Powered by Administrator

Translate

Senin, 16 September 2013

Petikan dari Kitab Pepatah Dharma (Dharmapada)

Dromtonpa
  1. 奇草芳花  不逆風熏
    近道敷開  德人遍香

    Harumnya tumbuhan eksotis dan bunga yang wangi
    tidak dapat melawan arah angin.
    Tetapi, harumnya orang yang berkebajikan,
    yang dekat dengan mekarnya Pencerahan, menyebar
    [ke mana-mana].

  2. 旃檀多香  青蓮芳花
    雖曰是真  不如戒香

    Kayu cendana dan aneka dupa,
    teratai biru dan bebungaan wangi,
    meskipun dikatakan benar-benar [harum],
    tidaklah menyamaï keharuman śīla.

  3. 華香氣微  不可謂真
    持戒之香  到天殊勝

    Harumnya bunga tidaklah seberapa,
    dan bukan merupakan [keharuman] yang sejati.
    Tetapi, harumnya mereka yang memegang śīla
    unggul tersebar hingga ke surga.

  4. 戒具成就  行無放逸
    定意度脫  長離魔道

    Mereka yang śīlanya sempurna,
    yang berkelana tanpa kelengahan,
    dengan pikiran terkonsentrasi telah terbebaskan,
    maka jauhlah mereka selalu dari jalan Māra.

—— Kitab Pepatah Dharma bab XII, “Keharuman Bunga”
《法句經·華香品第十二》
(T. vol. 4, № 210 hlm. 563b)


Mengenaï sejarah Kitab Pepatah Dharma lihat di sini.

Minggu, 01 September 2013

Vaibhāṣika vs Sautrāntika

Mahānāma Sūtra (nama lainnya: Upāsaka Sūtra 《優婆塞經》), yang berpadanan dengan SN LV.4: 37 dan AN VIII.3: 5, memberikan definisi dari upāsaka sbb.:
 
佛告摩訶男:「優婆塞者,在家清白:『乃至盡壽,歸依三寶,為優婆塞。證知我!』」
Buddha bersabda kepada Mahānāma: “Upāsaka adalah seorang umat awam yang dengan jernih mengucapkan: ‘Hingga akhir hayatku, aku berlindung kepada Triratna sebagai upāsaka. Jadilah saksiku, [ya Bhadanta]!’ ”

—— Saṃyukta Āgama 《雜阿含經》, sutrā ke-929
(T. vol. 2, № 99 hlm. 237a)

Versi lain dari sūtra yang sama terdapat dalam koleksi saṃyukta lain dalam Tripiṭaka Tionghoa:
 
佛告釋摩男:「在家白衣,歸依三寶。以是義故,名優婆塞。汝即其人。」
Buddha bersabda kepada Śākya Mahānāma: “Umat awam berjubah putih yang berlindung kepada Triratna — inilah pengertian dari upāsaka. Engkau adalah salah satunya.”

—— Pieh-i Tsa a-han ching 《別譯雜阿含經》, sutrā ke-152
(T. vol. 2, № 100 hlm. 431b)




Dari kutipan sūtra di atas (atau varian bacaannya) timbullah perbedaan penafsiran apakah seseorang cukup menerima Tiga Perlindungan saja ataukah harus ditambah Lima Śīla untuk dapat dinamakan upāsaka. Perbedaan penafsiran yang terjadi sejak lama antara Vaibhāṣika–Sautrāntika, misalnya, tercatat dalam jilid 124 komentar besar abhidharma Sarvāstivādin, Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 645c).

Kaum Vaibhāṣika berpendapat bahwa tidak ada upāsaka yang hanya menerima Tiga Perlindungan saja atau menerima Tiga Perlindungan dan beberapa śīla saja (tidak lengkap lima). Selain itu, menurut Vaibhāṣika substansi Śīla sudah terbentuk saat seseorang selesai mengucapkan Tiga Perlindungan. Pengucapan langkah latihan (śikṣāpada, yakni “saya mengambil langkah latihan untuk menghindari pembunuhan makhluk hidup”, “saya mengambil langkah latihan untuk menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan”, dst.) hanya merupakan penegasan agar bentuk-bentuk disiplin yang diambil diketahui.

Tradisi sekolah Vinaya yang berlaku di Cina mengadopsi pemahaman Vaibhāṣika ini untuk menjelaskan momen di mana substansi Śīla terbentuk. Akan tetapi, Sekolah Vinaya di Cina juga sepaham dengan Sautrāntika bahwa pemberian Tiga Perlindungan saja atau pemberian śīla yang tidak lengkap kepada umat awam adalah boleh karena memang dengan jelas dinyatakan dalam Mahānāma Sūtra dan, terutama, dalam teks Upāsaka-śīla Sūtra yang telah dikutip sebelumnya.

Akhirnya marilah kita simak perbedaan pendapat yang tercatat dalam Mahāvibhāṣā:
 
 
———————————————————————————————
PERTANYAAN DARI VAIBHĀṢIKA KEPADA (PROTO-)SAUTRĀNTIKA
———————————————————————————————

健馱羅國諸論師言:「唯受三歸,及律儀缺減,悉成近事。」
Guru-guru śāstra dari Gandhara mengatakan: “Hanya menerima Tiga Perlindungan saja, dan tidak mengambil disiplin (saṃvara) sama sekali atau mengambil tidak lengkap — semuanya dinamakan upāsaka.”

問:若唯受三歸成近事者,契經文句,寧非無義?經說近事受律儀時,於戒師前作如是說:「我某甲歸佛法僧。願尊憶持!我是近事。我從今者,乃至命終,於其中間,護生歸淨。」
Tanya: Jika hanya menerima Tiga Perlindungan saja menjadikan seseorang upāsaka, bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa kalimat di dalam sūtra berikut bukanlah tanpa arti? Di dalam sūtra dikatakan: ketika seorang upāsaka menerima disiplin, di hadapan guru pembimbingnya ia berkata demikian, “Saya N. berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Kiranya Bhadanta memperhatikan dan memegang [pernyataan ini]! Saya adalah seorang upāsaka. Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, selama itu saya menjaga kehidupan (prāṇopeta) dan pergi berlindung dengan kemurnian¹.”

答:彼由此表但得三歸,名為近事,而未得律儀。後說學處,方得律儀。然彼文句,非為無義。由後自誓,令前三歸得堅牢故。若不護生,歸非淨故。
Jawab: Di sini maksudnya: hanya memperoleh Tiga Perlindungan saja sudah disebut upāsaka, walau belum memperoleh disiplin. Jika ia kemudian mengucapkan langkah latihan (śikṣāpada), barulah ia memperoleh disiplin. Kalimat dalam sūtra di atas memang bukan tanpa arti. Komitmennya di akhir memperkokoh Tiga Perlindungan yang diambil sebelumnya. Karena jika ia tidak menjaga kehidupan, ia pergi berlindung dengan tidak murni².

