Powered by Administrator

Translate

Senin, 27 Agustus 2018

Syair Dharmapada dalam Cerita Kotikarna



Akhir dari petikan Sarvāstivāda Vinaya (T. vol. 23, № 1435 hlm. 179c)
yang dikutip dalam posting sebelumnya:

  飢為第一病  行為第一苦
  如是知法寶  涅槃第一樂

  Kelaparan merupakan penyakit terberat,
  segala bentukan merupakan penderitaan terbesar.
  Demikianlah setelah mengetahui Permata Dharma¹:
  Nirvāṇa merupakan kebahagiaan tertinggi.






CATATAN:

¹ 法寶 ‘Permata Dharma’ sepertinya adalah salah-salin berabad-abad untuk 法實 ‘Kebenaran Dharma’.

Senin, 20 Agustus 2018

Kedudukan Pelaksana Delapan Śīla dalam Masyarakat Buddhis

Di manakah kedudukan pelaksana Delapan Śīla dalam masyarakat Buddhis? Soal–jawab dari Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 508c–509a) berikut dapat memperjelas:

問曰:夫以齋法過中不食,乃有九法。何故八事得名?
Tanya: Aturan Puasa (upavāsa), yang tidak makan selepas tengah hari, sebetulnya ada sembilan. Mengapakah namanya hanya disebut berunsur delapan?

答曰:齋法以過中不食為體,以八事助成齋體,共相支持,名八支齋法。是故!言八齋,不云九也。
Jawab: Aturan Puasa terdiri atas tidak makan selepas tengah hari sebagai batang tubuhnya serta delapan unsur pendukung yang menjadi anggota, yang bersama-sama menyusun tubuh upavāsa, sehingga dinamakan Aturan Puasa Beranggota Delapan (aṣṭāṅga samanvāgata upavāsa śīla). Oleh karenanya dikatakan Puasa berunsur delapan, bukan sembilan!

若受八戒人,於七眾中,為在何眾?
Di antara ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis], orang yang menerima Delapan Śīla termasuk kelompok mana?

雖不受終身戒,以有一日一夜戒故,應名優婆塞。
Meskipun tidak menerima disiplin seumur hidup, namun karena disiplinnya untuk sehari semalam, semestinya mereka dinamakan upāsaka.

有云:「若名優婆塞,無終身戒。若非優婆塞,有一日一夜戒。」但名中間人
Ada yang mengatakan: “Jikalau mereka disebut upāsaka, mereka tidak memiliki disiplin seumur hidup. Tetapi, jikalau mereka bukan upāsaka, mereka berdisiplin untuk sehari semalam.” — Maka mereka hanya dapat disebut “orang yang di tengah-tengah”.

問曰:若七眾外,有波羅提木叉戒不?
Tanya: Di luar [disiplin] ketujuh kelompok, adakah disiplin Prātimokṣa lainnya?

答曰:有,八齋是。以是義推:若受八戒,不在七眾也。
Jawab: Ada, yakni [disiplin] Puasa berunsur delapan. Dari prinsip ini dapat disimpulkan: mereka yang menerima Delapan Śīla tidak berada dalam salah satu dari ketujuh kelompok.

Jadi, jelas pelaksana Delapan Śīla bukan awam dalam arti selayaknya perumahtangga biasa. Akan tetapi, ia juga tidak tergolong anggota monastik. Delapan Śīla, sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial, tidak mentransformasikan substansi disiplin seorang upāsaka yang sudah ia miliki sebelumnya. Ini berbeda dengan apabila ia menjadi śrāmaṇera dan mengambil Sepuluh Śīla. Substansi Lima Śīla yang dimilikinya akan mengalami transformasi dan bersatu menjadi komponen dari substansi disiplin śrāmaṇera (lihat posting sebelumnya berikut ilustrasinya di akhir). Dengan kata lain, jikalau seorang upāsaka yang sudah mengambil Lima Śīla lalu mengambil Delapan Śīla, maka dua saṃvara avijñapti berbeda terbentuk dalam dirinya. Karena memiliki substansi Lima Śīla dan Delapan Śīla, ia adalah seorang upāsaka, namun di saat bersamaan ia juga bukan. Ketika jangka penekunannya selesai — setelah sehari semalam, misalnya — substansi Delapan Śīla-nya kedaluwarsa dan secara otomatis rontok, sedangkan substansi Lima Śīla-nya tidak terpengaruh sama sekali dan tetap utuh.

Bagaimanakah jika seseorang belum pernah mengambil Lima Śīla, tetapi langsung mengambil Delapan Śīla? Baik Vaibhāṣika maupun Sautrāntika membolehkan hal ini; substansi Delapan Śīla terbentuk asalkan seseorang sudi berlindung kepada Triratna. Bagi Vaibhāṣika, ia bukan upāsaka sebab tidak memiliki substansi Lima Śīla. Ia juga bukan anggota monastik. Tetapi, karena ia memiliki disiplin — walaupun hanya sehari semalam — terpaksa ia disebut “orang yang di tengah-tengah” seperti kutipan di atas. Sementara itu, bagi Sautrāntika ia adalah upāsaka sebab, sebagaimana disebutkan dalam Mahānāma Sūtra, seorang awam yang pergi berlindung kepada Triratna sudah berhak disebut upāsaka. Bagi Vaibhāṣika, setelah jangka penekunannya selesai, ia menjadi orang yang berlindung kepada Triratna, yang tidak mempunyaï kedudukan dalam masyarakat Buddhis. Sedangkan bagi Sautrāntika, ia menjadi seorang upāsaka tanpa disiplin (aparipūrṇakārin).

Sistém Sautrāntika membolehkan pengambilan Delapan Śīla dalam sekali waktu untuk seumur hidup, sementara Vaibhāṣika melarangnya. Menurut Vaibhāṣika, karena substansi Delapan Śīla hanya dapat bertahan sehari semalam, maka seseorang yang hendak melaksanakannya seumur hidup harus mengulangi pengambilannya setiap hari. Jawaban Vimalākṣa untuk pertanyaan ⑪ dari bab XV Kitab Lima Ratus Pertanyaan mencerminkan pandangan ini:

問:頗有八戒白衣不?
Tanya: Sungguhkah ada umat awam berjubah putih pelaksana Delapan Śīla (sebagai śīla permanen)?

答:無。唯有八關齋。
Jawab: Tidak ada. Hanya ada Delapan Śīla dalam penekunan upavasatha.

Di balik segala keleluasaan penekunannya, Delapan Śīla tetap merupakan sebuah disiplin Prātimokṣa, yakni disiplin pengarah Pembebasan yang ditetapkan oleh Buddha sendiri. Justru yang patut kita cermati adalah munculnya berbagai disiplin yang bersifat kuasi-Buddhis. Inovasi yang diciptakan di Indonesia, misalnya, adalah apa yang disebut Pandita Śīla. Institusi pandita bukan dibentuk oleh Buddha. Buddha hanya menetapkan tujuh kelompok kemasyarakatan Buddhis (bhikṣu, bhikṣuṇī, śikṣamāṇā, śrāmaṇera, śrāmaṇerī, upāsaka, upāsikā), masing-masing dengan disiplinnya sendiri-sendiri. Lantas dari mana śīla-śīla pandita ini berasal? Kita tidak bisa dengan seenaknya membuat-buat suatu disiplin, dan menamaïnya Śīla, walaupun disiplin itu kelihatan bagus.

Dalam tradisi tertentu, terdapat wanita yang menerima Sepuluh Śīla tetapi tidak menjadi śrāmaṇerī (dikenal dengan istilah sīla-rhaṅ‘ dll.). Padahal Buddha menetapkan cuma disiplin śrāmaṇera/śrāmaṇerī-lah yang terdiri atas sepuluh langkah latihan (śikṣāpada). Jadi, disiplin manakah yang sebetulnya mereka terima? Bukan berarti bahwa semakin banyak langkah latihan semakin baik — sebab disiplin non-Buddhis pun seringkali mengandung banyak aturan yang lebih ketat daripada Buddhis — tetapi, apakah benar disiplin tersebut memang ditetapkan oleh Buddha sebagai Prātimokṣa bagi umat awam.

Contoh lain lagi adalah pemberian Aturan Puasa Beranggota Sembilan (navaṅga uposatha). Ini menunjukkan ketidakmengertian karena menganggap pengembangan cinta-kasih sebagai sebuah langkah latihan, beserta dengan delapan lainnya. Kita tahu bahwa disiplin Prātimokṣa hanya mengatur penghindaran kejahatan jasmani dan ucapan (lihat di sini). Apabila pengembangan cinta-kasih dianggap sebagai sebuah śīla, maka nyaris setiap saat kita akan selalu melakukan pelanggaran sebab mustahil mempertahankannya dalam pikiran selama 24 jam penuh!

Kasus yang paling kontroversial barangkali terjadi pada seorang guru meditasi terkenal yang merombak 250 langkah latihan dari Bhikṣu Prātimokṣa karena menganggapnya tidak relevan lagi. Untuk keadaan sulit, Vinaya Piṭaka memberikan banyak dispensasi dalam penerapan Śīla. Namun, tidak seorang pun selain Buddha sendiri yang berhak mengubah-ubahnya dengan seenaknya. Bagaimana kita bisa yakin disiplin yang diterima dari guru meditasi tersebut dapat mengarahkan kepada Pembebasan bilamana itu bukan Prātimokṣa yang bersumber dari Buddha sendiri? Maka di zaman modern ini kita harus berhati-hati sekali dalam menerima suatu disiplin.

Sabtu, 18 Agustus 2018

SETENGAH PUASA

Jam-jam makan dalam penekunan Puasa Buddhis pada prinsipnya diadopsi dari praktik monastik. Ada kemiripan antara apa yang dipraktikkan bhikṣu-bhikṣuṇī Buddhis dengan sādhu-sādhvī Jaina. Sādhu Jaina boleh makan kurang lebih satu muhūrta (48 menit) setelah matahari terbit. Demikian pula dalam Vinaya Piṭaka seorang bhikṣu baru boleh makan setelah hari cukup terang sehingga garis-garis di telapak tangannya kelihatan jelas. Bhikṣu Buddhis hanya diizinkan makan sampai tengah hari, sedangkan sādhu Jaina dapat makan sampai matahari terbenam. Oleh karenanya, seorang sādhu dapat berkeliling kembali untuk mengemis derma makanan (gocarī) kedua kalinya di sore hari. Akan tetapi, ia tidak diperbolehkan makan atau minum apa pun (termasuk air yang sudah direbus) sejak matahari terbenam sampai keesokan paginya, sementara bhikṣu Buddhis boleh minum.


Pergantian tanggal di India kuno dimulaï sejak terbitnya matahari, bukan sejak tengah malam atau pukul 00.00. Dari 24 jam, 12 jam pertama disebut (siang) hari dan 12 jam kedua disebut malam. Apabila kita anggap hari cukup terang pukul 06.00 dan tengah hari jatuh pukul 12.00, maka seorang Buddhis yang mengambil Delapan Śīla berarti boleh makan dalam enam jam dan berpantang selama delapan belas jam sisanya (tetapi boleh minum air).

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, menurut sistém Sautrāntika-Satyasiddha, Delapan Śīla dapat diambil untuk jangka penekunan kurang dari 24 jam. Sewaktu matahari terbit, seseorang yang mengambil Delapan Śīla sampai matahari terbenam saja disebut berpuasa hanya sehari. Begitu juga seseorang yang di sore hari mengambil Delapan Śīla (berarti ia takkan makan sepanjang malam itu) sampai keesokan paginya disebut berpuasa hanya semalam.

Bagaimanakah dengan seseorang yang mengambil Delapan Śīla untuk sehari semalam dan, karena suatu sebab (misalnya: jatuh sakit atau mendadak harus melakukan pekerjaan berat), terpaksa membatalkan puasanya ketika sore hari? Praktik semacam ini disebut setengah puasa 半齋. Kaum Vaibhāṣika berpendapat setengah puasa sama saja dengan tidak berpuasa. Menurut mereka, karena seseorang tidak dapat membuat persepakatan di muka untuk mengambil Delapan Śīla hanya 12 jam saja, substansi Delapan Śīla baru terbentuk apabila diambil untuk sehari semalam — sama seperti substansi Lima Śīla yang baru terbentuk apabila diambil untuk seumur hidup. Jikalau ia tidak kuat berpuasa lagi, maka ia harus melepas delapan langkah latihannya. (Hal ini lebih baik daripada ia merusak Puasa 破齋 karena tetap memegangnya lalu makan malam.) Dengan melepas, berarti ia mundur di tengah jalan dan sama saja tidak berpuasa.

Sementara itu, dalam sistém Sautrāntika-Satyasiddha, karena Delapan Śīla sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial juga boleh diambil sebagian (tidak lengkap delapan), maka seseorang yang harus makan malam dapat saja hanya melepas langkah latihan “tidak makan setelah tengah hari”, dan mempertahankan tujuh sisanya. Ia tidak disebut berpuasa, tetapi tetap disebut memegang anggota (dari Delapan) Śīla.

Tentu saja meskipun hanya ditekuni selama 12 jam, setengah puasa tetap mendatangkan akibat baik seperti dikisahkan dalam cerita ke-13 Rampaian Avadāna Lama 《舊雜譬喻經》 (T. vol. 4, № 206 hlm. 513a) terjemahan K’ang Sêng-hui:

昔有四姓請佛飯。
Dahulu diselenggarakanlah [acara mahādāna] oleh keempat kasta untuk mengundang Buddha makan.

時,有一人賣牛湩。大姓留止飯,教持齋戒,止聽經。
Tatkala itu ada seorang penjual produk-produk melkerei. Orang-orang dari kasta tinggi menyisakan makanan untuknya, dan mengajarinya juga untuk memegang Aturan Puasa serta singgah sejenak mendengarkan khotbah (sūtra).

賓乃歸。
Setelah dijamu, [hingga petang] barulah ia pulang.

婦言:「我朝相待未飯。」便強令夫飯,壞其齋意。
Istrinya berkata: “Sejak pagi aku menunggumu dan belum makan.” Maka dipaksanya suaminya ikut makan sehingga merusak niat Puasanya.

雖爾,七生天上、七生世間。
Kendatipun begitu, ia terlahir tujuh kali di surga dan tujuh kali di dunia [manusia].

