Powered by Administrator

Translate

Sabtu, 09 Februari 2019

JANGANLAH MEREMEHKAN LIMA ŚĪLA

Sebagian orang yang mengaku sebagai praktisi Kendaraan Besar mengabaikan moralitas dan melaksanakan secara eksklusif praktik meditasi tertentu yang menurut mereka lebih penting. Mereka memandang remeh segala disiplin Prātimokṣa karena mengganggapnya ajaran Kendaraan Kecil. Padahal Śūraṅgama Sūtra, yang menekankan latihan Buddhis klasik berunsur tiga, menyatakan bahwa hanya “karena moralitas, lahirlah konsentrasi; karena konsentrasi, berkembanglah kebijaksanaan.”

Tao-shih 道世 alias Hsüan-yün 玄惲, seorang bhikṣu dari zaman Dinasti T’ang, dalam topik LIX dari karya ensiklopedisnya Fa-yüan Chu-lin 《法苑珠林》 (‘Hutan Mutiara di Taman Dharma’, T. vol. 53, № 2122 hlm. 687c), mengutip perumpamaan ke-10 dari Upamāśataka 《百喻經》 (T. № 209):

往昔愚人癡無所知,到餘富家見三重樓高廣嚴麗,即作是念:「我有財錢不減於彼;云何不造?」
Dahulu terdapatlah seorang bodoh dan tidak berpengetahuan yang pergi ke rumah keluarga kaya lain dan melihat gedung bertingkat tiga yang tinggi, megah, dan terhias indah. Ia berpikir begini: “Aku memiliki kekayaan yang tidak kurang darinya; mengapa tidak kubuat [gedung yang sedemikian]?”

即喚木匠而問言曰:「解作彼舍不?」
Lalu dipanggilnya tukang kayu dan ditanyaïnya: “Mengertikah engkau mengerjakan rumah indah seperti itu?”

木匠答言:「是我所作。」
Tukang kayu menjawab: “Sesungguhnya itu dikerjakan olehku sendiri.”

即便語言:「今為我造。」
Lalu ia berkata: “Kini buatkanlah aku [yang serupa].”

木匠即便經地、壘墼作樓。愚人見壘,語木匠言:「我不欲下二重;先為作最上屋。」
Tukang kayu pun mulaï meyipat tanah dan menumpuk bata untuk membuat gedung. Si bodoh melihat tumpukan tersebut dan berkata kepada tukang kayu: “Aku tidak ingin dua tingkat terbawah; kerjakanlah dahulu lantai teratas.”

木匠答言:「無有是事。何有不作最下,造彼第二?不造第二,云何得造第三屋?」
Tukang kayu menjawab: “Tiada hal seperti itu. Mana mungkin tanpa mengerjakan yang terbawah membuat yang kedua? Tidak membuat yang kedua, bagaimana dapat membuat lantai ketiga?”

愚人固言:「我今不用下二;必為我作上。」
Si bodoh bersikukuh: “Kini aku tidak membutuhkan dua yang bawah; kerjakanlah saja untukku yang atas.”

時人聞已,便生怪笑。
Setelah orang-orang sekitarnya mendengarnya, tertawalah mereka tergeleng-geleng.

譬如世尊四輩弟子,不勤修敬三寶,懶惰懈怠,欲求道果,不欲下三果——唯欲得第四阿羅漢果——亦為時人之所嗤笑,如彼愚者等無有異。
Ibaratnya keempat kelompok siswa Bhagavan yang tidak tekun berlatih serta menghormati Triratna, malas dan lalai, beraspirasi menginginkan Jalan dan Buah, namun tidak menginginkan tiga Buah yang bawah — hanya beraspirasi mendapatkan buah keempat, Kearhatan — sehingga juga dicemooh orang-orang sekitarnya, adalah seperti orang bodoh tadi dan tiada berbeda sama sekali.

 ◎  (ANOTASI TAO-SHIH:)


不依三乘次第,先學大乘,亦復如是。故《地藏經》云:「不先學小乘,後學大乘者,非佛弟子。」
Tidak bersandar pada urut-urutan ketiga Kendaraan, malah lebih dahulu mempelajari Kendaraan Besar, adalah juga demikian. Karenanya Kṣitigarbha Sūtra menyatakan: “Ia yang tidak sebelumnya mempelajari Kendaraan Kecil baru kemudian mempelajari Kendaraan Besar, bukanlah siswa Buddha.”