問:若缺減律儀成近事者,便為善順一分等言。所以者何?若受一,名一分;受二,名少分;受三、受四,名多分;具受五,名滿分故。云何不有律儀缺減勤策、苾芻等耶?
Tanya: Jika tanpa disiplin sama sekali atau disiplin tidak lengkap menjadikan seseorang upāsaka, maka akan bersesuaian dengan istilah “pelaksana satu-bagian” dsb. Mengapa demikian? Karena jika ia hanya menerima satu [bagian disiplin], ia disebut pelaksana satu-bagian (ekadeśakārin); jika ia menerima dua, ia disebut pelaksana sedikit-bagian (pradeśakārin); jika ia menerima tiga atau empat, ia disebut pelaksana banyak-bagian (yadbhūyaskārin); jika ia menerima lengkap kelimanya, ia disebut pelaksana sepenuh-bagian (paripūrṇakārin). Akan tetapi, mengapa tidak ada śrāmaṇera atau bhikṣu yang tanpa disiplin sama sekali atau disiplinnya tidak lengkap? [Yakni, tidak ada, misalnya, śrāmaṇera yang hanya mengambil dua atau tiga śīla saja, tetapi harus lengkap sepuluh śīla.]

答:佛觀所化,機宜不同。授與律儀,亦不一種。如諸近事不樂捨家。為攝引故,佛隨其意,於五學處,多少受得。故彼律儀有缺減受。苾芻、勤策意樂捨家。為安立故,制具律儀,具受乃得。故彼律儀無缺減受。以是世尊內眷屬故。
Jawab: Buddha mengamati bahwa makhluk-makhluk yang diajar-Nya memiliki kapasitas yang tidak sama. Maka dalam memberikan disiplin, juga bukan hanya satu jenis. Misalnya, para upāsaka yang tidak bergemar meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Untuk merangkul dan menarik mereka, Buddha mengikuti pikiran mereka: dalam menerima kelima langkah latihan, mereka boleh memperoleh berapa pun. Oleh sebab itu, terdapat mereka yang tanpa disiplin sama sekali atau menerima disiplin tidak lengkap.
Para bhikṣu dan śrāmaṇera pikirannya bergemar meninggalkan kehidupan rumah-tangga. Demi membangun mereka, ditetapkanlah disiplin lengkap dan harus diterima seluruhnya barulah mereka memperolehnya. Oleh sebab itu, tidak terdapat mereka yang tanpa disiplin sama sekali atau menerima disiplin tidak lengkap karena mereka merupakan anggota keluarga (parivāra) Bhagavan.
 
 
———————————————————————————————
PERTANYAAN DARI (PROTO-)SAUTRĀNTIKA KEPADA VAIBHĀṢIKA
———————————————————————————————

迦濕彌羅國諸論師言:「無有唯受三歸,及缺減律儀,名為近事。」
Guru-guru śāstra dari Kāśmīra mengatakan: “Bukan dengan menerima Tiga Perlindungan saja, dan tanpa mengambil/mengambil tidak lengkap disiplin (saṃvara), seseorang dinamakan upāsaka.”

問:若爾,契經寧非無義?如說:「我某甲歸佛、法、僧,乃至廣說。」
Tanya: Jika demikian, bagaimana bisa Anda mengatakan bahwa kalimat di dalam sūtra bukanlah tanpa arti? Seperti yang disebutkan di atas, “Saya N. berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha dst.”

答:彼由此表既得三歸,亦得律儀,故成近事。
Jawab: Di sini maksudnya: seketika ia memperoleh Tiga Perlindungan, ia juga sekaligus memperoleh disiplin; maka ia menjadi upāsaka.

問:此唯自誓離於殺生。云何由此,具得五種?
Tanya: Ini hanya komitmennya sendiri untuk meninggalkan pembunuhan makhluk hidup. Bagaimanakah dari sini ia memperoleh lengkap lima jenis?

答:由此自誓離殺為依,五種律儀亦俱時得。五學處中,彼為勝故。以受戒者,為不損生。於損生中,殺為上首。故以離殺為五所依。
又護生言,非唯離殺,謂不損惱一切有情。彼自誓言:「我從今者,乃至命盡,於諸有情,不害其命、不盜其物、不侵其妻、不行虛誑。為護前四,亦不飲酒。」故護生言,非唯離殺。
然有別誦言捨生者。此言意說捨殺生等。略去等,但說捨生。又捨生言,顯於生類,捨損惱事,即五律儀,皆為遮防損生事故。由此自誓,方得律儀。故彼契經非為無義。
Jawab: Dari komitmennya sendiri untuk meninggalkan pembunuhan, lima jenis [bagian] disiplin diperoleh lengkap dalam seketika karena, di antara kelima langkah latihan (śikṣāpada), itulah yang terutama. Menerima śīla adalah demi tidak menyakiti mahkluk hidup. Di antara segala bentuk menyakiti makhluk hidup, membunuh merupakan yang terutama. Oleh sebab itu, meninggalkan pembunuhan menjadi tumpuan kelima [bagian disiplin].
Selain itu, menjaga kehidupan (prāṇopeta) bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan, tetapi juga tidak menyebabkan gangguan pada semua makhluk. Maka ia [sebenarnya] berkomitmen sendiri, “Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, terhadap semua makhluk, aku tidak akan mencelakaï hidupnya, tidak akan mencuri miliknya, tidak akan berzinah dengan istrinya, tidak akan mendustaïnya. Demi menjaga keempat hal ini, aku juga tidak akan meminum minuman keras.” Oleh sebab itu, menjaga kehidupan bukan hanya berarti meninggalkan pembunuhan.
Di samping itu, ada juga varian bacaan “melepas kehidupan” (prāṇāpeta). [Yakni, varian untuk klausa sūtra di atas, “selama itu saya menjaga kehidupan ...” — klausa tambahan ini ataupun varian bacaannya tidak terdapat pada Mahānāma Sūtra dalam koleksi-koleksi saṃyukta Tionghoa.]³ Maksudnya adalah “melepas pembunuhan kehidupan” (prāṇātipātāpeta). “Pembunuhan” disingkat di sini dan hanya diucapkan “melepas kehidupan”. Melepas kehidupan berarti: terhadap segala yang berkehidupan, ia melepas segala bentuk gangguan. Kelima [bagian] disiplin semuanya adalah demi mencegah menyakiti mahkluk hidup. Dari komitmennya sendiri ini, maka ia memperoleh disiplin. Oleh sebab itu, kalimat di dalam sūtra ini bukanlah tanpa arti.

問:若唯自誓便得律儀,何故復說五種學處?
Tanya: Jika hanya berkomitmen sendiri disiplin diperoleh, mengapakah lima langkah latihan diucapkan lagi?

