Powered by Administrator

Translate

HOME


於末法中,但有言教,而無行證。
Di masa Akhir Dharma ini, Ajaran hanya ada berupa teori, namun tiada praktik ataupun realisasi.

若有戒法,可有破戒。既無戒法,由破何戒,而有破戒?
Seandainya Dharma tentang Śīla itu hadir (sebagai substansi yang mengejawantah dalam diri seorang bhikṣu), maka boleh jadi terdapatlah mereka yang disebut “perusak Śīla”. Akan tetapi, [sejak semula] memang tidak ada Substansi Śīla dalam diri mereka: Śīla manakah yang mereka rusak sehingga mereka dapat disebut perusak Śīla?

破戒尚無,何況持戒!
Perusak Śīla bahkan tidak ada, apalagi yang disebut pemegang Śīla!

故《大集》云:「佛涅槃後,無戒滿州」云云
Oleh sebab itu, Mahāsannipāta menyatakan: “Setelah Buddha parinirvāṇa, bhikṣu-bhikṣu yang tidak memiliki [substansi] Śīla akan memenuhi benua” dst.

……

Sammasambuddha Pacceka Arahat Sotapanna Sakadagami Anagami

《大集》第九云:
Dalam Mahāsannipāta jilid 9 (atau jilid 55 pada Tripiṭaka edisi Korea, yang menjadi basis T. vol. 13, № 397 hlm. 363b) disebutkan:

「譬如眞金爲無價寶。若無眞金者,銀爲無價寶。若無銀者,鍮石偽寶爲無價寶。若無偽寶,赤白銅鐵、白鑞鉛錫爲無價寶。如是!一切世間,佛寶無價。若無佛寶,縁覺無上。若無縁覺,羅漢無上。若無羅漢,餘賢聖衆以爲無上。若無餘賢聖衆,得定凡夫以爲無上。若無得定凡夫,淨持戒以爲無上。若無淨持戒,漏戒比丘以爲無上。若無漏戒,剃除鬚髪、身著袈裟、名字比丘爲無上寶。」
“Seumpama emas tulen dianggap sebagai harta yang tak ternilai. Jika tiada emas tulen, maka peraklah yang dianggap sebagai harta yang tak ternilai. Jika tiada perak, maka logam-mulia imitasi, kuninganlah, yang dianggap sebagai harta yang tak ternilai. Jika tiada logam-mulia imitasi, maka tembaga, nikel, besi, timah putih, dan timballah yang [berturut-turut] dianggap sebagai harta yang tak ternilai.
Demikian pula:
  • Di seluruh dunia, Buddharatna adalah yang tidak ternilai.
  • Jika tiada Buddharatna, maka pratyekabuddhalah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada pratyekabuddha, maka arhatlah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada arhat, maka para suci (ārya-pudgala) lainnyalah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada para suci lainnya, maka bhikṣu biasa (pr̥thagjana) yang memperoleh samādhilah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada bhikṣu biasa yang memperoleh samādhi, maka bhikṣu pemegang Śīla yang murnilah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada bhikṣu pemegang Śīla yang murni, maka bhikṣu dengan Śīla yang bocorlah yang dianggap tiada taranya.
  • Jika tiada bhikṣu dengan Śīla yang bocor, maka mereka yang mencukur rambut dan janggutnya, yang mengenakan jubah kaṣāya, yang hanya namanya saja bhikṣu, yang akan dianggap tiada taranya.”

……

初四正法時。次三像法時。後一末法時。
Empat yang pertama terdapat di masa Dharma Sejati (saddharma). Tiga berikutnya terdapat di masa Dharma Serupa (saddharma-pratirūpaka). Satu yang terakhir [inilah yang kebanyakan] terdapat di masa Akhir Dharma (saddharma-vipralopa).



—— Map-pō tō-myō ki 《末法燈明記》
(‘Catatan Terang Pelita di Masa Akhir Dharma’)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar