saṃvara (yang selalu dimiliki para anāgāmin di Alam Śuddhāvāsa, misalnya) dan Dhyānaja Saṃvara (di antara dewa-dewa di Rūpadhātu) .
  • DARI RUANG LINGKUP
於一切眾生、非眾生類,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,但於眾生上得。
Penerapan Prātimokṣa Saṃvara lebih lebar cakupannya: terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup. Sedangkan cakupan dua jenis disiplin lainnya hanya terhadap objek hidup.
Dhyānaja dan Anāsrava Saṃvara hanya mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bersifat alami/yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal. Prātimokṣa Saṃvara, di samping mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal (prakr̥ti sāvadya, misalnya: pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan), juga yang bertentangan dengan norma-norma khusus yang ditetapkan Buddha (prajñapti sāvadya, misalnya: minum minuman keras dan aturan puasa).
  • DARI SEGI BATIN
於一切眾生上慈心,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,不以慈心得也。
Prātimokṣa Saṃvara terbentuk melalui paravijñapana, dengan batin yang diliputi kasih-sayang terhadap semua makhluk. Dua jenis disiplin lainnya terbentuk tidak melalui paravijñapana, tanpa batin yang diliputi kasih-sayang, melainkan hanya dengan Pengetahuan yang diperoleh dari konsentrasi meditasi.
Seseorang yang melaksanakan Prātimokṣa Saṃvara berarti telah melakukan dāna yang besar kepada semua makhluk (misalnya: dengan tidak membunuh, ia telah memberikan rasa aman kepada semua makhluk sehingga semua mahluk tidak merasa terancam nyawanya, dsb.). Karena diambil dengan dilandasi kasih-sayang, Prātimokṣa Saṃvara dapat menjadi sebab, bahkan, untuk meraih Kebuddhaan.
  • DARI FUNGSINYA
夫能維持佛法,有七眾在世間,三乘道果,相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。禪、無漏戒不爾。
Ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis ada karena terdapatnya Prātimokṣa Saṃvara. Berkat kesinambungan penerimaan Prātimokṣa Saṃvara, praktek ketiga Kendaraan masih terlaksana hingga hari ini dan, dengan demikian, masih terbukalah kemungkinan realisasi Jalan dan Buah. Fungsi Prātimokṣa Saṃvara dalam menjaga kelestarian Buddhadharma ini tidak dimiliki oleh dua jenis disiplin lainnya.
  • DARI PENERIMANYA
波羅提木叉戒,但佛、佛弟子有。禪戒,外道俱有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya dimiliki oleh Buddha dan siswa-siswi-Nya. Sedangkan Dhyānaja Saṃvara dapat pula dimiliki oleh non-Buddhis. (Non-Buddhis, yang berada di luar Buddhadharma, tidak mungkin memiliki Anāsrava Saṃvara.)





Kamis, 27 Agustus 2015

Cara Perolehan Prātimokṣa Saṃvara

Sehubungan dengan terbentuknya Prātimokṣa Saṃvara melalui paravijñapana, guru-guru vinaya menyebutkan sepuluh cara yang berbeda-beda, sebagaimana dirinci dalam Vinaya Piṭaka mazhab Sarvāstivāda 《十誦律》 (T. vol. 23, № 1435), bhāṇavāra ke-10 (“Vinītaka Adhyāya” 比尼誦, hlm. 410a). Lihat juga pada penjelasan untuk bait 26 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74b).

Sepuluh cara perolehan Prātimokṣa Saṃvara tersebut antara lain:


  1. Timbul dengan sendirinya (svayaṃbhūtva 由自然)

    Ini berlaku hanya bagi Buddha, sang Bhagavan sendiri, yang memperoleh Prātimokṣa Saṃvara tanpa guru.

  2. Dengan memperoleh Kepastian terbebas dari kelahiran kembali (niyāmāvakrānti 由得入正性離生)

    Dialami oleh kelima murid pertama (Ājñata Kauṇḍinya dkk.). Saat pertama kalinya mereka melihat Kebenaran dan memasuki Jalan Kesucian, saat itu pula mereka memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  3. Melalui panggilan “datanglah, Bhikṣu!” (ehibhikṣuka 由佛命善來苾芻)

    Ketika Buddha berseru kepada seseorang “datanglah, Bhikṣu!”, maka pada saat itu juga substansi Śīla terbentuk dalam diri orang tersebut. Rambutnya akan rontok secara ajaib dan pakaiannya bersalin menjadi tiga jubah monastik. Contoh arhat yang memperoleh disiplin secara demikian adalah Yaśa. Terdapat juga kisah-kisah beberapa wanita yang ditahbis menjadi bhikṣuṇī dengan cara ini.

  4. Dengan keyakinan menerima Buddha sebagai Guru Agung (śāstr̥abhyupagama 由信受佛為大師)

    Mahākāśyapa memperoleh disiplin kebhikṣuan dengan mengucapkan sendiri pernyataan bahwa Buddha adalah gurunya — Sewaktu ia menghormati dewa-dewa, patung-patung para dewa tersebut hancur berkeping-keping. Ia tidak berani memberi salam kepada Buddha karena khawatir tubuh Beliau pun akan hancur berkeping-keping. Namun, Buddha memberi isyarat agar ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dan, ternyata, Buddha tidak terluka sedikit juga. Maka Mahākāśyapa pun berkata: “Dialah guruku (ayaṃ me śāstā)!”

  5. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terampil (praśnārādhana 由善巧酬答所問)

    Cara ini dialami oleh Bhikṣu Sodāyin. Buddha merasa puas karena ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Beliau ajukan, dan pada saat bersamaan Sodāyin pun memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  6. Dengan menerima delapan aturan berat (gurudharmābhyupagama 由敬受八尊重法)

    Khusus berlaku bagi bhikṣuṇī pertama, Mahāprajāpatī Gautamī. Saat ia bersedia menerima delapan aturan berat (gurudharma), saat itu pula substansi Śīla bhikṣuṇī terbentuk dalam dirinya.

