Powered by Administrator

Translate

Senin, 24 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (3)

Sūtra pendek berikut termuat sebagai bab ke-63 (ke-56 pada edisi Korea, yang menjadi sumber Taishō) koleksi Damamūrkha Nidāna 賢愚經 (‘Sūtra tentang Yang Arif dan Yang Bodoh’, T. vol. 4, № 202 hlm. 439b). Teks yang dijuduli Bab tentang Avadāna bagaimana Buddha Mulaï Membangkitkan Batin Cintakasih 《佛始起慈心緣品》 ini menceritakan kejadian ketika Buddha kita masih merupakan makhluk biasa yang, bahkan, tidak mengenal bodhicitta itu apa. Waktu pastinya tidak kita ketahui — asaṅkhyeyakalpa-asaṅkhyeyakalpa lampau yang tak dapat terperkirakan — barangkali sangat jauh sebelum Beliau benar-benar pertama sekali menjadi Buddha.

如是我聞。
Demikianlah yang telah kudengar:

一時,佛在舍衛國,祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.

時,諸比丘夏安居竟,往至佛所,禮敬問訊。
Kalakian, setelah pemukiman selama musim panas (varṣāvāsana) selesai, para bhikṣu berangkat menuju ke tempat Buddha untuk memberi hormat dan bertanya kabar kepada-Nya.

佛以慈心,慰喻撫恤:「汝等住彼,得無苦耶?」慈心矜篤,極懷憐愍。
Dengan batin cintakasih, Buddha menyemangati dan menghibur mereka: “Selama berdiam di sana, bebaskah kalian dari penderitaan?” Ketulusan-Nya bercurahkan cintakasih, teramatlah Ia merasa iba.

阿難見之,而白佛言:「世尊慈愍,垂矜特隆。不審世尊發如是心,為遠近耶?」
Ānanda melihat-Nya dan berkata kepada Buddha: “Kasih–sayang yang dianugerahkan Bhagavan teristimewa berlimpah-limpah. Entahkah Bhagavan membangkitkan batin demikian semenjak [waktu yang] jauh ataukah dekat?”

佛告阿難:「若欲知之,當為汝說。過去久遠,不可稱計阿僧祇劫,有二罪人,共在地獄。獄卒驅之使挽鐵車,剝取其皮,用作車鞅。復以鐵棒,打令奔走,東西馳騁,無有休息。
Buddha memberitahu Ānanda: “Jikalau hendak kauketahui, maka bagimu akan Kubabarkan. Jauh lama di masa lampau, ber-asaṅkhyeyakalpa yang tak dapat terperkirakan, adalah dua orang berdosa yang sama-sama di neraka. Petugas neraka memacu mereka agar menghela pedati besi, dan mengupas kulit mereka untuk digunakan sebagai ban kuk pedati. Lagi dengan tongkat besi dideranya mereka supaya cepat berjalan, melaju ke timur dan ke barat tanpa ada istirahat.

「時,彼一人筋力尠薄。獄卒逼之,躃地便起。疲極困乏,絕死復蘇。
“Saat itu salah seorang di antara mereka benar-benar kehabisan kekuatan fisik. Petugas neraka memaksanya bangkit begitu ia tersungkur ke tanah. Kelelahan teramat payah, putuslah [nyawanya] dan mati, lalu siuman lagi.

「彼共對者,見其困苦,興發慈心,憐愍此人,顧白獄卒:『唯願聽我躬代是人,獨挽此車!』
“Yang menemani dia bersama-sama, demi melihat penderitaannya, membangkitkan batin cintakasih, mengibaï orang ini, dan acuh berseru kepada petugas neraka: ‘Berkenanlah kiranya mengizinkan awakku mewakili orang ini, sendirian menghela pedati ini!’

「獄卒瞋恚,以棒打之。應時即死,生忉利天。
“Petugas neraka pun murka, dengan tongkatnya dideranya ia. Dalam sekejap matilah ia dan terlahir di Surga Trāyastrimśa.

「阿難。當知!爾時,獄中慈心人者,我身是也。我乃爾時,於彼地獄受罪之時,初發如是慈矜之心;於一切人,未曾退捨。至於今日,故樂修行慈愍一切。」
“Ānanda, ketahuilah! Pada saat itu orang dengan batin cintakasih di neraka ialah Aku sendiri. Aku pada saat itu, tatkala menerima hukuman di neraka tersebut, pertama kalinya membangkitkan batin cintakasih yang tercurah demikian; terhadap semua orang belum pernah Kutanggalkan. Hingga hari ini, karenanya, Aku gemar mengembangkan praktik mengasih–sayangi semua.”

爾時,阿難聞佛所說,歡喜奉行。
Pada saat Ānanda mendengar apa yang disabdakan Buddha, dengan gembira ia melaksanakannya.

Sabtu, 22 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (2)

Apa yang kita bahas pada bagian (1) lalu hanya berkenaan dengan kariér Buddha kita dalam mewujudkan tubuh transformasi-Nya (nirmāṇakāya) sebagai Śākyamuni, yang nama lahirnya Siddhārtha Gautama. Kenyataannya Śākyamuni bukan baru saja Tercerahkan 2.500 tahun silam. Dalam Saddharmapuṇḍarīka Sūtra bab XVI, “Panjang Usia Tathāgata” 《妙法蓮華經·如來壽量品》 (T. vol. 9, № 262 hlm. 43b), dikatakan:

「自我得佛來  所經諸劫數
 無量百千萬  億載阿僧祇」

 “Semenjak Aku beroleh Kebuddhaan,
 hitungan kalpa-kalpa yang telah terlalui
 tiada terukur dengan ratusan, ribuan, laksaan,
 kotian atau asaṅkhyeya-an.”

Sesuai konsep trikāya Mahāyāna, saat seseorang mencapai tingkatan Buddha, ia biasanya merealisasikan tubuh kenikmatan (saṃbhogakāya) terlebih dulu. Tubuh kenikmatan senantiasa berdiam sentosa dalam ranah suci Akaniṣṭha (di bawah ini disimbolkan dengan Gunung Gr̥dhrakūṭa) dan, kepada siapa pun yang perlu diselamatkan dengan tubuh seorang Buddha, ia akan mewujudkan diri dalam rupa Buddha — betul-betul nyata secara fisis — demi membabarkan Dharma (應以佛身得度者,即現佛身而為說法).

Di sinilah budi besar keempat Buddha yang disebutkan Guru Nasional Ch’ing-liang. Ia sesungguhnya sudah mencapai Kebuddhaan jauh di masa lampau. Namun, karena belaskasih agung-Nya Ia rela nuzul dan kembali terlibat dalam perputaran saṃsāra. Sebagai upāyakauśalya Ia menampilkan diri seperti makhluk biasa yang berjuang berkalpa-kalpa, dan pada akhirnya meraih Pencerahan Sempurna sebagai seorang Buddha lalu parinirvāṇa. Keseluruhan pertunjukan ini akan diulangi-Nya berapa kali pun manakala kondisi-kondisi yang sesuai muncul, sementara tubuh kenikmatan-Nya selalu berdiam tenteram.

Gāthā di atas bersambung sbb.:

「常說法教化  無數億眾生
 令入於佛道  爾來無量劫

 “Senantiasa membabarkan Dharma, Aku mengajar
 kotian makhluk yang tiada terhitung
 agar memasuki Jalan Kebuddhaan,
 selama berkalpa-kalpa tak terukur.

 為度眾生故  方便現涅槃
 而實不滅度  常住此說法

 Demi menyelamatkan semua makhluk,
 dengan keterampilan upāya Kutampilkan [pari]Nirvāṇa.
 Namun, sesungguhnya Aku tidak padam;
 senantiasa berdiam di sini Kubabarkan Dharma.

 我常住於此  以諸神通力
 令顛倒眾生  雖近而不見

 Aku senantiasa berdiam di sini.
 Dengan berbagai kekuatan penembusan spiritual,
 Kubiarkan makhluk-makhluk terkeliru yang,
 meskipun dekat, namun tidak melihat-Ku.

 眾見我滅度  廣供養舍利
 咸皆懷戀慕  而生渴仰心

 Makhluk-makhluk itu melihat-Ku padam dan
 secara ekstensif memuja [relikui] śarīra-Ku.
 Mereka semua memendam kerinduan,
 batinnya diliputi dahaga sambil menengadah.

 眾生既信伏  質直意柔軟
 一心欲見佛  不自惜身命

 Makhluk-makhluk yang telah yakin tertundukkan.
 Pikirannya lurus lagi lemah-lembut,
 dengan sepenuh hati hendak melihat Buddha
 tanpa sayang ’kan raga dan nyawanya.

