Powered by Administrator

Translate

Senin, 31 Agustus 2015

Keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara

Beberapa keistimewaan Prātimokṣa Saṃvara dibandingkan dua jenis disiplin lainnya (lihat Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》, T. vol. 23, № 1440 hlm. 507c):

  • DARI SEGI WAKTU
若佛出世,得有此戒。禪戒、無漏戒,一切時有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya ada sewaktu munculnya seorang Samyak-saṃbuddha yang menetapkannya, sehingga lebih langka dan tidak terdapat setiap saat sebagaimana halnya Anāsrava Saṃvara (yang selalu dimiliki para anāgāmin di Alam Śuddhāvāsa, misalnya) dan Dhyānaja Saṃvara (di antara dewa-dewa di Rūpadhātu) .
  • DARI RUANG LINGKUP
於一切眾生、非眾生類,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,但於眾生上得。
Penerapan Prātimokṣa Saṃvara lebih lebar cakupannya: terhadap objek hidup maupun objek tak-hidup. Sedangkan cakupan dua jenis disiplin lainnya hanya terhadap objek hidup.
Dhyānaja dan Anāsrava Saṃvara hanya mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bersifat alami/yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal. Prātimokṣa Saṃvara, di samping mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan yang bertentangan dengan norma kesusilaan universal (prakr̥ti sāvadya, misalnya: pembunuhan, pencurian, perzinahan, dan kedustaan), juga yang bertentangan dengan norma-norma khusus yang ditetapkan Buddha (prajñapti sāvadya, misalnya: minum minuman keras dan aturan puasa).
  • DARI SEGI BATIN
於一切眾生上慈心,得波羅提木叉戒。禪戒、無漏戒,不以慈心得也。
Prātimokṣa Saṃvara terbentuk melalui paravijñapana, dengan batin yang diliputi kasih-sayang terhadap semua makhluk. Dua jenis disiplin lainnya terbentuk tidak melalui paravijñapana, tanpa batin yang diliputi kasih-sayang, melainkan hanya dengan Pengetahuan yang diperoleh dari konsentrasi meditasi.
Seseorang yang melaksanakan Prātimokṣa Saṃvara berarti telah melakukan dāna yang besar kepada semua makhluk (misalnya: dengan tidak membunuh, ia telah memberikan rasa aman kepada semua makhluk sehingga semua mahluk tidak merasa terancam nyawanya, dsb.). Karena diambil dengan dilandasi kasih-sayang, Prātimokṣa Saṃvara dapat menjadi sebab, bahkan, untuk meraih Kebuddhaan.
  • DARI FUNGSINYA
夫能維持佛法,有七眾在世間,三乘道果,相續不斷,盡以波羅提木叉為根本。禪、無漏戒不爾。
Ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis ada karena terdapatnya Prātimokṣa Saṃvara. Berkat kesinambungan penerimaan Prātimokṣa Saṃvara, praktek ketiga Kendaraan masih terlaksana hingga hari ini dan, dengan demikian, masih terbukalah kemungkinan realisasi Jalan dan Buah. Fungsi Prātimokṣa Saṃvara dalam menjaga kelestarian Buddhadharma ini tidak dimiliki oleh dua jenis disiplin lainnya.
  • DARI PENERIMANYA
波羅提木叉戒,但佛、佛弟子有。禪戒,外道俱有。
Prātimokṣa Saṃvara hanya dimiliki oleh Buddha dan siswa-siswi-Nya. Sedangkan Dhyānaja Saṃvara dapat pula dimiliki oleh non-Buddhis. (Non-Buddhis, yang berada di luar Buddhadharma, tidak mungkin memiliki Anāsrava Saṃvara.)





Kamis, 27 Agustus 2015

Cara Perolehan Prātimokṣa Saṃvara

Sehubungan dengan terbentuknya Prātimokṣa Saṃvara melalui paravijñapana, guru-guru vinaya menyebutkan sepuluh cara yang berbeda-beda, sebagaimana dirinci dalam Vinaya Piṭaka mazhab Sarvāstivāda 《十誦律》 (T. vol. 23, № 1435), bhāṇavāra ke-10 (“Vinītaka Adhyāya” 比尼誦, hlm. 410a). Lihat juga pada penjelasan untuk bait 26 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74b).

Sepuluh cara perolehan Prātimokṣa Saṃvara tersebut antara lain:


  1. Timbul dengan sendirinya (svayaṃbhūtva 由自然)

    Ini berlaku hanya bagi Buddha, sang Bhagavan sendiri, yang memperoleh Prātimokṣa Saṃvara tanpa guru.

  2. Dengan memperoleh Kepastian terbebas dari kelahiran kembali (niyāmāvakrānti 由得入正性離生)

    Dialami oleh kelima murid pertama (Ājñata Kauṇḍinya dkk.). Saat pertama kalinya mereka melihat Kebenaran dan memasuki Jalan Kesucian, saat itu pula mereka memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  3. Melalui panggilan “datanglah, Bhikṣu!” (ehibhikṣuka 由佛命善來苾芻)

    Ketika Buddha berseru kepada seseorang “datanglah, Bhikṣu!”, maka pada saat itu juga substansi Śīla terbentuk dalam diri orang tersebut. Rambutnya akan rontok secara ajaib dan pakaiannya bersalin menjadi tiga jubah monastik. Contoh arhat yang memperoleh disiplin secara demikian adalah Yaśa. Terdapat juga kisah-kisah beberapa wanita yang ditahbis menjadi bhikṣuṇī dengan cara ini.

  4. Dengan keyakinan menerima Buddha sebagai Guru Agung (śāstr̥abhyupagama 由信受佛為大師)

    Mahākāśyapa memperoleh disiplin kebhikṣuan dengan mengucapkan sendiri pernyataan bahwa Buddha adalah gurunya — Sewaktu ia menghormati dewa-dewa, patung-patung para dewa tersebut hancur berkeping-keping. Ia tidak berani memberi salam kepada Buddha karena khawatir tubuh Beliau pun akan hancur berkeping-keping. Namun, Buddha memberi isyarat agar ia tetap melakukannya. Ia melakukannya dan, ternyata, Buddha tidak terluka sedikit juga. Maka Mahākāśyapa pun berkata: “Dialah guruku (ayaṃ me śāstā)!”

  5. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara terampil (praśnārādhana 由善巧酬答所問)

    Cara ini dialami oleh Bhikṣu Sodāyin. Buddha merasa puas karena ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Beliau ajukan, dan pada saat bersamaan Sodāyin pun memperoleh disiplin kebhikṣuan.

  6. Dengan menerima delapan aturan berat (gurudharmābhyupagama 由敬受八尊重法)

    Khusus berlaku bagi bhikṣuṇī pertama, Mahāprajāpatī Gautamī. Saat ia bersedia menerima delapan aturan berat (gurudharma), saat itu pula substansi Śīla bhikṣuṇī terbentuk dalam dirinya.

  7. Melalui utusan (dūta 由遣使)

    Cara ini dialami oleh Ardhakāśī, seorang wanita yang kecantikannya seberharga setengah Negeri Kāśi. Banyak pria yang tergila-gila kepadanya dan ingin melamarnya. Namun, Ardhakāśī lebih suka meninggalkan rumah-tangga. Untuk menghindari kejaran mereka, ia melarikan diri ke taman kerajaan. Para penggemarnya bersepakat: “Para bhikṣuṇī berada di bawah perlindungan kerajaan; jika kita mengganggu seorang bhikṣuṇī, tentu kita akan mendapat hukuman raja. Jangan sampai Ardhakāśī pergi untuk ditahbiskan. Begitu ia keluar taman, marilah kita segera menculiknya.” Mengetahui hal ini, maka Buddha mengutus seorang bhikṣuṇī untuk mewakilinya memohon penahbisan dari saṅgha. Ardhakāśī melakukan segala komunikasi dengan saṅgha dalam penahbisannya, melalui perantaraan utusan tersebut.

    (Lihat kisahnya dalam skandhaka terakhir dari Sarvāstivāda Vinaya, “Kṣudraka Dharma” 《十誦律·雜法》 [T. vol. 23, № 1435 hlm. 295b]. Untuk perolehan Prātimokṣa Saṃvara dengan cara ini, Abhidharmakośa Bhāṣya akan tetapi memberikan contoh kasus Bhikṣuṇī Dharmadinnā.)

  8. Dengan mengulangi tiga kali pernyataan berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Saṅgha (śaraṇagamanaṃ-traivācika 由三說歸佛法僧)

    Merupakan cara yang mula-mula ditetapkan Buddha bagi para bhikṣu dalam memberikan penahbisan. Seseorang yang ingin meninggalkan rumah-tangga dapat memohon seorang bhikṣu lain menjadi guru. Gurunya itu akan mengajarinya rumusan Tiga Perlindungan. Pada saat si pemohon selesai mengulangi tiga kali, maka saat itu pula substansi Śīla bhikṣu ia peroleh. Ini serupa dengan cara penerimaan pengikut-pengikut awam menjadi upāsaka/upāsikā. Pada saat seorang awam selesai mengulangi rumusan Tiga Perlindungan yang diajarkan gurunya, maka saat itu pula disiplin upāsaka/upāsikā terbentuk dalam dirinya. Penahbisan bhikṣu dengan cara ini diizinkan beberapa saat lamanya, hingga dilarang kembali oleh Buddha dan diganti dengan cara penahbisan di bawah.

  9. Melalui saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang (daśavarga 由十眾)

    Ketika anggota saṅgha semakin banyak, mulaï muncul penyelewengan-penyelewengan. Orang-orang yang seharusnya tidak layak berada di dalam saṅgha malah diterima. Oleh karena itu, prosedur penahbisan pun diperketat. Mengulangi Tiga Perlindungan tidak lagi diizinkan sehingga hanya kita jumpaï dalam pemberian Śīla-Śīla yang lebih rendah. Prosedur baru diperkenalkan, yang disebut jñapti-caturtha karman, di mana seseorang tidak dapat hanya memohon seorang bhikṣu sebagai guru penahbis, tetapi harus kepada saṅgha yang terdiri atas sepuluh orang bhikṣu (tiga guru dan tujuh saksi 三師七證). Inilah cara yang kemudian berlaku untuk menahbiskan bhikṣu/bhikṣuṇī, dan berlanjut terus hingga hari ini.

  10. Dengan pemegang vinaya sebagai yang kelima (vinayadharapañcama 由持律為第五人)

    Ini merupakan toleransi untuk cara #9, khusus bagi daerah-daerah di luar Madhyadeśa di mana saṅgha yang ada tidak memenuhi kuorum sepuluh bhikṣu, sehingga diizinkan untuk melakukan penahbisan dengan dihadiri oleh lima bhikṣu saja (tiga guru dan dua saksi 三師二證).


Dari berbagai cara di atas dapat kita lihat bahwa perolehan Prātimokṣa Saṃvara tidak selalu melibatkan aspek vijñapti, misalnya yang diperoleh tanpa guru oleh Buddha sendiri. Akan tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa Buddha pun melalui aspek vijñapti, yakni saat Beliau bertekad di bawah pohon Bodhi: “Aku tidak akan bangkit sebelum mengakhiri segala kebocoran-batin,” dan kemudian duduk. Di sini kāya vijñapti dan vāk vijñapti telah terbentuk. Saat Beliau benar-benar mengakhiri segala kebocoran-batin, maka saat itu pula Prātimokṣa Saṃvara terbentuk dalam diri-Nya.

Begitu juga Prātimokṣa Saṃvara yang diperoleh kelima murid pertama (Pañcavargika) dengan memasuki Jalan adalah tidak melibatkan aspek vijñapti. Namun, ada yang berpendapat bahwa terdapat aspek vijñapti dalam kesediaan mereka duduk dan mendengarkan khotbah Buddha. Selesai khotbah itu disampaikan, saat itu pula mereka melihat Kebenaran, dan terbentuklah Prātimokṣa Saṃvara dalam diri mereka.

Kamis, 06 Agustus 2015

Jenis-Jenis Disiplin: Pratimokṣa Saṃvara, Dhyānaja Saṃvara, dan Anāsrava Saṃvara

Kita telah mengetahui bahwa avijñapti dibedakan menjadi tiga jenis, di mana salah satunya adalah saṃvara avijñapti, yang merupakan substansi Śīla yang tak termanifestasi. Pandangan-pandangan berbeda dari berbagai mazhab mengenaï substansi Śīla pun telah diuraikan. Sekarang kita akan meninjau saṃvara, yang dalam bahasa Cina ditafsirkan sebagai 律儀 ‘disiplin’, 禁戒 ‘aturan-pantangan’, atau 護 ‘penjaga’.

Penerjemah I-tsing, dalam Mūlasarvāstivāda Ekaśatakarman 《根本說一切有部百一羯磨》 (T. vol. 24, № 1453 hlm. 455c), memberikan catatan untuk kata majemuk lü-i-hu 律儀護 (‘penjaga disipliner’) yang ia gunakan:

此言【護】者,梵云「三跋羅」,譯為擁護。由受歸戒護,使不落三塗。
Istilah hu di sini bahasa Sanskertanya ialah saṃvara, yang terjemahan harfiahnya ‘menjaga/ mengekang’. Penjagaan Śīla yang berasal dari penerimaan [Tiga] Perlindungan akan mencegah kita agar tidak terjatuh ke tiga jalur kelahiran rendah.

舊云【律儀】,乃當義譯,云是律法儀式。若但云【護】,恐學者未詳,故兩俱存。
Istilah lama lü-i merupakan terjemahan bebas sesuai makna teknisnya, yakni ‘tatatertib hukum perundangan’. Apabila hanya diterjemahkan sebagai hu, saya khawatir orang yang mempelajari [tulisan saya] tak dapat menangkapnya. Oleh karena itu, kedua istilah ini saya pertahankan.

《明了論》已譯為【護】,即是戒體無表色也。
Dalam Ming-liao lun (judul sebuah śāstra terjemahan Paramārtha yang membahas vinaya mazhab Saṃmitīya, T. № 1461) istilah hu [sebenarnya] telah digunakan juga untuk merujuk avijñapti-rūpa, yakni substansi Śīla yang tak termanifestasi.


Pada posting terdahulu, yang kita bahas secara garis besar sebenarnya hanya menyinggung tipe pertama dari tiga tipe saṃvara avijñapti. Adapun ketiga tipe saṃvara avijñapti tersebut adalah:


———————————————————————————
1.1 PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 別解脫律儀
———————————————————————————

Dalam bahasa Cina kata prātimokṣa ditafsirkan sebagai 別解脫 ‘pembebasan khusus’. PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ adalah tipe disiplin khusus yang dapat membebaskan dari kekotoran batin dan karma buruk, yang berbeda dengan dua jenis disiplin yang akan diterangkan selanjutnya di bawah (ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ). PʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ meliputi disiplin untuk ketujuh kelompok siswa-siswi Buddhis, yakni: disiplin bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, dan upāsikā (kadang-kadang disiplin pelaksana upavāsa [upavāsastha] ditambahkan sebagai yang kedelapan).

Prātimokṣa juga ditafsirkan sebagai 處處解脫 ‘pembebasan segi demi segi’ karena mampu mencegah kesalahan dan menghentikan kejahatan jasmani dan ucapan, khususnya yang dilakukan melalui masing-masing dari ketujuh jalan-karma. (Tentang karmapatha lihat di sini.) Dengan memegang satu śīla, akan diperolehlah kebebasan dalam satu segi. Dengan memegang lengkap semua śīla, akan diperolehlah kebebasan lengkap dalam semua segi.

Prātimokṣa pada akhirnya bukan hanya membawa pembebasan dalam hal yang terkondisi (saṃskr̥ta) saja, melainkan juga Buah Kebebasan yang tak terkondisi (asaṃskr̥ta). Maka tafsiran lain untuk prātimokṣa ialah 隨順解脫 ‘pengarah Pembebasan’. Dalam Buddha Paścimāvavāda Sūtra 《佛遺教經》 (T. vol. 12, № 389 hlm. 1111a) dikatakan:

戒是正順解脫之本,故名「波羅提木叉」。
Śīla adalah dasar yang tepat untuk menuju (prāti) ke arah Pembebasan (mokṣa). Oleh sebab itu, maka disebut prātimokṣa.

Āᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi (kāmāvacara). Disiplin ini diterima berkat penunjukan orang lain (paravijñapana 由他教), yakni dari saṅgha atau dari seorang guru yang memiliki silsilah Śīla yang valid, melalui upacara transmisi secara formal.

Avijñapti yang terbentuk akan tetap tinggal saat seseorang memiliki batin yang berbeda (anyacitta 異心) atupun saat tidak sadar (acittaka 無心). Jadi, walaupun seseorang memiliki buah-pikir jahat atau netral, disiplinnya tidak serta-merta menjadi rontok. Begitu pula saat ia tidak sadar, misalnya sewaktu tidur atau pingsan, ia tidak kehilangan disiplinnya. Avijñapti tersebut akan berlangsung seumur hidupnya (khusus untuk disiplin upavāsastha: sehari-semalam) atau sampai ia melepas Śīla.


———————————————————————————
1.2 DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 靜慮律儀
———————————————————————————

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya konsentrasi meditasi 定共戒.

Sementara ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang terdapat di Ranah Nafsu Inderawi, ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ merupakan disiplin yang berkenaan dengan Ranah Dhyāna Bermateri (rūpāvacara). Dhyāna Bermateri dapat dibagi menjadi empat tingkatan Dhyāna Pokok (mauladhyāna 根本靜慮). Masing-masing tingkatan didahului oleh sebuah konsentrasi Pendekatan (sāmantaka 近分) yang menjadi tetangganya. Selain itu, terdapat “dhyāna kelima” di antara Dhyāna I dengan II (dhyānāntara 靜慮中間) di mana vitarka telah ditanggalkan, namun vicāra masih ada. Jadi, secara rinci ada sembilan jenjang Dhyāna Bermateri.

DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ timbul dalam pencapaian keempat Dhyāna Pokok (samāpatti), keempat konsentrasi Pendekatan, maupun Dhyānāntara. Seseorang dengan buah-pikir baik — tetapi masih bersifat duniawi/disertaï kebocoran (sāsrava)¹ — yang memasuki, minimal, konsentrasi Pendekatan pra-Dhyāna I (disebut anāgamya 未至), dapat memiliki disiplin ini. Avijñapti yang terbentuk berkat meditasinya akan mencegahnya melakukan kesalahan dan menghentikannya berbuat kejahatan.

Berbeda dengan ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang tidak hilang karena perubahan (saat buah-pikir pemiliknya menjadi jahat/netral, atau saat tidak sadar), ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sangat terpengaruh oleh keadaan batin (cittānuvartin 隨心轉). DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ akan hilang saat pemiliknya terjatuh dari konsentrasinya atau, khusus dewa-dewa di Rūpadhātu, saat mengalami kematian dan terlahir kembali di alam surga yang lebih rendah/lebih tinggi.


——————————————————————————— 
1.3 AɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀
——————————————————————————— 

Merupakan disiplin yang timbul berbarengan dengan diperolehnya tingkat-tingkat kesucian 道共戒.

Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dimiliki oleh para ārya-pudgala, baik yang masih harus berlatih (śaikṣa) maupun yang tidak perlu berlatih lagi (aśaikṣa). Disiplin ini diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri — dalam keempat Mauladhyāna, Dhyānāntara, ataupun Anāgamya — oleh mereka dengan buah-pikir bebas-kebocoran (anāsravacitta), yakni buah-pikir yang membentuk Jalan. Seseorang yang, minimal, mencapai Jalan Penglihatan (darśana mārga 見道) dan merealisasi pengetahuan langsung tentang Empat Kebenaran Mulia untuk pertama kalinya, akan memiliki disiplin ini sebagai srotāpatti-pratipannaka.

Sebagaimana ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ yang sangat terpengaruh oleh keadaan batin, ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ juga akan hilang saat pemiliknya merealisasi Buah dari Jalan yang selama ini ia arah (misalnya: dari Srotāpatti-pratipanna lalu merealisasi Srotāpatti-phala) atau, masih dalam tingkatan yang sama, saat terjadi penyempurnaan indera dari lemah menjadi tajam (misalnya: seorang srotāpatti-pratipannaka beralih dari śraddhānusārin menjadi dharmānusārin). Disipin ini juga akan hilang jika pemiliknya, sebaliknya, terjatuh dari konsentrasi bebas-kebocoran.

Di alam manusia seseorang dapat memiliki ketiga tipe disiplin. Sedangkan di surga-surga Alam Nafsu Inderawi dan Alam Dhyāna Bermateri terdapat dua jenis disiplin: ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ. Di Alam Dhyāna Tanpa-materi disiplin tidak hadir².






CATATAN:

¹ Demikian menurut Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558). Pada penjelasan untuk bait 18 dari bab IV (hlm. 73b), Vasubandhu menggolongkan semua disiplin yang diperoleh dalam Anāgamya maupun Mauladhyāna sebagai ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ bila masih disertaï kebocoran, dan sebagai ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ bila bebas-kebocoran.

Akan tetapi, Dharmatrāta, dalam bab III Miśrakābhidharma-hr̥daya (atau *Saṃyuktābhidharma-hr̥daya 《雜阿毘曇心論》, T. vol. 28, № 1552 hlm. 891c) karyanya, memberikan definisi yang berbeda. DʜʏĀɴᴀᴊᴀ hanya mencakup semua disiplin yang diperoleh dalam Mauladhyāna, entah yang disertaï kebocoran ataupun bebas-kebocoran. Sedangkan yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara, bila masih disertaï kebocoran, tidak digolongkan sebagai disiplin. Dengan kata lain, substansi moralitas yang terbentuk bukanlah saṃvara avijñapti, melainkan naivasaṃvara-nāsaṃvara avijñapti.

Untuk lebih jelasnya, hal ini dinyatakan dalam empat kombinasi:

a.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀非無漏者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
b.  Āsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ tetapi bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 無漏律儀非禪者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.
c.  DʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ sekaligus ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 亦禪無漏律儀者
Yakni moralitas bebas-kebocoran yang diperoleh dalam Mauladhyāna.
d.  Bukan ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ bukan pula ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 非禪無漏律儀者
Yakni moralitas duniawi yang diperoleh dalam Anāgamya atau Dhyānāntara.

² Karena disiplin (saṃvara) merupakan sebuah tipe avijñapti; sedangkan avijñapti sendiri digolongkan sebagai materi (rūpa) dalam Abhidharma. Menurut kaum Vaibhāṣika, ārya-pudgala yang terlahir di Ārūpyadhātu mempunyaï pemilikan (samanvāgama) atas disiplin, tetapi hanya berupa potensi, karena disiplin tidak maujud (na saṃmukhībhāva) di sana.

Pendapat berbeda dipegang oleh Bhadanta Harivarman dalam Satyasiddhi Śāstra 《成實論》 (T. vol. 32, № 1646). Dalam sistém Satyasiddhi, karena avijñapti digolongkan sebagai sebuah citta-viprayukta saṃskāra, yang bukan merupakan materi ataupun batin, maka avijñapti hadir pula di Ārūpyadhātu. Jadi, dewa-dewa di sana pun memiliki saṃvara. Lebih lanjut, Harivarman melakukan re-klasifikasi atas saṃvara avijñapti (lihat bab CXII, “Tentang Tujuh Jenis Saṃvara” 七善律儀品) menjadi:

a.  Śīʟᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 戒律儀
Meliputi segala disiplin yang terbentuk berkat paravijñapana, baik bagi kalangan Buddhis maupun non-Buddhis. Dalam sistém Abhidharma selama ini, sebagai lawan kontra-disiplin (asaṃvara), pengadopsian moralitas digolongkan ke dalam sebuah tipe saṃvara avijñapti, yaïtu ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ. Akan tetapi, hanya moralitas Buddhislah yang dimasukkan ke sana. Seketat apa pun moralitas yang diadopsi oleh non-Buddhis, avijñapti yang terbentuk hanya digolongkan sebagai naivasaṃvara-nāsaṃvara. Padahal, mereka mungkin membangkitkan tekad dengan cara yang hampir mirip dengan Buddhis. Oleh sebab itu, sepatutnyalah tipe saṃvara avijñapti ini diklasifikasi-ulang dan mencakup pula non-ᴘʀĀᴛɪᴍᴏᴋṣᴀ.
b.  DʜʏĀɴᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 禪律儀
Meliputi ᴅʜʏĀɴᴀᴊᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dan ᴀɴĀsʀᴀᴠᴀ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ dalam klasifikasi Abhidharma. Kedua tipe disiplin ini pada hakikatnya adalah sama karena sama-sama diperoleh dalam konsentrasi Dhyāna Bermateri. Yang membedakannya hanyalah: yang satu disertaï kebocoran, yang lainnya bebas-kebocoran.
c.  SᴀᴍĀᴘᴀᴛᴛɪ sᴀᴍ̣ᴠᴀʀᴀ 定律儀
Merupakan disiplin yang timbul dalam pencapaian Dhyāna Tanpa-Materi (ārūpya samāpatti). Ini sudah diterangkan di atas: karena dalam sistém Satyasiddhi avijñapti merupakan sebuah citta-viprayukta saṃskāra sehingga saṃvara avijñapti pun terdapat di Ārūpyadhātu.

Penggolongan avijnapti dalam Abhidharma
Jenis-jenis avijñapti menurut sistém Vaibhāṣika


Penggolongan avijnapti dalam Satyasiddhi Sastra
Jenis-jenis avijñapti menurut Bhadanta Harivarman