  7. Melalui utusan (dūta 由遣使)

    Cara ini dialami oleh Ardhakāśī, seorang wanita yang kecantikannya seberharga setengah Negeri Kāśi. Banyak pria yang tergila-gila kepadanya dan ingin melamarnya. Namun, Ardhakāśī lebih suka meninggalkan rumah-tangga. Untuk menghindari kejaran mereka, ia melarikan diri ke taman kerajaan. Para penggemarnya bersepakat: “Para bhikṣuṇī berada di bawah perlindungan kerajaan; jika kita mengganggu seorang bhikṣuṇī, tentu kita akan mendapat hukuman raja. Jangan sampai Ardhakāśī pergi untuk ditahbiskan. Begitu ia keluar taman, marilah kita segera menculiknya.” Mengetahui hal ini, maka Buddha mengutus seorang bhikṣuṇī untuk mewakilinya memohon penahbisan dari saṅgha. Ardhakāśī melakukan segala komunikasi dengan saṅgha dalam penahbisannya, melalui perantaraan utusan tersebut.

    (Lihat kisahnya dalam skandhaka terakhir dari Sarvāstivāda Vinaya, “Kṣudraka Dharma” 《十誦律·雜法》 [T. vol. 23, № 1435 hlm. 295b]. Untuk perolehan Prātimokṣa Saṃvara dengan cara ini, Abhidharmakośa Bhāṣya akan tetapi memberikan contoh kasus Bhikṣuṇī Dharmadinnā.)

  8. Dengan mengulangi tiga kali pernyataan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha (śaraṇagamanaṃ-traivācika 由三說歸佛法僧)

    Merupakan cara yang mula-mula ditetapkan Buddha bagi para bhikṣu dalam memberikan penahbisan. Seseorang yang ingin meninggalkan rumah-tangga dapat memohon seorang bhikṣu lain menjadi guru. Gurunya itu akan mengajarinya rumusan Tiga Perlindungan. Pada saat si pemohon selesai mengulangi tiga kali, maka saat itu pula substansi Śīla bhikṣu ia peroleh. Ini serupa dengan cara penerimaan pengikut-pengikut awam menjadi upāsaka/upāsikā. Pada saat seorang awam selesai mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diajarkan gurunya, maka saat itu pula disiplin upāsaka/upāsikā terbentuk dalam dirinya. Penahbisan bhikṣu dengan cara ini diizinkan beberapa saat lamanya, hingga dilarang kembali oleh Buddha dan diganti dengan cara penahbisan di bawah.

  9. Melalui saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang (daśavarga 由十眾)

    Ketika anggota saṅgha semakin banyak, mulaï muncul penyelewengan-penyelewengan. Orang-orang yang seharusnya tidak layak berada di dalam saṅgha malah diterima. Oleh karena itu, prosedur penahbisan pun diperketat. Mengulangi Tiga Perlindungan tidak lagi diizinkan sehingga hanya kita jumpaï dalam pemberian Śīla-Śīla yang lebih rendah. Prosedur baru diperkenalkan, yang disebut jñapti-caturtha karman, di mana seseorang tidak dapat hanya memohon seorang bhikṣu sebagai guru penahbis, tetapi harus kepada saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang bhikṣu (tiga guru dan tujuh saksi 三師七證). Inilah cara yang kemudian berlaku untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī, dan berlanjut terus hingga hari ini.

  10. Dengan pemegang vinaya sebagai yang kelima (vinayadharapañcama 由持律為第五人)

    Ini merupakan toleransi untuk cara #9, khusus bagi daerah-daerah di luar Madhyadeśa di mana saṅgha yang ada tidak memenuhi kuorum sepuluh bhikṣu, sehingga diizinkan untuk melakukan penahbisan dengan dihadiri oleh lima bhikṣu saja (tiga guru dan dua saksi 三師二證).


Dari berbagai cara di atas dapat kita lihat bahwa perolehan Prātimokṣa Saṃvara tidak selalu melibatkan aspek vijñapti, misalnya yang diperoleh tanpa guru oleh Buddha sendiri. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa Buddha pun melalui aspek vijñapti, yakni saat Beliau bertekad di bawah pohon Bodhi: “Aku tidak akan bangkit sebelum mengakhiri segala kebocoran-batin,” dan kemudian duduk. Di sini kāya vijñapti dan vāk vijñapti telah terbentuk. Saat Beliau benar-benar mengakhiri segala kebocoran-batin, maka saat itu pula Prātimokṣa Saṃvara terbentuk dalam diri-Nya.

Begitu juga Prātimokṣa Saṃvara yang diperoleh kelima murid pertama (Pañcavargika) dengan memasuki Jalan adalah tidak melibatkan aspek vijñapti. Namun, ada yang berpendapat bahwa terdapat aspek vijñapti dalam kesediaan mereka duduk dan mendengarkan khotbah Buddha. Selesai khotbah itu disampaikan, saat itu pula mereka melihat Kebenaran, dan terbentuklah Prātimokṣa Saṃvara dalam diri mereka.

Kamis, 06 Agustus 2015

Jenis-Jenis Disiplin: Pratimokṣa Saṃvara, Dhyānaja Saṃvara, dan Anāsrava Saṃvara

Kita telah mengetahui bahwa avijñapti dibedakan menjadi tiga jenis, di mana salah satunya adalah saṃvara avijñapti, yang merupakan substansi Śīla yang tak termanifestasi. Pandangan-pandangan berbeda dari berbagai mazhab mengenaï substansi Śīla pun telah diuraikan. Sekarang kita akan meninjau saṃvara, yang dalam bahasa Cina ditafsirkan sebagai 律儀 ‘disiplin’, 禁戒 ‘aturan-pantangan’, atau 護 ‘penjaga’.

Penerjemah I-tsing, dalam Mūlasarvāstivāda Ekaśatakarman 《根本說一切有部百一羯磨》 (T. vol. 24, № 1453 hlm. 455c), memberikan catatan untuk kata majemuk lü-i-hu 律儀護 (‘penjaga disipliner’) yang ia gunakan:

此言【護】者,梵云「三跋羅」,譯為擁護。由受歸戒護,使不落三塗。
Istilah hu di sini bahasa Sanskertanya ialah saṃvara, yang terjemahan harfiahnya ‘menjaga/ mengekang’. Penjagaan Śīla yang berasal dari penerimaan [Tiga] Perlindungan akan mencegah kita agar tidak terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.

舊云【律儀】,乃當義譯,云是律法儀式。若但云【護】,恐學者未詳,故兩俱存。
Istilah lama lü-i merupakan terjemahan bebas sesuai makna teknisnya, yakni ‘tatatertib hukum perundangan’. Apabila hanya diterjemahkan sebagai hu, saya khawatir orang yang mempelajari [tulisan saya] tak dapat menangkapnya. Oleh karena itu, kedua istilah ini saya pertahankan.

《明了論》已譯為【護】,即是戒體無表色也。
Dalam Ming-liao lun (judul sebuah śāstra terjemahan Paramārtha yang membahas vinaya mazhab Saṃmitīya, T. № 1461) istilah hu [sebenarnya] telah digunakan juga untuk merujuk avijñapti-rūpa, yakni substansi Śīla yang tak termanifestasi.


Pada posting terdahulu, yang kita bahas secara garis besar sebenarnya hanya menyinggung tipe pertama dari tiga tipe saṃvara avijñapti. Adapun ketiga tipe saṃvara avijñapti tersebut adalah:


———————————————————————————
1.1 PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 別解脫律儀
———————————————————————————

Dalam bahasa Cina kata prātimokṣa ditafsirkan sebagai 別解脫 ‘pembebasan khusus’. PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ adalah tipe disiplin khusus yang dapat membebaskan dari kekotoran batin dan karma buruk, yang berbeda dengan dua jenis disiplin yang akan diterangkan selanjutnya di bawah (ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ). PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ meliputi disiplin untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: disiplin bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, dan upāsikā (kadang-kadang disiplin pelaksana upavāsa [upavāsastha] ditambahkan sebagai yang kedelapan).

Prātimokṣa juga ditafsirkan sebagai 處處解脫 ‘pembebasan segi demi segi’ karena mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan jasmani dan ucapan, khususnya yang dilakukan melalui masing-masing dari ketujuh jalan-karma. (Tentang karmapatha lihat di sini.) Dengan memegang satu śīla, akan diperolehlah kebebasan dalam satu segi. Dengan memegang lengkap semua śīla, akan diperolehlah kebebasan lengkap dalam semua segi.

Prātimokṣa pada akhirnya bukan hanya membawa pembebasan dalam hal yang terkondisi (saṃskr̥ta) saja, melainkan juga Buah Kebebasan yang tak terkondisi (asaṃskr̥ta). Maka tafsiran lain untuk prātimokṣa ialah 隨順解脫 ‘pengarah Pembebasan’. Dalam Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 (T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a) dikatakan:

戒是正順解脫之本,故名「波羅提木叉」。
Śīla adalah dasar yang tepat untuk menuju (prāti) ke arah Pembebasan (mokṣa). Oleh sebab itu, maka disebut prātimokṣa.

Āᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi (kāmāvacara). Disiplin ini diterima berkat penunjukan orang lain (paravijñapana 由他教), yakni dari saṅgha atau dari seorang guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid, melalui upacara transmisi secara formal.

Avijñapti yang terbentuk akan tetap tinggal saat seseorang memiliki batin yang berbeda (anyacitta 異心) atupun saat tidak sadar (acittaka 無心). Jadi, walaupun seseorang memiliki buah-pikir jahat atau netral, disiplinnya tidak serta-merta menjadi rontok. Begitu pula saat ia tidak sadar, misalnya sewaktu tidur atau pingsan, ia tidak kehilangan disiplinnya. Avijñapti tersebut akan berlangsung seumur hidupnya (khusus untuk disiplin upavāsastha: sehari-semalam) atau sampai ia melepas Śīla.


———————————————————————————
1.2 DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 靜慮律儀
———————————————————————————

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya konsentrasi meditasi 定共戒.

Sementara ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi, ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang berkenaan dengan Ranah Dhyāna Bermateri (rūpāvacara). Dhyāna Bermateri dapat dibagi menjadi empat tingkatan Dhyāna Pokok (mauladhyāna 根本靜慮). Masing-masing tingkatan didahului oleh sebuah konsentrasi Pendekatan (sāmantaka 近分) yang menjadi tetangganya. Selain itu, terdapat “dhyāna kelima” di antara Dhyāna I dengan II (dhyānāntara 靜慮中間) di mana vitarka telah ditanggalkan, namun vicāra masih ada. Jadi, secara rinci ada sembilan jenjang Dhyāna Bermateri.

DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ timbul dalam pencapaian keempat Dhyāna Pokok (samāpatti), keempat konsentrasi Pendekatan, maupun Dhyānāntara. Seseorang dengan buah-pikir baik — tetapi masih bersifat duniawi/disertaï kebocoran (sāsrava)¹ — yang memasuki, minimal, konsentrasi Pendekatan pra-Dhyāna I (disebut anāgamya 未至), dapat memiliki disiplin ini. Avijñapti yang terbentuk berkat meditasinya akan mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.

Berbeda dengan ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang tidak hilang karena perubahan (saat buah-pikir pemiliknya menjadi jahat/netral, atau saat tidak sadar), ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sangat terpengaruh oleh keadaan batin (cittānuvartin 隨心轉). DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ akan hilang saat pemiliknya terjatuh dari konsentrasinya atau, khusus dewa-dewa di Rūpadhātu, saat mengalami kematian dan terlahir kembali di alam surga yang lebih rendah/lebih tinggi.


——————————————————————————— 
1.3 AɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀
——————————————————————————— 

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya tingkat-tingkat kesucian 道共戒.

Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dimiliki oleh para ārya-pudgala, baik yang masih harus berlatih (śaikṣa) maupun yang tidak perlu berlatih lagi (aśaikṣa). Disiplin ini diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri — dalam keempat Mauladhyāna, Dhyānāntara, ataupun Anāgamya — oleh mereka dengan buah-pikir bebas-kebocoran (anāsravacitta), yakni buah-pikir yang membentuk Jalan. Seseorang yang, minimal, mencapai Jalan Penglihatan (darśana mārga 見道) dan merealisasi pengetahuan langsung tentang Empat Kebenaran Mulia untuk pertama kalinya, akan memiliki disiplin ini sebagai srotāpatti-pratipannaka.

Sebagaimana ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang sangat terpengaruh oleh keadaan batin, ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ juga akan hilang saat pemiliknya merealisasi Buah dari Jalan yang selama ini ia arah (misalnya: dari Srotāpatti-pratipanna lalu merealisasi Srotāpatti-phala) atau, masih dalam tingkatan yang sama, saat terjadi penyempurnaan indera dari lemah menjadi tajam (misalnya: seorang srotāpatti-pratipannaka beralih dari śraddhānusārin menjadi dharmānusārin). Disipin ini juga akan hilang jika pemiliknya, sebaliknya, terjatuh dari konsentrasi bebas-kebocoran.

Di alam manusia seseorang dapat memiliki ketiga tipe disiplin. Sedangkan di surga-surga Alam Nafsu Inderawi dan Alam Dhyāna Bermateri terdapat dua jenis disiplin: ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ. Di Alam Dhyāna Tanpa-materi disiplin tidak hadir².






CATATAN:

¹ Demikian menurut Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558). Pada penjelasan untuk bait 18 dari bab IV (hlm. 73b), Vasubandhu menggolongkan semua disiplin yang diperoleh dalam Anāgamya maupun Mauladhyāna sebagai ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ bila masih disertaï kebocoran, dan sebagai ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ bila bebas-kebocoran.

Akan tetapi, Dharmatrāta, dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 891c) karyanya, memberikan definisi yang berbeda. DʜʏĀɴᴀᴊᴀ hanya mencakup semua disiplin yang diperoleh dalam Mauladhyāna, entah yang disertaï kebocoran ataupun bebas-kebocoran. Sedangkan yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara, bila masih disertaï kebocoran, tidak digolongkan sebagai disiplin. Dengan kata lain, substansi moralitas yang terbentuk bukanlah saṃvara avijñapti, melainkan naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti.

Untuk lebih jelasnya, hal ini dinyatakan dalam empat kombinasi:

a.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀非無漏者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
b.  Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀非禪者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.
c.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sekaligus ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 亦禪無漏律儀者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
d.  Bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ bukan pula ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 非禪無漏律儀者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.

² Karena disiplin (saṃvara) merupakan sebuah tipe avijñapti; sedangkan avijñapti sendiri digolongkan sebagai materi (rūpa) dalam Abhidharma. Menurut kaum Vaibhāṣika, ārya-pudgala yang terlahir di Ārūpyadhātu mempunyaï pemilikan (samanvāgama) atas disiplin, tetapi hanya berupa potensi, karena disiplin tidak maujud (na saṃmukhībhāva) di sana.

Pendapat berbeda dipegang oleh Bhadanta Harivarman dalam Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646). Dalam sistém Satyasiddhi, karena avijñapti digolongkan sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra, yang bukan merupakan materi ataupun batin, maka avijñapti hadir pula di Ārūpyadhātu. Jadi, dewa-dewa di sana pun memiliki saṃvara. Lebih lanjut, Harivarman melakukan re-klasifikasi atas saṃvara avijñapti (lihat bab CXII, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 七善律儀品) menjadi:

a.  Śīʟᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 戒律儀
Meliputi segala disiplin yang terbentuk berkat paravijñapana, baik bagi kalangan Buddhis maupun non-Buddhis. Dalam sistém Abhidharma selama ini, sebagai lawan kontra-disiplin (asaṃvara), pengadopsian moralitas digolongkan ke dalam sebuah tipe saṃvara avijñapti, yaïtu ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ. Akan tetapi, hanya moralitas Buddhislah yang dimasukkan ke sana. Seketat apa pun moralitas yang diadopsi oleh non-Buddhis, avijñapti yang terbentuk hanya digolongkan sebagai naivasaṃvara-nāsaṃvara. Padahal, mereka mungkin membangkitkan tekad dengan cara yang hampir mirip dengan Buddhis. Oleh sebab itu, sepatutnyalah tipe saṃvara avijñapti ini diklasifikasi-ulang dan mencakup pula non-ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ.
b.  DʜʏĀɴᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀
Meliputi ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dalam klasifikasi Abhidharma. Kedua tipe disiplin ini pada hakikatnya adalah sama karena sama-sama diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri. Yang membedakannya hanyalah: yang satu disertaï kebocoran, yang lainnya bebas-kebocoran.
c.  SᴀᴍĀᴘᴀᴛᴛɪ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 定律儀
Merupakan disiplin yang timbul dalam pencapaian Dhyāna Tanpa-Materi (ārūpya samāpatti). Ini sudah diterangkan di atas: karena dalam sistém Satyasiddhi avijñapti merupakan sebuah citta-viprayukta saṃskāra sehingga saṃvara avijñapti pun terdapat di Ārūpyadhātu.

Penggolongan avijnapti dalam Abhidharma
Jenis-jenis avijñapti menurut sistém Vaibhāṣika


Penggolongan avijnapti dalam Satyasiddhi Sastra
Jenis-jenis avijñapti menurut Bhadanta Harivarman

Rabu, 03 September 2014

Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha

Ananda's Question
ertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha (A-nan wên shih-fo chi-hsiung ching 《阿難問事佛吉凶經》, T. № 492) merupakan judul sebuah teks yang populer dari masa awal penerjemahan sūtra-sūtra di Tiongkok. Teks ini untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai terjemahan An Shih-kao 安世高 dalam jilid 4 katalog Li-tai San-pao chi 《歷代三寶紀》 (‘Tawarikh Sejarah Triratna Sepanjang Dinasti-Dinasti’, T. vol. 49, № 2034) karya Fei Chang-fang 費長房. Sebab-sebab perbedaan di antara mereka yang melayani/mengikuti Buddha 事佛 (buddhasevana) diterangkan di sini — karena ada sebagian pengikut Buddha, yang melakukan berbagai kegiatan religius Buddhis, mengalami keberuntungan; sementara itu ada pula sebagian lain yang mengalami ketidakberuntungan.

Pertanyaan Ānanda mengenaï Keberuntungan dan Ketidakberuntungan dalam Melayani Buddha sampai kepada kita dalam dua versi, yang dalam Kanon Taishō dinomori 492A dan 492B. Versi A adalah berdasarkan Tripiṭaka edisi Korea, sedangkan versi B merupakan versi yang lebih umum beredar. Selain itu, terdapat pula dua terjemahan lainnya:
  • Fo-shuo a-nan fên-pieh ching 《佛說阿難分別經》 (‘Sūtra yang Dibabarkan Buddha kepada Ānanda tentang Perbedaan’, T. № 495), yang diterjemahkan oleh Śramaṇa Shih Shêng-chien 釋聖堅 (alias Fa-chien 法堅);
  • serta versi yang lebih singkat, Man-fa ching 《慢法經》 (‘Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma’, T. № 739), oleh Tripiṭakācārya Fa-chü 法炬.

T. № 492A sangat berlainan dengan 492B dalam kata-kata. Keduanya bahkan tampak seperti dua terjemahan berbeda. Versi B justru lebih memiliki kemiripan dengan terjemahan Shêng-chien. Pinjam-meminjam kosakata dari terjemahan yang sudah ada memang acapkali dilakukan oleh berbagai penerjemah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa versi B merupakan terjemahan An Shih-kao yang sebenarnya (yang kosakatanya kemudian dipinjam Shêng-chien). Versi A hanya “penulisan-ulang” daripadanya oleh editor Tripiṭaka Korea. Namun, bisa jadi versi A-lah terjemahan An Shih-kao yang sebenarnya, sedangkan versi B merupakan sebuah salinan unik Fo-shuo a-nan fên-pieh ching yang mengandung variasi di sana-sini (lalu secara salah dianggap sebagai A-nan wên shih-fo chi-hsiung ching).

Karena keterbatasan waktu, kita tidak menyinggung lebih jauh T. № 492. Di bawah ini hanya akan disajikan teks yang lebih pendek, yakni Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma.

Bersandar pada seorang kalyāṇamitra — dalam teks kita disebut guru yang cakap 明師 (secara harfiah: ‘guru penerang’), yakni seorang guru yang memiliki pandangan sesuai Dharma dan pemahaman yang benar tentang segala fenomena dan nomena — merupakan syarat utama bagi mereka yang ingin mendapat keberuntungan. Guru tersebut merupakan penerus kesinambungan ajaran Dharma, yang ortodoksinya harus tidak teragukan. Menerima bimbingan darinya adalah seperti menerima bimbingan dari Buddha. Akan tetapi, ia sendiri harus merupakan seorang praktisi yang hidup “menyelaraskan diri sesuai sūtra-sūtra”, sehingga memiliki realisasi tertentu. Dengan begitu barulah kita dapat menjadikannya inspirasi untuk hidup serupa. Segala kemajuan spiritual dapat berkembang apabila kita dibimbing oleh orang seperti itu. Oleh karenanya, kita harus menimbang-nimbang dahulu kualitas seseorang yang akan kita jadikan guru. Setelah terdapat kecocokan, dan saling mengerti keunggulan dan kelemahan satu sama lain, barulah kita boleh memohon Dharma atau Śīla darinya.

Bagian berikutnya dari teks menerangkan sebab-sebab yang mengakibatkan ketidakberuntungan yang dialami mereka yang juga mengaku sebagai pengikut Buddha, namun belum/tidak menjumpaï guru yang cakap. Kebanyakan orang ikut-ikutan melaksanakan Śīla, entah dengan bertekad sendiri atau mengambilnya dalam sebuah upacara formal. Namun, tanpa penjelasan yang tepat dari seorang guru, mustahil substansi Śīla terbentuk dalam diri mereka. Tanpa substansi Śīla, andaipun mereka bertekad sendiri untuk menjaga moralitas, maka itu hanya menjadi praktik śīla duniawi dan bukan praktik śīla Buddhis. Tanpa adanya substansi Śīla, tidak ada daya yang cukup kuat yang mampu memutus kencenderungan untuk terus berbuat jahat; dan inilah yang menjadi sebab seseorang mengalami ketidakberuntungan.

Sebab lain yang juga mengakibatkan ketidakberuntungan adalah ketidakacuhan terhadap kitab-kitab sūtra (teks-teks Dharma) dan pratimā (gambar/patung Buddha). Sangat disayangkan bahwa banyak orang yang tidak mau menerima teks-teks Dharma — jangankan untuk memuliakannya, bahkan hanya untuk sekadar menyimpannya. Padahal, teks-teks Dharma, apabila dibaca, dapat meluruskan pandangan dan membuka wawasan tentang Buddhadharma selama seseorang belum menemukan guru yang cakap. Tanpa pandangan benar, keyakinannya kepada Triratna mudah goyah; dan ia akan beralih kepada “roh-roh sesat” ketika timbul permasalahan, seperti yang diterangkan seterusnya di bawah.

Kalyana mitra



《慢法經》
Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma
(T. № 739)






西晉 三藏釋法炬 譯
Diterjemahkan oleh Tripiṭakācārya Shih Fa-chü
pada masa dinasti Tsin Barat (290–307)






佛語:「阿難。有人事佛,以後便富貴不衰者。有人事佛,以後衰喪不利者。」
Buddha bersabda: “Ānanda, ada orang yang melayani Buddha dan setelahnya menjadi kaya dan terpandang, tanpa kemunduran. Ada pula orang yang melayani Buddha dan setelahnya mengalami kemunduran, tanpa keuntungan sama sekali.”

阿難問佛:「云何俱事佛,衰利不同?何故得爾?」
Ānanda bertanya kepada Buddha: “Mengapakah mereka yang sama-sama melayani Buddha mengalami kemunduran atau keuntungan yang tidak sama? Apakah sebabnya demikian?”



1. Sebab-Sebab Keberuntungan



佛語:「阿難。有人事佛,當求明師,得了了者,從受戒法。為除諸想,與經相應。
Buddha bersabda: “Ānanda, ada orang yang melayani Buddha yang, sewaktu mencari guru yang cakap, setelah memahami [kelebihan dan kekurangan] satu sama lain, lalu menerima Śīla dan Dharma darinya. Segala pemikirannya ia singkirkan, dan [untuk itu] ia menyelaraskan diri sesuai sūtra-sūtra.

「精進奉行,不失其教。受者不犯,如毛髮者。是人不犯道禁。
“Menjunjung dan mempraktikkan dengan penuh semangat, ia tidak melupakan ajaran [dari gurunya] tersebut. Apa yang diterimanya tidak dilanggarnya, bahkan setipis helaian rambut. Orang ini pun tidak melanggar segala aturan di dalam Jalan.

「常為諸天、善神所侍衛、擁護。所向諧偶,財利百倍,眾人所敬。後當得佛,何況富利耶!如是人輩事佛,為真佛弟子。
“Maka ia akan senantiasa diiringi dan dijaga oleh para dewa dan makhluk halus yang baik. Ke mana pun ia menuju, segalanya akan berjalan lancar; harta dan labanya akan berganda seratus kali lipat; ia akan dihormati oleh semua orang. Di masa mendatang Kebuddhaan niscaya ia peroleh, apalagi cuma kekayaan dan manfaat-manfaat [seperti di atas]! Orang yang melayani Buddha secara demikian sungguh merupakan siswa Buddha yang sejati.



2. Sebab-Sebab Ketidakberuntungan



「又復有人事佛,不值明師。亦無經像,復無禮敬。
“Selain itu, ada pula orang yang melayani Buddha yang tidak menjumpaï guru yang cakap. Tidak ada sūtra atau pratimā [yang ia minati untuk disimpan], tidak pula rasa hormat terhadapnya.

「不知不解,強效人受法戒。無有至信,受戒之後,故復犯眾戒。
“Tidak tahu dan tidak mengerti, ia bersikeras ikut-ikutan orang untuk menerima Śīla dan Dharma. Karena tiada keyakinan yang sungguh-sungguh, sesudah menerima Śīla, ia pun kembali melanggar berbagai śīla.

「心意朦冥猶豫。亦不肯讀經、行道、作福。乍信,乍不信。
“Batinnya diliputi kegelapan dan kebimbangan. Pun tidak sudi ia membaca sūtra, mempraktikkan Jalan, atau melakukan perbuatan berjasa. Sebentar-sebentar ia yakin, sebentar-sebentar tidak yakin.

「復不能念齋日燒香、燃燈、作禮,故復瞋恚,喚呼罵詈,出入咒咀。口初不合,心懷憎嫉,使人殺生。
“Di samping tak mampu mengingat hari-hari upavasatha untuk membakar dupa, menyalakan pelita, atau melakukan penghormatan, ia malahan mengembangkan kebencian, berteriak dan memaki [pada hari-hari tersebut]. Keluar dan masuk, ia mengumpat-umpat. Mulutnya selalu tak bersesuaian dengan hatinya, yang dipenuhi kedengkian dan iri. Kemudian ia menyebabkan orang lain membunuh makhluk hidup.

「眼見經像,無有禮敬之心。若其有經,趣掛著壁;或擲床席之上;或著故衣被,弊篋器中;或以妻子、小兒,不淨手弄之。煙熏屋漏,不復瞻視。亦不燒香、燃燈、向之作禮。與凡經書無異。
“Ketika matanya melihat sūtra atau pratimā, tiadalah batinnya menghormat. Seandainya pun ada sūtra padanya, akan digantungkannya saja di tembok; atau dicampakkannya di atas ranjang atau kursi; atau diletakkannya di antara pakaian-pakaian bekas, di dalam kotak atau wadah yang nista; atau akan dibiarkannya istrinya atau anaknya memain-mainkannya dengan tangan kotor. Terkepuli asap dan tertetesi bocoran atap rumah, takkan ditengoknya lagi [teks Dharma tersebut]. Takkan pula ia membakar dupa, menyalakan pelita, atau melakukan penghormatan kepadanya. Ia akan menganggapnya tidak berbeda dengan buku-buku duniawi biasa.