答:雖由自誓已得律儀,而未了知彼差別相。欲令知故,說五學處。故彼所說,皆非無義。
Jawab: Meskipun dari komitmennya sendiri seseorang telah memperoleh disiplin, namun bentuk-bentuk disiplinnya belum diketahui. Untuk membuatnya diketahui, maka lima langkah latihan diucapkan. Oleh sebab itu, [lima langkah latihan] yang diucapkannya, bukanlah tanpa arti.

問:若爾,何故說有一分等鄔波索迦耶?
Tanya: Jika demikian, lantas mengapakah ada yang disebut upāsaka “pelaksana satu-bagian” dsb.?

答:此說持位,非說受位。謂於五中,持一不持四,名一分;持二不持三,名少分;持三持四,名多分;具持五,名滿分。
Jawab: Ini menyatakan pokok-pokok yang sanggup dipegangnya, bukan pokok-pokok yang diterimanya. Di antara lima [bagian disiplin], jika ia memegang satu dan tidak memegang empat, ia disebut pelaksana satu-bagian; jika ia memegang dua dan tidak memegang tiga, ia disebut pelaksana sedikit-bagian; jika ia memegang tiga atau empat, ia disebut pelaksana banyak-bagian; jika ia memegang lengkap lima, ia disebut pelaksana sepenuh-bagian.






CATATAN:

¹ Kalimat ini memiliki nuansa dalam penafsiran. Teks Cinanya tampaknya sengaja diterjemahkan demikian, mengikuti sudut pandang Vaibhāṣika. Pemahaman Sautrāntika atas kalimat ini mungkin berbeda.
Selama itu saya menjaga kehidupan — Atau bisa juga berarti ‘selama saya memiliki kehidupan’, yakni seumur hidup si pemohon.
Dengan kemurnian — Skt. abhi-prasanna. Dalam teks-teks Buddhis prasanna/prasāda memang memiliki makna ‘kegembiraan’, ‘kebajikan’, ‘kemurnian’, atau ‘keyakinan’ (lihat sebuah sūtra dalam Ekottara Āgama yang membahas istilah yang berkaitan, agra-prasāda); sehingga frase ini bisa juga berarti ‘dengan penuh keyakinan’.
Keseluruhan kalimat dapat dimengerti sebagai: Mulaï saat ini, hingga akhir hayatku, selama saya memiliki kehidupan, saya pergi berlindung dengan penuh keyakinan.

² Maksud Sautrāntika mungkin: Karena jika tidak selama ia memiliki kehidupan (= jika tidak seumur hidupnya), ia pergi berlindung bukan dengan penuh keyakinan.

³ Teks Pāli SN LV.4: 37 dan AN VIII.3: 5 pun — seperti dalam koleksi-koleksi saṃyukta Tionghoa — juga tidak memuatnya. Kaum Vaibhāṣika sepertinya salah mengutip sumber. Pendapat bahwa terdapat suatu versi Mahānāma Sūtra dengan klausa tambahan tersebut disanggah oleh kaum Sautrāntika (lihat Abhidharmakośa Bhāṣya bab IV: 31).

Pada umumnya Mahānāma Sūtra hanya berbunyi sbb.:

“Yataśca, Mahānāma, gr̥hī avadātavasanaḥ puruṣaḥ puruṣendriyeṇa samanvāgato buddhaṃ śaraṇaṃ gacchati, dharmaṃ saṃghaṃ śaraṇaṃ gacchati, vācaṃ ca bhāṣate: ‘Upāsakaṃ ca māṃ dharaya’ — iyatā upāsako bhavati.”
(Padanan Pālinya: “Yato kho, Mahānāma, buddhaṃ saraṇaṃ gato hoti, dhammaṃ saraṇaṃ gato hoti, saṅghaṃ saraṇaṃ gato hoti — ettāvatā kho, Mahānāma, upāsako hoti.”)
dan tidak memiliki klausa tambahan dengan prāṇopeta. (Kaum Vaibhāṣika bahkan lebih jauh mengatakan bahwa pada salinan Mahānāma Sūtra tertentu terbaca prāṇāpeta sebagai varian.)

Walau demikian, Pernyataan sebagai Upāsaka dengan rumusan klisé prāṇopeta sesungguhnya dapat dijumpaï dalam banyak sūtra lain, dan umumnya berbunyi:

“Eṣo ‘haṃ bhagavantam buddhaṃ śaraṇaṃ gacchāmi, dharmaṃ ca bhikṣusaṃghaṃ ca. Upāsakaṃ ca māṃ dhāraya adyāgreṇa yāvajjīvaṃ prāṇopetaṃ śaraṇaṃ gatam abhiprasannam.”
(Padanan Pālinya dapat dijumpaï, misalnya, di akhir Sigālovāda Sutta yang terkenal: “Esāhaṃ, Bhante, bhagavantaṃ saraṇaṃ gacchāmi, dhammañ ca bhikkhusaṅghañ ca. Upāsakaṃ maṃ, Bhagavā, dhāretu ajjatagge pāṇupetaṃ saraṇaṃ gatanti.”)
Rumusan di atas biasanya dimengerti sebagai: “Saya berlindung kepada Bhagavan, sang Buddha; serta kepada Dharma dan Bhikṣu-saṅgha. Peganglah [pernyataan ini] bahwa saya adalah upāsaka yang, mulaï saat ini hingga akhir hayatku, seumur hidup pergi berlindung dengan penuh keyakinan.”

⁴ Jadi, dalam pemahaman kaum Vaibhāṣika, yang disebut ekadeśakārin, pradeśakārin, dan yadbhūyaskārin semuanya telah menerima lima śīla lengkap. Yang membedakan mereka adalah: masing-masing hanya ketat dalam memegang satu (atau beberapa) śīla tertentu, sementara śīla-śīla lainnya lebih banyak mereka langgar.

Rabu, 21 Agustus 2013

SIAPAKAH SEORANG UPĀSAKA/UPĀSIKĀ?


優婆塞者,不止在三歸,更加五戒,始得名為優婆塞也。
Yang disebut upāsaka tidak terhenti sampai Tiga Perlindungan saja, tetapi ditambah lagi dengan Lima Śīla, barulah dapat dinamakan upāsaka.

Vinaya Mātr̥kā 《毘尼母經》 jilid 1
(T. vol. 24, № 1463 hlm. 802b)



Umat Buddhis awam disebut upāsaka (Cn. yu-p’o-sê 優婆塞 atau wu-po-so-chia 烏波索迦), yang ditafsirkan sebagai ‘ia yang duduk dekat untuk melayani (upāsana) Triratna’ (Cn. chin-shih-nan 近事男). Pada terjemahan lama kata upāsaka juga diartikan ch’ing-hsin-shih 淸信士 ‘ia yang berkeyakinan jernih’.

