Powered by Administrator

Translate

Bab XVII

〈問沙彌品〉
Pertanyaan seputar Śramaṇera






 ①  問:悔須眾不?
Tanya: Melakukan pengakuan perlukah kepada saṅgha?

答:不須眾,但向本師得了。若現在無師,向餘一比丘亦得。
Jawab: Tidak perlu kepada saṅgha, tetapi cukup hanya di hadapan guru pembimbing sendiri. Jika pada saat ini guru tidak ada, maka dapat juga di hadapan seorang bhikṣu lain.


 ②  問:沙彌半月一說戒不?

Tanya: Apakah śramaṇera melakukan pembacaan śīla tiap paruh-bulan (pakṣa) sekali?

答:無此理。所以爾者,以沙彌戒不成俗人,然終已可說。須十五日一集。
Jawab: Tidak ada prinsip seperti ini. Jadinya demikian (ada praktik pembacaan śīla śramaṇera) karena: meski dengan Śramaṇera Śīla seseorang tidak lagi menjadi umat awam, namun hanya setelah berakhir [masa novisiatnya, barulah] ia boleh melakukan pembacaan. Maka perlu tiap lima belas hari sekali berhimpun¹.


 ③  問:沙彌犯戒,得還向沙彌悔不?

Tanya: Śramaṇera yang melanggar śīla dapatkah melakukan pengakuan di hadapan sesama śramaṇera lain?

答:不得。
Jawab: Tidak dapat.


 ④  問:沙彌得著俗服不?

Tanya: Dapatkah śramaṇera mengenakan pakaian orang awam?

答:不得。
Jawab: Tidak dapat.


 ⑤  問:師有種種違法事,沙彌得捨,更求師不?

Tanya: Jika gurunya melakukan bermacam-macam hal yang bertentangan dengan Dharma, dapatkah seorang śramaṇera lepas dan mencari guru lagi?

答:得。
Jawab: Dapat.


 ⑥  問:沙彌叛師,以白衣師綜習俗,竟不捨戒,或經年月,還來投師。故是沙彌非?但悔過而已,不須
   更受戒耶?

Tanya: Śramaṇera yang memberontak terhadap gurunya, lalu bergaul dengan guru yang merupakan orang awam dan mengadopsi gaya hidup awam, namun hingga akhir tidak pernah melepas Śīla — bahkan sampai berbulan-bulan dan bertahun-tahun — kemudian ia datang kembali menghampiri gurunya (yang semula). Masihkah ia seorang śramaṇera atau tidak? Jika ia mengakui kesalahannya saja, sesudahnya tidak perlukah ia menerima Śīla kembali?

答:故是沙彌,但向師懺。本不捨戒,不得更受;受亦不得戒。
Jawab: Ia masih seorang śramaṇera, tetapi di hadapan gurunya ia mesti meminta maaf. Sejak semula tidak melepas Śīla, maka tidak dapat menerima kembali; kalaupun menerima, ia juga tidak memperoleh Śīla lagi (karena substansi Śramaṇera Śīla masih ada padanya).


 ⑦  問:沙彌為賊所抄,經歷年月,或轉經主,得逃不?

Tanya: Śramaṇera yang ditawan oleh perompak sampai berbulan-bulan dan bertahun-tahun, lalu dipindahtangankan pertuanannya, dapatkah ia melarikan diri?

答:轉經主,不得。
Jawab: Jika tuannya telah beralih, maka tidak dapat².


 ⑧  問:沙彌犯禁,師僧已擯。謝,得更出家不?

Tanya: Śramaṇera yang melanggar aturan dan telah diusir oleh gurunya dan saṅgha, jika memohon maaf, dapatkah ia kembali meninggalkan rumah-tangga (pravrajyā)?

答:若不捨戒,故是沙彌,可懺而已。
Jawab: Jika tidak melepas Śīla, ia masih seorang śramaṇera dan boleh meminta maaf saja.


 ⑨  問:白衣時,從沙彌受五戒,然後出家受大戒。本師故是沙彌,得呼為師不?

Tanya: Sewaktu masih menjadi umat awam, seseorang menerima Lima Śīla dari seorang śramaṇera. Kemudian ia meninggalkan rumah-tangga dan menerima Upasaṃpanna Śīla; sementara guru pembimbingnya yang semula masih tetap menjadi śramaṇera. Dapatkah ia tetap menyebutnya guru?

