Powered by Administrator

Translate

Jumat, 16 Agustus 2013

Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan (1)

Kutipan dari jilid pertama Szŭ-fên lü shan-pu sui-chi chieh-mo 《四分律刪補隨機羯磨》 (‘Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan untuk Berbagai Kesempatan’, T. № 1808) karya Vinayācārya Tao-hsüan:

Dharmaguptaka Karman

——————————————————————
諸戒受法篇第三
3. METODE PENERIMAAN ŚĪLA

——————————————————————


戒法理通義該道俗。以五戒有犯,則具戒成難。故須條貫,始終體相明練。七眾所受,次如下列:
Metode penerimaan Śīla pada prinsipnya sama untuk pravrajita maupun umat awam. Jika kelima śīla masih dilanggar, tentu sulit untuk menerima śīla lengkap [seorang bhikṣu/bhikṣuṇī]. Oleh sebab itu, substansi dan karakteristik setiap pasal harus diterangkan ujung-pangkalnya. Apa yang diterima oleh ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis] akan dijelaskan secara berurutan di bawah:


受三歸法
(a) Metode Penerimaan Tiga Perlindungan

《薩婆多論》云:“以三寶為所歸,欲令救護,不得侵陵故也。歸依佛者,歸於法身,謂一切智無學功德,五分所成。歸依法者,歸於自他盡處,謂斷欲、無欲滅諦涅槃。歸依僧者,歸於第一義僧,謂良祐福田聲聞學、無學功德也。”
Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā (T. № 1440) mengatakan: “Menjadikan Triratna sebagai tempat berlindung berarti menjadikan-Nya sebagai penolong dan penjaga. Maka janganlah kita ingkar terhadap-Nya. Berlindung kepada Buddha berarti berlindung kepada Dharmakāya, yakni kualitas bajik aśaikṣa dari Ia yang Mahatahu (Sarvajña) yang, dalam lima bagian, terbentuk. Berlindung kepada Dharma berarti berlindung kepada pemotong nafsu dan keadaan bebas-nafsu, yakni Nirvāṇa, yang merupakan Kebenaran tentang Akhir Penderitaan (nirodha satya), baik yang di dalam maupun di luar diri kita. Berlindung kepada Saṅgha berarti berlindung kepada persekutuan tertinggi (paramārtha), yakni kualitas bajik dari ladang jasa yang tiada taranya, yang terdiri atas siswa-siswa yang masih berlatih (śaikṣa) maupun yang tidak perlu berlatih lagi (aśaikṣa).”

《善見論》云:“並須師受言音相順。若言不出、或不具足、不稱名、不解故,不成。”
Menurut Samantapāsādikā (T. № 1462): “… semuanya harus mengikuti perkataan yang diucapkan oleh guru [pembimbing]. Jika suara kita tidak keluar, atau kita tidak mengucapkan dengan lengkap, atau kita tidak menyebutkan nama sendiri, atau kita tidak mengerti sama sekali, [substansi Tiga Perlindungan] tidak terbentuk.” 

應云:
Maka ucapkanlah:

『我某甲盡形壽
Saya, … (sebut nama sendiri), untuk seumur hidup

  歸依佛。   berlindung kepada Buddha,
  歸依法。   berlindung kepada Dharma,
  歸依僧。』  berlindung kepada Saṅgha.

                  (如是三說,得法屬已)
                  (Dengan mengucap tiga kali, transmisi Dharma diperoleh.)

『我某甲盡形壽
Saya, … (sebut nama sendiri), untuk seumur hidup

  歸依佛竟。  telah berlindung kepada Buddha,
  歸依法竟。  telah berlindung kepada Dharma,
  歸依僧竟。』 telah berlindung kepada Saṅgha.

                  (三結已)
                  (Tiga kali [ucapkan] sebagai Konklusi.)

律無受法。准諸論文,具出此但受歸法,無有戒法。故論云:“三歸下有所加,得歸及戒。若無加者,有歸無戒。”
Dalam vinaya tidak diatur metode penerimaan [seperti ini]. Ini didasarkan pada teks-teks śāstra, yang menerangkan cara menerima Perlindungan saja tanpa menerima Śīla. Maka di dalam śāstra disebutkan: “Jika setelah Tiga Perlindungan ada tambahan (misalnya dengan memberikan lima, delapan, atau sepuluh langkah latihan), maka Perlindungan dan Śīla diperoleh. Jika tiada yang ditambahkan, maka hanya Perlindungan yang diperoleh, tanpa Śīla.”

SIAPAKAH YANG DAPAT MENERIMA TRIŚARAṆA?


Sila Visodhana Ekottara


善生言:「世尊。何等之人得三歸依?」
Sujāta berkata: “Ya Bhagavan, orang macam manakah yang dapat memperoleh Tiga Perlindungan?”


「善男子。若人信因、信果、信諦、信有得道,如是之人則得三歸。
“Putra berbudi, jika seseorang
  1. yakin akan sebab,
  2. yakin akan akibat,
  3. yakin akan [Empat] Kebenaran,
  4. yakin akan terdapatnya orang-orang yang mencapai Pencerahan,
maka orang semacam ini dapat memperoleh Tiga Perlindungan.

「若人至心信不可敗,親近三寶,受善友教,如是之人則得三歸。」
“Jika dengan kesungguhan hati dan keyakinan tak tergoyahkan seseorang mendekatkan diri kepada Triratna dan mau menerima instruksi dari guru spiritual (kalyāṇamitra), maka orang semacam ini dapat memperoleh Tiga Perlindungan.”


—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XXII, “Lima Śīla”
《優婆塞戒經・五戒品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1063c)


Kutipan dari Master Shêng-yen

Tisarana Shengyen
還有人以為自己已有看經的能力,自己可以直接向佛經之中,探求他們的成佛之道,所以不必皈依,同樣可以得到學佛的受用。這在理上說,似乎可以通融,但從事相的規制上說,那就錯誤了。佛經是由佛陀所說(也有是出於佛的弟子們所說),再由佛的出家弟子們結集成編,傳之後世;如說只知佛經而忽略了說法的佛寶,以及流傳法寶的僧寶,充其量,只是皈依了法寶,這是忘恩的行為!佛教雖以法寶為主,解脫之道皆由法寶之中流出,但是法寶的產生,必須佛寶與僧寶為之完成,所以三寶是不能分開的。
Ada lagi orang yang beranggapan bahwa dirinya sudah memiliki kemampuan untuk membaca kitab-kitab suci, ia dapat langsung menangkap cara-cara untuk mencapai Kebuddhaan dalam sūtra-sūtra Buddhis dengan menelitinya sendiri, sehingga ia merasa tidak perlu lagi pergi berlindung karena gunanya sama saja: untuk dapat mempelajari Buddhisme. Dari sisi nomena, hal ini tampaknya mungkin; tetapi, berdasarkan tatacara dari sisi fenomena, tentu saja ini keliru. Sūtra-sūtra Buddhis berasal dari sabda Buddha sendiri (ada juga sebagian yang berasal dari sabda siswa-siswa Beliau), yang dikumpulkan kembali oleh para siswa Beliau menjadi suatu koleksi kitab suci, dan diturunkan kepada generasi berikutnya. Jika mengatakan bahwa cukuplah mengetahui sūtra-sūtra Buddhis saja dan kita dapat mengabaikan Buddharatna (yang membabarkan Dharma) serta Saṅgharatna (yang menyebarluaskan Dharma), lalu berlindung hanya kepada Dharmaratna, maka ini sungguh merupakan tindakan yang lupa budi! Meskipun Dharmaratna adalah yang terutama dalam agama Buddha — karena jalan Pembebasan bersumber dari-Nya — namun munculnya Dharmaratna memerlukan Buddharatna dan Saṅgharatna untuk menyempurnakannya. Oleh karena itu, Triratna tidak dapat dipisah-pisah.