 ◎ 師曰:「一日持齋,有六十萬歲糧。

Sang Guru berkata: “Memegang Puasa untuk sehari akan menghasilkan [kecukupan] pangan selama 600.000 tahun.

復有五福:
Ada lagi lima pahala lainnya:

一曰、少病;
1. Sedikit penyakit;

二曰、身安隱;
2. Tubuh tenteram dan bahagia;

三曰、少婬意;
3. Sedikit pikiran nafsu;

四曰、少睡臥;
4. Sedikit kantuk dan kelesuan;

五曰、得生天上,常識宿命所行也。」
5. Dapat terlahir di surga dan senantiasa mengingat apa yang dilakukan di kehidupan lampau.

Senin, 13 Agustus 2018

Jangka Waku Delapan Śīla (2)

Untuk penekunan lebih dari sehari semalam, Delapan Śīla boleh diambil sekaligus dalam satu waktu menurut Sautrāntika. Bagaimanakah untuk penekunan kurang dari sehari semalam? Sebagai yang telah dikutip dalam pembahasan terdahulu, Bhadanta Harivarman menyatakan bahwa jangka penekunan Delapan Śīla tidak pasti: bisa sehari semalam, bisa hanya sehari atau hanya semalam, bahkan bisa setengah hari atau setengah malam. Keunikan disiplin ini, seperti biasa, tidak disetujui oleh kaum Vaibhāṣika. Dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509a–b) terdapat soal–jawab:

問曰:若欲限受晝日齋法,不受夜齋,得八齋不?若欲受夜齋,不受晝齋,得八齋不?
Tanya: Jikalau hendak mengambil secara terbatas Aturan Puasa untuk siang hari [saja], dan tidak berpuasa di malamnya, apakah Puasa berunsur delapan didapatkan? Jikalau hendak mengambil Aturan Puasa untuk malam [saja], dan tidak mengambil untuk siangnya, apakah Puasa berunsur delapan didapatkan?

答曰:不得。所以爾者?佛本聽一日一夜齋法。以有定限,不可違也。
Jawab: Tidak dapat. Mengapa demikian? Buddha sejak semula mengizinkan Aturan Puasa untuk sehari semalam [saja]. Ada batas yang pasti, yang tidak boleh ditentang.

問曰:若不得者,如〈皮革〉中說:
Tanya: Jikalau tidak dapat, di dalam “Carma” diceritakan:

億耳在曠野見諸餓鬼種種受罪:或晝則受福,夜則受罪;或夜則受福,晝則受罪。所以爾者?以本人中,晝受齋法,夜作惡行;或夜受齋法,晝作惡行。是以不同。
Koṭikarṇa di padang belantara melihat setan-setan kelaparan yang menerima berbagai jenis hukuman: ada yang di siang hari menerima kebahagiaan, tetapi malamnya menerima hukuman; ada yang di malam hari menerima kebahagiaan, tetapi siangnya menerima hukuman. Mengapa demikian? Sebab semula, sewaktu mereka menjadi manusia, ada yang siang hari mengambil Aturan Puasa, tetapi malamnya melakukan tindakan kejahatan; ada yang malam hari mengambil Aturan Puasa, tetapi siangnya melakukan tindakan kejahatan. Oleh karenanya [hukuman mereka] tidak sama.

此義云何?
Bagaimanakah prinsip ini [dijelaskan]?

答曰:凡是本生、因緣不可依也。此中說者,非是修多羅,非是毘尼,不可以定義也。有云:「此是迦旃延欲度億耳,故作變化,感悟其心。」非是實事。
Jawab: Segala jātaka dan avadāna tidak boleh diandalkan. Cerita ini bukan dari sūtra, bukan dari vinaya, dan tidak dapat dijadikan prinsip yang pasti. Ada yang mengatakan: “Itu adalah kesaktian Mahā Kātyāyana yang, demi menyelamatkan Koṭikarṇa, sengaja membuat jelmaan untuk menggugah hatinya.” Jadi, kejadian ini bukanlah sebenarnya.

Cerita Koṭikarṇa memang merupakan avadāna pertama dalam koleksi Divyāvadāna. Tetapi, seperti yang dikatakan si penanya, cerita ini sungguh termuat di awal “Carma Dharma”, yang merupakan skandhaka kelima dari Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律·皮革法第五》. Maka kanonisitasnya sebenarnya tidaklah teragukan. Koṭikarṇa merupakan putra seorang hartawan dari Desa Vāsava 王薩薄 di Aśmaka Avanti 阿濕摩伽阿槃地. Nama lengkapnya adalah Śrāvaṇa Koṭikarṇa 沙門億耳 sebab ia lahir di bawah konstelasi Śrāvaṇa 沙門. Śrāvaṇa (atau disingkat: Śroṇa) memimpin kafilah dagang dan ditinggal rombongannya pada suatu pagi setelah tertidur semalaman. Ia tersesat dan memasuki negeri para preta sendirian. Percakapannya dengan dua preta dalam jilid ke-25 Sarvāstivāda Vinaya (T. vol. 23, № 1435 hlm. 179b–c) berikut patut disimak:


前行不久,復見一樹,名婆羅,夜於下宿。搖樹落葉,細者自食、麁者與驢。如是日暮至夜,是中即有床出。男出女出,顏貌端正,著天寶冠,共相娛樂。
Berjalan ke depan tidak lama, dilihatnya kembali sepokok pohon bernama sāla, dan ia bermalam di bawahnya. Diguncangnya pohon itu agar rontok daunnya. Yang halus dimakannya sendiri, sedangkan yang kasar diberikannya kepada keledainya. Demikianlah matahari terbenam dan malam pun tiba, tiba-tiba muncullah di situ sebuah ranjang. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk.

沙門億耳作是思惟:「我不應爾,看他私事。」
Śroṇa Koṭikarṇa berpikir demikian: “Tidak semestinya aku seperti ini, memandangi urusan pribadi mereka.”

時,夜過晝來,即時床滅女滅。有群狗來,噉是男子,肉盡骨在。億耳念言:「我悔不問是人:『先作何行,今得此報夜善晝惡?』我當住待問之。」
Tatkala malam berlalu dan siang pun datang, tiba-tiba ranjang itu raib dan wanita itu pun raib. Adalah sekawanan anjing yang datang dan memakan habis daging pria itu hingga tersisa tulang. Koṭikarṇa merenung: “Aku menyesal tidak menanyaï orang itu tindakan apa yang sebelumnya ia perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di malam hari dan buruk di siang hari. Aku akan berdiam menunggu untuk menanyakannya.”

至夜更有好床。男出女出,顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。億耳即往問男:「汝作何行,今得是報夜善晝惡?」
Hingga malam tiba muncullah kembali sebuah ranjang yang elok. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk. Koṭikarṇa lekas-lekas menanyaï pria itu: “Tindakan apakah yang engkau perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di malam hari dan buruk di siang hari?”

男言:「汝何用問為?」
Pria itu berkata: “Untuk apakah engkau bertanya?”

億耳言:「意欲知之。」
Koṭikarṇa berkata: “Pikiranku hendak mengetahuinya.”

男言:「汝識阿濕摩伽阿槃地國中王薩薄聚落不?」
Pria itu berkata: “Tahukah engkau Desa Vāsava di Negeri Aśmaka Avanti?”

億耳言:「識。」
Koṭikarṇa berkata: “Tahu.”

男言:「我是某甲屠兒。有長老迦旃延,常出入我家,我常供給飲食、衣被、湯藥。億耳!彼常語我言:『莫作惡行,後得大苦。』我時答言:『先世以來,以此為業。今若不作,那得自活?』時,迦旃延復語我言:『汝作此惡,晝多夜多?』我言:『晝多。』即語我言:『汝夜受五戒,可獲微善。』我即從受。今得此報夜善晝惡,皆由作行;悔恨何益?」
Pria itu berkata: “Aku ialah Penjagal X. Ada seorang sthavira bernama Kātyāyana yang sering berkunjung ke rumahku, dan aku sering mempersembahinya makanan, jubah, dan obat-obatan. Koṭikarṇa! Ia sering berkata kepadaku: ‘Janganlah berbuat jahat, kelak engkau mendapat penderitaan besar.’ — Aku saat itu menjawabnya: ‘Sejak dahulu inilah pekerjaanku. Jika aku tidak melakukan ini, bagaimana aku dapat menghidupi diri?’ — Tatkala itu Kātyāyana kembali berkata kepadaku: ‘Engkau melakukan kejahatan ini lebih banyak di siang hari atau di malam hari?’ — Aku berkata: ‘Siang lebih banyak.’ — Maka ia memberitahuku: ‘[Kalau begitu,] terimalah lima aturan moral untuk malam hari sehingga engkau boleh beroleh secuil kebaikan.’ Aku pun menerimanya darinya. Balasan baik di malam hari dan buruk di siang hari yang kini kudapatkan semua karena tindakan yang kuperbuat; apa gunanya menyesalinya?”

男問億耳:「汝欲那去?」
Pria itu bertanya kepada Koṭikarṇa: “Engkau hendak pergi ke mana?”

答言:「至王薩薄聚落。」
Jawab: “Ke Desa Vāsava.”

男言:「從是道去。」
Pria itu berkata: “Berangkatlah dari jalan sini.”

億耳便去。前行不久,復見一樹,名婆羅,住下止宿。搖樹落葉,細者自食,麁者與驢。時,夜過晝來。是處復見床出,男女顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。
Koṭikarṇa pun pergi. Berjalan ke depan tidak lama, dilihatnya kembali sepokok pohon bernama sāla, dan ia bermalam di bawahnya. Diguncangnya pohon itu agar rontok daunnya. Yang halus dimakannya sendiri, sedangkan yang kasar diberikannya kepada keledainya. Tatkala itu malam berlalu dan siang pun datang. Di tempat itu ia kembali melihat sebuah ranjang yang muncul dengan seorang pria dan seorang wanita yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk.