Ada perbedaan pendapat apakah seseorang menerima Tiga Perlindungan saja atau harus ditambah Lima Śīla untuk dapat disebut upāsaka, seperti tercatat dalam jilid 124 dari komentar besar abhidharma Sarvāstivādin, Abhidharma Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 645c):
 
健馱羅國諸論師言:「唯受三歸,及律儀缺減,悉成近事。」
Guru-guru śāstra dari Gandhara mengatakan: “Hanya menerima Tiga Perlindungan saja, dan tidak mengambil disiplin (saṃvara) sama sekali atau mengambil tidak lengkap — semuanya dinamakan upāsaka.”

……

迦濕彌羅國諸論師言:「無有唯受三歸,及缺減律儀,名為近事。」
Guru-guru śāstra dari Kāśmīra mengatakan: “Bukan dengan menerima Tiga Perlindungan saja, dan tanpa mengambil/mengambil tidak lengkap disiplin (saṃvara), seseorang dinamakan upāsaka.”
 
 
Sungguhkah tidak ada penerimaan Triśaraṇa saja (yakni: fan-hsieh san-kui 翻邪三) tanpa mengambil Lima Śīla?

Beberapa sūtra yang menceritakan riwayat hidup Buddha, antara lain Hsiu-hsing pên-ch’i ching 《修行本起經》 (T. vol. 3, № 184 hlm. 472b) dan Fo pên-hsing chi ching 《佛本行集經》 (T. vol. 3, № 190 hlm. 802b), menyatakan bahwa sejak awal pengikut-pengikut pertama Buddha seperti Trapuṣa dan Bhallika, di samping mengucapkan Tiga Perlindungan, juga mengambil Lima Śīla.

Akan tetapi, menurut “Śīla-samādāna Skandhaka” dari Dharmaguptaka Vinaya dan Mahīśāsaka Vinaya (lihat di sini), Trapuṣa dan Bhallika serta beberapa pengikut pertama hanya menerima Perlindungan (dalam Dua Pernyataan). Orang pertama yang diketahui secara pasti mengambil Lima Śīla selain Perlindungan (dalam Tiga Pernyataan) adalah ayah dari Yaśa(ka), bhikṣu keenam (T. vol. 22, hlm. 789c dan 105b).

Mahāsāṅghika Vinaya 《摩訶僧祇律》 jilid 9 (T. vol. 22, № 1425 hlm. 306a) membagi:

優婆塞者:三歸、一分行、少分行、多分行、滿分行。隨順行此法,是名優婆塞。
Upāsaka terdiri atas: [yang hanya menerima] Tiga Perlindungan, pelaksana satu-bagian [dari Lima Śīla], pelaksana sedikit-bagian, pelaksana banyak-bagian, pelaksana penuh. Ia yang melaksanakan [salah satu dari] dharma ini sesuai situasi, dinamakan upāsaka.
 
Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1049a) akhirnya menyatakan:

爾時,智者次應為說三歸依法。第二、第三亦如是說。受三歸已,名優婆塞。
Pada saat itu [guru] yang bijak selanjutnya harus mengajarkan Tiga Perlindungan. Untuk kedua kali dan ketiga kali ia harus mengulangkannya. Setelah menerima Tiga Perlindungan, maka [pemohon tersebut] disebut upāsaka. 

爾時,智者復應語言:『善男子。諦聽!諦聽!如來、正覺說優婆塞戒,或有一分、或有半分、或有無分、或有多分、或有滿分。
Pada saat itu [guru] yang bijak lalu harus berkata: ‘Putra yang berbudi, dengarlah baik-baik! Tathāgata, Yang Tercerahkan Sempurna, telah membagi pelaksanaan Upāsaka Śīla, yaïtu: satu-bagian, separuh-bagian, tanpa-bagian, banyak-bagian, dan sepenuh-bagian.

『若優婆塞受三歸已,不受五戒,是名優婆塞。
‘Jika seorang upāsaka telah menerima Tiga Perlindungan, namun tidak menerima Lima Śīla, maka ia dinamakan upāsaka [saja].

『若受三歸,受持一戒,是名一分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang satu śīla, maka ia disebut pelaksana satu-bagian (ekadeśakārin).

『受三歸已,受持二戒,是名少分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang dua śīla, maka ia disebut pelaksana sedikit-bagian (pradeśakārin).

『若受三歸,持二戒已,若破一戒,是名無分。
‘Setelah menerima Tiga Perlindungan dan memegang dua śīla, jika ia merusakkan satu śīla saja, maka ia menjadi tanpa-bagian.

『若受三歸,受持三四戒,是名多分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang tiga atau empat śīla, maka ia disebut pelaksana banyak-bagian (yadbhūyaskārin).

『若受三歸,受持五戒,是名滿分。
‘Jika setelah menerima Tiga Perlindungan, ia menerima dan memegang lima śīla, maka ia disebut pelaksana sepenuh-bagian (paripūrṇakārin).

『汝今欲作一分優婆塞?作滿分耶?』
‘Kini engkau hendak menjadi upāsaka pelaksana satu-bagian, …, ataukah pelaksana sepenuh-bagian?’

若隨意說,爾時智者當隨意授。
Jika [pemohon] telah menyatakan sesuai keinginannya, maka pada saat itu [guru] yang bijak haruslah memberikan sesuai keinginannya itu.
 

Sabtu, 17 Agustus 2013

Keutamaan Berlindung pada Triratna



如昔有一鴿為鷹所追,入舍利弗影,戰懼不安。移入佛影,泰然不怖。
Seperti dahulu terdapat seekor merpati yang dikejar elang dan bernaung di bawah bayangan Śāriputra, namun tetap merasa gentar dan tidak tenteram. Ketika ia berpindah memasuki bayangan Buddha, ia pun merasa sentosa dan tidak takut lagi.

大海可移,此鴿不動。所以爾者?
Samudra besar bahkan dapat dipindahkan, akan tetapi merpati ini tidak tergoyahkan. Mengapakah demikian?

佛有大慈大悲,舍利弗無大慈大悲。佛習氣盡,舍利弗習氣未盡。佛三阿僧祇劫修菩薩行,舍利弗六十劫中修習苦行。以是因緣,鴿入舍利弗影中,猶有怖畏。
Buddha memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā, sedangkan Śāriputra tidak memiliki mahāmaitrī dan mahākaruṇā. Buddha telah menghentikan energi-kebiasaan (vāsanā), sedangkan Śāriputra energi-kebiasaannya belum terhenti. Buddha berlatih praktik kebodhisattvaan selama tiga asaṅkhyeyakalpa, sedangkan Śāriputra hanya berlatih praktik pertapaan keras (duṣkara caryā) selama enampuluh kalpa. Karena sebab inilah, ketika merpati memasuki bayangan Śāriputra, ia masih merasa takut.


問曰:若歸向三寶能除罪過、息怖畏者,提婆達多亦歸依三寶,以信出家、受具足戒,而犯三逆,墮阿鼻獄?
Tanya: Jika berlindung kepada Triratna dapat memusnahkan karma buruk dan menghentikan ketakutan, mengapakah Devadatta — yang juga berlindung kepada Triratna, dan dengan keyakinan meninggalkan rumahtangga serta menerima Upasaṃpanna Śīla — setelah melakukan tiga perbuatan durhaka (ānantarya), terjatuh ke Neraka Avīci?

答曰:凡救護者,救可救者。提婆達多罪惡深大,兼是定業。是故叵救。
Jawab: Setiap penolong dan penjaga hanya dapat menolong mereka yang memang dapat ditolong. Karma buruk Devadatta amatlah besar dan dalam, dan merupakan karma tetap. Karena itulah, ia tidak dapat ditolong.

問曰:若有大罪,佛不能救。若無罪者,不須佛救。云何三寶能有救護?
Tanya: Jika terdapat karma buruk besar, Buddha tidak dapat menolong. Jika tiada karma buruk, kita tidak butuh pertolongan Buddha. Bagaimanakah Triratna dapat menolong dan menjaga?

答曰:提婆達多雖歸三寶,心不真實,三歸不滿。常求利養、名聞,自號一切智人,與佛共競。以是因緣,三寶雖有大力,不能救也。如阿闍世王,雖有逆罪,應入阿鼻獄,以誠心向佛,故滅阿鼻罪,入黑繩地獄。如人中七日,重罪即盡。是謂三寶救護力也。
Jawab: Walau Devadatta berlindung kepada Triratna, hatinya tidak sungguh-sungguh sehingga Tiga Perlindungannya tidak sempurna. Ia selalu berharap memperoleh persembahan dan kemasyhuran. Ia menyebut dirinya sendiri “Yang Mahatahu” (Sarvajña) dan hendak menyaingi Buddha. Karena sebab inilah, meskipun Triratna memiliki kekuatan mahabesar, ia tidak tertolong. Sementara Raja Ajātaśatru, walau melakukan kedurhakaan besar dan sepatutnya masuk Neraka Avīci, namun dengan tulus hati telah berlindung kepada Buddha. Oleh karena itu, karma buruk [yang seharusnya menyebabkan ia lahir] di Neraka Avīci mereda, dan ia hanya masuk Neraka Kālasūtra. Setelah kira-kira tujuh hari di alam manusia, karma buruknya yang berat berakhir. Demikianlah kekuatan pertolongan dan penjagaan Triratna.

問曰:若調達罪不可救者,又經云:「若人歸依佛者,不墮三惡道。」是義云何?
Tanya: Apabila Devadatta memiliki karma buruk dan tidak dapat ditolong, — ada sūtra yang menyatakan: “Jika seseorang berlindung kepada Buddha, maka ia takkan terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.” Bagaimanakah artinya?

答曰:調達以歸三寶故,雖入阿鼻獄,受苦輕微,亦時得暫息。有如人在山林、曠野、怖畏之處,若念佛功德,怖畏即滅。是故!歸依三寶,救護不虛也。
Jawab: Karena Devadatta berlindung kepada Triratna, meskipun ia masuk Neraka Avīci, namun penderitaan yang diterimanya lebih ringan dan kadangkala berhenti sewaktu-waktu. Seumpama orang yang memasuki hutan di pegunungan, padang belantara, atau tempat-tempat menakutkan, jika ia dapat merenungkan kualitas bajik Buddha, maka ketakutannya akan sirna. Oleh karena itu, jika kita berlindung kepada Triratna, pertolongan dan penjagaan-Nya sungguh tidak hampa.

—— Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》
(T. vol. 23, № 1440 hlm. 505a)

Kisah Sakra yang Meninggal dan Terlahir sebagai Keledai, lalu Kembali Lagi Menjadi Raja Para Dewa berkat Berlindung kepada Triratna

所行非常  謂興衰法
夫生輒死  此滅為樂

2. Segala yang berkondisi tidak kekal,
semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
Apa yang lahir, niscaya akan mati.
Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.


譬如陶家  埏埴作器
一切要壞  人命亦然

3. Bagaikan bejana yang dibuat
tukang tembikar yang mengadon tanah:
semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
Seperti itu pulalah hidup manusia.


—— Kitab Pepatah Dharma bab I, “Ketidakkekalan”
《法句經·無常品第一》
(T. vol. 4, № 210 hlm. 559a)



CERITA LATAR BELAKANGNYA
Dari bab I Dharmapada-avadāna (Fa-chü p’i-yü ching 《法句譬喩經》, T. № 211):


  Kali ini lima kualitas meninggalkan diri Śakra, raja para dewa sendiri. Ia sadar bahwa hidupnya akan berakhir dan ia akan terlahir kembali di dunia, dikandung dalam rahim keledai seorang tukang tembikar. Apakah kelima kualitas tersebut?
  1. Cahaya tubuhnya padam.
  2. Hiasan bunga di atas kepalanya layu.
  3. Ia tidak merasa nyaman lagi duduk di tempatnya.
  4. Ketiaknya mengeluarkan keringat yang bau.
  5. Debu-debu menempel di badannya.

  Karena kelima hal ini, tahulah ia bahwa karma baiknya telah habis, dan ia merasa amat khawatir. Ia teringat bahwa di Triloka ini hanya Buddhalah yang dapat menolong orang-orang dari segala penderitaan, maka ia pun segera pergi menuju ke tempat Sang Buddha.

  Pada saat itu Buddha berada dalam sebuah gua di Gunung Gr̥dhrakūṭa, sedang duduk bermeditasi memasuki samādhi yang bernama “Pertolongan Universal”. Tatkala sang raja para dewa melihat Buddha, ia pun memberi hormat dengan bersujud ke tanah dan dengan sepenuh hati mengucapkan Tiga Perlindungan kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha. Belum sempat ia bangkit (dari namaskāra), hidupnya tiba-tiba berakhir dan ia mendapati dirinya menjadi anak dalam rahim keledai betina seorang tukang tembikar.

  Pada saat itu keledai tersebut melepaskan diri dari ikatannya, berlarian di tengah-tengah tembikar, dan memecahkan bejana-bejana. Majikannya memukulnya dan dalam seketika melukaï janinnya (yang merupakan Śakra). Kesadaran Śakra pun kembali ke tubuh lamanya sebagai raja para dewa, lengkap dengan lima kualitas seperti semula. 

  Maka Buddha bangkit dari samādhi-Nya dan memuji: “Bagus, Raja Para Dewa! Sewaktu batas hidupmu hampir berakhir, engkau dapat berlindung kepada Tiga Yang Mulia. Balasan karma burukmu telah selesai dan engkau tidak lagi harus menderita.” Pada saat itu Bhagavan mengucapkan gāthā pujian berikut:

  所行非常  謂興衰法
  夫生輒死  此滅為樂

  Segala yang berkondisi tidak kekal,
  semuanya merupakan subjek kemunculan dan kelenyapan.
  Apa yang lahir, niscaya akan mati.
  Terhentinya hal ini merupakan kebahagiaan.

  譬如陶家  埏埴作器
  一切要壞  人命亦然

  Bagaikan bejana yang dibuat
  tukang tembikar yang mengadon tanah:
  semuanya pasti pecah [pada suatu hari].
  Seperti itu pulalah hidup manusia.

  Mendengar gāthā ini, Raja Śakra pun menyadari esensi ketidakkekalan. Ia menangkap perubahan akibat karma baik dan buruk; ia mengerti asal-mula kemunculan dan kelenyapan. Praktek menuju Pemadaman (Nirvāṇa) pun diturutnya. Dengan gembira ia menerimanya dan memperoleh Srotāpatti-mārga.



anicca Sakka



HAL-HAL YANG MEMBATALKAN TIGA PERLINDUNGAN

Substansi Tiga Perlindungan yang telah diterima akan rusak apabila:

1.  受三歸已,造作癡業,受外道法、自在天語。以是因縁,失於三歸。
Setelah menerima Triśaraṇa, seseorang melakukan tindakan bodoh sesuai ajaran non-Buddhis atau menerima kata-kata Īśvara (“Tuhan”, dewa-dewa, dsb.) — karena sebab inilah maka ia kehilangan Tiga Perlindungan.
2.  若有造作種種雜業,爲受樂故,修於善事如市易法,其心不能憐愍衆生。如是之人,不得三歸。
Jika seseorang melakukan berbagai macam tindakan demi mendapatkan kesenangan; mengerjakan hal-hal baik [yang bersifat duniawi] seperti berbisnis, dsb.; namun tidak memiliki belaskasih dalam hatinya terhadap makhluk lain — maka orang semacam ini tidak memperoleh Tiga Perlindungan.
3.  若人至心,信其能救一切怖畏,禮拜外道。是人則失三歸依法。
Jika seseorang dengan sungguh hati menyembah (yakni: bergantung pada) praktisi spiritual non-Buddhis, meyakini bahwa mereka mampu menolongnya dari segala ketakutan — maka orang ini kehilangan substansi Tiga Perlindungan.

—— Upāsaka Śīla Sūtra bab XX, “Tiga Perlindungan yang Murni”
《優婆塞戒經·淨三歸品》
(T. vol. 24, № 1488 hlm. 1062a)


Allah = berhala

HAL-HAL YANG MENENTUKAN VALIDNYA PENERIMAAN TRIŚARAṆA


kalyana mitta

Istilah kalyāṇamitra dalam Buddhisme bukanlah merujuk pada kawan baik yang akrab dengan kita. Lebih dari sekadar teman biasa, seorang kalyāṇamitra adalah seorang guru yang mampu membimbing kita menuju kemajuan spiritual dalam jalan Dharma.

Mengingat pentingnya kalyāṇamitra untuk mencapai kemajuan dalam segala praktek, maka sebelum mengambil Tiga Perlindungan, kita harus meneliti terlebih dahulu kualitas calon guru pembimbing. Kita tidak mungkin memohon Tiga Perlindungan dari seseorang yang dirinya sendiri tidak berlindung kepada Triratna, atau ia telah kehilangan substansi Perlindungan karena, misalnya, ia mempraktekkan/meyakini ajaran spiritual non-Buddhis atau ia sangat mengandalkan benda-benda bertuah, jimat-jimat, “isi” patung-patung, dsb.

Apabila kita sudah yakin bahwa calon guru tersebut kompeten untuk membimbing kita, maka berikutnya kita juga harus mengerti makna sesungguhnya berlindung kepada Triratna, serta apa saja komitmen yang harus kita jaga setelah berlindung. Jika tidak, walaupun kita mengikuti upacara Tiga Perlindungan, maka upacara tersebut kosong belaka, dan tidak ada substansi Perlindungan yang kita terima.

Dalam mengikuti upacara Tiga Perlindungan, kita sebaiknya mengenali bagian-bagian dari ritus tersebut sehingga tahu di mana harus menjawab, di mana harus mengulangi perkataan guru pembimbing, di mana harus bernamaskāra, dll. Kita hendaknya tidak berada terlalu jauh dari guru pembimbing sehingga apa yang disampaikannya terdengar jelas. Apabila kita terkendala masalah bahasa dan tidak memahami apa yang diucapkan guru pembimbing, yang terpenting adalah kita harus berkonsentrasi saat mengulangi rumusan Tiga Perlindungan (“saya seumur hidup berlindung kepada Buddha”, dst.) sebab pada momen inilah substansi Perlindungan diperoleh. 
 

Dalam jilid ke-16 Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) disebutkan:
不得先歸依僧,後歸依法、佛。亦不得雜說。
Janganlah [mengucapkan] berlindung kepada Saṅgha dahulu, baru kemudian kepada Dharma dan Buddha. Jangan pula mengucapkan secara acak.

Maka pemahaman guru pembimbing tentang seluk-beluk ritus Tiga Perlindungan amatlah penting karena apa yang ia ucapkan akan diulangi oleh pemohon. Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多論》 (lihat posting sebelumnya) menyatakan:
  • apabila karena tidak mengerti atau tidak sengaja ia mengucapkan secara terbalik, maka Triśaraṇa tersebut valid/sah dan pemohon memperoleh substansi Perlindungan;
  • apabila ia mengerti, namun sengaja mengucapkannya terbalik, maka Triśaraṇa tersebut tidak sah dan pemohon tidak memperoleh substansi Perlindungan. 


Samantapāsādikā 《善見論》 selanjutnya menyambung:
若師教言:「歸依佛」,弟子語不正,言:「歸依弗」,亦成受。
Jika sang guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun siswanya mengulangi secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka [Tiga Perlindungan] terbentuk.

若師教言:「歸依弗」,弟子言:「歸依佛」,亦成受三歸。
Jika gurunya mengajarkan, “Saya berlindung kepada Bodha”, namun sang siswa mengucapkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, maka ia pun mendapatkan Tiga Perlindungan.

若師與弟子語俱不正,言:「歸依弗」,不成受三歸。
Jika baik guru maupun siswa sama-sama mengucapkan secara keliru, “Saya berlindung kepada Bodha”, maka tidak ada Tiga Perlindungan yang terbentuk.
 
Semua hal berikut akan menyebabkan Triśaraṇa menjadi invalid:

1.  若師教:「歸依佛」,弟子答言:「爾」。
Jika guru mengajarkan, “Saya berlindung kepada Buddha”, namun sang siswa hanya menjawab, “Ya [demikianlah, Bhadanta]”.
2.  或語不出口。
Atau ia tidak mengeluarkan suara (hanya mengulangi dalam hati).
3.  或逐語不具足
Atau ia mengulangi secara tidak lengkap —
皆不成受三歸。
maka tiada Tiga Perlindungan yang terbentuk.

Jumat, 16 Agustus 2013

Dua Format Tiga Perlindungan

Menurut Samantapāsādikā 《善見論》 (T. vol. 24, № 1462 hlm. 788c) Tiga Perlindungan dapat diucapkan dalam dua format:


1. Penerimaan tersendiri-sendiri 別受
Yang dimaksud penerimaan tersendiri-sendiri adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依佛,歸依佛。』
“Saya berlindung kepada Buddha.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依法,歸依法,歸依法。』
“Saya berlindung kepada Dharma.” (3×)
 Setelah selesai, lalu:
『歸依僧,歸依僧,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Saṅgha.” (3×)
 Selesai.


2. Penerimaan sekaligus 總受
Yang dimaksud penerimaan sekaligus adalah dengan mengucapkan:
『歸依佛,歸依法,歸依僧。』
“Saya berlindung kepada Buddha, saya berlindung kepada Dharma, saya berlindung kepada Saṅgha.”
 Kalimat ini diulangi tiga kali.

 
 
Dalam Ritus Penerimaan Triśaraṇa, Tiga Perlindungan (no. 5) diucapkan menurut format kedua, yang umum digunakan; sedangkan Tiga Konklusi (yang digabung dengan Tiga Komitmen) diucapkan secara tersendiri-sendiri sesuai format pertama. Dan kedua format ini adalah VALID.

SELAYANG PANDANG Ritus Penerimaan Triśaraṇa dalam Tradisi Buddhis Cina


ari formula sederhana pada Dharmaguptaka Karman yang Disempurnakan, penerimaan Tiga Perlindungan dalam tradisi Buddhis Cina telah dielaborasi menjadi ritus yang kita kenal sekarang, seperti di bawah ini. Ritus yang khidmat semacam ini tentu baik untuk membangkitkan ketulusan sehingga pemohon memandang penerimaan Tiga Perlindungan secara sérius. Akan tetapi, ada potensi hal ini menjadi upacara kosong yang tak bermakna, terutama jika dilaksanakan hanya dengan menekankan aspek ritualnya semata, tanpa pemahaman benar tentang makna berlindung yang sesungguhnya.

Walau demikian, perlu juga bagi kita untuk menelaah ritus tradisional penerimaan Tiga Perlindungan ini secara garis besar. Bagian-bagian daripadanya tentu saja disusun berdasarkan sistem vinaya dan teks-teks āgama. Namun, seperti ungkapan lex orandi, lex credendi (hukum berdoa adalah hukum beriman), beberapa bagian — mengundang Triratna, mengakui kesalahan, membangkitkan tekad — ditambahkan sebagai cerminan keyakinan Mahāyānis yang dianut umat Buddhis Tionghoa.

Akhirnya, daripada cuma penyelenggaraan upacara yang meriah, yang terpenting adalah: bagaimana setelah menyatakan berlindung, kita harus selalu menjaga komitmen-komitmen kita terhadap Triratna (lihat http://silavisodhana.blogspot. com/2013/08/fan-hsieh-san-kui.html).




Dengan dipandu oleh seorang asisten (bisa seorang upāsaka atau bhikṣu/śrāmaṇera lain), pemohon Triśaraṇa bernamaskāra tiga kali di depan altar. Kemudian semua berdiri berhadapan, menanti kehadiran bhikṣu pembimbing Triśaraṇa, yang akan masuk dalam suatu prosesi. Setelah tiba, ia akan membakar dupa dan bernamaskāra tiga kali, lalu duduk di tempat yang telah disediakan.


1. Asisten selanjutnya mengucapkan sepatah kata pengantar. Lalu ia menuntun pemohon Triśaraṇa untuk mengulangi rumusan samanvāhara bhadanta (‘bhadanta perhatikanlah’), yang lazim digunakan dalam berbagai karmavācanā Dharmaguptaka:


“Bhadanta, dengan sepenuh hati perhatikanlah saya, siswa yang bernama N. (sebut nama sendiri), kini memohon Bhadanta menjadi guru pembimbing Triśaraṇa. Kiranya Bhadanta sudi menjadi guru pembimbing Triśaraṇa saya. Dengan bersandar kepada Bhadanta, Tiga Perlindungan yang murni akan saya peroleh — berkat belaskasih Bhadanta!”

Permohonan ini diulangi tiga kali, dan setiap kalinya diikuti dengan satu namaskāra kepada guru pembimbing. Pada ulangan terakhir perkataan tz’ŭ-min ku 慈愍故 ‘berkat belaskasih’ (Skt. anukampām upādāya) ditambahi menjadi ta tz’ŭ-min ku 大慈愍故 ‘berkat belaskasih yang besar’.


2. Setelah menyatakan kesediaannya, guru pembimbing akan memberikan homili singkat tentang Triratna (seperti pada http://silavisodhana.blogspot.com/2013/08/siapakah-triratna.html) serta makna berlindung kepada-Nya. Setelah selesai, inti dari ritus penerimaan Triśaraṇa dimulaï di sini.


3. Mula-mula, sebagai ekspresi keyakinan Mahāyānis, guru pembimbing akan mengajak pemohon untuk mengundang kehadiran para Buddha di sepuluh penjuru; Dharma dan Vinaya Kedua Kendaraan; Saṅgha para bodhisattva, pratyeka, dan śrāvaka; silsilah guru-guru pemegang vinaya, dimulaï dari Yang Mulia Upāli; serta para dharmapāla sebagai saksi.


4. Kemudian guru pembimbing menuntun pemohon mengucapkan Pernyataan Tobat berikut kalimat demi kalimat, mengajak mereka untuk menyesali perbuatan-perbuatan salah yang telah mereka lakukan tatkala mereka belum mengenal Triratna dan hidup tidak sesuai Dharma, serta bertekad untuk tidak mengulanginya:


“Saya, siswa yang bernama N.,
semenjak waktu yang tak berawal,
hingga kehidupan kini,
telah menolak Triratna dan menjadi seorang icchantika,
telah memfitnah sūtra-sūtra Mahāyāna 
dan putus mempelajari prajñā.

Saya pernah membunuh ayah dan ibu,
melukaï Sang Buddha,
mencemari saṅghārāma,
merusak kehidupan kudus (brahmacarya) orang lain,
membakar dan menghancurkan stūpa dan vihāra,
mencuri barang-barang milik saṅgha,
membangkitkan pandangan salah,
menguncarkan [kesesatan] bahwa tiada sebab dan akibat,
mengakrabkan diri dengan sahabat-sahabat yang jahat,
membelakangi guru-guru yang budiman.

Saya telah melakukan sendiri semua ini,
mengajari orang lain melakukan, atau
bergembira melihat/mendengar orang lain melakukan.

Segala kejahatan ini tiada terukur dan tiada bertepi;
maka pada hari ini 
saya membangkitkan rasa segan dan malu,
dengan jujur mengakuinya, dan
memohon belaskasih untuk penyesalan ini.

Kiranya Sang Triratna berbelaskasih menerimanya,
memancarkan cahaya yang murni dan menyinari saya,
sehingga saya dapat menghapuskan segala karma buruk,
menyingkirkan ketiga rintangan,
kembali ke sumber batin asasi, dan
menjadi murni sepenuhnya.”

Rumusan ini juga diulangi tiga kali. Kadang-kadang gāthā pertobatan singkat yang populer dari Bhadracarī Praṇidhāna Rāja digunakan sebagai alternatif. Sebagai penutup Pernyataan Tobat, seruan berikut diulangi tiga kali:


“Terpujilah Bodhisattva Mahāsattva Samantabhadrarāja!” (3×)


5. Setelah bertobat, bagian berikutnya merupakan momen terpenting dalam ritus penerimaan Triśaraṇa, di mana substansi Perlindungan ditransmisikan kepada pemohon. Mengikuti tuntunan guru pembimbing, pemohon mengulangi rumusan Tiga Perlindungan berikut sebagai satu kesatuan:


“Saya, N., seumur hidup berlindung kepada Buddha, seumur hidup berlindung kepada Dharma, seumur hidup berlindung kepada Saṅgha.” (3×)

Dengan mengulangi tiga kali, substansi Perlindungan telah diperoleh. Selanjutnya pemohon mengulangi Tiga Konklusi untuk memantapkannya dalam batin. Di sini Tiga Konklusi digabung dengan Tiga Komitmen (san-shih 三誓), dan setiap pernyataannya diulangi tiga kali juga:


“Saya, N., telah berlindung kepada Buddha, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada Īśvara, dewa-dewa, hantu-hantu, dsb. Saya hanya berlindung kepada Tathāgata, Arhat, Samyak Saṃbuddha yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


“Saya, N., telah berlindung kepada Dharma, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada ajaran-ajaran non-Buddhis. Saya hanya berlindung kepada segala ajaran yang disabdakan Tathāgata, yang terdapat dalam Kitab-Kitab Suci, yang terdiri atas dua belas divisi (dvādaśāṅga) dalam Tripiṭaka, yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


“Saya, N., telah berlindung kepada Saṅgha, lebih baik kehilangan tubuh dan nyawa, namun selamanya tidak berlindung kepada komunitas spiritual non-Buddhis. Saya hanya berlindung kepada Saṅgha, ladang jasa (puṇyakṣetra) yang murni, yang merupakan junjunganku — berkat belaskasih-Nya!” (3×)


6. Guru pembimbing lalu mengajak pemohon mengucapkan Empat Tekad Umum Bodhisattva sebagai aplikasi Perlindungan yang telah diambil. Keempat tekad yang khas Mahāyāna ini berkaitan dengan Empat Kebenaran:

(a)
  Kebenaran tentang Penderitaan
Karena melihat bahwa bukan hanya dirinya saja yang menderita, semua makhluk di Triloka pun masih mengalami penderitaan, maka seorang bodhisattva bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk yang tiada bertepi.
(b)  Kebenaran tentang Sebab Penderitaan
Semua penderitaan, baik yang dialami dirinya sendiri maupun makhluk lain, disebabkan karena terikat oleh kekotoran batin (kleśa) seperti sepuluh pembelenggu 十使, dsb. Oleh karenanya, seorang bodhisattva bertekad untuk memotong kekotoran batin yang tiada akhir.
(c)  Kebenaran tentang Jalan menuju Akhir Penderitaan
Untuk mengakhiri segala penderitaan tersebut, tiada jalan lain selain berlatih moralitas (śīla), konsentrasi (samādhi), dan kebijaksanaan (prajñā). Untuk itu, seorang bodhisattva harus bertekad mempelajari berbagai Pintu Dharma yang tiada terukur.
(d)  Kebenaran tentang Akhir Penderitaan
Akhirnya, seorang bodhisattva bertekad untuk mencapai Kebuddhaan yang tiada tara, yang merupakan akhir dari segala penderitaan, sebab hanya melalui pencapaian Kebuddhaan segenap potensi tersempurnakan dalam dirinya sehingga, di samping membebaskan dirinya sendiri, ia mampu membebaskan semua makhluk dari penderitaan.

Rumusan berikut diulangi tiga kali:



“Saya, N., bertekad untuk menyelamatkan makhluk-makhluk yang tiada bertepi.
Saya, N., bertekad untuk memotong kekotoran batin yang tiada akhir.
Saya, N., bertekad untuk mempelajari Pintu Dharma yang tiada terukur.
Saya, N., bertekad untuk mencapai Kebudhaan yang tiada tara.” (3×)


7. Kemudian guru pembimbing akan memberikan nasihat agar penerima Triśaraṇa menjaga komitmen-komitmen setelah berlindung karena Triśaraṇa merupakan sebab utama untuk dapat terbebas dari saṃsāra. Berkat Triśaraṇa, apa yang kita cita-citakan dalam mempraktikkan Dharma dengan penuh keyakinan akan terwujud. Oleh karena itu, sewaktu menerima Triśaraṇa, sepatutnyalah kita bergembira dan membangkitkan pikiran telah menjumpaï sesuatu yang amat langka.

Sebuah kutipan dari Sūtra tentang Perbandingan Jasa-Jasa yang Langka” (Hsi-yu chiao-liang kung-tê ching 《希有校量功德經》, T. vol. 16, № 690 hlm. 784c) disebutkan di sini:
“Seandainya trisahasra-mahāsahasra-lokadhātu ini dipadati oleh para Tathāgata seumpama rumpun padi, rami, bambu, atau gelagah, dan seandainya terdapat seseorang yang memberikan persembahan berupa empat kebutuhan pokok selama 20.000 tahun. Lalu, setelah para Tathāgata tersebut parinirvāṇa, ia mendirikan stūpa-stūpa untuk Mereka masing-masing, dan kembali memberikan persembahan bermacam-macam dupa dan bunga. Walaupun sungguh banyak jasa-jasanya, itu tidaklah sebanding dengan jasa yang diperoleh seseorang yang, dengan batin yang murni, berlindung kepada Triratna.”


8. Ritus penerimaan Triśaraṇa ditutup dengan Penyaluran Jasa (pariṇāmanā) dan namaskāra tiga kali ke hadapan altar. Penerima Triśaraṇa lalu bernamaskāra tiga kali kepada guru pembimbing sebagai ungkapan terima kasih.