如果講到制度或規式,信佛而不皈依三寶,等同一個愛好中國風土文物的外國人,跑到中國居住下來,並不申請變更其原有國籍的登記,便自稱為他是中國的國民,他或可能受到中國人的歡迎,但他終究不是中國人,他可以盡其中國國民的義務,但終不能享受中國國民的權益。同樣的,一個不受皈依而又自稱是佛教徒的人,他雖或可得到一些佛法的好處,但終不能獲得身分上的印證。這不是多餘的執著,乃是必須的手續。故在佛經中說,世人雖然行善,終不能滅除先世的惡業,若能受了三皈依戒,便能滅除先世的惡業。
Jika ditinjau dari sistém atau tatacara, seseorang yang yakin kepada Buddha tetapi tidak pergi berlindung kepada Triratna, adalah sama seperti seorang asing yang sangat mencintaï adat-istiadat dan kebudayaan Tiongkok, bahkan sampai tinggal menetap di Tiongkok, tetapi tidak mengajukan permohonan untuk mengubah kewarganegaraan aslinya, dan menyebut dirinya ialah rakyat Tiongkok. Ia dapat saja diterima dengan hangat oleh orang-orang Tiongkok, namun selamanya tetap saja ia bukan orang Tiongkok. Ia dapat juga menjalankan sepenuhnya kewajiban seperti rakyat Tiongkok, namun selamanya ia tidak dapat menerima hak-hak sebagai rakyat Tiongkok. Demikian pula seseorang yang tidak menerima Triśaraṇa tetapi menyebut dirinya sendiri umat Buddha, meskipun ia dapat memperoleh beberapa kebaikan dari Buddhadharma, namun selamanya ia takkan mendapatkan pengakuan atas realisasi latihannya. Ini bukanlah masalah kemelekatan yang berlebihan [pada ritual], tetapi memang merupakan suatu prosedur yang diperlukan. Oleh karena itu, dalam sūtra-sūtra Buddhis dikatakan: meskipun orang-orang di dunia berbuat baik, namun selamanya mereka tidak dapat memusnahkan karma buruk dari kehidupan lampau; jika seseorang dapat menerima Triśaraṇa dan Śīla, maka ia dapat memusnahkan karma buruk dari kehidupan lampau.

受皈依,既是形式上的問題,更是心性上的問題。受皈依時,不僅口中念著,身體拜著,心裡還得想著。主要還是在於心的領受──納受三皈戒體,戒體須由已先受了三皈戒的人,師師相傳,這是法統的一脈相承,在凡夫而言,不能無師自證,所以三皈依,不得在佛菩薩像前自誓自受。由此可知,求受三皈依的莊嚴性和重要性了。
Menerima Perlindungan adalah perkara yang bersifat ritualistik, tetapi juga merupakan perkara yang berhubungan dengan hakikat batin. Pada saat menerima Perlindungan, bukan hanya mulut berucap dan tubuh bernamaskāra, batin juga harus mencermati. Yang terpenting sekali terletak pada penerimaan dalam batin — yaïtu, pengambilan substansi Tiga Perlindungan. Substansi ini mestilah berasal dari orang yang sebelumnya sudah menerima Tiga Perlindungan, ditransmisikan dari guru ke guru, dan merupakan warisan dalam suatu kesinambungan silsilah Dharma. Dalam bahasa awam: kita tidak dapat menyatakannya sendiri tanpa seorang guru. Karenanya, Triśaraṇa tidak dapat diterima sendiri dengan bertekad sendiri di hadapan pratimā Buddha atau Bodhisattva. Dari sini bisa kita lihat sifat khidmat/serius dan pentingnya memohon Triśaraṇa.

如說,不受三皈依,便想成為一個正信的佛教徒,那是不可能的事;如果只信佛法,而不禮僧寶,他根本先就違背了佛法。佛法之中,三寶不能分家,強予三寶分家,他便破壞了佛法,一個違背佛法而又破壞佛法的人,仍能得到學佛的善果,那是永遠不會有的事。否則,既然信奉三寶,何不皈依三寶呢?
Seperti yang telah disebutkan: tidak menerima Triśaraṇa, namun menganggap diri telah menjadi seorang umat Buddhis yang berkeyakinan benar, adalah suatu hal yang tidak mungkin. Jika seseorang hanya yakin kepada Buddhadharma, dan tidak hendak menghormati Saṅgharatna, maka pada dasarnya ia telah lebih dahulu bertolak belakang dengan Buddhadharma. Dalam Buddhadharma, Triratna tidak dapat dipisahkan. Ia yang bersikeras memisah-misahkan Triratna berarti telah merusak Buddhadharma. Seseorang yang bertolak belakang dengan Buddhadharma juga merusak Buddhadharma, lalu ia mempelajari Buddhisme untuk dapat memperoleh hasil yang baik — ini adalah hal yang mustahil selama-lamanya. Kalau memang Anda tidak begitu, yakinlah kepada Triratna. Mengapakah Anda tidak selekasnya berlindung kepada Triratna?


—— Master Shêng-yen 聖嚴法師, Awal dari Meyakini dan Mempelajari Buddhisme: Berlindung kepada Triratna
《信佛學佛的開始——皈依三寶》

Berlindung kepada Triratna: Satu-Satunya Jalan menuju Pembebasan


譬如群鹿怖畏獵師,既得免離。若得一跳,則喻一歸。如是三跳,則喻三歸。以三跳故,得受安樂。眾生亦爾,怖畏四魔惡獵師故,受三歸依。三歸依故,則得安樂。受安樂者,即真解脫。真解脫者,即是如來。如來者,即是涅槃。涅槃者,即是無盡。無盡者,即是佛性。佛性者,即是決定。決定者,即是阿耨多羅三藐三菩提。
Ibarat kawanan rusa yang takut kepada pemburu dan secepatnya lari menghindar: satu lompatan mereka mengumpamakan satu perlindungan; tiga lompatan mengumpamakan tiga perlindungan. Dengan tiga lompatan, tercapailah kebahagiaan. Semua makhluk pun demikian. Karena takut kepada sang pemburu, keempat māra, maka mereka mengambil Tiga Perlindungan. Karena Tiga Perlindungan, tercapailah kebahagiaan. Tercapainya kebahagiaan adalah Pembebasan sejati. Pembebasan sejati adalah Tathāgata. Tathāgata adalah Nirvāṇa. Nirvāṇa adalah tanpa akhir. Tanpa akhir adalah hakikat Kebuddhaan. Hakikat Kebuddhaan adalah kepastian. Kepastian adalah Anuttara-samyak-saṃbodhi.

—— Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 jilid 5
(T. vol. 12, № 374 hlm. 395c)

※

Menjadikan Triratna sebagai tempat berlindung berarti mengakui-Nya sebagai satu-satunya penolong dan penjaga. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a) diceritakan sebuah perumpamaan:

譬如有人有罪於王,投向異國,以求救護。
Misalkan terdapat seseorang yang bersalah terhadap raja dan melarikan diri ke negeri lain untuk memohon suaka.

異國王言:「汝求無畏者,莫出我境界!莫違我教!必相救護。」
Raja negeri lain itu berkata: “Jika engkau hendak mencari keamanan, jangan keluar dari wilayah kami! Janganlah melawan hukum kami! maka kami dapat menolong dan menjagaïmu.”

眾生亦爾,繫屬於魔,有生死過罪,歸向三寶,以求救護。
Semua makhluk pun demikian. Karena terikat kepada māra, dan karena karma yang menyebabkan mereka berada dalam kelahiran dan kematian (saṃsāra), maka mereka berlindung kepada Triratna untuk memohon pertolongan dan penjagaan.

Jika dengan setulus hati kita hanya berlindung kepada Triratna dan tidak kepada yang lain, serta menaati Ajaran Buddha, maka perlukah kita takut kepada māra dan kejahatannya?


Ada empat jenis māra:

1.   Kleśa-māra 煩惱魔

Kekotoran batin (kleśa) merupakan māra karena merintangi timbulnya kualitas baik di dalam batin. Melalui perlindungan kepada Triratna, kita dapat memperoleh anutpattika-dharma-kṣanti sehingga segala kekotoran batin akan terpotong.
2.   Skandha-māra 陰魔
Kelima agregat (pañcaskandha) pembentuk batin dan jasmani merupakan māra karena senantiasa mengalami perubahan. Melalui perlindungan kepada Triratna, kita dapat merealisasi tubuh Dharma (dharmakāya) sehingga tubuh fisis (rūpakāya) dengan ketidakkekalannya takkan membawa penderitaan lagi.
3.   Mr̥tyu-māra 死魔
Kematian (mr̥tyu) merupakan māra karena terurainya keempat unsur pembentuk jasmani merampas kesempatan hidup kita untuk mengembangkan batin. Melalui perlindungan kepada Triratna, tubuh fisis (rūpakāya) telah kita atasi sehingga keadaan tanpa-kematian dapat kita capai.
4.   Devaputra-māra 天子魔
Raja dewa dari surga ke-6, Paranirmitavaśavartin, yang bernama Pāpīyān/Pāpīmān (‘Si Jahat’) merupakan māra karena, sebagai penguasa Kāmadhātu, ia beserta anak buahnya berusaha menghalangi segala praktek spiritual yang dapat membawa kita kepada Pembebasan. Jika kita telah menaklukkan ketiga māra sebelumnya — berkat perlindungan kepada Triratna — halangan apa lagi yang dapat ia tujukan kepada kita?
Maka dapat kita lihat di sini bahwa berlindung kepada Triratna sungguh merupakan satu-satunya Jalan menuju Pembebasan.


Buddham Saranam Gacchami

Kamis, 15 Agustus 2013

SIAPAKAH TRIRATNA?

Tiga Permata
uddha, Dharma, dan Saṅgha adalah tiga Permata yang kepada-Nya kita berlindung untuk terbebas dari penderitaan saṃsāra. Buddha dalam bahasa Tionghoa diterjemahkan sebagai chüeh-chê 覺者, yang dapat berarti ‘Yang Tercerahkan’ (telah mencerahkan diri-Nya sendiri) atau ‘Sang Pencerah’ (yang mencerahkan orang lain). Dharma adalah hukum (fa 法) Kebenaran yang bila dipraktekkan akan membawa Pencerahan. Saṅgha adalah persekutuan yang serasi (ho-ho chung 和合衆) dalam mempraktekkan Dharma.

Dalam tradisi eksegesa Cina terdapat beberapa cara dalam menganalisa Triratna. Salah satu yang populer (lihat, misalnya, bagian 1-1 dari jilid pertama Szŭ-fên lü hsing-shih ch’ao tzŭ-ch’ih chi 《四分律行事鈔資持記》 [T. vol. 40, № 1805] karya Vinayācārya Ling-chih Yüan-chao 靈芝元照 dari dinasti Sung) adalah pengkategorian menjadi empat:


———————————————————————————
A. Ditinjau dari sisi fenomena 事相
———————————————————————————

1. HUA-HSIANG SAN-PAO 化相三寶 (Triratna yang Manifes)

Merupakan Triratna dalam wujud nyata. Menurut sistém Kendaraan Kecil, Buddharatna adalah seseorang Yang Tercerahkan, dengan fisik yang dilengkapi 32 ciri manusia agung dan 80 tanda tambahan (lebih spesifiknya, misalnya, Buddha di masa kita sekarang, Śākyamuni); Dharmaratna adalah ajaran yang dibabarkan Buddha yang meliputi Empat Kebenaran Mulia, Delapan Jalan Utama, dan Dua Belas Kemunculan yang Bergantungan; Saṅgharatna terdiri atas siswa-siswa Buddha yang mempraktekkan ajaran-Nya, dan terdiri atas delapan jenis makhluk suci yang merupakan empat pasang.

Dalam sistem Kendaraan Besar ditambahkan: para Buddha di sepuluh penjuru dan tiga masa dengan manifestasi Ketiga Tubuh-Nya (trikāya), bukan hanya dalam wujud tubuh fisis-Nya (rūpakāya), merupakan Buddharatna; Dharmaratna meliputi ajaran tentang Enam Pāramitā; dan Saṅgharatna terdiri juga atas para bodhisattva yang telah mencapai Sepuluh Tingkat Kesucian (daśabhūmi). 


2. CHU-CH’IH SAN-PAO 住持三寶 (Triratna yang Berdiam dan Melestari)

Merupakan Triratna dalam representasinya. Segala perwujudan Buddha, baik dalam bentuk patung, lukisan, atau benda-benda peringatan lain, adalah Buddharatna; segala bentuk tertulis dari kitab-kitab suci (sūtra, vinaya, abhidharma/śāstra) merupakan Dharmaratna; persekutuan bhikṣu dan bhikṣuṇī yang mempraktekkan Dharma adalah Saṅgharatna.

Setelah Buddha parinirvāṇa, adalah Chu-ch’ih San-pao yang melestarikan semangat Ajaran. Chu-ch’ih San-pao meneruskan kelanjutan Triratna selama tiadanya Hua-hsiang San-pao. Tanpa adanya Chu-ch’ih San-pao, tidak mudah bagi kita untuk mengenali Hua-hsiang San-pao, apalagi memahami aspek nomena Triratna yang merupakan esensi dari fungsi perlambangan Chu-ch’ih San-pao.


———————————————————————————
B. Ditinjau dari sisi nomena 理體
———————————————————————————

1. I-T’I SAN-PAO 一體三寶 (Triratna yang Manunggal)

Ketiga Permata pada hakikatnya adalah tunggal karena masing-masing Permata memiliki keseluruhan kualitas dari Triratna:
  • Buddha memiliki kemampuan untuk mencerahkan, maka Ia adalah Buddharatna; dengan leluasa Ia dapat menggunakan hukum Kebenaran Dharma dalam mengajar, maka Ia adalah Dharmaratna; Buddha terbebas dari segala pertentangan, maka Ia adalah Saṅgharatna.
  • Dharma memiliki esensi dapat melahirkan hakikat para Buddha, maka Ia adalah Buddharatna; dalam dirinya sendiri Dharma memegang kemampuan sebagai hukum Kebenaran yang berlaku mutlak, maka Ia adalah Dharmaratna; segala Dharma adalah setara tanpa saling berlawanan, maka Ia adalah Saṅgharatna.
  • Saṅgha memiliki pengetahuan mencerahkan, maka Ia adalah Buddharatna; Saṅgha menjalankan fungsi hukum Kebenaran, maka Ia adalah Dharmaratna; Saṅgha sendiri merupakan persekutuan yang selaras, maka Ia adalah Saṅgharatna.


2. LI-T’I SAN-PAO 理體三寶 (Triratna yang Prinsipiil)

Kedemikianan (Tathatā), sebagai realitas tertinggi Triratna, memiliki tiga aspek (lihat Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 jilid 2 [T. vol. 12, № 374 hlm. 376c]). Dalam Kedemikianan, Kebijaksanaan (prajñā) adalah Buddharatna, Pembebasan (vimokṣa) adalah Dharmaratna, dan Tubuh Dharma (dharmakāya) adalah Saṅgharatna.

Hakikat semua makhluk tidak berbeda dengan Triratna karena satu dalam Bhūtatathatā. Semua makhluk berputar-putar dalam roda saṃsāra sebab terbelenggu oleh kekotoran batin (kleśa), perbuatan (karma), dan penderitaan (duḥkha). Realisasi latihan akan mengubah kleśa menjadi prajñā, karma menjadi vimokṣa, dan duḥkha menjadi dharmakāya. 

Pengertian tentang Li-t’i San-pao tentu sulit dicerna oleh kita sebagai makhluk biasa (pr̥thagjana). Jika kita tidak dapat memahaminya, bahkan secara teoretis, cukuplah bagi kita mengimani Triratna dari sisi fenomena. Setelah kita mencapai tingkat realisasi tertentu, secara berangsur-angsur pun Li-t’i San-pao akan tampak secara alami. Sebagai pemula, yang terpenting adalah bagaimana kita mempertahankan komitmen kita dalam berlindung kepada Triratna (lihat di sini).