億耳即念:「我不應住此觀他私事。」
Koṭikarṇa pun merenung: “Tidak semestinya aku berdiam di sini mengamati urusan pribadi mereka.”

如是至暮,床滅女滅;百足蟲出,噉是男子,肉盡骨在。億耳念言:「我悔不問:『汝作何行,今得此報晝善夜惡?』當住待問之。」
Demikianlah hingga matahari terbenam, ranjang raib dan wanita pun raib; ulat berkaki seratus muncul dan memakan habis daging pria itu hingga tersisa tulang. Koṭikarṇa merenung: “Aku menyesal tidak menanyaï orang itu tindakan apa yang sebelumnya ia perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari. Aku akan berdiam menunggu untuk menanyakannya.”

夜過晝來,復有床出。男出女出,顏貌端正,著珠寶天冠,共相娛樂。億耳往問男子:「汝作何行,今獲此報晝善夜惡?」
Malam berlalu dan siang pun datang, dan kembali muncullah sebuah ranjang. Muncullah seorang pria, muncullah seorang wanita, yang parasnya sangat menarik dan mengenakan mahkota permata surgawi; mereka bersama-sama berasyik-masyuk. Koṭikarṇa menanyaï pria itu: “Tindakan apakah yang engkau perbuat sehingga kini mendapat balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari?”

男言:「汝何用問為?」
Pria itu berkata: “Untuk apakah engkau bertanya?”

億耳言:「意欲知之。」
Koṭikarṇa berkata: “Pikiranku hendak mengetahuinya.”

男言:「汝識阿濕摩伽阿槃地國中王薩薄聚落不?」
Pria itu berkata: “Tahukah engkau Desa Vāsava di Negeri Aśmaka Avanti?”

答言:「識。」
Jawab: “Tahu.”

「是中某甲男子,婬犯他婦。有長老迦旃延,出入我家,我家常供給飲食、衣被、湯藥。億耳!爾時,彼教我言:『莫作惡行,後得苦報。』我答言:『不能自抑,當可如何?』復語我言:『汝於此事,何時偏多?』我言:『夜多。』時,迦旃延即語我言:『受晝五戒,可獲微善。』我用其言,受晝五戒。故獲斯報,晝善夜惡。悔恨先行,無所復益。」
“Aku ialah Pria Y dari sana yang gemar menzinahi istri orang lain. Ada seorang sthavira bernama Kātyāyana yang sering berkunjung ke rumahku, dan keluargaku sering mempersembahinya makanan, jubah, dan obat-obatan. Koṭikarṇa! Pada saat itu ia mengajariku: ‘Janganlah berbuat jahat, kelak engkau mendapat penderitaan besar.’ — Aku menjawabnya: ‘Aku tidak sanggup mengekang diri, apakah yang boleh kulakukan?’ — Kembali ia berkata kepadaku: ‘Dalam hal ini, kapankah engkau cenderung lebih banyak melakukannya?’ — Aku berkata: ‘Malam lebih banyak.’ — Tatkala itu Kātyāyana pun memberitahuku: ‘[Kalau begitu,] terimalah lima aturan moral untuk siang hari sehingga engkau boleh beroleh secuil kebaikan.’ Mengambil ucapannya, aku pun menerima lima aturan moral untuk siang hari. Oleh sebab itu, aku memperoleh balasan begitu baik di siang hari dan buruk di malam hari. Menyesali tindakanku dahulu tiadalah berguna lagi.”

男問億耳:「汝欲那去?」
Pria itu bertanya kepada Koṭikarṇa: “Engkau hendak pergi ke mana?”

答言:「欲至王薩薄聚落。」
Jawab: “Hendak ke Desa Vāsava.”

男言:「從是道去。」
Pria itu berkata: “Berangkatlah dari jalan sini.”

前行復見有樹林,池水清淨。億耳於中洗浴、飲驢。是池邊有堂,眾寶莊嚴。億耳仰視見堂,即作是念:「我飢渴欲死,當何所在?」即便上堂,誦佛經偈:
Berjalan ke depan dilihatnya kembali ada sebuah hutan dengan kolam berair jernih. Koṭikarṇa pun mandi di situ dan memberi minum keledainya. Di tepi kolam itu adalah sebuah balai yang berhiaskan aneka permata. Koṭikarṇa menengadah mengamati balai itu, dan merenung demikian: “Aku hampir mati kelaparan dan kehausan, di manakah aku berada?” Maka ia memasuki balai itu dan mendaraskan syair dari sūtra Buddha:

「飢為第一病  行為第一苦
 如是知法寶  涅槃第一樂」

“Kelaparan merupakan penyakit terberat,
segala bentukan (saṃskāra) merupakan penderitaan terbesar.
Demikianlah setelah mengetahui Permata Dharma¹:
Nirvāṇa merupakan kebahagiaan tertinggi.”