 時我及眾僧  俱出靈鷲山
 我時語眾生  常在此不滅
 以方便力故  現有滅不滅」

 Pada saat itu Aku beserta saṅgha
 akan keluar bersama dari Puncak Nasar (Gr̥dhrakūṭa).
 Saat itu akan Kuungkapkan kepada semua makhluk:
 ‘Aku senantiasa berada di sini tanpa padam.
 Karena kekuatan keterampilan upāya-Ku ’lah
 Kutampilkan adanya padam (wafat) dan tidak padam (lahir).’ ”


Kapan Buddha kita benar-benar pertama sekali mencapai Kebuddhaan sukarlah terbayangkan. Menurut Brahmajāla Sūtra 《梵網經》 (T. vol. 24, № 1484 hlm. 1003c):

「吾今來此世界八千返,為此娑婆世界坐金剛座 ……。」
“Kini Aku datang ke dunia ini ke-8.000 kalinya, demi Dunia Sāhā ini Kududuki Takhta Vajra (vajrāsana) ….”

Dari saat Beliau pertama sekali mencapai Kebuddhaan, kita bisa memperkirakan mundur tiga asaṅkhyeyakalpa ke belakang Beliau menjadi bodhisattva yang mengucapkan tekad untuk mencapai Kebuddhaan secara langsung di hadapan seorang Buddha lain saat itu. Lebih sukar lagi memperkirakan kapan Beliau benar-benar pertama sekali bertekad menguniversalkan karya-Nya ketika masih berstatus sebagai makhluk biasa.

Jumat, 21 Mei 2021

BAGAIMANA BUDDHA ŚĀKYAMUNI MEMBANGKITKAN BODHICITTA PERTAMA KALINYA (1)

Budi besar pertama Buddha yang disebutkan Guru Nasional Ch’ing-liang adalah karena tekad-Nya yang hendak menguniversalkan karya penyelamatan-Nya. Bilakah altruisme tersebut mulaï dikembangkan? Seringkali diceritakan bahwa Ia merintis kariér Kebodhisattvaan-Nya tiga asaṅkhyeyakalpa lampau semenjak mengucapkan tekad di hadapan seorang Buddha lain yang juga bernama (Mahā) Śākyamuni.

Kata asaṅkhyeya secara harfiah berarti ‘tiada terhitung’ (無數). Bagaimana bisa ketiadaterhitungan dijadikan unit bilangan, bahkan bernilai tiga? Pada penjelasan untuk bait 93d dari bab III Abhidharmakośa 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 63b-c), Vasubandhu mengutip sebuah muktaka sūtra 解脫經 (‘sūtra lepas’, yakni sūtra yang tidak terkelompokkan dalam āgama/nikāya mana pun):

六十數中,阿僧企耶是其一數。
Di antara enam puluh unit, asaṅkhyeya adalah unit kesatunya (ṣaṣṭiḥ sthānāntarāṇy asaṃkhyeyam).

Perhitungannya dimulaï dari 1 (10⁰) sebagai unit terendah, 10 (10¹) sebagai unit berikutnya, 100 (10²) dst. … hingga berakhir dengan 1 asaṅkhyeya (10⁵⁹) sebagai unit tertinggi. Sementara itu, kalpa adalah jangka waktu yang sudah pernah kita bahas, yang dapat dibedakan menjadi: kalpa kecil, kalpa menengah, dan kalpa besar (mahākalpa). Adapun yang dirujuk oleh “tiga asaṅkhyeyakalpa” (三阿僧祇劫) sejatinya bermaksud 3×10⁵⁹ mahākalpa (三無數大劫). Maka dapatlah kita bayangkan berapa lamanya tiga asaṅkhyeyakalpa itu!



DipankarDipamkara
Buddha Dīpaṅkara memberikan prediksi kepada Sang Bodhisattva
(dipanggil Megha, Sumedha, atau Sumati menurut tradisi tekstual yang berbeda-beda)


Nāgārjuna menjelaskan di bab I-8 Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 87a):

如是菩薩一阿僧祇過,還從一起。
Demikianlah bodhisattva, setelah sebuah asaṅkhyeya berlalu, ia kembali memulaï dari [mahākalpa] kesatu (pada asaṅkhyeya berikutnya).

初阿僧祇中,心不自知:「我當作佛?不作佛?」;
Dalam asaṅkhyeya pertama batinnya tidak mengetahui dirinya sendiri: “Akankah aku menjadi Buddha? atau tidak menjadi Buddha?”;

二阿僧祇中,心雖能知:「我必作佛」,而口不稱:「我當作佛」;
dalam asaṅkhyeya kedua, meskipun batinnya mampu mengetahui: “Aku pasti menjadi Buddha”, namun mulutnya tidak mengucap: “Aku akan menjadi Buddha”;

三阿僧祇中,心了了自知得作佛,口自發言,無所畏難:「我於來世當作佛!」
dalam asaṅkhyeya ketiga batinnya paham-memahami, mengetahui dirinya sendiri dapat menjadi Buddha, dan mulutnya menguncarkan perkataan tanpa kesukaran yang ditakuti: “Di masa mendatang aku akan menjadi Buddha!”

釋迦文佛,從過去釋迦文佛到剌那尸棄佛,為初阿僧祇;是中菩薩永離女人身。
Śākyamuni menuruti Buddha Śākyamuni purba hingga Buddha Ratnaśikhin dalam asaṅkhyeya pertama; di sana Sang Bodhisattva selamanya terbebas dari [kelahiran dengan] tubuh sebagai wanita.

剌那尸棄佛至燃燈佛,為二阿僧祇;是中菩薩七枚青蓮華供養燃燈佛,敷鹿皮衣,布髮掩泥;是時燃燈佛便授其記:「汝當來世作佛,名釋迦牟尼。」
Diturutinya Buddha Ratnaśikhin hingga Buddha Dīpaṅkara dalam asaṅkhyeya kedua; di sana Sang Bodhisattva mempersembahkan tujuh kuntum bunga teratai biru kepada Buddha Dīpaṅkara, menebarkan jubah kulit rusanya, menguraikan rambutnya guna menutupi lumpur; dan saat itu Buddha Dīpaṅkara lalu memberinya prediksi: “Di masa mendatang engkau akan menjadi Buddha yang bernama Śākyamuni.”

燃燈佛至毘婆尸佛,為第三阿僧祇。
Diturutinya Buddha Dīpaṅkara hingga Buddha Vipaśyin dalam asaṅkhyeya ketiga.

若過三阿僧祇劫,是時菩薩種三十二相業因緣。
Selewat tiga asaṅkhyeyakalpa merupakan saat bagi Sang Bodhisattva menanam sebab dan kondisi karma [untuk memperoleh] tiga puluh dua ciri.

Penjelasan di atas adalah berdasarkan tradisi Sarvāstivāda seperti tercatat dalam jilid 178 komentar besar abhidharma-nya, Mahāvibhāṣā 《阿毘達磨大毘婆沙論》 (T. vol. 27, № 1545 hlm. 892c), di mana pada asaṅkhyeyakalpa pertama Sang Bodhisattva melayani 75.000 Buddha, pada asaṅkhyeyakalpa kedua 76.000 Buddha, dan pada asaṅkhyeyakalpa ketiga 77.000 Buddha. Hal ini juga diikuti Vasubandhu di bait 109–112 bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 95a–b).

Tiga asaṅkhyeyakalpa merupakan waktu Sang Bodhisattva menyempurnakan empat pāramitā: dāna, śīla, kṣanti, dan vīrya (dua pāramitā sisanya, dhyāna dan prajñā, baru benar-benar sempurna ketika Beliau memasuki Vajropama Samādhi 金剛喻定 sesaat sebelum mencapai Bodhi). Melewati tiga asaṅkhyeyakalpa, sebetulnya masih ada 100 mahākalpa tambahan (三僧祇百大劫) yang harus diselesaikannya untuk mengumpulkan jasa-jasa demi terbentuknya tiga puluh dua ciri orang agung (dvātriṃśan mahāpuruṣa-lakṣaṇa). Namun, tidak seperti bodhisattva-bodhisattva lain, sembilan mahākalpa dilompati Bodhisattva kita berkat ketekunannya menyempurnakan semangat (vīrya) dengan berdiri tujuh hari tujuh malam memandangi Tathāgata Tiṣya sambil memuji-Nya dalam satu bait “Eka Gāthā” yang terkenal. Akibat jasa-jasa ini, ia hanya memerlukan 91 mahākalpa untuk menyempurnakan tiga puluh dua ciri, berawal dari zaman Buddha Vipaśyin.



Sebagaimana umum diketahui, teori penyempurnaan enam pāramitā sudah diajukan oleh mazhab Sarvāstivāda dan bukan khas milik Mahāyāna saja. Dalam Mahāyāna Saṅgraha 《攝大乘論本》 (‘Kompendium Kendaraan Besar’, T. vol. 31, № 1594 hlm. 146a–b) barulah terdapat teori lain yang dijelaskan Asaṅga:

復次!凡經幾時修行諸地可得圓滿?
Selanjutnya lagi, melalui berapa waktukah sehingga pengembangan praktik berbagai tingkatan (bhūmi) boleh dapat sempurna?

有五補特伽羅,經三無數大劫。
Ada lima pudgala yang melalui tiga kalpa besar tiada terhitung (asaṅkhyeyakalpa).

