Powered by Administrator

Translate

Bab XVI

〈十戒事品〉
Tentang Sepuluh Śīla






 ①  問:不受五戒,得受十戒不?
Tanya: Tanpa menerima Lima Śīla dapatkah menerima Sepuluh Śīla?

答:若先三自歸,得。以十戒中,即有五戒,亦不復受。
Jawab: Jika terlebih dahulu mengambil Tiga Perlindungan, dapat¹. Karena dalam Sepuluh Śīla sudah terkandung Lima Śīla, jadi tidak usah menerimanya lagi.


 ②  問:犯五戒不悔,得受十戒不?

Tanya: Seseorang yang melanggar Lima Śīla, lalu tidak melakukan pengakuan, dapatkah menerima Sepuluh Śīla?

答:不得。若先不知悔,已受……而不悔,不得。
Jawab: Tidak dapat. Jika sebelumnya tidak mengetahui pengakuan, lalu telah menerimanya …² namun tidak melakukan pengakuan, maka tidak dapat.


 ③  問:若師犯重戒,從受十戒,得不?

Tanya: Jika guru³ telah melakukan pelanggaran śīla berat (=pārājika), lalu darinya menerima Sepuluh Śīla, apakah [substansi Sepuluh Śīla] didapat?

答:不得。
Jawab: Tidak dapat.


 ④  問:若犯重戒,從受十戒,得不?

Tanya: Jika telah melakukan pelanggaran śīla berat, lalu darinya menerima Sepuluh Śīla, apakah [substansi Sepuluh Śīla] didapat?

答:不得。
Jawab: Tidak dapat.


 ⑤  問:沙彌犯十戒,盡得悔不?

Tanya: Pelanggaran kesepuluh śīla oleh śramaṇera dapatkah keseluruhannya [dimurnikan] melalui pengakuan?

答:同上五戒。
Jawab: Sama seperti untuk kelima śīla di atas (bab XV, pertanyaan ⑤).






CATATAN:

¹ Walaupun valid, penerimaan Sepuluh Śīla langsung tanpa menerima Lima Śīla terlebih dahulu entah dapat dibenarkan atau tidak per Sarvāstivāda Vinaya 《十誦律》 sebab dalam skandhaka pertamanya, “Upasaṃpadā Dharma” 受具足戒法 (T. vol. 23, № 1435 hlm. 149c), bahkan sudah diajarkan ritus penahbisan śramaṇera yang harus dilakukan bertahap: mula-mula guru pembimbing memberikan Tiga Perlindungan dan Lima Śīla upāsaka, selanjutnya baru memberikan Tiga Perlindungan dan Sepuluh Śīla śramaṇera. Hanya Vinaya Piṭaka mazhab Dharmaguptaka 《四分律》 (T. vol. 22, № 1428 hlm. 807a, 809c [kisah Rāhula], 810b dll.) yang membakukan penahbisan śramaṇera dengan Tiga Perlindungan dan Śepuluh Śīla saja.

² Terdapat lakuna pada teks kita. Para komentator juga merasa seharusnya ada kata-kata yang ditambahkan di sini. Hsing-ch’i mereka-reka: Jika sebelumnya tidak mengetahui pengakuan (karena tidak tahu metodenya atau karena lupa telah melanggar), lalu telah (terlanjur) menerima Sepuluh Śīla, maka substansinya ia dapat; jika sebelumnya sudah mengetahui, namun tidak melakukan pengakuan (malah sengaja langsung menerima Sepuluh Śīla), maka tidak dapat.

Yung-hai, khususnya pada klausa terakhir, menafsirkan: Jika sebelumnya tidak mengetahui pengakuan, lalu telah menerima Sepuluh Śīla, maka substansinya ia peroleh; setelah memperoleh, namun tidak (juga) melakukan pengakuan, maka tidak dapat begitu (= tidak boleh begitu, sebab tidak sesuai dengan Dharma). Pelanggaran Lima Śīla tetap harus diakui meskipun status seseorang kini telah menjadi śramaṇera. Ia tidak perlu ditahbis-ulang karena pelanggaran yang lupa diakuinya dahulu.

Tetapi, bacaan redaksi a sepertinya lebih baik: Jika sebelumnya tidak mengetahui, maka setelah melakukan pengakuan, barulah ia menerima; jika tidak melakukan pengakuan, maka tidak dapat (若先不知,悔已而受;不悔,不得).

³ Guru yang dimaksudkan di sini adalah upādhyāya, yang mentransmisikan Sepuluh Śīla śramaṇera. Ia harus memiliki kualitas bajik dan umur (jumlah varṣā yang telah dilalui) yang cukup, sehingga layak dijadikan guru. Jadi, untuk terbebas dari saṃsāra, tidak dapat tidak kita harus sangat selektif dalam mencari guru.

Pada prinsipnya substansi Śīla yang murni hanya dapat diperoleh dari guru yang murni. Sementara calon guru tersebut adalah seorang pārājika, bagaimana bisa ia membimbing orang lain untuk menjadi murni? Ibarat menumpang perahu untuk menyeberangi lautan: jika perahu tersebut sudah bocor, baik jurumudi maupun penumpang akan sama-sama tenggelam. Jika kita sudah mengetahui bahwa calon guru kita adalah seorang pārājika, dan kita memohon Śīla apa pun darinya, maka tidak ada substansi Śīla yang diperoleh. Kecuali kita tidak mengetahui atau baru tahu setelah menerima Śīla darinya, maka substansi Śīla diperoleh — karena keyakinan yang kita miliki. Namun, tentu saja, selanjutnya lebih baik kita mencari guru lain.


⁴ Pertanyaan ini sepertinya mengenaï guru juga, sama seperti ③. Namun, subjek yang ditanyakan tidak jelas. Para komentator setuju guru yang dimaksudkan di sini adalah seorang ācārya.

Bacaan redaksi a kurang kata darinya 從, sehingga pertanyaannya berbunyi: Jika telah melakukan pelanggaran śīla berat, lalu menerima Sepuluh Śīla, apakah [substansi Sepuluh Śīla] didapat? Jawabannya adalah tidak karena, apabila sewaktu melaksanakan Lima Śīla kita melakukan pelanggaran berat (lihat bab XV, pertanyaan ⑤), sama seperti bhikṣu, kita pun menjadi seorang “pārājika” yang terpinggirkan dari lautan Buddhadharma, dan tidak dapat memperoleh Śīla apa pun lagi. Akan tetapi, Hsing-ch’i tidak setuju dengan bacaan ini karena menganggapnya sudah ditanyakan pada ②.




Bab XV


Tidak ada komentar:

Posting Komentar