Kata-kata yang kita terjemahkan ‘terimalah lima aturan moral’ di sini pada teks Tionghoa aslinya adalah shou wu-chieh 受五戒. Ini merupakan istilah yang sama yang biasanya kita terjemahkan sebagai disiplin Lima Śīla. Pada pertanyaan Vibhāṣa, para preta itu dikatakan mengambil Aturan Puasa 受齋法. Sedangkan dalam Divyāvadāna mereka hanya dikatakan mengambil Śīla (śīlasamādānaṃ gr̥hītam) secara tidak spesifik. Jadi, disiplin manakah yang sebenarnya terbentuk dalam diri mereka?

Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1062a) menerangkan:

或有說言:「若不具受,則不得戒。八戒齋法,亦復如是。」是義不然。何以故?若不具受不得戒者,求有優婆塞云何得戒?實是得戒,但不具足八戒齋法。若不具受,雖不名齋,可得名善。
Atau jika ada yang mengatakan: “Kalau tidak menerima lengkap, maka disiplin tidak didapatkan. Untuk Aturan Puasa dengan delapan śīla demikian pula.” — Bukan begitu prinsipnya. Apakah sebabnya? Jikalau tidak menerima lengkap berarti tidak memperoleh disiplin, upasāka yang hendak menyempurnakan statusnya (upāsakabhāva) bagaimana bisa mendapat [tambahan] śīla lagi? Tentu saja disiplin diperoleh, hanya saja bukan Aturan Puasa dengan delapan śīla lengkap. Jikalau tidak menerima lengkap, meskipun tidak disebut Upavāsa, tetapi bolehlah dinamakan kebaikan.

Dari kutipan ini jelaslah bahwa disiplin yang diterima para preta tersebut adalah bagian dari Delapan Śīla. Seperti halnya Lima Śīla, begitu pula Delapan Śīla boleh diambil sebagian (tidak harus lengkap delapan). Meskipun bunyi langkah latihannya sama (tidak membunuh, tidak mencuri, dst.), namun apabila diambil hanya untuk jangka waktu terbatas, maka substansi yang terbentuk dalam diri seseorang adalah bagian dari Delapan Śīla karena Lima Śīla hanya dapat diambil untuk seumur hidup.

Substansi Delapan Śīla, sebagai sebuah disiplin Prātimokṣa yang spesial, terbentuk walau diambil sebagian — hanya saja kurang sempurna. Analoginya adalah seperti substansi Lima Śīla yang juga terbentuk pada orang yang hanya mengambil satu atau beberapa langkah latihan untuk seumur hidup. Ia tetap disebut upāsaka sebab substansi disiplin upāsaka memang ada dalam dirinya. Status keupāsakaannya itu dapat disempurnakan jika, misalnya, sebagai upāsaka ekadeśakārin yang hanya mengambil satu langkah latihan, ia kemudian menjadi upāsaka paripūrṇakārin dengan mengambil empat sisanya.

Seseorang tidak disebut melaksanakan Upavāsa bilamana ia hanya mengambil tujuh langkah latihan selain tidak makan selepas tengah hari. Atau, jikalau ia berpuasa dan mengambil sebagian saja langkah latihan sisanya, ia disebut melaksanakan Upavāsa tetapi tidak berunsur delapan.

Kamis, 09 Agustus 2018

Jangka Waktu Delapan Śīla (1)

Sehubungan dengan jangka waktu Delapan Śīla, marilah kita simak auto-komentar Vasubandhu untuk bait ke-27 dari bab IV Abhidharmakośa Bhāṣya 《阿毘達磨俱舍論》 (T. vol. 29, № 1558 hlm. 74c):

又此所說別解脫律儀,應齊幾時要期而受?
Disiplin Prātimokṣa yang disebutkan ini mesti untuk berapa lamakah ikrarnya diambil?

頌曰:
Kārikā:

別解脫律儀  盡壽或晝夜

Yāvajjīvaṃ samādānam
ahorātraṃ ca saṃvr̥teḥ

論曰:七眾所持別解脫戒,唯應盡壽要期而受。近住所持別解脫戒,唯一晝夜要期而受。此時定爾。
Bhāṣya: Disiplin Prātimokṣa yang dipegang ketujuh kelompok [siswa-siswi Buddhis] ikrarnya mesti diambil untuk seumur hidup saja. Disiplin Prātimokṣa yang dipegang penekun puasa (upavāsaka) ikrarnya cuma diambil untuk sehari semalam. Lama waktu-waktu ini sudahlah tetap.

所以者何?戒時邊際但有二種:
Mengapa demikian? Sebab jangka waktu Śīla hanya ada dua jenis:

一、壽命邊際;  1. Jangka seumur hidup (jīvita paryanta);
二、晝夜邊際。  2. Jangka sehari semalam (ahorātra paryanta).

重說晝夜為半月等。
Yang sehari semalam dapat diikrarkan-ulang [tiap-tiap hari] hingga setengah bulan (pakṣa) dsb.


Hal senada dijelaskan dalam Sarvāstivāda-vinaya Vibhāṣā 《薩婆多毘尼毘婆沙》 (T. vol. 23, № 1440 hlm. 509a):

受八齋法,應言:「一日一夜不殺生。」令言語決絕,莫使與終身戒相亂。
Dalam mengambil Aturan Puasa (upavāsa) yang berunsur delapan, seseorang mesti berkata: “Selama sehari semalam aku takkan membunuh makhluk hidup,” dst. Kata-kata ini (“selama sehari semalam”) patutlah definitif supaya jangan terancukan dengan disiplin untuk seumur hidup.

問曰:受八戒法,得二日、三日、乃至十日一時受不?
Tanya: Dalam metode pengambilan Delapan Śīla, dapatkah mengambilnya untuk dua hari, tiga hari, hingga sepuluh hari sekaligus dalam seketika?

答曰:佛本制一日一夜,不得過限。若有力能受,一日過已,次第更受。如是隨力多少,不計日數也。
Jawab: Buddha sejak semula menetapkannya untuk sehari semalam, tidak dapat melampaui batas ini. Apabila seseorang memiliki kesanggupan lebih, setelah lewat sehari, [pada tiap-tiap hari berikutnya] berturut-turut ia dapat menerima kembali. Demikianlah seberapa kali pun sesuai kemampuan, dan bukan dengan merencanakan sejumlah hari tertentu.

Abhidharmakośa Bhāṣya selanjutnya menyebutkan bahwa kaum Sautrāntika juga setuju bahwa disiplin Prātimokṣa ketujuh kelompok hanya dapat diambil untuk seumur hidup. Andaipun seseorang berikrar memegang untuk waktu yang lebih lama ketika mengambilnya, substansi disiplin tersebut secara otomatis kedaluwarsa tatkala ia meninggal. Di kelahiran berikutnya ia akan kehilangan disiplinnya sebab kini ia menjadi orang yang berbeda dengan tubuh sandaran (kāyāśraya 依身) yang baru; dalam tubuh yang baru, ia tidak memiliki tindakan pemrakarsa (aprayoga 無加行) untuk melanjutkan kesinambungan disiplinnya; ia sendiri juga takkan ingat (asmaraṇa 無憶念) telah mengambil disiplin tertentu di kelahiran lampau. Dalam hal Delapan Śīla, akan tetapi, Sautrāntika tidak sependapat dengan Vaibhāṣika yang menyatakan bahwa jangka waktu disiplin upavāsa hanya dapat berlaku sehari semalam.

毘婆沙者作如是言:「曾無契經說過晝夜有別受得近住律儀。是故!我宗不許斯義。」
Vaibhāṣika berkata demikian: “Tidak pernah disebutkan dalam sūtra mana pun bahwa ada pengambilan spesial disiplin upavāsa lebih dari sehari semalam. Oleh karenanya, prinsip itu tidak diizinkan dalam sekolah kami!”

Alasan Vaibhāṣika ini sederhana dan memang benar. Kita hanya menemukan cerita-cerita umat awam yang hidup di zaman Buddha yang mengambil Delapan Śīla untuk sehari semalam, khususnya pada hari-hari upavasatha. Meskipun ada disebutkan masa-masa puasa yang disebut Paruh-bulan Mukjizat (prātihāraka pakṣa), namun referensi mengenaï pelaksanaan teknisnya amat minim. Maka menurut kaum Vaibhāṣika seseorang yang hendak berpuasa selama Paruh-bulan Mukjizat harus mengambil-ulang Delapan Śīla setiap pagi, sebab disiplin upavāsa yang diambil pada satu hari secara otomatis kedaluwarsa ketika matahari terbit keésokan paginya.

Sementara itu, Sautrāntika mempertanyakan apa salahnya mengambil disiplin upavāsa sekaligus dalam seketika. Alih-alih mengulangi ritus penerimaan Delapan Śīla setiap hari selama Paruh-bulan Mukjizat, menurut Sautrāntika seseorang cukup mengikutinya sekali saja di awal masa puasa dengan memodifikasi klausa “selama sehari semalam” menjadi “selama 15 hari 15 malam”. Tidak adanya cerita di dalam sūtra tentang orang yang mengambil Delapan Śīla lebih dari sehari semalam bukan berarti bahwa Buddha melarangnya. Untuk orang-orang yang inderanya sukar ditundukkanlah (durbalendriyāṇām 根難調者) Buddha mengajarkan upavāsa untuk sehari semalam. Untuk orang-orang yang inderanya mudah ditundukkan, apa salahnya menerima lebih lama?