Powered by Administrator

Translate

Senin, 23 Juli 2018

KĀLAPARYANTA ŚĪLA vs ĀPRĀṆAKOṬIKA ŚĪLA

Klasifikasi śīla yang akan kita bahas terakhir adalah pengelompokan berdasarkan jangka waktunya (kālapariccheda). Dalam bab II Vimuktimārga 《解脫道論》 (T. vol. 32, № 1648 hlm. 401c) disebutkan:

復次!戒有二種,
Selanjutnya lagi, śīla ada dua jenis

謂:
yaïtu:
時分戒 及  śīla berjangka waktu terbatas (kālaparyanta), dan
盡形戒。   śīla selama hayat dikandung badan (āprāṇakoṭika).
少時暫受,不俱形命,謂時分戒。
Yang diterima sementara untuk waktu pendek, bukan untuk seumur hidup, disebut śīla berjangka waktu terbatas.

從師始誓,乃至捨壽,謂盡形戒。
Yang dimulaï dengan berkomitmen dari seorang guru, hingga akhir hayat, disebut śīla selama hayat dikandung badan.

Ini sama dengan penggolongan śīla untuk waktu lama (cirakāla) vs. tidak untuk waktu lama (acirakāla) seperti yang pernah dibahas dalam Saddharma-smr̥tyupasthāna Sūtra. Akan tetapi, śīla-śīla manakah yang boleh diterima untuk sementara dan mana yang tidak?






Dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 890c) Dharmatrāta mengatakan:

“謂受律儀戒,盡壽或日夜”者,受別解脫律儀有二種:
“Bahwa menerima disiplin (saṃvara) ialah seumur hidup atau sehari semalam”, maksudnya adalah penerimaan Prātimokṣa Saṃvara ada dua jenis:

 ◎ 或盡壽者,謂七眾。
Untuk seumur hidup (yāvajjīva), yakni [penerimaan disiplin] ketujuh kelompok.

(七眾者:比丘、比丘尼、式叉摩尼、沙彌、沙彌尼、優婆塞、優婆夷。)
(Ketujuh kelompok: bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā.)

 ◎ 日夜者,謂受齋。
Untuk sehari semalam (ahorātra), yakni menerima upavāsa.

(有二種時分齋:日夜 及 盡壽。)
(Ada dua jangka waktu upavāsa: sehari semalam dan seumur hidup.)

問:不律儀復云何?
Tanya: Bagaimana pula dengan kontra-disiplin (asaṃvara)?

答:“不律儀盡壽”,謂不律儀盡形壽,非日夜。
Jawab: “Kontra-disiplin (asaṃvara) seumur hidup”, berarti kontra-disiplin [berlaku] untuk seumur hidup, tidak pernah sehari semalam.

問:以何等故律儀得日夜,非不律儀?
Tanya: Apakah sebabnya disiplin ada yang sehari semalam, tetapi kontra-disiplin tiada?

答:彼無受性故;無有言:「我日夜受不律儀」者,以可羞厭故。善律儀有受性,可欣慶故。
Jawab: Karena kontra-disiplin tidak memiliki sifat pengambilan (samādāna); tidak ada orang yang [terang-terangan] berikrar: “Selama sehari semalam aku akan mengambil asaṃvara”, sebab hal itu memalukan. Saṃvara memiliki sifat pengambilan sebab hal itu membanggakan.

Bhadanta Harivarman, dalam karyanya Satyasiddhi Śāstra 《成實論·七善律儀品》 (T. vol. 32, № 1646 hlm. 303b) yang diterima luas di Cina, juga mengatakan hal yang sama:

問曰:是戒律儀二種:一、盡形;二、一日一夜。盡形者,若比丘、優婆塞。一日一夜者,如受八戒。一日一夜,是事云何?
Tanya: Śīla Saṃvara ada dua jenis: 1. untuk seumur hidup; 2. untuk sehari semalam. Untuk seumur hidup, misalnya: [disiplin] bhikṣu dan [disiplin] upāsaka. Untuk sehari semalam, misalnya: menerima Delapan Śīla. Untuk sehari semalam sebenarnya bagaimanakah halnya?

答曰:是事無定:若一日一夜,若但一日、或但一夜,若半日、或半夜——隨能受時,得。出家則但應盡形。若言:「我但一月、二月」,若「但一歲」,則不名得出家法。五戒亦爾。
Jawab: Halnya tidak pasti: entah sehari semalam, entah hanya sehari atau hanya semalam, entah setengah hari atau setengah malam — sesuai jangka kesanggupan menerima, [disiplin ini] didapatkan. [Disiplin] monastik, sebaliknya, mesti seumur hidup saja. Apabila seseorang berikrar: “Aku [mengambilnya] hanya untuk satu bulan, dua bulan,” atau “hanya untuk satu tahun”, maka ia tidak disebut mendapatkan substansi [disiplin] monastik. Lima Śīla begitu pula halnya.

Dari sini jelaslah bahwa substansi disiplin Prātimokṣa bagi ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis mana pun hanya terbentuk jika diambil untuk seumur hidup. Disiplin Prātimokṣa merupakan disiplin yang bersifat permanen (nitya śīla) dan tidak dapat diperoleh untuk sementara waktu saja. Maka acara-acara “pravrajyā sementara” — kebaruan yang diimpor dari tradisi asing dan tidak pernah terjumpaï sepanjang sejarah Buddhisme Tiongkok — seperti yang diselenggarakan oleh beberapa vihāra modern, merupakan praktik yang invalid dan ilegal. Invalid sebab pesertanya tidak memperoleh substansi disiplin śrāmaṇera walaupun mereka mengikuti ritual penahbisan. Ilegal sebab guru penahbisnya tetap memberikan Śīla walaupun tahu bahwa pesertanya tidak sungguh-sungguh berniat meninggalkan rumah-tangga.

Kita tahu bahwa ada tiga tipe avijñapti: yang berkenaan dengan disiplin (saṃvara); yang berkenaan dengan kontra-disiplin (asaṃvara); dan yang berkenaan bukan dengan disiplin, bukan pula dengan kontra-disiplin (naivasaṃvara-nāsaṃvara). Hanya perbuatan yang disertai kehendak (cetanā) yang kuat yang akan membentuk dua tipe avijñapti pertama. Kontra-disiplin merupakan “disiplin” dalam bentuk negatif dan seringkali berkenaan dengan profesi-profesi yang buruk, seperti: penjagal, pemburu, pelacur, dsb. Seseorang harus memiliki kehendak atau niat yang kuat untuk, misalnya, berburu hewan liar setiap hari sebagai mata pencaharian agar dapat disebut berprofesi sebagai pemburu. Jikalau ia berburu sekali-sekali atau cuma sekadar hobi, maka ia hanya disebut pemburu amatir dan bukan profesional. Substansi “disiplin” pemburu tidak terbentuk dalam dirinya.

Hal yang sama berlaku pula pada orang yang membuat persepakatan menjadi bhikṣu (atau śrāmaṇera) untuk dua minggu, satu bulan, dsb. Substansi disiplin seorang bhikṣu sesungguhnya tidak terbentuk dalam dirinya; ia bukan berprofesi sebagai bhikṣu. Seseorang boleh saja setelah menjadi bhikṣu, lalu melepas disiplin (=lepas jubah) karena tidak kuat dengan kehidupan membiara. Namun, saat menerima upasaṃpadā, sejak semula ia harus sunggguh-sungguh bertekad menjalani kebhikṣuan untuk seumur hidup, dan bukan membuat persepakatan cuma untuk sementara saja! Apakah kelak ia akan lepas jubah atau tidak, itu merupakan lain perkara yang tidak dapat direncanakan sebelumnya di muka.

Di Cina orang pertama yang melontarkan pernyataan bolehnya menerima Lima Śīla untuk sementara waktu tampaknya adalah Vimalākṣa dalam rekaman ceramahnya yang kontroversial, Kitab Lima Ratus Pertanyaan. Meskipun dalam penafsiran vinaya ia tergolong konservatif, namun kadangkala ia menerima beberapa pandangan Sautrāntika seperti: boleh menerima Tiga Perlindungan saja tanpa Lima Śīla, dan boleh menerima satu atau beberapa śīla (tidak lengkap lima). Akan tetapi, pandangan pribadinya mengenaï penerimaan Lima Śīla (bahkan juga Tiga Perlindungan︕) untuk sementara saja adalah lemah dasarnya.

Sabtu, 11 November 2017

Perbandingan Ritus Pravrajyā Beberapa Mazhab

Tabel berikut (klik gambar di bawah) menyajikan perbandingan kisah pravrajyā Rāhula dalam Vinaya Piṭaka beberapa mazhab. Dalam Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律》 (T. № 1435), bahkan dalam skandhaka pertamanya, ritus penahbisan śrāmaṇera pun sudah diuraikan. Namun, konteks ceritanya di luar penahbisan Rāhula sehingga tidak kita perbandingkan. (Ritus Sarvāstivāda Vinaya juga menggunakan format penanyaan kesanggupan, yang berbeda dengan vinaya mazhab lain yang mengulangkan langkah latihan — hal ini akan dibahas kelak.)

Keunikan dapat terlihat di sini: pada ritus Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, Lokottaravāda, Tiga Perlindungan hanya diulangkan sekali di muka sebelum pengucapan langkah latihan apa pun. Ini mungkin merefleksikan pandangan yang mereka anut bahwa substansi Śīla terbentuk dengan mengucapkan langkah-langkah latihan. Hal berbeda dipegang oleh Mahīśāsaka (juga Sarvāstivāda), yang meyakini substansi Śīla terbentuk saat rumusan Tiga Perlindungan selesai diucapkan. Oleh sebab itu, Tiga Perlindungan diulangkan sebelum lima langkah latihan, dan sekali lagi sebelum sepuluh langkah latihan.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pada ritus Dharmaguptaka penahbisan śrāmaṇera terjadi seketika tanpa didahului dengan pemberian disiplin upāsaka. Tentang masalah ini, Vinayācārya Yüan-chao menafsirkan dalam jilid 2-5 Chi-yüan chi 《濟緣記》 (Zokuzōkyō vol. 41, № 728 hlm. 204c) sbb.:

問:《四分律》中何以求出家者,直受十戒耶?
Tanya: Dalam Dharmaguptaka Vinaya mengapakah mereka yang memohon peninggalan rumahtangga (pravrajyā) langsung menerima Sepuluh Śīla?

答:彼土士女,多有在俗受五戒者,故略之耳。文既不顯,故引《五分》、《多論》,必須次受。
Jawab: Di negeri sana (India), baik pria maupun wanita, banyak yang sudah menerima Lima Śīla sewaktu masih menjadi umat awam; oleh sebab itu, ceritanya disingkat. Karena tidak diungkapkan dalam teksnya, maka menarik [prinsip] dari Mahīśāsaka Vinaya dan Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, haruslah kita menerima secara bertahap.

問:今若不受五戒,為有何過?
Tanya: Kini apabila kita tidak menerima Lima Śīla, apakah salahnya?

答:準如《多論》,失次第故。《尼鈔》注云:「僧得小罪。」
Jawab: Menurut Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā, berarti malatindak dalam urut-urutan. Rangkuman Vinaya Bhikṣuṇī (karya Tao-hsüan, Zokuzōkyō № 724) memberi anotasi: “Anggota saṅgha [yang melalaikannya] memperoleh pelanggaran kecil (duṣkr̥ta).”

Akan tetapi, dalam Dharmaguptaka Vinaya sebetulnya tidak pernah diceritakan bahwa Rāhula pernah menerima Lima Śīla sebelumnya. Mazhab Dharmaguptaka tampaknya memang membolehkan pemberian langsung Sepuluh Śīla sebab ritus penahbisan śrāmaṇera di luar kasus Rāhula diuraikan kembali pada hlm. 810b vinaya-nya (kali ini format langkah latihannya berupa penanyaan kesanggupan).

Di luar Tripiṭaka Tionghoa, vinaya Pāli memberi kesaksian yang berbeda lagi. Dalam khandhaka pertamanya, “Mahā Khandhaka”, disiplin sāmaṇera diberikan kepada Rāhula hanya dengan mengulangkan rumusan Tiga Perlindungan saja, sama seperti prosedur penabhisan bhikkhu yang mula-mula (saraṇagamana upasaṃpadā). Sepuluh langkah latihan baru ditetapkan oleh Buddha di kemudian hari setelah sekelompok sāmaṇera menanyakan kebingungan mereka akan unsur-unsur disiplinnya.



Rabu, 08 November 2017

ANUPŪRVA ŚĪLA vs AKASMĀD-UTPANNA ŚĪLA

Śīla-śīla Buddhis selanjutnya dapat dikelompokkan menjadi dua:
  1. Śīla yang terbentuk secara bertahap (*anupūrva śīla 漸次戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya harus didahului dengan mengambil śīla lain.

  2. Śīla yang terbentuk seketika (*akasmād-utpanna śīla 頓立戒)
    Yakni śīla yang pembentukannya terjadi langsung tanpa didahului dengan mengambil śīla lain.

*Anupūrva śīla meliputi tujuh jenis disiplin pengarah Pembebasan (Prātimokṣa Saṃvara) untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: Lima Śīla untuk upāsaka dan upāsikā, Sepuluh Śīla untuk śrāmaṇera dan śrāmaṇerī, Enam Dharma untuk śikṣamāṇā, dan Upasaṃpanna Śīla untuk bhikṣu dan bhikṣuṇī. Tanpa memiliki substansi Lima Śīla dalam dirinya, seseorang tidak dapat mengambil disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī. Tanpa memiliki substansi disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī, seseorang tidak dapat mengikuti upasaṃpadā untuk mengambil disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī. (Seorang śrāmaṇerī bahkan harus melewati jenjang śikṣamāṇā terlebih dahulu sebelum dapat menjadi bhikṣuṇī.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, tradisi Asaṅga yang terdapat dalam “Bodhisattvabhūmi” (salah satu bagian dari kompendium pertama Yogācārabhūmi Śāstra 《瑜伽師地論》, T. № 1579) merupakan sebuah *anupūrva śīla. Seseorang harus sudah memiliki disiplin upāsaka/upāsika atau disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī sebelum dapat mengambilnya. Demikian pula disiplin kebodhisattvaan bagi umat awam — terdiri atas 6 śīla berat dan 28 śīla ringan — yang diuraikan Upāsaka Śīla Sūtra (T. № 1488) mengharuskan seseorang untuk terlebih dahulu mengambil Lima Śīla.

Penggolongan Lima Śīla sebagai *anupūrva śīla didasarkan pada praktik yang umum berlaku dalam Buddhisme Tiongkok di mana, biasanya, seseorang mula-mula hanya mengambil Tiga Perlindungan dan, apabila sudah siap, kelak ia baru mengambil Tiga Perlindungan dan Lima Śīla. Hal ini tentu saja tidak mutlak. Apabila ia yakin kepada Triratna dan siap menjalankan Śīla, ia bisa langsung mengambilnya tanpa harus menjadi upāsaka tanpa-disiplin (aparipūrṇakārin) dahulu.

Yang menjadi pertanyaan adalah: berapa lamakah yang harus dilalui seorang upāsaka tanpa-disiplin, yang hanya mengambil Tiga Perlindungan, sebelum dapat mengambil salah satu atau lengkap Lima Śīla? Tidak ada aturan yang pasti untuk hal ini. Bab XIV Upāsaka Śīla Sūtra mensyaratkan waktu enam bulan sebelum seseorang diberi Lima Śīla dan Bodhisattva Śīla. Selama enam bulan itu, guru pembimbing akan mengawasi tingkah-lakunya untuk memastikan kelayakannya menerima Śīla. Akan tetapi, prosedur ini jelas hanya berlaku bagi mereka yang ingin menerima disiplin kebodhisattvaan berdasarkan Upāsaka Śīla Sūtra.

Lalu berapa lamakah yang harus dilalui seorang śrāmaṇera sebelum dapat mengambil Upasaṃpanna Śīla? Menurut Po-ni-huan ching 《般泥洹經》(T. vol. 1, № 6 hlm. 188a), salah satu dari beberapa terjemahan Parinirvāṇa Sūtra versi Hīnayāna: tiga tahun. Namun, sekali lagi, hal ini tidak mutlak. Seseorang śrāmaṇera bisa saja mengikuti upasaṃpadā setelah lebih atau kurang dari tiga tahun. (Seorang śrāmaṇerī, akan tetapi, wajib menjalani masa śikṣamāṇā selama dua tahun sebelum ia mengikuti upasaṃpadā.)




Berikutnya, yang tergolong sebagai *akasmād-utpanna śīla antara lain Delapan Śīla, yang biasa dijalankan umat awam pada hari-hari upavasatha. Substansi Delapan Śīla dapat terbentuk dalam diri siapa pun — bahkan pada yang belum mengambil Tiga Perlindungan — asalkan orang tersebut yakin dan mau berlindung kepada Triratna. Vasubandhu menerangkan bait 30 dari bab IV Abhidharmakośa-nya (lihat 《阿毘達磨俱舍論》, T. vol. 29, № 1558 hlm. 75c) sbb.:

為唯近事得受近住?為餘亦有受近住耶?
Apakah hanya para upāsaka yang dapat menerima Upavāsa? Atau dapatkah yang lain menerima Upavāsa juga?

頌曰:
Kārikā:

近住餘亦有  不受三歸無

Anyasyāpyupavāso ’sti
śaraṇaṃ tvagatasya na


論曰:諸有未受近事律儀,一晝夜中,歸依三寶,說三歸已,受近住戒,彼亦受得近住律儀。異此則無,除不知者。
Bhāṣya: Apabila mereka yang belum menerima disiplin upāsaka [sudi] berlindung kepada Triratna, lalu setelah mengucapkan Tiga Perlindungan, mereka menerima śīla-śīla puasa untuk sehari semalam, maka disiplin penekun puasa (upavāsaka saṃvara) pun mereka peroleh. Selain dengan cara ini (=mengulangkan Tiga Perlindungan), tidak dapat. Kecuali karena ketidaktahuan [guru pembimbingnya, yang hanya mengulangkan langkah latihan saja].

Lima Śīla, sebagaimana telah dikemukakan di atas, juga dapat merupakan śīla yang terbentuk seketika — terlebih-lebih dalam pandangan Vaibhāṣika, yang menolak pemberian Tiga Perlindungan saja tanpa disiplin kepada umat awam. Pada masa awal penyebaran Śāsana, Upasaṃpanna Śīla pun merupakan śīla yang terbentuk seketika di mana seseorang langsung mendapatkannya setelah dipanggil dengan undangan “ehi, Bhikṣu!” oleh Buddha, atau setelah mengulangi Tiga Perlindungan di bawah bimbingan seorang guru. Namun, begitu prosedur jñapti-caturtha karman ditetapkan, seseorang hanya dapat memperoleh upasaṃpadā dari saṅgha setelah menjalani masa novisiat sebagai śrāmaṇera.

Ada perbedaan pandangan yang dianut berbagai mazhab berkenaan dengan dispilin śrāmaṇera. Menurut Mahāsāṅghika dan sub-mazhab turunannya, sejak semula Sepuluh Śīla sudah diberikan secara bertahap. Seseorang baru dapat menerima Sepuluh Śīla apabila ia telah memperoleh Lima Śīla upāsaka. Prosedur ini bahkan sudah terjumpaï dalam kisah penahbisan Rāhula (lihat di sini). Dalam skandhaka pertama dari Vinaya Piṭaka masing-masing, Mahīśāsaka dan Sarvāstivāda juga mewajibkan hal yang sama. Sebaliknya, penahbisan śrāmaṇera secara seketika terdapat dalam Vinaya Piṭaka mazhab Dharmaguptaka 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 809c), di mana Rāhula menerima Sepuluh Śīla tanpa diberi Lima Śīla dahulu. (Untuk perbandingan kisah penahbisan Rāhula dalam Vinaya Piṭaka berbagai mazhab, lihat tabel.)

Dalam hal Bodhisattva Śīla, disiplin berdasarkan Mahāyāna Brāhmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. № 1484) dan Bodhisattvakeyura-parikarma Sūtra 《菩薩瓔珞本業經》 (T. № 1485) merupakan contoh śīla yang terbentuk seketika. Disiplin ini dapat diterima siapa saja, baik monastik, umat awam, atau orang yang belum pernah mengambil Prātimokṣa Saṃvara apa pun.

Selasa, 21 Maret 2017

VĀRITRA ŚĪLA vs CĀRITRA ŚĪLA

Pernah kita singgung sambil lalu dalam pembahasan-pembahasan terdahulu klasifikasi lain dari śīla, yaïtu:

  1. Śīla yang sifatnya berhenti (vāritra śīla 止持戒)
    Yakni śīla yang melarang pemegangnya untuk melakukan sesuatu. Jika dilakukan, maka terjadi pelanggaran disiplin.

  2. Śīla yang sifatnya bertindak (cāritra śīla 作持戒)
    Yakni śīla yang memerintahkan pemegangnya untuk melakukan sesuatu. Jika tidak dilakukan, maka terjadi pelanggaran disiplin.

Sebagai bagian dari Prātimokṣa Saṃvara, vāritra śīla menghentikan kejahatan melalui jasmani dan ucapan. Misalnya: pantang membunuh, pantang berdusta, dsb. Disiplin bagi umat awam Buddhis, yang terdiri atas lima śīla, sepenuhnya bersifat vāritra.

Berbeda halnya, disiplin bhikṣu dan bhikṣuṇī mengandung śīla-śīla yang bersifat cāritra, seperti: aturan yang mengharuskan bermukim di suatu tempat selama musim hujan (varṣāvāsa). Jikalau seorang bhikṣu tidak melaksanakannya dan malah berkelana melanjutkan pengembaraan, maka ia melakukan pelanggaran duṣkr̥ta. Seorang bhikṣuṇī yang tidak bermukim selama musim hujan bahkan terkena pelanggaran pācittika/ prāyaścittika.

Sebagian penulis mengatakan bahwa ajaran penghormatan ke enam arah yang terdapat pada Śikhāla Sūtra (terdapat beberapa terjemahan, misalnya: 《尸迦羅越六方禮經》, T. № 16) merupakan cāritra śīla untuk umat awam. Ini adalah pengertian yang keliru karena merancukan istilah śīla. Kita tahu bahwa śīla merupakan sebuah polisem yang memiliki banyak makna, antara lain sebagai ‘etika’ secara umum, atau sebagai ‘disiplin’ (bersinonim dengan saṃvara). Bagaimana pun juga pengelompokan vāritra–cāritra hanya berkenaan dengan śīla sebagai disiplin.

Seorang upāsaka yang gagal menyokong anak-istrinya atau lalai merawat orangtuanya yang renta, tidak melanggar disiplinnya. Ia bukan kita sebut “hidup secara imoral”, melainkan “hidup dengan tidak etis”.


PRAKR̥TI ŚĪLA vs PRAJÑAPTI ŚĪLA

如有二人同共作罪:一者受戒,二不受戒。
Andaikata terdapat dua orang yang sama-sama berbuat dosa: yang satu menerima Śīla (yakni: Prātimokṣa Saṃvara) dan yang kedua tidak.

已受戒者,犯則罪重;不受戒者,犯則罪輕。
Maka dosa yang dilakukan oleh yang sudah menerima Śīla akan lebih berat; sedangkan dosa yang dilakukan oleh yang tidak menerima Śīla akan lebih ringan.

何以故?毀佛語故。
Mengapakah demikian? Sebab ia [yang sudah menerima Śīla] telah mencederaï sabda Sang Buddha.

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XXII, “Lima Śīla”
《優婆塞戒經·五戒品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1063c)

※

Mengulang pembahasan-pembahasan terdahulu (lihat di sini dan sini), bahwa dosa atau kecelaan (sāvadya) dapat dibedakan menjadi beberapa macam. Kecelaan sehubungan dengan jalan karma (karmapathika sāvadya) pasti membawa akibat buruk karena secara alami bertentangan dengan hukum Dharma (contohnya: pembunuhan); sedangkan kecelaan karena kelakuan buruk (durācāra sāvadya) belum tentu. Apa yang buruk — meski sebenarnya tidak bertentangan dengan Dharma — dalam pandangan sebuah masyarakat, bisa jadi tidak apa-apa menurut norma yang berlaku dalam masyarakat lainnya.

Śīla-śīla Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) mengandung kaïdah yang mengatur karmapathika sāvadya maupun yang mengatur durācāra sāvadya. Jadi, kecelaan karena pelanggaran Śīla dapat kita bedakan menjadi dua:

  1. Kecelaan deskriptif (prakr̥ti sāvadya 性罪)
    Merupakan kecelaan yang bertumpang-tindih dengan karmapathika sāvadya. Contohnya dalam pañca śīla Buddhis adalah pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan, yang secara alami dideskripsikan sebagai kecelaan karena memang merupakan jalan karma buruk (akuśala karmapatha).

  2. Kecelaan preskriptif (pratikṣepana sāvadya atau prajñapti sāvadya 遮罪)
    Merupakan kecelaan yang dijadikan preskripsi/ditetapkan begitu saja karena Buddha memandangnya buruk. Contohnya dalam pañca śīla Buddhis adalah meminum minuman-keras. Disiplin bhikṣu/bhikṣuṇī mengandung lebih banyak lagi preskripsi yang ditetapkan oleh Buddha sebagai kecelaan.