謂:
Yakni:

勝解行補特伽羅,經初無數大劫修行圓滿;
① pudgala yang melaksanakan praktik kebebasan-unggul (adhimukti caryā), setelah melalui kalpa besar tiada terhitung pertama, pengembangannya akan sempurna;

清淨增上意樂行補特伽羅 及 有相行、無相行補特伽羅——於前、六地、及第七地——經第二無數大劫修行圓滿;
② pudgala yang melaksanakan praktik pemurnian kecenderungan-mental-yang-tertingkatkan (śuddhādhyāśaya caryā) serta pudgala yang melaksanakan ③ praktik dengan tanda (nimitta caryā) dan ④ praktik tanpa tanda (animitta caryā) — [yakni, berturut-turut: mereka yang berada] di Jenjang-Jenjang sebelum, VI, dan VII — setelah melalui kalpa besar tiada terhitung kedua, pengembangannya akan sempurna;

即此無功用行補特伽羅,從此已上至第十地,經第三無數大劫修行圓滿。
⑤ maka pudgala ini yang melaksanakan praktik tanpa-perlu-usaha-lagi (anābhoga caryā), dari sini (Jenjang VIII) ke atas hingga Jenjang X, setelah melalui kalpa besar tiada terhitung ketiga, pengembangannya akan sempurna.

Istilah bhūmi berarti ‘tingkatan’ dan bisa merujuk tingkatan-tingkatan spiritual mana pun secara umum. Akan tetapi, Sepuluh Jenjang terakhir yang akan dicapai seorang bodhisattva sebelum menjadi Buddha secara khusus juga disebut Daśa Bhūmi (akan kita eja dengan B kapital). Sederhananya, Asaṅga menjelaskan bahwa seorang bodhisattva akan menyempurnakan segala praktik pra-Bhūmi pada asaṅkhyeyakalpa pertama dan mencapai Bhūmi Kesatu begitu memasuki asaṅkhyeyakalpa kedua. Pada asaṅkhyeyakalpa kedua ia akan menyempurnakan segala praktik Bhūmi-Bhūmi yang lebih rendah secara berurutan (atau mungkin juga langsung melompat ke Bhūmi Keenam atau Ketujuh tergantung perbekalan pāramitā-nya). Ia akan menyelesaikan semuanya dan mencapai Bhūmi Kedelapan begitu memasuki asaṅkhyeyakalpa ketiga. Demikian seterusnya hingga ia mencapai Kebuddhaan setelah genap tiga asaṅkhyeyakalpa.



Seratus mahākalpa tambahan tampaknya tidak dikenal dalam teks-teks Mahāyāna. Dalam Upāsaka Śīla Sūtra bab VI, “Pengembangan Karma bagi Tiga Puluh Dua Ciri” 《優婆塞戒經·修三十二相業品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1039a), dikatakan:

「善男子。我於往昔寶頂佛所,滿足第一阿僧祇劫;然燈佛所,滿足第二阿僧祇劫;迦葉佛所,滿足第三阿僧祇劫。
“Putra berbudi, beranjak ke zaman dahulu, di tempat Buddha Ratnaśikhin Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa pertama; di tempat Buddha Dīpaṅkara Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa kedua; di tempat Buddha Kāśyapa Aku menggenapi asaṅkhyeyakalpa ketiga.

「善男子。我於往昔釋迦牟尼佛所,始發阿耨多羅三藐三菩提心。發是心已,供養無量恒沙諸佛,種諸善根,修道持戒,精進多聞。」
“Putra berbudi, beranjak ke zaman dahulu, di tempat Buddha Śākyamuni Aku mulaï membangkitkan batin Anuttara Samyak-saṃbodhi. Setelah membangkitkan batin tersebut, Aku memuja para Buddha yang tidak terukur seumpama butir-butir pasir Sungai Gaṅgā, menanam berbagai akar kebaikan, mengembangkan Jalan dan memegang Śīla, bersemangat dan banyak mendengar.”

Di sini adalah Kāśyapa (alih-alih Vipaśyin) yang menjadi Buddha terakhir dalam asaṅkhyeyakalpa ketiga. Dengan demikian tiada lagi jeda 100 atau 91 mahākalpa sebagai waktu khusus untuk mengembangkan karma bagi diperolehnya tiga puluh dua ciri. Upāsaka Śīla Sūtra selanjutnya menceritakan urut-urutan ciri mana yang berhasil diperoleh lebih dahulu. [Bulu] mata bagai raja sapi (gopakṣma netra) merupakan ciri yang pertama sebab selama kehidupan-kehidupan yang tak terukur Sang Bodhisattva senantiasa gemar bermata baik, dengan ramah memandang makhluk lain.