「善神離之,惡鬼得其便。隨逐不置,因衰病之。
“Maka makhluk-makhluk halus yang baik meninggalkannya; hantu-hantu jahat akan dapat mencelakaïnya. Apabila tiada mempan, [kesehatannya] akan mundur dan menyebabkannya sakit.

「適得疾病,恐怖猶豫,自念言:
“Tatkala mendapatkan penyakit, diliputi kecemasan dan kebimbangan ia merenung sendiri:

『我初事佛,云何故復疾病耶?』
‘Aku selalu melayani Buddha. Mengapakah aku kembali menderita sakit?’

「不能自信,呼使巫媚之師卜問。解除鎮厭無益,遂便禱賽邪神。
“Karena tidak dapat membangkitkan keyakinan diri, dipanggilnyalah dukun dan ahli nujum untuk berkonsultasi. Setelah segala kias penolak bala tidak berhasil, ia pun mulaï berdoa dan menyajikan sesajen kepada roh-roh sesat.

「眾過遂增。妖魅惡鬼,屯守其門。遂便喪衰,死亡不離門戶。
“Berbagai kesalahannya makin bertambah-tambah. Siluman-siluman dan hantu-hantu jahat bergerombol menghampiri pintunya. Menyusul kemunduran [kesehatannya], kematian tidak beranjak dari rumahnya.

「財產衰耗,家室病疾。更相注續,不離床席。命終墮埿犁中,當被考治讁罰,無有歲數。
“Harta bendanya semakin berkurang, keluarganya sakit-sakitan. Walau [perhatian kepadanya] semakin dicurahkan terus, ia tetap tak dapat meninggalkan tempat tidurnya. Setelah kehidupannya berakhir, terjatuhlah ia ke niraya (alam neraka). Ia akan didakwa dan dihukum [untuk waktu yang sangat lama], bukan dalam hitungan tahun lagi.

「是人但坐不能專一;志意猶豫,無所專據。不信佛法,故得其罪,凶衰如是。」
“Orang ini saat duduk pun tidak mampu berfokus; pendiriannya diliputi kebimbangan dan tak dapat dipusatkannya pada apa pun. Karena tidak meyakini Buddhadharma, demikianlah ketidakberuntungan dan kemunduran yang ia dapat dari perbuatan buruknya.”



Penutup



「世間人不知佛法者,謂呼事佛令得殃衰,不知其人行自不正,違犯佛經戒。心意眾態具足,身自招之,無有與者。」
“Orang-orang di dunia tidak mengetahui Buddhadharma dan hanya menganggap ‘melayani Buddha akan menyebabkan kesialan dan kemunduran’, tanpa mengetahui bahwa kelakuan orang itu sendirilah yang tidak tepat, bertolak-belakang dan melanggar Dharma dan Śīla Buddha. Segala kesempurnaan pola pikir diundang oleh diri sendiri; tiadalah yang dapat memberikannya.”

阿難聞之,便頭面著地,為佛作禮,歡喜奉行。
Pada saat Ānanda mendengar penjelasan ini, ia pun menyentuhkan kepala dan wajahnya ke tanah, bernamaskāra kepada Buddha. Dengan gembira ia menjunjung dan melaksanakannya.






《佛說慢法經》
Akhir dari Sūtra tentang Kesombongan terhadap Dharma






Jumat, 02 Mei 2014

Untuk Perbuatan Buruk yang Sama, Yang Mengambil Śīla akan Mendapat Akibat Karma Lebih Berat dibandingkan Yang Tidak


 

Salah satu perbedaan śīla-śīla Buddhis dengan aturan moralitas agama lain adalah: dalam agama lain, aturan-aturan seringkali diturunkan oleh sesosok “Tuhan” untuk seluruh manusia. Manusia mana pun yang melanggarnya dinyatakan berdosa terhadap “Tuhan” tersebut. Padahal, tidak semua manusia memiliki keyakinan terhadap agama itu — bahkan mungkin ada yang tidak mengenal agama tersebut, apalagi ajaran-ajaran yang diturunkan oleh “Tuhan”-nya.
 
Dalam agama Buddha, seseorang baru dikatakan melanggar Śīla bilamana ia memang sudah mengambil Śīla tersebut. Sebelumnya telah diberikan contoh umat awam Buddhis yang hanya berlindung kepada Triratna, tetapi tidak mengambil Pañca Śīla — sebut saja namanya A. Seandainya A melakukan aborsi, ia melakukan karma buruk, tetapi tidak dikatakan melanggar Śīla (sebab memang tiada substansi Śīla apa pun dalam dirinya). A hanya melakukan karmapathika sāvadya 業道罪 (yakni: pembunuhan manusia) saja. [Untuk pembahasan jenis-jenis sāvadya/kecelaan, lihat posting sebelumnya.]
 
Sebaliknya, jika seorang umat awam yang mengambil Pañca Śīla Buddhis — katakanlah namanya B — melakukan aborsi, ia akan dinyatakan melanggar śīla. B melakukan saṃvarika sāvadya 戒罪, di samping karmapathika sāvadya 業道罪. Jadi, karma buruk yang ditimbulkan B lebih besar dibandingkan A karena ia melakukan dua kecelaan sekaligus.
 
Oleh karena itu, sebelum mengambil Śīla apa pun, kita hendaknya mempertimbangkan kesanggupan kita menjaganya dalam kehidupan sehari-hari, selain memahami seluk-beluk/karakteristik Śīla tersebut. Tidak sedikit umat Buddhis yang mengambil Pañca Śīla, tetapi masih meminum minuman keras karena pergaulan sosialnya memaksanya berbuat demikian. Padahal, meminum setetes alkohol pun, walau tidak menyebabkan kemabukan, sudah merupakan pelanggaran Śīla. Maka apabila terdapat kecenderungan besar bagi kita untuk sering melanggar śīla-śīla tertentu dalam kehidupan sehari-hari, lebih baik kita menerima beberapa śīla dahulu (tidak lengkap lima) yang sanggup kita pegang, dan di kemudian hari baru mengambil lengkap setelah situasi memungkinkan.
 
Sebelum menerima Śīla, jika melakukan perbuatan buruk, kita menanggung akibat yang lebih ringan. Setelah menerima Śīla, jika kita melakukan perbuatan yang sama, akibat karma yang kita terima lebih berat. Kalau begitu, apakah lebih baik kita jangan menerima Śīla sama sekali?
 
Harus! Kita harus tetap menerimanya karena — berkat benih yang tertanam sewaktu menerima Śīla — meskipun kemudian kita melanggar Śīla dan terlahir di alam rendah sebagai akibatnya, setelah hukuman itu selesai, kita dapat berjumpa kondisi yang mendukung untuk mempraktekkan Buddhadharma kembali. Jika kita tidak menerima Śīla dan tetap berbuat jahat seperti biasanya, mustahil kita dapat merealisasi Pencerahan!
 
Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-23 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 161a) menuturkan: 

如《優鉢羅華比丘尼本生經》中說
Seperti yang diceritakan dalam “Kisah Kelahiran Lampau Bhikṣuṇī Utpalavarṇā” (judul sebuah avadāna yang tampaknya belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa).

佛在世時,此比丘尼得六神通阿羅漢。入貴人舍,常讚出家法,語諸貴人婦女言:「姊妹!可出家。」
Pada zaman Sang Buddha, bhikṣuṇī ini mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual (ṣaḍ abhijñā). Setiap kali memasuki rumah orang-orang terpandang, ia kerapkali memuji-muji kehidupan kudus, dan berkata kepada wanita-wanita terpandang: “Saüdari-saüdari, Anda sekalian bolehlah meninggalkan rumah-tangga.”

諸貴婦女言:「我等少壯,容色盛美;持戒為難,或當破戒。」
Wanita-wanita terpandang berkata: “Kami masih muda belia dan cantik rupawan; memegang Śīla amatlah sulit, dan kami takut merusak Śīla.”

比丘尼言:「但出家,破戒便破。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Tinggalkanlah rumah-tangga. Jika kelak harus merusak Śīla, ya rusakkanlah!”

問言:「破戒當墮地獄。云何可破?」
Mereka bertanya: “Merusak Śīla akan terjatuh ke neraka. Bagaimana boleh merusakkannya?”

答言:「墮地獄便墮。」
Jawabnya: “Jika harus terjatuh ke neraka, ya jatuhlah!”

諸貴婦女皆笑之言:「地獄受罪。云何可墮?」
Wanita-wanita terpandang itu semua menertawakannya dan berkata: “Di neraka akan menerima hukuman. Bagaimana boleh terjatuh ke sana?”

比丘尼言:「我自憶念本宿命。時,作戲女著種種衣服,而說舊語。或時著比丘尼衣,以為戲笑。以是因緣故,迦葉佛時,作比丘尼。自恃貴姓端政,心生憍慢,而破禁戒。破戒罪故,墮地獄受種種罪。受罪畢竟,值釋迦牟尼佛出家,得六神通阿羅漢道。以是故知!出家受戒,雖復破戒,以戒因緣故,得阿羅漢道。若但作惡,無戒因緣,不得道也。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Aku teringat akan kelahiran lampauku. Saat itu aku menjadi pemain drama yang mengenakan berbagai kostum dan membawakan cerita-cerita lama. Kadang-kadang aku memakai kostum bhikṣuṇī dan menggunakannya untuk bermain-main. Karena sebab inilah, maka pada zaman Buddha Kāśyapa aku dapat menjadi bhikṣuṇī. Tetapi, karena membualkan kebangsawananku yang tinggi dan rupaku yang elok, timbullah keangkuhan dalam hatiku, dan aku merusak Śīla. Sebab merusak Śīla, aku terjatuh ke neraka dan menerima beraneka hukuman. Setelah hukuman itu selesai, aku pun dapat meninggalkan rumah-tangga kembali di masa Buddha Śākyamuni, dan mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual. Oleh karena itu, ketahuilah! Dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla, meskipun kembali merusaknya, namun berkat kondisi [yang tercipta dari] Śīla tersebut, akhirnya akan dapat mencapai kearhatan. Jika hanya berbuat jahat, tanpa kondisi pendukung [yang tercipta dari] Śīla, tiadalah Pencerahan.

「我乃昔時,世世墮地獄。地獄出為惡人,惡人死還入地獄,都無所得。今以此證知,出家受戒,雖復破戒,以是因緣,可得道果。」
“Dahulu aku pernah terjatuh ke neraka dari kelahiran ke kelahiran. Sesudah keluar dari neraka, aku kembali menjadi orang jahat. Sebagai orang jahat, aku mati dan kembali masuk neraka — demikian seterusnya [berulang-kali] tanpa Pencapaian apa-apa. Kini telah kubuktikan dan kuketahui: dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla [satu kali saja], meskipun merusakkan kembali Śīla itu, namun berkat kondisi tersebut, aku akhirnya dapat mencapai buah dari Jalan.”