Śīla-śīla yang mengatur prakr̥ti sāvadya disebut śīla deskriptif (prakr̥ti śīla 性戒). Śīla-śīla yang mengatur prajñapti sāvadya disebut śīla preskriptif (prajñapti śīla 遮戒). Prajñapti śīla dapat bersesuaian dengan norma moralitas yang berlaku umum atau dapat juga tidak. Berzinah dengan istri tetangga adalah tercela di mata masyarakat umum maupun di dalam Buddhadharma. Namun, meminum minuman-keras dapat diterima dalam kebudayaan banyak bangsa di dunia. Seorang Buddhis yang meminum minuman-keras tidak tercela di mata masyarakat tempat ia tinggal jika memang hal itu dipandang lazim. Ia juga belum tentu disebut melanggar Śīla di dalam Buddhadharma. Ia baru disebut melanggar Śīla jika ia memang sudah mengambil śīla (=langkah latihan) berpantang meminum minuman-keras. Karma buruknya datang semata-mata karena ia melanggar disiplin, dan bukan dari meminum minuman-keras sebab meminum minuman-keras adalah perbuatan yang netral.

pakati sila, pannati sila

Walau demikian, Upāsaka Śīla Sūtra selanjutnya menyambung:

是二種罪,復有輕重。或有人能重罪作輕,輕罪作重。
Kedua jenis kecelaan itu dibedakan lagi menjadi ringan (laghuka) dan berat (guruka). Ada orang yang melakukan dosa berat namun menjadi ringan, [ada pula yang] melakukan dosa ringan namun menjadi berat.

如鴦掘魔羅受於世戒,伊羅缽龍受於義戒。鴦掘魔羅破於性重,不得重罪。伊羅缽龍壞於遮制,而得重罪。是故!有人重罪作輕,輕罪作重。
Seperti Aṅgulimāla yang menerima śīla duniawi (laukika śīla), sementara Naga Elāpattra menerima śīla tertinggi (parmārtha śīla). Aṅgulimāla melakukan kecelaan deskriptif, tetapi tidak mendapatkan dosa yang berat. Naga Elāpattra hanya melanggar aturan preskriptif, tetapi mendapatkan dosa yang berat. Oleh karena itu, ada orang yang melakukan dosa berat namun menjadi ringan, [ada pula yang] melakukan dosa ringan namun menjadi berat!

是故!不應以戒同故,得果亦同。
Maka tidaklah mesti bahwa śīla yang sama akan menghasilkan buah yang sama!

Di bawah guru non-Buddhis, Aṅgulimāla mengambil “disiplin” untuk membunuh seribu orang. Avijñapti yang terbentuk pada dirinya adalah asaṃvara avijñapti. Meskipun ia melakukan dosa berat, namun karma buruk tersebut dapat diimbangi dengan karma baik besar dari penerimaan disiplin Buddhis (Prātimokṣa Saṃvara) sehingga ia tidak terjatuh ke alam neraka, tetapi hanya menerima balasan mati karena dilempari batu.

Naga Elāpattra, sebaliknya, pada kehidupan lampaunya merupakan seorang bhikṣu yang meninggalkan rumah-tangga di bawah Buddha Kāśyapa. Suatu ketika, karena terhambat oleh sepokok pohon ketika sedang berjalan, dipatahkannya ranting pohon tersebut. Kendati mematahkan ranting pohon bukanlah suatu perbuatan yang dianggap tak bermoral di mata masyarakat, itu merupakan śīla preskriptif yang telah ditetapkan oleh Buddha Kāśyapa, dan Elāpattra memandangnya remeh. Sebagai bhikṣu, ia tidak mau bertobat menyesali perbuatan tersebut. Akibatnya, setelah meninggal, ia terjatuh ke neraka selama berkalpa-kalpa. Di zaman Buddha Śākyamuni ia baru keluar dan terlahir kembali menjadi seekor naga yang kepalanya ditumbuhi tanaman elā (‘kapulaga’) yang menimbulkan rasa sakit luar-biasa apabila tertiup angin.

Maka dalam menerima disiplin Buddhis, kita jangan menganggap remeh śīla mana pun walaupun śīla itu terlihat kecil dan tidak penting. Bukankah salah satu kriteria terbentuknya disiplin adalah kesediaan kita memeluk segala aspek yang diatur disiplin tersebut? Khusus untuk disiplin perumahtangga, Buddha bahkan memberikan keleluasaan untuk menerima hanya satu atau beberapa langkah latihan saja (tidak lengkap lima). Kita hendaknya mempertimbangkan baik-baik kesanggupan kita sebelum menerimanya.