Powered by Administrator

Translate

Rabu, 21 Agustus 2013

SIAPAKAH SEORANG UPĀSAKA/UPĀSIKĀ?


優婆塞者,不止在三歸,更加五戒,始得名為優婆塞也。
Yang disebut upāsaka tidak terhenti sampai Tiga Perlindungan saja, tetapi ditambah lagi dengan Lima Śīla, barulah dapat dinamakan upāsaka.

Vinaya Mātr̥kā 《毘尼母經》 jilid 1
(T. vol. 24, № 1463 hlm. 802b)



Umat Buddhis awam disebut upāsaka (Cn. yu-p’o-sê 優婆塞 atau wu-po-so-chia 烏波索迦), yang ditafsirkan sebagai ‘ia yang duduk dekat untuk melayani (upāsana) Triratna’ (Cn. chin-shih-nan 近事男). Pada terjemahan lama kata upāsaka juga diartikan ch’ing-hsin-shih 淸信士 ‘ia yang berkeyakinan jernih’.

Ada perbedaan pendapat apakah seseorang menerima Tiga Perlindungan saja atau harus ditambah Lima Śīla untuk dapat disebut upāsaka, seperti tercatat dalam jilid 124 dari komentar besar abhidharma Sarvāstivādin, Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 645c):
 
健馱羅國諸論師言:「唯受三歸,及律儀缺減,悉成近事。」
Guru-guru śāstra dari Gandhara mengatakan: “Hanya menerima Tiga Perlindungan saja, dan tidak mengambil disiplin (saṃvara) sama sekali atau mengambil tidak lengkap — semuanya dinamakan upāsaka.”

……

迦濕彌羅國諸論師言:「無有唯受三歸,及缺減律儀,名為近事。」
Guru-guru śāstra dari Kāśmīra mengatakan: “Bukan dengan menerima Tiga Perlindungan saja, dan tanpa mengambil/mengambil tidak lengkap disiplin (saṃvara), seseorang dinamakan upāsaka.”
 
 
Sungguhkah tidak ada penerimaan Triśaraṇa saja (yakni: fan-hsieh san-kui 翻邪三) tanpa mengambil Lima Śīla?

Beberapa sūtra yang menceritakan riwayat hidup Buddha, antara lain Hsiu-hsing pên-ch’i ching 《修行本起經》 (T. vol. 3, № 184 hlm. 472b) dan Fo pên-hsing chi ching 《佛本行集經》 (T. vol. 3, № 190 hlm. 802b), menyatakan bahwa sejak awal pengikut-pengikut pertama Buddha seperti Trapuṣa dan Bhallika, di samping mengucapkan Tiga Perlindungan, juga mengambil Lima Śīla.

Akan tetapi, menurut “Śīla-samādāna Skandhaka” dari Dharmaguptaka Vinaya dan Mahīśāsaka Vinaya (lihat di sini), Trapuṣa dan Bhallika serta beberapa pengikut pertama hanya menerima Perlindungan (dalam Dua Pernyataan). Orang pertama yang diketahui secara pasti mengambil Lima Śīla selain Perlindungan (dalam Tiga Pernyataan) adalah ayah dari Yaśa(ka), bhikṣu keenam (T. vol. 22, hlm. 789c dan 105b).

Mahāsāṅghika Vinaya 《摩訶僧祇律》 jilid 9 (T. vol. 22, № 1425 hlm. 306a) membagi:

優婆塞者:三歸、一分行、少分行、多分行、滿分行。隨順行此法,是名優婆塞。
Upāsaka terdiri atas: [yang hanya menerima] Tiga Perlindungan, pelaksana satu-bagian [dari Lima Śīla], pelaksana sedikit-bagian, pelaksana banyak-bagian, pelaksana penuh. Ia yang melaksanakan [salah satu dari] dharma ini sesuai situasi, dinamakan upāsaka.
 
Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1049a) akhirnya menyatakan:

爾時,智者次應為說三歸依法。第二、第三亦如是說。受三歸已,名優婆塞。
Pada saat itu [guru] yang bijak selanjutnya harus mengajarkan Tiga Perlindungan. Untuk kedua kali dan ketiga kali ia harus mengulangkannya. Setelah menerima Tiga Perlindungan, maka [pemohon tersebut] disebut upāsaka. 

爾時,智者復應語言:『善男子。諦聽!諦聽!如來、正覺說優婆塞戒,或有一分、或有半分、或有無分、或有多分、或有滿分。
Pada saat itu [guru] yang bijak lalu harus berkata: ‘Putra yang berbudi, dengarlah baik-baik! Tathāgata, Yang Tercerahkan Sempurna, telah membagi pelaksanaan Upāsaka Śīla, yaïtu: satu-bagian, separuh-bagian, tanpa-bagian, banyak-bagian, dan sepenuh-bagian.

『若優婆塞受三歸已,不受五戒,是名優婆塞。
‘Jika seorang upāsaka telah menerima Tiga Perlindungan, namun tidak menerima Lima Śīla, maka ia dinamakan upāsaka [saja].

『若受三歸,受持一戒,是名一分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang satu śīla, maka ia disebut pelaksana satu-bagian (ekadeśakārin).

『受三歸已,受持二戒,是名少分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang dua śīla, maka ia disebut pelaksana sedikit-bagian (pradeśakārin).

『若受三歸,持二戒已,若破一戒,是名無分。
‘Setelah menerima Tiga Perlindungan dan memegang dua śīla, jika ia merusakkan satu śīla saja, maka ia menjadi tanpa-bagian.

『若受三歸,受持三四戒,是名多分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang tiga atau empat śīla, maka ia disebut pelaksana banyak-bagian (yadbhūyaskārin).

『若受三歸,受持五戒,是名滿分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang lima śīla, maka ia disebut pelaksana sepenuh-bagian (paripūrṇakārin).

『汝今欲作一分優婆塞?作滿分耶?』
‘Kini engkau hendak menjadi upāsaka pelaksana satu-bagian, …, ataukah pelaksana sepenuh-bagian?’

若隨意說,爾時智者當隨意授。
Jika [pemohon] telah menyatakan sesuai keinginannya, maka pada saat itu [guru] yang bijak haruslah memberikan sesuai keinginannya itu.
 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Keutamaan Berlindung pada Triratna



如昔有一鴿為鷹所追,入舍利弗影,戰懼不安。移入佛影,泰然不怖。
Seperti dahulu terdapat seekor merpati yang dikejar elang dan bernaung di bawah bayangan Śāriputra, namun tetap merasa gentar dan tidak tenteram. Ketika ia berpindah memasuki bayangan Buddha, ia pun merasa sentosa dan tidak takut lagi.

大海可移,此鴿不動。所以爾者?
Samudra besar bahkan dapat dipindahkan, akan tetapi merpati ini tidak tergoyahkan. Mengapakah demikian?

佛有大慈大悲,舍利弗無大慈大悲。佛習氣盡,舍利弗習氣未盡。佛三阿僧祇劫修菩薩行,舍利弗六十劫中修習苦行。以是因緣,鴿入舍利弗影中,猶有怖畏。
Buddha memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā, sedangkan Śāriputra tidak memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā. Buddha telah menghentikan energi-kebiasaan (vāsanā), sedangkan Śāriputra energi-kebiasaannya belum terhenti. Buddha berlatih praktik kebodhisattvaan selama tiga asaṅkhyeyakalpa, sedangkan Śāriputra hanya berlatih praktik pertapaan keras (duṣkara caryā) selama enampuluh kalpa. Karena sebab inilah, ketika merpati memasuki bayangan Śāriputra, ia masih merasa takut.


問曰:若歸向三寶能除罪過、息怖畏者,提婆達多亦歸依三寶,以信出家、受具足戒,而犯三逆,墮阿鼻獄?
Tanya: Jika berlindung kepada Triratna dapat memusnahkan karma buruk dan menghentikan ketakutan, mengapakah Devadatta — yang juga berlindung kepada Triratna, dan dengan keyakinan meninggalkan rumahtangga serta menerima Upasaṃpanna Śīla — setelah melakukan tiga perbuatan durhaka (ānantarya), terjatuh ke Neraka Avīci?

答曰:凡救護者,救可救者。提婆達多罪惡深大,兼是定業。是故叵救。
Jawab: Setiap penolong dan penjaga hanya dapat menolong mereka yang memang dapat ditolong. Karma buruk Devadatta amatlah besar dan dalam, dan merupakan karma tetap. Karena itulah, ia tidak dapat ditolong.

問曰:若有大罪,佛不能救。若無罪者,不須佛救。云何三寶能有救護?
Tanya: Jika terdapat karma buruk besar, Buddha tidak dapat menolong. Jika tiada karma buruk, kita tidak butuh pertolongan Buddha. Bagaimanakah Triratna dapat menolong dan menjaga?

答曰:提婆達多雖歸三寶,心不真實,三歸不滿。常求利養、名聞,自號一切智人,與佛共競。以是因緣,三寶雖有大力,不能救也。如阿闍世王,雖有逆罪,應入阿鼻獄,以誠心向佛,故滅阿鼻罪,入黑繩地獄。如人中七日,重罪即盡。是謂三寶救護力也。
Jawab: Walau Devadatta berlindung kepada Triratna, hatinya tidak sungguh-sungguh sehingga Tiga Perlindungannya tidak sempurna. Ia selalu berharap memperoleh persembahan dan kemasyhuran. Ia menyebut dirinya sendiri “Yang Mahatahu” (Sarvajña) dan hendak menyaingi Buddha. Karena sebab inilah, meskipun Triratna memiliki kekuatan mahabesar, ia tidak tertolong. Sementara Raja Ajātaśatru, walau melakukan kedurhakaan besar dan sepatutnya masuk Neraka Avīci, namun dengan tulus hati telah berlindung kepada Buddha. Oleh karena itu, karma buruk [yang seharusnya menyebabkan ia lahir] di Neraka Avīci mereda, dan ia hanya masuk Neraka Kālasūtra. Setelah kira-kira tujuh hari di alam manusia, karma buruknya yang berat berakhir. Demikianlah kekuatan pertolongan dan penjagaan Triratna.

問曰:若調達罪不可救者,又經云:「若人歸依佛者,不墮三惡道。」是義云何?
Tanya: Apabila Devadatta memiliki karma buruk dan tidak dapat ditolong, — ada sūtra yang menyatakan: “Jika seseorang berlindung kepada Buddha, maka ia takkan terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.” Bagaimanakah artinya?

答曰:調達以歸三寶故,雖入阿鼻獄,受苦輕微,亦時得暫息。有如人在山林、曠野、怖畏之處,若念佛功德,怖畏即滅。是故!歸依三寶,救護不虛也。
Jawab: Karena Devadatta berlindung kepada Triratna, meskipun ia masuk Neraka Avīci, namun penderitaan yang diterimanya lebih ringan dan kadangkala berhenti sewaktu-waktu. Seumpama orang yang memasuki hutan di pegunungan, padang belantara, atau tempat-tempat menakutkan, jika ia dapat merenungkan kualitas bajik Buddha, maka ketakutannya akan sirna. Oleh karena itu, jika kita berlindung kepada Triratna, pertolongan dan penjagaan-Nya sungguh tidak hampa.

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a)

Kisah Sakra yang Meninggal dan Terlahir sebagai Keledai, lalu Kembali Lagi Menjadi Raja Para Dewa berkat Berlindung kepada Triratna

所行非常  謂興衰法
夫生輒死  此滅為樂

2. Segala yang berkondisi tidak kekal,
semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
Apa yang lahir, niscaya akan mati.
Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.


譬如陶家  埏埴作器
一切要壞  人命亦然

3. Bagaikan bejana yang dibuat
tukang tembikar yang mengadon tanah:
semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
Seperti itu pulalah hidup manusia.


—— Kitab Pepatah Dharma bab I, “Ketidakkekalan”
《法句經·無常品第一》
(T. vol. 4, № 210 hlm. 559a)



CERITA LATAR BELAKANGNYA
Dari bab I Dharmapada-avadāna (Fa-chü p’i-yü ching 《法句譬喩經》, T. № 211):


  Kali ini lima kualitas meninggalkan diri Śakra, raja para dewa sendiri. Ia sadar bahwa hidupnya akan berakhir dan ia akan terlahir kembali di dunia, dikandung dalam rahim keledai seorang tukang tembikar. Apakah kelima kualitas tersebut?
  1. Cahaya tubuhnya padam.
  2. Hiasan bunga di atas kepalanya layu.
  3. Ia tidak merasa nyaman lagi duduk di tempatnya.
  4. Ketiaknya mengeluarkan keringat yang bau.
  5. Debu-debu menempel di badannya.

  Karena kelima hal ini, tahulah ia bahwa karma baiknya telah habis, dan ia merasa amat khawatir. Ia teringat bahwa di Triloka ini hanya Buddhalah yang dapat menolong orang-orang dari segala penderitaan, maka ia pun segera pergi menuju ke tempat Sang Buddha.

  Pada saat itu Buddha berada dalam sebuah gua di Gunung Gr̥dhrakūṭa, sedang duduk bermeditasi memasuki samādhi yang bernama “Pertolongan Universal”. Tatkala sang raja para dewa melihat Buddha, ia pun memberi hormat dengan bersujud ke tanah dan dengan sepenuh hati mengucapkan Tiga Perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Belum sempat ia bangkit (dari namaskāra), hidupnya tiba-tiba berakhir dan ia mendapati dirinya menjadi anak dalam rahim keledai betina seorang tukang tembikar.

  Pada saat itu keledai tersebut melepaskan diri dari ikatannya, berlarian di tengah-tengah tembikar, dan memecahkan bejana-bejana. Majikannya memukulnya dan dalam seketika melukaï janinnya (yang merupakan Śakra). Kesadaran Śakra pun kembali ke tubuh lamanya sebagai raja para dewa, lengkap dengan lima kualitas seperti semula. 

  Maka Buddha bangkit dari samādhi-Nya dan memuji: “Bagus, Raja Para Dewa! Sewaktu batas hidupmu hampir berakhir, engkau dapat berlindung kepada Tiga Yang Mulia. Balasan karma burukmu telah selesai dan engkau tidak lagi harus menderita.” Pada saat itu Bhagavan mengucapkan gāthā pujian berikut:

  所行非常  謂興衰法
  夫生輒死  此滅為樂

  Segala yang berkondisi tidak kekal,
  semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
  Apa yang lahir, niscaya akan mati.
  Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.

  譬如陶家  埏埴作器
  一切要壞  人命亦然

  Bagaikan bejana yang dibuat
  tukang tembikar yang mengadon tanah:
  semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
  Seperti itu pulalah hidup manusia.

  Mendengar gāthā ini, Raja Śakra pun menyadari esensi ketidakkekalan. Ia menangkap perubahan akibat karma baik dan buruk; ia mengerti asal-mula kemunculan dan kelenyapan. Praktek menuju Pemadaman (Nirvāṇa) pun diturutnya. Dengan gembira ia menerimanya dan memperoleh Srotāpatti-mārga.



anicca Sakka



HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TIGA PERLINDUNGAN

Substansi Tiga Perlindungan yang telah diterima akan rusak apabila:

1.  受三歸已,造作癡業,受外道法、自在天語。以是因縁,失於三歸。
Setelah menerima Triśaraṇa, seseorang melakukan tindakan bodoh sesuai ajaran non-Buddhis atau menerima kata-kata Īśvara (“Tuhan”, dewa-dewa, dsb.) — karena sebab inilah maka ia kehilangan Tiga Perlindungan.
2.  若有造作種種雜業,爲受樂故,修於善事如市易法,其心不能憐愍衆生。如是之人,不得三歸。
Jika seseorang melakukan berbagai macam tindakan demi mendapatkan kesenangan; mengerjakan hal-hal baik [yang bersifat duniawi] seperti berbisnis, dsb.; namun tidak memiliki belaskasih dalam hatinya terhadap makhluk lain — maka orang semacam ini tidak memperoleh Tiga Perlindungan.
3.  若人至心,信其能救一切怖畏,禮拜外道。是人則失三歸依法。
Jika seseorang dengan sungguh hati menyembah (yakni: bergantung pada) praktisi spiritual non-Buddhis, meyakini bahwa mereka mampu menolongnya dari segala ketakutan — maka orang ini kehilangan substansi Tiga Perlindungan.

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XX, “Tiga Perlindungan yang Murni”
《優婆塞戒經·淨三歸品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1062a)


Allah = berhala

HAL-HAL YANG MENENTUKAN VALIDNYA PENERIMAAN TRIŚARAṆA


kalyana mitta

Istilah kalyāṇamitra dalam Buddhisme bukanlah merujuk pada kawan baik yang akrab dengan kita. Lebih dari sekadar teman biasa, seorang kalyāṇamitra adalah seorang guru yang mampu membimbing kita menuju kemajuan spiritual dalam jalan Dharma.

Mengingat pentingnya kalyāṇamitra untuk mencapai kemajuan dalam segala praktek, maka sebelum mengambil Tiga Perlindungan, kita harus meneliti terlebih dahulu kualitas calon guru pembimbing. Kita tidak mungkin memohon Tiga Perlindungan dari seseorang yang dirinya sendiri tidak berlindung kepada Triratna, atau ia telah kehilangan substansi Perlindungan karena, misalnya, ia mempraktekkan/meyakini ajaran spiritual non-Buddhis atau ia sangat mengandalkan benda-benda bertuah, jimat-jimat, “isi” patung-patung, dsb.

Apabila kita sudah yakin bahwa calon guru tersebut kompeten untuk membimbing kita, maka berikutnya kita juga harus mengerti makna sesungguhnya berlindung kepada Triratna, serta apa saja komitmen yang harus kita jaga setelah berlindung. Jika tidak, walaupun kita mengikuti upacara Tiga Perlindungan, maka upacara tersebut kosong belaka, dan tidak ada substansi Perlindungan yang kita terima.

Dalam mengikuti upacara Tiga Perlindungan, kita sebaiknya mengenali bagian-bagian dari ritus tersebut sehingga tahu di mana harus menjawab, di mana harus mengulangi perkataan guru pembimbing, di mana harus bernamaskāra, dll. Kita hendaknya tidak berada terlalu jauh dari guru pembimbing sehingga apa yang disampaikannya terdengar jelas. Apabila kita terkendala masalah bahasa dan tidak memahami apa yang diucapkan guru pembimbing, yang terpenting adalah kita harus berkonsentrasi saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan (“saya seumur hidup berlindung kepada Buddha”, dst.) sebab pada momen inilah substansi Perlindungan diperoleh. 
 

Dalam jilid ke-16 Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) disebutkan:
不得先歸依僧,後歸依法、佛。亦不得雜說。
Janganlah [mengucapkan] berlindung kepada Saṅgha dahulu, baru kemudian kepada Dharma dan Buddha. Jangan pula mengucapkan secara acak.

Maka pemahaman guru pembimbing tentang seluk-beluk ritus Tiga Perlindungan amatlah penting karena apa yang ia ucapkan akan diulangi oleh pemohon. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多論》 (lihat posting sebelumnya) menyatakan:
  • apabila karena tidak mengerti atau tidak sengaja ia mengucapkan secara terbalik, maka Triśaraṇa tersebut valid/sah dan pemohon memperoleh substansi Perlindungan;
  • apabila ia mengerti, namun sengaja mengucapkannya terbalik, maka Triśaraṇa tersebut tidak sah dan pemohon tidak memperoleh substansi Perlindungan. 


Samantapāsādikā 《善見論》 selanjutnya menyambung:
若師教言:「歸依佛」,弟子語不正,言:「歸依弗」,亦成受。
Jika sang guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun siswanya mengulangi secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka [Tiga Perlindungan] terbentuk.

若師教言:「歸依弗」,弟子言:「歸依佛」,亦成受三歸。
Jika gurunya mengajarkan, “Saya berlindung kepada Bodha”, namun sang siswa mengucapkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, maka ia pun mendapatkan Tiga Perlindungan.

若師與弟子語俱不正,言:「歸依弗」,不成受三歸。
Jika baik guru maupun siswa sama-sama mengucapkan secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka tidak ada Tiga Perlindungan yang terbentuk.
 
Semua hal berikut akan menyebabkan Triśaraṇa menjadi invalid:

1.  若師教:「歸依佛」,弟子答言:「爾」。
Jika guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun sang siswa hanya menjawab, “Ya [demikianlah, Bhadanta]”.
2.  或語不出口。
Atau ia tidak mengeluarkan suara (hanya mengulangi dalam hati).
3.  或逐語不具足
Atau ia mengulangi secara tidak lengkap —
皆不成受三歸。
maka tiada Tiga Perlindungan yang terbentuk.

Jumat, 16 Agustus 2013

Dua Format Tiga Perlindungan

Menurut Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) Tiga Perlindungan dapat diucapkan dalam dua format:


1. Penerimaan tersendiri-sendiri 別受
Yang dimaksud penerimaan tersendiri-sendiri adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依佛,歸依佛。』
“Saya berlindung kepada Buddha.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依法,歸依法,歸依法。』
“Saya berlindung kepada Dharma.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依僧,歸依僧,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Saṅgha.” (3×)
 Selesai.


2. Penerimaan sekaligus 總受
Yang dimaksud penerimaan sekaligus adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依法,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Buddha, saya berlindung kepada Dharma, saya berlindung kepada Saṅgha.”
 Kalimat ini diulangi tiga kali.

 
 
Dalam Ritus Penerimaan Triśaraṇa, Tiga Perlindungan (no. 5) diucapkan menurut format kedua, yang umum digunakan; sedangkan Tiga Konklusi (yang digabung dengan Tiga Komitmen) diucapkan secara tersendiri-sendiri sesuai format pertama. Dan kedua format ini adalah VALID.

SELAYANG PANDANG Ritus Penerimaan Triśaraṇa dalam Tradisi Buddhis Cina


ari formula sederhana pada Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan, penerimaan Tiga Perlindungan dalam tradisi Buddhis Cina telah dielaborasi menjadi ritus yang kita kenal sekarang, seperti di bawah ini. Ritus yang khidmat semacam ini tentu baik untuk membangkitkan ketulusan sehingga pemohon memandang penerimaan Tiga Perlindungan secara sérius. Akan tetapi, ada potensi hal ini menjadi upacara kosong yang tak bermakna, terutama jika dilaksanakan hanya dengan menekankan aspek ritualnya semata, tanpa pemahaman benar tentang makna berlindung yang sesungguhnya.

Walau demikian, perlu juga bagi kita untuk menelaah ritus tradisional penerimaan Tiga Perlindungan ini secara garis besar. Bagian-bagian daripadanya tentu saja disusun berdasarkan sistem vinaya dan teks-teks āgama. Namun, seperti ungkapan lex orandi, lex credendi (hukum berdoa adalah hukum beriman), beberapa bagian — mengundang Triratna, mengakui kesalahan, membangkitkan tekad — ditambahkan sebagai cerminan keyakinan Mahāyānis yang dianut umat Buddhis Tionghoa.

Akhirnya, daripada cuma penyelenggaraan upacara yang meriah, yang terpenting adalah: bagaimana setelah menyatakan berlindung, kita harus selalu menjaga komitmen-komitmen kita terhadap Triratna (lihat http://silavisodhana.blogspot. com/2013/08/fan-hsieh-san-kui.html).




Dengan dipandu oleh seorang asisten (bisa seorang upāsaka atau bhikṣu/śrāmaṇera lain), pemohon Triśaraṇa bernamaskāra tiga kali di depan altar. Kemudian semua berdiri berhadapan, menanti kehadiran bhikṣu pembimbing Triśaraṇa, yang akan masuk dalam suatu prosesi. Setelah tiba, ia akan membakar dupa dan bernamaskāra tiga kali, lalu duduk di tempat yang telah disediakan.


1. Asisten selanjutnya mengucapkan sepatah kata pengantar. Lalu ia menuntun pemohon Triśaraṇa untuk mengulangi rumusan samanvāhara bhadanta (‘bhadanta perhatikanlah’), yang lazim digunakan dalam berbagai karmavācanā Dharmaguptaka:


“Bhadanta, dengan sepenuh hati perhatikanlah saya, siswa yang bernama N. (sebut nama sendiri), kini memohon Bhadanta menjadi guru pembimbing Triśaraṇa. Kiranya Bhadanta sudi menjadi guru pembimbing Triśaraṇa saya. Dengan bersandar kepada Bhadanta, Tiga Perlindungan yang murni akan saya peroleh — berkat belaskasih Bhadanta!”

Permohonan ini diulangi tiga kali, dan setiap kalinya diikuti dengan satu namaskāra kepada guru pembimbing. Pada ulangan terakhir perkataan tz’ŭ-min ku 慈愍故 ‘berkat belaskasih’ (Skt. anukampām upādāya) ditambahi menjadi ta tz’ŭ-min ku 大慈愍故 ‘berkat belaskasih yang besar’.


2. Setelah menyatakan kesediaannya, guru pembimbing akan memberikan homili singkat tentang Triratna (seperti pada http://silavisodhana.blogspot.com/2013/08/siapakah-triratna.html) serta makna berlindung kepada-Nya. Setelah selesai, inti dari ritus penerimaan Triśaraṇa dimulaï di sini.


3. Mula-mula, sebagai ekspresi keyakinan Mahāyānis, guru pembimbing akan mengajak pemohon untuk mengundang kehadiran para Buddha di sepuluh penjuru; Dharma dan Vinaya Kedua Kendaraan; Saṅgha para bodhisattva, pratyeka, dan śrāvaka; silsilah guru-guru pemegang vinaya, dimulaï dari Yang Mulia Upāli; serta para dharmapāla sebagai saksi.


4. Kemudian guru pembimbing menuntun pemohon mengucapkan Pernyataan Tobat berikut kalimat demi kalimat, mengajak mereka untuk menyesali perbuatan-perbuatan salah yang telah mereka lakukan tatkala mereka belum mengenal Triratna dan hidup tidak sesuai Dharma, serta bertekad untuk tidak mengulanginya:


“Saya, siswa yang bernama N.,
semenjak waktu yang tak berawal,
hingga kehidupan kini,
telah menolak Triratna dan menjadi seorang icchantika,
telah memfitnah sūtra-sūtra Mahāyāna 
dan putus mempelajari prajñā.

Saya pernah membunuh ayah dan ibu,
melukaï Sang Buddha,
mencemari saṅghārāma,
merusak kehidupan kudus (brahmacarya) orang lain,
membakar dan menghancurkan stūpa dan vihāra,
mencuri barang-barang milik saṅgha,
membangkitkan pandangan salah,
menguncarkan [kesesatan] bahwa tiada sebab dan akibat,
mengakrabkan diri dengan sahabat-sahabat yang jahat,
membelakangi guru-guru yang budiman.

Saya telah melakukan sendiri semua ini,
mengajari orang lain melakukan, atau
bergembira melihat/mendengar orang lain melakukan.

Segala kejahatan ini tiada terukur dan tiada bertepi;
maka pada hari ini 
saya membangkitkan rasa segan dan malu,
dengan jujur mengakuinya, dan
memohon belaskasih untuk penyesalan ini.

Kiranya Sang Triratna berbelaskasih menerimanya,
memancarkan cahaya yang murni dan menyinari saya,
sehingga saya dapat menghapuskan segala karma buruk,
menyingkirkan ketiga rintangan,
kembali ke sumber batin asasi, dan
menjadi murni sepenuhnya.”

Rumusan ini juga diulangi tiga kali. Kadang-kadang gāthā pertobatan singkat yang populer dari Bhadracarī Praṇidhāna Rāja digunakan sebagai alternatif. Sebagai penutup Pernyataan Tobat, seruan berikut diulangi tiga kali:


“Terpujilah Bodhisattva Mahāsattva Samantabhadrarāja!” (3×)


5. Setelah bertobat, bagian berikutnya merupakan momen terpenting dalam ritus penerimaan Triśaraṇa, di mana substansi Perlindungan ditransmisikan kepada pemohon. Mengikuti tuntunan guru pembimbing, pemohon mengulangi rumusan Tiga Perlindungan berikut sebagai satu kesatuan:


“Saya, N., seumur hidup berlindung kepada Buddha, seumur hidup berlindung kepada Dharma, seumur hidup berlindung kepada Saṅgha.” (3×)

Dengan mengulangi tiga kali, substansi Perlindungan telah diperoleh. Selanjutnya pemohon mengulangi Tiga Konklusi untuk memantapkannya dalam batin. Di sini Tiga Konklusi digabung dengan Tiga Komitmen (san-shih 三誓), dan setiap pernyataannya diulangi tiga kali juga:


“Saya, N., telah berlindung kepada Buddha, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada Īśvara, dewa-dewa, hantu-hantu, dsb. Saya hanya berlindung kepada Tathāgata, Arhat, Samyak Saṃbuddha yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


“Saya, N., telah berlindung kepada Dharma, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada ajaran-ajaran non-Buddhis. Saya hanya berlindung kepada segala ajaran yang disabdakan Tathāgata, yang terdapat dalam Kitab-Kitab Suci, yang terdiri atas dua belas divisi (dvādaśāṅga) dalam Tripiṭaka, yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


“Saya, N., telah berlindung kepada Saṅgha, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada komunitas spiritual non-Buddhis. Saya hanya berlindung kepada Saṅgha, ladang jasa (puṇyakṣetra) yang murni, yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


6. Guru pembimbing lalu mengajak pemohon mengucapkan Empat Tekad Umum Bodhisattva sebagai aplikasi Perlindungan yang telah diambil. Keempat tekad yang khas Mahāyāna ini berkaitan dengan Empat Kebenaran:

(a)
  Kebenaran tentang Penderitaan
Karena melihat bahwa bukan hanya dirinya saja yang menderita, semua makhluk di Triloka pun masih mengalami penderitaan, maka seorang bodhisattva bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk yang tiada bertepi.
(b)  Kebenaran tentang Sebab Penderitaan
Semua penderitaan, baik yang dialami dirinya sendiri maupun makhluk lain, disebabkan karena terikat oleh kekotoran batin (kleśa) seperti sepuluh pembelenggu 十使, dsb. Oleh karenanya, seorang bodhisattva bertekad untuk memotong kekotoran batin yang tiada akhir.
(c)  Kebenaran tentang Jalan menuju Akhir Penderitaan
Untuk mengakhiri segala penderitaan tersebut, tiada jalan lain selain berlatih moralitas (śīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (prajñā). Untuk itu, seorang bodhisattva harus bertekad mempelajari berbagai Pintu Dharma yang tiada terukur.
(d)  Kebenaran tentang Akhir Penderitaan
Akhirnya, seorang bodhisattva bertekad untuk mencapai Kebuddhaan yang tiada tara, yang merupakan akhir dari segala penderitaan, sebab hanya melalui pencapaian Kebuddhaan segenap potensi tersempurnakan dalam dirinya sehingga, di samping membebaskan dirinya sendiri, ia mampu membebaskan semua makhluk dari penderitaan.

Rumusan berikut diulangi tiga kali:



“Saya, N., bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk yang tiada bertepi.
Saya, N., bertekad untuk memotong kekotoran batin yang tiada akhir.
Saya, N., bertekad untuk mempelajari Pintu Dharma yang tiada terukur.
Saya, N., bertekad untuk mencapai Kebudhaan yang tiada tara.” (3×)


7. Kemudian guru pembimbing akan memberikan nasihat agar penerima Triśaraṇa menjaga komitmen-komitmen setelah berlindung karena Triśaraṇa merupakan sebab utama untuk dapat terbebas dari saṃsāra. Berkat Triśaraṇa, apa yang kita cita-citakan dalam mempraktikkan Dharma dengan penuh keyakinan akan terwujud. Oleh karena itu, sewaktu menerima Triśaraṇa, sepatutnyalah kita bergembira dan membangkitkan pikiran telah menjumpaï sesuatu yang amat langka.

Sebuah kutipan dari Sūtra tentang Perbandingan Jasa-Jasa yang Langka” (Hsi-yu chiao-liang kung-tê ching 《希有校量功德經》, T. vol. 16, № 690 hlm. 784c) disebutkan di sini:
“Seandainya trisahasra-mahāsahasra-lokadhātu ini dipadati oleh para Tathāgata seumpama rumpun padi, rami, bambu, atau gelagah, dan seandainya terdapat seseorang yang memberikan persembahan berupa empat kebutuhan pokok selama 20.000 tahun. Lalu, setelah para Tathāgata tersebut parinirvāṇa, ia mendirikan stūpa-stūpa untuk Mereka masing-masing, dan kembali memberikan persembahan bermacam-macam dupa dan bunga. Walaupun sungguh banyak jasa-jasanya, itu tidaklah sebanding dengan jasa yang diperoleh seseorang yang, dengan batin yang murni, berlindung kepada Triratna.”


8. Ritus penerimaan Triśaraṇa ditutup dengan Penyaluran Jasa (pariṇāmanā) dan namaskāra tiga kali ke hadapan altar. Penerima Triśaraṇa lalu bernamaskāra tiga kali kepada guru pembimbing sebagai ungkapan terima kasih.

Adakah Perlindungan dalam Dua Pernyataan Saja?


Vinaya Piṭaka beberapa mazhab mencatat kisah dua orang pedagang bersaüdara, Trapuṣa dan Bhallika, yang melintas dengan rombongan lima ratus kereta lembu, dekat hutan tempat Tathāgata berdiam beberapa saat setelah Beliau mencapai Pencerahan. Setelah memberikan dāna makanan, mereka kemudian menyatakan diri berlindung dan menjadi pengikut awam Buddha yang pertama.

Menurut “Śīla-samādāna Skandhaka” dari Mahīśāsaka Vinaya 《五分律》 (T. vol. 22, № 1421 hlm. 103a) dan Dharmaguptaka Vinaya 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 782a), adalah Buddha sendiri yang mengajari mereka untuk mengucapkan Perlindungan dalam Dua Pernyataan 二語 (dvivācika), yakni berlindung kepada Buddha dan berlindung kepada Dharma. Format Dua Pernyataan ini diajarkan juga secara berturut-turut — berdasarkan Dharmaguptaka Vinaya (urutannya berbeda dalam Mahīśāsaka Vinaya) — kepada:
  •  Dewa pohon harītakī, yang merupakan dewa pertama yang menyatakan berlindung;
(Kisah ini tiada pada Mahīśāsaka Vinaya. Namun, seorang dewa gunung bernama Mo-hsiu-lo 摩修羅 mempersembahkan buah harītakī sebelum kedatangan Trapuṣa dan Bhallika karena Tathāgata menderita penyakit angin, dan tidak disebutkan bahwa ia menerima Perlindungan.)
  •  Seorang brāhmaṇa di Desa Uruvilvā;
(Menurut Mahīśāsaka Vinaya namanya adalah Sena 斯那.)
  •  Istrinya, yang merupakan putri Jenderal Besar Sujata;
  •  Penduduk Desa Uruvilvā lainnya, baik laki-laki maupun perempuan;
(Dalam Mahīśāsaka Vinaya, sesudah Trapuṣa dan Bhallika, yang menyatakan berlindung berturut-turut adalah: Sujatā, putri dari Brāhmaṇa Sena; Sena sendiri; istrinya; keempat saüdari brāhmaṇa tersebut; serta seorang wanita yang memberikan makanan sewaktu Buddha berdiam di bawah pohon ajapāla-nyagrodha.)
  •  dan Raja Naga Mucilinda, yang merupakan hewan pertama yang menyatakan berlindung.
(Kisahnya dalam Mahīśāsaka Vinaya mendahului Sujatā, namun tidak disebutkan bahwa ia menerima Perlindungan.)


Akan tetapi, sūtra-sūtra yang menceritakan riwayat hidup Buddha seperti Hsiu-hsing pên-ch’i ching 《修行本起經》 (T. vol. 3, № 184 hlm. 472b), T’ai-tzŭ jui-ying pên-ch’i ching 《太子瑞應本起經》 (T. vol. 3, № 185 hlm. 479b), Kuo-ch’ü hsien-tsai yin-kuo ching 《過去現在因果經》 (T. vol. 3, № 189 hlm. 643c), Fo pên-hsing chi ching 《佛本行集經》 (T. vol. 3, № 190 hlm. 802b), dan Chung-hsü mo-ho-ti ching 《眾許摩訶帝經》 (T. vol. 3, № 191 hlm. 951c) secara sepakat menyatakan bahwa Buddha mengajari Trapuṣa dan Bhallika untuk mengucapkan Perlindungan dalam Tiga Pernyataan 三語 (traivācika), yakni berlindung kepada Buddha, berlindung kepada Dharma, dan berlindung kepada Saṅgha.

Perlindungan kepada Saṅgha sebagai antisipasi ditegaskan dalam Kuo-ch’ü hsien-tsai yin-kuo ching:

食既畢竟,澡漱洗缽,即授商人三歸:
Setelah selesai makan, [Buddha] berkumur dan mencuci mangkuk-Nya, lalu mengajarkan Tiga Perlindungan kepada kedua pedagang itu, yakni:
一、歸依佛,   Berlindung kepada Buddha,
二、歸依法,   Berlindung kepada Dharma,
三、歸依將來僧。 Berlindung kepada Saṅgha yang akan datang.

Dalam I-ch’u p’u-sa pên-ch’i ching 《異出菩薩本起經》 (T. vol. 3, № 188 hlm. 620b), tatkala Raja Naga Mucilinda menyatakan:
「從今以去,我自歸佛、自歸經。」
“Mulaï saat ini dan seterusnya, saya berlindung kepada Buddha dan kepada Dharma.”
Maka Buddha berkata kepadanya:
「比後當有眾阿羅漢比丘僧。汝亦當復務自歸之!」
“Kelak akan terdapat bhikṣu-saṅgha yang terdiri atas kumpulan arhat. Engkau pun harus menyatakan berlindung pada-Nya!”
(Mahīśāsaka Vinaya [hlm. 107a] dan Dharmaguptaka Vinaya [hlm. 792c] menceritakan pula kisah Raja Naga Elāpattra, yang merupakan hewan pertama yang mengucapkan Perlindungan dalam Tiga Pernyataan.)


Kedua format di atas sebenarnya tidak terlalu menjadi persoalan sebab, dengan melihat skema di sini, meskipun dari sisi fenomena Triratna belum lengkap, namun dari sisi nomena Triratna senantiasa hadir. Bagaimana persisnya Perlindungan yang diberikan pada masa awal penyebaran Ajaran tidaklah kita ketahui dengan pasti. Yang jelas, di kemudian hari hanya Tiga Pernyataanlah yang digunakan secara definitif. 




Kutipan dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 506b):

問曰:若受三歸,或時先稱法寶,後稱佛者,成三歸不?
Tanya: Pada saat memberikan Tiga Perlindungan, apabila lebih dahulu mengucapkan [berlindung] kepada Dharmaratna, baru mengucapkan kepada Buddha, apakah [substansi] Tiga Perlindungan terbentuk?

答曰:若無所曉知,說不次第者,自不得罪,得成三歸。若有所解,故倒說者,得突吉羅,亦不成三歸。
Jawab: Apabila tidak tahu dan mengucapkannya tidak berurutan, maka tiada pelanggaran dan Tiga Perlindungan terbentuk. Apabila sudah mengerti, namun dengan sengaja mengucapkan terbalik, maka terjadi pelanggaran duṣkr̥ta dan Tiga Perlindungan tidak terbentuk.

問曰:若稱佛及法,不稱僧者,成三歸不?若稱法僧,不稱佛寶,成三歸不?若稱佛僧,不稱法寶,成三歸不?
Tanya: Apabila hanya menyebutkan Buddha dan Dharma, tidak menyebutkan Saṅgha, terbentukkah Tiga Perlindungan? Apabila hanya menyebutkan Dharma dan Saṅgha, tidak menyebutkan Buddharatna, terbentukkah Tiga Perlindungan? Apabila hanya menyebutkan Buddha dan Saṅgha, tidak menyebutkan Dharmaratna, terbentukkah Tiga Perlindungan?

答曰:不成三歸。
Jawab: Tidak terbentuk.

TIGA PERLINDUNGAN DAN TIGA KONKLUSI

Bentuk Tiga Perlindungan dan Tiga Konklusi yang umum dipakai di Cina telah kita kutip dari Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan pada posting sebelumnya. Apakah Tiga Perlindungan dan Tiga Konklusi itu?

Dalam berbagai teks yang mendeskripsikan detail penerimaan Triśaraṇa, seringkali ditemukan dua bagian: bagian pertama merupakan Tiga Perlindungan (san-kui 三歸) itu sendiri; bagian kedua disebut Tiga Konklusi (san-chieh 三結). Kedua bagian ini diucapkan oleh umat yang mengambil Triśaraṇa, kalimat demi kalimat, mengikuti tuntunan guru pembimbing.

Tiga Perlindungan pada pokoknya berbunyi: “Aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dharma, aku berlindung kepada Saṅgha.” Terjemahan rumusan ini bervariasi dalam berbagai teks yang diterjemahkan oleh penerjemah berbeda-beda, misalnya:

我歸依佛、歸依法、歸依僧。

—— Dīrgha Āgama 《長阿含經》
(T. vol. 1, № 1 hlm. 87c)
atau,
弟子某甲歸依於佛、歸依於法、歸依於僧。

—— Shou shih-shan-chieh ching 《受十善戒經》
(T. vol. 24, № 1486 hlm. 1023b)
atau,
某自歸佛、自歸法、自歸比丘僧。

—— P’u-sa shou-chai ching 《菩薩受齋經》
(T. vol. 24, № 1502 hlm. 1115c)

Kadang-kadang rumusan “agryam” (lihat gambar) digunakan sebagai alternatif:


我今歸依佛兩足尊、歸依法離欲尊、歸依僧眾中尊

—— Sūkarika Avadāna 《佛說嗟韈曩法天子受三歸依獲免惡道經》
(T. vol. 15, № 595 hlm. 129c).

Tiga Konklusi, yang menyusul Tiga Perlindungan, pada pokoknya berbunyi: “Aku telah berlindung kepada Buddha, aku telah berlindung kepada Dharma, aku telah berlindung kepada Saṅgha”. Tiga Konklusi pun diterjemahkan bervariasi seperti Tiga Perlindungan sebelumnya, misalnya: “某甲已歸依佛、已歸依法、已歸依僧竟”, atau “我某甲歸依佛已、歸依法已、歸依比丘僧已”, dsb.



Apakah signifikansi kedua bagian ini?

Vinayācārya Yüan-chao dari dinasti Sung dalam Chi-yüan chi 《濟緣記》 (Manji Zokuzōkyō 卍字續藏經 [Lanjutan Tripiṭaka edisi 卍] vol. 41, № 728 hlm. 187c), yang merupakan komentar atas Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan, menjelaskannya sebagai berikut:

列 “得法屬己” 者,明作法之時,知三說已,無作便生。故能所不昧於作業也。
Selanjutnya “transmisi Dharma diperoleh” berarti: pada saat metode penerimaan ini dilaksanakan, setelah [Tiga Perlindungan] diucapkan tiga kali, kita ketahui bahwa avijñapti telah terbentuk. Oleh sebab itu, pemberi dan penerima janganlah lengah dalam pelaksanaan karman ini.

……

後三結者,囑授叮嚀,令持在懷,不濫承奉。
Tiga Konklusi di akhir memperkuat transmisi agar terpatri dalam hati, sehingga diterima tanpa tersia-siakan.

Jadi, ketika kita selesai mengulangi kalimat demi kalimat Tiga Perlindungan mengikuti tuntunan bhikṣu/bhikṣuṇī pembimbing, substansi Perlindungan yang tidak termanifestasi (avijñapti) terbentuk dalam diri kita. Substansi Perlindungan di sini hanyalah kualitas baik dan bukan Śīla. (Tentang penerimaan substansi Śīla sewaktu mengucapkan Tiga Perlindungan akan kita bahas nanti.) Tiga Konklusi memeteraikan Perlindungan kita sehingga menjadi mantap, seperti disebutkan dalam sūtra: “Setelah menyatakan berlindung kepada Buddha, kita takkan lagi berlindung kepada Īśvara-deva dsb.”

Daoxuan Lingzhi refuges