Kṣitigarbha Sūtra yang disinggung di sini ialah Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra 《大乘大集地藏十輪經》 (T. vol. 13, № 411), khususnya bab IV. Bab ini terlalu panjang. Akan tetapi, secara parsial gāthā di jilid 6 (hlm. 753a–b), yang sepertinya dimaksudkan oleh Tao-shih, kami kutipkan sbb.:

無力飲池河  詎能吞大海
不習二乘法  何能學大乘
先信二乘法  方能信大乘
無信誦大乘  空言無所益

Tidak berkekuatan meminum kolam dan sungai,
mungkinkah sanggup menelan mahāsamudra?
Tidak mempelajari Dharma kedua Kendaraan,
bagaimana bisa berlatih Kendaraan Besar?

Yakini dahulu Dharma kedua Kendaraan,
barulah dapat meyakini Kendaraan Besar.
Tanpa keimanan melafalkan Kendaraan Besar
[sama saja] berkata kosong tiada berguna.

Pada paragraf sebelumnya (hlm. 751c) Buddha sendiri memang telah meramalkan kepada Bodhisattva Vajragarbha akan munculnya orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kendaraan Besar, yang meremehkan ajaran Kendaraan Kecil:

「復次!善男子。於未來世,此佛土中有剎帝利旃荼羅、婆羅門旃荼羅、宰官旃荼羅、居士旃荼羅、沙門旃荼羅、長者旃荼羅、茷舍旃荼羅、戍達羅旃荼羅,若男、若女,諂曲、愚癡、懷聰明慢;其性兇悖、懆厲、麁獷;不見、不畏後世苦果;好行殺生,乃至邪見、嫉妬、慳貪、憎背善友、親近惡友——非是三乘賢聖法器。
“Selanjutnya lagi, putra berbudi! Di masa depan, di Tanah Buddha ini (Sahā Lokadhātu) akan terdapatlah caṇḍāla kṣatriya, caṇḍāla brāhmaṇa, caṇḍāla perdana menteri, caṇḍāla kepala keluarga, caṇḍāla śramaṇa, caṇḍāla perumahtangga, caṇḍāla vaiśya, caṇḍāla śūdra, baik laki-laki ataupun perempuan, yang tidak jujur, bodoh, sombong dan sok pintar; tabiat mereka pembangkang, mudah tersinggung, kasar dan bengis; tidak melihat dan tidak takut akan buah penderitaan di kehidupan mendatang; suka membunuh makhluk hidup s/d berpandangan sesat, iri hati, kikir dan serakah, membelakangi sahabat spiritual yang baik, mengakrabi sahabat spiritual yang jahat — bagi para suci dari ketiga Kendaraan, mereka bukanlah wadah Dharma.

「或少聽習聲聞乘法,便於諸佛共所護持獨覺乘法、無上乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。或少聽習獨覺乘法,便於諸佛共所護持聲聞乘法、無上乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。或少聽習無上乘法,便於諸佛共所護持聲聞乘法、獨覺乘法,誹謗、毀呰、障蔽、隱沒,不令流布。
“Entah karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Śrāvaka, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Pratyeka dan Kendaraan Tiada Tara yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama. Atau karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Pratyeka, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Tiada Tara yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama. Atau karena sedikit mendengar dan mempelajari Dharma dari Kendaraan Tiada Tara, mereka lalu memfitnah, menghujat, merintangi, menyembunyikan, dan tidak membiarkan tersebarnya Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka yang dijaga dan dipegang oleh para Buddha bersama.

「為求名利,唱如是言:『我是大乘,是大乘黨。唯樂聽習受持大乘,不樂聲聞、獨覺乘法,不樂親近學二乘人。』如是詐稱大乘人等,由自愚癡憍慢勢力,如是謗毀、障蔽、隱沒三乘正法,不令流布;憎嫉修學三乘法人,誹謗毀辱令無威勢。」
“Demi mencari ketenaran dan keuntungan, mereka akan memproklamirkan demikian: ‘Aku adalah Mahāyānis, seorang partisan Mahāyāna. Hanya gemar mendengar, mempelajari, menerima, dan memegang Kendaraan Besar; aku tidak gemar akan Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Pratyeka, tidak gemar mengakrabkan diri dengan orang yang berlatih kedua Kendaraan.’ Demikianlah orang-orang yang mengklaim diri sebagai Mahāyānis, karena kekuatan kesombongan dan kebodohannya sendiri, akan sedemikian memfitnah, merintangi, menyembunyikan Dharma yang Benar dari ketiga Kendaraan, dan tidak membiarkannya tersebar; akan mengiri dan mendengki kepada orang-orang yang berlatih dan mengembangkan Dharma ketiga Kendaraan, memfitnah dan menindas mereka sehingga tiada berdaya.”

Orang-orang yang diberi julukan caṇḍāla tersebut, dikatakan dalam gāthā, akan sia-sia saja mempelajari dan melafalkan teks-teks Kendaraan Besar, khususnya yang membahas ajaran kekosongan yang mendalam. Karena tidak memiliki landasan yang kuat dalam Kendaraan Kecil, mereka akan salah memahaminya dan, secara tidak sadar, malah mengimani Mahāyāna sebagai nihilisme. Mereka bahkan tidak layak menjadi wadah penerima warisan Dharma Kendaraan Kecil — apalagi Kendaraan Besar.

Kembali ke gāthā di atas, yang selanjutnya menyambung:

內真懷斷見  妄自號大乘
不護三業罪  壞亂我正法
彼人命終後  定墮無間獄
故應觀機說  勿為非器者

Di dalam mereka sejatinya menganut pandangan nihilisme,
namun secara dusta menyebut diri seorang Mahāyānis.
Tidak menjaga ketiga [saluran] karma dari dosa kecelaan,
malah menghancurkan dan mengacaukan Saddharma-Ku.

Orang-orang seperti itu, setelah hidupnya berakhir,
tentu akan terjatuh ke Neraka Tanpa Jeda (Avīci).
Maka dalam membabarkan semestinyalah mengamati kualifikasi
supaya jangan kepada yang bukan wadahnya [ditransmisikan].

Adalah salah besar mewariskan ajaran yang tinggi kepada orang-orang tersebut sebab, setelah mendapat pewarisan, demi ketenaran dan keuntungan, mereka akan berlagak menjadi guru dan meneruskan kesesatannya kepada orang lain. Di halaman 754b Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra tertulis:

「善男子。有諸眾生,於聲聞乘、獨覺乘法,未作劬勞正勤修學。如是眾生根機未熟、根機下劣、精進微少。若有為說微妙甚深大乘正法,說、聽二人俱獲大罪,亦為違逆一切諸佛。所以者何?
“Putra berbudi, terdapat makhluk hidup yang, terhadap Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka, belum pernah bersusah-payah berlatih dan mengembangkannya dengan ketekunan benar. Makhluk-makhluk demikian belum matang kualifikasi inderanya, asor kualifikasi inderanya, lemah semangatnya. Jikalau ada orang yang membabarkan kepadanya Ajaran Benar dari Kendaraan Besar yang halus, menakjubkan, dan teramat dalam, maka baik pembabar maupun pendengar, keduanya sama-sama beroleh dosa besar, juga telah bertolak-belakang dengan segala Buddha. Mengapa demikian?

「若諸眾生於聲聞乘、獨覺乘法,未作劬勞正勤修學,根機未熟、根機下劣、精進微少,而便聽受微妙甚深大乘正法,如是眾生實是愚癡自謂聰叡,陷斷滅邊,墜顛狂想,執無因論,於諸業果生斷滅想,撥無一切善作、惡作。
“Jikalau makhluk-makhluk, yang terhadap Dharma dari Kendaraan Śrāvaka dan Kendaraan Pratyeka belum pernah bersusah-payah berlatih dan mengembangkannya dengan ketekunan benar; yang belum matang kualifikasi inderanya, asor kualifikasi inderanya, lemah semangatnya; dibiarkan mendengar dan menerima Ajaran Benar dari Kendaraan Besar yang halus, menakjubkan, dan teramat dalam; maka makhluk-makhluk yang sejatinya bodoh tersebut akan menyebut diri pandai, terjebak dalam ékstrém nihilisme, terbenam dalam gagasan keliru, berpegang pada teori tiada sebab, membangkitkan gagasan nihilis akan segala buah karma, menguncarkan bahwa tiada tindakan yang baik atau tindakan yang jahat.

「妄說大乘,壞亂我法:非法說法、法說非法,實非沙門說是沙門、實是沙門說非沙門,實非毘奈耶說是毘奈耶、實是毘奈耶說非毘奈耶。愚癡、顛倒、憍慢、嫉妬、朋黨之心,於大乘法稱讚、擁衛、令廣流布;於聲聞乘、獨覺乘法,謗毀、障蔽,不令流布。
“Secara dusta mereka akan menyebut diri Mahāyānis, menghancurkan dan mengacaukan Saddharma-Ku: yang bukan Dharma akan mereka sebut Dharma, yang Dharma akan mereka sebut bukan Dharma; sejatinya bukan śramaṇa akan mereka sebut śramaṇa, sejatinya śramaṇa akan mereka sebut bukan śramaṇa; sejatinya bukan Vinaya akan mereka sebut Vinaya, sejatinya Vinaya akan mereka sebut bukan Vinaya. Dengan batin diliputi kebodohan, kekeliruan, iri hati, dan nepotisme, terhadap Dharma dari Kendaraan Besar mereka akan memuji, mengamankan, dan membiarkannya tersebar luas; terhadap Dharma dari Kendaraan Kecil mereka akan memfitnah, menyembunyikan, dan tidak membiarkannya tersebar.

「不能如實依聲聞乘、或獨覺乘、或無上乘,捨俗出家,受具足戒成苾芻性;亦不如實修集一切善法因緣。於我弟子,或是法器、或非法器——謂:勤修行學、無學行,乃至證得最後極果;真善異生、持戒、破戒、無戒者所——種種毀罵、呵責、惱亂,奪其衣鉢,不聽受用諸資生具,繫縛、禁閉。如是撥無一切因果斷滅論者,雖在人中,實是羅剎。於當來世,無數大劫,難得人身。寧在地獄受無量苦,不處人中起斷滅見!」
“Mereka takkan mampu sebenar-benarnya melepas kehidupan awam, meninggalkan rumah tangga, menerima Upasaṃpanna Śīla untuk mendapatkan kebhikṣuan berdasarkan Kendaraan Śrāvaka, Kendaraan Pratyeka, atau Kendaraan Tiada Tara; juga takkan sebenar-benarnya mengembangkan sebab-musabab agar segala dharma yang baik terhimpun. Kepada siswa-siswa-Ku, baik kepada yang merupakan wadah Dharma maupun yang bukan wadah Dharma — yakni: kepada yang sedang bertekun mengembangkan praktik [untuk menjadi] śaikṣa dan aśaikṣa, hingga kepada yang telah merealisasi Buah terakhir yang tertinggi; kepada kalyāṇa pr̥thagjana, pemegang Śīla, perusak Śīla, atau yang tanpa Śīla — dengan bermacam-macam cara mereka akan menghardik, mencela, dan mengganggunya; akan merampas jubah dan mangkuknya; takkan mengizinkannya menerima dan menggunakan berbagai barang kebutuhan pokok; akan mengikat, membelenggu, dan mengurungnya. Demikianlah mereka yang menguncarkan teori nihilis bahwa tiada segala sebab dan akibat, meskipun berada di antara manusia, sesungguhnya merupakan rākṣasa. Di masa mendatang, selama mahākalpa yang tiada terbilang, sukarlah mereka mendapatkan [kelahiran dengan] tubuh manusia lagi. Lebih baik berada di neraka menerima penderitaan yang tak terukur daripada bertempat di antara manusia namun membangkitkan pandangan nihilisme!”

Guru-guru palsu ini akan mengklaim diri telah memperoleh realisasi tertentu atau Pencerahan seketika, persis seperti yang dikatakan dalam Śūraṅgama Sūtra: “Yang belum diperoleh akan mereka akui telah diperoleh; yang belum direalisasi akan mereka akui telah direalisasi.” Mereka akan memuji-muji diri dan kelompoknya sendiri, sementara mengkritik siswa-siswi Buddhis lain, baik yang merupakan wadah Dharma maupun yang bukan. Secara tidak sadar membangkitkan pandangan nihilisme, mereka takkan mengerti bahwa segala dharma kosong pada tataran nomenal, namun riil pada tataran fenomenal. Hukum karma itu sungguh nyata. Tetapi, karena menyamakan kekosongan dengan ketiadaan, mereka tidak takut akan buah dari tindakan jahat seperti membunuh makhluk hidup s/d berpandangan sesat. Maka meskipun berjubah bhikṣu, mereka sendiri tidak mampu memegang śīla yang sederhana, malah menganjurkan umat awam maupun monastik untuk melanggarnya juga dengan dalih “kita tidak perlu melekat”.




Padahal dalam bab XXII dari Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·五戒品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1064b) disebutkan:

「若有說言:『離五戒已度生死』者,無有是處。善男子。若人欲度生死大海,應當至心受持五戒。」
“Jikalau ada yang berkata bahwa dengan meninggalkan Lima Śīla ia telah terseberangkan dari kelahiran dan kematian, maka itu adalah hal yang mustahil. Putra berbudi, seseorang yang hendak terseberangkan dari samudra kelahiran dan kematian haruslah dengan sungguh hati menerima dan memegang Lima Śīla.”

Bahkan dalam sūtra pertama dari Mahāratnakūṭa, Trisaṃvara Nirdeśa 《大寶積經·三律儀會》 (T. vol. 11, № 310 hlm. 16a), meskipun menganut Kendaraan Besar, kepada umat awam dinasihatkan:

「迦葉。在家菩薩有三種修,能於菩提,而作利益。何等為三?
“Kāśyapa, ada tiga jenis pengembangan bagi bodhisattva perumahtangga, yang dapat membawa manfaat menuju Bodhi. Apakah ketiganya?

為一切智故,深生愛樂;
Membangkitkan hasrat yang mendalam terhadap kemahatahuan (sarvajñatā);

不墮本業;
tidak melekat pada karya yang telah dilakukan;

堅持五戒。」
dengan kukuh memegang Lima Śīla.”

Lagi dalam bab XIV dari Upāsaka Śīla Sūtra 《優婆塞戒經·受戒品》 (T. vol. 24, № 1488 hlm. 1047c–1048a) disebutkan:

「善男子。優婆塞戒極為甚難!何以故?是戒能為沙彌戒、大比丘戒、及菩薩戒,乃至阿耨多羅三藐三菩提而作根本;至心受持優婆塞戒,則能獲得如是等戒無量利益。若有毀破如是戒者,則於無量、無邊世中處三惡道,受大苦惱。」
“Putra berbudi, Upāsaka Śīla ini sungguh teramat sukar! Apakah sebabnya? Śīla ini mampu menjadi dasar bagi Śrāmaṇera Śīla, Bhikṣu Śīla, dan Bodhisattva Śīla, hingga tercapainya Anuttara Samyak-saṃbodhi; manfaat yang tak terukur dari berbagai Śīla demikian akan dapat diperoleh dengan bersungguh hati menerima dan memegang Upāsaka Śīla. Jikalau Śīla ini dirusak, maka selama kehidupan yang tak terukur dan tak bertepi akan terjatuhlah ke tiga jalur rendah dan menerima penderitaan besar.”

Akhirnya kita teringat akan sabda Buddha sendiri dalam Ekottara Āgama, yang telah dikutip sebelumnya:

「若善男子、善女人,欲求作聲聞、緣覺、佛乘者,悉成其願。
“Apabila putra dan putri berbudi beraspirasi menjadi Śrāvaka, Pratyeka, atau mencari Kendaraan Buddha, semuanya akan tercapai sesuai yang dicita-citakannya.

「吾今成佛,由其持戒。五戒十善,無願不獲。諸比丘!若欲成其道者,當作是學。」
“Kini Aku sendiri pun mencapai Kebuddhaan berkat memegang Śīla. Dengan Lima Śīla dan sepuluh kebaikan, tiada cita-cita yang tidak terperoleh. Para bhikṣu, jikalau kalian beraspirasi mencapai segala Pencerahan tersebut, itulah yang harus kalian pelajari!”






Sebagai penutup, gāthā di jilid 6 Daśacakra Kṣitigarbha Sūtra menyambung dengan bait-bait berikut:

憍傲無慈愍  暴惡志下劣
智者應當知  是懷斷見者
非聲聞緣覺  亦非大乘器
諂謗毀諸佛  必墮無間獄
持戒樂喧鬧  慳法畏苦惡
智者應當了  是名聲聞乘
樂施觀生滅  常欣獨靜處
智者應當了  是名獨覺乘
具足諸善根  守護慈悲本
常樂攝利物  是名為大乘
捨身命護戒  不惱害眾生
精進求空法  應知是大乘
心堪忍諸法  善言無祕吝
於法常欣樂  應知是大乘
法器非法器  利樂心平等
不染諸世法  應知是大乘
是故有智者  普敬說三乘
不惱我僧徒  速成無上覺

Sombong, congkak, dan tidak berbelas-kasih,
kejam terhadap yang cita-citanya asor
— orang bijak semestinya mengetahui
seperti itulah penganut pandangan nihilisme.

Tidaklah bagi Śrāvaka- atau Pratyeka-,
juga tidak bagi Mahā-yāna mereka menjadi wadah.
Mereka, penggombal dan pemfitnah para Buddha,
tentu akan terjatuh ke Neraka Tanpa Jeda (Avīci).

Memegang Śīla pantang menggemari keramaian,
hemat akan Dharma, takut akan kejahatan pembawa penderitaan
— orang bijak semestinya mengerti
seperti itulah yang dinamakan Śrāvakayānis.

Gemar berderma dan mengamati kemunculan dan kelenyapan,
senantiasa bergembira seorang diri di tempat yang sunyi
— orang bijak semestinya mengerti
seperti itulah yang dinamakan Pratyekayānis.

Menyempurnakan segala akar kebaikan,
menjaga dan mempertahankan dasar kasih-sayang,
senantiasa bergemar merangkul dan menguntungi makhluk lain
— seperti itulah yang dinamakan Mahāyānis.

Demi menjaga Śīla, melepas tubuh dan nyawa;
tidak menggganggu atau mencelakaï makhluk hidup;
bersemangat mencari Dharma tentang kekosongan
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Batin tahan sabar menanggung [kekosongan] segala fenomena;
berkata-kata baik, tanpa berahasia dengan kikir;
di dalam Dharma senantiasa bergembira
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Baik kepada wadah Dharma maupun bukan wadah Dharma,
[senantiasa] menguntungi dan membahagiaï dengan batin samarata;
tidak tercemari oleh segala dharma duniawi
— ketahuilah, itulah Kendaraan Besar!

Oleh karena itu, orang yang memiliki kebijaksanaan
secara universal menghormati pembabar ketiga Kendaraan!
Tidak mengganggu saṅgha pengikut-Ku,
ia selekasnya akan mencapai Pencerahan Tiada Tara.

Rabu, 06 Februari 2019

Kebuddhaan Teraih berkat Pemegangan Śīla Murni yang Unggul


若下持戒生人中;中持戒生六欲天天中;上持戒又行四禪、四空定,生色、無色界清淨天中。
Pemegangan Śīla yang asor akan membawa kelahiran di antara manusia; pemegangan Śīla yang madya akan membawa kelahiran sebagai dewa-dewa di enam surga Alam Nafsu Inderawi; pemegangan Śīla yang unggul, ditambah mempraktikkan Empat Dhyāna dan Empat Ārūpya Samapatti, akan membawa kelahiran sebagai dewa-dewa brahma di Alam Dhyāna Bermateri dan Alam Dhyāna Tanpa-Materi.

上持戒有三種:下清淨持戒得阿羅漢,中清淨持戒得辟支佛,上清淨持戒得佛道。
Pemegangan Śīla [murni yang lebih] utama ada tiga jenis: pemegangan Śīla murni yang asor akan mendapatkan Kearhatan, pemegangan Śīla murni yang madya akan mendapatkan Kepratyekaan, pemegangan Śīla murni yang unggul akan mendapatkan Kebuddhaan.

不著、不猗,不破、不缺,聖所讚愛——如是名為上清淨持戒。
Tanpa kemelekatan, tanpa ketertarikan, tanpa kepecahan, tanpa kekurangan, dipuji dan dicintaï para suci — demikianlah yang dinamakan pemegangan Śīla murni yang unggul.

若慈愍眾生故;為度眾生故;亦知戒實相故,心不猗著——如此持戒,將來令人至佛道。如是名為得無上佛道戒。
Jikalau dikarenakan mengasihi semua makhluk; dikarenakan demi menyelamatkan semua makhluk; juga dikarenakan mengetahui karakteristik sejati dari Śīla, batin tidak tertarik atau melekat — pemegangan Śīla demikian akan mengakibatkan seseorang meraih Kebuddhaan di masa datang. Demikianlah yang dinamakan Śīla yang memperdapatkan Kebuddhaan yang Tiada Tara.

若人求大善利,當堅持戒,如惜重寶,如護身命。何以故?譬如大地:一切萬物有形之類,皆依地而住。戒亦如是:戒為一切善法住處。
Bila seseorang mencari keuntungan baik yang besar, haruslah ia dengan teguh memegang Śīla bagai menyayangi permata berharga, bagai menjaga tubuh dan nyawa. Apakah alasannya? Ibarat bumi besar ini: segala macam benda yang berwujud tinggal dengan bertumpu padanya. Śīla pun demikian: Śīla merupakan tempat berdiamnya segala dharma yang baik.

復次!譬如無足欲行,無翅欲飛,無船欲渡,是不可得;若無戒欲得好果,亦復如是。
Selanjutnya lagi, ibarat tak berkaki namun ingin berjalan, tak bersayap namun ingin terbang, tak berperahu namun ingin menyeberang adalah tidak mungkin; tanpa Śīla namun ingin mendapatkan Buah yang menyukakan pun demikian halnya!

—— Mahāprajñāpāramitā Upadeśa 《大智度論》 bab I-21
(T. vol. 25, № 1509 hlm. 153b)

Selasa, 05 Februari 2019

Pencerahan Ketiga Kendaraan Tercapai berkat Memegang Śīla

Dalam Sūtra tentang Aturan Puasa 《齋戒經》, yang merupakan sūtra ke-6 dari varga XXIV Ekottara Āgama (T. vol. 2, № 125), Buddha menekankan pentingnya membangkitkan tekad sewaktu mengambil Śīla, dan menyalurkan segala potensi positif yang terbentuk demi tercapainya apa yang dicita-citakan. Sūtra yang dimasukkan ke Kelompok Tiga ini paralel secara parsial dengan setengah bagian awal (Catu Mahā)rāja Sutta (AN III.4: 8) serta setengah bagian akhir Uposatha Sutta (AN III.7: 10).

Sementara Uposatha Sutta hanya membahas kemungkinan seseorang terlahir kembali menjadi dewa di surga-surga Alam Nafsu Inderawi (yang tertinggi: Paranimmitavasavati) dengan bertekad Uposatha, teks kita membahas kemungkinan terlahir sampai di Alam Dhyāna Bermateri dan Alam Dhyāna Tanpa-Materi. Jikalau seseorang sungguh-sungguh bertekad, ia pun dapat terlahir sebagai cakravartin penguasa satu, dua, tiga, atau empat benua. Bahkan di bagian akhir (hlm. 626a), yang tiada padanannya dalam Kanon Pāli, dinyatakan:

「若善男子、善女人,欲求作聲聞、緣覺、佛乘者,悉成其願。
“Apabila putra dan putri berbudi beraspirasi menjadi Śrāvaka, Pratyeka, atau mencari Kendaraan Buddha, semuanya akan tercapai sesuai yang dicita-citakannya.

「吾今成佛,由其持戒。五戒十善,無願不獲。諸比丘!若欲成其道者,當作是學。」
“Kini Aku sendiri pun mencapai Kebuddhaan berkat memegang Śīla. Dengan Lima Śīla dan sepuluh kebaikan, tiada cita-cita yang tidak terperoleh. Para bhikṣu, jikalau kalian beraspirasi mencapai segala Pencerahan tersebut, itulah yang harus kalian pelajari!”



Senin, 04 Februari 2019

Menuruti Śīla akan Mendapatkan Pencerahan

 ㊲  “Seorang siswa yang terpisah dari-Ku sejauh ribuan mil, namun mengingat dan merenungkan śīla-śīla-Ku, tentu akan memperoleh Jalan dan Buah. Akan tetapi, mereka yang berada di sisi-Ku, meskipun selalu melihat-Ku, namun tidak menuruti śīla-śīla-Ku, selamanya takkan mendapatkan Pencerahan.”




Minggu, 03 Februari 2019

Bodhipākṣika pada Esensinya Didasari oleh Śīla

Bodhisattvagocaropāya-viṣaya-vikurvāṇa Nirdeśa Sūtra 《菩薩行方便境界通變化經》 mencatat percakapan antara Raja Caṇḍapradyota dari Avanti dengan Satyaka, seorang nirgrantha (penganut Jainisme) yang telah berkonversi kepada Buddhadharma. Ke hadapan raja, Satyaka memuji-muji Buddha Gautama sehingga keyakinannya terhadap Dharma pun tumbuh.

Versi sūtra ini yang lebih populer dalam bahasa Tionghoa adalah yang diterjemahkan oleh Bodhiruci dengan judul Mahāsatyaka-nirgrantha Nirdeśa 《大薩遮尼乾子所說經》 (T. vol. 9, № 272). Dalam bab VIII (hlm. 359a) disebutkan:

「大王。一切功德助道之行,舉要言之,以戒為本,持戒為始。若不持戒,乃至不得疥癩野干身,何況當得功德之身?大王。當知!以戒淨故,不斷佛種,成等正覺;不斷法種,分別法性;不斷僧種,修無為道。以持淨戒相續不斷故,功德無盡。」
“Mahārāja, segala praktik kebajikan penyusun Bodhi (bodhipākṣika) pada esensinya, dapat kita katakan, didasari oleh Śīla, diawali dengan memegang Śīla. Jikalau tidak memegang Śīla, bahkan tubuh kudisan seperti rubah liar pun kita tidak dapat memperolehnya — apalagi dapat memperoleh tubuh kebajikan! Mahārāja, ketahuilah! Dengan Śīla yang murni, juriat Buddha tidak terpotong, yakni pencapaian Pencerahan yang Tepat dan Menyeluruh (samyak-saṃbodhi); juriat Dharma tidak terpotong, yakni diferensiasi hakikat Dharma; juriat Saṅgha tidak terpotong, yakni pengembangan Jalan yang tak terkondisi. Dengan tidak terpotongnya kesinambungan pemegangan Śīla yang murni, jasa-jasa-Nya (Gautama) tiada akhir.”



Sabtu, 02 Februari 2019

Dengan Śīla Barulah Dapat Menampak Hakikat Kebuddhaan

Dalam percakapan-Nya dengan Bodhisattva Kāśyapa di jilid 7 Mahāparinirvāṇa Sūtra 《大般涅槃經》 (T. vol. 12, № 374 hlm. 405a), Buddha bersabda:

「眾生若不護持禁戒,云何當得見於佛性?一切眾生雖有佛性,要因持戒然後乃見。因見佛性,得成阿耨多羅三藐三菩提。」
“Semua makhluk, jika tidak menjaga dan memegang Śīla, bagaimana bisa menampak hakikat Kebuddhaan? Meskipun semua makhluk memiliki hakikat Kebuddhaan, namun harus disebabkan memegang Śīla baru mereka menampaknya. Berkat menampak hakikat Kebuddhaan, dapatlah mereka mencapai Anuttara Samyak-saṃbodhi.”


Jumat, 01 Februari 2019

Śīla adalah Dasar dari Bodhi yang Tiada Tara

Gāthā terkenal dari Bhadraśrī Sūtra, yang merupakan kitab ke-8 dari Avataṃsaka LX 《六十華嚴·賢首菩薩品第八》 (T. vol. 9, № 278 hlm. 433b), berbunyi:

若信恭敬一切佛  則持淨戒順正教
若持淨戒順正教  諸佛賢聖所讚歎
戒是無上菩提本  應當具足持淨戒
若能具足持淨戒  一切如來所讚歎

Jikalau seseorang menghormati semua Buddha dengan yakin,
tentu ia akan memegang Śīla yang murni seturut Ajaran Benar.
Apabila seturut Ajaran Benar memegang Śīla yang murni,
seseorang akan dipuji oleh para Buddha dan ārya.

Śīla adalah dasar dari Bodhi yang tiada tara:
hendaknya peganglah Śīla yang murni dengan sempurna.
Apabila dapat dengan sempurna memegang Śīla yang murni,
seseorang akan dipuji oleh semua Tathāgata.






Pada terjemahan Avataṃsaka-nya dalam LXXX jilid 《八十華嚴》, Śīkṣānanda menempatkan Bhadraśrī Sūtra sebagai kitab ke-12. Gāthā yang sama ditraduksi (T. vol. 10, № 279 hlm. 72c) sebagai:

若常信奉於諸佛  則能持戒修學處
若常持戒修學處  則能具足諸功德
戒能開發菩提本  學是勤修功德地
於戒及學常順行  一切如來所稱美

Jikalau seseorang senantiasa menjunjung para Buddha dengan yakin,
tentu ia sanggup memegang Śīla yang murni dan mengembangkan langkah-langkah latihan.
Apabila senantiasa memegang Śīla yang murni dan mengembangkan langkah-langkah latihan
tentu ia sanggup menyempurnakan segala kebajikan.

Śīla adalah dasar yang mampu memelopori Bodhi:
hendaknya latihlah pengembangan fondasi kebajikan ini dengan tekun.
Apabila senantiasa berpraktik seturut Śīla dan latihan,
seseorang akan dipuji oleh semua Tathāgata.