答:得呼為師,但不得為禮。沙彌應作禮。白衣時,從尼受五戒,然後出家,亦爾。
Jawab: Dapat tetap menyebutnya guru, tetapi tidak dapat bernamaskāra kepadanya sebab seorang śramaṇera-lah yang semestinya bernamaskāra [kepada bhikṣu]. Jika sewaktu menjadi umat awam menerima Lima Śīla dari seorang bhikṣuṇī, kemudian meninggalkan rumah-tangga, demikian pula halnya.







(Menyusul selanjutnya beberapa anekdot yang menceritakan akibat buruk yang diterima bhikṣu-bhikṣu yang tamak terhadap persembahan, serta sebuah formula untuk pengakuan di akhir masa varṣā — sisipan-sisipan yang tidak berhubungan dengan bab ini. Pada redaksi a bab ini juga dipecah: mulaï dari formula tersebut s.d. akhir teks dinomori sebagai bab XVIII.)






 ⑩  問:白衣欲出家,比丘即受,更為請師。故是師非?
Tanya: Umat awam yang hendak meninggalkan rumah-tangga diterima oleh seorang bhikṣu, yang kemudian mengundang [bhikṣu lain sebagai] guru. Masihkah [bhikṣu yang pertama] disebut guru atau tidak?

答:非師。若從受法者,可為師。若依隨者,可為依止師。
Jawab: Bukan guru (=upādhyāya). Karena dari siapa kita menerima Dharma, kepadanyalah boleh kita menyebut guru. Jika kita mengikutinya untuk bersandar (sekadar bergantung hidup), maka bolehlah ia disebut guru sandaran (niśrayadāyaka ācārya).


 ⑪  問:若有比丘不捨作沙彌,即大道人,而更受戒。為僧不?

Tanya: Jika seorang bhikṣu tidak pernah lepas menjadi śramaṇera, lalu mendekati seorang śramaṇa terkenal³ dan menerima [Upasaṃpanna] Śīla kembali, apakah ia menjadi seorang bhikṣu?

答:得。
Jawab: [Tidak] dapat.


 ⑫  問:若不得戒,前所受戒故在不?

Tanya: Jika tidak mendapatkan Śīla, apakah [substansi] Śīla yang diterima sebelumnya masih bertahan?

答:在。
Jawab: Masih.


 ⑬  問:後師,是非?

Tanya: [Guru] yang belakangan disebut guru atau tidak?

答:非。
Jawab: Tidak.


 ⑭  問:多人受戒,而并請一人為師。可得十人、五人一時受不?

Tanya: Ada banyak orang menerima Śīla dan bersama-sama memohon satu orang menjadi guru. Bolehkah sekaligus sepuluh atau lima orang menerima bersamaan dalam satu waktu?

答:無此理。
Jawab: Tidak ada prinsip seperti ini.


 ⑮  問:沙彌受大戒,請一比丘為大戒師。而此比丘,不知羯磨及受戒法,轉請一人與授。以何者為師?

Tanya: Śramaṇera yang [hendak] menerima Upasaṃpanna Śīla memohon seorang bhikṣu untuk menjadi guru upasaṃpada. Namun, bhikṣu ini tidak mengetahui karmavācanā dan metode penerimaan Śīla, lalu mengalihkan dan memohon seorang [bhikṣu] lain untuk mentransmisikannya. Yang manakah yang disebut guru di sini?

答:與戒者為師,是無法非師。
Jawab: Yang memberikan Śīla-lah yang disebut guru (=upādhyāya); yang tidak memiliki Dharma bukan guru.


 ⑯  授五戒比丘,唯得授婆羅門。於餘者,尼授。比丘不得問中間事;問者,犯僧殘。

Bhikṣu yang mentransmisikan Lima Śīla hanya dapat mentransmisikannya kepada brāhmaṇa (baca: pria). Selebihnya (yakni, kepada umat wanita) bhikṣuṇī-lah yang mentransmisikannya. Sebab seorang bhikṣu tidak dapat menanyakan masalah pribadi [seorang wanita]; jika ia menanyaïnya, maka ia melanggar saṅghāvaśeṣa.







(Hanya sampai di sini terjemahan kami sajikan sebab pertanyaan-pertanyaan berikutnya s.d. akhir teks berkenaan dengan aturan kebhikṣuan yang kurang relevan bagi kita.)






