Powered by Administrator

Translate

Jumat, 02 Mei 2014

Untuk Perbuatan Buruk yang Sama, Yang Mengambil Śīla akan Mendapat Akibat Karma Lebih Berat dibandingkan Yang Tidak


 

Salah satu perbedaan śīla-śīla Buddhis dengan aturan moralitas agama lain adalah: dalam agama lain, aturan-aturan seringkali diturunkan oleh sesosok “Tuhan” untuk seluruh manusia. Manusia mana pun yang melanggarnya dinyatakan berdosa terhadap “Tuhan” tersebut. Padahal, tidak semua manusia memiliki keyakinan terhadap agama itu — bahkan mungkin ada yang tidak mengenal agama tersebut, apalagi ajaran-ajaran yang diturunkan oleh “Tuhan”-nya.
 
Dalam agama Buddha, seseorang baru dikatakan melanggar Śīla bilamana ia memang sudah mengambil Śīla tersebut. Sebelumnya telah diberikan contoh umat awam Buddhis yang hanya berlindung kepada Triratna, tetapi tidak mengambil Pañca Śīla — sebut saja namanya A. Seandainya A melakukan aborsi, ia melakukan karma buruk, tetapi tidak dikatakan melanggar Śīla (sebab memang tiada substansi Śīla apa pun dalam dirinya). A hanya melakukan karmapathika sāvadya 業道罪 (yakni: pembunuhan manusia) saja. [Untuk pembahasan jenis-jenis sāvadya/kecelaan, lihat posting sebelumnya.]
 
Sebaliknya, jika seorang umat awam yang mengambil Pañca Śīla Buddhis — katakanlah namanya B — melakukan aborsi, ia akan dinyatakan melanggar śīla. B melakukan saṃvarika sāvadya 戒罪, di samping karmapathika sāvadya 業道罪. Jadi, karma buruk yang ditimbulkan B lebih besar dibandingkan A karena ia melakukan dua kecelaan sekaligus.
 
Oleh karena itu, sebelum mengambil Śīla apa pun, kita hendaknya mempertimbangkan kesanggupan kita menjaganya dalam kehidupan sehari-hari, selain memahami seluk-beluk/karakteristik Śīla tersebut. Tidak sedikit umat Buddhis yang mengambil Pañca Śīla, tetapi masih meminum minuman keras karena pergaulan sosialnya memaksanya berbuat demikian. Padahal, meminum setetes alkohol pun, walau tidak menyebabkan kemabukan, sudah merupakan pelanggaran Śīla. Maka apabila terdapat kecenderungan besar bagi kita untuk sering melanggar śīla-śīla tertentu dalam kehidupan sehari-hari, lebih baik kita menerima beberapa śīla dahulu (tidak lengkap lima) yang sanggup kita pegang, dan di kemudian hari baru mengambil lengkap setelah situasi memungkinkan.
 
Sebelum menerima Śīla, jika melakukan perbuatan buruk, kita menanggung akibat yang lebih ringan. Setelah menerima Śīla, jika kita melakukan perbuatan yang sama, akibat karma yang kita terima lebih berat. Kalau begitu, apakah lebih baik kita jangan menerima Śīla sama sekali?
 
Harus! Kita harus tetap menerimanya karena — berkat benih yang tertanam sewaktu menerima Śīla — meskipun kemudian kita melanggar Śīla dan terlahir di alam rendah sebagai akibatnya, setelah hukuman itu selesai, kita dapat berjumpa kondisi yang mendukung untuk mempraktekkan Buddhadharma kembali. Jika kita tidak menerima Śīla dan tetap berbuat jahat seperti biasanya, mustahil kita dapat merealisasi Pencerahan!
 
Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-23 (T. vol. 25, № 1509 hlm. 161a) menuturkan: 

如《優鉢羅華比丘尼本生經》中說
Seperti yang diceritakan dalam “Kisah Kelahiran Lampau Bhikṣuṇī Utpalavarṇā” (judul sebuah avadāna yang tampaknya belum pernah diterjemahkan ke bahasa Tionghoa).

佛在世時,此比丘尼得六神通阿羅漢。入貴人舍,常讚出家法,語諸貴人婦女言:「姊妹!可出家。」
Pada zaman Sang Buddha, bhikṣuṇī ini mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual (ṣaḍ abhijñā). Setiap kali memasuki rumah orang-orang terpandang, ia kerapkali memuji-muji kehidupan kudus, dan berkata kepada wanita-wanita terpandang: “Saüdari-saüdari, Anda sekalian bolehlah meninggalkan rumah-tangga.”

諸貴婦女言:「我等少壯,容色盛美;持戒為難,或當破戒。」
Wanita-wanita terpandang berkata: “Kami masih muda belia dan cantik rupawan; memegang Śīla amatlah sulit, dan kami takut merusak Śīla.”

比丘尼言:「但出家,破戒便破。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Tinggalkanlah rumah-tangga. Jika kelak harus merusak Śīla, ya rusakkanlah!”

問言:「破戒當墮地獄。云何可破?」
Mereka bertanya: “Merusak Śīla akan terjatuh ke neraka. Bagaimana boleh merusakkannya?”

答言:「墮地獄便墮。」
Jawabnya: “Jika harus terjatuh ke neraka, ya jatuhlah!”

諸貴婦女皆笑之言:「地獄受罪。云何可墮?」
Wanita-wanita terpandang itu semua menertawakannya dan berkata: “Di neraka akan menerima hukuman. Bagaimana boleh terjatuh ke sana?”

比丘尼言:「我自憶念本宿命。時,作戲女著種種衣服,而說舊語。或時著比丘尼衣,以為戲笑。以是因緣故,迦葉佛時,作比丘尼。自恃貴姓端政,心生憍慢,而破禁戒。破戒罪故,墮地獄受種種罪。受罪畢竟,值釋迦牟尼佛出家,得六神通阿羅漢道。以是故知!出家受戒,雖復破戒,以戒因緣故,得阿羅漢道。若但作惡,無戒因緣,不得道也。」
Bhikṣuṇī itu berkata: “Aku teringat akan kelahiran lampauku. Saat itu aku menjadi pemain drama yang mengenakan berbagai kostum dan membawakan cerita-cerita lama. Kadang-kadang aku memakai kostum bhikṣuṇī dan menggunakannya untuk bermain-main. Karena sebab inilah, maka pada zaman Buddha Kāśyapa aku dapat menjadi bhikṣuṇī. Tetapi, karena membualkan kebangsawananku yang tinggi dan rupaku yang elok, timbullah keangkuhan dalam hatiku, dan aku merusak Śīla. Sebab merusak Śīla, aku terjatuh ke neraka dan menerima beraneka hukuman. Setelah hukuman itu selesai, aku pun dapat meninggalkan rumah-tangga kembali di masa Buddha Śākyamuni, dan mencapai kearhatan dengan enam penembusan spiritual. Oleh karena itu, ketahuilah! Dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla, meskipun kembali merusaknya, namun berkat kondisi [yang tercipta dari] Śīla tersebut, akhirnya akan dapat mencapai kearhatan. Jika hanya berbuat jahat, tanpa kondisi pendukung [yang tercipta dari] Śīla, tiadalah Pencerahan.

「我乃昔時,世世墮地獄。地獄出為惡人,惡人死還入地獄,都無所得。今以此證知,出家受戒,雖復破戒,以是因緣,可得道果。」
“Dahulu aku pernah terjatuh ke neraka dari kelahiran ke kelahiran. Sesudah keluar dari neraka, aku kembali menjadi orang jahat. Sebagai orang jahat, aku mati dan kembali masuk neraka — demikian seterusnya [berulang-kali] tanpa Pencapaian apa-apa. Kini telah kubuktikan dan kuketahui: dengan meninggalkan rumah-tangga dan menerima Śīla [satu kali saja], meskipun merusakkan kembali Śīla itu, namun berkat kondisi tersebut, aku akhirnya dapat mencapai buah dari Jalan.”