CATATAN:

¹ Yakni, sebagai simulasi ritual poṣadha sebelum mereka benar-benar dapat mengikutinya kelak. Hsing-ch’i bahkan hanya membolehkan pembacaan tersebut dipimpin oleh bhikṣu; para śramaṇera sebatas mendengarkannya — ini sama seperti saṅgha bhikṣuṇī di masa awal terbentuknya, di mana seorang bhikṣu selalu diundang untuk membacakan prātimokṣasūtra, sampai akhirnya Buddha mengizinkan para bhikṣuṇī untuk menyelenggarakan upacara poṣadha mereka sendiri.

² Jikalau masih merupakan tawanan, ia dapat melarikan diri. Namun, kini ia adalah kepunyaan seseorang sehingga tidak boleh melarikan diri (kecuali ada yang memerdekakannya dengan membayar sejumlah harga kepada majikannya). Ia tetap seorang śramaṇera sepanjang tak pernah menyatakan melepas Śīla.

³ Ta tao-jên 大道人 bukan berarti ‘orang dengan Pencerahan besar’. Di sepanjang teks kita istilah tao-jên merujuk pada seorang bhikṣu, yang sudah mendapat penahbisan penuh.

Yung-hai tidak mengomentari pertanyaan ⑩⑮ karena menganggapnya sudah pernah dibahas.

⁴ Semua redaksi memberi jawaban dapat. Seharusnya tidak dapat, sebagaimana terlihat pada pertanyaan ⑫. Untuk mengikuti upasaṃpadā-ulang, seseorang harus melepas dahulu disiplin kebhikṣuannya dan menjadi śramaṇera kembali.

⁵ Untuk upasaṃpadā bhikṣu/bhikṣuṇī, dalam satu waktu hanya boleh hadir secara bersamaan, maksimal, tiga kandidat di dalam maṇḍala. Jadi, apabila terdapat banyak yang memohon Śīla, saṅgha harus mengulang-ulang jñapti-caturtha karman untuk menahbiskan mereka per tiga-tiga.

Untuk disiplin yang lebih rendah, di masa Buddha sepertinya satu demi satu pemohon Śīla menerimanya secara individual. Dalam salah satu skandhaka dari Mūlasarvāstivāda Vinaya, “Kṣudraka Vastu” 《根本說一切有部毘奈耶雜事》 (T. vol. 24, № 1451 hlm. 395a), diceritakan bahwa 500 orang Malla datang bersama anak-istri, kawan-kawan, pelayan-pelayannya, dll. hendak memohon Tiga Perlindungan dan Lima Śīla menjelang Buddha parinirvāṇa. Mengingat jumlah mereka begitu besar, Ānanda berpikir apabila Buddha memberikan satu demi satu, tentu akan memakan waktu yang lama. Maka ia pun melaporkan nama-nama mereka dan memohon Buddha untuk memberi Śīla sekaligus dalam satu waktu.

Jadi, dapat kita lihat, norma yang sebenarnya adalah mengulangi ritus penerimaan Śīla untuk masing-masing pemohon secara individual. Memberikan Śīla secara massal hanya dibenarkan dalam keadaan darurat.


⁶ Tidak diketahui bagaimana bunyi pertanyaannya. Jawaban Vimalākṣa ini sejalan dengan konservatisme Vaibhāṣika (bandingkan catatan kaki no. 1 pada bab XIV), yang mensyaratkan pertanyaan antarāyikā dharmāḥ sebelum menerimakan disiplin apa pun. Substansi Śīla, termasuk Lima Śīla, hanya dapat diperoleh manusia. Di antara manusia, hanya pria (yang memiliki organ reproduksi pria lengkap) dan wanita (yang memiliki organ reproduksi wanita lengkap) saja yang dapat. Hermafrodit dan aseksual tidak memperolehnya. Pemberi Śīla harus menyelidiki terlebih dahulu kualifikasi calon penerima; jika tidak, ia akan melanggar duṣkṛta. Oleh sebab itu, seorang bhikṣu menemui kesulitan apabila menanyakan masalah ini langsung kepada umat wanita. (Tetapi, lagi-lagi, Vimalākṣa sepertinya membuat hiper-regulasi di sini dengan menyatakan seorang bhikṣu terkena saṅghāvaśeṣa bila melakukannya.)

Pandangan berbeda dipegang Bhadanta Harivarman dalam Satyadiddhi Śāstra (T. vol 32, № 1636 hlm. 303a). Menurut Beliau manusia hermafrodit dan aseksual, bahkan makhluk halus atau hewan seperti nāga, dapat menerima Lima Śīla dan Delapan Śīla sebab mereka pun mampu membangkitkan buah-pikir yang baik (kuśala). Akan tetapi, mereka tidak dapat memperoleh disiplin monastik.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar